Internalisasi Nilai-Nilai Kearifan.....(Yanti H & Honest U.K) 51 JPPD, 6, (1), hlm. 51 - 60 Vol. 6, No. 1, Juli 2019 PROFESI PENDIDIKAN DASAR e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN: 2406-8012 DOI: 10.23917/ppd.v1i1.8369 INTERNALISASI NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL PADA PELAJARAN BAHASA JAWA DI SEKOLAH DASAR Yanti Haryanti1), Honest Ummi Kaltsum2) 1)Program Studi Ilmu Komunikasi, 2)Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Surakarta 1Yanti.Haryanti@ums.ac.id; 2huk172@ums.ac.id PENDAHULUAN Media Indonesia akhir-akhir ini sering menampilkan berita dan informasi tentang konflik-konflik sosial yang diklaim sebagai akibat adanya pengikisan nilai-nilai kearifan lokal budaya asli Indonesia. Mulai melunturnya pilar nilai utama kearifan lokal Indonesia yaitu: saling percaya, komunikasi, dan kohesivitas sosial dianggap telah memicu maraknya perseteruan horisontal masyarakat Indonesia. Nilai-nilai rasa kesetia kawanan sosial dengan berbagi dan peduli menjadi kunci sukses perdamaian bangsa. Falsafah dan nilai-nilai kelokalan itu merupakan warisan leluhur yang harus dijaga sebagai perekat NKRI (Fajardin, 2019 https://nasional.sindonews.com). Kearifan lokal selalu ada di setiap daerah di Indonesia. Masing-masing memiliki cirikhas yang kemudian berfungsi sebagai identitas daerah lalu menyatu menjadi pembentuk karakter bangsa. Nilai-nilai kearifan lokal budaya Jawa nampaknya ada kecenderungan untuk memudar, sehingga diberlakukannya program revitalisasi nilai-nilai kearifan lokal Abstract: Local wisdom is supposed to be a basic guideline for people to live their life in the surround society. Recently, media emerges and discusses on the survival of the local wisdom throughout the Indonesian society. This research is trying to review how the values of local wisdom are taught in elementary schools. Process of learning cultural values is better done intensively and continuously that internalization of the values can be absorbed well. Internalization process of the values done in schools need tough efforts, started with selection of media or tools which load the values needed to be learned. Using the content analysis, this research is trying to review the content about local wisdom in the text books of Bahasa Jawa subject. This analysis is hoped to find themes and examples of the implementation of the Javanesse local wisdom. By using the content analysis, this research results in the findings that the three dimensions of local values are covered in all text books used in the research; however, there are some detail values found not discussed in the text books. Keywords: Local Wisdom, Internalization, Content Analysis http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i1.8369 mailto:Yanti.Haryanti@ums.ac.id mailto:Honest.Ummi.Kaltsum@ums.ac.id https://nasional.sindonews.com/ Internalisasi Nilai-Nilai Kearifan.....(Yanti H & Honest U.K) 52 JPPD, 6, (1), hlm. 51 - 60 budaya Jawa di sekolah menengah atas. Suranto Aw dalam penelitiannya secara kualitatif berusaha untuk mengungkap keberhasilan program revitalisasi ini dengan menggunakan metode studi evaluasi melalui 4 (empat) model evaluasi yaitu: context, input, process, product. Penelitian ini menerapkan teknik pengamatan dan wawancara pada siswa sekolah menengah atas dalam berkomunikasi. Nilai-nilai kearifan lokal budaya Jawa yang diamati antara lain adalah cara berpakaian, bertingkah laku, keramahan, kejujuran, berkomunikasi dengan sesama teman atau guru, dan nilai-nilai ketimuran lainnya. Penelitian oleh Suranto Aw ini menemukan bahwa ada nilai kearifan lokal budaya Jawa yang mendesak untuk direvitalisasi melalui jalur pendidikan yaitu etika berkomunikasi baik dengan teman sebaya ataupun dengan warga sekolah lain yang lebih tua dari siswa (Aw, 2018: 43). Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai kearifan lokal budaya Jawa belum dipahami dengan baik oleh siswa sekolah menengah atas tersebut sehingga ditemukan adanya kesalahan implementasi. Proses pembelajaran nilai-nilai budaya lokal membutuhkan waktu yang tidak sebentar diawali dari usia dini seseorang. Apabila ada salah implementasi nilai-nilai pada usia remaja, kemungkinan ada permasalahan di pembelajaran pada fase sebelumnya, misalnya pada masa sekolah dasar. Berdasarkan tinjauan dan temuan dari penelitian tersebut, nampaknya perlu dikaji ulang bagaimana nilai-nilai kearifan lokal budaya Jawa diakomodir oleh sekolah dan kemudian siswa bisa memahami dan menerapkannya dalam kehidupannya, khususnya dalam interaksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Bukan sebuah proses yang instan untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam terhadap suatu nilai, melainkan membutuhkan proses internalisasi secara terus menerus sehingga siswa bisa menerapkannya dalam kehidupan nyata. Demikian halnya dalam pendidikan, pemahaman siswa terhadap sebuah nilai hendaknya diawali sejak pendidikan dasar yang akan menjadi landasan keberhasilan pendidikan di tingkat selanjutnya. Dalam penelitian Suranto Aw di atas, pengamatan dilakukan kepada siswa Sekolah Menengah Atas dan ditemukan adanya urgensi akan diberlakukannya program revitalisasi nilai-nilai kearifan lokal budaya Jawa, maka layak bila diadakan kajian dan penelitian terhadap pengajaran nilai- nilai kearifan lokal ini pada pendidikan yang lebih rendah untuk melihat proses internalisasi nilai-nilai tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini mengulas dan mengkaji bagaimana pelajaran tentang budaya Jawa diajarkan kepada siswa sekolah dasar di Jawa Tengah. Tentunya bukan sebuah pembelajaran yang mudah untuk menanamkan nilai- nilai budaya ini. Disini sekolah perlu mengelola bahan ajar dan proses komunikasi pembelajaran yang intensif dan mendalam kepada siswanya. Salah satu fungsi komunikasi adalah menyampaikan pesan dari seseorang kepada orang lain. Tidak ada satu orang pun yang tidak melakukan komunikasi sepanjang hidupnya, dengan berbagai cara dan media tentunya. Pesan yang dikomunikasikan tidak hanya ide, buah pikiran, atau keinginan seseorang saja; melainkan juga nilai-nilai, aturan-aturan, norma-norma, bahkan sejarah dan tradisi yang diharapkan akan tetap bertahan dari generasi ke generasi. Proses komunikasi memampukan seseorang untuk mentransmisikan sebuah budaya (Nurudin, 2009: 74). Bentuk komunikasi pun akan menyesuaikan dengan hal-hal yang ingin disampaikan tersebut, baik secara verbal maupun nonverbal, secara langsung maupun tidak langsung. Pesan yang disampaikan Internalisasi Nilai-Nilai Kearifan.....(Yanti H & Honest U.K) 53 JPPD, 6, (1), hlm. 51 - 60 kadang tidak akan bisa langsung mendapatkan respon saat itu juga. Ada beberapa pesan yang membutuhkan waktu lebih lama untuk diterima dan dipahami sebelum diberikan respon. Sebagai contoh adalah bagaimana menyampaikan sebuah nilai atau norma yang dianut dalam sebuah budaya. Seseorang mempelajari nilai-nilai budaya tidak bisa hanya dalam hitungan hari, bulan, atau tahun melainkan durasi waktu yang lebih lama dari itu (Liliweri, 2014: 56) melalui proses komunikasi yang intensif dan terus menerus. Dalam proses berkomunikasi, kita memerlukan bahasa. Dalam proses komunikasinya, seseorang memerlukan pembelajaran dan pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai budaya tersebut. Wardhaugh (1988:212) dalam kutipan Sartini (2009:31) menuliskan pendapat tentang keterhubungan antara bahasa dan kebudayaan adalah (i) struktur bahasa menentukan cara-cara penutur bahasa tersebut memandang dunianya, (ii) budaya masyarakat tercermin dalam bahasa yang mereka pakai karena mereka memiliki segala sesuatu dan melakukannya dengan cara tertentu yang mencerminkan apa yang mereka nilai dan apa yang mereka lakukan. Dalam pandangan ini, perangkat-perangkat budaya tidak menentukan struktur bahasa, tetapi perangkat- perangkat tersebut jelas memengaruhi bagaimana bahasa digunakan dan mungkin menentukan mengapa butiran-butiran budaya tersebut merupakan cara berbahasa, (iii) ada sedikit atau tidak hubungan atau tidak sama sekali antara bahasa dan budaya. Hal ini yang disebut dengan internalisasi. Internalisasi merupakan proses belajar terus menerus yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan sebuah pengetahuan, ketrampilan, bahkan nilai-nilai dan norma-norma sehingga bisa diterapkan dan dimanfaatkan dalam kehidupan seseorang sebagai anggota masyarakat (Ihromi, 2004: 82). Proses internalisasi yang dialami seseorang akan selalu berbeda dengan orang lain sesuai fase-fase kehidupan yang dilaluinya, dimulai dari masa kanak-kanak, remaja, hingga dewasa dan fase orang tua (Ritzer, 2009: 142). Pada penelitian ini dibatasi pada proses internalisasi yang terjadi pada fase kanak-kanak (pendidikan dasar). Sebagaimana proses komunikasi pada umumnya yang harus melibatkan media dan komunikan sehingga pesan yang disampaikan bisa mendapatkan tanggapan atau reaksi, internalisasi membutuhkan media sebagai sarana memperlancar prosesnya. Media internalisasi adalah berupa tempat, model, peralatan, lingkungan, dan termasuk di dalamnya adalah pihak atau individu-individu lain. Media internalisasi merupakan agen yang ada di dalam fase-fase kehidupan seseorang, diawali dari keluarga, teman sebaya, sekolah, organisasi, tempat kerja, dan seterusnya. Masing-masing agen internalisasi memiliki fungsi yang berbeda. Keluarga berfungsi terhadap pengawasan sosial, pertemanan sebaya berfungsi sebagai tempat interaksi dimana kedudukan seseorang sederajat, sekolah sebagai tempat untuk mendapatkan pendidikan formal yang tidak didapat di keluarga dan pertemanan, demikian seterusnya di organisasi dan tempat kerja (Soekanto, 2009: 59). Dalam penelitian ini, diskusi dipusatkan pada sekolah sebagai agen dan media formal seseorang mengalami proses internalisasi awal, terutama pada sekolah dasar. Sekolah memiliki peran penting dalam pembelajaran, penanaman, dan pemahaman nilai-nilai budaya secara formal. Harapan orang tua atau keluarga sebagai agen terkecil sering menuntut sekolah untuk memberikan tambahan media dan alat-alat yang kadang tidak ditemukan di dalam keluarga. Salah satu alat bantu yang digunakan sekolah dalam Internalisasi Nilai-Nilai Kearifan.....(Yanti H & Honest U.K) 54 JPPD, 6, (1), hlm. 51 - 60 memberikan media pembelajaran adalah buku-buku pegangan untuk pengetahuan maupun penugasan. Buku pegangan merupakan alat bantu pengajaran yang paling mendasar bagi siswa untuk mendapatkan suatu pengetahuan. Penelitian ini mengkaji bagaimana buku-buku pegangan siswa sekolah dasar yang mengajarkan nilai-nilai kearifan lokal budaya Jawa. Kearifan lokal adalah sebuah pengetahuan yang kompleks tentang sistem nilai, kepercayaan, norma, dan cara hidup dari sebuah budaya yang ada di lokasi tertentu (Liliweri, 2014: 223). Budaya Jawa secara geografis berada di pulau Jawa terutama di propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Zamroni menyatakan ada tiga dimensi nilai kearifan lokal budaya Jawa, seperti yang dikutip oleh Suranto Aw. Ketiga dimensi nilai tersebut adalah: 1) Keberagaman yang melingkupi nilai-nilai kekhusukan hubungan dengan Tuhan, kepatuhan terhadap agama, perbuatan baik dan ikhlas, pembalasan atas perbuatan baik dan buruk, serta rasa syukur; 2) Kemandirian yang cakupanya meliputi harga diri, etos kerja, disiplin, tanggungjawab, keberanian dan semangat, keterbukaan, pengendalian diri, pikiran positif, dan potensi diri; 3) Kesusilaan yang mengajarkan tentang cinta dan kasih sayang, kebersamaan dan gotong royong, kesetiakawanan, tolong menolong, tenggang rasa (tepo sliro), saling menghormati, tata karma, dan rasa malu (Aw, 2010: 48-49). Berdasarkan atas latar belakang di atas, penelitian ini bermaksud mengkaji Nilai-Nilai Kearifan Lokal pada Pelajaran Bahasa Jawa di Sekolah Dasar. Bahasa Jawa merupakan salah satu matapelajaran dari kurikulum muatan lokal. Sebagaimana kita ketahui bahwa kurikulum muatan lokal ini dapat memuat empat mata pelajaran yaitu; a) bahasa daerah. Bahasa daerah ini bertujuan untuk mempertahan nilai-nilai budaya masyarakat setempat dalam wujud komunikasi dan apresiasi sastra; b) pendidikan lingkungan hidup bertujuan untuk menanamkan rasa cinta terhadap lingkungan hidup dalam bentuk kegiatan pembelajaran, pola hidup bersi dan menjaga keseimbangan ekosisten; c) bahasa Inggris bertujuan untuk mengenalkan budaya masyarakat lokal; dan d) komputer bertujuan untuk mengembangkan keterampilan penggunanan alat teknologi secara teknis. Melalui pembelajaran muatan lokal diharapkan peserta didik mempunyai kepedulian terhadap nilai-nilai sosio-kultural yang melingkupi peserta didik sebab mata pelajaran muatan lokal memuat karakteristik budaya lokal, keterampilan, nilai-nilai luhur budaya setempat (Nasir, 2013: 1). METODE PENELITIAN Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan analisis isi untuk mencoba mendapatkan pemahaman tentang pesan simbolik yang ada dalam dokumen. Dalam penelitian ini dokumen yang digunakan adalah buku-buku teks pegangan siswa sekolah dasar dalam pelajaran Bahasa Jawa. Analisis isi merupakan penelitian yang dilakukan dengan tujuan mengkaji teks atau dokumen untuk diambil kesimpulan berdasarkan konteks penggunaannya. Teknik analisis isi yang digunakan dalam penelitian ini menerapkan skema analisis menurut Krippendorf (2004: 83) yaitu: unitizing (pengumpulan data), sampling (pengambilan contoh), recording (perekaman/pencatatan), reducing (reduksi/pengurangan), dan inferring (penarikan simpulan). Internalisasi Nilai-Nilai Kearifan.....(Yanti H & Honest U.K) 55 JPPD, 6, (1), hlm. 51 - 60 Dengan menggunakan teknik purposive sampling, peneliti memilih contoh buku-buku teks pelajaran bahasa Jawa yang digunakan di sekolah dasar negri dan swasta untuk mendapatkan perbandingan penerapan nilai-nilai kearifan lokal budaya Jawa. Berdasarkan kenyamanan dan kemudahan, peneliti memilih sekolah-sekolah dasar yang ada di sekitar tempat tinggal peneliti, yaitu di daerah kecamatan kota Boyolali. Buku-buku teks yang dipilih ada 3 yaitu “Remen Basa Jawi” untuk kelas IV dan “Remen Basa Jawi” kelas V yang digunakan di SDIT Arofah Boyolali dan buku “Sesuluh Basa Jawa” untuk kelas IV yang digunakan di SDN IX Boyolali. Pada penelitian dengan jenis kajian pustaka ini, peneliti mengumpulkan data dari buku-buku dan jurnal-jurnal ilmiah sebagai referensi pustaka untuk menganalisa tema-tema bahasan dalam buku-buku teks pelajaran Bahasa Jawa yang menjadi unit penelitian ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Secara umum, perwajahan dari semua buku pegangan yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk komprehensif bacaan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar teks. Tugas-tugas yang diharapkan untuk dikerjakan siswa pun tidak terlalu jauh dari teks yang memang merupakan tema dari masing-masing bab di buku-buku tersebut. Semua buku pegangan yang digunakan dalam penelitian ini memuat nilai-nilai kearifan lokal budaya Jawa. Namun ditemukan adanya variasi dan perbedaan sebaran dan prosentase nilai-nilai kearifan lokal yang dibahas. Pada buku berjudul “Remen Basa Jawi” untuk kelas IV dan V dengan penerbit Erlangga, semua instruksi penugasan dituliskan dalan bahasa Jawa ngoko, sementara pada bagian jawaban tugas yang semestinya dikerjakan siswa, diberikan contoh dengan menggunakan bahasa Jawa krama. Hal ini menunjukkan ada penanaman nilai kesopanan dan tata krama. Siswa yang merupakan individu yang lebih muda dari guru hendaknya berlaku sopan santun terhadap orang yang lebih tua. Pembedaan penggunaan bahasa ini tidak ditemukan dalam buku berjudul “Sesuluh Basa Jawa” untuk kelas IV dengan penerbit Surya Badra. Pada buku ini baik teks, instruksi tugas, maupun jawaban siswa dikerjakan dalam bahasa Jawa ngoko. Nilai Keberagaman Nilai keberagaman pada dasarnya adalah ajaran untuk percaya kepada dzat yang Maha Besar dan Maha Kuasa. Budaya Jawa yang dalam sejarahnya ada pengaruh agama Hindu dan Budha mempercayai adanya hubungan timbal balik antara perbuatan baik dan buruk. Terdapat banyak konsep spiritual dalam agama Hindu salah satunya adalah konsep karma phala yakni semua perbuatan ada hasilnya atau hasil dari perbuatan (Kurniawan, 2016: 7). Oleh karena itu budaya Jawa berisi ajaran tentang perbuatan baik dan keikhlasan seseorang dalam melakukannya sehingga tidak akan mendapatkan kesialan atau akibat dari perbuatan buruk bila dilakukan. Setiap individu yang ikhlas berbuat baik adalah merupakan perwujudan kepatuhan terhadap Tuhan dan agama yang dianut serta rasa syukur. Nilai-nilai seperti ini termuat dalam buku Sesuluh Basa Jawa klas IV terbitan dari Surya Badra Surakarta. Pada Bab III (Wulangan 3), bahan bacaan berjudul Sekaten menceritakan tentang asal usul tradisi Sekaten di daerah Internalisasi Nilai-Nilai Kearifan.....(Yanti H & Honest U.K) 56 JPPD, 6, (1), hlm. 51 - 60 Surakarta dan Yogyakarta yang berasal dari kata ‘syahadattain’ yang dalam agama Islam bermakna 2 kalimat syahadat. Berikut kutipan sebagian dari teks: “Sekaten yaiku tradisi kang diselenggarakake ono ing kraton kanggo mengeti dina laire Nabi Muhammad. Sekaten mau asale seka tembung syahadatain, yaiku 2 ukara syahadat. Upacara sekaten iku dianakake saben setaun sepisan. Yen biyen-biyene Sekaten mau kanggo nyebarake agama Islam, saiki Sekaten luwih kanggo hiburan.”(Sutiyem, 2013: 29) (Sekaten adalah tradisi yang diselenggarakan di keratin untuk memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad. Istilah Sekaten berasal dari kata syahadatain yaitu 2 kalimat syahadat. Upacara Sekaten diadakan sekali dalam setahun. Kalo sebelumnya, pada jaman dahulu, Sekaten diadakan untuk penyebaran agama Islam, sekarang lebih untuk hiburan) Dari kutipan ini, ditunjukkan adanya nilai kepatuhan terhadap agama, khususnya agama Islam. Pada kalimat terakhir paragraf di atas jelas disebutkan bahwa tradisi Sekaten tersebut diperuntukkan syiar agama: “Kalau sebelumnya, pada jaman dahulu, Sekaten diadakan untuk penyebaran agama Islam, sekarang lebih untuk hiburan.” Bacaan ini mencoba menanamkan sebuah kearifan bahwa dalam budaya Jawa pun ada kepercayaan dan kepatuhan terhadap agama. Selain itu nilai keberagamaan yang menunjukkan adanya pembalasan atas perbuatan baik dan buruk juga dimuat dalam buku Remen Basa Jawi kelas V terbitan Erlanga Jakarta. Bacaan panjang sebanyak delapan paragraf ini menceritakan tentang tokoh wayang Karna yang harus membela pihak yang penuh angkara murka dan akhirnya mati dalam perang Baratayudha di tangan saudaranya sendiri yang berada di pihak yang benar. Berikut cuplikan bacaannya: “Sejatine, Karna wis mangerti yen mbelani Kurawa kui dudu tumindak kang becik. Nanging, Karna wis kaputangan budi karo Duryudana Raja Hastina kang ambeg angkara murka. Mulane dheweke gelem sabaya mukti sabaya pati tegese gelem mbelani Hastina.” (Trimo, 2016: 18-19) (Sebenarnya, Karna sudah sadar kalau membela Kurawa adalah perbuatan yang tidak baik. Tetapi, Karna berhutang budi terhadap Duryudana Raja Hastina yang dipenuhi keangkara murkaan. Maka, dia mau saja hidup mati ikut membelanya, yaitu membela Negara Hastina) Lalu paragraf ini dilanjutkan pada paragraf-paragraf berikutnya tentang perang Baratayudha. Dan pada bagian akhir teks, paragraf terakhir menceritakan kematian Karna: “Panah mlesat banter banget ngenani janggane Adipati Karna. Senopati Kurawa kang madeg senopati iku banjur gugur ing madyaning Tegal Kurusetra.” (Trimo, 2016: 20) (Panah melesat cepat sekali mengenai dagu Adipati Karna. Senopati Kurawa yang berkuasa itu lalu gugur meninggal di tengah-tengah tanah Kurusetra) Internalisasi Nilai-Nilai Kearifan.....(Yanti H & Honest U.K) 57 JPPD, 6, (1), hlm. 51 - 60 Teks bacaan panjang ini mengajarkan tentang kearifan dalam budaya Jawa bahwa semua perbuatan buruk tidak akan mendapatkan pahala dari Tuhan, melainkan celaka yang akan didapat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa balasan dari perbuatan atau karma dan karma sebagai konsep spiritual Hindu turut pula mempengaruhi nilai budaya Jawa. Dimensi nilai tersebut merupakan cerminan nilai keberagaman (Aw, 2018: 48-49). Nilai Kemandirian Pada buku Sesuluh Basa Jawi klas IV, ada teks bacaan berjudul Lomba Nari (lomba menari) yang menceritakan tentang seorang anak bernama Marsinah yang akan mengikuti lomba menari di sekolahnya. Nilai kemandirian yang ditanamkan dalam bacaan ini adalah etos kerja, kedisiplinan, dan pengembangan potensi diri. Beberapa bagian paragraf banyak kalimat yang memuat nilai-nilai tersebut. Berikut kutipan beberapa diantaranya: “Dadi penari iku ora gampang, kudu sregep latian supaya obahe awak katon luwes, kudu ngapalake urut-urutaning jogetane. Sing mesti kudu duweni watak disiplin, percaya diri, lan sregep. Kabeh watak mau wis diduweni karo Marsinah, pramilo deweke pinter anggone nari. Lomba narine ana ing kabupaten mau saingane ora sithik. Sanadyan saingane akeh, Marsinah ora minder, dheweke percaya yen bisa luwih apik saka kanca-kanca liyane. Rasa percaya karo awake dhewe mau sing dadekake Marsinah mantep anggone nari ing ngarepe juri.” (Sutiyem, 2013: 23-24) (menjadi penari itu tidak mudah, harus rajin latihan supaya gerakannya bagus, harus menghafalkan urutan gerakan tariannya. Yang pasti harus memiliki watak disiplin, percaya diri, dan rajin. Semu sifat itu sudah dimiliki oleh Marsinah, maka dia bisa bagus menarinya. Lomba menari di kabupaten itu saingannya tidak sedikit. Tetai meskipun banyak saingannya, Marsinah tidak malu, dia percaya kalau bisa lebih baik dari teman-temannya yang lain. Rasa percaya pada diri sendiri itulah yang membuat Marsinah terlihat bagus menarinya ketika di depan juri.) Berpikir positif juga merupakan salah satu ajaran kearifan budaya Jawa yang ada dalam dimensi kemandirian. Bacaan di atas mencontohkan bagaimana Marsinah tidak ‘minder’ dan tetap berpikir bahwa dia bisa mengerjakan tugasnya dengan baik. Nilai kemadirian juga memiliki unsur pengendalian diri. Ajaran tentang nilai pengendalian diri dan kesabaran tertuang dalam buku Remen Basa Jawi untuk kelas V pada teks berjudul “Karna Madeg Senopati” di salah satu paragrafnya tertulis: “Prabu Kresna kang mangerteni Raden Werkudara ngamuk, banjur ngelingake supaya sabar lan ora grusa grusu. Kanggo nerusake perang, Raden Arjuna banjur madeg dadi senopati andhawa ngadepi Adipati Karna. Prabu Kresna kang dadi kusire Arjuna tansah wanti-wanti supaya Arjuna ngati-ati anggone perang lan ngeningake cipta karsa yen tetandhingan lawan Karna.” (Trimo, 2016: 23) Internalisasi Nilai-Nilai Kearifan.....(Yanti H & Honest U.K) 58 JPPD, 6, (1), hlm. 51 - 60 (Prabu Kresna yang mengetahui bahwa Raden Werkudara marah, lantas mengingatkan supaya sabar dan tidak tergesa-gesa. Untuk meneruskan peperangan, Raden Arjuna lalu berdiri mengambil alih posisi menjadi senopati untuk menghadapi Adiati Karna. Prabu Kresna yang bertindak sebagai kusir keretanya Arjuna selalu mengingatkan kepada Arjuna untuk berhati-hati dalam perang dan selalu ingat pada Yang Maha Kuasa ketika perang melawan Karna) Bacaan dengan tema pewayangan sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal budaya Jawa yang bisa diajarkan kepada siswa. Dalam paragraf di atas ini paling tidak ada dua kearifan yang termuat, yaitu nilai kekhusyukan hubungan dengan tuhan (tansah ngeningake cipta karsa) dan nilai pengendalian diri (ora grusa grusu, ngati-ati). Dimensi nilai harga diri, etos kerja, disiplin, tanggungjawab, keberanian dan semangat, keterbukaan, pengendalian diri, pikiran positif, dan potensi diri tersebut merupakan cerminan nilai kemandirian (Aw, 2018: 48-49). Nilai Kesusilaan Ada beberapa nilai kearifan yang mewadahi dimensi kesusilaan ini di dalam buku pegangan siswa. Dalam buku Sesuluh Basa Jawi klas IV pada teks berjudul Sinau Bareng (Belajar Bersama), diceritakan seorang anak bersama teman-temannya belajar tentang pewayangan. Pada paragraf berikut, mengandung nilai kebersamaan dan gotong royong: “Sanalika uga Ardi eling yen deweke duwe janji karo Aminah, Doni, lan Mardi arep sinau kelompok kanggo garap tugas basa Jawa kang uwis diparingi kalian bu Guru. Bu Guru paring tugas maring siswa supaya maca wayang lan nggoleki watake paraga kang ana ing crita mau.” (Sunarsih, 2016: 32-33) (Seketika Ardi ingat ada janji dengan Aminah, Doni, dan Mardi akan belajar bersama untuk mengerjakan tugas yang sudah diberikan bu guru. Bu guru memberikan tugas kepada para siswa untuk membaca tentang wayang dan mencari tahu watak karakter masing-masing tokoh dalam cerita tersebut) Masih di buku yang sama, nilai kesusilaan yang berupa tata krama dan kesopan santunan ada di dalam teks berjudul “Matur Simbah” (Menghadap Kakek). Bacaan berbentuk dialog ini sangat jelas mencontohkan bagaimana tata krama dalam budaya Jawa sangat kuat terutama dalam pemakaian bahasa Jawa. “Bagas : Kula nuwun, sugeng siang mbah kakung. Mbah kakung : eh.. putuku Bagas, rene-rene le, ana perlu apa? Bagas : Mekaten mbah, kula badhe matur kaliyan simbah bilih lampah kula mriki dipun dawuhi ibuk, simbah sakmenika dipun aturi tindak dateng griya kula. Mbah kakung : Ana perlu apa kok simbah diaturi mara menyang omahmu? …” (Sunarsih, 2016: 17) (Bagas : permisi, selamat siang kakek Kakek : eh.. cucuku Bagas, sini-sini nak, ada perlu apa? Bagas : Begini kek, saya mau menghadap kakek untuk menyampaikan bahwa saya disuruh ibu meminta kakek untuk datang ke rumah saya sekarang. Kakek : Ada perlu apa kok kakek disuruh ke rumahmu? …) Internalisasi Nilai-Nilai Kearifan.....(Yanti H & Honest U.K) 59 JPPD, 6, (1), hlm. 51 - 60 Teks berbentuk dialog seperti di atasa memudahkan siswa belajar bagaimana penggunaan bahasa Jawa terutama krama inggil diterapkan. Pada teks, tokoh Bagas berbahasa krama inggil karena sedang berbicara dengan kakeknya (orang yang lebih tua), sementara kakek menggunak bahasa Jawa ngaka kepada Bagas (anak yang lebih muda). Penggunaan bahasa krama inggil dan ngaka dalam bahasa Jawa bermakna kesopanan dan penghormatan kepada orang-orang tertentu, seperti perbedaan usia, jabatan, atau situasi kondisi yang mengharuskan digunakannya bahasa krama inggil. Dimensi nilai cinta dan kasih sayang, kebersamaan dan gotong royong, kesetiakawanan, tolong menolong, tenggang rasa (tepo sliro), saling menghormati, tata karma, dan rasa malu merupakan aspek kesusilaan dalam budaya Jawa (Aw, 2018: 48-49). Dari hasil penelitian terhadap buku ajar Bahasa Jawa yang diberikan kepada siswa sekolah dasar tersebut di atas, perlu diadakan penelitian lanjutan dengan metode observasi (pengamatan) dimana proses belajar mengajar di kelas bisa diawasi dengan lebih jelas sehingga bisa ditemukan permasalahan lain. Penelitian ini perlu dikembangkan sampai dengan adanya evaluasi penerapan nilai-nilai kearifan lokal budaya Jawa ini ke dalam kehidupan nyata siswa. Teknik penelitian pun akan dikembangkan ke penggalian data dari narasumber-narasumber yang terlibat maupun yang dikenai hasil pembelajaran. Oleh karena itu, lanjutan dari penelitian ini adalah menggunakan teknik indepth interview dan observasi untuk mendapatkan pengetahuan tentang pola pengajaran yang diterapkan di sekolah dan hasil pengajarannya. SIMPULAN Pengajaran budaya dan bahasa Jawa di sekolah dasar memerlukan usaha yang cukup keras dimana mengajarkan sebuah budaya yang penuh nilai-nilai bukanlah pekerjaan mudah. Memahamkan siswa didik yang masih tergolong kanak-kanak terhadap suatu nilai harus dilakukan dalam proses yang intensif dan menggunakan berbagai media sesuai usia mereka. Dari buku-buku pegangan siswa yang digunakan dalam penelitian ini ditemukan bahwa nilai-nilai kearifan lokal budaya Jawa belum semuanya diajarkan dan dijabarkan. Tiga dimensi nilai kearifan lokal yang dijadikan acuan sudah tercakup semua namun rincian nilai-nilainya tidak semua termuat. Nilai- nilai yang belum ada yaitu: rasa syukur, harga diri, tanggung jawab, potensi diri, cinta dan kasih sayang, tolong menolong, tenggang rasa, dan rasa malu. Akan tetapi bila dicermati, nilai-nilai tersebut bisa saja disampaikan sebagai pengembangan tema-tema yang sudah ada. Sebagai contoh pada bab yang bertema wayang, guru bisa mengembangkan ke contoh-contoh cerita nyata yang ada di sekitar lingkungan siswa atau sekolah yang memuat pesan dalam cerita wayang tersebut. Internalisasi Nilai-Nilai Kearifan.....(Yanti H & Honest U.K) 60 JPPD, 6, (1), hlm. 51 - 60 DAFTAR PUSTAKA Aw, Suranto. (2010). Komunikasi Sosial Budaya. Yogyakarta: Graha Ilmu. Aw, S. (2018). Evaluasi Program Revitalisasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal Budaya Jawa Yang Relevan Dengan Etika Komunikasi Di Sekolah. Widya Komunika, 8(2), 42- 57. Fajardin, Muhammad Atik. (2019). Konflik Sosial Muncul Karena Kearifan Lokal Terkikis. https://nasional.sindonews.com Ihromi. (2004). Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia Kurniawan, P. S. (2016). Sintesa Unsur-Unsur Spiritualitas, Budaya, dan Kearifan Lokal Masyarakat Bali dalam Materi Kuliah Akuntansi Sosial dan Lingkungan. Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia, 14(1). Krippendorf, K. (2004). Content Analysis: an Introduction to Its Methodology (Ed). Thousand Oaks: Sage Publication, Ltd. Liliweri, Alo. (2014). Pengantar Studi Kebudayaan. Bandung: Nusa Media Nasir, M. (2013). Pengembangan kurikulum muatan lokal dalam konteks pendidikan islam di madrasah. HUNAFA: Jurnal Studia Islamika, 10(1), 1-18. Nurudin, 2009. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Ritzer, George. (2009). Sosiologi: Ilmu Berparadigma Ganda. Jakarta: Rajawali Press Sartini, N. W. (2009). Menggali nilai kearifan lokal budaya Jawa lewat ungkapan (Bebasan, saloka, dan paribasa). Jurnal ilmiah bahasa dan sastra, 5(1), 28-37. Soekanto, Soerjono. (2009). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Soekanto, Soerjono. (2002). Sosiologi Keluarga. Jakarta: Rineka Cipta Sunarsih, Sri. (2016). Remen Basa Jawi Kanggo SD/MI Kelas IV. Jakarta: Penerbit Erlangga Sutiyem, Hj. (2013). Sesuluh Basa Jawa. Surakarta: CV Surya Badra Trimo, Im Tri Suyoto. (2016). Remen Basa Jawi Kanggo SD/MI Kelas V. Jakarta: Penerbit Erlangga https://nasional.sindonews.com/