Pengembangan Instrumen......(Jan Wantoro, dkk) 11 JPPD, 6, (1), hlm. 11 - 20 Vol. 6, No. 1, Juli 2019 PROFESI PENDIDIKAN DASAR e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN: 2406-8012 DOI: 10.23917/ppd.v1i1.8453 PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN PENDIDIKAN PROFESI GURU SEKOLAH DASAR BEBASIS HOTS Jan Wantoro1), Sutama2), Siti Zuhriah3), Siti Hadiyati Nur Hafida4) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta 1jan@ums.ac.id, 2sutama@ums.ac.id, 3sz228@ums.ac.id, 4shnh421@ums.ac.id PENDAHULUAN Guru dituntut untuk melakukan penguatan karakter siswa yang menginternalisasikan nilai-nilai utama Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yaitu religiositas, nasionalisme, kemandirian, gotong-royang dan integritas dalam setiap pembelajaran, hal ini tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017. Selain itu keterampilan Abad 21 juga perlu diintegrasikan dalam kurikulum untuk membangaun generasi emas Indonesia, yaitu keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah, keterampilan untuk bekerjasama, kemampuan berkreativitas dan inovasi, dan kemampuan berkomunikasi. Untuk menghadapi era kemajuan teknologi yang menuntut kemampuan literasi siswa, diperlukan kurikulum yang mengitegrasikan enam literasi dasar, yaitu literasi baca tulis, digital, numerik, finansial, sains, budaya dan kewargaan. Disamping itu, membiasakan siswa dengan proses pembelajaran yang melatih keterampilan berpikir tingkat tinggi/Highers Order Thinking Skills (HOTS), diperlukan untuk menghadapi kompleksnya permasalahan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Pemerintah mengharapkan peserta didik bisa mencapai berbagai kompetensi dengan penerapan HOTS. Kompetensi yang dimaksud yaitu berpikir kritis, kreatif dan inovasi, kemampuan berkomunikasi, kemampuan bekerja sama, dan kepercayaan diri. Kompetensi tersebut menjadi target karakter peserta didik yang melekat pada sistem Abstract: In general, this study was aimed at developing a HOTS-based PPG assessment instrument at the Universitas Muhammadiyah Surakarta. The specific objective of this study was to design a HOTS-based PPG assessment instrument that is appropriate for PPG learning. Overall, this study uses a research and development approach. While the development of research is carried out in four stages, namely the stage of defining, designing, developing and disseminating. The results showed that the level of differentiation of the questions that had been given was still low, with the index of difficulty of the questions which were also still not satisfactory. In fact, the quality of the deception has an indication that it is considered to be lacking. Keywords: Assessment Instrument, HOTS, PPG http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i1.8453 mailto:jan@ums.ac.id mailto:sutama@ums.ac.id mailto:sz228@ums.ac.id mailto:shnh421@ums.ac.id Pengembangan Instrumen......(Jan Wantoro, dkk) 12 JPPD, 6, (1), hlm. 11 - 20 evaluasi dalam ujian nasional dan merupakan kecakapan abad 21. Keterampilan HOTS diterapkan karena belum sesuai harapan peringkat Programme for International Student Assessment (PISA) dibandingkan dengan negara lain, sehingga standar soal ujian nasional dicoba ditingkatkan untuk mengejar ketertinggalan tersebut. PISA tahun 2015 melakukan perhitungan terhadap siswa dari 70 negara, salah satunya Indonesia. Hasil PISA menunjukkan bahwa siswa di Indonesia berada di peringkat 63 untuk matematika, 64 untuk membaca, dan 62 untuk sains. Rendahnya peringkat siswa Indonesia menjadi permasalahan dalam bidang pendidikan. Pendidikan yang merupakan leading sector proses pembangunan ternyata memiliki kualitas yang tergolong rendah. Hal tersebut juga diperkuat oleh hasil pemetaan 21 universitas tahun 2013 yang menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat 49 dari 50 negara pada pemetaan mutu pendidikan tinggi (Delyanti, 2014: 75). Upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia selalu dilakukan, salah satunya melalui upaya penyiapan guru professional melalui sistem pendidikan guru yang bermutu dan akuntabel. HOTS merupakan kemampuan berpikir yang tidak sekadar mengingat (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite). Soal- soal HOTS digunakan sebagai pengukur kemampuan: transfer satu konsep ke konsep lainnya, mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-beda, menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah, memproses dan menerapkan informasi, menelaah ide dan informasi secara kritis (Himah, 2016: 90-91). Perkembangan pendidikan sekarang ini mendorong setiap peserta didik untuk semakin aktif dalam pembelajaran. Pendidikan merupakan tolak ukur kemajuan suatu bangsa, jika pendidikan yang dimiliki oleh masyarakat di suatu Negara baik maka Negara akan semakin mudah untuk berkembang. Pendidikan seringkali dijadikan sebagai leading sector bagi pembangunan di suatu Negara oleh karena itu, guru merupakan bagian terpenting dalam upaya mengembangkan sistem pendidikan yang ada. Guru dapat meningkatkan kualitas sistem pendidikan karena guru mampu melakukan interaksi secara langsung dengan peserta didik dalam proses belajar- mengajar. Adanya guru yang memiliki kualitas baik mampu mendorong semakin baiknya sistem pendidikan di Indonesia. Guru sangat erat kaitanya dengan upaya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) namun, berdasarkan hasil ujian tulis nasional Program Profesi Guru (PPG) dapat diketahui bahwa hampir setengah dari jumlah peserta tidak lulus ujian akhir PPG (Lantip Diat Prasojo, dkk, 2017: 41). Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat kelulusan mahasiswa PPG. Perwujudan pola pembelajaran dapat dimulai dengan mengubah sistem penilaian yang merupakan salah satu komponen pendidikan. Penilaian yang dilakukan dengan menggunakan instrumen tidak terstandar menjadi salah satu faktor belum terpenuhinya tujuan penilaian pendidikan (Hamid, 2010). Penilaian belajar menunjukkan berbagai prosedur untuk memperoleh informasi belajar siswa dan menentukan keputusan berkaitan dengan kinerja atau hasil belajar siswa (Miller & Gronlund, 2012). Sugiyono (2009) menyatakan bahwa produk yang masih jarang dikembangkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah instrumen penilaian pembelajaran. Pengembangan instrumen penilaian pembelajaran merupakan upaya untuk Pengembangan Instrumen......(Jan Wantoro, dkk) 13 JPPD, 6, (1), hlm. 11 - 20 mengembangkan instrumen penilaian berdasarkan analisis kebutuhan menjadi produk baru dengan uji keefektifannya dahulu sehingga, menghasilkan produk yang berfungsi dan bermanfaat bagi masyarakat (Tutik wijayanti, dkk, 2014). Adanya pengembangan instrumen penilaian pembelajaran bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mahasiswa terhadap suatu materi pembelajaran. Salah satu pengembangan instrumen penilaian dapat dilakukan melalui pembuatan soal berkualitas. Soal dapat dikatakan berkualitas ketika soal mampu mengukur apa yang hendak diukur dan soal harus sejajar dengan sasaran belajar yang dicapai (Uno, 2008). Penilaian dalam PPG dilakukan untuk menetapkan pencapaian kompetensi (capaian pembelajaran) mahasiswa PPG selama dan setelah suatu program pembelajaran/perkuliahan dilakukan. Sementara itu, orientasi penilaian lebih dititik beratkan kepada seberapa jauh kompetensi/Capaian Pembelajaran (CP) yang sudah dicanangkan dapat dicapai oleh siswa yang dan disertai dengan pelacakan peran berbagai faktor aktualisasi kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan. Sebagaimana telah dipahami secara umum bahwa terdapat banyak faktor penentu aktualisasi kegiatan pembelajaran yang antara lain berupa faktor kompetensi guru/dosen, pendekatan dan metodologi yang dikembangkan guru/dosen, karakteristik isi/materi atau bahan ajar, bimbingan/pendampingan yang diperoleh, sarana dan prasarana pembelajaran yang tersedia, serta kondisi fisik/psikis mahasiswa PPG sendiri (Pedoman Penyelenggaraan Program PPG, 2018). Perkembangan pendidikan sekarang ini menuntut setiap siswa harus mampu berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS). Mahasiswa PPG pun tidak terlepas dari perkembangan tersebut. Salah satu faktor yang seringkali mendorong mahasiswa PPG gagal dalam ujian akhir PPG adalah tidak terbiasanya mahasiswa terhadap soal berbasis HOTS sehingga, mahasiswa sering terjebak dalam pertanyaan yang berbasis HOTS tersebut. Untuk membiasakan mahasiswa PPG terhadap soal berbasis HOTS maka, diperlukan adanya pengembangan instrumen penilaian berbasis HOTS. HOTS dapat dilatih dalam proses pembelajaran di kelas oleh karena itu, proses pembelajaran harus dapat memberikan ruang kepada peserta didik untuk menemukan konsep pengetahuan berbasis aktivitas. Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahanpenelitian ini difokuskan pada “Bagaimana pengembangan instrumen penilaian PPG berbasis HOTS di Universitas Muhammadiyah Surakarta?”. Fokus penelitian kemudian dirinci menjadi dua pertanyaan yaitu, Bagaimana mendesain instrumen penilaian berbasis HOTS yang layak bagi pembelajaran PPG?, dan Bagaimana efektivitas instrumen penilaian PPG berbasis HOTS yang dikembangkan di Universitas Muhammadiyah Surakarta? Secara umum penelitian ini ditujukan untuk mengembangkan instrumen penilaian PPG berbasis HOTS di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Tujuan khusus penelitian ini adalah mendesain instrumen penilaian PPG berbasis HOTS yang layak bagi pembelajaran PPG. METODE PENELITIAN Secara keseluruhan, penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan, yaitu suatu proses untuk mengembangkan produk yang telah ada dan Pengembangan Instrumen......(Jan Wantoro, dkk) 14 JPPD, 6, (1), hlm. 11 - 20 dapat dipertanggung jawabkan dari segi efisiensi, efektifitas dan kekokohannya (Sutama, 2012). Selanjutnya dalam penelitian ini akan dikembangkan instrumen penilaian PPG berbasis HOTS. Sedangkan pengembangan penelitian dilakukan dalam empat tahap, yaitu tahap pendefinisian (define), tahap perancangan (design), tahap pengembangan (develop), dan penyebaran (disseminate), atau biasa disebut model 4-D (four D Model). Desain penelitian yang akan dilakukan dalam dua tahun, yaitu 1) kualitatif, dan 2) evaluatif. Subjek penelitian yang digunakan adalah mahasiswa PPG di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Sebanyak 251 mahasiswa PPG Dalam Jabatan 2019 dijadikan sebagai subyek penelitian tahun 1 untuk menganalisis kebutuhan pengembangan instrument penilaian PPG berbasis HOTS. Subyek penelitian lainnya adalah instruktur PPG (Dosen PPG), ahli pendidikan dan ahli penilaian pendidikan. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, dokumentasi, observasi ,tes, dan angket (Denzin dan Lincoln, 2009). Metode pengumpulan data dalam pengembangan ditambah menggunakan focus group discussion (FGD). Sedangkan teknik analisis diterapkan menggunakan analisis kualitatif model alur dan komparasi deskriptif (Flick, Kardorff, and Steinke, 2004: 266). dan regresi linear ganda dan anova satu jalur. Langkah-langkah penelitian dan pengembangan ini secara keseluruhan dapat diringkas menjadi dua langkah utama. Kedua langkah utama diilustrasikan pada gambar 1 di bawah. Gambar 1. Diagram Langkah Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil pengembangan Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrument penilaian HOTS yang berupa soal pilihan ganda bagi mahasiswa PPG yang valid dan reliabel. Penilaian instrument dilakukan melalui analisis ahli untuk menguji kevalidan dari penilaian yang telah dibuat dan penilaian uji coba yang melibatkan 54 mahasiswa PPG Dalam Jabatan (Daljab) 2 tahun 2019. Analisis difokuskan pada persentase jawaban benar dari mahasiswa PPG Daljab 2. Workshop pengembangan instrument penilaian PPG berbasis HOTS Mengkaji teori yang relevan Survei, eksplorasi dan analisis data PBM PPG FGD hasil analisis data PBM PPG FGD Need Assessment Workshop penyusunan instrument penilaian PPG berbasis HOTS FGD review penyusunan instrument penilaian PPG berbasis HOTS FGD review pengembangan instrument penilaian PPG berbasis HOTS Instrument penilaian PPG berbasis HOTS Pengembangan Instrumen......(Jan Wantoro, dkk) 15 JPPD, 6, (1), hlm. 11 - 20 Proses pengembangan instrument penilaian HOTS meliputi penyusunan soal tes oleh tim (Wiggins and McTighe, 2011). Soal tes tersebut kemudian dilakukan penilaian oleh ahli pendidikan, hasil revisi dari penilaian ahli pendidikan kemudian akan dijadikan sebagai bahan uji coba terbatas. Hasil uji coba terbatas akan menjadi bagian dari revisi produk akhir terkait instrument penilaian berbasis HOTS yang siap diujicobakan di lapangan. Penilaian kevalidan instrument penilaian HOTS oleh ahli melalui beberapa tahapan terkait dengan aspek kelayakan bahasa, dan kelayakan isi. Kelayakan bahasa dan isi yang dinilai dalam pengembangan ini adalah ketepatan struktur pertanyaan, kebakuan istilah, kemampuan mendorong berpikir kritis, keakuratan materi, dan kesesuaian materi dengan perkembangan ilmu. Berdasarkan pendapat ahli maka, soal yang telah dikembangkan mendapatkan revisi di beberapa nomor soalnya. Soal-soal yang dibuat masih belum menunjukkan adanya HOTS sehingga, perlu dilakukan revisi. Dalam penyusunan soal yang mengukur tingkat berpikir tinggi perlu disajikan berbagai informasi melalui teks, gambar, grafik, tabel maupun yang lainnya, dan berisi informasi yang ada dalam kehidupan sehari-hari (Merta, I Wayan, dkk, 2019). Instrumen penilaian berbasis HOTS pada mahasiswa Daljab 2 PGSD UMS ditekankan pada soal cerita, dimana masing-masing mahasiswa akan menganalisis soal cerita dan mampu menjawab soal dengan benar. Adanya soal cerita akan menuntut mahasiswa untuk menganalisis setiap kalimat dalam soal cerita sehingga mahasiswa dapat menjawab soal dengan benar. Setiap soal yang ada selalu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Berdasarkan pada taksonomi bloom, dari 13 soal yang dikembangkan, hanya 3 soal (23,07%) yang merupakan LOTS (Lower Order Thinking Skills) dan 10 soal (76,93%) merupakan soal HOTS. Soal HOTS yang digunakan memang masih berkisar pada indikator mengaplikasi dan menganalisis saja. Hasil revisi dari ahli kemudian diujicobakan kepada mahasiswa PPG melalui soal pilihan ganda sebanyak 54 responden. 2. Analisis Butir soal Untuk mengetahui mutu dari soal yang telah dikembangkan selama proses PPG maka, digunakanlah analisis butir soal dengan memperhatikan empat aspek, yaitu: daya pembeda, tingkat kesukaran, pengecoh/distractor, dan homogenitas butir soal. a. Daya pembeda Daya pembeda dalam suatu soal bertujuan untuk mengukur sejauhmana butir soal mampu membedakan antara peserta didik yang menguasai materi dengan peserta didik yang tidak menguasai materi pembelajaran (Kurniawan, 2015). Semakin tinggi nilai daya pembeda maka soal tersebut baik untuk digunakan. Hal tersebut dikarenakan soal mampu membedakan kemampuan peserta didik dengan baik. Untuk mengetahui daya pembeda suatu soal maka, digunakanlah kriteria daya pembeda sesuai Tabel 1. Pengembangan Instrumen......(Jan Wantoro, dkk) 16 JPPD, 6, (1), hlm. 11 - 20 Tabel 1. Kriteria Daya Pembeda Indeks daya pembeda Penafsiran butir soal D > 0,40 Sangat baik 0,30 < D < 0,40 Baik 0,20 < D < 0,30 Cukup D < 0,20 Jelek Sumber: Arif, 2014 Pada analisis butir soal didapatkan data bahwa dari 13 soal yang telah disusun, hanya 3 soal (23,07%) yang memiliki daya pembeda sangat baik, 2 soal (15,39%) memiliki daya pembeda baik, 2 soal (15,39%) memiliki daya pembeda cukup, dan 6 soal (46,15%) memiliki daya pembeda jelek. Berdasarkan perhitungan maka tingkat daya pembeda soal rendah, artinya kemampuan soal untuk membedakan peserta didik yang menguasai materi dan tidak masih rendah. Perlu adanya perbaikan terhadap soal yang telah dikembangkan sehingga mampu memiliki daya pembeda yang lebih baik lagi. Pengembangan soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) harus mampu mendorong peserta didik untuk memahami materi pembelajaran dengan baik sehingga, soal yang memiliki daya pembeda tinggi akan berkaitan erat dengan soal HOTS. b. Tingkat kesukaran Tingkat kesukaran menunjukkan seberapa baik kualitas soal (Kurniawan, 2015). Soal yang mudah untuk dijawab oleh peserta didik tidak akan mendorong tingkat berpikir kritisnya seorang peserta didik, sedangkan soal yang terlalu sulit juga akan menyebabkan peserta didik untuk mudah putus asa dalam mengerjakan soal. Semakin kecil indeks kesukaran suatu soal maka soal tersebut akan semakin sulit, begitu pula sebaliknya. Ketika indeks yang diperoleh besar maka soal mudah dikerjakan oleh peserta didik. Untuk mengukur tingkat kesukaran suatu soal, maka digunakanlah kriteria tingkat kesukaran seperti pada Tabel 2. Tabel 2. Kriteria Tingkat Kesukaran Indeks kesukaran Penafsiran butir soal 0,00 – 0,30 Sukar 0,31 – 0,70 Sedang 0,70 – 1,00 Mudah Sumber: Arif, 2014 Berdasarkan perhitungan terhadap 13 soal oleh 54 peserta didik, didapatkan hasil bahwa hanya 3 soal (23,07%) yang memiliki indeks sukar, 2 soal (15,39%) memiliki indeks sedang, dan 8 soal (61,54%) memiliki indeks mudah. Jadi, dapat disimpulkan bahwa soal HOTS yang telah dikembangkan oleh tim masih memiliki indeks kesukaran Pengembangan Instrumen......(Jan Wantoro, dkk) 17 JPPD, 6, (1), hlm. 11 - 20 yang rendah. Setengah dari soal yang dikembangkan memiliki tingkat kesukaran yang sangat mudah. Soal HOTS memang bukanlah soal yang sulit atau sukar namun, harus mendorong siswa berpikir kritis. Mudahnya peserta didik untuk menjawab soal yang ada dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya: intensitas peserta didik menggunakan jenis soal yang sama. Semakin sering peserta didik menggunakan jenis soal yang sama atau relative sama akan mendorong peserta didik untuk menjawab benar terhadap soal yang disediakan. Dalam pengembangan soal HOTS diperlukan adanya soal yang memiliki kriteria sedang dan sukar lebih banyak dibandingkan soal yang mudah. c. Pengecoh/distraktor Analisis pengecoh merupakan analisis yang dilakukan untuk mengetahui keefektifan suatu pengecoh dalam suatu soal. Semakin banyak peserta didik yang memiliki pengecoh maka, pembuat soal harus memperhatikan lagi kunci jawaban yang tersedia (Arif, 2014). Depdiknas dalam kurniawan (2015) menyatakan bahwa pengecoh akan efektif jika dipilih oleh 5% atau lebih peserta didik dan dipilih oleh peserta didik yang tidak menguasai materi pembelajaran. Berdasarkan perhitungan Anates, kualitas pengecoh memiliki indikator yang kurang. Dari 13 soal yang dilakukan analisis, hanya 5 soal (38,46%) yang memiliki indeks pengecoh sangat baik, sedangkan 8 soal lainnya (61,54%) memiliki kualitas pengecoh yang buruk. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa secara tidak langsung, pembuat soal telah menunjukkan kunci jawaban dari setiap soal yang ada. Hal ini sesuai dengan analisis tingkat kesukaran, dimana soal yang telah disusun tersebut masih memiliki indeks kesukaran yang rendah. Peserta didik dapat langsung mengetahui kunci jawaban yang tersedia. Soal yang memiliki indeks pengecoh buruk masih belum sesuai dengan pengertian soal HOTS. Melalui soal yang ada, peserta didik tidak harus berpikir kritis untuk menemukan kunci jawabannya. 3. Validitas Soal Berdasarkan pada pengelompokkan indikator Kata Kerja Oprasional (KKO) soal menurut taksonomi Bloom, maka soal yang telah dikembangkan sudah sesuai dan masuk dalam kriteria soal HOTS. Meskipun ketika dilakukan analisis butir soal, sebagian besar soal memiliki indeks dibawah skor kelayakan untuk aspek daya pembeda, tingkat kesukaran dan pengecohnya. Hanya terdapat 1 soal saja yang memiliki korelasi sangat signifikan antara keseluruhan aspek tersebut. Untuk mengetahui nilai korelasinya dapat dilihat pada tabel 3. Selanjutnya soal yang telah disusun perlu ditingkatkan tingkat kesukarannya, distraktor/pengecohnya, dan daya bedanya. Pengembangan Instrumen......(Jan Wantoro, dkk) 18 JPPD, 6, (1), hlm. 11 - 20 Tabel 3. Rekap Analisis Butir Soal No Daya pembeda Tingkat kesukaran Korelasi Sign. Korelasi 1 53,33 Mudah 0,465 - 2 33,33 Sukar 0,263 - 3 53,33 Mudah 0,624 Sangat signifikan 4 20,00 Sedang 0,225 - 5 13,33 Sukar 0,190 - 6 40,00 Mudah 0,294 - 7 46,67 Mudah 0,452 - 8 40,00 Mudah 0,413 - 9 20,00 Sangat mudah 0,247 - 10 13,33 Sangat mudah 0,219 - 11 -6,67 Sangat mudah -0,047 - 12 0,00 Sangat sukar 0,113 - 13 26,67 Sedang 0,204 - Sumber: hasil perhitungan, 2019 Berdasarkan tabel 3, dapat dilihat bahwa soal yang telah dikembangkan memiliki validitas yang sangat rendah. Rendahnya validitas soal tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai aspek, seperti: intensitas mengerjakan soal yang relatif sama, dan pemahaman materi oleh peserta didik. Karena peserta didik PPG merupakan guru-guru yang telah memiliki pengalaman kerja cukup lama maka, pemahaman guru terkait suatu materi pembelajaran sudah sangat baik sehingga mampu menjawab soal dengan mudah. Meskipun demikian, perlu adanya peningkatan kualitas soal PPG agar dapat dikatakan soal yang HOTS. SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis, tingkat daya pembeda soal yang telah diberikan masih rendah, sehingga mahasiswa yang sudah menguasai materi dengan yang belum menguasai materi tidak dapat dibedakan dengan baik. Masih diperlukan perbaikan terhadap soal yang telah dikembangkan agar mampu memiliki daya pembeda yang lebih baik lagi. Soal HOTS yang telah dikembangkan oleh tim masih memiliki indeks kesukaran yang rendah, yaitu setengah dari soal yang dikembangkan masih berada pada tingkat kesukaran yang sangat mudah. Jenis soal yang sama atau relatif sama dan sering ditemuai oleh peserta didik akan mendorong peserta didik untuk menjawab benar terhadap soal yang disediakan. Dalam pengembangan soal HOTS diperlukan adanya soal yang memiliki kriteria Pengembangan Instrumen......(Jan Wantoro, dkk) 19 JPPD, 6, (1), hlm. 11 - 20 sedang dan sukar lebih banyak dibandingkan soal yang mudah. Berdasarkan perhitungan Anates, kualitas pengecoh memiliki indikator yang kurang, hasil tersebut menunjukkan bahwa pembuat soal telah menunjukkan kunci jawaban meskipun secara tidak langsung. Hal ini sesuai dengan analisis tingkat kesukaran, dimana soal yang telah disusun tersebut masih memiliki indeks kesukaran yang rendah. Soal yang memiliki indeks pengecoh buruk masih belum sesuai dengan pengertian soal HOTS. DAFTAR PUSTAKA Delyanti, Azzumarito. 2014. Pengembangan Instrumen Tes Literasi Matematika Model PISA. Journal of Educational Research and Evaluation 3 (2), 74-78 Denzin, N.K. &Lincoln, Y.S. 2009. Handbook of Qualitative Research (Edisi Bahasa Indonesia). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Depdiknas. 2013. Pedoman Penilaian Hasil Belajar. Depdiknas. Jakarta Himah, Faiqotul. dkk. 2016. Pengembangan Instrumen Tes Computer Based Test- Higher Order Thinking (CBT-HOT) pada Mata Pelajaran Fisika di SMA. Jurnal Pembelajaran Fisika, 5 (1), 89-95 Kurniawan, Tutut. 2015. Analisis Butir Soal Ulangan Akhir Semester Gasal Mata Pelajaran IPS Sekolah Dasar. Journal of Elementary Education, vol 4(1), 1-6 Lantip Diat Prasojo, Udik Budi Wibowo, Arum Dwi H. 2017. Manajemen Kurikulum Program Profesi Guru untuk Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal di Universitas Negeri Yogyakarta. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 2 (1) Merta, I Wayan; Nur Lestari; Dadi Setiadi. 2019. Teknik Penyusunan Instrumen Higher Order Thinking Skills (HOTS) Bagi Guru-Guru SMP Rayon 7 Mataram. Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat, vol 2(1), 48-53 Miller, M. D., Linn, R. L., & Gronlund, N. E. 2012. Measurement and Assessment in Teaching. New Jersey: Pearson Higher Education Pedoman Penyelenggaraan Program PPG. 2018. Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Permendiknas No 8 Tahun 2009). Permendiknas No. 87 Tahun 2013 Panduan Pelaksanaan Sertifikasi Guru Tahun 2006 Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta Sutama. 2012. Metode Penelitian Pendidikan (Kuantitatif, Kualitatif, PTK, R&D). Surakarta: Fairuz Media Tutik Wijayanti, dkk. 2014. Pengembangan Instrumen Penilaian Pembelajaran (Implementasi Penilaian Kemampuan Berpikir Kritis dan Karakter Demokratis pada Materi Sistem Politik Indonesia dengan Metode Pembelajaran Role Playing Berbasis Konservasi. Innovative Journal of Curriculum and Educational Technology, 3 (2), 30-37 Pengembangan Instrumen......(Jan Wantoro, dkk) 20 JPPD, 6, (1), hlm. 11 - 20 Uno, Hamzah. 2008. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara. Wiggins, G., and McTighe, J. 2011. The Understanding by Design Guide to Creating Highquality Units. Alexandria, VA: ASCD