Analisis Kemampuan Inovasi......(Anna Mariyani) 189 JPPD, 6, (2), hlm. 189 - 198 Vol. 6, No. 2, Desember 2019 PROFESI PENDIDIKAN DASAR e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN: 2406-8012 DOI: 10.23917/ppd.v1i2.9028 ANALISIS KEMAMPUAN INOVASI PEMBELAJARAN GURU SEKOLAH DASAR DALAM IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK KURIKULUM 2013 Anna Mariyani Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, STKIP Muhammadiyah Blora annamariyani@gmail.com PENDAHULUAN Anak di kelas awal SD berada pada masa rentangan usia dini sehingga pada masa tersebut kemampuan anak untuk bergaul dengan hal- hal yang bersifat abstrak pada umumnya baru terbentuk pada usia ketika mereka duduk di kelas terakhir SD dan berkembang lebih lanjut pada usia SMP. Pengalaman belajar yang lebih menunjukkan kaitan unsur- unsur konseptualnya, baik intra maupun antarbidang studi akan meningkatkan peluang bagi terjadinya pembelajaran yang lebih efektif. Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Pembelajaran pada kelas rendah sekolah dasar seperti yang dijabarkan di atas berbeda dengan kondisi riil yang terjadi di lapangan. Berdasarkan hasil tugas mata kuliah yang peneliti berikan kepada mahasiswa tentang observasi proses pembelajaran Abstract: This study was conducted with the following objectives: 1) analyzing elementary school teachers 'understanding of the thematic approach, 2) obtaining a profile of elementary school teachers' ability to innovate in the learning process with a thematic approach, and 3) knowing the obstacles of teachers in implementing thematic approaches in elementary school. The study used a qualitative descriptive method with research subjects from grade 1 to grade 6 students in five elementary schools in Blora District, Blora Regency, collected by observation and interview. Triangulation is done through focus group discussions between researchers, teachers, and school principals. The results showed that conceptually the teacher understood the thematic approach well, but in its implementation 24 of the 30 teachers studied did not innovate in the learning process. Keywords: : Learning innovation, teacher ability, Primary School teacher, thematic approach http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i2.8710 mailto:annamariyani@gmail.com Analisis Kemampuan Inovasi......(Anna Mariyani) 190 JPPD, 6, (2), hlm. 189 - 198 pada kelas rendah, realitasnya banyak guru belum benar-benar memahami pembelajaran tematik. Penelitian tentang permasalahan ini sebelumnya lebih terfokus media pembelajaran tematik akan tetapi ada sebagian guru yang tidak paham sama sekali bagaimana menerapkan pembelajaran tematik mulai dari perencanaan, proses, dan evaluasi pembelajaran tematik. Adanya realitas tersebut, penelitian dengan topik pembelajaran tematik dipandang sangat penting dan sesuai dengan kebutuhan guru. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mencermati lebih mendalam mengenai permasalahan dalam implementasi pembelajaran tematik di sekolah dasar di Kecamatan Blora Kabupaten Blora Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, tiga pertanyaan penelitian yang dibahas dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. Bagaimanakah pemahaman guru SD di Kecamatan Blora tentang inovasi pembelajaran dengan pendekatan tematik? 2. Bagaimana kemampuan guru SD di Kecamatan Blora dalam melaksanakan pendekatan tematik? 3. Hambatan-hambatan apa saja yang dialami guru dalam mengimplementasikan pendekatan tematik di SD Kecamatan Blora? METODE PENELITIAN Penelitian ini di laksanakan di Sekolah Dasar yang terletak di Kecamatan Blora. Sekolah yang dimaksud adalah; SD Muhammadiyah Blora, SD N 1 Jetis, SD Bangkle 1, SD N 1 Karangjati dan SD N 1 Kauman. Subjek dalam penelitian ini adalah guru kelas I sampai VI, di lima SD lokasi penelitian. Jadi dalam studi kasus ini, peneliti tidak mengambil secara keseluruhan komponen-komponen yang ada di lima SD Kecamatan Blora. Penelitian hanya dibatasi terkait dengan proses pembelajaran tematik, serta seluruh aktivitas guru dan siswa selama dalam proses pembelajaran. Tujuan pembatasan ini adalah agar kajian analisis kemampuan guru dalam implementasi pembelajaran tematik dapat dilakukan secara komprehensif dan mendalam. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Digunakannya pendekatan kualitatif karena dalam penelitian ini, akan dilakukan kajian terhadap aktivitas sejumlah kelompok manusia yang sedang berlangsung dalam proses kegiatan pendidikan. Bogdan dan Biklen (1982:3) menjelaskan bahwa “dalam bidang pendidikan, penelitian kualitatif sering disebut penelitian naturalistik, karena penelitian ini sering berada di tempat dimana peristiwa- peristiwa yang menarik perhatian terjadi secara alamiah”. Atas dasar itu, maka penelitian ini dapat digolongkan ke dalam penelitian kualitatif-naturalistik. Penelitian kualitatif-naturalistik, peneliti memperlakukan dirinya sebagai instrument utama (human instrument) yaitu bergerak dari hal-hal yang spesifik, dan dari tahapan yang satu ke tahap berikutnya, serta memadukannya sedemikian rupa sehingga pada akhirnya dapat ditemukan kesimpulan- kesimpulan. Sejalan dengan itu, Creswell (2010:261) mengatakan bahwa dalam Analisis Kemampuan Inovasi......(Anna Mariyani) 191 JPPD, 6, (2), hlm. 189 - 198 penelitian kualitatif peneliti adalah instrument kunci (researcher as key instrument) yang mengumpulkan sendiri data melalui dokumentasi, observasi dan wawancara dengan partisipan. Kecenderungan peneliti memilih pendekatan ini, karena masalah yang diteliti sedang berlangsung dalam proses kegiatan pendidikan, yaitu kegiatan pembelajaran di kelas rendah dengan menggunakan pendekatan tematik. Selanjutnya alasan peneliti memilih pendekatan kualitatif-naturalistik adalah disebabkan data yang akan diperoleh dari penelitian ini di lapangan lebih banyak menyangkut perbuatan dan ungkapan kata- kata dari responden yang sedapat mungkin bersifat alami, tanpa adanya rekayasa. Sebagaimana Moleong (2006:3) mengatakan bahwa “penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data kualitatif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari perilaku orang-orang yang diamati”. Metode yang digunakan adalah metode studi kasus dimana pada penelitian ini berusaha mengungkap penerapan pendekatan tematik dalam proses pembelajaran yang meliputi pemahaman guru tentang pendekatan tematik, pelaksanaan pembelajaran tematik, dan kendala-kendala dalam pembelajaran tematik. Kasus yang dimaksud dalam penelitian adalah implementasi pendekatan tematik dalam pembelajaran di SD Kecamatan Blora yang akan diteliti. Kasus tersebut dibatasi dalam konteks pembelajaran pada pendekatan tematik. Penggunaan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus diharapkan dapat mengungkap aspek- aspek yang diteliti. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, artinya peneliti terjun langsung ke lapangan untuk mencari informasi yang berhubungan dengan fokus penelitian melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan catatan lapangan (field notes). Hal ini sesuai dengan pendapat Cresswel (2010:261) yang mengatakan “dalam penelitian kualitatif, peneliti berperan sebagai instrument kunci (researcher as key instrument) mengumpulkan data melalui dokumentasi, observasi perilaku atau wawancara. Human instrument ini dibangun atas dasar pengetahuan dan menggunakan metode yang sesuai dengan tuntutan penelitian”. Untuk memudahkan pengumpulan data di lapangan, peneliti dipandu oleh pedoman observasi, pedoman wawancara, dan rambu-rambu studi dokumentasi. Analisis data mengikuti cara Miles dan Huberman (Sugiyono, 2012) yang terdiri dari empat alur kegiatan, yaitu: pengumpulan data, reduksi data, display data, dan verifikasi/ menyimpulkan data. Alur kegiatan di atas dapat dijabarkan bahwa empat jenis kegiatan utama yakni pengumpulan data, reduksi data, display data, dan verifikasi/ menyimpulkan data merupakan proses siklus interaktif. Reduksi data dalam penelitian akan dilakukan dengan cara mengelompokkan data yang telah terkumpul sesuai dengan aspek-aspek permasalahan penelitian. Reduksi data ini dilakukan untuk menajamkan dan mengorganisasikan data lapangan yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dokumentasi, dan catatan lapangan. Dengan demikian kesimpulannya dapat diverifikasi untuk dijadikan temuan penelitian terhadap masalah yang diteliti. Data yang telah direduksi kemudian disajikan (display) dalam bentuk deskripsi sesuai dengan aspek- Analisis Kemampuan Inovasi......(Anna Mariyani) 192 JPPD, 6, (2), hlm. 189 - 198 aspek penelitian Penyajian data ini dimaksudkan untuk memudahkan peneliti menafsirkan data dan menarik kesimpulan. Berdasarkan kepada aspek penelitian, maka data yang diperoleh dari lapangan akan disajikan secara struktural mengenai keadaan faktual tentang implementasi pembelajaran tematik di SD Kecamatan Blora. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemahaman guru tentang pendekatan tematik didapatkan dari hasil wawancara terhadap tiga puluh orang guru di SD yang diteliti. Untuk mengkonfirmasi lebih lanjut mengenai pemahaman guru terkait pendekatan tematik pada dua sekolah di atas, peneliti melakukan pertanyaan lanjutan tentang arti pentingnya penggunaan pendekatan tematik dilaksanakan untuk siswa Sekolah Dasar. Berdasarkan pertanyaan yang kedua ini, dari dua SD di atas peneliti tidak menemukan alasan yang cukup kuat sesuai dengan teori bahwa sejatinya pembelajaran tematik dilaksanakan pada anak usia SD disebabkan anak masih berada pada fase operasional konkrit yang mana cara berfikir anak dalam belajar masih bersifat holistik. Hampir semua guru tidak mampu menjawab secara pasti dan terlihat ragu-ragu dalam memberikan jawaban. Adapun guru yang menjawab menjelaskan dasar pentingnya pembelajaran tematik dilaksanakan tidak lebih karena alasan tuntutan kurikulum dan kebijakan pemerintah. Meskipun tidak dijelaskan menurut definisi yang benar setidaknya guru bisa menjawab bahwa pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang menggabungkan dua atau lebih mata pelajaran ke dalam satu tema. Akan tetapi alasan penting kenapa tematik perlu diimplementasikan untuk anak usia sekolah dasar, sebagian besar guru tidak mampu menjawab, terlihat ragu-ragu, adapun yang menjawab tidak lebih alasannya karena tuntutan dari kebijakan perubahan kurikulum secara nasional. Artinya guru pada dua SD tersebut tidak mampu menjelaskan alasan filosofis penerapan pembelajaran tematik di SD. Berdasarkan jawaban dari wawancara yang dilakukan ditemukan bahwa hampir semua guru mampu menjelaskan dan memahami pendekatan tematik. Hal ini terlihat dari jawaban responden bahwa pendekatan tematik merupakan pendekatan yang memadukan dua mata pelajaran atau lebih dengan menggunakan tema sebagai penghubung mata pelajaran. Kemampuan Guru SD dalam Melaksanakan Inovasi Pembelajaran dengan Pendekatan Tematik Pelaksanaan pembelajaran tematik di 5 SD yang diteliti secara umum belum sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah dirancang guru. Pada saat pelaksanaan pembelajaran guru belum sepenuhnya berpedoman pada RPP. Sehingga yang sering terlihat dalam proses pembelajaran adalah ketidaksesuaian antara perencanaan yang dibuat guru dengan pelaksanaan pembelajaran. Pada dasarnya RPP yang dibuat guru di 5 SD yang menjadi tempat penelitian ini sudah menganut prinsip pembelajaran tematik. Contohnya saja pada indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, dan kegiatan pembelajaran yang dirancang guru sudah mengaitkan antara Analisis Kemampuan Inovasi......(Anna Mariyani) 193 JPPD, 6, (2), hlm. 189 - 198 dua atau lebih mata pelajaran dengan tema yang ditetapkan. Namun tematik pada RPP tidak terlihat ketika guru melaksanakan pembelajaran. Sebagian besar guru tidak melaksanakan pembelajaran tematik bukan karena ketidakmampuan atau tidak mengerti mengimplementasikannya, akan tetapi lebih karena alasan teknis untuk mengejar target ketercapaian materi dan tuntutan sistem dalam kurikulum pendidikan nasional. Hampir sebagian besar guru mengatakan bahwa yang dituntut dari guru adalah agar materi bisa disampaikan semuanya kepada siswa, dan nilai siswa di atas rata-rata sehingga berdampak pada peringkat sekolah. Implementasi pendekatan tematik tidak terlaksana adalah karena kurangnya pengalaman dan pelatihan yang didapatkan guru dalam melaksanakan pembelajaran tematik. Sementara itu mitra sesama guru pun tidak ada yang bisa dijadikan model/panutan dalam pelaksanaan pembelajaran tematik yang ideal. Hal ini cukup beralasan karena SD tersebut merupakan salah satu sekolah yang ditunjuk sebagai pilot project implementasi kurikulum 2013. Berdasarkan hasil observasi terlihat guru-guru pada SD ini sudah berupaya melaksanakan tematik integratif dalam proses pembelajaran. Namun dari hasil pengamatan, perpindahan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya masih terlihat jelas pada saat pembelajaran berlangsung. Peneliti tidak melihat hubungan antara tema yang digunakan dengan penyampaian materi pada setiap mata pelajaran yang dikaitkan oleh guru. Hambatan-hambatan Guru dalam Pelaksanaan Pendekatan Tematik Dari hasil wawancara dengan semua guru terkait faktor pendukung dan penghambat pembelajaran tematik, secara umum informasi yang didapatkan dapat dideskripsikan sebagai berikut: faktor-faktor pendukung yang disampaikan oleh semua guru adalah berupa ketersediaan sumber bahan ajar, tuntutan hasil akhir bukan pada proses pembelajaran, fasilitas/ sarana dan prasarana, ketersediaan media, guru partner, keterampilan serta kreatifitas guru dalam mengelola pembelajaran, dan kebijakan kepala sekolah yang dapat mendukung implementasi pendekatan tematik. Sementara itu dari segi faktor penghambat, guru-guru menuturkan mulai dari waktu untuk mempersiapkan materi-materi yang relatif lebih lama dibanding kurikulum sebelumnya, kurangnya sumber belajar untuk pengayaan siswa, mindset orang tua yang menganggap anaknya tidak mempelajari materi yang jelas, dan sebagian guru yang tidak menginginkan pembelajaran tematik, mengendalikan antusiasme belajar siswa, dan persiapan media, alat peraga, serta sumber belajar yang lebih banyak dan bahkan belum pernah dilakukan/ dibuat sebelumnya. Pelaksanaan pendekatan tematik memiliki relevansi yang sangat kuat dengan tingkat perkembangan anak usia sekolah dasar yang berada pada fase operasional konkrit. Melalui pembelajaran dengan pendekatan tematik anak sekolah dasar akan diajak belajar sesuai dengan dunia nya yaitu pembelajaran yang dekat dengan konteks kehidupan dan pengalamannya sehari-hari. Berkaitan dengan hal ini menjadi sangat penting bagi guru Sekolah Dasar memahami secara filosofis arti pentingnya pendekatan tematik untuk proses pembelajaran di SD. Karena tanpa memahami landasan filosofis pembelajaran tematik Analisis Kemampuan Inovasi......(Anna Mariyani) 194 JPPD, 6, (2), hlm. 189 - 198 dikhawatirkan bahwa proses pembelajaran yang dilakukan guru hanya untuk memenuhi syarat administrasi sekolah dan tuntutan kurikulum. Pembelajaran tematik adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan. Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar siswa. Pengalaman belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema, sehingga siswa akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Selain itu, dengan penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar akan sangat membantu siswa, karena sesuai dengan tahap perkembangan siswa yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik). Menurut Jean Piaget (dalam Dantes, 2008) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya. Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut: (1) Mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, (2) Mulai berpikir secara operasional, (3) Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, (4) Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat, dan (5) Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat. Analisis Kemampuan Inovasi......(Anna Mariyani) 195 JPPD, 6, (2), hlm. 189 - 198 Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan. (2) Integratif, pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah- milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian. (3) Hierarkis, pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi. Berkaitan dengan temuan penelitian adalah menjadi sebuah keniscayaan bagi guru Sekolah Dasar untuk kembali memahami hakekat perkembangan anak usia 7 – 12 Tahun. Tugas ini juga yang melekat sebagai fungsi kompetensi pedagogik yang harusnya selalu dimiliki, dihayati, dipahami, serta diimplementasikan guru dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab profesi guru SD. Sementara itu, Uno (2009: 17) menjelaskan “apabila seorang guru ingin menjadi guru yang professional maka sudah seharusnya ia dapat selalu meningkatkan wawasan pengetahuan akademis dan praktis melalui jalur pendidikan berjenjang ataupun up- grading dan/ atau pelatihan yang bersifat in-service training dengan rekan-rekan sejawatnya”. Terakhir, setiap pengembangan dalam hal pembelajaran perlu didukung oleh kebijakan-kebijakan kepala sekolah. Kebijakan yang jelas dan baik akan dapat memberikan kelancaran dan kemudahan dalam implementasi pembelajaran tematik. Menurut Mulyasa (2013:106) ada beberapa kebijakan yang relevan diambil kepala sekolah dalam membantu kelancaran implementasi pembelajaran tematik, yaitu: a) Memprogramkan perubahan kurikulum sebagai bagian integral dari program sekolah secara keseluruhan. b) Menganggarkan biaya operasional untuk ketersediaan media dan sumber pembelajaran sebagai bagian dari anggaran sekolah. c) Meningkatkan mutu dan kualitas guru, serta fasilitator agar dapat bekerja secara professional (meningkatkan profesionalisme guru). d) Menyediakan sarana dan prasarana yang memadai untuk kepentingan pembelajaran. e) Menjalin kerjasama yang baik dengan unsur-unsur terkait secara resmi dalam kaitannya dengan implementasi pembelajaran tematik. Jadi, secara garis besar dapat dikatakan bahwa dalam menghadapi masalah- masalah atau hambatan-hambatan dalam kegiatan pendidikan hendaknya semua komponen pendidikan dilibatkan, baik itu guru, administrator, orang tua siswa, dan masyarakat. Analisis Kemampuan Inovasi......(Anna Mariyani) 196 JPPD, 6, (2), hlm. 189 - 198 SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan: 1. Hampir semua guru mampu menjelaskan dan memahami pendekatan tematik. 2. Kemampuan guru dalam malaksanakan pendekatan tematik masih rendah terutama dalam permindahan antar muatan pelajaran yang tidak nyambung. Disamping itu beberapa guru kurang implementatif dengan alasan mengejar target materi sesuai kurikulum. 3. Hambatan yang dialami guru dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik adalah waktu, mindset orang tua, penolakan guru menggunakan pembelajaran tematik karena persiapan yang lebih kompleks dan melelahkan. Berdasarkan simpulan di atas, penelitian ini merekomendasikan beberapa hal agar implementasi pembelajaran tematik di Sekolah Dasar dapat berjalan maksimal dan seperti yang diharapkan, yaitu sebagai berikut: Kepala Sekolah perlu lebih mengintensifkan pendampingan terhadap guru dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik. Selain itu, kepala sekolah juga harus selalu memberikan dukungan dan support yang lebih kepada guru terutama dalam memberikan semua sumber daya yang ada seperti membantu menyediakan sarana dan sumber pembelajaran, memberikan sumber pendanaan untuk ketersediaan media pembelajaran. 1. Semua guru diharapkan mempunyai komitmen yang lebih dalam mempersiapkan, melaksanakan, dan melakukan evaluasi pembelajaran tematik. Selain itu, guru harus memahami betul konsep pembelajaran tematik atau pembelajaran terpadu sehingga penerapan pembelajaran tematik sesuai dengan tuntutan kurikulum. Sebagai ujung tombak pelaksana kurikulum di lapangan guru harus benar-benar paham dengan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan metode pembelajaran. Guru tidak bisa hanya menunggu informasi tapi harus aktif mencari informasi perkembangan metode- metode pembelajaran muthakhir dari berbagai sumber sebagai bentuk tanggung jawab profesi. 2. Pemerintah dalam hal ini kemendikbud, perlu memperhatikan kualitas intstruktur untuk sosialisasi pelatihan pembelajaran tematik. Penujukkan instruktur perlu lebih diperketat dan yang dipilih benar-benar memiliki kapasitas dan kapabilitas yang mumpuni, sehingga dalam implementasi di lapangan guru-guru mendapatkan pemahaman yang komprehensif dalam melaksanakan pembelajaran tematik. Selain itu, guru perlu didampingi dan dipantau secara berkelanjutan agar pelatihan-pelatihan yang diberikan tidak sekedar menjadi wacana tapi dievaluasi hasilnya degan menggunakan indikator yang terukur. Analisis Kemampuan Inovasi......(Anna Mariyani) 197 JPPD, 6, (2), hlm. 189 - 198 DAFTAR PUSTAKA Akbar, S. 2010. Pengembangan Model- model Pembelajaran Tematis untuk kelas 1 dan 2 SD: Identifikasi dan Perancangan Model Konseptual Pembelajaran Tematis untuk kelas 1 dan 2 SD. Laporan Penelitian, Malang: Lemlit UM. Anitah W.S. 2009. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka. Bogdan, B.C. and Biklen, S.K. (1982) Qualitative Research for Education, an Introduction to Theory and Methode. Boston: Allyn and Bacon, Inc. Creswell, J.W. 2010. Research Design Qualitative, Quantitative and Mixed Methods Approach (Third Edition). Penerjemah Achmad Farwaid. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas. Joni, T. R. 1996. Pembelajaran Terpadu. Naskah Program Pelatihan Guru Pamong, BP3GSD PPTG Ditjen Dikti. Lincoln, Y.S. dan Guba, E.G. (1985). Naturalistik Inquiry. London: Sage Publication. Moleong, L.J. 2006. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Mulyasa, E. 2013. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Nasution, S. 1988. Metode Penelitian Naturalistik-Kualitatif. Bandung: PT. Trasito. Sugiyono. 2012. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta. Suryosubroto. 2009. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta. Trianto. 2009. Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik. Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya. Grigg, R. 2015. Becoming an Outstanding Primary School Teacher. Becoming an Outstanding Primary School Teacher. New York: Routledge. Karli, H. 2016. Penerapan Pembelajaran Tematik SD Di Indonesia. EduHumaniora Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru, 2 (1). Karyani, L. T. 2017. Implementasi Pembelajaran Tematik Integratif Dengan Pendekatan Scientific Pada Kelas 5 Sekolah Dasar Negeri Unggulan Di Kabupaten Purworejo. E-Jurnal Skripsi Mahasiswa TP, 6 (8): 754–761. Analisis Kemampuan Inovasi......(Anna Mariyani) 198 JPPD, 6, (2), hlm. 189 - 198 Trianto. 2011. Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik bagi Anak Usia Dini TK/ RA dan Anak Usia Kelas Awal SD/ MI. Jakarta: Prenada Media Group. Uno, H.B. 2009. Profesi Kependidikan: Problema, Solusi, dan Reformasi Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Bumi Akasara.