Kreasi Iklim Sekolah........(Khoiri NW & Fitri NM) 115 JPPD, 6, (2), hlm. 115 - 128 Vol. 6, No. 2, Desember 2019 PROFESI PENDIDIKAN DASAR e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN: 2406-8012 DOI: 10.23917/ppd.v1i2.9259 KREASI IKLIM SEKOLAH MELALUI GERAKAN SEKOLAH MENYENANGKAN DI SD MUHAMAMMADIYAH MANTARAN Rr. Khoiry Nuria Widyaningrum1), Fitri Nur Mahmudah2) 1), 2) Pascasarjana Manajemen Pendidikan, Universitas Ahmad Dahlan 1)raden1807046016@webmail.uad.ac.id; 2)fitri.mahmudah@mp.uad.ac.id PENDAHULUAN Sekolah merupakan tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran. Kegiatan ini tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan transfer ilmu pengetahuan dari guru ke siswa, tetapi merupakan beberapa kegiatan untuk menanamkan nilai-nilai karakter yang harus ditumbuhkan dan dibiasakan di lingkungan sekolah sehari-hari maupun dirumah. Pendidikan karakter bertujuan untuk membentuk manusia Indonesia yang bermoral, cerdas, rasional, inovatif, bekerja keras, optimis, percaya diri, dan berjiwa patriot. Dengan demikian pendidikan yang sangat dibutuhkan saat ini adalah pendidikan yang dapat mengintegrasikan pendidikan karakter dengan pendidikan yang dapat Abstract: The purpose of this study was to determine the creation of the school climate in Muhammadiyah Elementary School and the role of the Principal in creating this climate. The research method was carried out in a descriptive qualitative manner. Data retrieval is done by observation or observation as well as interviews with students, teachers and parents of students' guardians. The research instrument used in the form of a list of questions and observation sheets. Photo and video documentation is also done as a reinforcement bouquet. The results obtained from this study are the creation of the school climate in Muhammadiyah Elementary School Mantaran colored by the concept of a fun school movement whose main purpose is to instill character and make education more humane humans through program 1) Positive Environment Creation, 2) Character Education, 3) Learning based on project and problem solving, 4) School Conectednes. Based on the results of observations, the level of the type of climate at the Muhammadiyah Elementary School is classified as an open school climate and is a level of conducive climate. The role of the school principal in creating a school climate in Muhammadiyah Elementary School is among others: 1) Changing the teacher's mindset and parents' guardianship towards education that humanizes humans, 2) creating relationships and relationships between people with love and affection, 3) division of delegation of duties , 4) resolving conflicts as soon as possible so as not to disturb the comfort of work, 5) giving motivation (performance rewards, awards, teacher good stars etc.), 6) harmonizing and enriching the work environment and learning by creating positive environments both physical and non-physical, 7) The Cenectedness School program includes GSM networks, Parent Teaching, etc. Keywords: School Climate Creation; GSM; SD Muhammadiyah Mantaran http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i2.9259 mailto:raden1807046016@webmail.uad.ac.id;%202)fitri.mahmudah@mp.uad.ac.id mailto:raden1807046016@webmail.uad.ac.id;%202)fitri.mahmudah@mp.uad.ac.id Kreasi Iklim Sekolah........(Khoiri NW & Fitri NM) 116 JPPD, 6, (2), hlm. 115 - 128 mengoptimalkan perkembangan seluruh dimensi anak baik dari ranah kognitif, fisik, sosial-emosi, kreativitas, dan spiritual harus seimbang. Untuk mencapai sasaran tersebut, perlu adanya pengelolaan iklim dan budaya sekolah yang baik. Iklim dan budaya sekolah sangat dipengaruhi oleh ekosistem yang terbentuk pada sekolah tersebut. Budaya dan Iklim sekolah merupakan faktor yang esensial dalam membentuk siswa menjadi manusia yang berkarakter, optimis, berani tampil, berprilaku kooperatif serta memiliki kecakapan personal dan akademik. Ekosistem sekolah saat ini cenderung membuat anak stress dan kurang menyenangkan. Tidak banyak sekolah yang memiliki iklim sekolah yang positif dan kondusif sehingga mampu mengubah perilaku manusia menjadi lebih berkarakter dan berprestasi. Kebanyakan sekolah terlalu mementingkan akademik atau unsur kognitif dalam pembelajaran. Nilai-nilai karakter yang seharusnya dicapai dalam pembelajaran cenderung dilupakan karena para guru fokus pada konten materi pelajaran untuk mengejar nilai dan ranking sekolah. Karena stress banyak pula kasus bullying yang muncul, perilaku yang melanggar kedisiplinan, tidak bertanggungjawab sehingga justru nilai akademik rendah karena motivasi belajar juga rendah. Hal ini menunjukkan bahwa iklim dan budaya sekolah kurang kondusif dalam mendukung proses pembelajaran. Berkaitan dengan perubahan kultur dan budaya organisasi sekolah, diperlukan medium yang dinamakan sebagai iklim organisasi itu sendiri. Iklim sekolah merujuk pada kualitas dan karakter kehidupan sekolah yang didasarkan pada pengalaman- pengalaman, norma, tujuan, nilai, hubungan antarpersonal, proses belajar mengajar dan praktek kepemimpinan serta struktur organisasi yang ada di sekolah (National School Climate Council, 2007). Penelitian yang dilakukan Fraser & Fisher pada tahun 1986 (I Wayan Githa, 2005) menemukan bahwa salah satu cara meningkatkan kualitas pendidikan adalah melalui peningkatan iklim sekolah. Kedua peneliti tersebut membuktikan bahwa siswa dapat mencapai prestasi belajar lebih baik jika mereka merasa berada dalam iklim sekolah yang disenangi.(Rahmawati, 2016). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Damayanti (2015, hlm. 129) juga menunjukkan bahwa “Iklim sekolah berpengaruh dan signifikan terhadap mutu sekolah sebesar 57,5%, sehingga menegaskan bahwa iklim sekolah dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mutu sekolah.” Dengan kata lain, menciptakan iklim sekolah berarti melaksanakan sebagian dari upaya peningkatan mutu sekolah. Oleh karena itu, perlu adanya kreasi iklim sekolah dengan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, memanusiakan dan mengedepankan karakter dalam rangka meningkatkan mutu sekolah. Penciptaan iklim sekolah yang memanusiakan dan mengedepankan karakter dapat dilakukan dengan menerapkan konsep sekolah menyenangkan atau program Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM). Pada dasarnya GSM adalah gerakan sosial bersama guru untuk menciptakan budaya belajar yang kritis, kreatif, mandiri dan menyenangkan di sekolah. Gerakan ini mempromosikan dan membangun kesadaran guru-guru, kepala sekolah dan pemangku kebijakan pendidikan untuk membangun sekolah sebagai tempat yang menyenangkan untuk belajar ilmu pengetahuan dan bekal ketrampilan hidup agar anak-anak menjadi pembelajar yang sukses. Konsep gerakan sekolah menyenangkan Kreasi Iklim Sekolah........(Khoiri NW & Fitri NM) 117 JPPD, 6, (2), hlm. 115 - 128 pada dasarnya merujuk pada konsep well-being school dan ajaran Ki Hadjar Dewantara Beberapa ciri sekolah masa depan yang menyenangkan adalah belajar tanpa dipaksa, berprestasi tanpa stress, disiplin tanpa ditakut-takuti, hingga peduli tanpa ada syarat. Konsep gerakan sekolah menyenangkan ini memiliki empat prinsip utama yakni learning environment, pedagogical practice, character development, dan school connectedness. SD Muhammadiyah Mantaran adalah sekolah swasta yang terletak di Jl. Turi Km 3 Mantaran Trimulyo Sleman yang telah menerapkan konsep GSM. Jumlah siswa 2 tahun terakhir ini mulai meningkat seiring dengan program sekolah dengan branding sekolah menyenangkan. Iklim sekolah yang dibangun dan berkembang di sekolah ini mampu membuat sekolah ini bangun dari keterpurukan, setelah sekian lama hampir 6 tahun dipandang merupakan sekolah pinggiran yang jumlah siswanya juga kurang memenuhi kuota. Selain itu, prestasi baik akademik maupun non akademik sekolah ini mengalami peningkatan seiring perubahan iklim sekolah yang dibangun. Oleh karena itulah, penulis tertarik untuk mengetahui lebih jauh dan mengobservasi apa saja bentuk kreasi iklim melalui program gerakan sekolah menyenangkan di SD Muhammadiyah Mantaran, Bagaimana jenis tingkatan iklim di SD Muhammadiyah Mantaran, serta peran kepala sekolah dalam menciptakan iklim tersebut sehingga membuat sekolah tersebut bertransformasi dan mampu menarik masyarakat sekitar sehingga menjadi sekolah yang unggul dan sekarang menjadi sekolah rujukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji penciptaan iklim sekolah di SD Muhammadiyah Mantaran melalui GSM, dan peran kepala sekolah dalam menciptakan iklim sekolah melalui program GSM METODE PENELITIAN Jenis Penelitian ini merupakan Penelitian Kualitatif. Alasan menggunakan pendekatan kualitatif adalah metode ini dapat digunakan untuk menemukan dan memahami apa yang tersembunyi dibalik fenomena yang kadangkala merupakan sesuatu yang sulit untuk dipahami secara memuaskan. Tempat penelitian ini adalah SD Muhammadiyah Mantaran dan waktu penelitian dilaksanakan bulan September-Oktober 2019. Subjek Penelitian ini adalah siswa, guru, dan wali murid. Sedangkan objek penelitiannya adalah program dari gerakan sekolah menyenangkan yang diterapkan di sekolah sehingga mampu membuat kreasi iklim di SD Muhammadiyah Mantaran. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi langsung ke sekolah, wawancara dengan guru, siswa, kepala sekolah maupun wali murid, serta pengumpulan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif melalui pengumpulan data, reduksi data, penanyajian data kemudian merumuskan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN SD Muhammadiyah Mantaran terletak di Jalan Turi Km 3 Mantaran, Trimulyo Sleman. Letak geografis sekolah ini sangatlah strategis dan nyaman untuk proses Kreasi Iklim Sekolah........(Khoiri NW & Fitri NM) 118 JPPD, 6, (2), hlm. 115 - 128 pembelajaran, karena jauh dari keramaian dan terletak dipinggir persawahan, dekat sungai, dekat kantor kelurahan. Sekolah ini membuat branding sekolah “Islamic Fun School” yaitu sekolah menyenangkan yang bernuansa Islami dengan Visi “Terwujudnya Sekolah menyenangkan berbasis Al Islam yang unggul dalam prestasi, terampil, berbudaya islami dan cinta lingkungan”. SD Muhammadiyah Mantaran saat ini sudah memiliki 217 siswa dan 12 guru serta 5 karyawan. Sekolah ini tergolong sekolah baru yang mulai naik daun dengan program sekolah menyenangkan. Program sekolah menyenangkan ini, ternyata mampu menciptakan iklim kelas yang sangat kondisuf dalam pembelajaran sehingga melahirkan iklim sekolah yang positif . Kreasi Iklim Di SD Muhammadiyah Mantaran Warga SD Muhammadiyah Mantaran memiliki hubungan kekeluargaan yang sangat dekat, harmonis dan tidak mengenal kasta. Semua guru karyawan terlibat aktif dan saling mendukung dalam menjalankan program sekolah. Mereka bekerja, mendidik dengan hati, serta didasari oleh tekad kebersamaan memajukan sekolah sehingga membuat corak kepribadian sekolah tersebut sangat terlihat, apalagi dengan program sekolah menyenangkan yang telah dirintis sejak dua tahun terakhir. Guru-guru mulai mengubah mind setnya dari pendidikan yang hanya mementingkan kognitif/akademik menjadi pendidikan yang lebih memanusiakan dengan program karakter dalam konsep Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM). Program ini juga mampu mempengaruhi sikap, kepercayaan, nilai dan motivasi individu yang berada pada sekolah ini menjadi lebih hidup dan bergairah. Hal ini mencerminkan iklim sekolah seperti yang dijelaskan oleh Litwin dan Stringer bahwa iklim sekolah adalah hasil dari persepsi subyektif terhadap sistem formal, gaya informal kepala sekolah, dan faktor lingkungan penting lainnya yang mempengaruhi sikap, kepercayaan, nilai dan motivasi individu yang berada pada sekolah tersebut, (Gunbayi, 2007). Jadi iklim sekolah sangat mempengaruhi sikap, nilai dan motivasi seseorang pada lingkungan sekolah. Iklim sekolah mengacu pada kualitas dan karakter school life siswa, yang didasarkan pada pengalaman interaksi siswa orang tua dan personil di sekolah, dan bagaimana norma, tujuan dan nilai yang diterapkan dalam interpersonal relationship pada praktik pembelajaran dan struktur organisasi di sebuah lembaga pendidikan atau sekolah, (Rapti, 2012). Hal ini sejalan dengan yang dilakukan guru-guru di SD Muhammadiyah Mantaran yang menunjukkan karakter saling berbagi dan berkolaborasi dalam praktek pembelajaran maupun nilai-nilai yang diterapkan antar warga sekolah. Hubungan antar warga sekolah terlihat sangat akrab dan dekat sehingga mampu membentuk iklim sekolah yang kondusif. Sedangkan menurut Pretorius, Iklim sekolah sebenarnya mencerminkan hati dan jiwa dari sebuah sekolah, psikologis dan atribut institusi yang menjadikan sekolah memiliki kepribadian yang relatif bertahan dan dialami oleh seluruh anggota yang menjelaskan persepsi kolektif dari prilaku rutin dan akan mempengaruhi sikap dan prilaku sekolah, (Pretorius & de Villiers, 2009). Iklim sekolah merupakan bagian dari budaya sekolah dan mencerminkan kepribadian sekolah. Prinsip GSM dalam rangka Kreasi Iklim Sekolah........(Khoiri NW & Fitri NM) 119 JPPD, 6, (2), hlm. 115 - 128 mengkreasi iklim sekolah yang sudah diterapkan di SD Muhammadiyah Mantaran antara lain : 1) Penciptaan Lingkungan Positif , 2) Pendidikan Karakter, 3) Pembelajaran yang berbasis project dan problem solving, 4) School Conectednes. Program penciptaan lingkungan positif yang dilakukan meliputi : a) Pengaturan setting tempat duduk yang variatif tiap minggunya .; b) Pembentukan zona-zona kelas. Zona- zona kelas antara lain zona urut kedatangan, zona profil siswa, zona emosi, zona kebaikan, zona harapan orang tua dan siswa, zona hasil karya, pojok baca, pojok kebersihan dll ; c) Pembuatan wahana bermain di halaman sekolah. Halaman sekolah mulai tertata rapi, terdapat zona dolanan, garis-garis di lapangan untuk wahana bermain siswa, taman dan tempat duduk di bawah pohon ; d) Pemanfaatan lorong-lorong kelas, tangga, pojok sekolah untuk media dan tempat belajar ; e) Penataan Kamar Mandi/WC menjadi lebih warna-warni dan menyenangkan. Setting tempat duduk tiap kelas tidak monoton dari depan ke belakang tetapi berubah-ubah. Terdapat ruang-ruang gerak untuk siswa yang lebih longgar dan leluasa. Pengaturan tempat duduk peserta didik pada dasarnya dilakukan untuk memenuhi empat tujuan: aksesibilitas yang membuat peserta didik mudah menjangkau alat dan sumber belajar yang tersedia; mobilitas yang membuat peserta didik dan guru mudah bergerak dari satu bagian ke bagian lain dalam kelas; memudahkan terjadinya interaksi dan komunikasi antara guru dan peserta didik maupun antar peserta didik; memungkinkan para peserta didik untuk dapat berkelompok dan bekerja sama. (Wiyani, 2013) Layout tempat duduk Zona kesepakatan kelas Zona kedatangan Pojok kebersihan, Pojok baca Zona emosi Zona harapan Zona kedatangan ternyata mampu menurunkan tingkat keterlambatan siswa masuk sekolah. Program ini dilakukan dengan cara setiap siswa menempelkan atau memasang namanya pada urut kedatangan dibuat oleh siswa bersama guru di kelasnya. Siswa berlomba-lomba datang lebih awal demi memasang namanya diurutan terawal tiap harinya. Zona profil siswa mampu membuat para siswa lebih percaya diri dan membangun “self belonging”. Zona ini memajang profil siswa dari biodata siswa Kreasi Iklim Sekolah........(Khoiri NW & Fitri NM) 120 JPPD, 6, (2), hlm. 115 - 128 disertai foto pribadi maupun keluarga sampai cita-cita siswa. Sedangkan zona emosi merupakan tempat/zona dimana siswa dapat menempelkan emoticon senang, sedih, dan marah sesuai perasaanya saat itu. Ini dapat dilakukan setiap pagi sebelum memulai pembelajaran atau siang hari sebelum pulang sekolah. Manfaat pelaksanaan zona emosi di pagi hari adalah memberikan informasi awal guru tentang keadaan emosi para siswa sebelum pembelajaran berlangsung. Potret keadaan ini, dapat membantu guru menentukan kegiatan apa yang harus dilakukan agar pembelajaran berlangsung efektif. Misalkan hampir semua siswa sedih atau marah, maka guru harus menetralkan suasana menjadi gembira melalui ice breaking atau kegiatan apersepsi yang menyenangkan agar pembelajaran juga menyenangkan. Zona harapan menggambarkan harapan siswa dan orang tua selama satu semester atau satu tahun dalam pembelajaran. Zona hasil karya merupakan tempat memajang hasil karya dan kreatifitas siswa agar merasa bangga dan menghargai hasil karya orang lain. Zona baca merupakan pojok baca yang dibuat secara minimalis tetapi nyaman dan menarik untuk menambah minat baca dan mendukung program literasi. Sedangkan zona pojok kebersihan adalah tempat menggantungkan alat-alat kebersihan dalam kelas. Hal ini sangat sepele, namun meupakan indikator tanggungjawab siswa di kelas tersebut dalam menjaga alat kebersihan dan tertib maupun disiplin mengembalikan ke tempat semula. Zona kebaikan merupakan cara pembentukan karakter positif yang dapat dilakukan melalui pembuatan celengan kebaikan, pohon kebaikan maupun amplop kebaikan. Dari penciptaaan lingkungan positif melalui pengadaan zona-zona kelas maka siswa akan berkembang secara optimal sesuai kebutuhannya. Hal ini sejalan dengan pernyataan Brooks dalam (Mardianto, 2018) bahwa siswa lebih cenderung berkembang secara psikologis pada lingkungan sekolah yang memberikan rasa nyaman. Mereka merasa diperlakukan secara adil oleh guru dan semua orang yang ada disekolah sehingga tumbuh dalam diri mereka rasa memiliki lingkungannya. Zona profil siswa, zona cita-cita, dan zona hasil karya merupakan contoh zona yag dapat membangun rasa kepemilikan terhadap kelasnya. Mereka akan merasa bangga akan hasil karya yang mereka pajang dan dapat menumbuhkan rasa percaya diri. Program penguatan pendidikan karakter di SD Muhammadiyah Mantaran meliputi a) Piagam Bintang Kebaikan, b) Program Circeltime/ Pagi Berbagi, c) Pohon Kebaikan , Amplop Kebaikan atau Celengan Kebaikan, d) Program Literasi, e) Dua Kelas. Program pemberian piagam bintang kebaikan kepada setiap siswa yang melakukan kebaikan atau perilaku positif. Piagam diberikan setiap minggunya pada upacara bendera hari senin, setiap kelas sekitar 3-5 siswa yang mendapatkan menurut penilaian dan pengamatan guru. Pemberian reward dilaksanakan oleh semua guru untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, membuat siswa lebih percaya diri dan lebih mengenal potensi dalam dirinya sendiri. Dalam proses pembelajaran siswa akan lebih aktif karena muncul rasa percaya diri akibat dari reward atau penghargaan yang diberikan. Hal ini sesuai dengan pendapat Wina Sanjaya (2005: 165) yang menyatakan bahwa siswa yang diberi ganjaran akan berbesar hati dan meningkatkan partisipasi dalam setiap proses pembelajaran. (Marta, 2016). Kreasi Iklim Sekolah........(Khoiri NW & Fitri NM) 121 JPPD, 6, (2), hlm. 115 - 128 Program cyrcle time merupakan program dimana guru bersama siswa melakukan refleksi terhadap sesuatu hal terutama yang menyangkut sikap-sikap keseharian yang dirasa perlu dikuatkan dan difollow up oleh guru dalam rangka pembentukan karakter siswa. Program ini dapat dilaksanakan baik dalam pembelajaran maupun di luar pembelajaran. Sedangkan program pohon kebaikan, Amplop atau celengan kebaikan adalah, kegiatan dimana setiap siswa dapat menuliskan hal-hal kebaikan yang telah dilakukan temannya setiap harinya kemudian ditempelkan pada pohon kelas, atau dimasukkan dalam amplop ataupun celengan. Kegiatan literasi macam-macam bentuknya. Di Sekolah ini, dalam rangka meningkatkan motivasi membaca ada jadwal khusus 10 menit literasi pagi, Selain itu setiap kelas tersedia pojok baca dan terapat zona pohon literasi, tirai literasi atau amplop literasi. Setiap siswa yang sudah membaca buku akan menuliskan judul buku ke dalam kertas kecil dan ditempelkan ke pohon literasi atau dimmasukkan ke dalam amplop literasi. Program duta kelas merupakan pemilihan duta kelas terdiri dari banyak kategori seperti duta baca/duta literasi, duta kebersihan, duta bicara, duta HR, duta dll. Hal ini bertujuan untuk melibatkan siswa dalam pengkondisian kelas serta melatih tanggung jawab. Program penguatan karakter ini dilaksanakan sejak tahun lalu dan mulai masif dan muncul kreasi-kreasi baru di tahun ini. Program karakter yang dilaksanakan di SD Muhammadiyah Mantaran mampu mengubah perilaku siswa. Banyak siswa yang tadinya pendiam menjadi lebih percaya diri, siswa yang kurang disiplin menjadi lebih disiplin, dan terbangunnya empati dan menghargai. Hal ini sejalan dengan program pemerintah yaitu penguatan pendidikan karakter. Penguatan pendidikan karakter mempunyai tujuan akhir bagaimana peserta didik dapat berperilaku sesuai nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila sehingga mampu membangun dan menanggapi berbagai tantangan di masa depan. (Marta, 2016) Pembelajaran yang berbasis project dan problem solving sudah dilakukan di SD Muhammadiyah Mantaran. Pembelajaran yang dilaksanakan di SD Muhammadiyah Mantaran sangat kreatif dan inovatif. Pembelajaran yang dilakukan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Pembelajaran yang sering dilakukan di sekolah ini adalah pembelajaran berbasic project. Bahkan tugas maupun pekerjaan rumah berbasis project tidak lagi mengerjakan soal-soal di buku maupun LKS. Istilah Pekerjaan Rumah (PR) sudah diganti menjadi Hiburan Rumah (HR). Hal ini menghilangkan image bahwa pekerjaan atau tugas rumah itu adalah hiburan yang menyenangkan dan mereka tidak stress dan merasa terbebani. Contoh HR yang biasa diberikan misalnya dalam pembelajaran penjumlahan kelas bawah, siswa hanya diberi tugas menghitung semua jumlah sepatu dan sandal yang ada dirumah kemudian menjumlahkannya. Untuk kelas atas, misalnya diberi proyek untuk wawancara dengan pak RT atau penjual sayur deket rumah dsb. Metode pembelajaran yang digunakan guru-guru sangat bervariatif, mulai dari bermain peran, pembelajaran berbasis riset, simulasi maupun window shopping. Pembelajaran lebih menenkankan pada berpikir kritis, kreatif dan memecahkan masalah. Kreasi Iklim Sekolah........(Khoiri NW & Fitri NM) 122 JPPD, 6, (2), hlm. 115 - 128 School Conectedness merupakan hubungan antara sekolah dengan masyarakat maupun orang tua wali murid. Sekolah ini mampu membangun jejaring dengan pihak luar (DUDI) seperti Ngudi Rizki, Kedai Pramuka, BPD, GSM, Puskesmas, Polsek, warga masyarakat sekitar, maupun wali murid. Di Sekolah ini, paguyuban wali murid sudah terbentuk dan hubungan antara guru dan wali murid terjalin sangat baik. Kegiatan sekolah sering kali melibatkan wali murid bahkan di pembelajaran melalui program parent teaching. Program parent teaching merupakan program unggulan yang melibatkan wali murid di sekolah ini. Program ini dilaksanakan setiap semester dalam satu periode yaitu setiap sabtu dalam bulan tertentu. Pada semester gasal biasanya dilaksanakan pada bulan Oktober sedangkan pada semester genap dilaksanakan sekitar bulan Februari. Dalam event program sekolah seperti tutup tahun, family gathering, outing/pembelajaran luar kelas orang tua juga dilibatkan. Para orang tua bahkan menjadi panitia bersama guru. Hubungan antara guru dan orang tua wali murid sangat baik dan terjalin komunikasi dan kolaborasi yang baik karena setiap bulan sekali terdapat forum paguyuban wali murid bersama guru/wali kelas. Dari uraian berbagai program yang dilaksanakan di SD Muhammadiyah Mantaran, terlihat bahwa iklim yang terbangun di sekolah ini sangatlah humanis, menyenangkan, dan memanusiakan. Kegiatan yang ada SD Muhammadiyah Mantaran mampu mempengaruhi sikap, kepercayaan, nilai dan motivasi seseorang. Terbukti dari data yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi sikap disiplin siswa meningkat dengan ditandai angka keterlambatan menurun, munculnya sikap empati dan peduli serta banyak siswa yang mulai percaya diri dan berani mengungkapkan sesuatu dengan siapapun. Sebagai contoh ditemukan beberapa siswa yang tadinya dijuluki anak pendiam dikelas, kini dia aktif dan berani tampil di depan serta aktif berkomunikasi dengan orang lain. Dari sisi guru, banyak sekali ditemukan guru-guru yang berubah karakternya menjadi lebih percaya diri dan muncul ide-ide kreatif yang mendorong guru lain untuk mengikutinya. Selain itu hubungan antar guru, guru dengan karyawan maupun guru dengan kepala sekolah terlihat sangat dekat dan kompak. Mereka saling menghargai dan suasan kantor selalu nyaman. Walaupun banyak candaan yang muncul, rasa peduli dan menghargai tetap terjaga dan justru melalui bercanda tersebut kekeluargaan mereka menjadi sangat dekat. Iklim sekolah berkaitan dengan lingkungan yang produktif dan kondusif untuk belajar siswa dengan suasana yang mengutamakan kerjasama, kepercayaan, kesediaan, keterbukaan, bangga dan komitmen. Iklim sekolah berkaitan juga prestasi akademik, moral dan prilaku siswa. Iklim sekolah yang optimal adalah iklim sekolah yang resfonsif terhadap perkembangan kebutuhan setiap siswa, merangsang pertumbuhan pribadi dan akademik. Iklim sekolah yang telah dibangun di SD Muhammadiyah Mantaran mampu mengubah image sekolah ini dari sekolah pinggiran menjadi sekolah rujukan yang terbukti akhir-akhir ini sekolah dibanjiri kunjungan dari berbagai sekolah, universitas, maupun dinas pendidikan Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Sleman bahkan Kementrian Victoria Australia juga sempat berkunjung di sekolah ini. Kreasi Iklim Sekolah........(Khoiri NW & Fitri NM) 123 JPPD, 6, (2), hlm. 115 - 128 Iklim sekolah didefinisikan sebagai kepribadian suatu sekolah yang digunakan untuk membedakan dengan sekolah yang lain. SD Muhammadiyah Mantaran jelas memiliki iklim sekolah yang lain dari sekolah-sekolah disekitarnya. Program-program yang telah diuraiakan berdasarkan hasil observasi diatas menunjukkan bahwa sekolah ini memiliki suasana yang mampu menumbuhkan nilai-nilai, harapan, kebijakan dan prosedur dalam organisasi dan mengubah perilaku individu maupun organisasi. Menurut Freiberg (dalam Marshall 2002:1) menegaskan bahwa iklim sekolah dapat menjadi pengaruh positif pada kesehatan lingkungan belajar atau hambatan yang signifikan untuk belajar. Selain itu, iklim sekolah yang positif berkaitan dengan peningkatan kepuasan kerja serta dapat memainkan peran penting dalam menyediakan suasana sekolah yang sehat dan positif. Interaksi dari berbagai anggota sekolah dan faktor iklim kelas dapat memberikan dukungan yang memungkinkan semua komunitas sekolah untuk mengajar dengan optimal. Iklim sekolah juga termasuk kepercayaan, menghormati, saling mengerti kewajiban dan perhatian untuk kesejahteraan lainnya, memilki pengaruh yang kuat terhadap pendidik dan peserta didik, hubungan antara peserta didik serta prestasi akademis dan kemajuan sekolah secara keseluruhan. Iklim sekolah yang positif merupakan lingkungan yang kaya untuk pertumbuhan pribadi dan keberhasilan akademik.(Marshall, Megan L, 2002: 2). Hal ini terbukti di SD Muhammadiyah Mantaran, bahwa dengan iklim yang terbangun kondusif dimana persepsi setiap individu di sekolah ini menganggap bahwa sekolah ini menyenangkan dan hubungan antar sesamanya juga sehat membawa pengaruh positif terhadap perkembangan akademik siswa. Dari data yang diperoleh, prestasi akademik yaitu nilai rata-rata US/UN Kelas 6 , tiga tahun terakhir ini mengalami peningkatan dan di luar prediksi yang ditargetkan. Berikut tabel 1. Tabel 1. Rata-Rata Hasil Ujian Sekolah/Ujian Nasional 3 Tahun Terakhir No Mata Pelajaran Tahun Pelajaran 2016/2017 2017/2018 2018/2019 1. Bahasa Indonesia 70,91 76,64 83,18 2. Matematika 74,32 74,80 62,77 3. IPA 88,64 82,88 90,55 Rata-Rata 233,87 234,32 236,50 Ranking Kecamatan 8 2 2 Data di atas menunjukkan bahwa dengan iklim sekolah yang kondusif memang berpengaruh tehadap prestasi akademik siswa. Untuk data prestasi akademik dan non akademik sekolah ini juga mengalami peningkatan yaitu dari Tahun 2016/2017 berhasil meraih 43 kejuaraan lomba-lomba, pada Tahun 2017/2018 bisa meraih 58 kejuaraan lomba-lomba. Hal ini cukup membuktikan bahwa SD Muhammdiyah Mantaran selalu berprogress atau meningkat dalam hal prestasi akademik maupun non akademik. Gunbayi (2007:2) menjelaskan iklim organisasi sangat penting bagi pencapaian efektivitas organisasi. Iklim adalah indikasi dari seberapa baik organisasi dapat mewujudkan seluruh potensi yang dimilikinya. Kinerja organisasi yang tinggi Kreasi Iklim Sekolah........(Khoiri NW & Fitri NM) 124 JPPD, 6, (2), hlm. 115 - 128 cenderung menggunakan kemampuan semua orang secara optimal. Iklim di SD Muhammadiyah Mantaran ini mendorong iklim organisasi yang mengoptimalkan kemampuan semua warga sekolah. Keterlibatan siswa, guru, orang tua dalam pembelajaran, penentuan kebijakan, program sekolah sangat diperhatikan. Semua warga sekolah diberikan kesempatan untuk mengaktualisasikan diri dalam rangka mengefektifkan organisasi sekolah. Sebagai contoh, siswa sangat aktif dan pembelajaran berpusat pada siswa, serta adanya program pemberian ruang kepada siswa untuk mengekspresikan diri sesuai karakter masing-masing, penghargaan terhadap sekecil apapun kebaikan siswa maupun menjunjung tinggi harga diri. Selain itu guru juga diberikan ruang untuk mengaktualisasikan diri mengkreasi pembelajaran, terlibat di semua kegiatan, bahkan Kepala sekolah memberikan kesempatan guru untuk mengembangkan karirnya di setiap kesempatan yang ada. Cohen, et, al. menjabarkan pengukuran iklim sekolah ke dalam sepuluh dimensi, yang dikelompokkan ke dalam 4 kategori, yaitu : safety, teaching and learning, interpersonal relationship dan institutional environment. Kategori pertama terdiri atas (1) rule and norms, meliputi adanya aturan yang dikomunikasikan dengan jelas dan dilaksanakan dengan konsisten. Hal ini dibuktikan dengan adanya code of conduct dan kesepakatn kelas yang dibuat di SD Muhammadiyah Mantaran. (2) physical safety meliputi perasaan siswa dan orang tua siswa yang merasa aman dari kerugian fisik di sekolah; (3) social and emotional security meliputi perasaan siswa yang merasa aman dari cemoohan, sindiran dan pengucilan. Di sekolah ini terdapat program buddy dan stop bulliying sehingga siswa merasa aman, nyaman dalam bergaul. (Cohen, McCabe, Michelli, & Pickeral, 2009). Kategori kedua terdiri atas (1) support and learning, yang menunjukkan adanya dukungan terhadap praktek langsung, seperti tanggapan yang positif dan konstruktif, dorongan untuk mengambil resiko, tantangan akademik, perhatian individual dan kesempatan untuk menunjukkan pengetahuan dan keterampilan dalam berbagai cara, (2) social and civic learning, menunjukkan adanya dukungan untuk pengembangan pengetahuan dan keterampilan sosial dan kemasyarakatan, contohnya mendengarkan secara efektif apa yang menjadi aspirasi warga sekolah, pemecahan masalah, refleksi dan tanggung jawab serta mampu membuat keputusan yang etis. (Cohen et al., 2009). Hal ini ditunjukkan pembelajaran yang melibatkan masyarakat dan orang tua siswa di SD Muhammadiyah Mantaran serta pembelajaran yang memberikan pengalaman yang bermakna, kontekstual serta melatih siswa berpikir kritis dan menyelesaikan masalah. Selain itu setiap ada maslaah, selalu merefleksikan penyebabnya dan semangat untuk mencari solusi. Kategori ke tiga terdiri atas (1) A Resfect For Divercity, yang menunjukkan adanya sikap saling menghargai terhadap perbedaan semua warga sekolah, baik antara siswa dengan siswa, orang tua dengan siswa dan orang tua dengan orang tua; (2) soccial support adults, menunjukkan adanya hubungan yang saling percaya dan kerjasama antara orang tua dengan orang tua untuk mendukung siswa, serta keinginan untuk mendengar dan kepedulian pribadi; (3) social support students, menunjukkan adanya Kreasi Iklim Sekolah........(Khoiri NW & Fitri NM) 125 JPPD, 6, (2), hlm. 115 - 128 jaringan antar siswa untuk mendukung kegiatan akademik. Kegiatan paguyuban wali murid yang dilakukan merupakan kegiatan yang menguatkan kategori ini. Kategori ke empat terdiri atas (1) school connctedness/engagement, meliputi ikatan positif dengan sekolah, rasa memiliki dan norma – norma umum untuk berpartisipasi dalam kehidupan sekolah bagi siswa dan keluarga; (2) physical surroundings, meliputi kebersihan, ketertiban dan daya tarik fasilitas dan daya tarik fasilitas dan sumber daya alam dan material yang memadai. Program penciptaan lingkungan positif dan program jejaring maupun paguyuban wali murid sangat menggambarkan kategori keempat pengukuran iklim di sekolah ini. Dimensi iklim sekolah tersebut diatas, harus dikondisikan dengan baik supaya iklim sekolah kondusif sehingga proses pendidikan di sekolah berjalan lancar dan apa yang menjadi tujuan tercapai. Ternyata, dimensi iklim sekolah tidak hanya mencakup hubungan antar warga sekolah tetapi juga lingkungan fisik sekolah, bahkan aktivitas pembelajaran maupun aktivitas program persekolahan yang ada di sekolah tersebut. Tingkatan dan Jenis Iklim Sekolah di SD Muhammadiyah Mantaran Iklim sekolah dapat mempengaruhi kegairahan guru bekerja, dan sikap guru serta pelaksanaan inovasi di sekolah (Wahyuningrum, 2008). Ini berarti, bila semua personel mampu mengupayakan iklim yang baik, maka berbagai macam tujuan sekolah akan mempunyai peluang yang besar untuk dapat tercapai. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa untuk menciptakan iklim sekolah yang kondusif diperlukan peranan Kepala Sekolah, dimana perwujudan iklim sekolah dapat dilaksanakan pada berbagai tingkatan iklim. Tingkatan-tingkatan iklim mulai dari yang paling kondusif sampai dengan yang paling tidak kondusif disebutkan oleh Silver dalam Made Pidarta (2011) dalam (Wahyuningrum, 2008) antara lain a) Iklim terbuka, ialah hubungan dan pergaulan berjalan lancar, tidak ada sesuatu yang bersifat rahasia, b) Iklim otonomi, yaitu guru- guru dapat kebebasan berinisiatif, berkreasi dan bekerja, juga bebas dalam memenuhi kebutuhannya, c) Iklim terkontrol, ialah apabila guru-guru diharapkan dapat bekerja dengan tekun tetapi tetap memiliki kebersamaan. d) Iklim kekeluargaan, yaitu mementingkan kerja sama dan toleransi cukup tinggi e) Iklim kebapakan, adalah manakala guru-guru bekerja relatif taat kepada perintah kepala sekolah serta tidak membantah, f) Iklim tertutup, ialah kontak hubungan sangat sedikit, orang cenderung bekerja sendiri, dengan kompetisi yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil pengamatan, tingkatan jenis iklim di SD Muhammadiyah Mantaran tergolong iklim sekolah yang terbuka yang ditandai dengan 1) Melukiskan suasana sekolah yang penuh semangat kerja (energetic). Ini dibuktikan dengan guru- guru di sekolah energic,kreatif, 80% masih muda dengan usia 24th - 35th . 2) Organisasi hidup dan bergerak ke arah tujuan. Visi misi sekolah ini sangat dipegang teguh dengan membranding sekolah menjadi sekolah yang menyenangkan. 3) Organisasi mampu memberikan kepuasan kebutuhan daripada anggota kelompok. Sekolah ini mampu memberikan kepuasan terhadap siswa, guru maupun orang tua wali murid berdasarkan hasil wawancara. Animo pendaftar ke sekolah ini juga meningkat yaitu tahun 2017/2018 Kreasi Iklim Sekolah........(Khoiri NW & Fitri NM) 126 JPPD, 6, (2), hlm. 115 - 128 mendapat siswa baru kelas 1 berjumlah 24 siswa, kini tahun 2018/2019 mencapai 53 siswa kelas 1. 3) Siswa maupun guru di sekolah ini dilatih untuk menjadi seorang leader atau pemimpin dengan menggilir jabatan ketua kelas ataupun ketua panitia dalam program sekolah secara demokratis dan tanpa ada rasa iri. Rutinitas ini sudah membudaya dan tanpa ada paksaan. 4) Suasana terbuka adalah keaslian (authencity) perilaku yang terjadi diantara seluruh anggota. Suasana yang terbuka dan perubahan perilaku terutama karakter siswa ini berjalan begitu saja tanpa disadari. Peran Kepala Sekolah dalam Mengkreasi Iklim Sekolah Iklim organisasi sekolah itu tidak muncul dengan sendirinya. Untuk mewujudkan iklim sekolah yang kondusif dan inovatif dalam mendukung pembelajaran diperlukan strategi. Mengacu pada agenda perubahan yang ditetapkan oleh pemerintah dalam mewujudkan iklim sekolah yang kondusif dan menunjang pencapaian tujuan pendidikan dapat dilakukan melalui program yang mencakup level kelas (regulator), level profesi (mediator), dan level sekolah (manajemen). (Pujiatin, 2014). Pada level kelas yang dilakukan kepala sekolah SD Muhammadiyah Mantaran adalah mewujudkan pembelajaran dan penilaian yang efektif dan selalu melakukan refleksi dan tindak lanjut terhadap yang dilakukan guru. Sedangkan pada level profesi yang dilakukan adalah melakukan refleksi diri ke arah pembentukan karakter kepemimpinan sekolah yang kuat Kepala sekolah mampu mengambil keputusan tanpa mengedepankan sikap otoriter, tetapi lebih bersikap demokratis, terbuka dan transparan, serta menjadi tauladan bagi seluruh warga sekolah . Selain itu juga mengembangkan staf/guru yang kompeten dan berdedikasi tinggi terbukti beberapa guru di SD Muhammadiyah Mantaran mampu berprestasi dan memiliki potensi yang senantiasa dikembangkan. Pada level sekolah ( manajemen ) dapat dilakukan dengan 1) menumbuhkan komitmen untuk mandiri, 2) Mengutamakan kepuasan pelanggan (customer satisfaction), 3) Menumbuhkan sikap responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan, 4) Menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tertib (safe and orderly), 5) Menumbuhkan budaya mutu di lingkungan sekolah Budaya, 6) Menumbuhkan harapan prestasi tinggi Harapan, 7) Menumbuhkan kemauan untuk berubah, 8) Mengembangkan komunikasi yang baik, 9) Mewujudkan teamwork yang kompak, cerdas, dan dinamis , 10) Melaksanakan keterbukaan (transparansi) manajemen, 11) Menetapkan secara jelas serta mewujudkan visi dan misi sekolah, 12) Melaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif, 13) Meningkatan partisipasi warga sekolah dan masyarakat 14) Menetapkan kerangka akuntabilitas yang kuat. (Pujiatin, 2014) Berdasarkan hasil wawancara, peran kepala sekolah yang dilakukan dalam menciptakan iklim sekolah di SD Muhammadiyah Mantaran antara lain 1) Mengubah mind set guru dan orang tua wali murid terhadap pendidikan yang memanusiakan. Setiap bulan ada pertemuan paguyuban wali murid dan setiap minggunya terdapat rapat guru. Di forum inilah kepala sekolah selalu berusaha mengubah mindset guru dan wali murid, 2) menciptakan hubungan dan pergaulan antar personel dengan cinta dan kasih Kreasi Iklim Sekolah........(Khoiri NW & Fitri NM) 127 JPPD, 6, (2), hlm. 115 - 128 sayang, Dalam hubungan antar sesame guru, seperti tidak ada jarak dan guru merasa dekat dengan kepala sekolah, 3) pembagian tugas pendelegasian wewenang, Ini dibuktikan dengan adanya wakil kepala sekolah atau staf Antara lain urusan kesiswaan, kurikulum, rumah tangga, sarpras, keuangan. Semuanya ada jobdes yang jelas dan saling membantu antar lini waka, 4) menyelesaikan konflik sesegera mungkin jangan sampai mengganggu kenyamanan kerja, Ketika ada konflik, kepala sekolah menyelesaikan dengan pendekatan personal. Misalkan ada kasusu guru tertentu maka kepala sekolah tidak akan menegur di forum rapat tetapi diselesaikan secara personal, 5) pemberian motivasi (reward kinerja, penghargaan, bintang kebaikan guru dll), 6) mengharmoniskan dan memperkaya lingkungan bekerja dan belajar dengan penciptaan lingkungan positif baik fisik maupun non fisik, ditandai dengan mengubah layout kantor dan kelas-kelas serta halaman luar sekolah, 7) Program School Cenectedness meliputi jejaring GSM, Parent Teaching, dan Paguyuban wali murid serta program pembelajaran berbasis masyarakat. SIMPULAN Kreasi iklim sekolah di SD Muhammadiyah Mantaran diwarnai dengan konsep gerakan sekolah menyenangkan yang bertujuan utama untuk menanamkan karakter dan membuat pendidikan yang lebih memanusiakan manusia melalui perogram 1) Penciptaan Lingkungan Positif , 2) Pendidikan Karakter, 3) Pembelajaran yang berbasis project dan problem solving, 4) School Conectednes. Berdasarkan hasil pengamatan, tingkatan jenis iklim di SD Muhammadiyah Mantaran tergolong iklim sekolah yang terbuka dan merupakan tingkatan iklim yang kondusif. Peranan kepala sekolah dalam menciptakan iklim sekolah di SD Muhammadiyah Mantaran antara lain 1) Mengubah mind set guru dan orang tua wali murid terhadap pendidikan yang memanusiakan manusia, 2) menciptakan hubungan dan pergaulan antar personel dengan cinta dan sayang, 3) pembagian tugas pendelegasian wewenang, 4) menyelesaikan konflik sesegera mungkin jangan sampai mengganggu kenyamanan kerja, 5) pemberian motivasi (reward kinerja, penghargaan, bintang kebaikan guru dll), 6) mengharmoniskan dan memperkaya lingkungan bekerja dan belajar dengan penciptaan lingkungan positif baik fisik maupun non fisik, 7) Program School Cenectedness meliputi jejaring GSM, Parent Teaching. Kreasi Iklim Sekolah........(Khoiri NW & Fitri NM) 128 JPPD, 6, (2), hlm. 115 - 128 DAFTAR PUSTAKA Cohen, J., McCabe, L., Michelli, N., & Pickeral, T. (2009). Measuring and improving school climate: A strategy that recognizes, honors and promotes social, emotional and civic learning the foundation for love, work and engaged citizenry. Teachers College Record, 111(1), 180–213. Gunbayi, I. (2007). School Climate and Teachers ’ Perceptions on Climate Factors : Educational Technology, 6(3), 70–79. Retrieved from https://learn.rochester.edu/bbcswebdav/pid-1849557-dt-content-rid- 22303682_1/courses/ED468.2019SUMMER.13203/school climate and teachers perspective.pdf Mardianto. (2018). Membangun Iklim Sekolah Untuk Mereduksi Perilaku Agresi Siswa: Bullying dan Cyberbullying. (November), 1–14. Marta, D. E. (2016). Implementasi Pemberian Reward Kepada Siswa SD Muhammadiyah Bantul Kota. Jurnal Pendidikan Guru SEkolah Dasar, Edisi 25. Pretorius, S., & de Villiers, E. (2009). Educators’ perceptions of school climate and health in selected primary schools. South African Journal of Education, 29(1), 33– 52. https://doi.org/10.1590/S0256-01002009000100003 Pujiatin, D. (2014). Strategi Kepala Sekolah Untuk Mengembangkan Iklim Sekolah (Studi Multi Kasus di SMKN 1 Pogalan dan SMK Muhammadiyah 1 Trenggalek ). Rahmawati, T. (2016). Pembentukan iklim sekolah menuju Learning Community. Http://Staffnew.Uny.Ac.Id/Upload/198111112009121001/Penelitian/Artikel+iklim +sekolah.Pdf, 1–21. Rapti, D. (2012). School Climate as an Important Component in School Effectiveness. Academicus - International Scientific Journal, (69), 110–125. https://doi.org/doi/10.7910/DVN/EUGU2U Wahyuningrum, M. M. (2008). Iklim Sekolah Di Era Otonomi Sekolah ( Suatu Kajian Manajerial ). Journal Manajemen Pendidikan, 02/Th IV/O(02), 62–78. Wiyani, N. A. (2013). Manajemen Kelas: Teori dan Aplikasi untuk menciptakan kelas yang kondusif. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.