Analisis Kompetensi Pedagogik......(Fadilah IN & Ika CS) 1 JPPD, 7, (1), hlm. 1 - 14 Vol. 7, No. 1, Juli 2020 PROFESI PENDIDIKAN DASAR e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN: 2406-8012 DOI:doi.org/10.23917/ppd.v1i1.9128 ANALISIS KOMPETENSI PEDAGOGIK CALON GURU SEKOLAH DASAR DALAM MATA KULIAH MICROTEACHING Fadilah Ismiya Niswati1), Ika Candra Sayekti2) 1, 2) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta 1fadhilahismiya@gmail.com; 2ics142@ums.ac.id PENDAHULUAN Proses pembelajaran adalah rangkaian aktivitas yang dilakukan antara guru dan siswa dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Guru yang kreatif dan berkompeten akan lebih mudah dalam mengelola kelas, sehingga dapat menciptakan pembelajaran yang optimal dan menyenangkan. Akan tetapi, masih ada beberapa guru yang belum dapat mengelola kelas dengan baik. Hal tersebut dikarenakan kurangnya kreativitas guru dalam memvariasikan pembelajaran menggunakan strategi dan metode pembelajaran yang beragam. Selain itu, sulitnya guru untuk menghadapi berbagai macam karakter siswa dan kedisiplinan siswa saat pembelajaran. Oleh sebab itu, diperlukan sosok guru profesional yang mampu menguasai proses pembelajaran. Guru yang profesional harus memiliki empat kompetensi utama seperti dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 dijelaskan tentang standar kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru ada 4 standar kompetensi utama, yaitu kompetensi profesional, kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial Abstract: This study aims to describe: 1) pedagogical competencies mastery of student in Elementary School Teacher Education Department; 2) obstacles of pedagogical competencies faced by informant; 3) effort conducted by the informant to overcome the obstacles of pedagogical competencies. This is a qualitative study using descriptive methods. Data collection techniques used were observation, structured interviews and documentation. The results showed that 1) prospective teachers were able to master seven pedagogical of ten competencies, so the informant require to improve three other aspects, that are: curriculum development; implementation of educated learning; and effectively, empathically, and politely communication with students; 2) obstacles faced by informant are they haven’t mastered content material well; lack of creativity in media development; and they haven’t mastered classical management well; 3) efforts that required by the informant are by increasing knowledge about learning materials by finding references from various sources, increasing creativity in media development, and being able to be assertive and be able to reprimand students. Keywords: pedagogical competence, microteaching, elementary school teacher education mailto:fadhilahismiya@gmail.com mailto:ics142@ums.ac.id Analisis Kompetensi Pedagogik......(Fadilah IN & Ika CS) 2 JPPD, 7, (1), hlm. 1 - 14 (Ristyantoro, 2015). Salah satu kompetensi yang harus dikuasai adalah kompetensi pedagogik. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan seorang guru untuk mengelola proses belajar yang berhubungan dengan siswa (Ali, 2013). Guru yang mengajar harus mampu menguasai dan memahami kompetensi pedagogik secara menyeluruh akan tetapi, masih terdapat beberapa guru yang belum menguasai kompetensi pedagogik dengan baik, seperti pengelolaan kelas, penggunaan teknologi, pemilihan variasi pembelajaran, dsb. Selain itu, masih terdapat problematika guru dalam menguasai karakteristik peserta didik (Nurhamidah, 2018). Saat ini sudah berkembang kompetensi guru yang disebut Technological Pedagogical And Content Knowledge (TPACK). TPACK adalah dasar dari mengajar yang efektif dengan teknologi, pengetahuan tentang konsep-konsep belajar serta pengetahuan tentang penggunaan teknologi (Nofrion, Bayu Wijayanto, Ratna Wilis, 2012). Akan tetapi, masih terdapat guru yang kurang mampu menguasai perkembangan teknologi dengan baik dan menyebabkan lambatnya pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan serta mengakibatkan prestasi belajar siswa menurun (Soewarno, Hasmiana, 2017). Menurut (Sunardi, Imam S., Endang W. W., 2017) berdasarkan Permendikbud no.16 tahun 2007 kompetensi pedagogik yang harus dikuasai oleh guru meliputi 1) menguasai karakteristik siswa dari aspek fisik, moral, spiritual, sosial, kultural, emosional, dan intelektual, 2) menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik, 3) mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu, 4) menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik, 5) memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran, 6) memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki, 7) berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik, 8) menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar, 9) memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran, 10) melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Sebagai calon guru di program studi kependidikan, mahasiswa harus menguasai dan memahami seluruh kompetensi pedagogik agar melahirkan calon guru yang kreatif dan inovatif khususnya mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Untuk menjadi calon guru profesional, mahasiswa harus melaksanakan praktek mengajar terlebih dahulu agar cakap dan aktif ketika berada di lapangan. Oleh sebab itu, mahasiswa PGSD UMS khususnya Program Studi PGSD diberikan mata kuliah microteaching untuk mempersiapkan diri agar mampu terjun langsung di lapangan. Menurut (Ningsih, 2017) program pengajaran micro bertujuan untuk melatih calon guru meningkatkan kemampuan mengajar mereka. Output dari mata kuliah pengajaran mikro ini, mahasiswa mampu melaksanakan pembelajaran di sekolah dasar secara efektif (Indriani, 2015). Permasalahan yang terjadi adalah terkadang masih terdapat mahasiswa yang belum menguasai materi-materi dan keterampilan dasar mengajar dengan baik. Pada Analisis Kompetensi Pedagogik......(Fadilah IN & Ika CS) 3 JPPD, 7, (1), hlm. 1 - 14 kurikulum 2013 berbagai aspek kegiatan selama pembelajaran perlu diamati dan dinilai oleh guru. Guru pun perlu mengamati dan memahami karakter dari setiap individu yang nantinya digunakan bahan evaluasi oleh calon guru atas keberhasilannya dalam mengajar. Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh (Indriani, 2015) mahasiswa mengalami hambatan dalam mengelola pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013 pada pengajaran micro meliputi pengembangan instrumen penilaian, mengaitkan indikator setiap mata pelajaran sesuai tema, pemindahan mata pelajaran satu ke mata pelajaran lainnya, membuat APE sesuai dengan tema dan mengembangkan materi. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mengasah mental untuk berbicara di depan kelas dan juga perlu menguasai kurikulum 2013 secara keseluruhan. Pada kajian ini, penulis mengkaji lebih dalam kemampuan pedagogi mahasiswa dalam melaksanakan proses pembelajaran pada mata kuliah microteaching. Penelitian lain yang dilakukan oleh (Juliana, Marmawi, R, 2017) mengkaji barusebatas mengetahui kompetensi pedagogi guru usia 5-6 tahun, adapun kajian ini berusaha mendeskripsikan kemampuan pedagogi calon guru secara utuh termasuk hambatan yang dialami beserta solusi yang dilakukan oleh informan. Penelitian yang lain oleh (Wardani, 2017) mengkasi pelaksanaan kompetensi pedagogi guru di SD Muhammadiyah 16 Surakarta yang menunjukkan masih terdapat beberapa masalah yang dialami guru dalam pembelajaran, maka pada kajian ini akan mendeteksi lebih awal problematika yang dialami calon guru pada ranah kemampuan pedagogi yang dimiliki. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis mengkaji “Analisis Kompetensi Pedagogik Calon Guru Sekolah Dasar dalam Mata Kuliah Microteaching”. Pada penelitian ini akan membahas masalah yang berkaitan dengan 1) penguasaan kompetensi pedagogik yang dimiliki mahasiswa PGSD di Universitas Muhammadiyah Surakarta dalam mata kuliah microteaching; 2) hambatan yang dihadapi oleh mahasiswa PGSD untuk mengelola proses pembelajaran pada mata kuliah microteaching; 3) upaya yang dilakukan oleh mahasiswa PGSD untuk mengatasi hambatan tersebut. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi tindakan dll. Secara holistik dan dengan cara deksripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Sugiyono, 2017). Kajian ini dilakukan di Universitas Muhammadiyah Surakarta pada Program Studi PGSD di laboratorium microteaching FKIP. Pada penelitian ini mahasiswa PGSD semester VI yang menjadi subyek penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara terstruktur dan dokumentasi. Observasi digunakan untuk memperoleh hasil pengamatan tentang penguasaan aspek-aspek kompetensi pedagogik calon guru. Wawancara terstruktur untuk memperoleh data tentang penguasaan Analisis Kompetensi Pedagogik......(Fadilah IN & Ika CS) 4 JPPD, 7, (1), hlm. 1 - 14 kompotensi pedagogik calon guru, hambatan dan upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan. Dokumentasi dilakukan dengan cara mengumpulkan data berupa arsip-arsip seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan lampirannya. Keabsahan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis menurut Miles and Huberman yaitu analisis data kualitatif yang dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas yang meliputi reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan (Sugiyono, 2017). HASIL DAN PEMBAHASAN Penguasaan Kompetensi Pedagogik Calon Guru Sekolah Dasar untuk Mengelola Pembelajaran dalam Mata Kuliah Microteaching a. Penguasaan Karakteristik Siswa dari Aspek Sosial dan Emosional Pada aspek sosial, informan mengidentifikasi karakteristik siswa melalui kegiatan interaksi siswa dengan guru dan interaksi siswa dengan temannya, serta mengikutsertakan siswa secara langsung dalam pembelajaran. Interaksi siswa dengan guru dan interaksi siswa dengan temannya dapat meningkatkan kemampuan sosial siswa terhadap keadaan ekternalnya. Mengikutsertakan siswa secara langsung dalam proses pembelajaran dapat melatih kemampuan berkomunikasi siswa dan dapat meningkatkan keaktifan siswa dan kemampuan kepercayaan dirinya. Hasil penelitian tersebut sepadan dengan pendapat (Emiliasari, 2018) Penguasaan karakteristik siswa dapat dilihat ketika mereka melakukan kegiatan kelas terbuka. Mengidentifikasi dan menganalisis mengidentifikasi kemampuan awal siswa yang dilihat dari kepercayaan dirinya, interaksi dengan teman, dan keaktifan siswa, termasuk kesulitan belajar siswa. Sedangkan untuk aspek emosional informan menciptakan suasana belajar yang semangat, nyaman dan menyenangkan melalui pemberian ice breaking, bernyanyi, melatih konsentrasi dan menumbuhkan suasana penuh kecerian dengan dengan guyonan, memberikan kesempatan belajar yang sama dengan kemampuan siswa yang berbeda, dan memberikan perhatian kepada siswa. Menciptakan suasana pembelajaran yang semangat, menyenangkan dan nyaman dapat meningkatkan ketertarikan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Pemahaman aspek emosional siswa juga dapat meningkatkan aspek-aspek emosi yaitu toleransi, santun dan semangat. Hasil penelitian tersebut sepadan dengan pendapat (Saudah, 2015) pemahaman terhadap siswa melalui penguasaan dari aspek emosional menerima dengan baik tanggapan atau respon dari siswa dan sesekali membuat suasana penuh keceriaan dengan gegurauan agar menumbuhkan rasa antusiasme siswa dalam proses pembelajaran yang berlangsung. b. Penguasaan Teori Belajar dan Prinsip-Prinsip Pembelajaran Informan memberikan berbagai kegiatan pembelajaran secara langsung yang meliputi pengamatan gambar, mendengarkan penjelasan guru, diskusi, membuat benda 3 dimensi menggunakan plastisin, bernyanyi dan mempresentasikan hasil pekerjaan di Analisis Kompetensi Pedagogik......(Fadilah IN & Ika CS) 5 JPPD, 7, (1), hlm. 1 - 14 depan kelas. Dengan memberikan kegiatan pembelajaran secara langsung dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, khususnya pada anak usia sekolah dasar mulai dari konkrit ke tahap berpikir abstrak serta dapat memberikan pengalaman belajar bagi siswa. Kegiatan-kegiatan pembelajaran tersebut merupakan salah satu upaya informan untuk menerapkan prinsip pembelajaran aktif dan memotivasi siswa untuk mengikuti pembelajaran. Selain itu, informan juga dapat mengetahui cara belajar dari masing-masing siswa. Hasil penelitian tersebut sepadan dengan penelitian (Ali, 2013) berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Edgar Dale menunjukkan bahwa keterlibatan langsung/pengalaman setiap peserta didik itu bertingkat-tingkat, mulai dari yang abstrak ke yang kongkrit. Prinsip-prinsip pembelajaran yang digunakan dalam upaya meningkatkan pelaksanaan pembelajaran adalah perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung, pengulangan, tantangan serta perbedaan individu. Informan memilih model, strategi, pendekatan dan metode sesuai dengan karakteristik siswa, materi dan kegiatan pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam berinteraksi dengan keadaan eskternalnya, sedangkan penerapan pendekatan saintifik dapat meningkatkan pengalaman belajar siswa dan mengajak siswa terjun secara langsung dalam pembelajaran. Informan sudah menerapkan strategi pembelajaran pembelajaran yang berbeda-beda. Penerapan strategi pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan motivasi dan keasktifan siswa dalam pembelajaran. Informan sudah menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi yang sangat berpengaruh pada kefektifan pembelajaran. Hasil penelitian tersebut sepadan dengan penelitian (Indriani, 2015) menjelaskan bahwa dalam mengajar guru hendaknya menerapkan berbagai macam starategi, menyelenggarakan pembelajaran yang menyenangkan, pembelajaran dilaksanakan secara terpadu dan konkrit seperti, memberikan pengalaman langsung menghadirkan benda konkrit atau dengan mengajak siswa terjun langsung kepada obyek terkait dengan materi yang diajarkan. c. Pengembangan Kurikulum Menurut (Yurni & Bakti, 2016) yang menjelaskan bahwa dalam proses mengembangkan kurikulum diperlukan perumusan tujuan, merencanakan pengalaman belajar dan memilih kegiatan yang sesuai dengan tujuan dan pengalaman belajar, indikator dikembangkan dan diuraikan dari kompetensi dasar dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur. Pendapat tersebut sepadan dengan hasil penelitian yang diperoleh bahwa informan mampu mengembangkan kurikulum dengan merumuskan tujuan pembelajaran menggunakan format ABCD serta mengacu pada KD dan indikator. Perumusan tujuan pembelajaran berpengaruh pada kegiatan pembelajaran dan hasil belajar siswa, sehingga informan harus merumuskan dengan jelas. Informan sudah memilih materi yang tepat sesuai dengan karakteristik dan kemampuan siswa serta mengambil dari berbagai sumber. Pada pemilihan materi pembelajaran harus menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta tercapainya Analisis Kompetensi Pedagogik......(Fadilah IN & Ika CS) 6 JPPD, 7, (1), hlm. 1 - 14 indikator. Pemilihan materi yang tepat berpengaruh kepada siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Informan sudah mengembangkan indikator menggunakan KKO yang tepat dan dapat diukur, namun pada perumusan KKO belum mencapai kemampuan tingkat tinggi. Perumusan indikator sangat berpengaruh terhadap penerapan pembelajaran HOTS. Perumusan indikator juga berpengaruh pada kegiatan yang akan dilakukan dalam proses pembelajaran. Oleh sebab itu, informan harus mengasah kemampuan dalam merumuskan indikator pada tingkatan yang lebih tinggi. Hasil penelitian tersebut sepadan dengan pendapat (Vianti, 2011) yang menjelaskan bahwa indikator dikembangkan dan diuraikan dari kompetensi kompetensi dasar dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur dan menunjukkan perbuatan atau respon yang ditampilkan oleh siswa serta digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian. d. Penyelenggaraan Pembelajaran yang Mendidik Pada proses perencanaan pembelajaran informan sudah menyusun rancangan pembelajaran menggunakan RPP dengan runtut, namun masih terdapat kekurangan dalam pada penyusunan lampiran. Hasil penelitian tersebut sepadan dengan ketentuan permendikbud no.22 Tahun 2016 tentang komponen yang harus ada dalam pembuatan RPP. Informan juga sudah menerapkan pembelajaran HOTS dengan memberikan pertanyaan kepada siswa. Namun dalam pembelajaran, HOTS belum dilakukan dengan optimal. Pembelajaran yang di dalamnya terdapat HOTS dapat dilihat dari perumusan indikator. Menurut (Puspaningtyas, 2018) kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills) merupakan aktivitas berpikir yang tidak sekedar menghafal dan menyampaikan kembali informasi yang telah diketahui. Tetapi kemampuan berpikir tingkat tinggi juga merupakan kemampuan mengkonstruksi, memahami, dan mentransformasi pengetahuan serta pengalaman yang sudah dimiliki untuk dipergunakan dalam menentukan keputusan dan memecahkan suatu permasalahan pada situasi baru dan hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Pada proses pembelajaran informan sudah menerapkan pembelajaran saintifik yang meliputi tahap mengamati mengajak siswa untuk membaca teks, mengamati video, gambar dan fenomena masyarakat. Pada tahap menanya, informan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya. Pada tahap mengumpulkan informasi diterapkan melalui kegiatan diskusi dengan teman kelompok. Pada tahap mengolah informasi (menalar), informan meminta siswa untuk mengerjakan soal dan membuat kesimpulan. Pada tahap mengkomunikasikan, informan meminta siswa untuk menyampaikan hasil pengamatan dan hasil pekerjaan. Hasil penelitian diatas sepadan dengan pendapat (Usman & Eko Raharjo, 2013) pada proses juga meningkatkan kompetensi siswa dalam melakukan observasi (menyimak, melihat, membaca, mendengar), bertanya, asosiasi, menyimpulkan, mengkomunikasikan baik secara lisan, tertulis, maupun bahasa tubuh. Analisis Kompetensi Pedagogik......(Fadilah IN & Ika CS) 7 JPPD, 7, (1), hlm. 1 - 14 Informan menerapkan pembelajaran 4C saat proses pembelajaran. Pada aspek aspek Critical Thinking and Problem Solving informan memberikan pertanyaan kepada siswa dan meminta siswa untuk menanggapinya. Kegiatan pembelajaran tersebut melatih peserta didik untuk mencari tahu dan memperdalam tentang materi pembelajaran. Pada aspek Comunication Skill informan menciptakan komunikasi siswa melalui kegiatan diskusi dan mengkomunikasikan hasil diskusi tersebut. Melalui kegiatan pembelajaran ini juga peserta didik dapat mengembangkan kecakapan kepemimpinan (leadership) dengan mengatur jalannya diskusi, sehingga diskusi tetap fokus dan dapat memperoleh suatu simpulan yang bermakna. Pada aspek Creativity and innovation informan meminta siswa untuk membuat hasil karya seperti puzzle dan membuat benda 3 dimensi. Kegiatan tersebut juga dapat mengembangkan bakat siswa dalam mencapai cita-cita yang diinginkannya melalui pengembangan kreatifitas yang ditugaskan. Pada aspek Colaboration telihat saat melakukan diskusi dengan kelompok. Melalui kegiatan kolaboratif, peserta didik dapat mengembangkan sikap kerjasama, saling menghargai dan menghormati. Berdasarkan temuan penelitian di atas senada dengan pendapat (Ariyana, Yoki., Ari Pudjiastuti., Reisky Bestary., 2018) proses pembelajaran pada kurikulum 2013 perlu mengintegrasikan pembelajaran 4C yang dikenal dengan pembelajaran abad 21 yang menerapkan empat keterampilan yang telah diidentifikasi sebagai keterampilan abad ke-21 (P21) sebagai keterampilan sangat penting dan diperlukan untuk pendidikan abad ke-21. e. Pemanfaatan TIK Penguasaan informan dalam pemanfaatan TIK yaitu informan menggunakan komputer, LCD dan power point text sebagai media pembelajaran untuk menyampaikan materi pembelajaran yang meliputi teks bacaaan dan cerita, gambar hewan, gambar pasar, gambar kegiatan masyarakat, gambar benda, video lagu anak-anak dan video materi pembelajaran. Pemvariasian isi PPT berpengaruh terhadap ketertarikan dan mampu meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran. Mayoritas informan menggunakan PPT untuk menyampaikan materi pembelajaran. Tampilan slide power point yang disiapkan oleh informan pun bervariasi ada yang bergambar dan berwarna dan ada yang cenderung menampilkan text saja. Tampilan power point yang cenderung bergambar dan berwarna dapat menarik perhatian siswa untuk mengikuti pembelajaran. Tampilan power point yang cenderung menampilkan teks membuat siswa menjadi bosan mengikuti pembelajaran. Hal tersebut sepadan dengan pendapat (Munandar, Sulistyarini, & Zakso, 2013) bahwa guru mampu menggunakan media pembelajaran TIK dengan cara pengamatan terhadap gambar yang sesuai dengan materi, sehingga siswa mampu menerima pesan yang disampaikan dan terlibat aktif dalam pembelajaran, sehingga dapat menggunggah minat dan motivasi belajar siswa. Analisis Kompetensi Pedagogik......(Fadilah IN & Ika CS) 8 JPPD, 7, (1), hlm. 1 - 14 f. Pengembangan Potensi Siswa Pada pengembangan potensi siswa informan sudah memfasilitasi berbagai kegiatan dalam pembelajaran seperti membaca, presentasi, mengamati gambar, praktek, membuat hasil karya poster, membuat benda 3 dimensi, dan kerja kelompok untuk meningkatkan prestasi belajar dan mengembangkan potensi siswa. Pada pembelajaran, informan sebagai ujung tombak yang mengajarkan berbagai ilmu dan keterampilan kepada siswa. Potensi diri yang dimiliki masing-masing siswa dapat disalurkan dengan baik oleh informan. Kegiatan belajar yang monoton akan membuat anak merasa bosan dengan proses belajar mengajar. Hal tersebut sepadan dengan pendapat Payong dalam (Wardani, 2017) tugas guru adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa agar berbagai potensi dan kemampuan yang beragam itu dapat dikembangkan secara optimal. g. Berkomunikasi Secara Efektif, Empatik, dan Santun Dengan Siswa Inah (2015) menyatakan bahwa komunikasi merupakan penyampaian pesan kepada audiens dalam bentuk simbol atau lambang dengan harapan bisa membawa atau memahamkan pesan itu kepada peserta didik (siswa) serta berusaha mengubah sikap dan tingkah laku. Menurut (Noviana, 2018) dalam penelitiannya bahwa guru harus mampu memberikan respon yang lengkap dan relevan pada komentar dan pertanyaan peserta didik. Pendapat diatas sepadan dengan hasil penelitian bahwa informan menggunakan bahasa yang mudah dipahami siswa saat menjelaskan dan mampu memahami keadaan siswa dengan cara menumbuhkan suasana pembelajaran dengan candaan untuk meningkatkan antusiasme siswa dalam kegiatan pembelajaran. Komunikasi efektif ditandai dengan adanya suasana pembelajaran yang menyenangkan, menggunakan bahasa yang mudah ditangkap dan dimengerti, pesan yang disampaikan dapat menggugah perhatian atau minat siswa, pesan dapat menumbuhkan suatu penghargaan atau reward pada siswa. Oleh sebab itu, pentingnya bagi informan untuk melakukan interaksi dengan siswa dalam proses pembelajaran. Informan berkomunikasi secara empatik melalui penyiapan kondisi psikologis siswa dengan memberikan respon yang positif saat menanggapi jawaban jawaban atau pendapat siswa. Berkomunikasi secara empatik berpengaruh pada keadaan emosi siswa dan empati siswa. Informan mampu memahami keadaan siswa dengan cara menumbuhkan suasana pembelajaran dengan candaan untuk meningkatkan antusiasme siswa dalam kegiatan pembelajaran. Komunikasi ini mampu menciptakan interaksi yang membuat informan memahami siswa. Temuan penelitian tersebut sejalan dengan pendapat (Noviana, 2018) dalam penelitiannya bahwa guru harus mampu memberikan respon yang lengkap dan relevan pada komentar dan pertanyaan peserta didik. h. Penyelenggaraan Penilaian, Evaluasi Proses, dan Hasil Belajar Informan merencanakan prosedur penilaian pada 3 aspek yaitu penilaian sikap menggunakan teknik non tes, penilaian kognitif menggunakan teknik tes, dan penilaian keterampilan menggunakan teknik tes dan non tes. Informan menerapkan penilaian Analisis Kompetensi Pedagogik......(Fadilah IN & Ika CS) 9 JPPD, 7, (1), hlm. 1 - 14 sikap yang dinilai melalui kegiatan berdo’a, cara memperhatikan guru, dan kerjasama kelompok, penilaian kognitif dinilai saat mengerjakan LKPD dan penilaian keterampilan dilakukan melalui presentasi, praktek, membuat gambar dan hasil karya. Penilaian aspek sikap dilakukan untuk meningkatkan dan menanamkan karakter pada siswa agar siswa terbiasa menerapakannya dalam kehidupan sehari-hari. Penilaian aspek kognitif dilakukan untuk meningkatkan kemampuan pemahaman siswa terhadap pembelajaran. Sedangkan penilaian psikomotor dilakukan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkreasi. Penilaian atau evaluasi dilakukan oleh informan terhadap hasil pembelajaran untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi peserta didik, serta digunakan sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar dan memperbaiki proses pembelajaran. Hasil penelitian tersebut sepadan dengan penelitian (Wardani, 2017) guru melaksanakan evaluasi pembelajaran menggunakan teknik tes yang meliputi pemberian tugas, ulangan harian dan pekerjaan rumah untuk menilai aspek kognitif siswa dan teknik nontes yang dilakukan dengan pengamatan terhadap aktivitas siswa selama proses pembelajaran untuk menilai aspek afektif dan psikomotor. i. Pemanfaatan Hasil Penilaian dan Evaluasi Pada pemanfaatan hasil penilaian dan evaluasi, sebagian informan sudah merencanakan program remedial dan pengayaan yang dirancang pada RPP dan sebagaian informan lainnya hanya menginformasikan program remedial dan pengayaan kepada siswa di akhir pembelajaran. Pembelajaran dapat dikatakan tuntas, apabila siswa mampu mencapai seluruh kompetensi. Informan mengadakan program remedial sebagai bantuan untuk meningkatkan ketuntasan belajar pada masing-masing siswa. Hasil penelitian sepadan dengan pendapat (Mahmudah, 2014) bahwa evaluasi pembelajaran berbasis kompetensi mengharuskan pencapaian ketuntasan dalam pencapaian kompetensi dasar secara perorangan, sehingga mengharuskan dilaksanakannya program remedial dan pengayaan sebagai umpan balik dari penerapan sistem pembelajaran tuntas. j. Melakukan Tindakan Reflektif Pada pelaksanaan tindakan reflektif informan sudah menanyakan kesan siswa terhadap pembelajaran pada hari tersebut dan menanyakan kegiatan pembelajaran yang disukai oleh siswa, menanyakan pembelajaran yang telah dipelajari dan menyimpulkannya. Melakukan tindakan refleksi sangat berpengaruh bagi informan untuk memperbaiki pembelajaran di esok hari. Kemudian guru juga meminta siswa untuk menyiapkan pembelajaran di esok hari. Dengan berefleksi, merenungkan, dan menganalisis informan akan dapat menemukan kelebihan dan kelemahan dalam pelaksanaan pembelajaran. Melakukan tindakan refleksi sangat berpengaruh bagi informan untuk memperbaiki pembelajaran di esok hari. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan penelitian (Munandar et al., 2013) guru melakukan tindakan reflektif Analisis Kompetensi Pedagogik......(Fadilah IN & Ika CS) 10 JPPD, 7, (1), hlm. 1 - 14 dengan mengajak siswa membuat rangkuman pembelajaran dan hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Hambatan yang Dihadapi Informan Untuk Mengelola Proses Pembelajaran dalam Mata Kuliah Microteaching Hambatan pertama yang dihadapi informan saat proses pembelajaran adalah kurangnya kreativitas dalam pembuatan media pembelajaran. Informan hanya mengoptimalkan media yang berkaitan dengan penjodohan gambar. Yang menjadi alasan lain informan menggunakan media tersebut, dikarenakan waktu yang digunakan untuk mempersiapkan pembelajaran tidak banyak. Kreativitas guru dalam pengembangan media pembelajaran sangat diperlukan karena sangat berkaitan dengan masalah pemilihan media yang tepat sesuai dengan materi dan karakteristik siswa. Semakin kreatif media yang disajikan, maka semakin tertarik siswa mengikuti pembelajaran. Temuan tersebut sejalan dengan pendapat (Alwi, 2017) media menunjukan komponen dari sistem instruksional secara keseluruhan sehingga kreativitas guru dalam pengembangan media sangat diperlukan. Dalam pemilihan media juga harus disesuaikan dengan kondisi siswa dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Hambatan yang kedua yaitu kurang mampunya informan dalam mengelola kelas. Saat mengelola kelas, informan belum memperhatikan pada seluruh siswa. Saat mengerjakan tugas dan mendengarkan penjelasan informan, masih ada siswa yang tidak mendengarkan. Pengelolaan kelas berpengaruh pada kefektifan pembelajaran. Pengelolaan kelas yang baik dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Karena pada saat mengajar, informan berinteraksi dengan siswa sehingga informan perlu meningkatkan kemampuan mengelola kelas. Temuan tersebut sejalan dengan penelitian (Wardani, 2017) guru mengalami hambatan dalam mengelola kelas untuk mengkondisikan peserta didik di kelas dan peserta didik kurang memahami materi yang telah dijelaskan. Hambatan yang ketiga yaitu kurang mampunya informan dalam penguasaan materi. Sebagian besar informan hanya mengambil dan menyampaikan materi pada satu sumber saja yaitu buku guru dan siswa saja. Inti dari proses pembelajaran adalah penyampaian materi, oleh sebab itu materi dalam pembelajaran harus dikuasai oleh informan agar memudahkan siswa memahami materi. Menurut (Hasan, 2015) sebagian besar, para guru mengalami kesulitan dalam mempersiapkan bahan mengajar. hal tersebut dikarenakan kurangnya pengetahuan guru tentang materi yang akan disampaikan. Upaya yang Dilakukan Oleh Informan Untuk Mengatasi Hambatan yang Dihadapi Upaya pertama yang dilakukan informan sekolah dasar untuk mengatasi hambatan adalah meningkatkan kreativitas dalam pembuatan media dengan mencari Analisis Kompetensi Pedagogik......(Fadilah IN & Ika CS) 11 JPPD, 7, (1), hlm. 1 - 14 referensi yang sesuai dengan materi. Pengetahuan tentang penggunaan media harus terus ditingkatkan agar guru selalu memperoleh ide atau kreatifitas dalam pembelajarannya. Temuan tersebut sejalan dengan penelitian (Alwi, 2017) penggunaan media harus terus ditingkatkan untuk meningkatkan kreativitas dalam pembelajaran. Dalam proses ini, guru harus mencoba dan mencari tahu pembuatan media melalui berbagai sumber seperti buku dan internet. Upaya kedua yang dilakukan oleh informan untuk menguasai materi dengan mempelajari dari buku dan internet serta bertanya dengan teman sejawat. Pengetahuan guru tentang materi pembelajaran harus ditingkatkan agar informan mampu mengembangkan pengetahuan dan memudahkan guru untuk menjelaskan kepada siswa. Menurut (Alwi, 2017) dalam penelitian juga menyebutkan upaya yang dilakukan dengan memfasilitasi guru untuk mengikuti pelatihan dan memberikan berbagai referensi materi melalui buku atau internet. Upaya ketiga yang dilakukan informan dalam pengelolaan kelas dengan cara menegur dan memberi tanggungjawab kepada siswa. Teguran kepada siswa perlu dilakukan informan agar siswa segan dengan informan dan juga mampu menunjukkan ketegasan informan. Memberi tanggungjawab kepada siswa diharapkan agar siswa mampu mengasah pengetahuannya.Temuan tersebut sejalan dengan penelitian (Wardani, 2017) guru melakukan teguran kepada peserta didik, guru harus bersikap tegas dan memberikan hukuman yang mendidik seperti pemberian tugas. SIMPULAN Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa informan mampu menguasai aspek kompetensi pedagogik yang meliputi penguasaan karakteristik siswa dari aspek sosial dan emosional, penguasaan teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran, pemanfaatan TIK, pengembangan potensi siswa, penyelenggaraan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar, pemanfaatan hasil penilaian dan evaluasi dan melakukan tindakan reflektif. Namun pada aspek pengembangan kurikulum, penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik serta komunikasi efektif, empatik, dan santun dengan siswa masih perlu ditingkatkan kembali. Hambatan yang dihadapi informan dalam mengelola proses pembelajaran yaitu a) kurang mampunya informan dalam penguasaan materi, b) kurangnya kreativitas dalam pengembangan media, c) kurang mampunya informan dalam mengelola kelas. Upaya yang perlu dilakukan informan untuk mengatasi hambatan dalam mengelola pembelajaran adalah a) meningkatkan pengetahuan tentang materi pembelajaran dengan mencari referensi dari berbagai sumber; b) meningkatkan kreativitas dalam pengembangan media pembelajaran melalui berbagai sumber; c) informan harus mampu bersikap tegas dan mampu menegur siswa serta memberikan hukuman yang mendidik. Analisis Kompetensi Pedagogik......(Fadilah IN & Ika CS) 12 JPPD, 7, (1), hlm. 1 - 14 DAFTAR PUSTAKA Ali, H. G. (2013). Prinsip-prinsip Pembelajaran dan Implikasinya Terhadap Pendidik dan Peserta didik. Jurnal Al-Ta’dib, 6(1), 31–42. Retrieved from http://ejournal.iainkendari.ac.id/al-tadib/article/view/288 Alwi, S. (2017). Problematika Guru dalam Pengembangan Media Pembelajaran. Itqan, 8(2), 145–167. Retrieved from http://ejurnal.iainlhokseumawe.ac.id /index.php/itqan/article/download/107/65/ Ariyana, Yoki., Ari Pudjiastuti., Reisky Bestary., Z. (2018). Buku Pegangan Pembelajaran Berorientasi pada Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran Berbasis Zonasi. Retrieved from http://repositori.kemdikbud.go.id/11316/1/01._Buku_Pegangan_Pembelajaran_HO TS_2018-2.pdf Emiliasari, R. N. (2018). An Analysis of Teachers Pedagogical Competence in Lesson Study of MGMP SMP Majalengka. ELTIN JOURNAL, Journal of English Language Teaching in Indonesia, 6(1), 22. Retrieved from http://e- journal.stkipsiliwangi.ac.id/index.php/eltin/article/view/1030 Hasan, H. (2015). Kendala Yang Dihadapi Guru Dalam Proses Belajar Mengajar Matematika Di Sd Negeri Gani Kabupaten Aceh Besar. Jurnal Pesona Dasar, 1(4), 40–51. Retrieved from http://jurnal.unsyiah.ac.id/ PEAR/article/download/7524/6192 Inah, E. N. (2015). Peran Komunikasi dalam Interaksi Guru dan Siswa. Al-Ta’dib, 8(2), 150–167. Retrieved from http://ejournal.iainkendari.ac.id/al-tadib/article/view/416 Indriani, F. (2015). Kompetensi Pedagogik Mahasiswa Dalam Mengelola Pembelajaran Tematik Integratif Kurikulum 2013 Pada Pengajaran Micro di PGSD UAD Yogyakarta. Junal Profesi Pendidikan Dasar, 2(2), 87–94. Retrieved from http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article/view/1643/1169 Juliana, Marmawi, R, H. (2017). Analisis kompetensi pedagogik guru dalam pembelajaran pada anak usia 5-6 tahun. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Khatulistiwa, 6(7), 1–10. Retrieved from http://jurnal.untan.ac.id/ index.php/jpdpb/article/view/20855 Mahmudah, anna rif’atul. (2014). Pelaksanaan Program Remedial Dan Pengayaan Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Pai Siswa Kelas Viii Smp N 5 Yogyakarta Tahun Pelajaran 2013 / 2014 (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga). Retrieved from http://digilib.uin-suka.ac.id/12842/ Munandar, A., Sulistyarini, & Zakso, A. (2013). Analisis kompetensi pedagogik guru dalam pembelajaran sosiologi di sma negeri 1 jawai. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Khatulistiwa, 2(9). Retrieved from http://jurnal.untan.ac.id /index.php/jpdpb/article/view/3371 Analisis Kompetensi Pedagogik......(Fadilah IN & Ika CS) 13 JPPD, 7, (1), hlm. 1 - 14 Ningsih, Y. (2017). Performance of Learning Process in a Micro Teaching Class at Ar- Raniry Islamic National University. English Education Journal, 8(4), 553–561. Retrieved from http://jurnal.unsyiah.ac.id/EEJ/article/view/9218 Nofrion, Bayu Wijayanto, Ratna Wilis, R. N. (2012). Analisis Technological Pedagogical And Content Knowledge (TPACK) Guru Geografi di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Jurnal Geografi, 10(2), 105–116. Retrieved from https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/geo/article/view/9070/9430 Noviana, N. E. (2018). Analisis Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru Dalam Pembelajaran Ekonomi di SMA Negeri 1 Sutojayan. Jurnal Ekonomi Pendidikan Dan Kewirausahaan, 6(1), 159–170. Retrieved from https://journal.unesa.ac.id/ index.php/jepk/article/view/2837/2076 Nurhamidah, I. (2018). Problematika Kompetensi Pedagogi Guru Terhadap Karakteristik Peserta Didik. Jurnal Teori Dan Praksis Pembelajaran IPS, 3(1), 27– 38. Retrieved from http://journal2.um.ac.id/index.php/jtppips/article/view/3886 Puspaningtyas, N. A. (2018). Peningkatan Higher Order Thinking Skills (HOTS) Melalui Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir (SPPKB) Pada Pembelajaran Ekonomi Kelas X SMK Muhammadiyah 1 Wates. Retrieved from https://eprints.uny.ac.id/59666/1/Skripsi_Nur Astuti Puspaningtyas_ 14804244003.pdf Ristyantoro, M. A. G. (2015). Analisis Kompetensi Pedagogik dan Kompetensi Profesional Mahasiswa PPL Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang dalam Implementasi Kurikulum 2013 di SMA dan SMK Negeri Kota Semarang (Universitas Negeri Semarang). Retrieved from https://lib.unnes.ac.id/20737/ Saudah, S. (2015). Kesesuaian Kompetensi Pedagogik Guru IPA Dalam Mendukung Implementasi Kurikulum 2013 Di Smp Muhammadiyah 4 Sambi Boyolali. Retrieved from http://eprints.ums.ac.id/35247/14/2. Naskah Publikasi.pdf Soewarno, Hasmiana, dan F. (2017). Kendala-Kendala yang Dihadapi Guru dalam Memanfaatkan Media Berbasis Komputer Di SD Negeri 10 Banda Aceh. Jurnal Pesona Dasar, 2(4), 28–39. Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Penerbit Alfabeta. Sunardi, Imam S., Endang W. W., S. (2017). Sumber Belajar Penunjang PLPG 2017 Kompetensi Pedagogik Mata Pelajaran Guru Kelas SD. Retrieved from http://www.beritaguru.com/2017/08/modul-plpg-2017-guru-kelas-sekolah.html Usman, H., & Eko Raharjo, N. (2013). Strategi Kepemimpinan Pembelajaran Menyongsong Implementasi Kurikulum 2013. Jurnal Cakrawala Pendidikan, 5(1), 1–13. Analisis Kompetensi Pedagogik......(Fadilah IN & Ika CS) 14 JPPD, 7, (1), hlm. 1 - 14 Vianti, S. L. (2011). Kesesuaian antara Pengembangan Indikator dan Kompetensi Dasar dalam Silabus KTSP Aspek Membaca di SMP Negeri 3 Batang Tahun Ajaran 2010/2011 (Universita Negeri Semarang). Retrieved from https://lib.unnes.ac.id/6069/ Wardani, W. K. (2017). Analisis Kompetensi Pedagogik Guru dalam Proses Pembelajaran di SD Muhammadiyah 16 Surakarta. 1–14. Retrieved from http://eprints.ums.ac.id/50847/1/NASKAH PUBLIKASI.pdf Yurni, S., & Bakti, H. E. (2016). Pengembangan Kurikulum Di Sekolah Dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan. 293–306. Retrieved from http://ap.fip.um.ac.id/wp-content/uploads/2016/03/22-Samsila-Yurni-H.-Erwin- Bakti.pdf