ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 simulasi distribusi air bersih dengan adobe flash dwi kartikasari¹,nur nafi’iyah² 1,2 fakultas teknik universitas islam lamongan, email: dkartika27@gmail.com, mynaff26@gmail.com abstract the use of software in the design of clean water distribution is not new. commonly software was used specifically was designed for clean water distribution networks, namely epanet 2.0 and watercad. so that in this research was tried using general software multimedia-based namely adobe flash. the stages of making simulation with the adobe flash program include: (1) making a storyline, which is making a layout for planning map for clean water distribution networks. (2) making images and symbol, including pictures of reservoir location, hamlet locations, village road, while symbol was used to determine the water flow direction from the water source to the reservoir and to each hamlet. (3) making water distribution simulation was described by arrows in the pipe, namely from the water source to the reservoir, also distributed to each village. (4) finishing stage (finishing), which publishes work files adobe flash, namely .fla to file in the form of .swf and .exe. so that files can be run without installing adobe flash software. key words: simulation, clean water distribution, adobe flash abstrak penggunaan perangkat lunak dalam desain distribusi air bersih bukanlah hal baru. umumnya perangkat lunak yang digunakan khusus dirancang untuk jaringan distribusi air bersih, yaitu epanet 2.0 dan watercad. sehingga dalam penelitian ini dicoba menggunakan perangkat lunak umum berbasis multimedia yaitu adobe flash. tahapan pembuatan simulasi dengan program adobe flash meliputi: (1) membuat alur cerita, yaitu membuat tata letak untuk merencanakan peta untuk jaringan distribusi air bersih. (2) membuat gambar dan simbol, termasuk gambar lokasi reservoir, lokasi dusun, jalan desa, sedangkan simbol digunakan untuk menentukan arah aliran air dari sumber air ke waduk dan ke setiap dusun. (3) membuat simulasi distribusi air digambarkan dengan panah di pipa, yaitu dari sumber air ke waduk, juga didistribusikan ke setiap desa. (4) finishing stage (finishing), yang menerbitkan file kerja adobe flash, yaitu .fla ke file dalam bentuk .swf dan .exe. sehingga file dapat dijalankan tanpa menginstal perangkat lunak adobe flash. kata kunci: simulasi, distribusi air bersih, adobe flash 1. pendahuluan flash adalah program grafis yang diproduksi pertama kali oleh macromedia corp, yaitu sebuah vendor software yang bergerak dibidang animasi web. macromedia flash pertama kali diproduksi pada tahun 1996. macromedia flash telah diproduksi dalam beberapa versi. versi terakhir dari macromedia flash adalah macromedia flash 8. sekarang flash telah berpindah vendor ke adobe (izham dedy, dalam http://www.ilmukomputer.com). adobe flash professional cs6, merupakan software yang dirancang untuk membuat animasi berbasis vector hal 9 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 dengan hasil yang mempunyai ukuran yang kecil. awalnya software ini memang diarahkan untuk membuat animasi atau aplikasi berbasis internet. tetapi pada perkembangannya banyak digunakan untuk membuat animasi atau aplikasi yang bukan berbasis internet. adobe flash professional cs6 dapat digunakan untuk mengembangkan game atau bahan ajar seperti kuis dan simulasi. penggunaan adobe flash untuk animasi atau pembuatan bahan ajar interaktif tidaklah sulit, tool-tool yang tersedia cukup mudah digunakan. beberapa template dan komponen juga sudah disediakan dan siap digunakan (dikutip dari https://ikashofiani.files.wordpress.com/2012/05/modul-pelatihan-adobe-flash cs3professional.pdf). pada penelitian ini penggunakan software adobe flash digunakan sebagai simulasi sistem distribusi air bersih di desa mojosari kecamatan mantup. pemakaian software dalam perancangan distribusi air bersih bukanlah hal baru. software yang umum digunakan memang dirancang khusus untuk jaringan distribusi air bersih, yaitu epanet 2.0 dan watercad. sehingga dalam penelitian ini dicoba menggunakan software umum yang berbasis multimedia yaitu adobe flash. 2. metode penelitian 2.1 objek penelitian objek yang digunakan sebagai bahan simulasi adalah jaringan distribusi air bersih di desa mojosari kecamatan mantup. 2.2 pengumpulan data pengumpulan data berupa data primer dan data sekunder. data primer merupakan data hasil peninjauan langsung di lokasi kegiatan. data primer yang dibutuhkan dalam penelitian adalah data hasil pengukuran di lapangan sesuai kondisi desa mojosari. sedangkan data sekunder merupakan data dari internet dan referensi lain yang berhubungan pada penelitian ini. 2.3 pengolahan data tahapan pembuatan simulasi, adalah sebagai berikut: (a) pembuatan alur cerita yaitu menentukan konsep dan alur perencaaan yang akan dikerjakan. tahapan ini dimulai dengan pembuatan layout peta jaringan distribusi air bersih. pembuatan layout sesuai data peta desa mojosari. (b) pembuatan gambar dan simbol gambar dan simbol yang dibuat disesuaikan dengan cerita yang dibuat. maka dalam simulasi ini diperlukan gambar lokasi waduk, lokasi masing-masing dusun, jalan desa, dan lain-lain. simbol yang digunakan menentukan arah aliran air dari sumber air ke tandon selanjutnya menuju ke hal 10 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 masing-masing dusun. (c) tahap pembuatan simulasi tahapan pembuatan simulasi disesuaikan arah aliran air. (d) tahap penyelesaian (finishing) tahap akhir simulasi yaitu proses penyimpanan bentuk file adobe flash ke bentuk file .swf dan .exe sehingga nantinya file bisa dijalankan tanpa instal program adobe flash. 3. hasil dan pembahasan pembuatan simulasi menggunakan software adobe flash professional cs6. dalam pembuatan simulasi distribusi air bersih dengan adobe flash, meliputi langkah sebagai berikut: (a) pembuatan alur cerita atau alur aliran air desa mojosari. pembuatan alur aliran air dimulai dari pembuatan layout desa mojosari, yang meliputi dusun mojoroto, dusun belud, dusun sendangsari dan dusun sidobinangun. selanjutnya dibuat alur aliran air dari waduk desa menuju masing-masing dusun wilayah desa mojosari. gambar 1. peta desa mojosari hal 11 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 gambar 2. layout desa mojosari (b) pembuatan gambar dan simbol untuk melengkapi bagian multimedia interaktif pengumpulan bahan, berupa gambar dan simbol, diperlukan untuk membuat alur distribusi air bersih. pembuatan layout peta desa, meliputi: gambar per dusun, sumber air, tandon, jalan desa, pipa dan alur air. symbol-symbol ini dapat dilihat di jendela library di software adobe flash. hal 12 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 gambar 3. pengumpulan gambar dan simbol (c) tahap pembuatan simulasi alur aliran air dimulai dari pengambilan air dari sumber air yang diambil dari waduk desa mojosari. air dipompa dari sumber air ke tangki/tandon sebagai penampung air. selanjutnya dari tandon didistribusi ke masing-masing dusun melalui pipa jaringan distribusi. distribusi air digambarkan dengan tanda panah yang berada didalam pipa, yaitu mulai dari sumber air ke tandon, serta terdistribusi ke masing2 desa, simulasi ini dijalankan dengan adobe flash, yaitu 24 fps (frame per-second). hal 13 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 gambar 4. simulasi distribusi air bersih (d) tahap penyelesaian (finishing) tahap akhir dalam pembuatan simulasi yaitu dengan mempublish file kerja adobe flash yaitu .fla ke file dalam bentuk .swf dan .exe. sehingga file dapat dijalankan tanpa melakukan instalasi software adobe flash. berikut langkah-langkah untuk mempublish file kerja adobe flash (.fla) ke file aplikasi (.exe): (1) pilih menu “file”, (2) pilih sub menu “publish preview”, kemudian (3) pilih “projector”. hal 14 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 gambar 5. tahap publish preview (1) (4) ditunggu sebentar untuk proses publish, kemudian akan keluar hasil publishnya. gambar 6. tahap publish preview (2) (5). kemudian cek di folder, akan ada file baru dengan type file “aplication” yang berekstensi .exe. hal 15 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 gambar 7. tahap akhir penyimpanan 4. kesimpulan kesimpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. dalam pembuatan simulasi distribusi air bersih selain menggunakan program yang dirancang khusus untuk jaringan distribusi air bersih, bisa juga menggunakan program umum berbasis multimedia seperti adobe flash. 2. tahapan pembuatan simulasi dengan program adobe flash antara lain: a. pembuatan alur cerita, yaitu pembuatan layout peta perencanaan jaringan distribusi air bersih b. pembuatan gambar dan simbol, meliputi gambar lokasi waduk, lokasi dusun, jalan desa, sedangkan simbol digunakan untuk menentukan arah aliran air dari sumber air ke tandon dan menuju ke masing-masing dusun. c. pembuatan simulasi d. tahap penyelesaian (finishing) referensi [1] anonim, 2012, modul pelatihan pembuatan media pembelajaran menggunakan adobe flash cs3 professional, dalam http://ikas hofiani. files. wordpress.com [2] izham, dedy, 2013, cara cepat belajar adobe flash, dalam http://ilmukomputer.com [3] lufira, r. d., suhardjono, s., & marsudi, s. (2012). optimasi dan simulasi sistem penyediaan jaringan air bersih di kecamatan kademangan kabupaten blitar. jurnal teknik pengairan, 3(1), 6-14. [4] junedi, a. (2016). simulasi dan perbandingan distribusi aliran air bersih dengan hal 16 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 menggunakan software pipe flow expert pada perumahan pt. inalum power plant, paritohan. [5] sudirman, a. (2012). evaluasi pipa jaringan distribusi air bersih di kabupaten maros dengan menggunakan software epanet 2.0. [6] hidayati, n., ismoyo, m. j., & purwati, e. (2014). aplikasi software watercad untuk perencanaan dan pengembangan sistem penyediaan air bersih pdam singosari. jurnal. jurusan teknik pengairan, fakultas teknik, universitas brawijaya, malang. [7] andika, r. d., & kamil, i. m. (2010). permodelan sistem jaringan distribusi air minum: studi kasus distrik majasem, cirebon. [8] arsana, i. g. k., & sanjaya, i. p. y. (2014). perencanaan sistem jaringan distribusi penyediaan air minum pedesaan di desa kubu kecamatan kubu. jurnal ilmiah teknik sipil. [9] dewi, k. h., koosdaryani, k., & muttaqien, a. y. (2015). analisis kehilangan air pada pipa jaringan distribusi air bersih pdam kecamatan baki, kabupaten sukoharjo. matriks teknik sipil, 3(1). [10] wigati, r., maddeppungeng, a., & krisnanto, i. (2015). studi analisis kebutuhan air bersih pedesaan sistem gravitasi menggunakan software epanet 2.0. konstruksia, 6(2). [11] riduan, r., rusdiansyah, a., & suhartanto, e. (2012). evaluasi debit dan tekanan melalui simulasi kebutuhan air pada jaringan pipa distribusi air bersih kota kandangan propinsi kalimantan selatan. teknologi kejuruan: jurnal teknologi, kejuruan, dan pengajarannya, 31(1). [12] ramadhan, a. (2014). analisis hidrolika sistem jaringan distribusi air minum di komplek perumahan pt pusri palembang menggunakan epanet 2.0. journal of civil and environmental engineering, 2(3). [13] irfan, a. m. (2012). simulasi sistem jaringan pipa distribusi air bersih kota watansoppeng kabupaten soppeng. teknik mesin"teknologi", 12(3 okt). [14] riupassa, h., & rahim, a. (2017).simulasi cfd distribusi temperatur menggunakan ansys 14.5 pada destilator tenaga surya. jurnal teknik mesin, 6(1), 38-46. [15] ibrahim, m., masrevaniah, a., & dermawan, v. (2012). analisa hidrolis pada komponen sistem distribusi air bersih dengan waternet dan watercad versi 8 (studi kasus kampung digiouwa, kampung mawa dan kampung ikebo, distrik kamu, kabupaten dogiyai). jurnal teknik pengairan, 2(2), 159-171. hal 17 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 pengaruh campuran air limbah (air selokan) terhadap kuat tekan beton f’c 14.5 mpa (k-175) rasiyo hepiyanto 1, dwi kartikasari 2 1,2 fakultas teknik universitas islam lamongan email : rasiyoheppypsts@unisla.ac.id ; dwiksaripsts@unisla.ac.id abstract in improving technological progress, the use of concrete as a building is very popular in indonesia. because it can utilize materials that are easily obtained such as crushed stone, gravel, sand, cement and water at a relatively cheap price. on a daily use basis often found in housing construction project workers who use waste water (sewer water) for concrete processing. this of course requires a closer inspection of the quality of the concrete produced. the data analysis method begins with the investigation of cement materials, coarse and fine aggregates. mixing concrete using clean water (pdam) as a reference and waste water (sewer water) from the unisla flat building. from the analysis that has been done, it is obtained the results of the compressive strength test of concrete at the age of 7, 14 and 28 days by mixing clean water of 13.68 mpa, 18.51 mpa, 21.04 mpa, while the results of the concrete compressive strength test at ages 7, 14 and 28 days by mixing wastewater (sewer water) at 9.99 mpa, 13.35 mpa and 15.36 mpa. keywords : wastewater, concrete, compressive strength abstrak dalam meningkatkan kemajuan teknologi, pemakaian beton sebagai bangunan sangat popular di indonesia. karena bisa memanfaatkan bahan yang mudah diperoleh seperti batu pecah, batu kerikil, pasir, semen dan air dengan harga yang relatif murah.pada penggunaan sehari-hari sering dijumpai pada pekerja proyek pembangunan rumah tinggal yang menggunakan air limbah (air selokan) untuk pengerjaan pembetonan. hal ini tentunya memerlukan pemeriksaan yang lebih teliti terhadap mutu beton yang dihasilkan. metode analisa data dimulai dengan penyelidikan bahan semen, agregat kasar dan halus. pencampuran beton menggunakan air bersih (pdam) sebagai acuan dan air limbah (air selokan) dari gedung rusunawa unisla. dari analisa yang telah dilakukan didapat hasil pengujian kuat tekan beton pada umur 7, 14 dan 28 hari dengan pencampuran air bersih sebesar 13,68 mpa, 18,51 mpa, 21,04 mpa, sedangkan hasil pengujian kuat tekan beton pada umur 7, 14 dan 28 hari dengan pencampuran air limbah (air selokan) sebesar 9,99 mpa, 13,35 mpa, dan 15,36 mpa. kata kunci : air limbah, beton, kuat tekan 1. pendahuluan beton adalah suatu material yang terdiri dari campuran semen portland, air, agregat kasar (kerikil) dan agregat halus (pasir) serta bahan tambahan jika diperlukan. campuran dari bahan bahan tersebut harus ditetapkan sedemikian rupa sehingga menghasilkan beton segar yang mudahdikerjakan. beton merupakan salah satu bahan kontruksi yang seringkali diperlukan dalam struktur bangunan. tingkat kebutuhan penggunaan beton dimasyarakan sebagai struktur bangunan sangat tinggi, karena beton dinilai lebih praktis dan lebih ekonomis dibanding dengan material kontruksi yang lain, dalam meningkatkan kemajuan teknologi, pemakaian beton ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 sebagai bangunan sangat popular di indonesia. dalam fenomena sekarang ini kebutuhan air yang memenuhi syarat dalam penggunaannya sudah mulai berkurang terutama pada kotakota besar atau pada negara-negara maju yang mana air bersih hanya diprioritaskan pada kebutuhan primer saja. dunia teknik sipil terutama pada negara maju telah memikirkan tentang tantangan ke depan akan berkurangnya potensi air bersih (air tawar) yang dapat digunakan sebagai bahan campuran beton, terlebih pembangunan infrastruktur semakin meningkat seiring dengan penggunaan air bersih yang semakin banyak. dari fenomena diatas, peneliti melihat potensi sumber air limbah (air selokan) yang begitu melimpah, maka ada pemikiran untuk menggunakan air limbah sebagai bahan pencampuran beton, yang terkhusus pada lokasilokasi bangunan yang kurangnya air bersih sebagai campuran beton. pada penggunaan seharihari sering dijumpai pada pekerja proyek pembangunan rumah tinggal yang menggunakan air limbah (air selokan) untuk pengerjaan pembetonan. hal ini tentunya memerlukan pemeriksaan yang lebih teliti terhadap metu beton yang dihasilkan. oleh karena itu, penelitian ini cukup penting untuk dilakukan dengan satu harapan dapat mengetahui mutu beton dengan penggunaan air limbah (air selokan). tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh campuran air limbah (air selokan) terhadap kuat tekan beton. 2. metode penelitian penelitian ini mengunakan metode eksperimen yaitu penelitian dengan percobaan langsung di laboratorium universitas islam lamongan (unisla) yang bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat anatara satu sama yang lain dan membandingkan hasilnya, beton yang diteliti merupakan beton dengan mengunakan campuran air limbah (air selokan) yaitu yang diambil dari gedung rusunawa (unisla). 2.1 teknik pengumpulan data pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian. data adalah sesuatu yang belum memiliki arti bagi penerimanya dan masih membutuhkan adanya suatu pengolahan. data biasanya memiliki berbagai wujud, mulai dari gambar, suara, huruf, angka, bahasa, simbol, bahkan keadaan. semua hal tersebut dapat disebut sebagai data asalkan dapat kita gunakan sebagai bahan untuk melihat lingkungan, obyek, kejadian, ataupun suatu konsep. 1. data primer, yaitu data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh peneliti langsung dari subjek atau objek penelitian. 2. data sekunder, yaitu data yang didapatkan tidak secara langsung dari objek atau ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 subjek penelitian. 2.2 analisa data penelitian ini dilakukan dengan menganalisa data dan bahan-bahan yang telah terkumpul, berikut adalah tahap analisa data yang nanti akan dilakukan dalam penelitian : 1. alat penelitian molen (concrete mixer) cetakan silinder beton alat pemadat kerucut abrams ayakan neraca atau timbangan mistar atau meteran gelas ukur oven mesin uji kuat tekan (hidrolis) 2. bahan penelitian agregat kasar agregat halus semen air limbah (air selokan) 3. pelaksanaan penelitian • penyelidikan bahan semen percobaan konsistensi normal semen portland percobaan waktu mengikat dan mengeras semen percobaan menentukan berat jenis semen • penyelidikan bahan pasir percobaan analisa saringan pasir pengujian kadar air agregat percobaan berat jenis pasir percobaan air resapan pasir percobaan bobot isi dan rongga udara dalam pasir • penyelidikan bahan batu pecah percobaan kelembapan batu pecah percobaan berat jenis batu pecah ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 percobaan air resapan batu pecah percobaan berat volume batu pecah percobaan analisa saringan batu pecah • pelaksanaan campuran beton pembuatan campuran beton slump test percobaan mencetak silinder beton proses perawatan beton • tes kekuatan tekan hancur 3. hasil dan pembahasan pemeriksaan bahan penyusun beton yang dilakukan di laboratortium bahan fakultas teknik universitas islam lamongan (unisla), untuk bahan yang diperiksa adalah semen portland, agregat kasar dan agregat halus, dari hasil pemeriksaan bahan penyusun beton didapat hasil sebagai berikut: 3.1 hasil kuat tekan beton pengujian ini dilakukan saat umur beton silinder mencapai umur 7 dan dikorelasi ke umur 14, 28 hari, pengujian dilakukan dengan bantuan mesin kuat tekan beton (hidrolis), data hasil penujian kuat tekan beton ditunjukkan pada tabel 1, 2 dan 3 serta grafik pada gambar 1, didapat nilai kuat tekan beton, sebagai berikut: tabel 1: hasil kuat tekan umur 7 hari ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 tabel 2: hasil kuat tekan umur 14 hari (dikorelasi) tabel 9 hasil kuat tekan umur 28 hari (dikorelasi) ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 gambar 1: grafik kuat tekan berdasarkan hasil pengujian kuat tekan menurut gambar 3 dapat diketahui bahwa nilai kuat tekan beton dari masing-masing campuran beton terhadap jenis air yang berbeda mengalami peningkatan nilai kuat tekan rata-rata yang terjadi pada umur 7, 14 dan 28 hari dengan campuran air bersih sebesar 13,68, 18,51, 21,04 mpa, sedangkan nilai kuat tekan rata-rata yang menggunakan air limbah (air selokan) sebesar 9,99 mpa, 13,52 mpa, dan 15,36 mpa. 4. kesimpulan 4.1 kesimpulan setelah dilakukan pengujian material, pembuatan benda uji, pengujian kuat tekan, dan perhitungan, maka dari penelitian ini dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut : hasil pengujian kuat tekan beton pada umur 7, 14 dan 28 hari dengan pencampuran air bersih sebesar 13,68 mpa, 18,51 mpa, 21,04 mpa, sedangkan hasil pengujian kuat tekan beton pada umur 7, 14 dan 28 hari dengan pencampuran air limbah (air selokan) sebesar 9,99 mpa, 13,52 mpa, dan 15,36 mpa. 4.2 saran untuk penyempurnaan hasil serta mengembangkan penelitian yang lebih lanjut, penulis menyarankan hal-hal sebagai berikut : 1. perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penggunaan air limbah (air selokan) dari beberapa sumber berbeda dalam campuran beton, dengan umur pengujian kuat tekan beton yang berbeda. 2. melakukan penelitian lebih lanjut mengenai uji kimia pada air limbah (air selokan) ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 terhadap kuat tekan beton. penggunaan air limbah (air selokan) gedung rusunawa unisla hanya boleh digunakan apabila dalam kondisi betul-betul tidak ada air lain, maksimal penggunaan hanya diperbolehkan untuk rumah sederhana 1 lantai, hal ini dikarenakan dari hasil penelitian pemakaian air limbah (air selokan) tidak memenuhi mutu rencana kuat tekan secara signifikan dibanding air pdam. daftar pustaka [1] ardiyansyah, aditya, 2014, pengaruh penggunaan air rawa, air pdam dan air laboratorium disaring terhadap umur dan kuat tekan beton. fakultas teknik universitas bengkulu, bengkulu. [2] cahyadi, wahyu dwi, 2012, judul studi kuat tekan beton normal mutu rendah yang mengandung abu sekam padi (rha) dan limbah adukan beton (csw),fakultas teknik sipil universitas indonesia, jakarta. [3] chandra, johanes, 2008, pengaruh pemakaian cacahan limbah gelas plastik polypropylene (pp) pada kuat tarik dan kuat lentur material beton, fakultas teknik universitas indonesia, jakarta. [4] hendriyani, irna dkk, 2016 pengaruh jenis air pada perawatan beton terhadap kuat tekan beton pdf, program studi teknik sipil universitas balikpapan. balikpapan [5] meliani, leni puspa, 2013, studi perbandingan sifat mekanis beton dengan dan tanpa perkuatan gfrp dan tyfo sw epoxy (underwater). fakultas teknik universitas lampung. lampung. [6] widiyanto, acep, dkk 2016, pengaruh agregat kasar terhadap kuat tekan beton dengan agregat kasar pecahan bata ringan (variasi agregat kasar lolos saringan 16 mm, 22,4 mm dan 25mm) pdf, universitas muhamadiyah yogyakarta, yogyakata. [7] sk sni – 04 – 1991. persyaratan pemakaian air untuk campuran beton. [8] sni 15-2049-2004 standart nasional indonesia semen portland. [9] aditya, c. (2010). pengaruh penggunaan limbah pasir onyx sebagai bahan pengganti pasir pada kuat lentur, rembesan dan penyerapan air genteng beton. widya teknika, 18(2). [10] rajagukguk, a. (2015). pengaruh penambahan limbah debu pengolahan baja (dry dust collector) dan penambahan serat polypropylene terhadap sifat ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 mekanis beton. jurnal teknik sipil usu, 5(1). [11] dewi, n. r., dermawan, d., & ashari, m. l. (2016). studi pemanfaatan limbah b3 karbit dan fly ash sebagai bahan campuran beton siap pakai (bsp)(studi kasus: pt. varia usaha beton). jurnal presipitasi, 13(1), 34-43. [12] candra, a. i. (2017). analisis daya dukung pondasi strous pile pada pembangunan gedung mini hospital universitas kadiri. ukarst, 1(1), 63-70. [13] ervianto wi, 2002, teori aplikasi manajemen proyek konstruksi, andi, yogyakarta. yogyakarta. [14] l.wahyudi, syahril a.r, 1999, struktur beton bertulang (sni t-15-1991-03), gramedia, jakarta. [15] paul nugraha, 2007, teknologi beton dari material, pembuatan, ke beton kinerja tinggi, lppm univ. kristen petra, surabaya. [16] pujo aji, rachmat purwono, 2010, pengendalian mutu beton, its press, surabaya. [17] suharto iman, 1999, manajemen proyek dari konseptual sampai operasional jilid i, ii, erlangga, jakarta. ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 penelitian kuat uji tekan beton dengan memanfaatkan limbah beton yang tidak terpakai herlan pratikto, rekso ajiono kadiri university email : herlan_pratikno@unik-kediri.ac.id, rekso_ajiono@unik-kediri.ac.id abstract concrete has many classifications and characteristics, from low-quality, medium to high-quality concrete. along with the development of technology today many types of materials and mixtures are used. additional materials include concrete that is not used. tests of test objects in this study used a mixture of 10%, 15%, 20% and 25%. the variation is carried out at the age of 7, 21, and 28 days with the parameters used are only compressive strength. the results showed that the average compressive strength of concrete in each variation was 10% (22,155mpa), 15% (17,514 mpa), 20% (15,271 mpa) and 25% (12,714 mpa). with the target of k300 compressive strength, the result is mixed substitution with a maximum compressive strength percentage of 10% (22,155mpa). keywords: unused concrete, compressive strength 1. pendahuluan beton merupakan campuran yang berisipasir, krikil/ batu pecah serta semen dan air yang sering di gunakan dalam berbagai macam bangunan konstruksi, beton berperan penting dalam pembangunan gedung mau pun jembatan. beton sendiri memiliki berbagai kelebihan, salah satunya adalah beton mampu memikul beban tekan yang berat dibanding dengan bahan lainnya. sifat yang paling penting dari suatu agregat (batu-batuan, kerikil, pasir dan lain-lain) ialah kekuatan hancur dan ketahanan terhadap beban tekan.(candra & siswanto, 2018) berdasarkan kuat tekannya, mutu beton dibagi menjadi 3 jenis, yaitu beton mutu rendah (low strength concrete ), beton mutu sedang (medium strength concrete) dan beton mutu tinggi (high strength concrete ) dimana beton merupakan pilihan yang paling tepat untuk membuat bangunan bertingkat tinggi. penelitian yang di lakukan adalah dengan melakukan pecobaan pembuatan beton dengan memanfaatkan limbah beton yang sudah hancur sebagai campuran / pengganti batu pecah / kerikil pada umumnya. pemanfaatan limbah itu sendiri bertujuan untuk mengetahui kualitas beton yang hal ini beton apakah memenuhi ketentuan syarat yang di berikan sni. limbah beton yang sudah hancur merupakan salah satu limbah yang dihasilkan oleh pekerjaan beton yang salah atau pembongkaran beton di bangunan. oleh karena itu, pada penelitian ini kami akan mencoba mengaplikasikan limbah beton yang hal 102 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 sudah hancur tersebut sebagai bahan alternatif yang diharapkan dapat menghasilkan beton dengan mutu tinggi. 2. metode penelitian 2.1 kepustakaan beton merupakan sebuah bahan bangunan yang terbuat dari kombinasi agregat dan pengikat semen. bentuk paling umum dari beton adalah semen portland, yang terdiri dari agregat mineral seperti kerikil, pasir, semen dan air. biasanya dipercayai bahwa beton mengering setelah pencampuran dan peletakan pada suatu tempat. sebenarnya, beton tidak menjadi padat karena air menguap, tetapi semen berhidrasi, mengelem komponen lain yang bersama dan pada akhirnya membentuk material berupa batu. beton digunakan untuk membuat perkerasan jalan,struktur parkiran , struktur bangunan, jalan , pondasi, jembatan penyeberangan, dasar untuk pagar/gerbang, dan semen dalam bata atau tembok blok. nama lama untuk beton adalah batu cair. dalam pekermbangan saat ini banyak sekali ditemukan beton model baru hasil modifikasi, seperti beton berkekuatan sangat tinggi, beton fiber,beton ringan, beton semprot, beton berkekuatan tinggi, beton mampat sendiri dll. dan pada saat ini beton merupakan suatu bahan bangunan yang paling banyak digunakan di dunia. menurut sni 19742011 tes standar untuk kekuatan tekan beton dengan silinder sampel dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm dihitung dengan membagi beban maksimum yang dicapai dengan luas permukaan sampel beton. (limantara, widodo, winarto, krisnawati, & mudjanarko, 2017). secara sistematis dapat ditulis sebagai berikut: k = p/a...............................(1) keterangan : k = kuat tekan beton, kg/cm² p = besar beban maksimum, kg a = luas penampang beton,cm² hal 103 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 tabel 1 : rasio kuat tekan beton umur (hari) rasio kuat tekan 3 0.40 7 0.65 14 0.88 21 0.95 28 1.00 49 1.07 90 1.20 365 1.35 karena benda uji akan dibuat beberapa buah, kemungkinan besar hasil uji benda tersebut akan berbeda. dan faktor perbedaan (deviasi) sangat mempengaruhi dalam perhitungan besarnya nilai kuat tekan beton. berikut ini rumus standar deviasi : sd = ................................................. (2) keterangan : hal 104 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 ∑ = sigma (penjumlahan) xi = data kuat tekan dari masing-masing benda uji (x1,x2..dst) xrt = data kuat tekan dari rata-rata semua benda uji n = jumlah benda uji rumus kuat tekan karakteristik (x) : x = xrt – (1,645 xsd)..................... (3) 2.2 metodologi penelitian penelitian yang akan dilakukan ini dilaksanakan di laboraturium jurusan teknik sipil universitas kadiri. penelitian ini menggunakan benda uji kubus 15cm ,15cm,15cm sebanyak 6 benda uji dengan variasi 10%, 15% ,20%, dan 25%. langkah pembuatan campuran beton : 1. menakar seluruh campuran yang dibutuhkan baik abgregat halus, semen, agregrat kasar (kerikildan beton yang tidak terpakai), air sesuai dengan mix design, untuk beton yang tidak terpakai campuran mengunakan variasi 10%, 15%,20%, dan 25% di setiap campurannya. 2. menyiapkan air (sesuai job mix) dalam moolen, kemudian mengaduk hingga campuran merata. 3. memasukkan semen kedalam tm moolen dan mix dengan air. 4. memasukkan pasir dan kerikil sesuai volume dalam job mix, memutar tm moolen ± 15 menit agar campuran merata. agar beton merata, molen dibolak–balik sesuai kemiringan tertentu,tetapi jangan sampai tumpah coran atau isi dalam moolen. 5. menuangkan campuran beton diatas loyang untuk pengujian nilai slump. 6. mengisikan campuran beton ke dalam kubus untuk dicetak sebagai benda uji (sampel). tahap analisa data dan pembahasan, pada tahap selanjutnya data yang diperoleh setelah penelitian yang dilaksanakan di laboratorium. analisa data menggunakan metode penelitian dengan cara pendekatan kualitatif, akan mendapatkan suatu hasil dan kesimpulan dengan menginterpretasi tabel, grafik, dan angka yang didapat dari hasil penelitian. hal 105 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 3. pembahasan hasil dari penelitian campuran beton menggunakan bahan penambah beton yang tidak terpakai dituangkan dalam tabel. tabel 2 : rata-rata uji kuat tekan beton no faktor umur hasil tes kuat tekan faktor umur hasil konversi kuat tekan rata rata kuat tekan (mpa) ton mpa 1 10% 7 45 16,6 0,65 25,538 22,155 2 7 45 16,6 0,65 35,538 3 14 47 21,027 0,95 22,133 4 14 55 20,289 0,95 21,357 5 28 53 19,551 1 19,551 6 28 51 18,813 1 18,813 7 15% 7 35 12,911 0,65 19,863 17,514 8 7 36 13,28 0,65 20,431 9 14 42 15,493 0,95 16,309 10 14 46 16,969 0,95 17,862 11 28 43 15,8862 1 25,862 12 28 40 14,756 1 14,756 13 20% 7 30 11,067 0,65 17,026 15,271 14 7 32 11,804 0,65 18,161 15 14 39 14,387 0,95 15,144 16 14 37 13,649 0,95 14,367 17 28 35 12,911 1 12,911 18 28 38 14,018 1 14,018 19 25% 7 25 9,222 0,65 14,188 12,714 20 7 28 10,329 0,65 15,891 21 14 32 11,804 0,95 12,426 22 14 30 11,067 0,95 11,649 23 28 30 11,067 1 11,067 24 28 30 11,067 1 11,067 (sumber; data diolah) hal 106 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 4. kesimpulan dan saran 4.1 kesimpulan dari seluruh pengujian, untuk analisa dan pembahasan yangsudah dilakukan dalam penelitian tersebut yang telah dilakukan di laboratorium beton fakultas teknik universitas kadiri maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. kuat tekan beton yang di hasilkan dari rata-rata campuran bahan limbah beton yang sudah tidak terpakai 16,977 mpa. 2. prosentase daya serap yang dihasilkan 6,181%. 3. campuran beton yang paling optimum adalah 10% karena kuat tekannya sangat kuat. 4.2 saran berdasarkan hasil penelitian tersebut yang sudah dilaksanakan maka sebagai bahan pertimbangan kedepan, diajukan beberapa saran sebagai berikut: 1. perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan variasi lain lagi untuk penambahan limbah beton yang tidak terpakai, untuk mendapatkan nilai campuran yang lebih akurat. 2. perhatikan proses pemadatan pada saat pembuatan benda uji beton dengan menggunakan vibrator agar hasil bisa semaksimal mungkin karena menghindari udara dalam beton dan beton bisa lebih padat . hal 107 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 daftar pustaka [1] departemen pekerjaan umum, 2011, cara uji kuat tekan beton dengan [2] departemen pekerjaan umum, 2002, tata cara perhitungan struktur betonuntuk bangunan gedung dengan standar sk sni 03-2487-2002, badanstandarisasi nasional. [3] departemen pekerjaan umum, 2008, cara uji berat isi beton ringan struktural sni 3402-2008, badan standarisasi nasional [4] departemen pekerjaan umum, 2013, tata cara perhitungan struktur betonuntuk bangunan gedung dengan standar sk sni 03-2487-2013, badanstandarisasi nasional [5] jis a 1148, 2010, method of test for resistance of concrete to freeze andthawing, japan concrete institute. [6] “makalah tentang semen portland”. 16 mei 2018. http://ariefrvi. blogspot.co.id/2013/07/ makalah-tentang-semen-portland.html. [7] mulyono, t. 2004,teknologo beton,andi,yogyakarta [8] mustaqim, m. i., marliansyah, j., rahmi, a., sipil, m. t., teknik, f., pengaraian, pradana, s. a. (2013). tugas akhir, (pembimbing i), 2506. [9] sni 15-2049-2004.jakarta: “semen portland.” departemen pekerjaan umum. badan standardisasi nasional. (2004). [10] sni 1974:2011, cara uji kuat tekan beton dengan benda uji silinder. [11] sni 2493:2011, tata cara pembuatan dan perawatan benda uji di laboraturium. [12] sni-2847-2013. persyaratan beton sstruktural untuk bangunan gedung. [13] sni 1972. (2008). cara uji slump beton. badan standar nasional indonesia. “cara menghitung standar deviasi”. 20 april 2018. https://proyeksipil.blogspot. hal 108 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 co.id/2013/05/cara-menghitung-standarddeviasi dan.html. [14] sni 03-0691-1996.(1996). persyaratan mutu paving plock. badan standar nasional. hal 109 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 study perencanaan geometrik, perkerasan jalan dan perencanaan anggaran biaya pada jalan raya kalidawir – ds. ngubalan kec. kalidawir edy gardjito,st.mt. staf pengajar program studi teknik sipil fakultas teknik universitas kadiri e-mail : edygardjito@unik-kediri.ac.id abstrack so, here the author took the initiative to plane the road using flexible pavement. the hope for future, so it can be use as well as possible for the local villagers. even there included connecting roads between several villages.the method use in this planning is a method that is often used lag other planners, namely : book of directorate general of bina marga, 1970. regulation of road geometric planning directorate general of bina marga, 1997. procedures for planning geometric the inter city roads, the center for research and development jakarta, and use of others literature.the conclusion that can be get planning for this is, this way it is ±3.200 meter with width across 7 meter. is available is 2 aligment horizontal pi 1 with radisius 200 meter as big as 34º33,5’5,82”. pi 2 radisius plan 150 meter as big as 34º4’22,29”. with surface course pavement = 5 cm, base course = 20 cm and sub base course = 15 cm. keyword : road geometric planning, flexible pavement and rab 1. pendahuluan latar belakang jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk didalamnya ada bangunan pelengkap dan perlengkapan lainnya yang diperuntukkan bagi lalu lintas tersebut, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecualijalan kabel, jalan lori, danjalan kereta api. pada jalan kalidawir – desa ngubalan ini menghubungkan dua desa yang berada di daerah pegunungan bagian selatan tulungagung. identifikasi masalah a. perencanaan geometrik jalan perencanaan geometrik jalan merupakan sebuah bagian dari perencanaan jalan yang tertitik beratkan pada alinyemen horizontal dan alinyemen vertikal, sehingga dapat memenuhi fungsi dasar dari jalan yang mampu memberikan kenyamanan yang optimal pada arus lalu lintas dan sebagai akses ke rumah – rumah. b. perencanaan tebal perkerasan lentur dalam pembahasan kali ini memuat tentang perencanaan jalan baru yang hal 94 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 menghubungkan dua desa di daerah tulungagung. sedangkan penentuan tebal perkerasan yang direncanakannya sesuai dengan petunjuk perencanaan tebal perkerasan lentur jalan raya. dengan metode analisis komponen dinas pekerjaan umum bina marga. c. rencana anggaran biaya perhitungan rencana anggaran biaya biasanya meliputi : 1) volume pekerjaan 2) analisa harga satuan pekerjaan, bahan dan peralatan 3) alokasi waktu penyelesaian masing-masing item pekerjaan rumusan masalah. 1. bagaimana alinyemen horizontal dan alinyemen vertikal? 2. berapa tebal perkerasan lenturnya? 3. berapa rencana anggaran biaya dan time schedulnya? batasan masalah untuk menghindari melebarnya suatu permasalahan, penulis membuat batasanbatasan permasalahan yang berhubungan dengan penulisan ini. adapun batasanbatasan masalah yang tercantum dalam penulisan kali ini antara lain: 1.) tempat lokasi adalah jalan kalidawir – desa ngubalan kec. kalidawir kab.tulungagung. 2.) tebal dan jenis bahan perkerasan lentur berdasarkan data sekunder 3.) metode yang digunakan adalah metode bina marga dalam tata cara perencanaan geometrik jalan antar kota (tpgjak), peraturan perencanaan geometrik jalan raya tahun 1970, skbi 2.3.26.1987 dan analisa harga satuan dari bina marga. 2. metode penelitian landasan teori klasifikasi jalan di indonesia menurut bina marga dalam tata cara perencanaan geometrik jalan antar kota ( tpgjak ) no 038 / t / bm / 1997, disusun pada tabel berikut: hal 95 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 tabel 1: klasifikasi jalan panjang maksimum bagian lurus harus dapat ditempuh dalam waktu ≤ 2,5 menit (sesuai vr), dengan pertimbangan keselamatan pengemudi akibat dari kelelahan. tikungan a.) jari-jari minimum supaya kendaraan stabil disaat melewati tikungan, perlu dibuat suatu kemiringan melintang jalan pada tikungan yang disebut superelevasi (e). pada saat kendaraan melalui daerah superelevasi, akan terjadi gesekan arah melintang jalan antara ban kendaraan dengan permukaan aspal yang menimbulkan gaya gesekan melintang. perbandingan gaya gesekan melintang dengan gaya normal disebut koefisien gesekan melintang (f). 1. jarak pandangan lebih kecil dari pada panjang tikungan (jh < lt). gambar 1: jarak pandangan pada lengkung horizontal hal 96 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 untuk jh < lt jh = jarak pandang henti (m) lt = panjang tikungan (m) e = daerah kebebasan samping (m) r = jari-jari lingkaran (m) maka: e = r ( 1 – cos90 o jh/πr ) 2. jarak pandangan lebih besar dari panjang tikungan (jh > lt). gambar 2: jarak pandangan pada lengkung horizontal untuk jh >lt jh =lt + 2.d d = ½ (jh – lt) m = r (1cos 90 jh/r) + ((jh – lt/2) x (sin 90 jh/r) perencanaan tebal perkerasan lentur perencanaan konstruksi lapisan perkerasan lentur, disini untuk jalan baru kita menggunakan metode analisa komponen, yaitu dengan metode analisa komponen skbi-2.3.26.1987. lalu lintas harian rata-rata(lhr). lalu lintas harian rata-rata (lhr) setiap jenis kendaraan ditentukan pada awal umur rencana, yang dihitung untuk dua arah pada jalan tanpa median atau masingmasing arah pada jalan dengan median. hal 97 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 tahapan penelitian dalam pengolahan data ini metode yang dilakukan adalah observasi ke lokasi proyek kalidawir – desa ngubalan di kabupaten tulungagung jawa timur. selain itu penulis juga mengumpulkan data-data yang diperlukan dalam pengolahan data ini kepada pihak-pihak terkait. data umum yang terkumpul adalah sebagai berikut: 1. nama proyek : perencanaan jalan kalidawir – desa ngubalan. 2. lokasi proyek : desa ngubalan kecamatan kalidawir kab. tulungagung. 3. pemilik proyek: pekerjaan umum bina marga 4. sumber dana : apbd tahun anggaran 2019 data teknis dalam mendapat data teknis ini penulis mengumpulkan data dari hasil survey. adapun datadata nya sebagai berikut: 1. nama jalan : jalan kalidawir – desa ngubalan 2. panjang jalan: 3200 meter 3. lebar jalan : 7 meter metode penyusunan dalam proses penyusunan study perencanaan ini penulis menggunakan metode penyusunan sebagai berikut: 1. data hasil survey 2. pengolahan hasil data survey 3. design metode pengumpulan data dalam pengolahan data ini ada beberapa metode yang penting untuk diperhatikan agar perencanaan jalan ini terlaksana dengan baik. metode yang penulis gunakan dalam penyusunannya adalah sebagai berikut 1. study literatur – literatur study literature adalah proses pengumpulan data dari berbagai sumber refrensi terkait dengan jalan 2. metode observasi dan pengumoulan data teknis dengan mengumpulkan data-data teknis perencanaan jalan dan meninjau langsung ke lokasi proyek. 3. pembahasan pada saat perencanaan jalan raya, data-data yang dibutuhkan ialah peta topografi, dengan skala perbandingan 1:25000 sebagai penetapan trace jalannya. selain itu yang dilakukan adalah menghitung azimuth, sudut tikungan, dan jarak p1. hal 98 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 a. penghitungan azimut diketahui koordinat a = (0;0) pi 1 = (1875:210) pi 2 = (2475;645) b = (2675;1195) a1=archtg[x1-xa/y1-ya] =archtg[(1875-0)/(210-0)] =83036’34,22” 12=archtg[x2-x1/y2-y1] a1=archtg[2475-1875/645-210] =5403’28,4” 2b=archtg[xb-x2/yb-y2] 12=archtg[2675-2475/1195-645] =19058’59,18” b. penghitungan sudut pi 1 =a1 1-2 =83036'34,22"5403'28,4” =290 33' 5,82" 2=4-b-3-4 =5403'28,4"19058'59,18" 3404'29,22" 4. kesimpulan dan saran kesimpulan 1. jenis dari jalan kalidawir – desa ngubalan berupa jalan arteri yang spesifikasinya jalan kelas ii, dengan lebar perkerasannya 2 x 3,5 m, dengan kecepatan rencana 40 km/ jam. a. aligment horizontal a. pada pi1 direncanakan jenis tikungan spiral-spiral dengan jari-jari lengkung rencana 200 m, besar sudut pi1 29º 33’ 5,82”. b. pada pi 2 direncanakan jenis tikungan spiral-circle-spiral dengan jari – jari lengkung rencana 150 m, besar sudut pi 2 34º 4’29,22” . b aligment vertikal. pada alinemen vertical jalan kalidawir – desa ngubalan terdapat 7 pvi, yaitu : pvi 1 = 7,79%, pvi 2 = 2,3%, pvi 3 = 3,36%, pvi 4 = 9,33%, pvi 5 = 8%, pvi 6 hal 99 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 = 2%, pvi 7 = 7,72% yang untuk mendapatkan keseimbangan antara galian dan timbunan. 2. perkerasan jalan kalidawir– desa ngubalan menggunakan jenis perkerasan lentur berdasarkan volume lhr yang ada dengan : a. jenis-jenis bahan yang dipakai dalam perkerasan ini, adalah : 1) surface course : laston( cbr 20% ) 2) base course : batu pecah ( cbr 80% ) 3) sub base course : sirtu ( cbr 50% ) b. dengan perhitungan didapatkan dimensi dengan tebal dari masingmasing lapisan: 1) surface course : 5 cm 2) base course : 20 cm 3) sub base course : 15 cm 3. perencanaan jalan kalidawir – desa ngubalan dengan panjang 3200 m memerlukan biaya pembangunan sebesar rp. 184.795.541.000,00 (seratus delapan puluh empat milyar tujuh ratus sembilan puluh lima juta lima ratus empat puluh satu ribu rupiah), dikerjakan selama 1tahun 1 bulan. saran 1. perencanaan geometric jalan alangkah baiknya jika data hasil survey langsung di lapangan agar diperoleh perencanaan yang optimal. 2. perencanaan perkerasan jalan sebaiknya menggunakan data selengkap-lengkapnya, baik data lalu lintas maupun data lainnya. agar pembangunannya dapat berjalan secara optimal. 3. proyek ini memperlikan tenaga,biaya yang besar agar dapat menunjang terlaksananya proyek pembangunan jalan ini. a. bagi tenaga kerja mendapat asuransi kecelakaan diri dan jaminan keselamatan dan kesehatan kerja mengingat pelaksanaan proyek adalah pekerjaan dengan resiko tinggi. b. supaya tidak terjadi degradasi mutu pekerjaan setelah proyek ini selesai dan dapat dipertanggungjawabkan secara teknis maka pengawas harus ada di tempat. c. pengendalian mutu seharusnya di laksanakan yang meliputi bahan, administrasi, metode proyek agar mutu pekerjaan sesuai yang telah di tentukan. hal 100 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 daftar pustaka [1] christady, h., 2015, perancangan perkerasan jalan dan penyelidikan tanah, penerbit : gadjah mada university press, yogyakarta [2] departemen pekerjaan umum direktorat jendral bina marga, 1990, petunjuk disain drainase permukaan jalan. [3] direktorat jenderal bina marga, departemen pekerjaan umum, jakarta. [4] departemen pekerjaan umum direktorat jendral bina marga, 1987, petunjuk perencanaan tebal perkerasan lentur jalan raya dengan metode analisa komponen skbi 2.3.26.1987. [5] departemen pekerjaan umum, jakarta departemen pekerjaan umum direktorat [6] jendral bina marga, 1997, tata cara perencanaan geometrik jalan antar kota, departemen pekerjaan umum, [7] jakarta direktorat jenderal bina marga, 1997, manual kapasitas jalan indonesia, pusat penelitian dan pengembangan jalan, bandung [8] departemen pekerjaan umum direktorat jendral bina marga, 1970, peraturan perencanaan geometrik jalan raya [9] dasar – dasar perencanaan geometrik jalan oleh silvia sukirman penerbit nova [10] direktorat jenderal bina marga, 1997, manual kapasitas jalan indonesia, pusat penelitian dan pengembangan jalan, bandung. [11] direktorat jendral bina marga,1970.” peraturan perencanaan geometrik jalan raya no.13/1970 ” penerbit direktorat jendral bina marga. [12] indra wijayanto, 2004, tugas akhir perencanaan geometrik jalan raya, universitas sebelas maret,surakarta. hal 101 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 pengaruh penambahan serat alami eceng gondok terhadap kuat tekan beton berkualitas rendah nur affandy 1; zulkifli lubis 2 1,2 fakultas teknik universitas islam lamongan email : nurazizahpsts@unisla.ac.id; djoelslubispsts@unisla.ac.id abstract this research will be conducted in accordance with indonesian standard sk sni and foreign standard astm. the test object consists of a cylindrical test with the diameter of 15 cm and a height of 30 cm, and it is developed to 4 mixture variations with the amount of 2%, 4%, 6%, 8%, of total cement. the mechanical properties of concrete is being tested include concrete compressive strength. itis tested at the age of 7 days, and then converted at 28 days, using test objects mixed with different fiber variations. the results of the test are: compressive strength test with 2% variation is 7,54mpa, compressive strength testwith 4% variation is 6,74 mpa, compressive strength with 6% variation is 4,58 mpa, compressive strength with 8% variation is 3.63 mpa. maximum concrete compressive strength occurs in 2% fiber mixture, while the minimum concrete compressive strength occurs in 8%. from these results, it can be concluded that the addition of water hyacinth fiber to the mixture for low quality concrete has not been able to increase its compressive strength. keywords: fiber, water hyacinth, concrete compressive strength. abstrak penelitian ini akan dilakukan sesuai dengan standar sk indonesia sni dan standar asing astm. benda uji terdiri dari uji silindris dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm, dan dikembangkan menjadi 4 variasi campuran dengan jumlah total semen 2%, 4%, 6%, 8%. sifat mekanik beton sedang diuji termasuk kekuatan tekan beton. itu diuji pada usia 7 hari, dan kemudian dikonversi pada 28 hari, menggunakan benda uji dicampur dengan variasi serat yang berbeda. hasil pengujian adalah: uji kuat tekan dengan variasi 2% adalah 7,54mpa, uji kuat tekan dengan variasi 4% adalah 6,74 mpa, kuat tekan dengan variasi 6% 4,58 mpa, kuat tekan dengan variasi 8% adalah 3,63 mpa. kekuatan tekan beton maksimum terjadi pada campuran serat 2%, sedangkan kekuatan tekan beton minimum terjadi pada 8%. dari hasil ini, dapat disimpulkan bahwa penambahan serat eceng gondok ke dalam campuran beton berkualitas rendah belum mampu meningkatkan kekuatan tekannya. kata kunci: serat, eceng gondok, kekuatan tekan beton. 1. pendahuluan beton adalah campuran antara semen portland atau semen hidrolik yang lain, agregat halus, agregat kasar dan air, dengan atau tanpa bahan tambahan yang membentuk massa padat, (sni-03-2847-2002). beton merupakan bahan yang banyak digunakan dan menjadi unsur utama pada bangunan. kelebihan beton antara lain memiliki kuat tekan yang tinggi dibanding kuat tariknya, mudah dibentuk, tidak memerlukan perawatan khusus, bahan yang mudah didapat dari alam sekitar, dan lebih awet dibandingkan bahan bangunan lain. semakin banyak beton digunakan sebagai bahan penyusun struktur beton, maka mendorong sebuah bentuk penelitian untuk mengembangkan material cara pembuatan beton. pemakaian serat dalam campuran beton sudah cukup lama dilakukan, namun karena ketersediaannya semakin menurun, maka hal 11 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 dikembangkan berbagai kreasi macam percobaan mixdesign beton, salah satunya adalah dengan penggunaan serat eceng gondok sebagai bahan tambahannya. eceng gondok yang sudah menutupi sebagian besar wilayah perairan. perkembangbiakan yang demikian cepat menyebabkan tanaman eceng gondok telah berubah menjadi tanaman gulma di beberapa wilayah perairan di indonesia. usaha untuk memberantas tanaman gulma air ini dinilai masih kurang baik dan efektif, karena tingkat pertumbuhannya masih lebih cepat dari pembuangannya. banyak peneliti melaporkan bahwa eceng gondok dapat menyerap zat pencemar dalam air dan dapat dimanfaatkan untuk mengurangi beban pencemaran lingkungan. tercatat bahwa dalam waktu 24 jam eceng gondok mampu menyerap logam cd, hg dan ni sebesar 1,35 mg/g; 1,77 mg/g, dan 1,16 mg/g bila logam itu berada dalam keadaan tidak tercampur dan menyerap cd 1,23 mg/g, 1,88 mg/g, dan ni 0,35 mg/g berat kering apabila logam – logam itu berada dalam keadaan tercampur dengan logam lain dalam air (aningsih, 1991). kandungan selulosa cross and bevan eceng gondok sebesar 64,51% dari berat total (joedodibroto, 1983). 2. metode penelitian metode penelitian ini dilakukan dengan menggunakan cara eksperimen, pengujian dilaboratorium teknik universitas islam lamongan. metode penelitian ini dilakukan dengan cara membandingkan kuat tekan beton tanpa bahan tambahan serat selulosa eceng gondok sebagai bahan penambah mix design beton. benda uji untuk penelitian ini menggunakan masing-masing benda uji sebanyak 3 benda uji. untuk campuran serat masing-masing 0%2%4%6%8% dengan menggunakan menggunakan silider diameter 15 cm dengan tinggi 30 cm, dan beton akan diuji pada umur 7 hari, dan sesudah itu akan dilakukan perhitungan konversi beton untuk mengetahui kuat tekan beton pada umur 28 hari dan kemudian diambil datanya. teknik pengumpulan data a. eksperimen eksperimen adalah suatu kegiatan bersifat ilmiah yang bertujuan memperoleh data berdasarkan hasil penelitian. b. studi literatur studi literatur adalah mencari data-data maupun informasi yang berkaitan dengan penelitian melalui membaca buku maupun internet sebagai sumber acuan dalam penelitian. pelaksanaan penelitian a. bahan bahan-bahan yang akan digunakan dalam pembuatan benda uji adalah : • semen portland • agregat kasar hal 12 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 • (kerikil) • agregat halus (pasir) • serat alami eceng gondok • air tawar b. peralatan peralatan yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah : • alat pencampur bahan concrete mixer sekop /sendok semen • cetakan silinder beton • mesin tekan hidrolis untuk menguji kuat tekan beton. diagram alir penelitian hal 13 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 3. hasil dan pembahasan proses pengujian benda uji dlakukan dilaboratorium teknik sipil universitas islam lamongan. benda uji yang digunakan adalah silinder dengan ukuran tinggi 30 cm dan diameter 15 cm sebanyak 3 buah untuk setiap sample campuran beton kemudian diuji kuat tekan pada umur 7 hari, yang akan dikonversikan ke umur 28 hari . diharapkan dengan penambahan serat alami eceng gondok terhadap campuran beton bisa menambah kuat tekan beton. berikut merupakan hasil pengujiannya. hasil uji slump hal 14 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 gambar 2. hasil slump test sumber : hasil analisa, 2018 berdasarkan data penelitian bahwa diperoleh nilai slump dari beton tanpa campuran serat ecemg gondok sebesar 7 cm. dengan campuran 2%, serat didapat nilai 6,5 cm, campuran 4% didapat nilai 5,5 cm, campuran 6% didapatkan nilai 6 cm. dan pada campuran 8% didapat nilai 5 cm. dari keempat campuran beton diatas dapat disimpulkan bahwa nilai slump yang diperoleh dapat dianggap kurang baik, karena syarat nilai slump yang baik kisaran antara 8-12 cm. grafik kuat tekan tegangan hancur 28 hari gambar 4. grafik kuat tekan tegangan hancur umur 28 hari sumber : hasil analisa, 2018 dari grafik di atas diketahui nilai kuat tekan beton yang sudah dikonversi ke 28 hari. tanpa serat (normal) diperoleh nilai rata-rata sebesar 9,31 mpa. campuran serat 2%, diperoleh ratarata hal 15 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 7,54 mpa, nilai ini menurun 19% jika dibanding non serat. campuran 4% diperoleh nilai rata-rata 6,74 mpa, nilai ini menurun 28% jika dibanding dengan non serat. campuran 6% diperoleh rata-rata 4,58 mpa, nilai ini menurun 51% jika dibanding non serat. terakhir pada campuran 8% diperoleh nilai rata-rata 3,63 mpa. nilai ini menurun 61% jika dibanding dengan non serat. grafik hubungan antara penambahan serat terhadap kuat tekan beton umur 28 hari gambar 3. grafik kuat tekan rata-rata umur 28 hari dengan persamaan regresi sumber : hasil analisa, 2018 pada penulusuran model regresi penambahan serat selulosa eceng gondok terhadap kuat tekan umur 28 hari, diatas diplot dalam grafik dan garis regresi polynomial mulai order 2 sampai dengan order 4 yang dibuat dengan trendline. titik-titik yang dibuat oleh regresi order 2 sampai dengan order 3 tampak berimpit dan nilai r2 order 2 dan 3 sama, dimana order 4 menunjukkan nilai r2=1. penulusuran model regresi pengaruh penambahan serat selulosa eceng gondok terhadap kuat tekan beton. dari hasil penelitian secara umum nilai uji kuat tekan mengalami penurunan pada setiap penambahan serat selulosa eceng gondok mulai variasi 2% sampai 8%. tabel 1. hasil uji model kuat tekan umur 28 hari terhadap % penambahan serat alami eceng gondok hal 16 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 dari hasil uji model regresi non linier diatas, dengan penambahan serat eceng gondok terhadap uji kuat tekan beton. hasil uji regresi polynomial mulai order 2 sampai dengan order 4 yang dibuat dengan trendline. titik-titik yang dibuat oleh regresi order 2 diperoleh r2= 0.983, order 3 diperoleh r2= 0.983, sampai pada order 4 menunjukkan nilai r2=1. 4. kesimpulan dan saran kesimpulan pembuatan beton telah diuji di laboratorium fakultas teknik sipil universitas islam lamongan (unisla). dan setelah melalui tahap-tahap dari awal sampai akhir, menggunakan campuraan serat eceng gondok varian 2%,4%,6%,8% yang dicampur dalam komposisi beton dapat di tarik kesimpulan : 1. berdasarkan data dan analisa dari hasil pengujian di laboratorium, bahwa seratalami eceng gondok tidak dapat digunakan sebagai bahan tambah dalam mix design beton. dikarenakan dengan penambahan serat eceng gondok akan mengakibatkan memperlambat waktu ikat awal beton. semakin besar prosentase penggunaan serat maka semakin lama waktu ikat awal yang terjadi. sehingga workability (kemudahan dalam pembuatan) beton segar semakin rendah. 2. berdasarkan hasil penelitian uji kuat tekan yang telah dilakukan, beton campuran normal mencapai target kuat tekan rencana pada umur 28 hari. kuat tekan tertinggi pada campuran serat eceng gondok 2%, yakni dengan kuat tekan 7,54 mpa, sedangkan kuat tekan minimum terdapat pada serat 8%, yakni 3,63 mpa. dari data demikian dapat dikatakan bahwa semakin banyak penambahan serat eceng gondok yang digunakan sebagai bahan tambah mix design beton, nilai kuat tekan beton akan semakin menurun jika dibandingkan dengan tanpa menggunakan campuran serat. hal 17 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 saran berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyadari masih banyak kekurangan pada penelitian ini, oleh karena itu hasil penelitian ini belum dapat dikatakan sempurna, namun demikian diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi mahasiswa/i dalam rangka pembelajaran. ada beberapa hal yang dapat dipelajari pada penelitian ini dan dapat dilakukan lebih lanjut sebagai acuan atau masukan yang dapat berguna bagi mahasiswa/i atau peneliti lain dan bagi lembaga pendidikan perguruan tinggi, diantara nya adalah: 1. mahasiswa/i harus sudah mengetahui kualitas bahan yang digunakan, mampu menghitung kebutuhan komposisi bahan yang digunakan, mengetahui cara menimbang yang ketelitiannya sesuai standart, dan mengetahui campuran komposisi yang benar agar dapat dihasilkan kuat tekan beton yang sesuai dengan yang diharapkan. 2. serat eceng gondok yang memiliki daya serap tinggi mempengaruhi faktor air semen (fas) maka dari itu saya menghimbau agar dilakukan beberapa modifikasi seperti penambahan bahan kimia superplasticizer untuk mengurangi fas namun beton segar tetap workable untuk pengerjaannya dan dapat mengurangi kadar semen. referensi [1] american society for testing materials. manual book of astm standards 2005: vol.04.02, concrete and aggregate. philadelphia, astm 2005. [2] annual book of astm standards volume 04.02 “concrete and aggregates”, 2001. [3] annual book of astm standart,2002,astm c31 practice for making and curing [4] concrete test specimens in the field,astm international,west conshohocken,pa. [5] aningsih,g,s.1991.kemampuan eceng gondok dalam mengubah sifat fisika kimia limbah cair pabrik urea dan asam formiat.bandung : thesis magister jurusan biologi itb [6] anonim,1971,peraturan beton bertulang indonesia (pbi-1971), departemen pekerjaan umum dan tenaga listrik,bandung [7] buku pedoman praktikum. pemeriksaan bahan beton dan mutu beton,depok : laboratorium struktur dan material departemen sipil,1998. [8] joedodibroto,r.1983.prospek pemanfaatan eceng gondok dalam industri pulp dan kertas.berita selulosa.edisi maret 983.vol.xix no.1.bandung. [9] sni 03-2834-2000, tata cara pembuatan rencana campuran beton normal. hal 18 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 jakarta : badan standardisasi nasional [10] sni 15-7064-2004.semen portland komposit.jakarta: badan standardisasi nasional [11] sni 1970-2008. cara uji berat jenis dan penyerapan air agregat halus. jakarta: badan standardisasi nasional [12] sni 1972-2008.cara uji slump.badan standardisasi nasional bsn. jakarta. sni 1974-2011 cara uji kuat tekan beton dengan benda uji silinder.badan standardisai nasional indonesia bsn. jakarta [13] tjokrodimuljo,k.2007,teknologi beton kmts ft ugm,yogyakarta. [14] anwar hamid, d., as’ad, s., & safitri, e. (2014). pengaruh penggunaan agregat daur ulang terhadap kuat tekan dan modulus elastisitas beton berkinerja tinggi grade 80. matriks teknik sipil, 2(2), 43-49. [15] bintang, a. p., setyanto, s., & adha, i. (2016). studi pengaruh penambahan bahan additive tx-300 terhadap kuat tekan batu bata pasca pembakaran. jurnal rekayasa sipil dan desain, 3(3), 381-390. [16] nasution, s. (2009). efek komposisi dan aging terhadap sifat mekanik dan fisis pada pembuatan aerated concrete (beton berpori) (master's thesis). hal 19 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 penelitian menggunakan batu gamping sebagai agregat kasar dan filler pada aspal campuran ac-bc moch zaenuri1, romadhon2, april gunarto3 1,2,3 fakultas teknik universitas kadiri email: zaeunuri_arifin@unik-kediri.ac.id, romadhon@unik-kediri.ac.id, april_gunarto@unikkediri.ac.id abstract road damage has become a common problem commonly faced, in almost every area has a damaged road. some of the causes of road damage in some areas are: poor road quality, inadequate drainage conditions. therefore, it needs serious handling in reacting it, until finally this research was born to become an alternative in handling damaged roads that are in accordance with the requirements of the clan community. the research method used is an experimental method in the laboratory. the performance of asphalt mixture is determined based on the carrying capacity of the mixture based on stability and volumetric parameters with the marshall method (sni 06-2489-1991) with 3 samples of asphalt content 5%, 5.5%, 6%, 6.5%, 7%. the use of limestone as a hot mix material for almost all bina marga requirements is fulfilled. with the results of the average calculation of 3 samples, namely: vma 18.06%, vim 5.98, vfb 66.32%, stability 1059 kg, flow 2.86 mm, mq 367 kg / mm. kao results obtained at 6.5%. keywords: limestone, volumetric, marshall test abstrak kerusakan jalan telah menjadi masalah umum yang biasa dihadapi, di hampir setiap daerah memiliki jalan rusak. beberapa penyebab kerusakan jalan di beberapa daerah adalah: kualitas jalan yang buruk, kondisi drainase yang tidak memadai. oleh karena itu, perlu penanganan serius dalam menyikapinya, hingga akhirnya penelitian ini lahir untuk menjadi alternatif dalam penanganan jalan rusak yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat klan. metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen di laboratorium. kinerja campuran aspal ditentukan berdasarkan daya dukung campuran berdasarkan parameter stabilitas dan volumetrik dengan metode marshall (sni 06-2489-1991) dengan 3 sampel kadar aspal 5%, 5,5%, 6%, 6,5% , 7%. penggunaan batu kapur sebagai bahan campuran panas untuk hampir semua persyaratan bina marga terpenuhi. dengan hasil perhitungan rata-rata 3 sampel, yaitu: vma 18,06%, vim 5,98, vfb 66,32%, stabilitas 1059 kg, aliran 2,86 mm, mq 367 kg / mm. hasil kao diperoleh pada 6,5%. kata kunci: batu kapur, volumetrik, tes marshall 1. pendahuluan secara umum bahan perkerasan terdiri dari agregat kasar, halus, filler dan aspal. aspal merupakan salah satu agregat yang digunakan sebagai pembuatan jalan raya, material ini dipilih karena memiliki sifat fleksibilitas, stabilitas, durabilitas, dan tahan terhadap air. sedangkan agregat kasar yang digunakan berupa batu gamping dengan spesifikasi tertentu yang merupakan hasil dari mesin abrasi. dengan mesin abrasi batu gamping tadi akan menghasilkan abu batu gamping yang akan digunakan sebagai filler, namun untuk mengetahui hal 28 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 kuat tidaknya masih perlu dipertimbangkan terlebih dahulu. penggunaan agregat kasar dan filler pada laston banyak diteliti untuk mendapatkan kinerja campuran yang baik dan ekonomis, selain itu perlu suatu upaya pemanfaatan material lokal dan bagaimana bahan lokal seperti batu gamping yang persediaannya melimpah di kota tulungagung tepatnya di daerah desa kalidawir. tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh campuran laston dengan penggunakan batu gamping sebagai agregat kasar dan filler, dan bagaimana variasi campuran optimal dalam mencapai stabilitas dan flow yang disyaratkan dengan penggunaan batu gamping, serta hasil kao sebagai efisiensi penggunaan aspal. 2. metode penelitian lapis ac-bc adalah lapis perkerasan terletak dibawah lapisan aus dan di atas lapis bawah (pondasi). lapis ini diharuskan mempunyai kekauan dan ketebalan yang baik untuk mengurangi tekanan akibat beban kendaraandan harus memiliki karakteristik stabilitas. ketentuan dan persyaratan tentang sifat campuran laston harus memenuhi dan sesuai yang dipersyaratkan oleh bina marga 2010 tertera pada tabel 1. tabel 1. sifat campuran ac sumber: spesifikasi umum bina marga 2010 (revisi 3) 2.1 batu gamping batu gamping (lime stone) adalah batuan sedimen yang utamanya tersusun oleh kalsium karbonat (caco3) berbentuk berupa mineral kalsit dan digunakan sebagai material pembangunan yang telah banyak digunakan oleh manusia dan digunakan sebagai bahan penstabilisasi pada tanah yang memiliki kinerja yang buruk dan dimanfaatkan untuk tanah hal 29 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 lunak. campuran lempung-kapur sudah banyak dipakai untuk bahan bangunan. batu kapur mengandung 98,9% kalsium karbonat (caco3) dan 0,95% magnesium karbonat (mgco3). tabel 2. komposisi kimia batu gamping sumber: rosenqvist t, 2004 tahapan-tahapan dari penelitian ini meliputi persiapan, pelaksanaan dan analisa data. persiapan dimulai dengan dilakukan studi literatur terlebih dahulu dengan mengumpulkan referensi berupa buku atau jurnal yang berhubungn dengan judul dari penelitian ini, kemudian dilanjutkan dengan persiapan alat yang sudah tersedia di laboratorium serta pengadaan material yang didapatkan dari laboratorium berupa aspal minyak dan agregat didapatkan dari pt. triple s kediri. selanjutnya dilakukan uji agregat halus dan kasar yang melingkupi uji ayakan, penyerapan air, dan berat jenis pada agregat, sedangkan filler hanya dilakukan pengujian analisa saringan saja. langkah selanjutnya dilakukan perencanaan mix design lalu dilanjutkan dengan pembuatan benda uji, sebelumnya detentukan dulu kadar aspal awal (pb) sebagai acuan untuk membuat benda uji. kadar aspal awal (pb) didapatkan dari rumus: pb=0,035(%ca)+0,045(%fa)+0,18(%ff)+konstanta(0,5-1,0) setelah mendapatkan kadar aspal awal (pb) didapatkan nilai sebagai berikut: 5%, 5,5 %, 6 %, 6,5 %, dan 7 %, dari setiap kadar aspal dibuat 3 sampel untuk koreksi. untuk proporsi agregat yang digunakan untuk laston ac-bc pada penelitian ini memenuhi dan sesuai yang dipersyaratkan oleh spesifikasi umum bina marga 2010 seperti pada tabel 3. tabel 3. gradasi pada campuran hal 30 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hal 31 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 3. hasil dan pembahasan 3.1 karakteristik campuran karakteristik campuran ditunjukkan pada tabel 4. tabel 4. nilai karakteristik campuran ac-bc 3.2. menentukan kadar aspal optimum menurut spesifikasi bina marga dalam perencanaan jalan raya perkerasan yang dihasilkan harus memiliki stabilitas yang cukup baik tanpa mengabaikan durabilitas, fleksibilitas, dan kemudahan dalam pelaksanaan. adapun karakteristik campuran ac-bc meliputi vma, vim, vfb, stabilitas, flow, dan marshall quotient (mq). nilai stabilitas memperlihatkan kekuatan sebuah perkerasan jalan untuk menerima beban tanpa adanya peruberubahan bentuk. bila jalan tersebut melayani lalu lintas berat maka kebutuhan akan stabilitas menjadi tinggi begitu pula sebaliknya. nilai stabilitas terjadi karena adanya geseran antar butir dan penguncian antar partikel, dan daya ikat dari lapisan aspal. untuk campuran ac bc nilai stabilitas dibatasi minimum 800 kg. dari grafik 1. didapatkan nilai tertinggi stabilitas berada pada kadar aspal 6,5 % sebesar 1413 kg. hal 32 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 grafik 1: hubungan kadar aspal dengan nilai stabilitas pelelehan menunjukkan tingkat kelenturan pada lapis perkerasan. untuk laston ac-bc nilai flow disyaratkan antara 2 sampai 4 mm. dari hasil penelitian nilai flow semua kadar aspal padasemua sampel masuk dalam karakteristik seperti pada grafik 2. grafik 2: hubungan kadar aspal dengan nilai pelelehan plastis nilai marshall (mq) hasil bagi dari nilai stabilitas dengan nilai pelelehan plastis yang merupakan bentuk dari kekakuan campuran. gambar 4 menunjukkan hasil dari mq berkisar antara 5,5 % sampai 7%. hal 33 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 grafik 3: hubungan kadar aspal dengan nilai mq vim adalah volume udara total yang ada didalam agregat yang diselimuti aspal dalam benda uji. pada grafik 4 menunjukkan nilai vim yang masuk persyaratan hanya pada kadar aspal 6,5 % sebesar 4,6 %. grafik 4: hubungan kadar aspal dengan vim vma adalah volume rongga yang ada didalam agregat campuran laston yang sudah dipadatkan. dari hasil penelitian didapatkan bahwa semua kadar aspal memenuhi persyaratan bina marga seperti yang terlihat pada grafik 5. hal 34 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 grafik 5: hubungan kadar aspal dengan nilai vma vfb adalah rongga yang terisi aspal,terletak antara nilai vma dan vim, dan bertujuan untuk menjaga keawetan laston dengan memberi sebuah batasan . dari grafik 6 diperoleh nilai antara 5,50 % sampai 7,0 %. grafik 6: hubungan kadar aspal dengan nilai vfb kao diperoleh dari pembacaan marshall dan sebagai acuan untuk menentukan nilai tengah dari rentang kadar aspal yang memenuhi semua persyaratan bina marga yang ditinjau dari perhitungan marshall seperti pada tabel 5 didapatkan nilai kadar aspal optimum sebesar 6,5 %. hal 35 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 tabel 5. kadar aspal optimum 5. simpulan dan saran simpulan berdasarkan analisis hasil pengujian serta pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan yaitu : 1. dari penelitian yang sudah dilakukan dengan volumetrik dan parameter marshall dari 3 sampel dengan kadar aspal yakni 5%,5,5%, 6%, 6,5%, dan 7% didapatkan hasil ratarata pada perhitungan vma 18,06%, vim 5,98%, vfb 66,32%, stabilitas 1059 kg, flow 2,86mm, dan mq 367 kg/mm. 2. berdasarkan hubungan antara kandungan kadar aspal minyak dan seluruh parameter marshall dan volumetrik menggunakan agregat batu gamping maka didapatkan kandungan kadar aspal optimum berada pada kadar 6,5%. 3. dari hasil pengujian dengan agregat batu gamping menggunakan metode marshall menunjukkan bahwa agregat batu gamping layak sebagai bahan pengganti agregat kasar dan sebagai bahan pengisi pada laston, itu didasarkan pada spesifikasi umum bina marga 2010 divisi 6 tentang perkerasan jalan. saran saran yang bisa disampaikan yaitu : penelitian ini dapat digunakan untuk mendukung pembangunan infrastruktur nasional berbasis penggunaan material lokal, khususnya di kabupaten tulungagung. hal 36 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 daftar pustaka [1] aashto. 1990. standard specifications for transportation materials and methods of sampling and testing. part i. "specifications". fifteenth edition. washington,d.c [2] aashto. 1990. standard specifications for transportation materials and methods of sampling and testing. part ii. "tests". fifteenth edition. washington,d.c. [3] astm d 1559-76 atau aashto t-245-90, rancangan campuran berdasarkan metode marshall. [4] april gunarto, a. i. c. k. (2019). penelitian campuran aspal beton dengan menggunakan filler bunga pinus. ukarst, 3(1), 37. https://doi.org/10.30737/ukarst.v3i1.351 [5] candra, a. i., mudjanarko, s. w., & limantara, a. d. (2017). manajemen data lalu lintas kendaraan berbasis sistem internet cerdas kadiri. semnastek, 4(2), 1–2. retrieved from jurnal.umj.ac.id/index.php/semnastek [6] departemen pekerjaan umum. 1987. petunjuk pelaksanaan lapis aspal beton (laston) untuk jalan raya. [7] departemen pekerjaan umum. 1999. pedoman perencanaan campuran beraspal panas dengan pendekatan kepadatan mutlak jakarta: pt. mediatama saptakarya (pt. medisa). [8] direktorat jenderal bina marga departemen pekerjaan umum republik indonesia. 2010. spesifikasi umum divisi 6 hal 38 [9] direktorat jenderal bina marga departemen pekerjaan umum republik indonesia. 2010. spesifikasi umum divisi 6 perkerasan aspal [10] sukirman, silvia. 1999. dasar-dasar perencanaan geometrik jalan. jakarta. granit.104 hal. tenrisuki,andi tenriajeng. seri diktat kuliah rekayasa jalan raya gunadarma. 207 hal. [11] muaya, g. s., kaseke, o. h., & manoppo, m. r. (2015). pengaruh terendamnya perkerasan aspal oleh air laut yang ditinjau terhadap karakteristik marshall. jurnal sipil statik, 3(8). [12] edison, b. (2014). karakteristik campuran aspal panas (asphalt concrete-binder course) menggunakan aspal polimer. jurnal aptek, 2(1), 60-71. [13] sni (1989). tata cara pelaksanaan lapis aspal beton (laston) untuk jalan raya. sni 031737-1989. [14] sni (2008). cara uji berat jenis dan penyerapan agregat halus. sni 1970 : 2008. [15] sni (2011). cara uji berat jenis aspal. sk sni 2441-2011. [16] sni (2011). cara uji penetrasi aspal. sk sni 2456-2011. [17] sni (2011). pengujian titik lembek aspal. sk sni 2434-2011. [18] sni (2011). pengujian titik nyala dan titik bakar aspal. sk sni 2433-2011. hal 37 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 pengaruh penambahan batu karang sebagai substitusi agregat halus dalampembuatan paving block edy gardjito1, agata iwan candra2, yosef cahyo3 1,2,3 sipil fakultas teknik universitas kadiri e-mail : * 1 edygardjito@unik-kediri.ac.id, iwan_candra@unikkediri.ac.id, yosef.cs@unik kediri.ac.id abstract material exploitation, especially the use of sand as the main component of concrete, needs to be reduced. the purpose of this research is to find out the value of compressive strength from the addition of rocks to achieve compressive strength according to the standard mix design of paving blocks. this research was conducted at the university's civil engineering laboratory. attending a trial and error method, the samples tested were cube with a size of 15 x 15 x 15 cm with 3 pieces with the quality of paving planned and k-225 or 18.675 mpa. the method of making specimens includes semimechanics using a concrete mixer. fractional waste the rock is crushed into small pieces and then put in messin abrassion to get smaller pieces of rock and become grains of sand. test result obtained a percentage of 25% indicating a compressive strength of 22.1 mpa, 20.3 mpa, 19.9mpa, and has an average value of 21.8 mpa. then the results from the substitution experience i increase against compressive strength. keywords: coral, fine aggregate, compressive strength. abstrak eksploitasi material, terutama penggunaan pasir sebagai komponen utama beton, perlu dikurangi. tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai kekuatan tekan dari penambahan batuan untuk mencapai kekuatan tekan sesuai dengan desain campuran standar balok paving. penelitian ini dilakukan di laboratorium teknik sipil universitas. menghadiri metode coba-coba, sampel yang diuji adalah kubus dengan ukuran 15 x 15 x 15 cm dengan 3 buah dengan kualitas paving yang direncanakan dan k225 atau 18,675 mpa. metode pembuatan spesimen termasuk semi-mekanika menggunakan mixer beton. limbah pecahan batuan dihancurkan menjadi potongan-potongan kecil dan kemudian dimasukkan ke dalam abrasi untuk mendapatkan potongan batu yang lebih kecil dan menjadi butiran pasir. hasil pengujian diperoleh persentase 25% yang menunjukkan kekuatan tekan 22,1 mpa, 20,3 mpa, 19,9mpa, dan memiliki nilai rata-rata 21,8 mpa. kemudian hasil dari pengalaman substitusi saya meningkat terhadap kekuatan tekan kata kunci: karang, agregat halus, kekuatan kompresif. 1. pendahuluan 1.1 tinjauan umum pengerasan jalan umumnya menggunakan media aspal. namun, saat ini sering terlihat pengerasan jalan dengan media selain aspal yaitu paving block.paving block atau bata beton untuk lantai merupakan salah satu batu cetak yang sudah dikenal dimasyarakat dan banyak hal 38 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 digunakansebagai bahan bangunan gedung dan jalan. bahan dasar paving block yaitusemen portland, air, agregat halus, dan agregat kasar. inovasi yang dilakukan yaitu batu karang sebagai substitusi agregat halus dalam pembuatan paving blockdalam hal ini kedepannya dapat dimanfaatkan warga didaerah pesisir pantai untuk menabah mata pencaharian warga setempat pesisir pantai. adapun alternatif bahan yang digunakan pada penelitian ini berbahan dasar batu karang yang dihaluskan agar seperti butiran pasir. 1.2rumusan masalah berdasarkan permasalahan diatas maka dapat disimpulkan dalam rumusan masalah sebagai berikut : berapa kuat tekan yang dihasilkan dari penambahan batu karang sebagai substitusi agregat halus pada paving blok ? 1.3tinjauan pustaka 1.3.1 beton beton merupakan salah satu bahan konstruksi yang telah digunakan untuk bangunan gedung, jembatan, jalan, dan lain-lain. bahan campuran beton melainkan agregat halus, agregat kasar, semen portland atau semen merek lain, dan air, ada beberapa yang menggunakan bahan tambahan (aditif) sampai menjadi satu kesatuan yang homogen. 1.3.2 paving block paving block adalah suatu benda yang terbuat dari campuran semen, agregat halus, agregat kasar dan air yang mengeras dengan bentuk dan mutu yang sudah ditentukan. keunggulan paving block adalah menjaga keseimbangan air tanah, serta menjadi serapan air yang baik. 1.3.3. kuat tekan kuat tekan adalah sifat kemampuan menahan atau memikul suatu beban tekan. kuat tekan dipengaruhi oleh komposisi mineral utama. c3s memberikan kontribusi yang besar pada perkembangan kuat tekan awal, sedangkan c2s memberikan kekuatan semen pada umur yang lebih lama. apabila c3s dan c2s bereaksi dengan air kembali membentuk senyawa csh dan ca(oh)2. berdasarkan (bsn 2011) kuat tekan beton dapat diyatakan dengan persamaan: fc'= p/a dimana : fc' = nilai kuat tekan beton (mpa) p = beban maksimum (kn) (n) a = luas penampang benda uji(cm²) hal 39 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 2. metode penelitian 2.1 material 2.1.1 agregat kasar batu split (batu koral) adalah salah satu jenis batu material bangunan yang di peroleh dengan cara membelah atau memecah batu yang berukuran besar menjadi kecil. batu split juga sering disebut dengan nama batu belah. gambar 1. batu pecah 2.1.2 semen semen merupakan senyawa atau zat pengikat hidrolis yang terdiri dari senyawa c-s-h (kalsium silikat hidrat) yang apabila bereaksi dengan air akan dapat mengikat bahanbahan padat lainnya membentuk satu kesatuan yang kompak, padat dan keras. fungsi semen adalah untuk mengisi rongga-rongga diantara butiran agregat agar terjadi suatu massa yang kompak atau padat. hal 40 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 gambar 2. semen portland (pc) 2.1.3 pasir pasir adalah salah satu jenis agragat yang dibutuhkan untuk bahan pembuatan beton yang berukuran mulai dari 0,0625 hingga 2 mm. pasir terbentuk karena adanya proses pelapukan fisik dan kimia pada batuan. hal 41 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 gambar 3. pasir gunung gedang blitar 2.1.4 air air merupakan zat cair yang terdiri dari senyawa hidrogen (h2o) dan oksigen (o) kemudian menjadi air murni yang memiliki rumus kimia h2o. gambar 4. air bersih 2.1.5 batu karang karang adalahkumpulan dari fosil binatang laut yang sangat kecil atau kumpulan dari polip laut yang sangat kecil yang mengeluarkan semacam zat kapur yang membentuk suatu atau beberapa gundukan yang besar ataupun yang berukuran sedang. hal 42 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 gambar 5. limbah pecahan batu krang 2.2 langkah kerja metode langkah kerja untuk 3 sampel analisis rekayasa job mix beton pada paving block antara lain : a. proses pengambilan pasir menggunakan ayakan lolos berdiameter 0,40 mm dan tertahan pada ayakan berdiameter 0,39. b. pengovenan pasir guna pengambilan bahan sesuai berat kering sebanyak 6,16875 kg (berat normal dikurangi 25% dan diganti pasir dari batu karang). c. menyediakan agregat kasar dengan lolos ayakan no. 1 1/2 ” ( 37,5 mm ), tertahan ayakan no. 1” ( 25,4 mm ) dan sebanyak 12,355 kg. d. menyiapkan semen portland sebanyak 4,375 kg. e. menyiapkan air guna proses pelarutan dan pencampuran sebanyak 2,555 kg. f. menyiapkan batu karang yang telah dihaluskan sebagai subtitusi agregat halus sebanyak 2,057 kg (25% dari pasir),lolos ayakan no 40 tertahan no 50 dan lolos ayakan no 50 tertahan no 100. g. proses mixing menggunakan media mesin pengaduk elektrik. 1) masukan air dan semen kedalam mesin pengaduk. 2) putar mesin pengaduk selama 20 menit agar bahan perekat tercampur dengan sempurna. 3) masukan seluruh agregat kasar pada mesin pengaduk secara bertahap. 4) setelah agregat kasar dikira telah tercampur dengan campuran air dan semen pada 15 menit putaran mixer, masukkan pasir dan batu karang yang telah di haluskan secara bertahap. hal 43 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 5) setelah seluruh bahan tercampur secara sempurna, adonan di uji test slump guna mengetahui kadar air yang terkandung pada adonan segar beton. 6) jika kadar air setabil masukan adonan segar mix design beton kedalam cetakan kubus dengan ukuran sisi 15 cm serta dalam pemasukkan adonan beton segar kedalam cetakan diharuskan untuk disertai penggetaran pada cetakan guna mengantisipasi rongga pada struktur beton. 7) biarkan adonan beton mengering hingga sempurna, antara 7 – 10 hari. 8) setelah kering, bongkar cetakan beton dan lanjutkan proses curing beton kedalam kolam selama waktu analisa 28 hari. 9) angkat beton dari kolam curing dan angin-anginkan beton selama 1 hari guna proses pengeringan. 10) proses test uji kuat tekan beton. 3. hasil dan pembahasan dalam hal ini penujian kuat tekan pada sempel dilaksanakan setelah uji curing dengan umur 28 hari. tujuan dari pengujian kuat tekan pada sempel adalah untuk mengetahui kuat tekan yang dihasilkan dari penambahan batu karang substitusi agreat halus pada paving block,untuk penambahan batu karang dengan prosentase 25% dari agregat halus normal. perbandingan hasil dari penambahan batu karang tersebut menggunakan perbandingan dengan paving block normalyang memiliki mutu k-225 atau 18,675 mpa. gambar 6. pengujian kuat tekan dilihat dari uji kuat tekan pada sempel yang berumur 28 hari mengalami peningkatan kuat tekan dan mengkasilkan kuat tekan sebesar 22,1 mpa, 20,3 mpa, 19,9 mpa pada sempel hal 44 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 penambahan batu karang sebagai subtitusi agregat halus. dilihat dari hasil nilai kuat tekan tersebut maka di dapat nilai rata-rata sebesar 21,8 mpa. 4. kesimpulan dan saran kesimpulan berdasarkan penelitian tentang pengaruh penambahan batu karang sebagai substitusi agreagat halus dalam pembuatan paving block yang telah dilakukan dan hasil analisa data yangtelah didapatkan bahwa hasil pengujian kuat tekan dengan prosentase 25% dari agregat halus normal mengalami peningkatan nilai kuat tekan yang dihasilkan sebesar 22,1 mpa, 20,3 mpa, 19,9 mpadanmendapat niilai rata-rata sebesar 21,8 mpa. saran berdasarkan hasil kesimpulan diatas, maka penulis memberikan saran yang sekiranya dapat dipertimbangkan, yaitu : 1. perlunya pemanfaatan dari limbah pecahan batu karang atau batu karang yang sudah mati tidak di tumbuhi makhluk laut yang berada di pesisir pantai untuk digunakan sebagai campuran paving block. hal ini bertujuan agar batu karang tersebut memiliki nilai jual dan dapat di manfaatkan sebagai sumber mata pencaharian warga pesisir pantai. 2. perlu dilakukannya penelitian lebih lanjut guna memperoleh hasil yang maksimal terhadap pemakaian limbah pecahan batu karang sebagai agregat subtitusi. 3. untuk penelitian selanjutnya yang terkait dengan pemanfaatan limbah pecahan batu karang, agar menghitung rencana anggaran biaya (rab)agar mendapat hasil yang lebih baik dengan kegunaan seperti paving pada jalan perumahan dan area taman. daftar pustaka [1] antono, a, 1995, bahan konstruksi teknik sipil, universitas atma jaya, yogyakarta. [2] antono, a, 1995, teknologi beton. universitas atma jaya, yogyakarta. [3] dimitrioglou, n, 2015. “production and characterization of concrete paving blocks containing ferronickel slag as a substitute for aggregates.” waste and biomass valorization. springer netherlands. [4] departemen pekerjaan umum, 2002, tata cara perhitungan struktur betonuntuk bangunan gedung dengan standar sk sni 032487-2002, badanstandarisasi nasional. [5] departemen pekerjaan umum, 2008, cara uji berat isi beton ringan hal 45 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 struktural sni 3402-2008, badan standarisasi nasional [6] departemen pekerjaan umum, 2013, tata cara perhitungan struktur betonuntuk bangunan gedung dengan standar sk sni 03-2487-2013, badanstandarisasi nasional [7] jis a 1148, 2010, method of test for resistance of concrete to freeze andthawing, japan concrete institute. [8] https://sanpaving.wordpress.com/paving-block-atau-conblock-pengertian-jenis dan klarifikasi. [9] hunggurami, e. (2017) „perbandingan desain campuran beton normal menggunakan sni 03-2834-2000 dan sni 7656 : 2012‟, vi(2), pp. 165–172. [10] murdock, l. j., dkk 1986, bahan dan praktek beton, erlangga, jakarta. [11] sni 03-0691-1996. 1996. bata beton. jakarta: badan standarisasi nasional. [12] tjokrodimulyo, kardiyono, 1992, teknologi beton, buku ajar jurusan teknik sipil fakultas teknik ugm, yogyakarta. [13] tjokrodimuljo, k. 1996. teknologi beton. yogyakarta : andi. [14] bintang, a. p., setyanto, s., & adha, i. (2016). studi pengaruh penambahan bahan additive tx-300 terhadap kuat tekan batu bata pasca pembakaran. jurnal rekayasa sipil dan desain, 3(3), 381-390. [15] sni 2493:2011, tata cara pembuatan dan perawatan benda uji di laboraturium hal 46 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 studi evaluasi pekerjaan struktur box culvert pada proyek pembangunan jembatan kucing ruas sukodadi – sumberwudi kabupaten lamongan hammam rofiqi agustapraja 1; dwi kartikasari 2 1 program studi teknik sipil universitas islam lamongan 2 program studi teknik sipil universitas islam lamongan email : hammamrofiqpsts@unisla.ac.id abstrak jembatan merupakan suatu struktur yang berfungsi untuk menghubungkan dua bagian jalan yang terpurus oleh adanya rintangan-rintangan seperti lembah yang dalam, alur sungai, irigasi, dan pembuangan. kualitas bangunan jembatan juga dipengaruhi oleh kecermatan dan ketetapan dalam memilih material yang sesuai.untuk mengurangi kesalahan yang terjadi, dalam mencapai pekerjaan yang efisien dalam waktu, tenaga, maupun biaya diperlukan evaluasi pelaksanaan pekerjaan box culvert pada proyek jembatan kucing ruas sukodadi-sumberwudi kabupaten lamongan.dalam penelitian ini menggunakan metode survei kegiatan dan penjadwalan ulang pada proyek pembangunan jembatan kucing ruas sukodadi sumberwudi.evaluasi pekerjaan meliputi perhitungan volume, perhitungan pembesian dan metode pelaksanaan pekerjaan.urutan pekerjaan dimulai dari pekerjaan persiapan, pekerjaan tanah, pekerjaan struktur box culvert.dari penelitian tersebut diketahui biaya pekerjaan struktur box culvert sebesar rp.345.536.000,00 (tiga ratus empat puluh lima juta lima ratus tiga puluh enam ribu rupiah).jangka waktu pelaksanaan selama 8 minggu. kata kunci : evaluasi pekerjaan,jembatan kucing, box culvert, metode pelaksanaan 1. pendahuluan bertambah tahun maka bertambah pula arus lalu lintas makin padat. jalan raya pada umumnya melintas sebuah sungai yang melintang sehingga diperlukan pembangunan jembatan yang berfungsi sebagai penghubung jalan yang terpisah oleh sungai.jembatan adalah suatu struktur yang berfungsi untuk menghubungkan dua bagian jalan yang terpurus oleh adanya rintangan-rintangan seperti lembah yang dalam, alur sungai, irigasi, dan pembuangan. dalam proses pembangunan suatu bangunan ada beberapa tahapan yang harus dilaksanakan serta melibatkan berbagai pihak dengan kewajiban yang menjadi tanggung jawab mereka masing-masing, hingga bangunan tersebut siap untuk digunakan. mahasiswa juga dipersiapkan untuk dapat berfikir secara kritis dan memiliki daya tanggap yang lebih baik dalam mengikuti segala perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi guna memahami dan dapat menyelesaiakan segala permasalahan yang terjadi dilungkungan. (m.syahrul: 2010). pelaksanaan pekerjaan konstruksi sangat menarik untuk diamati karena sedikit banyak mencipyakan penampakan visual nilai arsitektur dari satu bangunan terutama dari penyelesaian detail, baik detail struktual maupun detail arsitektur. kualitas bangunan jembatan juga dipengaruhi oleh kecermatan dan ketetapan dalam memilih material yang sesuai, ekonomis, dan efisisen. tingkat kerumitan dalam pekerjaan konstruksi menurut waktupun bisa lebih lama hal 45 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 dibandingkan dengan pelak dengan perencanaan, dituntut kostruksi, eksestika serta kua dan memperbaiki apabila tenaga, maupun biaya, sela terjadi dalam pembangunan lamongan“.tujuan penelitia struktur box culvert pada pro metode penelitian in pada proyek pembangunan perhitungan volume dan k persiapanterdiri dari uitzet jembatan darurat mobilisasi dan pasir,urugan deltu.pekerjaan be (box culvert),pekerjaan beton pembesian untuk goronggoron plat injak,pasangan bekisting/ ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 aksanaan pekerjaan jasa jasa lainya untuk mencapai tut pelaksanaan pekerjaan yang benar-benar teliti ualitas yang tercipta. dengan meminiminal kesala apabila terjadi, untuk mencapai pekerjaan yang efisien ain itu, efisiensi dimaksudkan untuk mence unan “jembatan kucing ruas sukodadi-sumbe an ini adalah untuk mengetahui evaluasi pelak proyek pembangunan jembatan kucing ruas sukodadi 2. metode penelitian ni dilakukan dengan cara survei kegiatan dan pe unan jembatan kucing ruas sukodadi sumbe kebutuhan besi, mulai dari pekerjaan persia dan pengukuran, pembongkaran jembatan l asi dan demolisasi alat,pekerjaan tanah ,galian tanah, uru an beton terdiri dari pasang lantai kerja,pekerjaan ton struktur (sayap), pekerjaan beton struktur (plat i orong,pekerjaan pembesian untuk sayap,pekerjaan pe / acuan beton. gambar 1. diagram alur penelitian p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 encapai hasil sesuai i dari segi struktur, ahan yang trerjadi isien dalam waktu, encega kerugian yang berwudi kabupaten ksanaan pekerjaan dadi – sumberwudi. penjadwalan ulang berwudi.dilakukan rsiapan, pekerjaan an lama,pembuatan n tanah, urugan erjaan beton struktur plat injak),pekerjaan erjaan pembesian untuk hal 46 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 lebar lalu lintas = 2 x 3,00 = 6,00 m lebar trotoar = 2 x 1 = 2,00 m lebar total = 8,00 = 8,00 m tebal panjang lebar volume 0,1 cm 7,14 m 7,4 m 5,28 m³ 3. hasil dan pembahasan pada pekerjaan jembatan kucing ruas sukodadi – sumberwudi ini ada beberapa pekerjaan yang dilakukan, berikut ini ruang lingkup pekerjaan yang dikerjakan : dimensi bentang jembatan a – b = 7,14 m konstruksi tipe jembatan = jembatan box culvert lantai bawah = beton k 250 tebal 32 cm lantai atas = beton k 250 tebal 32 cm dinding jembatan = beton k 250 tebal 32 cm strauss = beton k 225 diameter 20 cm berikut ini pekerjaan yang ada dalam pekerjaan struktur jembatan kucing ruas sukodadi – sumberwudi : a. pekerjaan tanah terdiri dari : pekerjaan galian staruss pile beton = k 225 bentang = 7,14 m lebar = 7,40 m jumlah titik strauss = 25 titik jumlah besi setiap titik = 5 bh diameter = 20 cm kedalaman = 4,0 m perhitungan volume : volume= phi x r2 x tinggi = 3,14 x 20 x 4 = 2,5 m³ x 25 = 62 m³ pekerjaan urugan pasir volume diperoleh dari : v = p x l x t = 7,14 x 7,40 x o,10 = 5,28 m³ metode pelaksanaan adalah dengan mengebor tanah berdiameter sesuai perhitungan struktur hal 47 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 panjang lebar tinggi volume 1,50 m 7,40 m 3,50 38 m³ panjang lebar tebal volume 7,14 m 7,4 m 0,05 m 2,64 m³ diameter pondasi.setelah itu menggunakan bekesting dari pipa pvc yang dicor sambil diangkat bekestingnya.bekesting digunakan pada tanah yang lembek dan berair. jika tanah keras dan tidak berair, pondasi dapat dicor tanpa menggunakan bekesting yang terbuat dari pvc. pekerjaan urugan deltu volume diperoleh dari : v = p x l x t = 1,50 x 7,40 x 3,50 = 38 m³ metode pelaksanaanya adalah dengan pembersihan lahan, leveling lahan pengurukan. b. pekerjaan beton terdiri dari : pekerjaan rabat beton atau lantai kerja volume diperoleh dari : v = p x l x t = 7,14 x 7,40 x 0,05 = 2,64 m³ pekerjaan beton pondasi strauss pile beton = k 225 bentang = 7,14 m lebar = 7,40 m jumlah titik strauss = 25 titik jumlah besi setiap titik= 5 bh diameter = 20 cm kedalaman = 4,0 m perhitungan pembesian : p x jb = 4 x 5 = 20 m setiap titik = 3,14 x d x kedalaman / jarak = 3,14 x 0,20 x 4 / 0,15 = 15 m metode pelaksanaan strauss pile pada proyek pembangunan jembatan kucing ruas sukodadi – sumberwudi sebagai berikut : proses pengeboran dengan bor manual proses pemasukan besi yang suydah diram proses pengecoran dengan beton k -225 hal 48 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 proses pengeringan. pekerjaan beton struktur box culvert plat lantai bawah beton = k 250 bentang = 7,14 m lebar = 7,40 m tulangan = besi ulir d16 dan d13 panjang 1 batang besi utuh = 12 m tabel 1. data pembesian plat lantai bawah metode pelaksanaan pekerjaan plat lantai bawah pada proyek pekerjaan jembatan kucing sebagai berikut : pengkaitan besi plat bawah dengan besi strauss pile pengeraman plat dinding dengan plat lantai sebelum proses pengecoran proses pengecoran proses perataan pasta beton dan perojokan proses pengeringan plat dinding tinggi = 3 m tebal = 0,32 cm lebar = 3,09 m terdiri dari 2 gorong gorong, lebar total = 6,18 m sikon = 40 cm panjang = 7,40 m tulangan = besi ulir d16 x d13 bentang = 7,14 m panjang = 7,40 m hal 49 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 tabel 2. data pembesian plat dinding plat lantai atas beton = k 250 bentan = 7,14 m lebar = 7,40 m tulangan = besi ulir d16 x d13 panjang 1 batang besi utuh = 12 m tabel 3. data pembesian plat lantai atas metode pelaksanaan adalah pengkaitan dengan besi dinding, pemasangan bekesting, pemasangan perancah, proses pengecoran, perojokan perataan, pengeringan. pekerjaan beton sayap berikut ini data teknis pekerjaan beton sayap : beton : k250 panjang atas : 1,5 m panjang bawah : 0,50 m tebal : 0,25 m pembesian : hal 50 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 v = ( pa + pb ) x 0,05 x t x ts = ( 1,5 + 0,05 ) x 0,05 x 0,25 x 4 = 1,00 m³ keterangan : pa : panjang atas pb : panjang bawah t : tebal ts : total sayap metode pelaksanaan pekerjaan sayap pada jembatan kucing sebagai berikut : pemasangan bekesting plat sayap yang diberikan perancah sebagai penahan. pengecoran plat sayap yang diselingi dengan perojokan, hal ini bertujuan agar pasta beton menjadi padat, dan saat kering tidak ada pori –pori. proses pengeringan plat sayap pencopotan bekesting pekerjaan beton plat lantai injak : beton : k – 250 panjang : 1,5m lebar : 7,40 m tebal : 0,20 m perhitungan volume besi pada pekerjaan plat injak sebagai berikut : v = p x t x l = 1,5 x 0,20 x 7,40 = 4,44 m³ metode pelaksanaan pekerjaan plat lantai injak pada proyek pembangunan jembatan kucing sebagai berikut : pemasangan plastik sebagai penahan air semen pengeraman besi begel pada besi plat injak yang sudah menempel pada plat dinding pembekestingan samping plat injak proses pengercoran disertai perojokan proses perataan pasta beton proses pengeringan. jadwal pelaksanaan pekerjaan (kurva s) dalam menajemen proyek banyak dijumpai alat yang dipakai dalam evaluasi pelaksanaan proyek. keberhasin suatu proyek yakni mencapai tujuan akhir dilakukan dengan menyelaraskan tiga sasaran utama proyek yaitu : hal 51 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 1. biaya yang optimal 2. adanya batasan pemakaian sejumlah sumber daya manusia 3. adanya batasan nilai dalam proyek. tabel 4. jadwal pelaksanaan pekerjaan tabel 5. data rencanaanggaranbiaya data rencana anggaran biaya diperoleh dari pihak pelaksana proyek pembangunan jembatan kucing ruas sukodadi – sumberwudi kab. lamongan, data ini digunakan untuk mengetahui seberapa banyak biaya yang dikeluarkan dalam sebuah proyek. hal 52 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 4. kesimpulan proses evaluasi pelaksanaan proyek pembangunan jembatan kucing ruas sukodadi sumberwudi terdiri dari : a. pekerjaan persiapan uitzet dan pengukuran pembongkaran jembatan lama pembuatan jembatab darurat mobilisasi dan demolisasi alat b. pekerjaan box culvert a. pekerjaan tanah : galian tanah urugan pasir urugan deltu c. pekerjaan beton pasang lantai kerja pekerjaan beton struktur ( box culvert ) pekerjaan beton struktur ( sayap ) pekerjaan beton struktur ( plat injak ) pekerjaan pembesian untuk gorong – gorong pekerjaan pembesian untuk sayap pekerjaan pembesian untuk plat injak pasangan beton bekesting / acuan beton dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa biaya pekerjaan jembatan kucing ruas sukodadi – sumberwudi adalah 314.123.827,37 juta rupiah, dengan jangka waktu pelaksanaan pekerjaan selama 8 minggu. pekerjaan struktur box culvert jembatan kucing ruas sukodadi – sumberwudi kec. karanggeneng kab. lamongan dilaksanakan selama 35 hari. referensi [1] ahzan ilham nur, 2014 “evaluasi rencana manajemen mutu pada proyek pembangunan jembatan sungai semanggi” jurusan teknik sipil universitas hasanuddin makassar. [2] arikunto, (2010) “ prosedur penelitian suatu pendekatan praktik “ rineka cipta jakarta [3] arikunto. 2010. “metode penelitian suatu pendekatan praktek”. rineka cipta, jakarta. [4] badan standart nasional,2008 “ spesifikasi pilar dan kepala jembatan beton sederhana bentang 5m sampai dengan 25 m ‘’ [5] bidang sumber daya air,1993 “ pedoman penyusunan spesifikasi teknis pekerjaan hal 53 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 tanah “ [6] efrianto, wulfram i. 2005. manajemen proyek konstruksi edisi revisi. yogyakarta: penerbit andi. [7] muhadjir,(1996)“pedoman pelaksanaan penelitian tindakan kelas : analisis dan refleksi. “ ditjen dikti.jakarta [8] sugiono (2013) “ metode penelitian’’alfabeta bandung [9] tirmidzi, iqbal ahmad (2016) “ laporan praktek kerja nyata proyek pembangunan jembatan kucing ruas sukodadi – sumberwudi “ universitas islam lamongan [10] william n dunn (2000),“pengantar analisis kebijakan publik” universitas gajah mada yogyakarta [11] dikutip pada 29 januari 2017“https://jaewangi.wordpress.com/2016/03/28/ 10-jenismaterial-bahanbangunan-danpengertiannya/” [12] dikutip pada 29 januari 2017http://www.ilmulabtekniksipil.id/2016/04 /memahami-mutubeton-kkgcm-danmutu.html [13] dikutip pada 29 januari 2017 http://arafuru.com/sipil/pengertiantentangkonstruksipelat-lantaibeton.html [14] dikutip pada 30 januari 2017 https://id.wikipedia.org/wiki/beton [15] dikutip pada 30 januari 2017edefinisi.com/tag/pengertian-tripleks [16] dikutip pada 30 januari 2017 bestananda.blogspot.com/.. /pengertian-danfungsi-besibeton.html [17] dikutip pada 31 januari 2017(www.pengertianmenurutparaahli.n et/pe ngertian-kawat/) hal 54 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 analisa kinerja ka komuter surabaya – lamongan performance analysis ka commuter surabaya lamongan sugeng dwi hartantyo 1; hammam rofiqi agustapraja 2 1,2 fakultas teknik universitas islam lamongan email : sugengdhpsts@unisla.ac.id ; hammamrofiq@unisla.ac.id abstract commuter rail operation is prioritized for the middle to lower classes. but in fact the prospective commuter train passengers complained of comfort in this regard relating to the number of seats and standing places available. the discussion was analyzing the comfort per seat and standing that had been set, analyzing the operational capacity of the surabaya lamongan commuter railway. to be able to answer these problems, a study was carried out on commuter trains and related agencies. from the analysis results obtained the value of comfort of the seat (r) = 0.4 m2 / space and the value of comfort of the stand (σ) = 0.87m2 / space. the total capacity of one series of commuter trains (cv) is 312 passengers, while the total seating capacity for a series of commuter trains is 248 passengers. average load factor (lf) of 0.51. keywords: commuter trains, performance, capacity, comfort level abstrak pengoperasian ka komuter diutamakan bagi masyarakat kalangan menengah kebawah. namun pada faktanya para calon penumpang kereta api komuter mengeluhkan kenyamanan dalam hal ini yang berkaitan dengan jumlah tempat duduk dan tempat berdiri yang tersedia.pembahasan ini adalah menganalisa kenyamanan per tempat duduk dan berdiri yang telah ditetapkan, menganalisa kapasitas kendaraan operasional ka komuter surabaya – lamongan, untuk dapat menjawab permasalahan tersebut maka dilakukan penelitian terhadap ka komuter dan instansi terkait. dari hasil analisa didapatkan nilai kenyamanan tempat duduk (r) = 0,4 m2/space dan nilai kenyamanan tempat berdiri (σ) = 0,87m2/space. kapasitas total satu rangkaian ka komuter (cv) sebesar 312 penumpang, sedangkan kapasitas total tempat duduk untuk satu rangkaian ka komuter sebesar 248 penumpang. rata-rata load factor (lf) sebesar 0,51. kata kunci : kereta komuter, kinerja, kapasitas, tingkat kenyamanan 1. pendahuluan semakin pesatnya pertumbuhan mulai dari kota lamongan sampai surabaya mengakibatkan tingginya perpindahan penduduk orang maupun barang diantara kota tersebut. jadi masyarakat diantara kota meningkatkan efisiensi dan efiktifitas kegiatan dengan adanya kereta api komuter diharapkan dapat memenuhi kebuthan dan tuntutan tersebut. untuk saat ini hanya 1 kereta komuter yang melayani rute surabaya – lamongan(sulam) 1 rangkaian kereta komuter terdiri dari 4 gerbong dengan kapasitas 1 gerbong menampung sekitar 78 penumpang, 62 tempat duduk dan 16 tempat berdiri (hasil wawancara dengan petugas pt. kai daop viii). jenis kereta api yang dioprasikan sebagai ka komuter ini adalah tipe kereta rel diesel elektrik (krd-e) dengan kecepatan rata-rata 70km/jam. yang dioprasikan pada tahun 2004 oleh hal 125 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 pt. kereta api indonesia persero (daop viii surabaya). pada kenyatannya yang telah terjadi di lapangan kereta api komuter surabaya – lamongan saat melakukan aktifitasnya sering dijumpai permasalahan yaitu tingkat kenyamanan tempat duduk dan tempat berdiri tak sebanding dengan kapasitas kendaraan yang merugikan masyarakat pengguna fasilitas kereta apai komuter. pada dasarnya masyarakat mengharapkan kereta api komuter memadahi dan diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan para penggunanya dan kapasitasnya, tingkat kenyamanan harus juga diperhatikan. saat ini sebagian besar pengguna kereta api komuter masih mengalami beberapa aspek negative yaitu seringnya terjadinya tiket habis padahal keberangkatan kereta masih lama dan kapasitas kereta kurang memadai sehingga mengakibatkan kenyamanan berkurang akibat berdesakan antara penumpang. jadi dengan studi ini diharapkan agar para calon penumpang dapat memperoleh tingkat kenyamanan yang memadai dari kereta api komuter. tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kenyamanan tempat duduk dan tempat berdiri. dan mengetahui load factor kereta api komuter. 2 metode penelitian penelitian dan pengumpulan data-data penelitian pengumpulan data-data penumpang yang menggunakan kereta api komuter surabaya-lamongan dan mengetahui kapasitas angkut gerbong kereta api komuter. lokasi penelitian berlokassi dari stasiun lamongan sampai stasiun surabaya – pasar turu. gambar 1: peta jawa timur data primer adalah data yang diperoleh dari tiga cara yaitu dengan observasi wawancara dan dokumentasi a. observasi hal 126 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 data ini didapat dengan cara pengamatan penumpang pada tiap stasiun sepanjang jalur ka komuter yaitu antara surabayalamongan, dengan hasil observasi banyak penumpang berdesakan pada hari tertentu. teknik pengambilan data analisa kinerja ka komuter dilakukan dengan studi lapangan survey lokasi penelitian yaitu di stasiun ka lamongan. adapun teknik pengambilan data yang dilakukan sebagai berikut. b. wawancara wawancara dilakukan kepada petugas ks (kepala stasiun) guna mendapatkan informasi tentang penumpang ka setiap harinya ratarata tiap bulan dan lonjakan penumpang pada haari tertentu. c. dokumentasi dokumentasi dilakukan untuk mendukung validasi penelitian analisa kinerja ka komuter lamongan. data skunder didapatkan dengan cara mengkutip (meng-copy) data yang dimiliki oleh pt. kereta api (persero) daop viii, stasiun gubeng surabaya dan stasiun-stasiun sepanjang rute ka komuter surabayalamongan dan wawancara dengan pegawai yang terkait dengan data yang diperlukan, baik itu data jadwal perjalanan kerata api dan volume penumpang. data volume penumpang berdasarkan data yang didapatkan dari pt. kereta api (persero) daop viii berupadari stasiunstasiun sepanjang rute ka komuter surabayalamongan didapatkan data penjualan tiket selama bulan oktober 2016 hingga bulan mei 2017, maka dapat diketahui volume rata-rata penumpang harian dari surabaya-lamongan maupun dari arah lamongan-surabaya. dari data tersebut maka dapat diketahui hasil dari load factor (lf) dengan cara terlebih dahulu dicari kapasitas angkut dari suatu rangkain kereta api komuter, yang 1 rangkaian kereta terdiri dari 4 (empat) gerbong. 3 analisa dan pembahasan analisa dan pembahasan adapun yang dianalisa dan dibahas ini adalah parameter kenyamanan tempat duduk, tempat berdiri dan load factor, kapasitas ka komuter. tabel 1. jadwal perjalanan ka api komuter hal 127 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 sumber : pt. kereta api indonesia (persero) daop viii stasiun gubeng surabaya kenyamanan per tempat duduk dan tempat berdiri. untuk mengetahui kapasitas total (cv) dari ka komuter harus diketahui terlebih dahulu berapa jumlah space tempat duduk (m) dan jumlah space tempat berdiri (m’). parameter yang digunakan dalam penentuan diperlukan operasi pelayanan atau tidak yaitu dengan uji perhitungan kapasitas kendaraan serta standar kenyamanan. parameter yang ditinjau adalah: kapasitas kendaraan yang meliputi: seating capacity (m) berdasar pada jumlah tempat duduk yang tersedia. dimana total capacity dan seating capacity ini dipengaruhi oleh factor : a. vehicle dimensions, yang terdiri dari panjang, lebar dan banyak lantai atau yang disebut dengan gross vehicle area. b. luas bersih lantai kendaraan (an), dimana yang tidak ikut dihitung c. adalah tebal dinding kendaraan dan area yang tidak dipakai (missal : kabin dan tempat mesin). (vukan r. vuchic). dengan rumus: an  mρ  m' σ dimana : m=jumlah tempat duduk (space/vehicle) m’= jumlah tempat berdiri (space/ vehicle) ρ= luas ruang untuk satu tempat duduk (m2 /space) σ= luas ruang untuk satu tempat berdiri (m2 /space) an  mρ  m' σ an  ( 62 x 0,25)  (16 x 0,09) hal 128 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 an  15,5  1,44  17 m2 jadi hasil an adalah 17 m2 a. total capacity (cv) yang terdiri dari jumlah tempat duduk dan space berdiri (vukan r. vuchic). dengan rumus: an m  cv  m  σ 17 15,5 cv  62  0,09 cv  62  16,7  78 jadi jumlah kapasitas kendaraan adalah 78 penumpang analisa kapasitas kendaraan (cv) dan koefisien kapasitas kendaraan/ load factor (lf). analisa kapasitas kendaraan (cv) untuk mengetahui kapasitas kendaraan perlu diketahui terlebih dahulu jumlah tempat duduk dan berdiri. dari perhitungan diketahui nilai cv sebesar 78 sehingga kapasitas total (cv) untuk 1 (satu) rangkaian ka komuter (4 unit kereta) cv = cv1 x 4 = 78 penumpang x 4 = 312 penumpang analisa load factor (lf) ka komuter pada analisa ini akan di jelaskan mengenai karakteristik load faktor (lf) yang ada dan berapa besar nilai load faktor (lf) tersebut. dalam menghitung load faktor pada tiap ka komuter per bulan, ada beberapa yang diikuti : a. diketahui terlebih dahulu tentang volume penumpang total per bulan untuk masing masing arah dengan menjumlah 2 nomor seri kereta. volume total pada bulan oktober adalah 8794 penumpang untuk arah surabaya pasar turi menuju lamongan. sudah memenuhi standar yaitu 0,3-0,55 b.menghitung rata-rata data volume penumpang per hari dengan cara membagi volume penumpang per bulan untuk per arah dengan jumlah hari dalam bulan tersebut. misal pada tabel 4 untuk arah surabaya pasar turi menuju lamongan, volume total pada bulan oktober tersebut adalah 8794 penumpang. dan di bulan oktober ada 31 hal 129 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hari. jadi dapat dihitung dengan cara : volume rata rata/hari 8794 31 volume rata rata/hari  283,67  284 penumpang setelah itu dengan membagi antara volume penumpang per hari untuk masing-masing arah dengan kapasitas ka komuter yang telah diperhitungkan diatas, maka akan didapatkan load faktor (lf). misal pada tabel 4.3 diketahui untuk arah surabaya pasar turi menuju lamongan pada bulan januari adalah 8794 penumpang dan dari perhitungan di atas diketahui volume ratarata/ hari = 284. dari hasil tersebut, maka dapat dicari load factor (lf) rata-rata per arah ka komuter dengan rumus : jumlah penumpang lf  kapasitas angkut lf  0,46 untuk perhitungan bulan-bulan yang lain sama. disajikan pada tabel 3 dan 3 berikut adalah load factor (lf) dari masing-masing arah dari bulan oktober 2016 sampai mei 2017 tabel 3 lf arah surabaya pasar turi menuju lamongan. dari tabel 3 diketahui load factor (lf) tertinggi arah surabaya pasar turi menuju lamongan pada bulan desember 2016 sebesar 0,58. rata-rata load factor arah surabaya pasar hal 130 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 turi menuju lamongan pada bulan oktober 2016 sampai mei 2017 sebesar 0,48. hal 131 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 tabel 4 lfarah lamongan menuju surabaya pasar turi dari tabel 4 diketahui load factor (lf) tertinggi arah lamongan menuju surabaya pasar turi pada bulan desember 2016 sebesar 0,65 rata-rata load factor arah lamongan menuju surabaya pasar turi pada bulan oktober 2016 samapai mei 2017 sebesar 0,55 gambar 7 dimensi gerbong kereta api komuter hal 132 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 tabel 5 load factor rata-rata gambar 6 grafik load factorrata-rata kedua arah dari grafik diatas (gambar 6 ) diketahui nilai load factor rata-rata kedua arah terendah pada bulan november 2016, sedangkan load factor rata-rata kedua arah tertinggi pada bulan desember 2016. 4. kesimpulan 1. dari hasil pengumpulan data skunder didapatkan dimensi gerbong ka komuter, sehingga diketahui standar kenyamanan tempat duduk r = 0,4 m2/space dan standar kenyamanan tempat berdiri σ = 0,87 m2/space. 2. dari jumlah tempat duduk dan berdiri yang didapatkan dari hasil wawancara dan pengamatan langsung didapatkan kapasitas total satu unit ka komuter (cv’) sebesar hal 133 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 78 penumpang per gerbong. karena satu rangkaian terdiri empat gerbong, maka kapasitas total satu rangkaian ka komuter (cv) sebesar 312 penumpang. selama bulan oktober 2016 hingga mei 2017 didapatkan load faktor(lf) rata-rata ka komuter surabayalamongan untuk kedua arah yaitu sebesar 0,51 daftar pustaka [1] anonim ,2003, survei awal kereta api komuter surabaya-sidoarjosurabaya: cv. asta kencana. [2] anonim ,1995, urban mass transportation planning. mc.graw-hill international edition. [3] anonim ,1985, jurnal of transportation engineering. vol : iii no. 2 [4] mulyono, agus taufik ,2012, analisa kualitas pelayanan dan perjalanan kereta api baraya geulis universitas katolik soegijapranata semarang [5] bayu, wahju ,2014, analisis kinerja operasional kereta api sriwedari ekspress jurusan solo – yogya jurnal teknik pomits rachman, rendy prasetya dan wahju [6] herijanto, ,2013, studi demand kereta api komuter lawangkepanjen jurnal teknik pomits [7] kirana, dkk, ,2012, kinerja stasiun kereta api studi kasus stasiun kediri dan mojokerto jurusan sipil fakultas teknik universitas brawijaya malang [8] setiawan rudy, st., mt. ,2005, analisa tingkat kepuasan pengguna kereta api komuter surabaya– sidoarjo simposium viii fstpt, universitas sriwiajaya [9] umar, h. ,2003, riset pemasaran dan perilaku konsumen. jkt: gramedia& jbrc. [10] vuchic, vukan r.,urban public transportation system and technology. university of pensylvania. www.ptkeretaapiindonesiapersero.co.id [11] hudi, t. a., sumarsono, a., & mahmudah, a. m. (2017). analisis kepentingan dan kinerja pelayanan kereta api komuter (studi kasus prambanan ekspress ii). matriks teknik sipil, 5(1). [12] arisandi, y. (2010). karakteristik penumpang kereta api komuter lintas surabayasidoarjo. warta penelitian perhubungan, 22(11), 1114-1130. [13] arianto, s. b. (2010). kajian kereta api komuter surabaya-sidoarjo (susi) sebagai angkutan umum massal di surabaya. warta penelitian perhubungan, 22(8), 798807. [14] rachman, r. p., & herijanto, w. (2013). studi demand kereta api komuter lawangkepanjen. jurnal teknik its, 2(2), e47-e52. [15] hidayati, n., & suwadi, s. (2017). analisis kinerja tcp/ip untuk jaringan nirkabel bergerak 3g di surabaya. jurnal teknik its, 5(2). hal 134 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 perencanaan sistem drainase dan trotoar (study kasus : lingkungan kelurahan banjaran kota kediri) 1romadhon, 2moch zaenuri, 3herlan pratikno 1,2,3fakultas teknik universitas kadiri e-mail : romadhon@unik-kediri.ac.id, zaeunuri_arifin@unik-kediri.ac.id, herlan_pratikto@unik-kediri.ac.id abstract the data used to plan the drainage is a complete situation map with the topography used to plan the flow direction. furthermore, rainfall data from three stations for 20 years were then tested for consistency, homogeneity test. furthermore, the discharge is calculated based on the average rain height with the rational method q = 0.2778 x c x i x a. then cumulative discharge (rainwater discharge + citizen wastewater discharge) is planned for the drainage channel. from the cumulative discharge, the channel dimensions are calculated using manning's formulation. from the situation map and topographic data obtained the type of channel size and after calculated with the manning formula obtained square dimensions, namely: b = 0.80 m and h = 0.10 m. in addition, a guard height of 0.70 m was also obtained, then from that dimension the cost budget plan (rab) was calculated as rp. 2,929,983,000.00 after the survey and planned, the sidewalk design uses 1.10 m width width and 0.20 m sidewalk height. using cover material u-ditch cover coated with 20x40 andhesite stone, 30x30 disabled tegel line for pedestrians with disabilities, brush / ampyang stones for 70x70 manhole iron binder. keywords: drainage system, water discharge, calculation method abstract data yang digunakan untuk merencanakan drainase ini adalah peta situasi lengkap dengan topografinya yang digunakan untuk merencanakan arah aliran. selanjutnya data curah hujan dari tiga stasiun selama 20 tahun yang kemudian diuji konsistensi, uji homogenitas. selanjutnya dihitung debit berdasarkan tinggi hujan rata-rata dengan metode rasional q = 0,2778 x c x i x a.kemudian dihitung debit komulatif (debit air hujan + debit air limbah warga) untuk rencana saluran drainase. dari debit komulatif kemudian dihitung dimensi salurannya dengan formulas manning. dari data peta situasi dan topografi didapatkan tipe ukuran saluran dan setelah dihitung dengan formula manning didapat dimensi persegi, yaitu : b = 0.80 m dan h = 0,10 m. selain itu juga didapatkan tinggi jagaan 0.70 m, kemudian dari dimensi tersebut dihitung rencana anggaran biaya (rab) sebesar rp. 2.929.983.000,00 setelah survey dan direncana, desain trotoar menggunakan lebar dimensi 1.10 m dan tinggi trotoar 0.20 m. menggunakan bahan penutup cover u-ditch dilapisi batu andhesit 20x40, tegel line difabel 30x30 untuk pejalan kaki disabilitas, batu sikat / ampyang untuk pengikat manhole iron 70x70. kata kunci : sistem drainase, debit air, metode perhitungan hal 66 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 1. pendahuluan 1.1 latar belakang kelurahan banjaran adalah sebuah kelurahan di kecamatan kota yang berada di tengah kota kediri. kota kediri memiliki luas 63,40 km² terbelah oleh sungai brantas yang membujur dari selatan ke utara sepanjang 7 kilometer.secara administratif, kelurahan banjaran di kelilingi beberapa kecamatan yaitu sebelah barat kecamatan mojoroto, sebelah timur kecamatan pesantren, sebelah utara kecamatan ngasem. sejalan dengan meningkatnya laju pertambahan penduduk di kelurahan banjaran yang cukup tinggi, menyebabkan buangan air limbah tidak terpakai semakin besar pula. pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan saluran drainase yang memadai menimbulkan permasalahan drainase di kelurahan banjaran. kelurahan banjaran terindikasi bila intensitas curah hujan tinggi, saluran drainase exsisting tidak mampu menguras/membuangan kelebihan air yang tidak diinginkan, sehingga menimbulkan bajir tahunan dan bau limbah yang menyengat dikarnakan trotoar yang rusak. oleh sebab itu perlu dilakukan perencanaan saluran drainase dan trotoar yang memenuhi kebutuhan dari debit air yang akan lewat saluran di lokasi kelurahan banjaran kota kediri. dengan adanya perencanaan sistem saluran drainase dan trotoar yang baik, ekonomis dan sesuai kebutuhan pada wilayah kelurahan banjaran kecamatan kota, maka diharapkan aliran air hujan dan air limbah yang akan masuk saluran dapat mengalir dengan lancar dalam ruang atau dimensi dari saluran drainase yang dibangun berdasarkan data-data perhitungan yang telah didapatkan. 1.2 rumusan masalah pada perencanakan sistem drainase permukiman kelurahan banjaran. adapun permasalahan dalam perencanaan saluran drainase ini adalah : 1. berapa tinggi debit hujan yang menjadi debit banjir? 2. berapa debit limbah dari rumah tangga yang harus ditampung saluran drainase? 3. bagaimana dimensi saluran drainase? 4. berapa rencana anggaran biaya (rab) pembangunannya? 5. bagaimana desain trotoar penutup saluran drainase? 2. metode penelitian 2.1 curah hujan rancangan hal 67 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 curah hujan rancangan adalah analisis berulangnya suatu peristiwa baik frekuensi persatuan waktu maupun kala ulangnya. cara yang digunakan dalam menentukan curah hujan rancangan ini adalah : 2.2 metode gumbel menurut gumbel (1941), persoalan yang berhubungan dengan harga-harga ekstrim adalah datang dari masalah banjir. tujuan dariteori statistik harga rata-rata ekstrim adalah untuk menganalisa hasil pengamatan harga-harga ekstrim tersebut untuk meramal harga ekstrim berikutnya. untuk menghitung debit air hujan dalam mendimensi saluran drainase digunkan metode rasional. dalam daerah perkotaan yang kecil, kehilangan air boleh dikatakan sedikit dan disebabkan waktu konsentrasi yang pendek, maka debit keseimbangan seringkali dicapai. dari alasan inilah rumus rasional masih digunakan untuk menaksir banjir dalam daerah perkotaan. (imam subarkah, 2000:48) debit air kotor adalah debit air yang berasal dari buangan aktivitas penduduk seperti mandi, cuci, dll., baik dari lingkungan rumah tangga, bangunan (fasilitas) umum atau instansi, bangunan komersial, dll. dari kebutuhan air tiap hari tersebut diasumsikan besarnya air yang dibuang adalah 80%. debit air kotor yang dibuang : 2.3 gambar rencana kerja sebelum kita melakukan / merencanakan pembangunan,seharusnya kita sedikit banyak mengetahui tentang gambar kerja (gambar bestek). kemudian baru ditentukan bahan yang apa dipakai dan macam pekerjaan serta peralatan yang digunakan. langkah menggambar kerja adalah pertama kali mengetahui kondisi lapangan desain yang cocok dan kemudian di gambar. 2.4 perhitungan rencana anggaran biaya rencana anggaran biaya atau sering disebut rab adalah perhitungan biaya bangunan berdasarkan gambar kerja dan spesifikasi pekerjaan konstruksi yang akan dibangun, sehingga dengan adanya rab dapat dijadikan acuan pelaksanaan pekerjaan nantinya. tujuan dari perhitungan anggaran biaya adalah untuk mengestimasi biaya serta untuk mengontrol baik dari segi kualitas maupun kuantitas. 2.5 tujuan penelitian tujuan dari penelitian ini adalah untuk merencanakan saluran drainase dan trotoar di kelurahan banjaran, agar aliran air hujan dan air limbah yang akan masuk saluran dapat mengalir dengan lancar dalam ruang atau dimensi dari saluran drainase yang dibangun berdasarkan data-data perhitungan yang telah didapatkan serta mendesain trotoar yang kondisi existing yang sudah rusak. agar tidak terjadi banjir tahunan dan masyarakat tidak mencium bau limbah saluran. hal 68 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 2.6 lokasi penelitian lokasi penelitian ini di lakukan di jl. slametriadi kelurahan banjaran kecamatan kota, kota kediri. (bab. 1 halaman 6) hal 69 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 2.7 teknik analisis data berikut ini merupakan tahapan-tahapan prosedur pelaksanaan perhitungan untuk merencanakan dan melengkapi data, yakni: 1. data curah hujan bulanan selama sepuluh tahun terakhir yang didapatkan dari tiga stasiun curah hujan milik pg. pesantren, upt kediri, mrican. 2. menghitung rata-rata curah hujan rancangan menggunakan metode gumbel. 3. menghitung debit banjir air hujan rencana (q) dengan rumus rasional mononobe. 4. setelah ketemu total debit air hujan + debit limbah tahap selanjutnya perhitungan rencana dimensi saluran dengan menggunakan rumus manning. 5. perencanaan gambar rencana saluran dan trotoar menggunakan aplikasi autocad. 6. perhitungan rencana anggaran biaya dengan dasar analisa dari dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (pupr). bagan alir perencanaan berikut ini adalah bagan alur pembahasan atau perencanaan hal 70 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hal 71 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 3. hasil dan pembahasan 3.1 hasil perhitungan hasil analisa dan dan pembahasan pada perencanaan sistem drainase dan trotoar(study kasus : lingkungan kelurahan banjaran kota kediri) disesuaikan dengan tata cara perhitungan metode gumbel dan manning. hasil perhitungan debit air hujan = 0.020 m3/detik = 20 liter/detik hasil perhitungan debit air kotor = 0,016 m3/detik = 16 liter/detik hasil debit kumulatif = 36 liter/detik atau 0,036 m3/detik 3.2 perhitungan dimensi saluran perhitungan dimensi saluran dipengaruhi oleh debit kumulatif yang mengalir pada saluran yang tidak boleh melebihi kecepatan ijin. penampang persegi perhitungan saluran 1-2 : panjang saluran (ld) = 640 m’ debit kumulatif = 0,036 m3/detik angka koefisien kekasaran manning = 0,014 jenis saluran mikro (lahan rumah, taman, kebun, kuburan, tak terbangun) kemiringan (s) = el awal –el akhir 12,5 – 10,90 0,0025 ld 640 luas tampang saluran : a = b . h h = 0,10 . b = 0,80 m a= 0,08 m2 keliling basah : p = b+2.h 0,80 + (2 . 0,10) = 1,00 m radius hidrolik : r = a/p = 0,08 / 1,00 = 0,08 formula manning : = . ⅔ . / = 1/0,014 . (0,08)2/3 . 0,00251/2 = 0,660 m3/detik q = v x a debit banjir hitungan (m3/detik) q = 0,660 . 0,08 q = 0,052 m3/detik dimensi yang dipakai : b = 0,80 m h = 0,10 m w= hal 72 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 0,70 m 4. kesimpulan dan saran 4.1 kesimpulan setelah melalui perhitungan mengenai perencanaan drainase kota pacitan, dapat disimpulkan bahwa : 1. debit air hujan sudah diperoleh sebesar 0,020 m3/detik atau 20 liter/detik. 2. debit air kotor yang masuk saluran sudah diperoleh sebesar 0,016 m3/detik, dan debit kumulatif yaitu : 0,036 m3/detik atau 36 liter/detik. 3. dari perhitungan didapatkan dimensi dengan menggunakan saluran berbentuk persegi, dimana tinggi penampang basah = 0,10 m dengan tinggi jagaan air sebesar 0,70 m dan lebar 0,8 m dengan panjang 640 m. dimensi saluran memang dibuat lebih lebar dan tinggi untuk mengantisipasi buangan sampah dan mengendapnya walet daritahun ke tahun oleh masyarakat agar saluran tidak tersumbat dan tetap bisa mengalir. 4. rencana anggaran biaya pembangunannya sebesar rp 2.929.983.000,00 5. dari gambar desain hasil perencanaan trotoar pada (bab. 4 hal. 55 ) di dapat dengan dimensi lebar trotoar 1.10 m dengan penutup cover u-ditch dilapisi batu andhesit 20x40, tegel line difabel 30x30 untuk pejalan kaki disabilitas, batu sikat / ampyang untuk pengikat manhole iron 70x70, dan tinggi trotoar 0.20 m. 4.2 saran 1. pada proses perencanaan dan perhitungan, usahakan asumsi-asumsi yang digunakan mendekati kenyataan di lapangan dan ada referensi dari sumber ilmu; 2. pada perencanaan saluran dibuat lurus rata-rata; 3. pada saat penggambaran harus benar-benar memperlihatkan skala, baik skala horisontal maupun vertikal; 4. pelaksanaan saluran drainase sebagai fasilitas umum harus didahulukan sebelum membangun rumah agar tidak terjadi banjir; 5. dalam pelaksanaan pekerjaan di lapangan, harus memperhatikan keselamatan kerja, kualitas dan kuantitas bahan (rab) maupun peralatan yang digunakan agar mendukung proses pekerjaan, sehingga didapat hasil kerja yang maksimal serta dapat menghemat biaya. daftar pustaka hal 73 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 [1] [bsn] badan standardisasi nasional. 1998 sni. 03-1724-1989: pedoman dan perencanaan hidrologi dan hidrolik untuk bangunan sungai [2] [bsn] badan standardisasi nasional 1994. sni. 03-3424-1994: tata cara perencanaan drainase permukaan jalan. [3] [bsn] badan standardisasi nasional 1991. sni. 03-2406-1991: tata cara perencanaan umum drainase perkotaan [4] anggrahini, ir., hidrolika saluran terbuka. citra media, surabaya : 2007. dinas pekerjaan umum dan penataan ruang. analisa harga satuan. kediri : 2018. [ 5 ] halim hasmar ha., ir., mt., drainase perkotaan. uii press, yogyakarta : 2004. [6] sni 03-3424-1994. tata cara perencanaan drainase permukaan jalan. [7] soemarto cd., ir., b.i.e.dipl. h., hidrologi teknik. usaha nasional, surabaya : 2007 sofyan m. noerbambang. perancangan & pemeliharaan sistem plumbing. [8] suripin, dr., ir., m.eng. sistem drainase perkotaan yang berkelanjutan. andi, yogyakarta : 2004 [9] santoso, e. b. (2008). studi perencanaan penataan kawasan alun-alun kota brebes. jurnal teknik sipil dan perencanaan, 10(2), 151-160. [10] santoso, e. b. (2008). studi perencanaan penataan kawasan alun-alun kota brebes. jurnal teknik sipil dan perencanaan, 10(2), 151-160. [11] sri, p. r. w., suripin, s., soebroto, s., muhrozi, m., & bagus, h. s. (2015, august). sistem drainase pada jalan pantura; permasalahan dan alternatif solusi. in seminar nasional teknik jalan ke-3 (vol. 3, pp. 8-1). hpji. hal 74 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 pengaruh penambahan abu serabut kelapa terhadap kuat tekan beton nur azizah affandy1 ,agus imam bukhori2, 1,2 fakultas teknik, universitas islam lamongan email: nurazizah@unisla.ac.id;agusbukhori45642@gmail.com, abstract concrete is a composite material (mixture) of several materials, whose main material consists of a mixture of cement, fine aggregates, coarse aggregates, water and or without other added ingredients coconut fibers are only used for broom materials, rugs, ropes and household appliances.therefore, the addition of burning concrete into coconut ash ash is tried.the method used was experimental carried out in the laboratory with the production of 12 test pieces with presentations of 0%, 0.25%, 0.5% and 0.75% at 7 days.laboratory test results on the addition of coconut fiber ash to the normal k 100 presentation were 16.505 mpa, coconut fiber ash mixture 0.25% reached 23.895 mpa, coconut fiber ash mixture 0.5% reached 23.656 mpa, the highest fiber ash mixture concrete 0.75% coconut can reach compressive strength of 23,688 mpa. keyword :ash, coconut fiber, compressive strength, concrete abstrak beton adalah bahan komposit (campuran) dari beberapa bahan, yang bahan utamanya terdiri dari campuran semen, agregat halus, agregat kasar, air dan atau tanpa bahan tambahan lainnya. serabut kelapa hanya digunakan untuk bahan sapu, permadani, tali dan peralatan rumah tangga. oleh karena itu, penambahan pembakaran beton ke abu abu kelapa dicoba. metode yang digunakan adalah eksperimental yang dilakukan di laboratorium dengan produksi 12 buah uji dengan presentasi 0%, 0,25%, 0,5% dan 0,75% pada 7 hari. hasil uji laboratorium pada penambahan abu serabut kelapa dengan presentasi k 100 normal adalah 16.505 mpa, campuran abu serabut kelapa 0,25% mencapai 23.895 mpa, campuran abu serabut kelapa 0,5% mencapai 23.656 mpa, beton campuran abu serat tertinggi 0,75% kelapa bisa mencapai kekuatan tekan 23.688 mpa. kata kunci: abu, serat kelapa, kekuatan tekan, beton 1. pendahuluan penggunaan beton sebagai bahan konstruksi diminati karena beton memiliki sifat-sifat yang menguntungkan, seperti ketahanannya terhadap api, awet, kuat tekan yang tinggi dan dalam pelaksanaannya mudah untuk dibentuk sesuai dengan bentuk yang dkehendaki (candra, gardjito, cahyo, & prasetyo, 2019). tetapi konstruksi beton juga mempunyai kelemahankelemahan, antara lain kemampuan menahan tarik yang rendah sehingga konstruksinya mudah retak jika mendapatkan tegangan tarik (candra, n.d.). seiring dengan perkembangan zaman, berbagai inovasi telah dilakukan untuk memperbaiki performa beton sehingga muculah istilah-istilah seperti beton bertulang (reinforced concrete), beton pratekan (prestressed concrete) dan beton serat (fiber concrete)(candra, n.d.) . pada penelitian ini bahan tambah yang digunakan adalah abu serabut kelapa. abu serabut kelapa berasal dari pengolahan limbah serabut kelapa yang dibakar yang kemudian menjadi abu. oleh karena itu, dilakukan penelitian untuk memanfaatkan limbah abu serabut kelapa menjadi bahan hal 150 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 yang bermanfaat, yaitu sebagai bahan tambah dalam campuran beton. melanjutkan penelitian yang dilakukan oleh. nora usrina, rahmi karolina, johannes tarigan alumni jurusan teknik sipil fakultas teknik universitas sumatera utara, dimana telah dilakukan pencampuran abu serabut kelapa pada campuran beton untuk menguji dan mengetahui pengaruh penambahan abu serabut kelapa terhadap kuat tekan pada silinder. indonesia ini merupakan negara penghasil serabut kelapa terbesar di dunia dan indonesia masih belum mengelolah serabut kelapa dengan maksimal. limbah padat khususnya serabut kelapa sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal dalam membuat bahan tambahan bangunan. serabut kelapa mempunyai potensi yang baik untuk dikembangkan sebagai bahan teknik dengan melakukan rekayasa material komposit. tujuan yang ingin dicapai dari kajian ini adalah: 1. untuk mengetahui kuat tekan beton jika ditambahkan abu serabut kelapa. 2. untuk mengetahui penambahan abu serabut kelapa dapat menaikan kuat tekan beton atau sebaliknya 2. metode penelitian penelitian ini dilakukan dilaboratorium teknik sipiluniversitas islam lamongan. menggunakan pengujian langsung di laboraturium dengan metode astm (american society for testing and material) untuk uji agregat. untuk campuran yang digunakan adalah abu serabut kelapa yang telah dijelaskan pada pendahuluan diatas. rencanapenelitian penelitian ini merupakan penelitian eksperimental di laboratorium. adapun item penelitian yang akan dilakukan terdiri dari penelitian terhadap bahan susun beton dan penelitian terhadap kuat tekan beton. gambar 4. flow chat hal 151 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 3. pembahasan untuk melancarkan penelitian ini peneliti melakukan kerja sama dengan tim di laboratorium teknik sipil fakultas teknik universitas islam lamongan, dari hasil penelitian yang telah dilakukan menghasilkan beberapa hasil yaitu: 3.1. pengujian semen a) konsistensi normal semen perland (astm c 187-86) diperoleh penurunan 10 mm sebesar 27,6 % konsentensi. menurut astm 187-89 kadar air dalam semen ketika terjadi penurunan 10 mm pada test konsentrasi normal dengan menggunakan alat vicat untuk mengetahui berapa air yang dibutuhkan agar semen mencapai kebasahan yang standart b) waktu pengikatan dan pengerasan semen (astm 119-92) pengikatan semen memerlukan waktu sebesar 225 menit hingga mengeras. c) berat jenis pasir (astm c 188-95) dari hasil pengujian beratjenis semen yang didapatkan yaitu sebesar 2,83. berdasarkan astm c 188 – 95 berat jenis semen porland mempunyai besaran antara 3,0 – 3,2, jadi hasil pengujian tidak sesui. 3.2. pengujian agregat halus a) test kondisi analisa ayakan pasir (astm c 136-84a) hal 152 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 didapatkan hasil sebesar 3,19. modulus halus butir (mhb), syarat modulus halus butiran untuk beton menurut astm yaitu 2,20% 3,10% mhb 2,5 s/d 3,0. jadi hasil tidak memenuhi yang diinginkan. b) kelembaban pasir (astm c 566-89) diperoleh hasil rata-rata sebesar 2,56 %. astm c 566 – 89 yang diperbolehkan kelembaban pasir sebesar< 0,1 % maka agregat halus tersebut tidak memenuhi persyaratan. c) beratj enispasir (astm c 128-78) diperoleh hasil sebesar 2,70 % berat jenis pasir yang disyaratkan astm c 128-78 adalah yang berada dalam batas antara 2,4 sampai dengan 2,7 gr/dm³. jadi pasir diatas memenuhi syarat yang digunakan. d) air resapan (astm c 128-93) diperoleh data rata-rata sebesar 2,78 %. absorbsi (penyerapan air), syarat absorbsi (penyerapan) menurut astm adalah 0,2 % 2,0 %. jadi hasil tidak sesuai yang di inginkan. e) menentukanberat volume pasir (astm c 188-89) diperoleh hasil 1,417. untuk berat volume pasir spesifikasi agregat kasar menurut astm c29 yaitu 1,6 – 1,9 kg/liter. jadi hasil tidak sesuai dengan yang di inginkan. 3.3. pengujian agregat kasar a) test kondisi analisa ayakan batu pecah (astm c 136-95a) diperoleh hasil sebesar 3,33 %. modulus halus butir (hmb), modulus kehalusan butir (fineness modulus) atau mhb. spesifikasi modulus halus butiran agregat kasar menurut astm yaitu 5,5% 8,5%. jadi hasil tidak sesuai yang diinginkan. b) kelembapan kerikil (astm c 566-89) diperoleh data rata-rata sebesar 1,25. kadar air agregat kasar, spesifikasi kadar air agregat kasar menurut astm yaitu 0,5 % – 2,0 % , jadi data tersebut memenuhi yang di inginkan. c) berat jenis kerikil (astm c 127-88-93) diperoleh data sebesar 2,414. berdasarkan astm c 128-78 berat jenis kerikil yang disyaratkan adalah 2,4 sampai dengan 2,7 gr/dm³. jadi kerikil diatas memenuhi syarat untuk diggunakan. d) air resapan kerikil (astm c 127-88-93) diperoleh hasil rata-rata 1,2 %. kadar air agregat kasar, spesifikasi kadar air agregat kasar menurut astm yaitu 1 % 2,0 %. jadi hasil memenuhi yang di inginkan. e) berat volume batu pecah (astm c 29-91) berat volume rata-rata dari percobaan diatas yaitu 1,445. syarat berat volume menurut astm c 29 – 91 yaitu antara 1,4 sampai 1,7. jadi hasil memenuhi yang di inginkan. hal 153 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 3.4. pembuatan abu serabut kelapa pembuatan abu serabut kelapa yang nantinya untuk pembuatan beton. a. pemisahan tempurung dengan sabut kelapa memisahkan serabut kelapa yang nantinya akan dilakukan proses penjemuran sebelum dilakukan proses pembakaran. gambar 1. pemisahan tempurung dengan sabut kelapa b. penjemuran serabut kelapa melakukan penjemuran agar sarabut kelapa kering dan untuk mempermudah proses pembakaran. gambar 2 penjemura serabut kelapa c. pembakaran serabut kelapa melakukan pembakaran serabut kelapa yang nantinya akan diambil sebagai bahan tambah pada beton. gambar 3 pembakaran serabut kelapa hal 154 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 3.5. uji kuat tekan uji kuat tekan dilakukan di laboratorium teknik sipil universitas islam lamongan untuk mengetahui komposisi campuran yang tepat untuk mengetahui campuran yang paling baik dengan bahan tambah abu serabut kelapa sebagai bahan tambah untuk campuranbeton dengan umur 7 hari. untuk memperoleh nilai kuat tekan beton (σ) digunakan rumus digunakan rumus : � = � � dimana : σ = kuat tekan benda uji (kg/cm²) p = beban maksimum (kg) a = luas penampang (cm²) ket : a = beton normal b = campuran abu serabut kelapa 0,25 % c = campuran abu serabut kelapa 0,50 % d = campuran abu serabut kelapa 0,75 % sumber : hasil penelitian dari tabel 1 diperoleh hasil kuat tekan rata-rata beton normal 15,095 mpa, dengan campuran abu serabut kelapa 0,25 % diperoleh 21,076 , campuran 0,50 % diperoleh 22,5, dan campuran 0,75 % diperoleh 22,148 tabel 2 data tegangan karakteristik 28 hari teg. hancur (kg/cm2) tegangan hancur (mpa) (teghancur teg rata2)^2 standar deviasi tegangan karakteristikσtbk a i 13,670 2,030 1,306 16,505 kode beton tegangan hancur (kg/cm2) faktorkorelasi teg. 28 hari teg. hancur rata – rata (mpa) (kg/cm2) 28 hari (mpa) a i 90,58 0,65 139,35 13,670 15,095 a ii 101,91 0,65 156,78 15,380 a iii 107,57 0,65 165,49 16,235 b i 135,88 0,65 209,04 20,507 21,076 b ii 124,55 0,65 191,61 18,797 b iii 158,52 0,65 243,87 23,924 c i 141,54 0,65 217,75 21,361 22,5 c ii 141,54 0,65 217,75 21,361 c iii 164,18 0,65 252,58 24,778 d i 151,54 0,65 233,13 22,870 22,148 d ii 135,88 0,65 209,04 20,507 d iii 152,86 0,65 235,16 23,069 hal 155 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 a ii 15,380 0,081 1,306 16,505 a iii 16,235 1,299 1,306 16,505 b i 20,507 0,324 2,610 23,895 b ii 18,797 5,193 2,610 23,895 b iii 23,924 8,110 2,610 23,895 c i 21,361 1,297 1,070 23,656 c ii 21,36 1,297 1,070 23,656 c iii 24,778 5,189 1,070 23,656 d i 22,870 0,520 1,425 23,688 d ii 20,507 2,696 1,425 23,688 d iii 23,069 0,847 1,425 23,688 sumber : hasil penelitian dari tabel 2 diperoleh hasil tegangan karakteristik beton normal mpa, dengan campuran abu serabut kelapa 0,25% diperoleh 23,895 mpa, campuran 0,5% diperoleh 23,656 mpa, dan campuran 0,75% diperoleh 23,688 mpa grafik data kuat tekan sumber : hasil penelitian 16,505 23,895 23,656 23,688 0 5 10 15 20 25 30 normal 0,50% 1,00% 1,50% t e k a n h a n cu r (m p a ) 16,505 23,895 23,656 23,688 y = 1,3167x3 11,714x2 + 33,317x 6,414 r² = 1 0 5 10 15 20 25 30 normal 0,25% 0,50% 0,75% hal 156 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 sumber : hasil peneliti diperoleh grafik hubungan non linier pengaruh penambahan abu serabut kelapa terhadap kuat tekan beton terhadap kuat tekan dengan grafik polinema orde 2diperoleh persamaan y = 1,316x3 11,71x2 + 33,31x 6,414 dengan r² = 1. 4. kesimpulan dan saran kesimpulan berdasarkan perancangan pembuatan beton dengan penambahan abu serabut kelapa yang telah dilakukan penelitian di laboratorium fakultas teknik prodi teknik sipil universitas islam lamongan, dapat diambil kesimpulan. 1. pengaruh campuran abu serabut kelapa untuk beton mutu k-100 memepengaruhi kuat tekan dari beton itu sendiri dari data yang telah dilakukan penelitian abu serabut kelapa mengalami kenaikan secara siknifikan, beton normal k-100 kuat tekan yang diperoleh 13,964 mpa, beton campuran abu serabut kelapa 0,25 % mencapai 20,217 mpa, beton campuran abu serabut kelapa 0,50 % mencapai 20,173 mpa, yang paling tinggi beton campuran abu serabut kelapa 0,75 % dapat mencapai kuat tekan 20,041 mpa. dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa abu serabut kelapa bisa dijadikan untuk bahan tambah semen pada beton mutu k-100 pada presentasi diatas. saran dari penelitian penambahan abu serabut kelapa sebagai bahan tambah untuk kuat tekan beton adalah: 1. perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan pengujian kuat tarik beton yang belum dilakukan dalam penelitian ini. 2. untuk penelitian lebih lanjut perlu diperhatikan untuk penggunan agregat yang digunakan baik agregat halus maupun kasar yang merupakan komponen utama pembuatan beton dalam keadaan ssd, sebelum penelitian berlangsung kita perlu memberikan wadah atau tempat untuk penyimpanan agregat sementara agar tidak terkena hujan yang akan memepengaruhi keadaan ssd agregat. daftar pustaka [1] astm c 29 – 91 standart test method for bulk density (until weight) and voids aggregates [2] astm c 128 78 standart test methodfor density, relative density (spesific gravity, and absorbtion of fine aggregate [3] astm c 187 – 86 normal consistency of hydraulic cement [4] astm c 566 – 89 standart test method for total evaporable moisture concret of aggregate by drying hal 157 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 [5] candra, a. i. (n.d.). analisis daya dukung pondasi strous pile pada pembangunan gedung mini hospital universitas kadiri agata. ukarst, 1, 63–70. [6] candra, a. i., gardjito, e., cahyo, y., & prasetyo, g. a. (2019). pemanfaatan limbah puntung rokok filter sebagai bahan campuran beton ringan berpori. ukarst, 3(1), 82–89. [7] standart nasional indonesia s 04-1989-f pemakaian air untuk beton. badan standarisasi nasional. [8] standart nasional indonesia sk-sni s-18-1990-03, penyusun beton. [9] standart nasional indonesia sni 03-1974-1990, metode pengujian kuat tekan beton [10] sukirman, s., 1992. “perkerasaan lentur jalan raya”, bandung. [11] zaenuri, m., romadhon, r., gunarto, a., & cahyono, a. (2018). penelitian penggunaan batu gamping sebagai agregat kasar dan filler pada aspal campuran ac-bc. ukarst, 2(1), 24–35. [12] badan standarisasi nasional, bssni,2011. sksni 2434-2011. tentang cara uji titik lembek aspal dengan alat cincin dan bola (ring and ball) [13] ahmad bagir dan gigih eka pradana., 2011.pemanfaatan serat eceng gondok [14] badan standarisasi nasional, 2012. sni astm c136:2012 : metode uji untuk analisis saringan agregat halus dan agregat kasar. jakarta: bsn. [15] badan standarisasi nasional, sni 8129:2015 tentang spesifikasi stone matrix asphalt (sma) hal 158 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 studi pencampuran serat eceng gondok pada campuran beton dengan penggunaan agregat kasar dari kecamatan mantup kartisyah wulandari¹; dwi kartikasari² 1,2fakultas teknik universitas islam lamongan email : kartisyahwulandari@yahoo.com; dkartika27@gmail.com abstract the purpose of this study is to know the characteristics of coarse aggregate of mantup and to determine the effect of natural water hyacinth fiber addition from the using of coarse aggregate of mantup towards the concrete compressive strength. this research method employs experimental method with mix design reference of sni 03-2834-2000. to determine the effect of adding the natural water hyacinth fiber and coarse aggregate of mantup, the experiment is done with the variation of 0%, 4%, 6%, and 8% by weight of the cement. the test object used is cylinders ø15 cm × 30 cm. the number of samples made as many as 12 samples, consisting of 4 variations and for each variation is made 3 samples. after doing the immersion for 7 days, it is done the testing that can be conversed to 28 days. from the test, obtained the result that the compressive strength for the 0% fiber variation produces compressive strength of 94,36kg/cm², for 4% fiber variation produces compressive strength of 40.44 kg/cm², for 6% fiber variation produces compressive strength of 48.53 kg/cm², and for the 8% fiber variation produces compressive strength of 47.18 kg/cm². keywords :water hyacinth, coarse aggregate of mantup, compressive strength of concrete 1. abstrak tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik agregat kasar mantup dan untuk mengetahui pengaruh penambahan serat eceng gondok dari penggunaan agregat kasar mantup terhadap kekuatan tekan beton. metode penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan rujukan desain campuran sni 03-2834-2000. untuk mengetahui pengaruh penambahan serat eceng gondok air dan agregat kasar mantup, percobaan dilakukan dengan variasi 0%, 4%, 6%, dan 8% berat semen. objek uji yang digunakan adalah silinder ø15 cm × 30 cm. jumlah sampel yang dibuat sebanyak 12 sampel, terdiri dari 4 variasi dan untuk setiap variasi dibuat 3 sampel. setelah melakukan perendaman selama 7 hari, dilakukan pengujian yang dapat dikonversi menjadi 28 hari. dari pengujian, diperoleh hasil bahwa kuat tekan untuk variasi serat 0% menghasilkan kuat tekan 94,36kg / cm², untuk variasi serat 4% menghasilkan kuat tekan 40,44 kg / cm², untuk variasi serat 6% menghasilkan kuat tekan 48,53 kg / cm², dan untuk variasi serat 8% menghasilkan kuat tekan 47,18 kg / cm². kata kunci: hyacinth air, agregat kasar mantup, kekuatan tekan beton 1 1. pendahuluan kata beton dalam bahasa inggris berasal dari bahasa latin concretus yang berarti tumbuh bersama atau menggabungkan menjadi satu. dalam bahasa jepang digunakan kata kotau-zai, yang arti harafiahnya material-material seperti tulang; mungkin karena agregat mirip tulang hal 18 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 tulang hewan. (tjokrodimulyo, 2007) beton merupakan pencampuran dari semen, agregat halus, agregat kasar dan air dengan suatu perbandingan tertentu. jika ingin membuat beton berkualitas baik, dalam arti memenuhi persyaratan yang lebih ketat karena tuntutan yang lebih tinggi, maka harus diperhitungkan dengan seksama cara-cara memperoleh adukan beton(beton segar/fresh concrete) yang baik dan beton (beton keras / hardened concrete) yang dihasilkan juga baik. beton yang baik ialah beton yang kuat, tahan lama/awet, kedap air, tahan aus, dan sedikit mengalami perubahan volume (kembang susutnya kecil). dari penelitihan terdahulu ternyata eceng gondong ini memiliki kandungan senyawa kimia yang sangat berperan penting dalam pembuatan semen, penggunaan bahan tambahan kimia sesuai kebutuhan untuk memperkuat hasil beton pun dilakukan demi menghasilhan beton yang berkualitas baik. eceng gondok dimanfaatkan untuk dibuat serbuk yang akan digunakan sebagai campuran pembuatan beton (hidayat,2011). tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui fungsi dan pembuatan eceng gondok sebagai bahan serat selulosa yang digunakan sebagai bahan tambah untuk meningkatkan kuat tekan beton. 2. metode penelitian penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental laboratorium yaitu mengadakan kegiatan percobaan untuk mengadakan suatu hasil. tujuan eksperimen ini yaitu untuk membandingkan hasil yang telah didapat dalam penelitian dengan syarat syarat yang ada. waktu dan tempat penelitian ini akan dilakukan di laboratorium teknik sipil universitas islam lamongan jl. veteran no.53 a lamongan. penelitian ini dilakukan mulai bulan februari 2018 sampai selesai. 2.1 pelaksanaan penelitian bahan bahan – bahan yang digunakan dalam pembuatan benda uji adalah: a. semen portland b. agregat kasar (kerikil) c. agregat halus (pasir) d. serat alami eceng gondok e. air peralatan peralatan yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah : a. alat pencampur bahan :  concrete mixer hal 19 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855  sekop /sendok semen b. cetakan silinder beton c. mesin tekan hidrolis untuk menguji kuat tekan beton 2.2 pengujian bahan susun campuran beton pada tahap ini dilakukan dan pemeriksaan bahan penelitian yaitu semen, agregat, serat eceng gondok dan beton. pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui sifat – sifat bahan apakah memenuhi standart spesifikasi yang telah di tentukan. pengujian bahan susun campuran beton dengan menggunakan standar yang telah ditetapkan dan berlaku di indonesia terdiri dari : a) penyelidikan bahan semen : 1. percobaan konsistensi normal semen (astm c 187-86) 2. percobaan berat jenis semen (astm c 188-89) 3. percobaan waktu mengikat dan mengeras semen (astm 119-92) b) penyelidikan bahan pasir : 1. pengujian kadar air agregat (astm c 556 – 89) 2. percobaan berat jenis pasir (astm c 128-93) 3. percobaan air resapan pasir (astm c 128-93) 4. percobaan bobot isi dan rongga udara (astm c 188-89) 5. percobaan analisa saringan pasir (astm c 136-95a) c) penyelidikan bahan batu pecah 1. percobaan kelembapan batu pecah (astm c 566-89) 2. percobaan berat jenis batu pecah (astm c 127-88-93) 3. percobaan air resapan batu pecah (astm c 127-88-93) 4. percobaan berat volume batu pecah (astm c 29-91) 5. percobaan analisa saringan batu pecah (astm c 136-95a) d) pemeriksaan serat eceng gondok serat eceng gondok yang digunakan adalah eceng gondok yang diproses sendiri oleh peneliti sehingga menjadi serat eceng gondok yang dibutuhkan. 2.3 tahap pembuatan serat dari enceng gondok 1. pengambilan enceng gondok dari daerah sungai di kecamatan deket kabupaten lamongan. 2. pembersihan enceng gondok dengan air bersih. 3. eceng gondok dipotong-potong antara 5-10 cm 4. setelah enceng gondok dipotong-potong kemudian eceng gondok di gilingkan di tempat penggilingan. hal 20 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 5. selesai digilingkan, kemudian serat eceng gondok dijemur sampai benar-benar kering. variasi penambahan serat eceng gondok yang digunakan sebesar 0%, 1%, 3% dan 5% dari berat semen. kemudian pembuatan benda uji dan penambahan serat eceng gondok pada masing – masing variasi dilakukan 3 kali sesuai dengan umur beton. setiap pengujian terdapat 3 benda uji untuk setiap varian. 2.4 proses perawatan beton 1. setelah 24 jam dari proses pencetakan beton, cetakan beton dibuka perlahan-lahan dan benda uji silinder beton diambil 2. benda uji kubus beton diletakkan dalam suatu bak air, dan dibiarkan sampai sehari sebelum waktu pengetesan untuk dikeluarkan dari bak (pengeringan) 3. pada waktu pengetesan, benda uji yang telah dikeluarkan dari bak dan mengering ditimbang beratnya setelah itu diukur dimensinya 4. kemudian benda uji dicapping / diratakan dengan larutan belerang pada bidang tidak rata 5. permukaan yang dicapping dari benda uji diletakkan di atas, dan benda uji siap dites langkah tersebut berlaku untuk benda uji yang berumur 7 hari. 3. hasil dan pembahasan berdasarkan metode pengujian referensi standart yang berlaku, penulis melakukan pengujian di laboratorium universitas islam lamongan (unisla). pengujian karakteristik material halus dan kasar merupakan pengujian awal yang di lakukan agar mengetahui karakteristik agregat halus dan kasar sebelum melakukan mix design beton yang mengacu pada sni. dari data yang telah diperoleh selama pengujian, maka dilakukan perencanaan rancang campur (mix design sni 03-2834-2000) pada beton dengan memanfaatkan serat alami eceng gondok, dalam pengujian tersebut beton merujuk pada beton mutu sedang dengan prosentase bervariasi pada komposisi semen yang dikurangi oleh serat alami eceng gondok. benda uji yang digunakan adalah silinder dengan ukuran tinggi 30 cm dan diameter 15 cm sebanyak 3 buah untuk setiap sample campuran beton untuk diujikan kuat tekan beton pada umur 7 hari. diharapkan dari hasil penelitian ini, peneliti dapat mengetahui hasil kuat tekan beton 3.1 pencampuran beton segar (mix design) data perencanaan 1. deviasi standart  beton non struktural 2. jenis semen  semen portland 3. jenis serat  serat alami eceng gondok 4. jenis agregat kasar  agregat kasar mantup hal 21 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 5. jenis agregat halus  pasir 6. mutu beton  beton non struktural 7. umur perawatan  7 hari 8. jenis benda uji  silinder diketahui tinggi silinder = 30 cm diameter silinder = 15 cm ( r = 7,5 cm) maka volume silinder =  x r 2 x t = 3,14 x 7,5 2 x 30 = 529,75 cm 2 = 5299 x 10 3 x m 3 = 0.0053 m 3 3.2 analisa bahan semen tabel 1: kesesuaian hasil penelitian analisa sumber : hasil penelitian, 2018 berdasarkan tabel 1 diatas diketahui bahwa kedua pengujian bahan semen memenuhi standart. hal 22 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 3.3 analisa bahan agregat halus tabel 2: kesesuaian hasil penelitian agregat halus sumber : hasil penelitian, 2018 berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa pengujian ayakan agregat halus yang tidak memenuhi standart. pada pengujian kelembapan agregat halus memenuhi standart. pada pengujian berat jenis agregat halus memenuhi standart. pada pengujian air resapan agregat halus memenuhi standart. pada pengujian berat volume agregat halus memenuhi standart. 3.4 analisa bahan agregat kasar mantup tabel 3: kesesuaian hasil penelitian agregat kasar mantup hal 23 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 sumber : hasil penelitian, 2018 dari tabel 4 diatas dapat diketahui bahwa dalam pengujian pada pengujian ayakan agregat kasar mantup tidak memenuhi standar. pada pengujian kelembapan agregat mantup tidak memenuhi standar. pada pengujian berat jenis agregat mantup tidak memenuhi standar. pada pengujian air resapan agregat mantup tidak memenuhi standar. pada pengujian beat volume agregat mantup memenuh standar. 3.5 analisa kuat tekan beton tabel 4: pengujian kuat tekan beton silinder umur 7 hari sumber : hasil penelitian, 2018 tabel 5: pengujian kuat beton silinder umur28 hari (dikorelasi) hal 24 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 sumber : hasil penelitian, 2018 dari tabel 4 dan 5 diatas dapat diketahui untuk kuat tekan beton normal memiliki niali rata-rata sebesar 66,05 kg/cm² pada umur 7 haridan sebesar 94,36 kg/cm² pada umur 28 hari. pada beton dengan penambahan serat eceng gondok sebesar 4% memiliki nilai kuat tekan rata-rata sebesar 28,31 kg/cm² pada umur 7 hari dan sebesar 40,44 kg/cm² pada umur 28 hari. pada beton dengan penambahan serat eceng gondok sebesar 6% memiliki nilai kuat tekan rata-rata sebesar 33,97 kg/cm² pada umur 7 hari dan sebesar 48,53 kg/cm² pada umur 28 hari. pada beton dengan penambhan serat eceng gondok sebesar 8% memilkiki nilai kuat tekan rata-rata sebesar 33,03 kg/cm² pada umur 7 hari dan sebesar 47,18 kg/cm² pada umur 28 hari. gambar 1: grafik kuat tekan beton sumber : hasil penelitian, 2018 hal 25 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 4. kesimpulan 4.1 kesimpulan dari data yang diperoleh dan dari analisa data yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. tahapan/ cara pembuatan serat eceng gondok yaitu: pengambilan eceng gondok dari sungai daerah deket dan dilakukan pemilahan batang dengan daun serta dilakukan pemotongan eceng gondok sebesar 3-5 cm dan kemudian pembersihan eceng gondok dengan air. selanjutnya dilakukan penggilingan eceng gondok menjadi serat dan dilakukan pemerasan serta penyuwiran kemudian dilakukan penjemuran serat eceng gondok. langkah terakhir serat eceng gondok yang kurang kering di oven dengan suhu 150 ºc dan dengan waktu pengovenan sesuai kebutuhan. 2. dengan adanya penambahan serat eceng gondok dalam campuran beton dapat menurunkan kuat tekan. hasil dari pengujian kuat tekan beton dengan penambahan serat eceng gondok sebesar 0% (normal), 4%, 6%, dan 8% 4.2 saran berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyadari masih terdapat keterbatasan yang muncul, oleh karena itu hasil penelitian ini belum dapat dikatakan sempurna, namun demikian diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi mahasiswa lain dalam rangka pembelajaran. terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan lebih lanjut sebagai masukan yang mungkin dapat berguna bagi lembaga pendidikan perguruan tinggi ataupun mahasiwa, diantaranya yaitu : 1. penentuan bahan semen, agregat halus, agregat kasar, dan bahan tambah yang digunakan dalam campuran beton harus benar-benar memenuhi syarat yang sudah di tetapkan. 2. dalam proses penambahan air pada campuran beton harus sesuai mix design sehingga hasil uji slump yang didapatkan sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan. 3. untuk menjaga dan menetapkan kualitas mutu beton yang direncanakan, mahasiswa harus mampu menentukan kualitas bahan yang digunakan, mampu menghitung kebutuhan bahan yang digunakan, mampu menentukan timbangan yang benar-benar ketelitiannya sesuai standar, dan mampu mencampur bahan pembuat beton sesuai proporsi yang sudah ditetapkan, sehingga campuran beton benar-benar homogen dan menghasilkan beton yang baik. refrensi [1] astm,annual book of astm standart volume 04.02 “concrete and aggregates”, 2001 [2] astm c 29–91, standard test method for bulk density (“unit weight”) hal 26 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 and voids aggregates. [3] astm c 33-01, standart specification for concrete agregate. philadelphia [4] astm,c39, compresive strength of cylindrical concrete specimens, (2002). annual books of astm standards, philadelphia-usa. [5] astm c 127, standard test method for density, relative density (specific gravity), and absorbtion of coarse aggregate. [6] astm c 128-78, standard test method for density, relative density (specific gravity), and absorbtion of fine aggregate. [7] astm c 187-86, normal consistency of hydraulic cement [8] astm c 188-89, density test of hydraulic cement [9] astm c 188 – 95, standard test method for density of hydraulic cement. [10] astm c 191-92, time of setting of hydraulic cement by vicat needle [11] astm c 566 – 89, standard test method for total evaporable moisture content of aggregate by drying [12] badan standarisasi nasional. (2000). sni 03-2834-2000, tata cara pembuatan rencana campuran beton normal. [13] badan standarisasi nasional.. hidayat, 2011. pengaruh penambahan abu sekam padi terhadap kuat tekan beton k-225. jurnal aptek edisi 2, vol [14] 3.universitas pasir pengarai, riau. tjokodimuljo, kardiyono. 2004. tegnologi beton. nafiri, yogyakarta [15] sugiyanto, g. (2017). marshall test characteristics of asphalt concrete mixture with scrapped tire rubber as a fine aggregate. jurnal teknologi, 79(2). hal 27 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 pengaruh penambahan tumbukan cangkang keong mas terhadap kuat tekan beton non struktual k-175 sugeng dwi hartantyo 2,muhammad hakim susianto2, email: sugeng.dwih@gmail.com;kemsar237@gmail.com, abstract he aim of the research is to find out the process of making mash snail shells and the concrete compressive strength and to find out the process of testing the concrete compressive strength on the mash shell conch collision. the research design is the process of collecting and analyzing research data. medote this research includes planning and conducting research. for planning design begins with observation and evaluation of research that has been carried out and has been known, until the formation of the framework requires further evidence. in this research method, it also includes making experiments or observations, and also has measurement variables, techniques and procedures, data collection, data analysis, collecting data, and reporting research results. this research uses mash shell conch additive material which aims to determine the effect of mash snail shell addition to the compressive strength of concrete with a percentage variation of 2%, 4%, and 6% by weight of cement. the results of collisions of mas snail shells on concrete mixtures with additional variations of 2% (15,423), 4% (17,59) and 6% (19,276), where the highest compressive strength values were obtained by adding 6% of snail shell shells, 19,276 mpa, while the lowest value is in the addition of mash snail shell collision 2%, which is 15,423 mpa. keywords: concrete, compressive strength, non structural k-175, conch shell waste abstrak tujuan peneliantian untuk mengetahui proses pembuatan tumbukan cangkang keong mas terdahap kuat tekan beton dan.untuk mengetahui proses pengujian kuat tekan beton pada penamahan tumbukan cangkang keong mas. rancangan penelitian adalah proses pengumpulan dan analisis data penelitian. medote penelitian ini meliputi perencanaan dan melakukan penelitian. untuk rancangan perencanaan diawali dengan observasi dan evaluasi penelitian yang telah dilakukan dan telah dikenal, sampai pembentukan kerangka diperlukan bukti lebih lanjut. dalam metode penelitian ini termasuk juga membuat eksperimen atau pengamatan, dan juga memiliki variabel pengukuran, teknik dan prosedur, pengumpulan data, analisis data telah mengumpulkan sempel, dan pelaporan hasil penelitian. penelitian ini menggunakan bahan tambah tumbukan cangkang keong mas terhadap yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tumbukan cangkang keong mas terhadap kuat tekan beton dengan variasi persentase 2%, 4%, dan 6% dari berat semen. hasil dari data tumbukan cangkang keong mas pada campuran beton dengan variasi penambahan 2% (15,423), 4% (17,59), dan 6% (19,276), dimana nilai kuat tekan tertinggi didapat pada penambahan tumbukan cangkang keong mas 6% yaitu 19,276 mpa, sedangkan nilai terendah terdapat pada penambahan tumbukan cangkang keong mas 2% yaitu 15,423 mpa. kata kunci : beton, kuat tekan, non struktural k-175, limbah cangkang keong mas 1. pendahuluan 1.1 latar belakang beton adalah sebuah bahanbangunankomposityang terbuat dari kombinasi aggregat dan pengikat semen. bentuk paling umum dari beton adalah beton semen portland, yang terdiri dari agregat mineral (biasanya kerikil dan pasir), semen dan air,biasanya dipercayai bahwa beton 1,2 fakultas teknik universitas islam lamongan. hal 94 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 mengering setelah pencampuran dan peletakan. sebenarnya, beton tidak menjadi padat karena air menguap, tetapi semen berhidrasi, mengelem komponen lainnya bersama dan akhirnya membentuk material seperti-batu. beton digunakan untuk membuat perkerasan jalan, struktur bangunan, fondasi, jalan, jembatan penyeberangan, struktur parkiran, dasar untuk pagar/gerbang, dan semen dalam bata atau tembok blok. nama lama untuk beton adalah batu cair. keong mas (pomacea canaliculata) mengandung kadar caco3 (kalsium karbornat) yang sangat tinggi, sehingga dapat bereaksi sangat baik dengan semen sebagai bahan utama pembuatan beton. kalsium karbornat ialah senyawa kimia dengan formula caco3,senyawa ini merupakan bahan yang umum dijumpai pada batu,cangkang organisme laut,keong mas(siput),bola arang, mutiara, dan kulit telur 1.2 tujuan penelitian tujuan dari penelitian ini adalah : 1. untuk mengetahui pengaruh tumbukan tumbukan cangkang keong mas terdahap kuat tekan beton. 2. untuk mengetahui proses pengujian kuat tekan beton k175 pada penamahan tumbukan cangkang keong mas 2. metode penelitian 2.1 rencana penelitian metode penelitian ini dilakukan dengan cara pengujian di laboratorium sesuai dengan datadata dari studi pustaka menggunakan standart sni beton. sampel yang dibuat adalah beton segar dengan perbandingan komposisi campuran yang menggunakan serbuk batu gamping sebagai campuran beton. bahan yang di gunakan dalam penelitian ini adalah semen portland, air, agregat halus, agregat kasar, bahan tambah dan tumbukan cangkang keong mas, adapun benda uji berupa cetakan beton silinder untuk mencetak beton yang akan diuji dalam penelitian campuran beton menggunakan tumbukan cangkang keong mas sebagai bahan campuran beton, uji bahan kimia dan kuat tekan beton akan dilakuan untuk mengatahui kandungan bahan kimia dalam campuran beton dan berapa kekuatan beton tersebut. benda uji akan diuji dalam 7 hari, dalam kurung waktu ini akan diketahui nilai tertinggi untuk setiap pengujian yang telah dilakukan. metode penelitian yang digunakan adalah job mix design dengan menggunakan standart sni 03-28342000 dengan mutu beton. 2.2 lokasi dan waktu penelitian hal 95 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 waktu dan tempat penelitian ini akan dilakukan dilaboratorium teknik sipil universitas islam lamongan jl. veteran no.53 a lamongan, benda uji penelitian ini adalah kuat tekan beton non struktural yang sebagaimana campuranya adalah serbuk batu gamping. 2.3 teknik pengumpulan data sumber data penelitian di dapat dari hasil laboratorium program study teknik sipil fakultas teknik universitas islam lamongan sesuia dengan data-data dari study pustaka standart indonesia sk sni maupun standart asing yaitu astm. 2.4 analisis data analisis data juga dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengubah data hasil dari penelitian menjadi sebuah informasi baru yang dapat digunakan dalam membuat kesimpulana. membuat data hasil pengujian semen, agregat kasar, agregat halus dan kuat tekan beton. sumber data penelitian di dapat dari hasil laboratorium program study teknik sipil fakultas teknik universitas islam lamongan sesuia dengan data – data dari study pustaka standart indonesia sk sni maupun standart asing yaitu astm. 2.5 flow 3. hasil dan pembahasan 3.1 proses pembuatan benda uji hal 96 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 pelaksanaan penelitian dibagi menjadi beberapa tahap, diawali dengan persiapan dan pengujian bahan, pembuatan dan perawatan benda uji, dilanjutkan dengan pengujian bahanyang mengacu pada astm (american standard testing and material) dan pembuatan beton pada standar yang berlaku sesuai sni-03-2834-2000, pengujian di laksanakan di laboratorium teknik sipil universitas islam lamongan. data-data yang di uji meliputi : 1. penyediaan bahan tambah tumbukan cangkang keong mas. 2. pengujian semen meliputi : a. pengujian konsistensi normal semen portland b. pengujian waktu mengikat dan mengeras semen c. pengujian berat jenis semen 3. pengujian pasir (agregat halus) meliputi : a. pengujian analisa saringan distribusi ukuran butir / gradasi pasir b. pengujian kadar air agregat halus c. pengujian berat jenis pasir pada kondisi ssd d. pengujian kadar air resapan pasir e. pengujian berat volume pasir baik dalam keadaan lepas maupun terikat. 4. pengujian batu pecah (agregat kasar) meliputi : a. pengujian analisa saringan distribusi ukuran butir / gradasi batu pecah b. pengujian kelembapan batu pecah c. pengujian berat jenis batu pecah pada kondisi ssd d. pengujian kadar air resapan kerikil e. pengujian berat volume batu pecah baik dalam keadaan lepas maupun terikat. 5. proses pembuatan beton meliputi : a. proses perhitungan bahan campuran beton b. proses persiapan bahan c. proses pencampuran beton dengan bahan tambah tumbukan cangkang keong mas d. pengujian slump test e. proses pencetakan beton 6. penimbangan beton segar meliputi : a. berat beton normal b. berat beton dengan campuran tumbukan cangkang keong mas 2% c. berat beton dengan campuran tumbukan cangkang keong mas 4% d. berat beton dengan campuran tumbukan cangkang keong mas 6% 7. proses pembongkaran cetakan beton 8. proses perawatan beton (curing) hal 97 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 3.2 proses perhitungan bahan campuran beton tabel 3.1 kebutuhan bahan untuk beton normal jenis bahan berat satuan semen portland 11,64 kg pasir 10,85 kg krikil 25,318 kg air 4,88 liter tabel 3.2 perhitungan campuran tumbukan cangkang keong mas 2% jenis bahan berat satuan semen portland 11,41 kg pasir 10,85 kg krikil 25,318 kg air 4,88 liter tumbukan cangkang keong mas 0,23276 kg tabel 3.3 perhitungan campuarn 4% jenis bahan berat satuan semen portland 11,17 kg pasir 10,85 kg krikil 25,318 kg air 4,88 liter tumbukana cangkang keong mas 0,46553 kg tabel 3.4 perhitungan campuarn 6% jenis bahan berat satuan hal 98 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 semen portland 10,94 kg pasir 10,85 kg krikil 25,318 kg air 4,88 liter tumbukan cangkang keong mas 0,69829 kg tabel 3.5 hasil cek slump no presentasi (%) bahan tambah (kg) tinggi slump (cm) 1 0 % 8cm 2 5% 0,38875 8,5cm 3 10% 0,7775 10 cm 4 15% 1,166 12 cm proses pembongkaran cetakan setelah pelaksanaan campuran beton dan mencetaknya dalam silinder unuran 15 x 30 cm beton akan didiamkan dalam 1 hari untuk menunggu kering agar bisa dibongkar, jika silinder tidak diolesi dengan oli maka beton akan menempel di cetakan dan sulit untuk dilakukan pembongkaran. proses perawatan (curring) untuk proses curring air yang digunakan menggunakan air tawar biasa tidak mengandung kadar garam yang tinggi maupun air yang keruh atau bercampur dengan lumpur karena dapat mempengaruhi kekuatan beton pada saat uji kuat tekan yang akan dilakukan setelah proses curring berlangsung yaitu 7 hari perendaman.untuk perendaman yang perlu diperhatikan selain kebersihan air juga kandungan kadar garam, penyusutan air juga juga harus selalu dipantau. 4. kesimpulan berdasarkan dari penjelasan pada bab-bab sebelumnya tumbukan cangkang keong mas sebagai bahan campuran beton di uji dari kuat tekan dapat disimpulkan sebagai berikut : hal 99 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 1. langkah-langkah proses pembuatan limbah cangkang keong mas, sebagai bahan campuran beton, sebagai berikut : a. siapkan limbah cangkang keong mas b. kemudian cuci bersih cangkang keong mas. c. setelah dicuci bersih cangkang keong mas, tumbuk cangkang keong mas dengan cara manual hingga menjadi serbuk. d. kemudian mengayak hasil tumbukan cangkang keong mas. 2. peranan tumbukan cangkang keong mas yang menggantikan sebagian semen sangat berpengaruh terhadap kuat tekan beton. hasil data tumbukan cangkang keong mas pada campuran beton pengaruh penambahan tumbukan cangkang keong mas terhadap kuat tekan beton dengan variasi persentase 2%, 4%, dan 6% dari berat semen. hasil dari data tumbukan cangkang keong mas pada campuran beton dengan variasi penambahan 2% (15,423), 4% (17,59), dan 6% (19,276), dimana nilai kuat tekan tertinggi didapat pada penambahan tumbukan cangkang keong mas 6% yaitu 19,276 mpa, sedangkan nilai terendah terdapat pada penambahan tumbukan cangkang keong mas 2% yaitu 15,423 mpa. refrensi [1] abdullah m., dan kartikasari d., 2018. evaluasi kuat desak beton mutu k-200 dengan menggunakan engregat kasar dari kecamatan mantup dan penambahan serat alami enceng gondok. program studi teknik sipil fakultas teknik, universitas islam lamongan. [2] amri, sjafei. 2005. “teknologi beton”. jakarta : universitas indonesia press (uip). arbi, 2015. menggunakan limbah kulit kerang sebagai angregat halus. jakarta: [3] astm c.33, “standard specification for concrete aggregates”, annual books of astm standards, usa, 2002. [4] astm c.330, “standard specification for lightweight aggregates for structural concrete”, annual books of astm standards ,usa, 2002. [5] astm c.39 01, “standard test for compressive strength of cylindrical concrete”, annual books of astm standards ,usa, 2002. [6] astm c.78 02, “standard test method for flexural strength of concrete using simple beam with third-point loading”, annual books of astm standards ,usa, 2002. [7] astm c.1240 01, “standard spesification for use of silica fume as a mineral admixture in hydraullic cement concrete and mortar”, annual books of astm standards, usa, 2002. [8] astm c496-96. standart test method for splitting tensile strength of cylindrical concrete specimens, astm internasional, usa. hal 100 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 [9] audina, a 2018. pengaruh cangkang telur terhadap kuat tekan beton. bandung [10] ansari , dkk 2017. tambahan serbuk cangkang telur sebagai penggangti semen (esp). yogyakarta [11] arbi, 2015. menggunakan limbah kulit kerang sebagai angregat halus. jakarta [12] audina, a 2018. pengaruh cangkang telur terhadap kuat tekan beton. bandung [13] ansari , dkk 2017. tambahan serbuk cangkang telur sebagai penggangti semen (esp). yogyakata [14] candra, agata iwan, edy gardjito, yosef cahyo, and ginta aditiya prasetyo. 2019. “pemanfaatan limbah puntung rokok filter sebagai bahan campuran beton ringan berpori.” ukarst 3 (1): 82–89. [15] candra, agata iwan. n.d. “analisis daya dukung pondasi strous pile pada pembangunan gedung mini hospital universitas kadiri agata.” ukarst 1: 63–70. [16] dinas pekerjaan umum, 1989. sk sni s 04 1989 – f spesifikasi agregat sebagai bahan bangunan, yayasan lpmb. jakarta. [17] hastutik, 2015. teknologi beton, pengaruh subtitusi cangkang keong mas dengan kapur terhadap nilai kuat geres tanah pada lempung ekspansif, bandung [18] japanese industrial standard (jis) a 5905-2003 hardboard s20 dan jis a 5908 (2003) [19] japan society of civil engineers. standard spesifications for concrete structures2002, materials and construction. japan. 2002. [20] kardiyono tjokrodimulyo, 2007. penambahan air untuk beton [21] kardiyono tjokrodimulyo, 2007. uji kuat tekan beton [22] k. mounika, dkk., 2014. influence of sea shells powder onblack cotton soil dduring stabilization. makasar [23] kardiyono tjokrodimulyo, 2007. bahan dan praktek beton [24] mulyono, tri, 2003. teknologi beton, yogyakarta: penerbit cv. andi offset [25] mulyono, tri, 2004. teknologi beton, yogyakarta: penerbit cv. andi offset [26] murdrock, l.j. dan brook, k.m., 1979. bahan dan praktek beton, jakarta: penerbit erlangga [27] micheal, 2017. abu cangkang telur sebagai tambahan semen (arc). palembang [28] sni 03-2834-2000 tata cara pembuatan rencana campuran beton normal, badan standarisai nasional. [29] sni 15-2049-1994 semen portland untuk campuran beton badan standardisasi nasional, indonesia. hal 101 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 [30] sni 03-2816-1992 agregat halus sebagai bahan campuran beton badan standardisasi nasional, indonesia. [31] sni 03-6817-2002 penambahan air sesuai ph badan standardisasi nasional, indonesia. [32] sni 03-2495-1991 bahan tambahan kimia untuk beton badan standardisasi nasional, indonesia. [33] sni 03-2460-1991 bahan tambahan mineral fly ash,pozzolan, silica fum badan standardisasi nasional, indonesia. [34] sni 03-1974-1990. metode pengujian kuat tekan beton, badan standarisasi nasional. [35] sni 03-1968-1990, (1990).tata cara pengujian analisis saringan agregat halus dan kasar. jakarta: badan standarisasi nasional bsn [36] sni (2002) :metode pengujian waktu ikat awal semen portland dengan menggunakan alat vicat untuk pekerjaan sipil,03-6827-2002, badan standardisasi nasional, indonesia. [37] sahari dan mijan, 2011. menggunkan cangkang kerang dalam bentuk kepingan dan serbuk. bandung [38] sunarto dan affandi, n., a., 2018. evaluasi kuat desak beton non struktural dengan menggunkan fariasi agregat kasar mantup dengan penambahan serat alami enceng gondok. program studi teknik sipil fakultas teknik, universitas islam lamongan. [39] sudarso i., dan hepiyanto, r., 2018. kajian bahan tambah alternative serat enceng gondok terhadap campuran latasir sand sheet kelas a spesifikasi seksi-6 2010 binamarga. program studi teknik sipil fakultas teknik, universitas islam lamongan. [40] tjokrodimuljo, k., 1996, teknologi beton, yogyakarta: penerbit nafigiri [41] tjokrodimuljo, k., 2007, teknologi beton, yogyakarta: biro penerbit teknik sipil keluarga mahasiswa teknik sipil dan lingkungan, universitas gadjah mada [42] tjokrodimuljo, kardidjono,1996.teknologi beton. yogyakarta: penerbit naviri hal 102 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 pengaruh penambahan serat eceng gondok pada kuat tekan paving block k-200 muttaqin fauzin istighfarin¹; rasio hepiyanto² 1,2fakultas teknik universitas islam lamongan email : muttaqinfauzin08@gmail.com; waringinmegah_rasio@yahoo.com abstract this study aims to know and analyze how strong the influence of additional water hyacinth fiber to the compressive strength of k-200 paving block. method used in this study is experimental method, with the comparison of mix design reffering to the comparison of concrete quality mixture k-200 (sni 7394-2008). the result is k-200 paving block decreases its compressive strength after given the mixture of water hyacinth fiber. the precentage of the lowest decrease is in the 0,2 mixture of 55,69% and the highest decrease is in the mixture of 0,8 with the decline presentage of of 82,39%. the score of compressive strength for each test object is: normal of 209,53 kg/cm², 2% of 92,86 kg/cm², 4% of 84,53 kg/cm², 6% of 58,33 kg/cm², and 8% of 36,90 kg/cm². the relationship of nonlinear regression can be seen in r² = 1 on polinomial orde 4. paving block with with code objects test “normal” classified as in the quality of paving block b with compressive strength of 209,53 kg/cm² (17,03 mpa), while for paving block with extra water hyacinth fiber, it is below the compressive strength standard according to sni 03-0691-1996. keywords: rigid pavement, paving block, water hyacinth, compressive strength. abstrak penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis seberapa kuat pengaruh penambahan serat eceng gondok terhadap kuat tekan paving block k-200. metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen, dengan perbandingan rujukan desain campuran dengan perbandingan kualitas campuran beton k-200 (sni 7394-2008). hasilnya adalah paving block k-200 mengurangi kekuatan tekannya setelah diberi campuran serat eceng gondok. prosentase penurunan terendah adalah pada campuran 0,2 sebesar 55,69% dan penurunan tertinggi pada campuran sebesar 0,8 dengan presentase penurunan sebesar 82,39%. skor kuat tekan untuk setiap benda uji adalah: normal 209,53 kg / cm², 2% dari 92,86 kg / cm², 4% dari 84,53 kg / cm², 6% dari 58,33 kg / cm², dan 8% dari 36,90 kg / cm². hubungan regresi nonlinier dapat dilihat pada r² = 1 pada polinomial orde 4. paving block dengan dengan kode objek tes "normal" diklasifikasikan sebagai kualitas paving block b dengan kekuatan tekan 209,53 kg / cm² (17 , 03 mpa), sedangkan untuk paving block dengan serat eceng gondok ekstra air, berada di bawah standar kuat tekan sesuai sni 03-0691-1996. kata kunci: perkerasan kaku, blok paving, eceng gondok, kekuatan kompresif. 1. pendahuluan kata beton dalam bahasa inggris berasal dari bahasa latin concretus yang berarti tumbuh bersama atau menggabungkan menjadi satu. dalam bahasa jepang digunakan kata kotau-zai, yang arti harafiahnya material-material seperti tulang; mungkin karena agregat mirip tulang tulang hewan. (tjokrodimulyo, 2007) beton merupakan pencampuran dari semen, agregat halus, agregat kasar dan air dengan suatu perbandingan tertentu. jika ingin membuat beton hal 28 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 berkualitas baik, dalam arti memenuhi persyaratan yang lebih ketat karena tuntutan yang lebih tinggi, maka harus diperhitungkan dengan seksama cara-cara memperoleh adukan beton(beton segar/fresh concrete) yang baik dan beton (beton keras / hardened concrete) yang dihasilkan juga baik. beton yang baik ialah beton yang kuat, tahan lama/awet, kedap air, tahan aus, dan sedikit mengalami perubahan volume (kembang susutnya kecil). dari penelitihan terdahulu ternyata eceng gondong ini memiliki kandungan senyawa kimia yang sangat berperan penting dalam pembuatan semen, penggunaan bahan tambahan kimia sesuai kebutuhan untuk memperkuat hasil beton pun dilakukan demi menghasilhan beton yang berkualitas baik. eceng gondok dimanfaatkan untuk dibuat serbuk yang akan digunakan sebagai campuran pembuatan beton (hidayat,2011). tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui fungsi dan pembuatan eceng gondok sebagai bahan serat selulosa yang digunakan sebagai bahan tambah untuk meningkatkan kuat tekan beton. 2. metode penelitian penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental laboratorium yaitu mengadakan kegiatan percobaan untuk mengadakan suatu hasil. tujuan eksperimen ini yaitu untuk membandingkan hasil yang telah didapat dalam penelitian dengan syarat syarat yang ada. waktu dan tempat penelitian ini akan dilakukan di laboratorium teknik sipil universitas islam lamongan jl. veteran no.53 a lamongan. penelitian ini dilakukan mulai bulan februari 2018 sampai selesai. 2.1 pelaksanaan penelitian bahan bahan – bahan yang digunakan dalam pembuatan benda uji adalah: a. semen portland b. agregat kasar (kerikil) c. agregat halus (pasir) d. serat alami eceng gondok e. air peralatan peralatan yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah : a. alat pencampur bahan :  concrete mixer  sekop /sendok semen b. cetakan silinder beton hal 29 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 c. mesin tekan hidrolis untuk menguji kuat tekan beton 2.2 pengujian bahan susun campuran beton pada tahap ini dilakukan dan pemeriksaan bahan penelitian yaitu semen, agregat, serat eceng gondok dan beton. pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui sifat – sifat bahan apakah memenuhi standart spesifikasi yang telah di tentukan. pengujian bahan susun campuran beton dengan menggunakan standar yang telah ditetapkan dan berlaku di indonesia terdiri dari : a) penyelidikan bahan semen : 1. percobaan konsistensi normal semen (astm c 187-86) 2. percobaan berat jenis semen (astm c 188-89) 3. percobaan waktu mengikat dan mengeras semen (astm 119-92) b) penyelidikan bahan pasir : 1. pengujian kadar air agregat (astm c 556 – 89) 2. percobaan berat jenis pasir (astm c 128-93) 3. percobaan air resapan pasir (astm c 128-93) 4. percobaan bobot isi dan rongga udara (astm c 188-89) 5. percobaan analisa saringan pasir (astm c 136-95a) c) penyelidikan bahan batu pecah 1. percobaan kelembapan batu pecah (astm c 566-89) 2. percobaan berat jenis batu pecah (astm c 127-88-93) 3. percobaan air resapan batu pecah (astm c 127-88-93) 4. percobaan berat volume batu pecah (astm c 29-91) 5. percobaan analisa saringan batu pecah (astm c 136-95a) d) pemeriksaan serat eceng gondok serat eceng gondok yang digunakan adalah eceng gondok yang diproses sendiri oleh peneliti sehingga menjadi serat eceng gondok yang dibutuhkan. 2.3 tahap pembuatan serat dari enceng gondok 1. pengambilan enceng gondok dari daerah sungai di kecamatan deket kabupaten lamongan. 2. pembersihan enceng gondok dengan air bersih. 3. eceng gondok dipotong-potong antara 5-10 cm 4. setelah enceng gondok dipotong-potong kemudian eceng gondok di gilingkan di tempat penggilingan. 5. selesai digilingkan, kemudian serat eceng gondok dijemur sampai benar-benar kering. variasi penambahan serat eceng gondok yang digunakan sebesar 2%, 4%, 6% dan 8% dari berat semen. hal 30 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 kemudian pembuatan benda uji dan penambahan serat eceng gondok pada masing – masing variasi dilakukan 3 kali sesuai dengan umur beton. setiap pengujian terdapat 3 benda uji untuk setiap varian. 2.4 proses perawatan beton 1. setelah 24 jam dari proses pencetakan beton, cetakan beton dibuka perlahan-lahan dan benda uji silinder beton diambil 2. benda uji kubus beton diletakkan dalam suatu bak air, dan dibiarkan sampai sehari sebelum waktu pengetesan untuk dikeluarkan dari bak (pengeringan) 3. pada waktu pengetesan, benda uji yang telah dikeluarkan dari bak dan mengering ditimbang beratnya setelah itu diukur dimensinya 4. kemudian benda uji dicapping / diratakan dengan larutan belerang pada bidang tidak rata 5. permukaan yang dicapping dari benda uji diletakkan di atas, dan benda uji siap dites langkah tersebut berlaku untuk benda uji yang berumur 7 hari. 3. hasil dan pembahasan berdasarkan metode pengujian referensi standart yang berlaku, penulis melakukan pengujian di laboratorium universitas islam lamongan (unisla). pengujian karakteristik material halus dan kasar merupakan pengujian awal yang di lakukan agar mengetahui karakteristik agregat halus dan kasar sebelum melakukan mix design beton yang mengacu pada sni. dari data yang telah diperoleh selama pengujian, maka dilakukan perencanaan rancang campur (mix design sni 03-2834-2000) pada beton dengan memanfaatkan serat alami eceng gondok, dalam pengujian tersebut beton merujuk pada beton mutu sedang dengan prosentase bervariasi pada komposisi semen yang dikurangi oleh serat alami eceng gondok. benda uji yang digunakan adalah silinder dengan ukuran tinggi 30 cm dan diameter 15 cm sebanyak 3 buah untuk setiap sample campuran beton untuk diujikan kuat tekan beton pada umur 7 hari. diharapkan dari hasil penelitian ini, peneliti dapat mengetahui hasil kuat tekan beton 3.1 pencampuran beton segar (mix design) data perencanaan 1. deviasi standart  beton non struktural 2. jenis semen  semen portland 3. jenis serat  serat alami eceng gondok 4. jenis agregat kasar  kerikil 5. jenis agregat halus  pasir 6. mutu beton  beton non struktural hal 31 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 7. umur perawatan  7 hari 8. jenis benda uji  silinder diketahui tinggi silinder = 30 cm diameter silinder = 15 cm ( r = 7,5 cm) maka volume silinder =  x r 2 x t = 3,14 x 7,5 2 x 30 = 529,75 cm 2 = 5299 x 10 3 x m 3 = 0.0053 m 3 3.2 pengujian beton dan kuat tekan beton analisa data kuat tekan didapat dari hasil pengujian kuat tekan paving block, apakah dengan penambahan serat eceng gondok pada bahan campuran paving block dapat menambah kuat tekan pada paving block, data penelitian di lakukan pencatatan sebagai data penelitian. rumus kuat tekan paving block kuat tekan (kg/cm²) = keterangan: p = tekanan hancur (ton) a = luas penampang (200 cm²) adapun hasil pengujian kuat tekan paving block hari ke 7. tabel 1: hasil pengujian kuat tekan hari ke – 7 sumber:pengolahan data penelitian, 2018 hal 32 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 dari tabel di atas dapat dilihat bahwa dengan penambahan serat eceng gondok pada campuran paving block dengan prosentase serat eceng gondok sebesar 2%, 4%, 6%, dan 8% dari berat semen yang digunakan kesemuanya mengalami penurunan kuat tekan pada paving block. kuat tekan tertinggi rata – rata pada paving block dengan tambahan serat eceng gondok adalah 65,00 kg/cm², sedangkan nilai terendah rata – rata adalah 25,83 kg/cm². sedangkan paving block dengan campuran normal didapatkan hasil kuat tekan sebesar 146,67 kg/cm². pembahasan pada penelitian ini adalah menganalisa hasil pengujian kuat tekan paving block dengan tambahan serat eceng gondok. adapun hasil dari penelitian kuat tekan paving block k200 dengan tambahan serat eceng gondok pada umur 28 hari, serta telah dilakukan analisa prosentase peningkatan ataupun penurunan adalah sebagai berikut: tabel 2: hasil pengujian kuat tekan paving block umur 28 hari sumber : pengolahan data penelitian, 2018 3.3 model hubungan penambahan serat eceng gondok dengan kuat tekan paving block analisa regresi linier sederhana, untuk memperoleh suatu model regresi yang menggambarkan hubungan antara satu variabel bebas (penambahan serat eceng gondok) dan satu variabel terikat (kuat tekan paving block). selanjutnya dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas (x) adalah penambahan serat eceng gondok, sedangkan variabel terikat (y) adalah kuat tekan paving block. hasil analisa regresi disajikan pada gambar 1. hal 33 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 gambar 1: analisa grafik kuat tekan paving block sumber : pengolahan data penelitian, 2018 pada gambar 1 adalah model regresi non linier yaitu model regresi polinomial orde 4. koefisien determinasi r² bernilai 1, yang artinya angka ini memiliki keterkaitan yang kuat antara penambahan serat eceng gondok dan kuat tekan paving block. koefisien tersebut memperlihatkan bahwa pengaruh penambahan serat eceng gondok terhadap nilai kuat tekan paving block sebesar 100%. adapun hasil analisa grafik kuat tekan paving block dari model persamaan regresi polinomial dan hasil analisa persamaan regresi polinomial, dapat dilihat pada tabel 10 dan tabel 11 sebagai berikut: tabel 3: hasil analisa grafik kuat tekan paving block sumber : pengolahan data penelitian, 2018 4. kesimpulan 4.1 kesimpulan paving block k-200 mengalami penurunan kuat tekan dengan bertambahnya campuran serat eceng gondok, prosentase penurunan terendah pada campuran 0,2 sebesar 55,69% dan hal 34 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 penurunan tertinggi pada campuran 0,8 dengan prosentase penurunan sebesar 82,39%. nilai kuat tekan masing – masing benda uji adalah; normal sebesar 209,53 kg/cm², 2% sebesar 92,86 kg/cm², 4% sebesar 84,53 kg/cm², 6% sebesar 58,33 kg/cm², dan 8% sebesar 36,90 kg/cm². hubungan regresi non linier terlihat di r² = 1 pada polinomial orde 4. paving block dengan kode benda uji normal tergolong dalam mutu paving block b dengan kuat tekan 209,53 kg/cm² (17,03 mpa), sedangkan untuk paving block dengan tambahan serat eceng gondok tidak tergolong dalam mutu standar kuat tekan paving block karena nilai kuat tekannya dibawah standar mutu kuat tekan paving block (sni 03-0691-1996). 4.2 saran perlu adanya penelitian lanjutan tentang kuat tekan paving block dengan variasi penambahan serat eceng gondok yang berbeda, untuk mendapatkan nilai kuat tekan yang optimal. perlu diadakan penelitian lebih lanjut metode pembuatan paving block dengan mesin vibrasi atau mesin hidrolis agar pencetakan paving block lebih maksimal. perlu diadakan penelitian lebih lanjut pada metode pembuatan serat eceng gondok agar serat eceng gondok lebih mengikat dengan campuran paving block. refrensi [1] astm,annual book of astm standart volume 04.02 “concrete and aggregates”, 2001 [2] astm c 29–91, standard test method for bulk density (“unit weight”) and voids aggregates. [3] astm c 33-01, standart specification for concrete agregate. philadelphia [4] astm,c39, compresive strength of cylindrical concrete specimens, (2002). annual books of astm standards, philadelphia-usa. [5] astm c 127, standard test method for density, relative density (specific gravity), and absorbtion of coarse aggregate. [6] astm c 128-78, standard test method for density, relative density (specific gravity), and absorbtion of fine aggregate. [7] astm c 187-86, normal consistency of hydraulic cement [8] astm c 188-89, density test of hydraulic cement [9] astm c 188 – 95, standard test method for density of hydraulic cement. [10] astm c 191-92, time of setting of hydraulic cement by vicat needle [11] astm c 566 – 89, standard test method for total evaporable moisture content hal 35 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 of aggregate by drying [12] badan standarisasi nasional. (2000). sni 03-2834-2000, tata cara pembuatan rencana campuran beton normal. [13] badan standarisasi nasional.. hidayat, 2011. pengaruh penambahan abu sekam padi terhadap kuat tekan beton k-225. jurnal aptek edisi 2, vol [14] universitas pasir pengarai, riau. tjokodimuljo, kardiyono. 2004. tegnologi beton. nafiri, yogyakarta [15] fakultas teknik sipil, pedoman praktikum beton, laboratorium struktur universitas islam lamongan. hal 36 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 analisis kinerja simpang bersinyal di simpang papar untuk perencanaan jalan tol kertosono-kediri r. endro wibisono* 1 , muhammad shofwan donny cahyono 2 , adhi muhtadi 3 1 fakultas teknik universitas negeri surabaya 2 fakultas teknik universitas widya kartika 3 fakultas teknik universitas narotama e-mail: * 1 endrowibisono@unesa.ac.id, 2 shofwandonny@widyakartika.ac.id, 3 adhimuhtadi1974@gmail.com abstract the papar intersection is a very congested route because the location is in the kertosono-kediri toll road planning area for the economic distribution of the western and southern east java provinces. there needs to be a traffic engineering management so that the intersection is not increasingly saturated. as a benchmark is the forecasting of traffic performance carried out for 2 years from 2019 to 2021. the intersection of the simpang papar due to the construction of the kertosono-kediri toll road will decrease the value of the ds by developing the kertosono-kediri toll road so that the ds value is below 1 (one). the lowest 2021 ds is 0.17, while the highest ds is 0.46. based on the results of forecasting, the intersection of papar after the construction of the kertosono kediri toll road has increased the volume of traffic along with the growth in vehicle numbers. the lowest 2045 ds year is 0.94, while the highest ds is 2.51. the solution to dealing with traffic congestion in the year 2045 is by traffic monitoring, especially the signal settings and vehicle restrictions. keywords— traffic performance, degree of saturation, signal intersection, toll planning abstrak simpang papar merupakan jalur yang sangat padat karena lokasinya berada pada area perencanaan tol kertosono-kediri untuk distribusi perekonomian wilayah propinsi jawa timur bagian barat dan bagian selatan. perlu adanya manajemen rekayasa lalu lintas supaya simpang tersebut tidak semakin jenuh. sebagai tolok ukur adalah peramalan kinerja lalu lintas dilakukan selama 2 tahun dari tahun 2019 hingga tahun 2021. simpang bersinyal simpang papar akibat pembangunan jalan tol kertosono-kediri akan menurun nilai ds nya dengan dilakukan rencana pembangunan jalan tol kertosono kediri sehingga pada nilai ds dibawah 1 (satu). tahun 2021 ds terendah adalah 0,17, sedangkan ds tertinggi 0,46. berdasarkan hasil perhitungan peramalan, simpang papar setelah dilakukan pembangunan jalan tol kertosono – kediri mengalami peningkatan volume lalu-lintas seiring pertumbuhan angka kendaraan. tahun 2045 ds terendah adalah 0,94, sedangkan ds tertinggi 2,51. solusi untuk menangani kepadatan lalu-lintas pada tahun 2045 tersebut adalah dengan rekaysa lalu-lintas terutama pengaturan sinyal dan pembatasan kendaraan. kata kunci— kinerja lalu-lintas, derajat kejenuhan, simpang bersinyal, perencanaan tol hal 113 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 1. pendahuluan simpang papar adalah salah satu simpang yang terletak di kabupaten kediri. kondisi simpang yang sampai saat ini sangat padat menimbulkan kemacetan pada waktu jam puncak pagi dan jam puncak sore. permasalahan lain adanya perlintasan kereta api, tempat menaikkan dan menurunkan penumpang angkutan umum serta kawasan pardagangan pusat oleh – oleh akan menimbulkan permasalahan kinerja simpang. kawasan perdagangan dan tempat pemberhentian angkutan umum yang terjadi parkir sembarangan di sekitar persimpangan ini yang terjadi dengan adanya pelanggaran rambu lalu lintas sehingga dapat mempengaruhi kinerja simpang kondisi eksiting dan menimbulkan kemacetan. kemacetan yang di akibatkan arus volume lalu lintas yang cukup padat serta antrian di persimpangan cukup panjang. sehingga perlu evaluasi kinerja pada simpang papar yang lebih optimal dan alternatif solusi manajemen rekayasa lalu lintas. rencana dari pihak pemerintah adalah berupaya pembangunan jalan tol kertosono – kediri akan tetapi sebelumnya perlu diperhitungkan kinerja simpang tak bersinyal. maka diperlukan survei volume lalu lintas dan pertumbuhan kendaraan dari tahun ke tahun agar mengetahui berapa pertumbuhan lalu lintas setiap tahunnya sehingga mengakibatkan kemacetan. gambar 1 empat pendekat simpang papar 2. metode penelitian data primer mengenai kondisi lalu lintas jaringan jalan di sekitar lokasi didapatkan hal 114 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 dengan melakukan pencacahan lalu lintas kendaraan yang lewat. survei dilaksanakan selama 3 hari (dipilih yang mewakili hari kerja dan libur) untuk kedua jurusan; masing-masing selama 18 jam. untuk masing-masing lokasi, survei dilakukan selama 3 (tiga) hari selama 18 jam yang dibagi dalam 2 shift survei, masing-masing 6 jam. pembagiannya antara lain, shift ke 1, jam 06.00 sd 12.00, shift ke 2 : jam 12.00 sd 18.00, shift ke 3 : jam 18.00 sd 24.00. survey dilaksanakan pada hari kerja. adapun perlatan yang dibutuhkan untuk melakukan survey traffic counting adalah dengan menggunakan counter, jam tangan dan peralatan tulis. data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari instnasi terkait. data sekunder yang dibutuhkan untuk mendukung studi ini antara lain: pengumpulan data di peroleh dari hasil survei langsung dilapangan dan dari instansi terkait. pengumpulan data tersebut digolongkan menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. salah satu cara pengendalian persimpangan adalah dengan alat pemberi isyarat lalu lintas atau sinyal lampu lalu lintas (slll). (wibisono, 2019). berdasarkan data-data yang diperoleh, dapat dilakukan perhitungan arus lalu lintas (q), kapasitas (ci), derajat kejenuhan (dj), panjang antrian (pa), tundaan (t), maupun faktor prilaku yang berpengaruh terhadap kondisi lalu lintas persimpangan apakah dapat dipertahankan. selanjutnya mengevaluasi kinerja simpang dengan melakukan; rekapitulasi data, mengevaluasi waktu sinyal traffic light, mengevaluasi pengaturan fase lalu lintas, mengevaluasi kondisi geometri jalan, analisis kinerja lalu lintas, teknik analisis data, kesimpulan dan saran. 3. hasil dan pembahasan data arus lalu lintas yang digunakan dalam studi ini diperoleh dari survei primer pada 4 lokasi (ruas jalan) yang berlokasi di sekitar rencana pengembangan ruas tol kediri-kertosono. grafik fluktuasi pergerakan volume lalu lintas dalam satuan mobil penumpang per jam (smp/jam) pada simpang papar yang terbagi menjadi tiga arah dapat dilihat pada gambar 2. gambar 2 grafik. fluktuasi lalu-lintas di simpang papar arah kediri-kertosono hal 115 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 berdasarkan gambar diatas dapat dianalisa sebagai berikut, arah nganjuk ke kediri. total volume pada jam puncak (peak hour) terjadi pada pagi hari yaitu sekitar jam 07.00 – 08.00 sebesar 65 smp/jam. arah nganjuk ke kertosono. total volume pada jam puncak (peak hour) terjadi pada sore hari yaitu sekitar jam 16.00 – 17.00 sebesar 52 smp/jam. arah nganjuk ke pare. total volume pada jam puncak (peak hour) terjadi pada sore hari yaitu sekitar jam 16.00 – 17.00 sebesar 265 smp/jam. arah kediri ke kertosono. total volume pada jam puncak (peak hour) terjadi pada sore hari yaitu sekitar jam 17.00 – 18.00 sebesar 347 smp/jam. arah kediri ke pare. total volume pada jam puncak (peak hour) terjadi pada pagi hari yaitu sekitar jam 09.00 – 10.00 sebesar 103 smp/jam.arah kediri ke nganjuk. total volume pada jam puncak (peak hour) terjadi pada pagi hari yaitu sekitar jam 09.00 – 10.00 sebesar 104 smp/jam. gambar 3 grafik. fluktuasi lalu-lintas di simpang papar arah kertosono-kediri arah kertosono ke kediri. total volume pada jam puncak (peak hour) terjadi pada pagi hari yaitu sekitar jam 07.00 – 08.00 sebesar 334 smp/jam. arah kertosono ke pare. total volume pada jam puncak (peak hour) terjadi pada pagi hari yaitu sekitar jam 08.00 – 09.00 sebesar 126 smp/jam. arah kertosono ke nganjuk. total volume pada jam puncak (peak hour) terjadi pada pagi hari yaitu sekitar jam 08.00 – 09.00 sebesar 65 smp/jam. arah pare ke kediri. total volume pada jam puncak (peak hour) terjadi pada pagi hari yaitu sekitar jam 09.00 – 10.00 sebesar 65 smp/jam. arah pare ke kertosono. total volume pada jam puncak (peak hour) terjadi pada pagi hari yaitu sekitar jam 08.00 09.00 sebesar 86 smp/jam. arah pare ke nganjuk. total volume pada jam puncak (peak hour) terjadi pada sore hari yaitu sekitar jam 16.00 – 17.00 sebesar 614 smp/jam. pada simpang papar volume lalu-lintas saat jam puncak (peak hour) yaitu pada pukul 07.30 – 08.30 sebesar 1593 smp/jam. untuk uraian lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini: hal 116 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 tabel1 volume lalu-lintas simpangpapar waktu total 22/08/2017 (smp) total 23/08/2017 (smp) 07.00-08.00 1004 1530 07.15-08.15 1079 1548 07.30-08.30 1113 1593 07.45-08.45 1158 1512 08.00-09.00 1213 1434 08.15-09.15 1261 1363 08.30-09.30 1236 1279 08.45-09.45 1179 1294 09.00-10.00 859 1337 15.00-16.00 1375 1266 16.00-17.00 1501 1383 17.00-18.00 1277 1328 berdasarkan sumber: hasil perhitungan 2019 tabel 1 dilakukan survey dua hari sehingga menghasilkan perbandingan yang terlihat pada grafik gambar 4 berikut ini. gambar 4 grafik. jumlah lalu-lintas di simpang papar berdasarkan perhitungan jumlah kendaraan di simpang papar, peramalan arus lalu lintas digunakan data pertumbuhan kendaraan yang diambil berdasarkan data dari badan pusat statistik (bps) kabupaten kediri dalam angka seperti pada tabel 2 berikut. hal 117 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 truk 8.5 8.2 8.9 9.6 bus 349 382 455 560 % pertumbuhan kend. berat -3,0 8,6 9,0 jeep 1.1 1.12 1.18 1.2 sedan 2.2 2.02 2.08 2.1 colt-stwg 13.3 14.5 16.1 18.5 33.9 332.7 332.6 354.4 -5,0 3,059 6,574 1,53 tabel 2 pertumbuhan kendaaraan lv, hv, dan mc, kabupaten kediri rata rata no. jenis kendaraan tahun % 2013 2014 2015 2016 8,84 % pertumbuhan kend. ringan 5,3 10,1 13,1 11,64 sepeda motor % pertumbuhan sepeda motor sumber: kabupaten kediri dalam angka pada tabel 2 merupakan penjelasan dari parameter-parameter kinerja simpang papar pada tahun 2017 dan prediksi berdasarkan pertumbuhan kendaraan pada tahun 2021. hasil perhitungan kinerja simpang papar dihitung berdasarkan ds pada tahun 2017 ke tahun 2021 nilai ds meningkat diakibatkan pertumbuhan arus lalu-lintas kendaraan untuk lebih jelasnya kinerja simpang papar disampaikan pada tabel 3 berikut. tabel 3 kinerja lalu-lintas simpang papar berdasarkan pertumbuhan kendaraan di kabupaten kediri tahun 2021 kode pendekat arus lalu-lintas kapasitas derajat panjang (smp/jam) (smp/jam) jenuh antrian (meter) u 450 980 0,46 108,6 s 173 1010 0,17 34,3 t 140 636 0,22 146,7 b 294 888 0,33 62,9 sumber: hasil perthitungan (2019) berdasarkan hasil perhitungan peramalan, simpang papar akan menurun nilai ds nya dengan dilakukan rencana pembangunan jalan tol kertosono kediri sehingga pada nilai ds dibawah 1 (satu). tahun 2021 ds terendah adalah 0,17, sedangkan ds tertinggi 0,46. peramalan kinerja lalu lintas berfungsi untuk memperbaiki dan memperlancar kembali arus lalu lintas yang stabil dan tidak terjadi kemacetan. peramalan dilakukan pada tahun 20145. arus lalu lintas dan nilai ds tahun 2021 dapat dilihat pada tabel 4 berikut. hal 118 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 tabel 4 kinerja lalu-lintas simpang papar berdasarkan pertumbuhan kendaraan di kabupaten kediri tahun 2045 kode arus lalu-lintas kapasitas derajat panjang pendekat (smp/jam) (smp/jam) jenuh antrian (meter) u 2462 980 2,51 342,9 s 946 1010 0,94 114,3 t 769 636 1,21 116,7 b 1609 888 1,81 214,3 sumber: hasil perthitungan (2019) berdasarkan hasil perhitungan peramalan, simpang papar setelah dilakukan pembangunan jalan tol kertosono – kediri mengalami peningkatan volume lalu-lintas seiring pertumbuhan angka kendaraan. tahun 2045 ds terendah adalah 0,94, sedangkan ds tertinggi 2,51. berdasarkan tabel diatas arus lalu lintas simpang bypass krian memiliki tingkat pelayanan tipe f yakni nilai ds>1 sehingga menyebabkan kemacetan, antrian yang panjang dan kecepatan laju kendaraan kadang-kadang nol. 4. kesimpulan berdasarkan penjelasan yang sudah diuraikan, maka ada beberapa kesimpulan yang didapat untuk kinerja simpang bersinyal simpang papar akibat pembangunan jalan tol kertosono-kediri, antara lain: simpang papar akan menurun nilai ds nya dengan dilakukan rencana pembangunan jalan tol kertosono kediri sehingga pada nilai ds dibawah 1 (satu). tahun 2021 ds terendah adalah 0,17, sedangkan ds tertinggi 0,46. berdasarkan hasil perhitungan peramalan, simpang papar setelah dilakukan pembangunan jalan tol kertosono – kediri mengalami peningkatan volume lalu-lintas seiring pertumbuhan angka kendaraan. tahun 2045 ds terendah adalah 0,94, sedangkan ds tertinggi 2,51. solusi untuk menangani kepadatan lalu-lintas pada tahun 2045 tersebut adalah dengan rekaysa lalu-lintas terutama pengaturan sinyal dan pembatasan kendaraan. hal 119 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 daftar pustaka [1] april gunarto, a. i. c. k. (2019). penelitian campuran aspal beton dengan menggunakan filler bunga pinus. ukarst, 3(1), 37. https://doi.org/10.30737/ukarst.v3i1.351 [2] badan pusat statistik (2016). kabupaten kediri dalam angka. badan pusat statistik kabupaten kediri. kediri. [3] candra, a i, mudjanarko, s. w., & limantara, a. d. (2017). manajemen data lalu lintas kendaraan berbasis sistem internet cerdas kadiri. semnastek, 4(2), 1–2. retrieved from jurnal.umj.ac.id/index.php/semnastek [4] candra, agata iwan. (2018). studi kasus stabilitas struktur tanah lempung pada jalan totok kerot kediri menggunakan limbah kertas. ukarst, 2(2), 11. [5] direktorat jenderal bina marga, 1997. manual kapasitas jalan indonesia. jakarta: badan penerbit pekerjaan umum. [6] direktorat jendral bina marga (2014). pedoman kapasitas jalan indonseia (pkji). jakarta. [7] mcshane, william r. & roess, roger p. (1990). traffic engineering. pearson higher education, inc. new jersey. [8] miro, fidel (2004). perencanaan transportasi untuk perencana dan praktisi. erlangga. [9] jakarta. oglesby, clarkson h dan hicks. r. g, 1998, “teknik jalan raya“, jakarta: erlangga. [10] wibisono, re., muhtadi, a., & cahyono msd., (2019). “kajian analisis lalulintas simpang bersinyal di by pass krian untuk perencanaan pelebaran jalan dan fly over”. gestram: jurnal perencanaan dan rekayasa sipil, vol.02, no.01, maret 2019, hal : 9-15. [11] pradipta, r. e., purba, t., wicaksono, y. w. y., & k idriastuti, a. (2017). evaluasi kinerja simpang bersinyal dan flyover di bundaran kalibanteng. jurnal karya teknik sipil, 6(1), 263-274. [12] budi, s., sihite, g., indriastuti, a. k., & priyono, e. y. (2017). perbandingan kinerja simpang bersinyal berdasarkan pkji 2014 dan pengamatan langsung (studi kasus: simpang jl. brigjend sudiarto/jl. gajah raya/jl. lamper tengah kota semarang. jurnal karya teknik sipil, 6(2), 180-193. [13] khairunnisa, n. f., yanti, a., priyono, e. e. y., & supriyono, s. (2017). evaluasi kinerja lalu lintas simpang di jalan layang dan bundaran kalibanteng, semarang dengan nilai ekuivalensi mobil penumpang simpang bersinyal terkoreksi. jurnal karya teknik sipil, 6(2), 107-117. [14] sraun, d., rumayar, a. l., & longdong, j. (2018). analisa kinerja lalu lintas persimpangan lengan tiga bersignal di manado (studi kasus: persimpangan jalan re martadinata). jurnal sipil statik, 6(7). [15] kristanto, h. s. (2013). evaluasi kinerja simpang bersinyal (studi kasus simpang bangak di kabupaten boyolali) (doctoral dissertation, universitas muhammadiyah surakarta). hal 120 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 studi bahan tambah serat eceng gondok pada laston tipe xi terhadap indeks marshall test menggunakan kerikil mantup sugeng dwi hartantyo 1 ; rasiyo hepiyanto 2 1,2 fakultas teknik unisla lamongan abstract laston is a mixture of coarse aggregate, fine aggregate, and filler with a binder under the temperature of 145-155oc with the composition being studied and regulated by technical specifications. laston itself is commonly used in indonesia with continuous gradations used for heavy traffic loads. water hyacinth is a water weed that once grow and develop, it has high cellulose fiber content, which is about 60%.for that, done a research to add a hot asphalt mixture material that aims to improve the quality of mixed result. the selected material is natural water hyacinth. the method used is trial and error with reference of sni 03-1737-1989. variations used are 3%, 5%, and 7% of the asphalt weight, asphalt level used is 5.61%.the result of this study is marshall evaluation where the greatest score obtained for stability is 1325 kg, flow is 3.73 mm, quotient marshall is 401.02 kg/mm, vma is 66.30%, vfwa is 19.25%, and vim score is 54.35 %. with this result, the asphalt mixture can not be used because the results of vma, vfwa, and vim have not been suitable on specification of sni 03-1737-1989. keywords: laston, asphalt concrete, water hyacinth, sni 03-1737-1989. abstrak laston adalah campuran agregat kasar, agregat halus, dan pengisi dengan pengikat di bawah suhu 145155oc dengan komposisi sedang dipelajari dan diatur oleh spesifikasi teknis. laston sendiri biasa digunakan di indonesia dengan gradasi kontinu yang digunakan untuk beban lalu lintas yang berat. eceng gondok adalah gulma air yang setelah tumbuh dan berkembang, ia memiliki kandungan serat selulosa yang tinggi, yaitu sekitar 60%. untuk itu, dilakukan penelitian untuk menambahkan bahan campuran aspal panas yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hasil campuran. bahan yang dipilih adalah eceng gondok air alami. metode yang digunakan adalah coba-coba dengan mengacu pada sni 03-1737-1989. variasi yang digunakan adalah 3%, 5%, dan 7% dari berat aspal, tingkat aspal yang digunakan adalah 5,61%. hasil penelitian ini adalah evaluasi marshall dimana skor terbesar yang diperoleh untuk stabilitas adalah 1325 kg, aliran adalah 3,73 mm, quotient marshall adalah 401,02 kg / mm, vma adalah 66,30%, vfwa adalah 19,25%, dan skor vim adalah 54,35%. dengan hasil ini, campuran aspal tidak dapat digunakan karena hasil vma, vfwa, dan vim belum sesuai dengan spesifikasi sni 03-1737-1989. kata kunci: laston, aspal beton, eceng gondok, sni 03-1737-1989. 1. pendahuluan jalan adalah sebagai salah satu prasarana transportasi sangat penting pada kemajuan pembangunan kehidupan masyarakan dalam memajukan kehidupan masyarakat. struktur perkerasan jalan mempunyai peran penting dalam memberikan pelayanan yang optimal agar masyarakat dapat menikmati jalan dengan nyaman dan cepat sampai tujuan agar dapat tercipta pemerataan pembangunan. perkerasan jalan merupakan lapisan perkerasan yang terletak hal 135 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 diantara lapisan tanah dasar dan roda kendaraan yag berfungsi memberikan pelayanan kepada sarana transportasi, kemudian diharapkan agar waktu yang telah ditentukan tidak terjadi kerusakan yang berart (www.ilmutekniksipil.com).diakse tgl 27april.salah satu jenis perkerasan aspal pada spesifikasi ini adalah lapis beton aspal (laston) atau lebih dikenal dengan ac (asphaltconcrete). laston lebih tahan terhadap pelelehan plastis akan tetapi cukup peka terhadap retak. tipe kerusakan umum yang dialami campuran laston adalah retak dan atau pelepasan butir. dari hasil penelitian disimpulkan bahwa campuran ini perlu perbaikan dalam hal kelenturan dan keawetannya (yamin, 2002). bahan tambah additive sebagai campuran aspal yang di gunakan biasanya serat selulosa contohnya road cell 50. untuk mendapatkan bahan adiktif tersebut tidak mudah dan bahan tersebut mahal. oleh karena itu perlu dicari alternatif pengganti serat selulosa tersebut. eceng gondok merupakan suatu gulma air yang sekali tumbuh dan berkembang ternyata mempunyai kandungan serat selulosa cukup tinggi, yakni berkisar 60%. hal ini sangat memungkinkan bahwa eceng gondok berpotensi sebagai bahan dasar pembuatan selulosa yang kedepannya dapat diaplikasikan ke arah yang beragam. maka dari itu penelitian ini akan menggunakan eceng gondok sebagai bahan adiktif karena merupakan serat alami yang mudah di temukan dan murah (kumalawati, 2013). beban lalu lintas yang melewati batas syarat batas sering terjadi sehingga perlu adanya pertimbangan khusus dalam melakukan perencanaan campuran aspal termasuk meningkatkan mutu aspal. pemikiran untuk memodifikasi bahan aspal dengan additive yang diharapkan dapat memperbesar energi perlekatan aspal terhadap batuan. zat additive biasanya dapat mengurangi kerusakan pengelupasan akibat terbakar oleh sinar matahari salah satunya adalah menggunakan serat eceng gondok. maka motifasi saya untuk melakukan penelitian ini adalah untuk memanfaatkan serat eceng gondok sebagai bahan tambahan campuran laston. mengingat harga bahan tambahan ini cukup mahal dipasaran maka peneliti ingin menciptakan sebuah terobosan baru untuk membuat serat selulosa dengan menggunakan serat eceng gondok. tujuan dari penelitian ini antara lain untuk mengetahui proses pembuatan benda uji laston tipe xi sni 03 1737 1989 dengan menggunakan kerikil mantup dan tambahan (additive) serat eceng gondok dan untuk mengetahui proses pengujian pembuatan laston tipe xi sni 03 1737 1989 terhadap indeks marshall test dengan menggunakan kerikil mantup dan tambahan (additive) serat eceng gondok. 2. metode penelitian 2.1 rancangan penelitian rancangan penelitian adalah proses pengumpulan dan analisis data penelitian. dalam penelitian ini meliputi perencanaan dan melakukan penelitian. untuk rancangan perencanaan diawali hal 136 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 dengan observasi dan evaluasi penelitian yang telah dilakukan dan telah dikenal, sampai pembentukan kerangka diperlukan bukti lebih lanjut. pada pembahasan karya ilmiah ini penelitian awal menggunakan metode penelitian laboratorium dengan cara coba-coba /trial and error. tujuan dari penelitian ini sendiri yaitu untuk mendapatkan hasil dari uji coba pencampuran bahan organik atau gulma berupa eceng gondok. dimana bahan eceng gondok tersebut nantinya akan di campur dengan campuran aspal panas. standar yang digunakan dalam penelitian ini telah diakui dan dipakai di indonesia. 2.2 lokasi penelitian dan waktu penelitian waktu penelitian ini dilakukan mulai bulan april 2018 sampai selesai , bertempat di laboratorium fakultas teknik sipil, universitas islam lamongan. jl. veteran no.53 a lamongan. selanjutnya akan dilakukan proses penyusunan laporan dari kegiatan eksperimen tersebut yang nantinya hasil tersebut akan digunakan sebagai bahan pengetahuan bagi mahasiswa dan juga universitas. 2.3 teknik pengumpulan data untuk memperoleh data – data yang diperlukan dalam penelitian, maka dilakukan experimen / percobaan di laboratorium. disamping itu dilakukan pula beberapa wawancara dengan pihak terkait yang berkepentingan. adapun teknik pengumpulan data yang digunakan penulis adalah sebagai berikut: 1. data primer data primer merupakan data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber aslinya baik secara wawancara, jajak pendapat dari individu atau kelompok, maupun hasil observasi dari suatu obyek, kejadian, atau hasil pengujian. 2. data sekunder data sekunder merupakan data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung, misalnya melalui buku, catatan, bukti yang telah ada, atau arsip, baik yang dipublikasikan maupun yang tidak dipublikasikan secara umum. dalam hal ini peneliti mengumpulkan data dengan cara berkunjung ke perpustakaan, pusat kajian, pusat arsip atau membaca banyak buku yang berhubungan dengan penelitian. 2.4 analisis data setelah dilakukan penelitian penambahan serat enceng gondok pada campuran aspal panas, peneliti dapat membandingkan hasil dari test marshall properties dengan menggunakan dua jenis benda uji dimana dua benda uji tersebut sebelum diberikan tambahan dan sesudah diberikan tambahan serat enceng gondok. setelah dilakukan pengujian akan mendapatkan hasil, yang selanjutnya dilakukan dengan membuat pemodelan matematika dengan bantuan software ms excell 2007 untuk mengetahui hubungan antara kadar penambahan. serat selulosa hal 137 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 dengan kualitas aspal dan nilainilai marshall properties. hasil akhir merupakan model matematika hubungan pengaruh antara penambahan serat enceng gondok terhadap kualitas aspal (penetrasi, titik lembek, titik nyala dan titik bakar aspal serta kehilangan berat aspal) dan, nilainilai marshall properties. hasil analisis data digunakan sebagai dasar untuk menarik kesimpulan penelitian. 3. hasil dan pembahasan 3.1 proses pembuatan job mix formula dalam perencanaan job mix formula proporsi campuran agregat laston tipe xi sni 03-17371989 diperoleh dengan menggunakan metode trial and error dengan prosedur kerjanya sebagai berikut, pertama dengan memahami batasan gradasi yang disyaratkan dan selanjutnya memasukkan data spesifikasi yang disyaratkan. setelah diperoleh komposisi campuran kerja dengan menggunakan metode trial and error, kemudian dilakukan penimbangan sesuai dengan proporsi campuran laston tipe xi sni 03-17371989 : 3.2 hasil pengujian marshall test pengujian marshall test dilakukan bertahap sesuai dengan tujuan penelitian, yakni pertama dilakukan untuk mengetahui kadar aspal yang digunakan apakah sudah memenuhi syarat dan kedua untuk mengetahui pengaruh penambahan serat selulosa dalam campuran terhadap nilai nilai marshall properties yaitu stabilitas marshall (marshall stability), persentase rongga terisi aspal (void filed with asphalt / vfwa), rongga dalam campuran (void in the mix / vim), rongga dalam agregat (void in mineral aggregate), kelelahan plastis (flow), dan marshall quotient (mq). untuk hasil marshall test dengan penambahan serat selulosa dapat dilhat pada tabel 1. tabel 1: hasil marshall test dengan penambahan serat eceng gondok hal 138 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 sumber : hasil perhitungan stabilitas (stability) stabilitas adalah kemampuan maksimal suatu benda uji campuran beton aspal menahan beban sampai terjadi kelelehan plastis. nilai stabilitas akan bertambah dengan naiknya kadar aspal sampai ke batas optimum dan akan mengalami penurunan setelah batas optimum. gambar 1: grafik hubungan stability marshal dengan kadar serat selulosa hal 139 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 sumber : hasil penelitian,2018 rongga dalam campuran (void in the mix) rongga udara dalam campuran (vim) dalam campuran perkerasan beraspal terdiri atas ruang udara diantara partikel agregat yang terselimuti aspal. gambar 2: grafik hubungan void in the mix dengan kadar serat selulosa sumber : hasil penelitian,2018 rongga dalam mineral (void in mineral aggregate) rongga antar mineral agregat (vma) adalah ruang rongga diantara partikel agregat pada suatu perkerasan, termasuk rongga udara dan volume aspal efektif (tidak termasuk volume aspal yang diserap agregat). gambar 3: grafik hubungan void in mineral agregate dengan kadar serat selulosa sumber : hasil penelitian,2018 hal 140 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 rongga terisi campuran beraspal (void filled with asphalt) rongga terisi aspal atau void filled with asphalt (vfwa) adalah persen rongga yang terdapat diantara partikel agregat (vma) yang terisi oleh aspal, tidak termasuk aspal yang diserap oleh agregat. rongga terisi campuran beraspal (void filled with asphalt) rongga terisi aspal atau void filled with asphalt (vfwa) adalah persen rongga yang terdapat diantara partikel agregat (vma) yang terisi oleh aspal, tidak termasuk aspal yang diserap oleh agregat. gambar 4: grafik hubungan void filled with asphalt dengan kadar serat selulosa sumber : hasil penelitian,2018 kelelehan (flow) flow adalah besarnya perubahan (deformasi benda uji) campuran dengan angka kelelehan tinggi serta stabilitas rendah di atas batas maksimum akan cenderung plastis. campuran dengan angka kelelehan rendah dan stabilitas tinggi dibawah optimum akan menyebabkan benda mudah retak bila diberi beban. flow dinyatakan dalam satuan panjang. nilai flow ditunjukkan oleh jarum arloji pembacaan flow pada alat marshall. untuk arloji pembacaan flow, nilai yang didapat sudah dalam satuan mm, sehingga tidak perlu dikonversi lebih lanjut. hal 141 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 gambar 5: grafik hubungan void filled with asphalt dengan kadar serat selulosa sumber : hasil penelitian,2018 marshall quotient marshall quotient adalah perbandingan antara nilai stabilitas dengan flow. marshall quotient merupakan indikator dalam menentukan nilai fleksibitas kelenturan terhadap keretakan. kenaikan fleksibitas disebabkan oleh penambahan kadar aspal dan akan penurunan hingga batas optimum disebabkan oleh berubahnya fungsi aspal sebagai pengikat menjadi pelican. gambar 6 grafik hubungan marshall quotient dengan kadar serat selulosa sumber : hasil penelitian,2018 4. kesimpulan hal 142 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 dari hasil penelitian yang dilakukan mengenai pengaruh penggunaan serat eceng gondok sebagai bahan pengganti serat selulosa pada campuran laston tipe xi sni 03 – 1737 – 1989 yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. pada proses pembuatan benda uji memiliki tahapan sebagai berikut ; pertama pencarian eceng gondok sesuai kebutuhan dikali daerah deket, mencuci eceng gondok lalu menggilingnya, setelah digiling dikeringkan (dioven atau dijemur), timbang eceng gondok yang sudah menjadi serat sesuai kebutuhan, menimbang agregat sesuai presentase agregat campuran yang telah dihitungpada jmf ( job mix formula ), agregat dipanaskan dalam wajan dan diaduk hingga suhu mencapai 100º c, setelah mencapai suhu100º c lalu ditambahkan aspal panas dan di campur sampai merata, setelah temperatur pemadatan tercapai, maka campuran tersebut dimasukkan ke dalam cetakan (mold) yang telah dipanasi (100º c hingga 170º c) dan diolesi pelumas terlebih dahulu, pada bagian bawah cetakan dilapisi kertas yang telah dipotong sesuai dengan diameter cetakan (mold), pemadatan standar dilakukan dengan alat marshall dengan jumlah tumbukan 75 kali dibagian sisi atas kemudian dibalik dan sisi bagian bawah juga ditumbuk sebanyak 75 kali, setelah proses pemadatan selesai benda uji didiamkan agar suhunya turun, setelah dingin benda uji dikeluarkan dengan ejektor dan diberi kode, benda uji dibersihkan dari kotoran yang menempel dan diukur tinggi benda uji dan ditimbang beratnya di udara, benda uji direndam dalam air selama 10 – 24 jam supaya jenuh, setelah jenuh benda uji ditimbang dalam air, benda uji dikeluarkan dari bak perendam dan dikeringkan dengan kain pada permukaan agar kondisi kering permukaan jenuh (saturate surface dry, ssd) kemudian ditimbang. 2. pada proses pengujian benda uji dilakukan dengan menggunakan metode marshal test dengan hasil sebagai berikut ; pada kondisi aspal optimum marshall stability campuran semakin meningkat seiring bertambahnya prosentase kadar selulosa enceng gondok dalam campuran, pada kondisi aspal optimum persentase rongga dalam campuran (void in the mix) mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya persentase kadar selulosa enceng gondok dalam campuran, pada kondisi aspal optimum persentase rongga dalam campuran (void in mineral aggregate) mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya persentase kadar selulosa enceng gondok dalam campuran, pada kondisi aspal optimum persentase rongga terisi aspal (void filled with asphalt) mengalami penurunan seiring bertambahnya prosentase kadar selulosa dalam campuran, pada kondisi aspal optimum kelelahan plastis (flow) campuran semakin menurun seiring dengan bertambahnya persentase kadar selulosa enceng gondok dalam campuran, pada kondisi aspal optimum ternyata marshall quotient (mq)mengalami peningkatan seiring bertambahnya persentase kadar selulosa dalam campuran. daftar pustaka hal 143 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 [1] bssni, 1991.sksni 03-2417-1991.metode pengujian keausan agregat dengan mesin abrasi los angeles [2] bssni, 1991. sksni 03-2440-1991.metodepengujiankehilanganberat minyak dan aspal [3] bssni, 1997. sksni 03-4428-1997. metode pengujian agregat halus atau pasir yang mengandung bahan plastik dengan cara setara pasir [4] bssni, 1998. sksni 03-4804-1998.metode pengujian bobot isi dan rongga udara dalam agregat [5] bssni, 2002. sksni 13–6717–2002.tata cara penyiapan benda uji dari contoh agregat [6] bssni, 2008. sksni 1970-2008.cara uji berat jenis dan penyerapan air agregat halus [7] bssni, 2008. sksni 1969-2008.cara uji berat jenis dan penyerapan air agregat kasar [8] bssni, 2011.sksni 2433-2011.cara uji titik nyala dan titik bakar aspal dengan alat cleveland open cup [9] bssni, 2011. sksni 2439-2011. cara uji penyelimutan dan pengelupasan pada campuran agregataspal [10] bssni, 2011. sksni 2441-2011. tentang cara uji berat jenis aspal keras [11] bssni, 2011. sksni 2456-2011. tentang cara uji penetrasi aspal [12] bssni, sksni 03–6414–200. spesifikasi timbangan yang digunakan pada pengujian bahan [13] bssni, 2008. sksni 2417-2008.cara uji keausan agregat dengan mesin abrasi los angeles [14] bssni,2011. sksni 2434-2011. tentang cara ujititiklembekaspaldenganalatcincin dan bola (ring and ball) [15] kumalawati, a., tri, m.w., mastaram, y., 2013. analisis pengaruh penggunaan abu batu apung sebagai pengganti filler untuk campuran panas. jurnal teknik sipil. volume ii. no 2., p.191-200. [16] laboratorium teknik sipil universitas islam lamongan, 2016. panduan praktikum pelaksanaan perkerasan jalan. lamongan: universitas islam lamongan sni 031737-1989,tata cara pelaksanaan lapisaspal beton (laston) untuk jalan raya. jakarta. [17] spesifikasi umum, 2010 (revisi 3). lapis resap pengikat dan lapis perekat. jakarta hal 144 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 studi evaluasi pondasi tiang pancang (spun pile) dengan pondasi tiang bor (bored pile) pada gedung kantor pemerintah kabupaten lamongan dwi kartikasari1 ; deny sanhadi2 1,2 fakultas teknik universitas islam lamongan. email: dkartika27@gmail.com ; sanhadi.sh@gmail.com abstract foundation planning must be done carefully and correctly. the foundation's planning aims to compare the axial force acting with the carrying capacity of the foundation between the original foundation that made the pile and the pile in the construction of the lamongan regency government office building to get safe control. the carrying capacity of the foundation is planned to use standard penetration test (spt) data. the initial calculation of the loading analysis includes dead load, live load and earthquake. these costs are combined and then analyzed with the staad.pro program. calculation of reduction using the reduction method in clay. calculation of pile cap and foundation using sni 1726-2012. the output of the staad.pro program is obtained axial force in the column which is reviewed at 1260 kn. the carrying capacity of a single pole with a diameter of 40 cm with a depth of 20 m was obtained by compressive strength of 431.49 kn. taking into account the efficiency figures obtained by the carrying capacity (qg) of 1715.52 kn> 1260 kn, so that they meet the requirements. d16-125 mm flexural amplifier is planned to hold the moment in the pile cap that occurs at 211.6 kn-m. decrease in total (st) is a decrease in total direct (si) and decrease in consolidation (sc) that is 1.673 <15 cm. the total reduction (st) on the group pole meets the conditions permitted for the building based on rsni geotechnical. keywords: foundation carrying capacity, pile cap, group drop, bored pile abstrak perencanaan fondasi harus dilakukan dengan cermat dan benar. perencanaan yayasan ini bertujuan untuk membandingkan gaya aksial yang bertindak dengan daya dukung yayasan antara yayasan asli yang membuat tiang pancang dan tiang pancang pada konstruksi gedung kantor pemerintah kabupaten lamongan untuk mendapatkan kontrol yang aman. daya dukung yayasan direncanakan untuk menggunakan data uji penetrasi standar (spt). perhitungan awal analisis pemuatan meliputi beban mati, beban hidup, dan gempa bumi. biaya-biaya ini digabungkan kemudian dianalisis dengan program staad.pro. perhitungan reduksi menggunakan metode reduksi dalam tanah liat. perhitungan pile cap dan pondasi menggunakan sni 1726-2012. output dari program staad.pro diperoleh gaya aksial di kolom yang ditinjau pada 1260 kn. daya dukung tiang tunggal diameter tiang 40 cm dengan kedalaman 20 m diperoleh kuat tekan 431,49 kn. dengan memperhitungkan angka efisiensi yang diperoleh kelompok daya dukung (qg) dari 1715,52 kn> 1260 kn, sehingga memenuhi persyaratan. penguat lentur d16-125 mm direncanakan untuk menahan momen di pile cap yang terjadi pada 211,6 kn-m. penurunan total (st) adalah penurunan total langsung (si) dan penurunan konsolidasi (sc) yaitu 1,673 <15 cm. penurunan total (st) pada tiang grup memenuhi kondisi yang diizinkan untuk bangunan berdasarkan rsni geoteknis. kata kunci: daya dukung pondasi, pile cap, group drop, bored pile. 1. pendahuluan gedung kantor pemerintah kabupaten (pemkab) lamongan dibangun guna memberikan pelayanan publik kepada masyarakat kabupaten lamongan. gedung kantor pemkab lamongan hal 121 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 dibangun pada area kompleks alun-alun kota lamongan. sama halnya gedung-gedung lainnya, gedung pemkab lamongan terbagi atas dua bagian yaitu struktur bawah dan struktur atas. umumnya kestabilan suatu struktur tidak hanya ditentukan oleh struktur atas yang secara langsung menerima beban-beban yang bekerja pada struktur tersebut. namun ada bagian terpenting dari struktur gedung adalah pondasi yang menjaga kestabilan struktur bagian bawah (indra dwi prasetya ,2018). pondasi adalah struktur bangunan paling bawah yang berfungsi untuk menahan dan menyalurkan beban dari atas ke tanah (candra, n.d.). pondasi juga berguna untuk penentu letak struktur bangunan diatasnya yang berupa kolom (candra, yusuf, & f, 2018). sampai saat ini dan waktu yang akan datang pondasi akan masih menjadi struktur terpenting dari sebuah bangunan khususnya pada bangunan gedung (candra, cahyo, et al., 2019). walaupun bukan hal baru, perencanaan dan perhitungan pondasi selalu memerlukan pertimbangan-pertimbangan khusus agar mendapat kualitas dan keamanan yang baik nantinya (candra, gardjito, cahyo, & prasetyo, 2019). berdasarkan jenis tanah dan kedalaman tanah keras, pondasi dibedakan menjadi dua yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam. pondasi yang saat ini digunakan pada proyek pembangunan gedung kantor pemkab lamongan adalah pondasi dalam jenis tiang pancang (spun pile) yang mempunyai beberapa kelemahan bila di bandingkan dengan pondasi dalam jenis tiang tiang bor (bored pile). diantaranya yaitu , proses pemasangan yang sering menimbulkan gangguan suara dan getaran yang membahayakan bangunan disekitarnya, kedalaman tiang yang tidak dapat di variasikal (mengikuti panjang dari pabrik), rawannya patah pada sambungan tiang yang berakibat pada pembengkakat biaya. permasalahan penting dalam perencanaan pondasi tiang bor adalah besar daya dukung tanah yang mampu menahan beban kerja yang dipikul pondasi. masalah lainnya adalah mengenai penurunan tanah akibat beban yang dipikul pondasi maupun beban dari pondasi tiang bor itu sendiri sehingga mengakibatkan pemampatan tanah dibawah ujung pondasi. tujuan penelitian 1. membandingkan antara gaya aksial yang bekerja dengan daya dukung pondasi. 2. mengetahui desain pile cap dan pondasi tiang bor. 3. mengetahui besar penurunan yang terjadi pada pondasi. hal 122 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 2. metode penelitian sebelum melakukan analisa daya dukung pondasi perlu dilakukan analisa pembebanan. perhitungan beban meliputi beban mati, beban hidup, dan beban gempa yang kemudian dianalisa dengan bantuan progamstaad.pro untuk mempermudah dalam menyediakan data-data untuk perhitungan daya dukung pondasi. pada rencana daya dukung pondasi ditinjau pada 3 (tiga) kondisi yaitu kondisi tekan, tarik dan horisontal. tahap awal dilakukan perhitungan daya dukung tiang tunggal sebelum diperoleh kuat dukung tiang kelompok. pile cap direncanakan bertujuan untuk mengikat dan mempersatukan tiang-tiang. penurunan total (st)tiang kelompok harus memenuhi syarat aman <15+600/b cm, apabila nilai stmelebihi batas aman maka perlu dilakukan analisa ulang 3. hasil dan pembahasan analisa strukur tabel 1. beban yang bekerja beban jumlah beban mati 4,42 kn/m² beban hidup 2,50 kn/m² beban atap kuda-kuda rd 1,27 kn rl 0,43 kn sumber: hasil perhitungan tabel 2. beban yang bekerja lantai wtotal hi k w�k� � cvx v fx fy [kn] [m] [kn.m] [kn] [kn] [kn] 1 16384,38 4.55 1,45 147748,90 0,158 5738,2 906,5 271,95 tabel 2. lanjutan lantai wtotal hi k w�k� � cvx v fx fy [kn] [m] [kn.m] [kn] [kn] [kn] 2 17062,56 5 1,45 176436,80 0,189 5738,2 1082,51 324,75 3 17619,39 5 1,45 182194,76 0,195 5738,2 1117,83 335,35 4 15587,42 4 1,45 116588,51 0,125 5738,2 715,31 214,59 5 1319082 4 1,45 98662,76 0,105 5738,2 605,33 181,6 hal 123 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 6 13190,82 4 1,45 98662,76 0,105 5738,2 605,33 181,6 7 12068,05 4 1,45 90264,82 0,097 5738,2 553,81 166,14 8 3302,98 4 1,45 24705,13 0,026 5738,2 151,58 45,47 sumber: hasil perhitungan gambar 1. permodelan beban arah y gambar 2. permodelan beban arah x hal 124 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 gambar 4. titik perencanaan pondasi bore pile kombinasi pembebanan menggunakan kombinasi 1,2d + 1,0e + 1,0l. selanjutnya beban-beban tersebut diinput dan dianalisa kedalam progam staad.pro. hasil keluaran dari staad.pro pada titik kolom yang ditinjau yaitu titik 5-i diperoleh gaya aksial yang bekerja adalah 1260 kn. kemudian direncanakan daya dukung tiang tunggaldihitung berdasarkan data n-spt untuk menahan besar gaya aksial yang bekerja. gambar 5. kalibrasi harga n daya dukung tiang tunggal depth = 20 m dtiang = 0,40 m n� = �� � �� � = �� � �� � = 17,50 panjang ekivalen tiang = 0,80 m dari gambar 6 didapat nilai qd/n adalah sebesar 11. kemudian qd dihitung berdasarkan persamaan dibawah. qd = 17,50 × 11 = 1925 kn/m2 12 18 21 19 20 18 22 21 hal 125 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 gambar 6. diagram intensitas daya dukung ultimit tanah pondasi pada ujung tiang tabel 3. gaya gesek keliling tiang depth m li m deskripsi tanah n fi t/m² fi × li t/m 0 urugan batu kapur 1 2 2 4 0,8 1,6 3 2 lanau kelempungan 4 lanau kelempungan sedikit pasir dan kulit kerang 5 2,5 5 5 2 6 7 3,5 7 7 2 8 10 5 10 9 2 10 lanau kelempungan 14 12 24 11 2 12 10 10 20 13 2 14 16 12 24 15 2 16 12 12 24 17 2 18 12 12 24 19 2 20 18 12 24 jumlah ∑ 139,60 sumber: hasil perhitungan qa = ��× �� � + ʃ �� .��× � � = ���,�(¼ × � × �,���) � + ����(� × �,��) � = 431,49 kn pta = ʃ �� .�� × ��� × �,�� � × wp = ���� (� × �,��) × �,�� � +60,32 kn = 305,92 kn daya dukung tiang kelompok  daya dukung tekan qg = η × n × qa = 0,795 × 5 × 431,49 = 1715,52 kn ≥ pu = 1260 kn ….√  daya dukung tarik pg = η × n × pta = 0,795 × 5 × 305,92 = 1216,27 kn  daya dukung horisontal hal 126 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hu = � �� �� �⁄ � � �⁄ = � × ��,� � × �,�� �⁄ � �,����� �� �⁄ = ��,�� �,�� � �,����� �� 43,80= 0,60 + 0,00356 hu2 hu = 110,14 kn≥ �� �� =77,94 kn….√ distribusi beban maksimum p = ∑� � ± �� ���� �� ∑� � ± �� ���� �� ∑� � pmax = 258,44≤ qall = 431,49 kn ...√ pmin = 245,55≤ qall = 431,49 kn ...√ pile cap kebutuhan luas tulangan (asperlu) untuk pile cap adalah sebesar 2485 mm2. direncanakan tulangan lentur d19-125 dengan aspakai 2551 mm2 untuk menahan momen ultimit yang terjadi sebesar 84,63 kn-m. kontrol kapasitas momen terhadap momen ultimit : ømn = 564,37≥ mu = 84,63 kn-m …√ gambar 7. penulangan pile cap  perhitungan geser satu arah : øvc = 0,75× 1540,60 = 1155,47 kn≤ vu = 516,89 kn …√ (tidak perlu tulangan geser)  perhitungan geser dua arah : øvc = 0,75× 6818,63 = 5113,97 kn ≤ vu = 1292,22 kn ….√ (tidakperlu tulangan geser) hal 127 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 perencanaan tiang bor  rencana tulangan longitudinal : gambar 8. penampang tiang 40cm ag = ¼ × π × d2 = 125663,71 mm2 asmin = 0,01× ag = 1256,64 mm2 asmax = 0,08× ag = 10053,10 mm2 luas tulangan longitudinal rencana tidak disarankan kurang dari asmin dan tidak lebih besar dari asmax. maka direncanakan tulangan longitudinal 8 d16 (ast = 1608,50mm2) dan tulangan spiral ø10-75 mm (bjtp 24). as = as’ = ½ × ast = 804,25 mm2  kuat beton pengisi : analisa penampang dalam bentuk bulat diekivalenkan sehingga menjadi penampang persegi. gambar 9. penampang ekivalen pemeriksaan pub dan mub : pub = 1195,51 kn ≥ pmax = 258,44kn ….√ (terjadi keruntuhan tarik) mub = 178,99 kn-m kontrol eksentrisitas : e = �� �� = ��,�� ���,�� = 0,085 m eb = ��� ��� = ���,�� ����,�� = 0,149 m diperoleh bahwa e ≤ eb,maka termasuk tiang dengan “eksentrisitas kecil”. øpn = 1951,34≥ pmax = 258,44 kn…√ penurunan pondasi saat pondasi tiang dibebani, tanah dibawah ujung tiang akan mengalami penurunan. penurunan dibagi menjadi 2 macam, yaitu: penurunan segera, penurunan konsolidasi. hal 128 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855  penurunan segera penurunan segera adalah penurunan akibat massa tanah yang tertekan dan terjadi segera setelah terjadi pemberian beban. si = µ1 × µ0 × � × � � = 0,50 × 0,48 × �,�� × ��,�� ���� = 0,887 cm  penurunan konsolidasi penurunan konsolidasi terjadi akibat pengurangan kelebihan tekanan air pori yang meninggalkan rongga pori pada lapisan tanah yang tertekan. sc = �� � � �� × log �� � ∆� �� × h = �,��� � � �,��� × log ��,�� � �,��� ��,�� × 16,67 = 0,785 cm  penurunan izin penurunan total merupakan jumlah dari penurunan segera dan penurunan konsolidasi.nilai stotal harus lebih kecil dari sizin untuk memenuhi syarat aman penurunan tiang kelompok. sizin = 15 + � ��� = 15,20 ≥ stotal = 1,673 cm …√ 4. kesimpilan dan saran kesimpulan tugas akhir ini disusun guna merencanakan kuat dukung pondasi tiang bor terhadap beban aksial yang bekerja akibat beban struktur atas. yang digunakan sebagai pembanding dengan pondasi tiang awal yaitu tiang pancang. dalam perencanaan pondasi ini memakai data tanah n-spt untuk menghitung daya dukung pondasi. pemakaian 5 tiang bor berdiameter 40 cm dengan kedalaman 20 meter mampu menghasilkan daya dukung sebesar 1715,52 kn dan mampu menahan beban aksial yang terjadi sebesar 1260 kn. penurunan yang terjadi pada kelompok tiang adalah 1,673 cm dan dirasa sangat aman karena masuk dalam persyaratan ≤ 15 + b/600 cm. sedangkan perencanaan pondasi awal menggunakan 5 tiang pancang dengan kedalaman 21 m saran hal 129 ukarst vol.3, no.2 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 dalam perencanaan tugas akhir ini penulis memakai data tanah n-spt untuk perhitungan daya dukung pondasi. agar lebih spesifik perhitungan daya dukung pondasi perlu juga dibandingkan dengan data tanah lain, misal cpt atau sejenisnya daftar pustaka [1] budi, gogot setya. 2011. pondasi dangkal. yogyakarta: c.v andi offset. [2] bowles, j.e. 1988. dalam jurnal indra dwi prasetya 2018analisis dan desain pondasi. jakarta: erlangga. [3] candra, a. i. (n.d.). analisis daya dukung pondasi strous pile pada pembangunan gedung mini hospital universitas kadiri agata. ukarst, 1, 63–70. [4] candra, a. i., cahyo, y., ridwan, a., winarto, s., gardjito, e., siswanto, e., … kadiri, u. (2019). pengecekan kelayakan bangunan gedung sma negeri 1 kota kediri yang digunakan untuk aktifitas. 2(2), 108–116. [5] candra, a. i., gardjito, e., cahyo, y., & prasetyo, g. a. (2019). pemanfaatan limbah puntung rokok filter sebagai bahan campuran beton ringan berpori. ukarst, 3(1), 82–89. [6] candra, a. i., yusuf, a., & f, a. r. (2018). studi analisis daya dukung pondasi tiang pada pembangunan gedung lp3m. 3(2), 166–171. [7] dipodusodo, istimawan. 1994. struktur beton bertulang berdasarkan sk sni t-15-1991-03 departemen pekerjaan umum ri. jakarta: gramedia pustaka utama. [8] hardiyatmo, h.c. 2002. teknik pondasi 1. edisi ke-2. yogyakarta: beta offset. [9] hardiyatmo, h.c. 2008. teknik pondasi 2. edisi ke-4. [10] pamungkas, a. dan harianti, e. 2013. desain pondasi tahan gempa. yogyakarta: c.v andi offet. [11] santoso, b. dkk. 1998.dalam jurnal indra dwi prasetya 2018mekanika tanah lanjutan. jakarta: gunadarma. [12] sardjono. 1996. pondasi tiang pancang jilid i. edisi ke-3. surabaya: sinar wijaya. [13] sardjono. 1988. pondasi tiang pancang jilid i. edisi ke-1. surabaya: sinar wijaya. [14] nakazawa k. 1983 dalam jurnal indra dwi prasetya 2018dalam jurnal indra dwi prasetya 2018pondasi tiang pancang. [15] sni 03-1727:1989 pedoman perencanaan pembebanan untuk rumah dan gedung. [16] sni 03-2847:2002 tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan gedung. jakarta: gd. manggala wanabakti. [17] sni 1726:2012 tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung dan non gedung. jakarta: gd. manggala wanabakti. [18] sni 1727:2013 beban minimum untuk perancangan bangunan gedung dan struktur lain. jakarta: gd. manggala wanabakti. [19] sni 2847:2013 persyaratan beton struktural untuk bangunan gedung. jakarta: gd. manggala wanabakti. [20] sosrodarsono, s. dan nakazawa, k. 2000. mekanika tanah & teknik pondasi. edisi ke-7. jakarta: pt pradnya pramita. [21] wininda else indana. 2018. studi perencanaan pondasi tiang bor pada hotel rayz malang, skripsi tidak diterbitkan. malang. progam sarjana universitas muhammadiyah malang. [22] indra dwi prasetya. 2018. studi perencanaan pondasi tiang pancang (spun pile) pada gedung pemerintahan kabupaten lamongan, skripsi tidak diterbitkan. malang. progam sarjana universitas muhammadiyah malang. hal 130 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 pengujian perkerasan aspal porus dengan penambahan tread ban bekas pada uji marshall sulik anam1, herlan pratikto2 1,2 fakultas teknik universitas kadiri email: sulik_anam@unik-kediri.ac.id, herlan_pratikto@unik-kediri.ac.id abstract tread used tires is a term waste from the component of the sole of an outer tire of a vehicle made of solid rubber structure. the waste is solid, not brittle (resilient) and resistant to water. from some of the definitions of the nature so that tread used tires can be used as a media to increase the asphalt pavement component in the preparation of the following research. from the research that has been done with volumetric and marshall parameters, asphalt pavement without the addition of used tire tread shows the calculation of vma 17.44%, vim 5.14%, vfb 67.27%, stability 1217kg, flow 3 mm, and mq 434 kg / mm. the addition of 10% tire tread shows the calculation of vma 16.1%, vim 3.4%, vfb 64.82%, stability 1145kg, flow 3mm, and mq 398 kg / mm. in testing the ac-bc mixture with the addition of used tire tread using the marshall method, it was shown that the tread of used tires was suitable as an additive in porous asphalt mixes, it was based on the general specifications of bina marga 2010 division 6 on road pavement. keywords : asphalt, used tread tires, marshall abstrak tread ban bekas adalah istilah limbah dari komponen sol ban luar kendaraan yang terbuat dari struktur karet padat. limbah tersebut padat, tidak rapuh (ulet) dan tahan air. dari beberapa definisi sifat ban bekas tapak dapat digunakan sebagai media untuk menambah komponen aspal perkerasan dalam persiapan penelitian berikut ini. dari penelitian yang telah dilakukan dengan parameter volumetrik dan marshall, perkerasan aspal tanpa penambahan tapak ban bekas menunjukkan perhitungan vma 17,44%, vim 5,14%, vfb 67,27%, stabilitas 1217kg, arus 3 mm, dan mq 434 kg / mm. penambahan tapak ban 10% menunjukkan perhitungan vma 16.1%, vim 3.4%, vfb 64.82%, stabilitas 1145kg, flow 3mm, dan mq 398 kg / mm. dalam pengujian campuran ac-bc dengan penambahan tapak ban bekas menggunakan metode marshall, ditunjukkan bahwa tapak ban bekas sesuai sebagai aditif dalam campuran aspal berpori, berdasarkan spesifikasi umum divisi bina marga 2010 6 di trotoar jalan. kata kunci: aspal, tread ban bekas, marshall 1. pendahuluan sejak dulu dalam perkerasan jalan terdiri dari 4 komponen utama yaitu agregat kasar, halus, bahan pengisi dan aspal. aspal merupakan instrumen utama yang dipakai untuk pembuatan jalan raya, material ini memiliki sifat fleksibilitas, stabilitas, durabilitas, dan tahan air. sedangkan agregat kasar yang digunakan berupa batu koral dengan spesifikasi tertentu yang merupakan hasil dari mesin batu pecah. untuk agregat halusnya memakai pasir kali yang berkualitas baik, serta untuk bahan pengisinya menggunakan semen. penggunaan bahan tambahan dalam perkerasan jalan juga sudah banyak diteliti untuk mendapatkan kualitas hal 154 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 perkerasan yang baik, pada penelitian kali ini dicoba dengan penambahan tread ban bekas pada campuran aspal porous guna mendapatkan hasil yang optimal. tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh campuran laston dengan penggunakan penambah tread ban bekas, dan bagaimana variasi campuran optimal dalam mencapai stabilitas dan flow yang disyaratkan dengan penambahan tread ban bekas, serta hasil kao sebagai efisiensi penggunaan aspal. 2. metode penelitian 2.1 lapis porous adalah lapisan perkerasan yang terletak diantara lapis aus dan lapis pondasi . lapis ini tidak langsung terpapar dengan cuaca, tetapi harus mempunyai keauan dan ketebalan yang cukup guna meminimalisasi tegangan akibat beban lalu lintas yang diteruskan ke lapis pondasi dan tanah dasar. karakteristik yang terpenting adalah stabilitas. ketentuan dan persyaratan tentang sifat campuran laston harus memenuhi dan sesuai yang dipersyaratkan oleh bina marga 2010 tertera pada tabel 1. tabel 1. sifat campuran ac sifat campuran laston ac-wc ac-bc base jumlah tumbukan lolos ayakan 200 75,0 112,0 > 1 kadar aspal efektif < 1,40 vim (%) > 3 < 5 vma (%) > 15 14,0 13,0 vfb (%) < 65,0 65,0 65,0 stabilitas (kg) > 800,0 1800 pelelehan (mm) > 2,0 3,0 < 4,0 6,0 sumber: spesifikasi umum bina marga 2010 (revisi 3) 2.2 tread ban bekas tread adalah lapis luar pada ban kendaraan. berfungsi untuk melindungi ban dari kerusakan akibat gesekan dengan aspal maupun benda lain. bahan utama penyusun tread adalah karet. hal 155 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 karet menurut asalnya dibedakan menjadi 2, yaitu karet alami dan karet buatan. 2.3 tahapan penelitian tahapan-tahapan pelaksanaan penelitian ini dimulai dengan melakukan studi literatur terlebih dahulu dengan mengumpulkan referensi berupa buku atau jurnal yang berhubungan dengan judul dari penelitian ini, setelah itu dilanjutkan dengan persiapan alat yang akan digunakan dalam melaksanakan penelitian ini serta pengadaan material yang didapatkan dari sungai brantas untuk agregat halus dan untuk agregat kasarnya didapat dari tempat pengepul/penjual batu koral yang ada di sekitar hotel bukit daun kediri. sedangkan semen sebagai fillernya didapatkan dari toko bangunan yang ada di area kediri. untuk aspal minyak didapatkan dari pt. triple s kediri. selanjutnya dilakukan uji yang melingkupi uji saringan, penyerapan air, dan berat jenis agregat, sedangkan untuk filler hanya dilakukan analisa saringan. untuk proporsi agregat yang digunakan untuk laston ac-bc pada penelitian ini memenuhi dan sesuai yang dipersyaratkan oleh spesifikasi umum bina marga 2010 seperti pada tabel 3. tabel 2. gradasi pada campuran ayakan (mm) % berat lolos terhadap total agregat dalam campuran benda uji laston ac lapis atas lapis tengah lapis bawah 38 100,0 24,5 100,0 91-100 18,5 100,0 91-100,0 77-91 13 91-100,0 75-90 61-79 10 78-91 67-83 53-72 4,8 54-70 47-65 36-55 2,4 34-54 31-50 24-42 1,2 22-41 19-39 14-31 0,7 15-31 13-29 11-23 0,4 10-23 8-21 7-16 0,16 7-16 6-14 5-11 0,08 5-10 5-9 4-8 sumber: spesifikasi umum bina marga 2010 (revisi 3) 3. hasil dan pembahasan hasil dari penelitian campuran aspal porous menggunakan bahan penambah tread ban bekas dituangkan dalam tabel 3. tabel 3. hasil uji aspal porous dengan penambahan tread ban bekas hal 156 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 no kadar aspal per tread ban vma % vim % vfb % stabilitas kg flow mm mq kg/mm tread 0% 1 5% 17,38 6,12 56,73 1156 2,23 518 2 5,50% 17,47 5,87 66,40 1314 2,67 492 3 6% 17,58 5,18 66,96 1388 2,96 469 4 6,50% 17,31 4,66 73,08 1241 3,15 394 5 7% 17,47 3,87 73,15 987 3,32 297 tread 3% 6 5% 16,24 5,24 56,12 1231 2,34 526 7 5,50% 16,36 4,25 66,38 1302 2,7 482 8 6% 16,57 4,67 66,8 1413 2,9 487 9 6,50% 16,49 3,38 72,97 1265 3,12 405 10 7% 16,78 3,15 74,21 925 3,33 278 tread 5% 11 5% 14,36 5 55,86 1285 2,12 606 12 5,50% 14,89 4,57 66,43 1325 2,61 508 13 6% 15,35 4,06 66,58 1376 2,86 481 14 6,50% 15,47 3,21 73,15 1278 3,2 399 15 7% 15,66 3,56 77,29 1178 3,36 351 tread 7% 16 5% 15,29 4,66 54,28 928 4,12 438 17 5,50% 15,48 4,85 61,37 1257 2,34 537 18 6% 15,98 3,76 65,78 1329 2,67 498 19 6,50% 16,09 3,12 69,13 1156 2,87 403 20 7% 16,21 2,46 72,56 879 3,38 260 tread10% 21 5% 15,76 4 56,03 1128 2,48 455 22 5,50% 16,11 3,83 59,78 1156 2,57 450 23 6% 15,98 3,75 65,34 1247 2,79 447 24 6,50% 16,27 2,75 69,88 1197 3,12 384 25 7% 16,38 2,67 74,06 997 4 249 spesifikasi 15 % < 3-5% 65 % < 800 kg < 2-4mm min 250 sumber: hasil penelitian dan perhitungan marshall di lab teknik universitas kadiri 3.1. menentukan kadar aspal optimum dalam perencanaan jalan raya sesuai dengan spesifikasi bina marga perkerasan yang diizinkan harus memiliki nilai stabilitas yang cukup baik tanpa mengabaikan durabilitas, fleksibilitas, dan kemudahan dalam pelaksanaan. adapun karakteristik campuran aspal porous meliputi vma, vim, vfb, stabilitas, flow, dan marshall quotient (mq). nilai stabilitas hasil dari stabilitas menunjukkan kemampuan dari perkerasan jalan menerima beban lalu lintas hal 157 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 tanpa terjadinya perubahan bentuk. kebutuhan stabilitas sebanding dengan jumlah pengguna jalan tersebut. bila jalan tersebut melayani arus lalu lintas padat dan berat maka kebutuhan akan stabilitas menjadi tinggi begitu pula sebaliknya. stabilitas terjadi dari geseran antar butir, penguncian antar partikel agregat, dan daya ikat dari lapisan aspal. untuk campuran aspal porous dengan penambahan tread ban bekas nilai stabilitas dibatasi minimum 800 kg. dari grafik 1. didapatkan nilai tertinggi stabilitas berada pada kadar aspal 6 % dengan prosentase tread ban bekas3%sebesar1413kg. grafik 1: hubungan kadar aspal dengan nilai stabilitas flow hasil dari nilai flow menunjukkan tingkat kelenturan/kelelehan pada lapis perkerasan. semakin banyak persentase aspal maka nilai kelenturan akan meningkat maka dari itu pada penelitian ini diberi penambahan tread ban bekas guna menstabilkan nilai kelenturan. untuk lapisan porous nilai flow disyaratkan antara 2 sampai 4 mm. dari hasil penelitian yang dilakukan mendapatkan hasil yang ditunjukkan pada grafik 2. hal 158 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 grafik 2: hubungan kadar aspal dengan nilai flow marshall quotient (mq) marshall quotient merupakan hasil bagi dari nilai stabilitas dengan nilai flow yang merupakan bentuk dari kekakuan campuran, semakin besar nilai mq maka campuran itu mudah hancur /retak karena keras tetapi semakin kecil nilai mq makacampurannya terlalu lentur/tidak stabil. dari hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai mq yang memiliki kestabilan yaitu pada penambahan tread ban bekas 5% sampai 7%. grafik 3: hubungan kadar aspal dengan mq vim adalah volume total udara yang berada diantara agregat yang terselimuti aspal dalam campuran yang dipadatkan. dengan adanya penambahan tread ban bekas pada grafik 4 terlihat semakin hal 159 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 banyak penambahan prosentase tread ban bekas maka volume udara pada benda uji semakin sedikit, ini berbanding sejajar dengan penambahan kadar aspal. grafik 4: hubungan kadar aspal dengan vim vma merupakan volume rongga yang terdapat diantara agregat suatu campuran beraspal yang telah dipadatkan. dalam hal ini walaupun sudah diberi penambahan tread ban bekas tetapi masih ada rongga pada benda uji dikarenakan adanya ikatan pada aspal dan tread ban bekas sebelum aspal itu menyelimuti agregat secara sempurna, namun jika dilihat pada grafik 5 menunjukkan bahwa prosentase rongga pada setiap penambahan kadar aspal dan tread ban bekas tidak terjadi peningkatan terlalu besar bahkan nilainya cenderung sama. gambar 6: hubungan kadar aspal dengan % vma vfb adalah bagian dari benda uji yang terisi aspal. nilai vfb ini sebanding terbalik dengan nilai hal 160 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 vma, semakin besar nilai vma maka rongga yang terisi aspal semakin kecil begitu pula sebaliknya, namun dengan adanya penambahan tread ban bekas justru dengan semakin besarnya nilai vma malah menjadikan nilai vfb naik dikarenakan sifat plastis pada tread ban bekas itu tadi. grafik 6: hubungan kadar aspal dengan %vfb kadar aspal optimum ditentukan dengan membaca hasil dari perhitungan marshall. nilai kadar aspal optimum ditentukan sebagai nilai tengah dari rentang kadar aspal yang memenuhi semua persyaratan bina marga, dari semua perhitungan dari prosentase kadar aspal dan penambahan tread ban bekas didapatkan nilai kao rata-rata seperti pada tabel 4 yaitu sebesar 6,3%. tabel 4. kadar aspal optimum rata-rata dari semua prosentase penambahan tread ban bekas sumber: pembacaan grafik dan perhitungan hal 161 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 4. simpulan dan saran 4.1 simpulan berdasarkan analisis hasil pengujian serta pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan yaitu : 1. dari penelitian yang sudah dilakukan dengan volumetrik dan parameter marshall menggunakan penambahan tread ban bekas sejumlah 0%, 3%, 5%, 7%, dan 10% dari masing-masing kadar aspal yakni 5%, 5,5%, 6%, 6,5%, dan 7% didapatkan hasil ratarata pada perhitungan vma, vim, vfb, stabilitas, flow, dan mq, sebagai berikut: a. pada penambahan tread ban bekas 0% didapatkan hasil rata-rata nilai vma 17,44%, vim 5,14%, vfb 67,27%, stabilitas 1217kg, flow 3mm, dan mq 434 kg/mm. b. pada penambahan tread ban bekas 3% didapatkan hasil rata-rata nilai vma 16,49%, vim 4,14%, vfb 67,30%, stabilitas 1227kg, flow 2,9mm, dan mq 436 kg/mm. c. pada penambahan tread ban bekas 5% didapatkan hasil rata-rata nilai vma 16,15%, vim 4,08%, vfb 67,86%, stabilitas 1288kg, flow 2,8mm, dan mq 469 kg/mm. d. pada penambahan tread ban bekas 7% didapatkan hasil rata-rata nilai vma 15,81%, vim 3,77%, vfb 64,63%, stabilitas 1110kg, flow 2,7mm, dan mq 427 kg/mm. e. pada penambahan tread ban bekas 10% didapatkan hasil rata-rata nilai vma 16,1%, vim 3,4%, vfb 64,82%, stabilitas 1145kg, flow 3mm, dan mq 398 kg/mm. 2. berdasarkan hubungan antara kandungan kadar aspal minyak dan seluruh parameter marshall dan volumetrik menggunakan bahan penambah tread ban bekas maka didapatkan kandungan kadar aspal optimum pada penambahan tread ban bekas sejumlah 0%, 3%, 5%, 7%, dan 10% yakni 6,3%, 6,3%, 6,5%, 6,3%, dan 6%. 3. dari hasil pengujian dan perhitungan volumetrik marshall pada campuran aspal porous dengan penambahan tread ban bekas sejumlah 0%, 3%, 5%, 7%, dan 10% menunjukkan hasil kao rata-rata lebih dari 6%. dengan demikian menunjukkan bahwa penambahan tread ban bekas pada campuran aspal porous dapaat mengurangi penggunaan aspal berdasarkan acuan perhitungan spesifikasi umum bina marga 2010 divisi 6 tentang perkerasan jalan. 4.2 saran saran yang bisa disampaikan yaitu : penelitian ini dapat digunakan menjadi salah satu alternatif dalam pembangunan infrastruktur nasional saat ini dengan obyek penggunaan material tak terpakai, sebagai salah satu upaya penanggulangan limbah sulit terurai yang semakin banyak dari tahun ke tahun akibat bertambahnya jumlah penduduk, contohnya dengan memaksimalkan tread ban bekas ini sebagai bahan penambah pada campuran aspal porous. daftar pustaka hal 162 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 [1] aashto. 1990. standard specifications for transportation materials and methods of sampling and testing. part i. "specifications". fifteenth edition. washington,d.c [2] aashto. 1990. standard specifications for transportation materials and methods of sampling and testing. part ii. "tests". fifteenth edition. washington,d.c. [3] astm d 1559-76 atau aashto t-245-90, rancangan campuran berdasarkan metode marshall. [4] departemen pekerjaan umum. 1987. petunjuk pelaksanaan lapis aspal beton (laston) untuk jalan raya. [5] departemen pekerjaan umum. 1999. pedoman perencanaan campuran beraspal panas dengan [6] pendekatan kepadatan mutlak jakarta: pt. mediatama saptakarya (pt. medisa). [7] direktorat jenderal bina marga departemen pekerjaan umum republik indonesia. 2010. spesifikasi umum divisi 6 hal 38 [8] direktorat jenderal bina marga departemen pekerjaan umum republik indonesia. 2010. spesifikasi umum divisi 6 perkerasan aspal [9] sukirman, silvia. 1999. dasar-dasar perencanaan geometrik jalan. jakarta. granit.104 hal. tenrisuki,andi tenriajeng. seri diktat kuliah rekayasa jalan raya gunadarma. 207 hal. [10] limantara, a. d., candra, a. i., & mudjanarko, s. w. (2017). manajemen data lalu lintas kendaraan berbasis sistem internet cerdas ujicoba implementasi di laboratorium universitas kadiri. prosiding semnastek. [11] departemen pekerjaan umum. 1987. petunjuk pelaksanaan lapis aspal beton (laston) untuk jalan raya. [12] departemen pekerjaan umum. 1999. pedoman perencanaan campuran beraspal panas dengan pendekatan kepadatan mutlak jakarta: pt. mediatama saptakarya (pt. medisa). [13] direktorat jenderal bina marga departemen pekerjaan umum republik indonesia. 2010. spesifikasi umum divisi 6 hal 38 [14] direktorat jenderal bina marga departemen pekerjaan umum republik indonesia. 2010. spesifikasi umum divisi 6 perkerasan aspal [15] muaya, g. s., kaseke, o. h., & manoppo, m. r. (2015). pengaruh terendamnya perkerasan aspal oleh air laut yang ditinjau terhadap karakteristik marshall. jurnal sipil statik, 3(8). hal 163 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 alternatif penggunaan serat eceng gondok (eichhornia crossifes) sebagai bahan tambah padacampuran beton ditinjau terhadap kuat tekannya budi tri cahyono1 ;rio rahma dhana2 1,2fakultas teknik universitas islam lamongan email : tricahyono_budi@yahoo.com ; dkartika27@gmail.com abstract the purpose of this study is to find out and analyze the addition of water hyacinth fiber as a mixture on concrete. data analysis methods begin with the investigation of cement material, fine aggregate, coarse aggregate, and water hyacinth material. concrete is added with water hyacinth fiber with addition variations of 0%, 1%, 3% and 5%. test object used in the form of a cylinder with size ø 15 cm x 30 cm. concrete mix design uses astm method. in the process of making water hyacinth fiber begins with cutting the water hyacinth by 3-5 cm, then milling it into fiber. the next step is drying into the sun and then into the oven at 150ºc. from the results of the research conducted at the civil engineering laboratory of lamongan islamic university, the results showed that there was a decrease in strength in the variation of the addition of water hyacinth 1% and 3% but experienced an increase in the 5% variation. it is known that the correlation of concrete compressive strength at 28 days is 0% at 86.27 kg/cm2, 1% at 60.66 kg/cm2, 3% at 55.27 kg/cm2 and 5% at 57.97 kg/cm2. keywords: water hyacinth, concrete, compressive strength abstrak tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis penambahan serat eceng gondok sebagai campuran pada beton. metode analisis data dimulai dengan investigasi bahan semen, agregat halus, agregat kasar, dan bahan eceng gondok. beton ditambahkan dengan serat eceng gondok dengan variasi penambahan 0%, 1%, 3% dan 5%. benda uji yang digunakan berupa silinder dengan ukuran ø 15 cm x 30 cm. desain campuran beton menggunakan metode astm. dalam proses pembuatan serat eceng gondok diawali dengan memotong eceng gondok sebanyak 3-5 cm, kemudian digiling menjadi serat. langkah selanjutnya adalah menjemur ke matahari dan kemudian ke oven pada 150 ºc. dari hasil penelitian yang dilakukan di laboratorium teknik sipil universitas islam lamongan, hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penurunan kekuatan variasi penambahan eceng gondok 1% dan 3% tetapi mengalami peningkatan variasi 5% . diketahui bahwa korelasi kuat tekan beton pada 28 hari adalah 0% pada 86,27 kg / cm2, 1% pada 60,66 kg / cm2, 3% pada 55,27 kg / cm2 dan 5% pada 57,97 kg / cm2. kata kunci: eceng gondok, beton, kuat tekan 1. pendahuluan kata beton dalam bahasa inggris berasal dari bahasa latin concretus yang berarti tumbuh hal 1 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 bersama atau menggabungkan menjadi satu. dalam bahasa jepang digunakan kata kotau-zai, yang arti harafiahnya material-material seperti tulang; mungkin karena agregat mirip tulang tulang hewan. (tjokrodimulyo, 2007) beton merupakan pencampuran dari semen, agregat halus, agregat kasar dan air dengan suatu perbandingan tertentu. jika ingin membuat beton berkualitas baik, dalam arti memenuhi persyaratan yang lebih ketat karena tuntutan yang lebih tinggi, maka harus diperhitungkan dengan seksama cara-cara memperoleh adukan beton(beton segar/fresh concrete) yang baik dan beton (beton keras / hardened concrete) yang dihasilkan juga baik. beton yang baik ialah beton yang kuat, tahan lama/awet, kedap air, tahan aus, dan sedikit mengalami perubahan volume (kembang susutnya kecil). dari penelitihan terdahulu ternyata eceng gondong ini memiliki kandungan senyawa kimia yang sangat berperan penting dalam pembuatan semen, penggunaan bahan tambahan kimia sesuai kebutuhan untuk memperkuat hasil beton pun dilakukan demi menghasilhan beton yang berkualitas baik. eceng gondok dimanfaatkan untuk dibuat serbuk yang akan digunakan sebagai campuran pembuatan beton (hidayat,2011). tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui fungsi dan pembuatan eceng gondok sebagai bahan serat selulosa yang digunakan sebagai bahan tambah untuk meningkatkan kuat tekan beton. 2. metode penelitian penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental laboratorium yaitu mengadakan kegiatan percobaan untuk mengadakan suatu hasil. tujuan eksperimen ini yaitu untuk membandingkan hasil yang telah didapat dalam penelitian dengan syarat syarat yang ada. waktu dan tempat penelitian ini akan dilakukan di laboratorium teknik sipil universitas islam lamongan jl. veteran no.53 a lamongan. penelitian ini dilakukan mulai bulan februari 2018 sampai selesai. 2.1 pelaksanaan penelitian bahan bahan – bahan yang digunakan dalam pembuatan benda uji adalah: a. semen portland b. agregat kasar (kerikil) c. agregat halus (pasir) d. serat alami eceng gondok e. air peralatan peralatan yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah : hal 2 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 a. alat pencampur bahan :  concrete mixer  sekop /sendok semen b. cetakan silinder beton c. mesin tekan hidrolis untuk menguji kuat tekan beton 2.2 pengujian bahan susun campuran beton pada tahap ini dilakukan dan pemeriksaan bahan penelitian yaitu semen, agregat, serat eceng gondok dan beton. pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui sifat – sifat bahan apakah memenuhi standart spesifikasi yang telah di tentukan. pengujian bahan susun campuran beton dengan menggunakan standar yang telah ditetapkan dan berlaku di indonesia terdiri dari : a) penyelidikan bahan semen : 1. percobaan konsistensi normal semen (astm c 187-86) 2. percobaan berat jenis semen (astm c 188-89) 3. percobaan waktu mengikat dan mengeras semen (astm 119-92) b) penyelidikan bahan pasir : 1. pengujian kadar air agregat (astm c 556 – 89) 2. percobaan berat jenis pasir (astm c 128-93) 3. percobaan air resapan pasir (astm c 128-93) 4. percobaan bobot isi dan rongga udara (astm c 188-89) 5. percobaan analisa saringan pasir (astm c 136-95a) c) penyelidikan bahan batu pecah 1. percobaan kelembapan batu pecah (astm c 566-89) 2. percobaan berat jenis batu pecah (astm c 127-88-93) 3. percobaan air resapan batu pecah (astm c 127-88-93) 4. percobaan berat volume batu pecah (astm c 29-91) 5. percobaan analisa saringan batu pecah (astm c 136-95a) d) pemeriksaan serat eceng gondok serat eceng gondok yang digunakan adalah eceng gondok yang diproses sendiri oleh peneliti sehingga menjadi serat eceng gondok yang dibutuhkan. 2.3 tahap pembuatan serat dari enceng gondok 1. pengambilan enceng gondok dari daerah sungai di kecamatan deket kabupaten lamongan. 2. pembersihan enceng gondok dengan air bersih. 3. eceng gondok dipotong-potong antara 5-10 cm hal 3 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 4. setelah enceng gondok dipotong-potong kemudian eceng gondok di gilingkan di tempat penggilingan. 5. selesai digilingkan, kemudian serat eceng gondok dijemur sampai benar-benar kering. variasi penambahan serat eceng gondok yang digunakan sebesar 0%, 1%, 3% dan 5% dari berat semen. kemudian pembuatan benda uji dan penambahan serat eceng gondok pada masing – masing variasi dilakukan 3 kali sesuai dengan umur beton. setiap pengujian terdapat 3 benda uji untuk setiap varian. 2.4 proses perawatan beton 1. setelah 24 jam dari proses pencetakan beton, cetakan beton dibuka perlahan-lahan dan benda uji silinder beton diambil 2. benda uji kubus beton diletakkan dalam suatu bak air, dan dibiarkan sampai sehari sebelum waktu pengetesan untuk dikeluarkan dari bak (pengeringan) 3. pada waktu pengetesan, benda uji yang telah dikeluarkan dari bak dan mengering ditimbang beratnya setelah itu diukur dimensinya 4. kemudian benda uji dicapping / diratakan dengan larutan belerang pada bidang tidak rata 5. permukaan yang dicapping dari benda uji diletakkan di atas, dan benda uji siap dites langkah tersebut berlaku untuk benda uji yang berumur 7 hari. 3. hasil dan pembahasan berdasarkan metode pengujian referensi standart yang berlaku, penulis melakukan pengujian di laboratorium universitas islam lamongan (unisla). pengujian karakteristik material halus dan kasar merupakan pengujian awal yang di lakukan agar mengetahui karakteristik agregat halus dan kasar sebelum melakukan mix design beton yang mengacu pada sni. dari data yang telah diperoleh selama pengujian, maka dilakukan perencanaan rancang campur (mix design sni 03-2834-2000) pada beton dengan memanfaatkan serat alami eceng gondok, dalam pengujian tersebut beton merujuk pada beton mutu sedang dengan prosentase bervariasi pada komposisi semen yang dikurangi oleh serat alami eceng gondok. benda uji yang digunakan adalah silinder dengan ukuran tinggi 30 cm dan diameter 15 cm sebanyak 3 buah untuk setiap sample campuran beton untuk diujikan kuat tekan beton pada umur 7 hari. diharapkan dari hasil penelitian ini, peneliti dapat mengetahui hasil kuat tekan beton 3.1 pencampuran beton segar (mix design) data perencanaan 1. deviasi standart  beton non struktural 2. jenis semen  semen portland hal 4 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 3. jenis serat  serat alami eceng gondok 4. jenis agregat kasar  kerikil 5. jenis agregat halus  pasir 6. mutu beton  beton non struktural 7. umur perawatan  7 hari 8. jenis benda uji  silinder diketahui tinggi silinder = 30 cm diameter silinder = 15 cm ( r = 7,5 cm) maka volume silinder =  x r 2 x t = 3,14 x 7,5 2 x 30 = 529,75 cm 2 = 5299 x 10 3 x m 3 = 0.0053 m 3 3.2 pengujian beton dan kuat tekan beton sebelum pengujian beton keras dilakukan terdapat proses perendaman beton selama 7 hari. perendaman ini dilakukan setelah benda uji dilepas dari cetakan. setelah dilepas dari cetakan benda uji akan di keringkan dengan cara dijemur dan dilakukan penimbangan. dan proses terakhir yaitu pengujian benda uji dengan mesin concrete compression machine. gambar 1: kuat tekan tekan beton umur 7 hari dan 28 hari sumber : hasil penelitian, 2018 hal 5 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 diketahui pada penelitian bahwa terjadi penurunan kuat tekan beton pada penambahan serat enceng gondok variasi 0%, 1% dan 3% namun mengalami kenaikan pada 5% setiap penambahan serat eceng gondok sehingga di dapat nilai kuat tekan tertinggi pada beton yang dicampur dengan serat eceng gondok 1% umur beton ke 7 hari yaitu 42,46kg/cm2 dan kuat tekan beton terendah terdapat ada beton yang dicampur serat eceng gondok 4% umur beton ke 7 hari yaitu 40,58kg/cm2. diketahui pada penelitian bahwa terjadi penurunan kuat tekan beton pada penambahan serat enceng gondok variasi 0% umur 28 hari adalah 86,27, 1% umur 28 hari adalah 60,66 , 3% umur 28 hari adalah 55,27 , 5% umur 28 hari adalah 57,97 mengalami penurunan di variasi 1% dan 3% namun mengalami kenaikan pada 5%. tabel 1: pengujian kuat tekan beton umur 28 hari sumber : hasil penelitian, 2018 dari hasil penelitian pada tabel 5.4 didapatkan hasil uji kuat tekan beton menunjukkan pada umur 28 hari dengan varian penambahan serat alami eceng gondok sebesar 0%, 1%, 3% dan 5% yang dilakukan di laboratotium teknik sipil universitas islam lamongan (unisla) sebagai berikut: 1. dari hasil uji kuat tekan dengan campuran serat eceng gondok 0% dengan umur 28 hari di dapat nilai rata-rata dari 3 sampel 7,16 mpa. hal 6 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 2. dari hasil uji kuat tekan dengan campuran serat eceng gondok 1% dengan umur 28 hari di dapat nilai rata-rata dari 3 sampel 5,03 mpa. 3. dari hasil uji kuat tekan dengan campuran serat eceng gondok 3% dengan umur 28 hari di dapat nilai rata-rata dari 3 sampel 4,48 mpa 4. dari hasil uji kuat tekan dengan campuran serat eceng gondok 5% dengan umur 28 hari di dapat nilai rata-rata dari 3 sampel 4,81 mpa. 4. kesimpulan 4.1 kesimpulan dari data yang diperoleh dan dari analisa data yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : a) ketika campuran beton tersebut diberi tambahan serat enceng gondok pada variasi 1% dengan umur 28 hari sebesar 60,66 kg/cm2 telah mengalami penurunan dan menurun kembali pada variasi 3% dengan umur 28 hari sebesar 55,27 kg/cm2 tetapi mengalami kenaikan pada variasi 5% dengan umur 28 hari sebesar 57,97 kg/cm2. b) dari data diatas dapat disimpulkan bahwa serat eceng gondok dapat di pakai dalam campuran beton dan dibutuhan penelitian lebih dalam lagi untuk mengujinya. 4.2 saran berdasarkan hasil penelitian, penulis menyadari masih banyak kekurangan pada penelitian ini, oleh karena itu hasil penelitian ini belum dapat dikatakan sempurna, namun demikian diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi mahasiswa/i dalam rangka pembelajaran. ada beberapa hal yang dapat dipelajari pada penelitian ini dan dapat dilakukan lebih lanjut sebagai acuan atau masukan yang dapat berguna bagi mahasiswa/i atau peneliti lain dan bagi lembaga pendidikan perguruan tinggi, diantara nya adalah: 1. dalam penelitian selanjutnya pengolahan eceng gondok seharusnya diubah menjadi bahan anorganik sehingga penyerapan air bisa berkurang. 2. untuk menjaga dan menetapkan kualitas mutu beton yang direncanakan, mahasiswa harus sudah mengetahui kualitas bahan yang digunakan. 3. agar diperoleh nilai slump yang sesuai dengan yang diharapkan maka pada saat pengetesan slump harus diperhatikan dengan benar prosedur pelaksanaan nya. refrensi [1] astm,annual book of astm standart volume 04.02 “concrete and hal 7 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 aggregates”, 2001 [2] astm c 29–91, standard test method for bulk density (“unit weight”) and voids aggregates. [3] astm c 33-01, standart specification for concrete agregate. philadelphia [4] astm,c39, compresive strength of cylindrical concrete specimens, (2002). annual books of astm standards, philadelphia-usa. [5] astm c 127, standard test method for density, relative density (specific gravity), and absorbtion of coarse aggregate. [6] astm c 128-78, standard test method for density, relative density (specific gravity), and absorbtion of fine aggregate. [7] astm c 187-86, normal consistency of hydraulic cement [8] astm c 188-89, density test of hydraulic cement [9] astm c 188 – 95, standard test method for density of hydraulic cement. [10] astm c 191-92, time of setting of hydraulic cement by vicat needle [11] astm c 566 – 89, standard test method for total evaporable moisture content of aggregate by drying [12] badan standarisasi nasional. (2000). sni 03-2834-2000, tata cara pembuatan rencana campuran beton normal. [13] badan standarisasi nasional.. hidayat, 2011. pengaruh penambahan abu sekam padi terhadap kuat tekan beton k-225. jurnal aptek edisi 2, vol [14] universitas pasir pengarai, riau. tjokodimuljo, kardiyono. 2004. tegnologi beton. nafiri, yogyakarta [15] fakultas teknik sipil, pedoman praktikum beton, laboratorium struktur universitas islam lamongan. hal 8 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 role of projectrelated parties on quality control (concrete structure) and project performanceachievement edy gardjito fakultas teknik universitas kadiri e-mail : edygardjito@yahoo.co.id abstract for the data processing process the researcher use help the method ofstepwise regression test and hypothesis test.the result of this research is very positive influence of concrete quality control factors and the role of project related party influence to the achievement of construction project performance, that is proved by stepwise regression test and hypothesis test where quality performance (fi = 21,758> ft = 2,060), time performance (fi = 14,950> ft = 4,496), cost performance (fi = 15,379> ft = 4,496).for quality performance is shown: coefficient of determination or r square = 0,876, influencing variable is implementation aspect (x1), and aspects of human resources (x2), with y1 = 0,285 + 0,148.x1 + 0,071.x2. related to time performance: coefficient of determination or r square = 0.537, the variable that influences is monitoring times chedule (x1), with y2 = 2,166 + 0,415.x1. related to cost performance: coefficient of determination or r square = 0.481, the influencing variable is the acceleration of implementation (x1), with y3 = -0.741 + 0.958.x1. so if the project organizers feel that these variables have been ful filled,then the performance of the resulting construction project will be better too. keywords: concrete quality control, quality performance, time performance, cost performance, construction project performance. abstrak untuk proses pengolahan data peneliti menggunakan bantuan metode uji regresi bertahap dan uji hipotesis. hasil penelitian ini sangat berpengaruh positif terhadap faktor kontrol kualitas beton dan peran pihak terkait proyek terhadap pencapaian kinerja proyek konstruksi, yaitu dibuktikan dengan uji regresi bertahap dan uji hipotesis di mana kinerja kualitas (fi = 21.758> ft = 2.060), kinerja waktu (fi = 14.950> ft = 4.496), kinerja biaya (fi = 15.379> ft = 4.496) .untuk kinerja yang berkualitas ditampilkan : koefisien determinasi atau r square = 0,876, variabel yang berpengaruh adalah aspek implementasi (x1), dan aspek sumber daya manusia (x2), dengan y1 = 0,285 + 0,148.x1 + 0,071.x2. terkait dengan kinerja waktu: koefisien determinasi atau r square = 0,537, variabel yang mempengaruhi adalah waktu pemantauan chedule (x1), dengan y2 = 2,166 + 0,415.x1. terkait dengan kinerja biaya: koefisien determinasi atau r square = 0,481, variabel yang mempengaruhi adalah percepatan implementasi (x1), dengan y3 = -0,741 + 0,958.x1. jadi, jika penyelenggara proyek merasa bahwa variabel-variabel ini telah dipenuhi, maka kinerja proyek konstruksi yang dihasilkan akan lebih baik juga. kata kunci: kontrol kualitas beton, kinerja kualitas, kinerja waktu, kinerja biaya, kinerja proyek konstruksi. hal 47 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 1. introduction 1.1 background of research road construction in the southern crossing line of east java province that passes through sogetawang beach, construction of reinforced concrete walls to withstand waves is built along the sand beach (sea sand), road width is 20 m, retaining wall height is 7 m and distance of retaining wall construction with edge the sea is less than 5-30 m (tidal conditions). construction of reinforced concrete retaining walls on the beach, of course, requires very large volumes of concrete. so that a system is needed to control the quality of the concrete structure during construction, and also the availability of good resources to support it (human resources, materials and equipment). in order for construction to be carried out satisfactorily or have good performance, it will look for factors that influence concrete quality control in the implementation of construction work and factors that influence the achievement of construction project performance (time performance, quality performance and cost performance). therefore, researchers tried to make direct observations about concrete quality control in the implementation of the construction work, with a research study on "the role of project related parties on quality control (concrete structure) and project performance achievement ". 1.2 problem formulation how do the quality control factors of concrete have significant influence on the achievement of project performance? how does the project-related party role for concrete quality control have a positive influence on the achievement of project performance? 1.3 research objectives to know the factors of quality control of concrete that have a significant effect on the achievement of project performance. to know the role of project stakeholders for the quality control of concrete that positively affect the achievement of project performance. 1.4 research purposes can prove the strong influence of concrete quality control factors and the role of project-related parties to the achievement of project performance. 1.5 problem limitation this study is only conducted on the assessment of the achievement of project performance on the implementation of construction of reinforced concrete retaining walls, and not made comparisons with other project conditions. 1.6 research benefits hal 48 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 as an evaluation material for the parties involved in construction projects (stakeholders), policy makers, or drafting plans in the management of a project, especially on the achievement of project performance. 2. research methods 2.1 project definition the definition of the project is the allocation of resources within a certain timeframe andcoordination of interconnected events to achieve the overall goal, while facing unique andpredictable challenges.the use of these resources to obtain benefits or to obtain future returns that can be planned, financed and implemented as a series of activities (kadariah, 1999). the series of activities or activities are only once implemented and generally short term, and therein is a process that processes the project resources into a result of activities (ervianto, i.wulfram, 2002). to achieve the final outcome of the project activities is limited by the amount of budget allocated, the schedule / time to be met and the quality that must be met, and all three affect each other (soehartoiman, 1999). 2.2 construction project management construction project management is the activity of planning, organizing, directing and controlling the organization's resources to achieve certain goals, within a certain time, with certain resources. project resources, especially construction projects, consist of materials, manpower, funding, implementation methods and equipment. resources are planned to achieve project objectives with time, cost and quality restrictions. the challenge of project implementation is how to plan an effective time / schedule and efficient cost planning without reducing quality. 2.3 construction project performance the definition of performance is as a result of the work of a particular work activity during a certain period of time. performance is the effectiveness of the achievement of the maximum work performance on quality, time, and cost and efficiency that compares inputs planned with actual inputs.the performance of the construction project is inseparable from the three constraints, which are important parameters in measuring the performance of construction projects in achieving the project objectives or targets. these parameters are quality performance, time performance and cost performance (soeharto iman,1999). 2.4 construction related projects parties construction projects can not be separated from the parties involved either directly or indirectly (stakeholders). from the stage of the construction process, it will certainly involve various hal 49 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 elements that work together with the same goals so that the project can run in accordance with the planning.in general, the parties involved in the construction project include:government,owner of the project (owner), consultant, contractor, subcontractor, labor (employee), bank, and security. control of concrete.concrete quality planning and control can be done by controlling the quality of materials, the proportion of concrete mix, the execution of concrete work, and equipped with testing on freshly mixed concrete also on hardened mixed concrete, after placing concrete on formwork finished a good concrete treatment is done. some of the things that need to be done for the quality control of concrete is the design of quality plan of the properties of concrete forming materials, concrete making process, and the execution of concrete work. as an instrument to record the data that occurs in the field and to control the process used control chart, namely control chart slump test and concrete compressive strength control chart, which consists of a straight line that describes the target level, upper limit level and lower limit level (yayatsupriatna , 2011).concrete quality control is basically done continuously and systematically to avoid failure of construction. this regulation in sni-2834-2002 concerning procedure of making a normal concrete mixed plan, sni-2847-2002 on procedure of calculating concrete structures, and sni-2847-2013 on requirements of structural concrete. 2.5 research design the flow of thought in the research becomes the guideline during the research process, starting from determining the population and the sample, collecting primary data (observation, questionnaire, documen-tation) and secondary data (such as research already done, papers, journals), formulating the problem, variables, composing instruments, testing the validity and reliability, then perform data processing / data analysis. 2.6 testing data instruments before testing the validity and reliability, it is necessary to do the item selection procedure first by testing the characteristics of each item that becomes part of the test in question. items that do not meet the quality requirements may not be included in the test section. testing validity and reliability is only feasible to do with a collection of items that have been tested and selected.the less data that is in the test, the greater the overlap that occurs. conversely, the more the number of items in the test, the consequence of the spurious overlap is getting smaller or not significant. if the number of items in the test is more than 30, then generally the spurious overlap effect is not so large and therefore can be ignored, whereas if the number of items in the test is less than 30, the effect becomes substantial so it needs to be taken into account.for this reason, in order to obtain more accurate information about the correlation between items with a test, correction of the spurious overlap effect is needed. at least the magnitude of the total item correlation hal 50 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 coefficient after being corrected from the spurious overlap effect is 0.3 (azwar, 2003).the formula for the total item correlation coefficient after being corrected (ri (x-1)) is due to the spurious overlap effect like the following:  xiixix ixix xi ssrss ssr r 2 22 )1(    (3.3) source:riduwan (2008) rix : total item correlation coefficient before correction(pearson product moment) six : standard deviation of item score si : standard deviation total score (all items) ri (x-1) : total item score correlation coefficient after being corrected from the spurious overlap effect. 2.7 validitytest validity test is carried out with regard to the degree of accuracy of the measuring instrument against the measured concept so that it actually measures what should be measured. another opinion, validity test is a measure that shows the level of reliability or validity of a measuring instrument (riduwan, 2004).related to testing the validity of the instrument, that a measuring instrument that is less valid means having low validity. to test the validity of the measuring instrument, first find the price of the correlation between the parts of the measuring instrument as a whole by correlating each measuring instrument (question item) with the total score which is the number of each item score, using the pearson product moment (ppm) formula ( arikunto, 1995).pearson product moment correlation analysis (ppm) is conducted to find out the relationship between variable (x) and (y), and also the relationship between variables (x).to calculate the validity of the measuring instrument used the validity test (r. count) with formula the analysis correlation ppm (pearson product moment):            . ... . 2222       iiii iiii yynxxn yxyxn rhitung source:riduwan (2008) r count : correlation coefficient (pearson product moment) ∑xi : number of item scores ∑yi : total total score (all items) n : number of respondents to find out the correlation coefficient is significant or no distribution is used (table r) for the significance level α = 0.05 or α = 0.01 with degrees of freedom (dk = n-2). then make a decision comparing r.count with r.table.the rule of decision: if r.count> r.table means valid and hal 51 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 r11 ft = 2,060), time performance (fi = 14,950> ft = 4,496), cost performance (fi = 15,379> ft = 4,496). a. related to the qualityperformance: coefficient of determination or r square = 0.876, indicating that the independent variable (x) modeling can affect the achievement of project quality performance 87.60%, the rest influenced by other factors 12.40% (of time and cost performance variables). the most influential variables related to quality performance are the implementation aspect (x1), and aspects of human resources (x2), with regression equation y1 = 0,285 + 0,148.x1 + 0,071.x2. b. related timeperformance: coefficient of determination or r square = 0.537, and the most influential variable is monitoringtimeschedule (x1), with regression equation y2 = 2,166 + 0,415.x1. c. related costperformance: coefficient of determination or r square = 0.481, and the most influential variable is the acceleration of implementation (x1), with regression equation y3 = 0.741 + 0.958.x1. 5.2 suggestions a. if the project organizers feel that these variables have been fulfilled,then the performance of the resulting construction project will be better too. hal 54 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 b. in order to guarantee the quality of the constructed construction (the project performance measure), every project implementation must first create a quality plan (appropriate quality, timely, appropriate cost). there are two types of quality plans: the project quality plan (pqp) prepared by the committing officer (owner), and the contract quality plan (cqp) prepared by the contractor, including the work method. while the consultant in addition to preparing contract quality plan (cqp) related contract documents, also prepare the standard operation procedure (sop), work instructions and checklist work preparation used. bibliography [1] algifari, 2000, regression analysis, bpfe, yogyakarta. [2] arikunto, 1993, research procedure, rinekacipta, jakarta. [3] azwarsaifuddin, 2003, reliability and validity, pustakabelajar, yogyakarta. [4] dwi priyatno, 2009, correlation analysis, regression and multivariate, gavamedia, yogyakarta. [5] nawari, 2010, statistical analysis with ms exel, elex media computindo, jakarta. [6] riduwan, 2008, thesis preparing technique, alfabeta, bandung. [7] sugiyono, 2009, statistics for research, alfabeta, bandung. [8] wahyuagung, 2010, process quantitative research, garailmu, yogyakarta [9] suratno. (2009). pengaruh perbedaan tipe fungsi keanggotaan pada pengendali logika fuzzy terhadap tanggapan waktu sistem orde dua secara umum. 1–10. [10] wardhani, l. k., & haerani, e. (2011). analisis pengaruh pemilihan fuzzy membership function terhadap output sebuah sistem fuzzy logic. sntiki iii 2011, 326–333. [11] widaningsih, s. (2017). analisis perbandingan metode fuzzy tsukamoto, mamdani dan sugeno dalam pengambilan keputusan penentuan jumlah distribusi raskin di bulog sub. divisi regional (divre) cianjur. infoman’s, 11(1), 51–65. https://doi.org/10.33481/infomans.v11i1.21 [12] sni 1972-2008.cara uji slump.badan standardisasi nasional bsn. jakarta. sni 1974-2011 cara uji kuat tekan beton dengan benda uji silinder.badan standardisai nasional indonesia bsn. jakarta [13] tjokrodimuljo,k.2007,teknologi beton kmts ft ugm,yogyakarta. [14] anwar hamid, d., as’ad, s., & safitri, e. (2014). pengaruh penggunaan agregat hal 55 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 daur ulang terhadap kuat tekan dan modulus elastisitas beton berkinerja tinggi grade 80. matriks teknik sipil, 2(2), 43-49. [15] bintang, a. p., setyanto, s., & adha, i. (2016). studi pengaruh penambahan bahan additive tx-300 terhadap kuat tekan batu bata pasca pembakaran. jurnal rekayasa sipil dan desain, 3(3), 381-390. [16] nasution, s. (2009). efek komposisi dan aging terhadap sifat mekanik dan fisis pada pembuatan aerated concrete (beton berpori) (master's thesis). hal 56 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 alternatif penggunaan serat eceng gondok pada campuran stone matrix asphalt gradasi halus meningkatkan stabilitas campuran aspal panas teguh kurniawan1, zulkifli lubis2 1,2 fakultas teknik universitas islam lamongan email: teguh kurniawan 09@gmail.com , cheppy.lubis@gmail.com abstract in this mixture using cellulose fibers derived from water hyacinth to find out whether water hyacinth fiber can be used as a mixture of hot asphalt and as a substitute for cellulose fibers in the market. in this study, the laboratory experimental research method is used to conduct experimental activities to produce a result of water hyacinth fiber mixing with marshall properties. the purpose of this experiment is to compare the results obtained at optimum levels in the specifications of sni specifications for stone matrix asphalt (sma) 2015, with the addition of water hyacinth fiber variations of 1%, 2%, 3%, 4%, 5% taken from asphalt content . the final result of this study was marshall evaluation where stability was 55830.18 kg on 3% water hyacinth fiber content, 17.09% vim on 5% water hyacinth fiber content, 172.40% vma on 5% water hyacinth fiber content, vfwa 2100.28% on 0% water hyacinth fiber content, 2.23 mm flow on 4.9% water hyacinth fiber content, marshall quotient 25984.39 kg / mm on 3% water hyacinth fiber content. these results indicate that waterhyacinth fiber cannot be used in a mixture of sni 2015 stone matrix asphalt specifications (sma). keywords: water hyacinth fiber, stone matrix asphalt, marshall properties abstrak dalam campuran ini menggunakan serat selulosa yang berasal dari eceng gondok untuk mengetahui apakah serat eceng gondok dapat digunakan sebagai campuran aspal panas dan sebagai pengganti serat selulosa di pasaran. dalam penelitian ini, metode penelitian eksperimental laboratorium digunakan untuk melakukan kegiatan eksperimental untuk menghasilkan hasil pencampuran serat eceng gondok dengan marshall properties. tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan hasil yang diperoleh pada tingkat optimal dalam spesifikasi spesifikasi sni untuk aspal matriks batu (sma) 2015, dengan penambahan variasi serat eceng gondok 1%, 2%, 3%, 4%, 5% diambil dari konten aspal. hasil akhir dari penelitian ini adalah evaluasi marshall dengan stabilitas 55830,18 kg pada 3% kadar serat eceng gondok, 17,09% vim pada 5% kadar serat eceng gondok, 17,40% vma pada 5% kadar serat eceng gondok, vfwa 2100,28% pada 0% kadar serat eceng gondok, aliran 2,23 mm pada 4,9% kadar serat eceng gondok, marshall quotient 25984,39 kg / mm pada 3% kadar serat eceng gondok. hasil ini menunjukkan bahwa serat waterhyacinth tidak dapat digunakan dalam campuran spesifikasi asphalt batu matriks sni 2015 (sma). kata kunci: serat hyacinth air, aspal matriks batu, sifat marshall 1. pendahuluan konstruksi jalan raya telah mengalami perkembangan yang pesat. hal ini ditandai dengan semakin lancarnya arus transportasi darat. kehandalan teknologi dan ilmu pengetahuan sangat diharapkan untuk menghadapi tantangan dalam peningkatan kuantitas dan kualitas jalan yang hal 37 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 akan dibangun dan dalam masa pemeliharaan. untuk itu telah lahir suatu teknologi lapis penutup konstruksi jalan yang mempunyai nilai struktural stone matrix asphalt (sma) merupakan jenis campuran beraspal panas yang dapat digunakan sebagai lapis permukaan dengan berberapa karateristik lapisan yang dapat memberikan keuntungan bagi pengendara karna mempunyai ketahanan gelincir (sekid resistant) yang cukup tinggi. spesifikasi mencakup persyaratan bahan cukup sma yang terdiri dari ageregat, bahan pengikat (aspal), serta persyaratan gradasi ageregat campuran dan sifat – sifat campuran. spesifikasi ini merupakan spesifikasi baru yang berguna sebagai acuan dalam perancangan serta pelaksanaan pekerja campuran sma untuk pekerja pemeliharaan untuk pembangunan jalan baru, suaryana, n. (2012). suaryana, n. (2012). campuran aspal dengan kadar aspal relatif tinggi dibutuhkan untuk memenuhi sifat-sifat di atas agar rongga yang terisi aspal (vfwa) besar sehingga lebih tahan terhadap oksida. salah satu jenis lapis perkerasan jalan yang menunjang pembangunan diatas yaitu stone matrix asphalt (sma). sma tersusun atas stone matrix asphalt (campuran agregat halus, filler dan aspal dengan kadar relative tinggi) ditambah dengan zat additive serat selulosa. agregat dari sma mempunyai gradasi terbuka, sehingga dapat memiliki ketebalan lapisan film aspal yang tinggi, hal ini menimbulkan pengaruh positif dan negatif. pengaruh positifnya adalah karena lapisan dengan ketebalan film aspal yang tinggi akan tahan terhadap sinar ultraviolet dan oksidasi, sehingga akan meningkatkan daya tahan dari lapisan perkerasan jalan, sedangkan pengaruh negatifnya adalah bahwa lapisan aspal ini kurang tahan terhadap temperature tinggi, karena pada kondisi lapisan film aspal yang tinggi ini cenderung terjadi bleeding atau keluarnya aspal ke permukaan, akan tetapi pengaruh negative seperti hal tersebut dapat dikurangi dengan penambahan zat additive berupa serat selulosa yang dapat berfungsi untuk menstabilkan aspal dan meningkatkan viskositasnya,,sebab itu dengan teknologi yang sudah ada akan dilakukan suatu penelitian dengan menambahkan serat selulosa yang di dapatkan dari enceng gondok sebagai bahan campuran pada laston. fungsi serat selulosa sebagai bahan campuran aspal ini dapat menyerap aspal, memperkuat kekuatan ashesi dan dapat menstabilkan serta memperkuat aspal. bahan tambah adiktif sebagai campuran aspal yang di gunakan biasanya serat selulosa. oleh karena itu perlu dicari alternatif pengganti serat selulosa tersebut. eceng gondok merupakan suatu gulma air yang sekali tumbuh dan berkembang ternyata mempunyai kandungan serat selulosa cukup tinggi, yakni berkisar 60%. hal ini sangat memungkinkan bahwa eceng gondok berpotensi sebagai bahan dasar pembuatan selulosa yang kedepannya dapat diaplikasikan ke arah yang beragam. maka dari itu penelitian ini akan menggunakan eceng gondok sebagai bahan adiktif karena merupakan serat alami yang mudah di temukan dan murah, (r. davies, 2013). mengingat di daerah lamongan banyak dijumpai tanaman eceng gondok yang saat ini masih hal 38 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 sebagian kecil dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan, untuk itu dalam penelitian ini akan mencoba memanfaatkan eceng gondok sebagai bahan campuran (stone mastic asphalt). penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan serat enceng gondok sebagai bahan pengganti serat selulosa pada campuran stone mastic asphalt (sma). 2. metode penelitian 2.1 rancangan penelitian rancangan penelitian atau desain penelitian adalah proses pengumpulan dan analisis data penelitian. ini berarti bahwa penelitian ini meliputi perencanaan dan melakukan penelitian. untuk rancangan perencanaan diawali dengan observasi dan evaluasi penelitian yang telah dilakukan dan telah dikenal, sampai pembentukan kerangka diperlukan bukti lebih lanjut. dalam implementasi rancangan penelitian termasuk juga membuat eksperimen atau pengamatan, dan juga memilih variabel pengukuran, teknik dan prosedur, pengumpulan data, instrumen, analisis data telah mengumpulkan sampel, dan pelaporan hasil penelitian. pada pembahasan karya ilmiah ini penelitian awal menggunakan metode penelitian di laboratorium dengan cara coba-coba/trial and error. tujuan dari penelitian ini sendiri yaitu untuk mendapatkan hasil dari uji coba pencampuran bahan organik atau gulma berupa eceng gondok. dimana bahan eceng gondok tersebut nantinya akan di campur dengan campuran aspal panas. sdandar yang digunakan dalam penelitian ini telah diakui dan dipakai di indonesia. 2.2 teknik pengumpulan data untuk memperoleh data – data yang diperlukan dalam penelitian, maka dilakukan experimen atau percobaan dilaboratorium. disamping itu dilakukan pula beberapa wawancara dengan pihak terkait yang berkepentingan. 2.3 data pengujian bahan susun campuran aspal panas stone matrix asphalt gradasi halus. ageregat cammpuran untuk stone matrix asphalt (sma) bahan tambah harus terdiri dari bahan yang telah terbukti baik, dan harus ditambahkan kedalam aspal serta diaduk secara seksama sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh pabriknya sehingga diperoleh campuran yang seragam. 2.4 analisis komparasi marshall properties pengujian marshall test diperlukan untuk mengetahui kadar aspal optimum yang berasal dari marshall properties, disamping itu pengujian ini digunakan pula untuk mengetahui pengaruh penambahan serat selulosa dalam campuran pada kondisi kadar aspal optimum. oleh karena itulah, pengujian marshall test dilakukan bertahap sesuai dengan tujuan penelitian, yakni pertama dilakukan untuk mengetahui kadar aspal optimum dan kedua untuk mengetahui hal 39 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 pengaruh penambahan serat selulosa dalam campuran terhadap nilai-nilai marshall properties yaitu stabilitas marshall (marshall tability), % rongga terisi aspal (void filed with asphalt / vfwa), % rongga dalam campuran (void in the mix / vim), kelelahan plastis (flow), kepadatan campuran (density) dan marshall quotient (mq). 2.5 analisis data setelah dilakukan penelitian penambahan serat eceng gondok pada campuran aspal panas, peneliti dapat membandingkan hasil dari test marshall properties dengan menggunakan dua jenis benda uji dimana dua benda uji tersebut sebelum diberikan tambahan dan sesudah diberikan tambahan serat eceng gondok. setelah dilakukan pengujian akan mendapatkan hasil, yang selanjutnya dilakukan dengan membuat pemodelan matematika dengan bantuan software ms excell 2013 untuk mengetlahui hubungan antara kadar penambahan serat selulosa dengan : (i). kualitas aspal; dan, (ii). nilai-nilai marshall properties. hasil akhir merupakan model matematika hubungan pengaruh antara penambahan serat enceng gondok terhadap : (i). kualitas aspal (penetrasi; titik lembek; titik nyala dan titik bakar aspal serta kehilangan berat aspal); dan, (ii). nilai-nilai marshall properties. hasil analisis data digunakan sebagai dasar untuk menarik kesimpulan. 3. hasil dan pembahasan 3.1 stabilitas (stability) stabilitas adalah kemampuan maksimal suatu benda uji campuran beton aspal menahan beban sampai terjadi kelelehan plastis. nilai stabilitas akan bertambah dengan naiknya kadar aspal sampai ke batas optimum dan akan mengalami penurunan setelah batas optimum. hal 40 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 gambar 1: hubungan marshall stability dengan kadar selulosa sumber : hasil penelitian, 2018 dari gambar grafik hubungan stability marshall dengan kadar serat eceng gondok didapatkan nilai tertinggi pada penambahan kadar serat 3 % dan 4 %. 3.2 rongga dalam campuran (void in the mix) rongga udara dalam campuran (vim) dalam campuran perkerasan beraspal terdiri atas ruang udara diantara partikel agregat yang terselimuti aspal. gambar 2: hubungan void in the mix dengan kadar selulosa sumber : hasil penelitian, 2018 dari gambar grafik hubungan void in the mix dengan kadar serat eceng gondok diatas didapatkan nilai tertinggi pada penambahan kadar serat 5 %. 3.3 rongga dalam mineral (void in mineral aggregate) rongga antar mineral agregat (vma) adalah ruang rongga diantara partikel agregat pada suatu perkerasan, termasuk rongga udara dan volume aspal efektif (tidak termasuk volume aspal yang diserap agregat). hal 41 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 gambar 3: hubungan void in mineral aggregate dengan kadar selulosa sumber : hasil penelitian, 2018 dari grafik hubungan void in mineral agregate dengan kadar serat eceng gondok diatas didapatkan nilai tertinggi pada penambahan kadar serat 5 % 3.4 rongga terisi campuran beraspal (void filled with asphalt) rongga terisi aspal atau void filled with asphalt (vfwa) adalah persen rongga yang terdapat diantara partikel agregat (vma) yang terisi oleh aspal, tidak termasuk aspal yang diserap oleh agregat. gambar 4: hubungan void filled with asphalt dengan kadar selulosa sumber : hasil penelitian, 2018 dari grafik hubungan void filled with asphalt dengan kadar serat eceng gondok diatas didapatkan nilai tertinggi pada penambahan kadar serat 2 % 3.5 kelelehan (flow) hal 42 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 nilai flow ditunjukkan oleh jarum arloji pembacaan flow pada alat marshall. untuk arloji pembacaan flow, nilai yang didapat sudah dalam satuan mm, sehingga tidak perlu dikonversi lebih lanjut. gambar 5: hubungan flow dengan kadar selulosa sumber : hasil penelitian, 2018 dari grafik hubungan void filled with asphalt dengan kadar serat eceng gondok diatas didapatkan nilai tertinggi pada penambahan kadar serat 4 %. 3.6 marshall quotient marshall quotient adalah perbandingan antara nilai stabilitas dengan flow. marshall quotient merupakan indikator dalam menentukan nilai fleksibitas kelenturan terhadap keretakan. kenaikan fleksibitas disebabkan oleh penambahan kadar aspal dan akan penurunan hingga batas optimum disebabkan oleh berubahnya fungsi aspal sebagai pengikat menjadi pelican. gambar 6: hubungan marshall quotient dengan kadar selulosa sumber : hasil penelitian, 2018 hal 43 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 4. kesimpulan a. pada kondisi aspal optimum marshall stability mengalami penurunan dari 1%, 2%, 5% dan meningkat dari 3% 4% atan seiring bertambahnya prosentase kadarselulosa enceng gondok dalam dalam hal ini titik marshall stability terdapat pada variasi penambahan serat selulosa sebesar 3 % dari berat aspal pada campuran dengan nilai marshall stability sebesar 55830,18 kg. b. pada kondisi aspal optimum persentase rongga dalam campuran (void in the mix) mengalami peningkatan cukup tinggi dari 1% 5% seiring dengan bertambahnya persentase kadar selulosa enceng gondok dalam campuran, dalam hal ini titik puncak vim terdapat pada variasi penambahan serat selulosa sebesar 5 % dari berat aspal pada campuran dengan nilai vim sebesar 17,09%. c. pada kondisi aspal optimum persentase rongga dalam campuran (void in mineral aggregate) mengalami peningkatan dari1%, 2%, 3%, 4%, 5%, dengan seiring bertambahnya persentase kadar selulosa enceng gondok dalam campuran, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa titik puncak atau extreme point vma terdapat pada variasi penambahan serat selulosa sebesar 5% dari berat aspal pada campuran dengan nilai vma sebesar 172,40 %. d. pada kondisi aspal optimum persentase rongga terisi aspal (void filled with asphalt) mengalami penurunan cukup tajam dari 1% 5% dengan seiring bertambahnya prosentase kadar selulosa dalam campuran, dalam hal ini 6 titik puncak vfwa terdapat pada variasi penambahan serat selulosa sebesar 0 % dari berat aspal pada campuran dengan nilai vfwa sebesar 2100,28 %. e. pada kondisi aspal optimum kelelahan plastis (flow) campuran mengalami penurunan dari 1%, 2%, 3%, 5%, dan yang mengalami kenaikan 4%, seiring dengan bertambahnya persentase kadar selulosa enceng gondok dalam campuran, dalam hal ini titik flow terdapat pada variasi penambahan serat selulosa sebesar 4,9 % dari berat aspal pada campuran dengan nilai flow sebesar 2,23 mm. f. pada kondisi aspal optimum ternyata marshall quotient (mq) mengalami peningkatan dari 1%, 3%, 5%, dan mengalami penurunan dari 2%, 4%, seiring bertambahnya persentase kadar selulosa dalam campuran, hasil pemeriksaan menunjukkan titik puncak atau extreme\ point mq terdapat pada variasi penambahan serat selulosa sebesar 3,1% dari berat aspal pada campuran dengan nilai mq sebesar 25984,39 kg/mm. dari hasil keseluruan marshaiil test, di ketahui kadar penambahan eceng gondok 3 % yang paling memenuhi di lihat dari stability, vim, vma, vfwa, flow, dan mq. daftar pustaka [1] aashto m 325., 2008, standard specification for stone matrix asphalt (sma). hal 44 ukarst vol.3, no.1 tahun 2019 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 [2] aashto, 2008.”standard specifications for transportation materials and methods of sampling and testing, part 2 : tests.” aashto, washington d.c. [3] ahmad bagir dan gigih eka pradana., 2011.pemanfaatan serat eceng gondok [4] badan standarisasi nasional, 2012. sni astm c136:2012 : metode uji untuk analisis saringan agregat halus dan agregat kasar. jakarta: bsn. [5] badan standarisasi nasional, sni 8129:2015 tentang spesifikasi stone matrix asphalt (sma) [6] badan standarisasi nasional, sni 03-6388,2000, spesifikasi agregat lapis pondasi bawah lapis pondasi atas dan lapis permukaan [7] badan standardisasi nasional. 2002. spesifikasi agregat halus untuk campuran perkerasan beraspal, sni 03-6819-2002. jakarta [8] badan standarisasi nasiona,l bssni, 2002. sksni 13–6717–2002. tata cara penyiapan benda uji dari contoh agregat [9] badan standarisasi nasional, bssni, 2011. sksni 2433-2011. cara uji titik nyala dan titik bakar aspal dengan alat cleveland open cup [10] badan standarisasi nasional, bssni, 2011. sksni 2439-2011. cara uji penyelimutan dan pengelupasan pada campuran agregat-aspal [11] badan standarisasi nasional, bssni, 2011. sksni 2456-2011. tentang cara uji penetrasi aspal [12] badan standarisasi nasional, bssni,2011. sksni 2434-2011. tentang cara uji titik lembek aspal dengan alat cincin dan bola (ring and ball) [13] badan standarisasi nasional’ bssni, 2011. sksni 2441-2011. tentang cara uji berat jenis aspal keras [14] direktorat jendral bina marga., 2010. spesifikasi umum direktorat jenderal bina marga edisi 2010 divisi 6. kementrian pekerjaan umum indonesia. [15] lisminto dan as’ad m. 1993. mekanisme stabilisasi aspal oleh serat sellulosa di dalam campuran splite mastic asphalt. drektorat jendral bina [16] metode pengujian campuran aspal dengan alat marshall, sni 06-2489-1991. kementerianpekerjaan umum, badan penelitian dan pengembangan pu [17] sukirman silvia (1999), perkerasan lentur jalanraya, nova,bandung. [18] sukirman s., 2003. beton aspal campuran panas,penerbit granit, jakarta hal 45 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 kajian bahan tambah aternatif serat eceng gondok terhadap campuran latasir sand sheet kelas a spesifikasi seksi-6 2010 bina marga dwi kartikasari 1 ,ilham sudarso 2 1 dosen fakultas teknik program studi teknik sipil universitas islam lamongan 2 program studi teknik sipil fakultas teknik universitas islam lamongan email: dkartika27@gmail.com;ilhamsudarso54@gmail.com , abstract the test was carried out by adding water hyacinth fibers in the sand sheet class a latasir mixture. and with the addition of water hyacinth fiber variations of 0.6%, 0.9%, 1.2% taken from asphalt content. the final result of this research was marshall evaluation which was obtained for the effect of the addition of water hyacinth cellulose fiber in this study showed an increase in marshall stability value of 27.29% with a mixture of 1.2% water hyacinth, plastic fatigue (flow) decreased by -23 , 89% with a mixture of 0.9% water hyacinth, cavity filled in the mixture (void in the mix) increased by 18.65% with a mixture of 1.2% water hyacinth, cavity filled with asphalt (void filled with asphalt) decreased by -8.74% with a mixture of 1.2% water hyacinth, cavity in aggregate (void in mineral aggregate) increased by 7.80% with a mixture of 1.2% water hyacinth, and marshall quotient increased by 71.78% with a mixture of 0.9% water hyacinth. these results indicate that water hyacinth fiber can be used as an ingredient to add a mixture of latasir sand sheet class a specifications of clan development. keywords: sand sheet, marshall test index, water hyacinth fiber, stability, flow, marshall quotient 1. pendahuluan jalan merupakan prasarana yang sangat menunjang bagi kebutuhan hidup masyarakat, kerusakan jalan dapat berdampak pada kondisi sosial dan ekonomi terutama padasarana transportasi darat. dampak pada konstruksi jalan yaitu perubahan bentuk lapisan permukaan jalan berupa lubang , bergelombang, retak-retak dan pelepasan butiran serta gerusan tepi yang menyebabkan kinerja jalan menjadi menurun, kerusakan tersebut bisa terjadi pada muka jalan yang menggunakan aspal beton sebagai lapis permukaannya. dan sering mengakibatkan kecelakaan bagi penguna jalan, terutama bagi pengendara sepedah motor. kerusakan jalan berlubang biasa ditanggulangi dengan cara perbaikan tambal sulam di bagian yang berlubang. dengan mengunakan aspal panas (hot mix) lalu di padatkan mengunakan (baby roller) agar memenuhi kepadatan dan elevasi yang direncanakan. salah satu jenis aspal yang sering di gunakan untuk jalan di indonesia aspal beton (asphalt concrete) di indonesia dikenal dengan laston (lapisan aspal beton) yaitu lapis permukaan struktural atau lapis pondasi atas. aspal beton terdiri atas 3 (tiga) macam lapisan, yaitu laston lapis aus ( asphalt concretewearing course atau ac-wc), laston lapis permukaan antara ( asphalt concretebinder course atau ac-bc) dan laston lapis pondasi ( asphalt concrete base atau ac-base). ketebalan nominal minimum masing-masingb 4 cm, 5 cm, dan 6 cm. hal 64 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 berdasarkan fungsinya aspal beton memiliki karakteristik yang berarti kemampuan lapis perkerasan menerima beban lalu lintas tanpa terjadi perubahan bentuk tetap seperti bergelombang, alur atau beleeding. stabilitas terjadi dari hasil geser antara butir,penguncian antara partikel dan daya ikat yang baik dari pencampuran aspal dan agregat. gradasi rapat adalah gradasi agregat dimana terdapat butiran dari agregat kasar sampai halus, sehingga sering juga disebut gradasi menerus, atau gradasi baik (well graded). campuran beraspal dengan gradasi ini memiliki stabilitas yang tinggi, agak kedap terhadap air dan memiliki berat isi yang lebih berat. sebagai upaya mengambangkan campuran aspal panas di indonesia dari segi ketahanan dan kualitas. salah satunya dengan mengunakan upaya spesifikasi teknis, aspal yang dibuat dengan mengunakan campuran aspal keras dengan menambahkan suatu bahan yang bersifat kimia atau minerat tambahan ini d harapkan dapat merubah performa dan sifat aspal sesuai kodisi tujuan yang diinginkan, biasanya dalam kondisi jalan tertentu untuk aspal panas ditambahkan zat additive / admixture khusus campuran aspal panas, bahan tambahan zat additive / admixture suatu bahan yang berupa bubuk atau suatu cairan, zat ini memiliki harga yang cukup mahal. sehinga kami mencoba alternative bahan tambahan serat eceng gondok terhadap campuran lapis tipis aspal beton. pada umumnya, kebanyakan orang hanya mengenal tanaman eceng gondok sebagai tanaman yang hidup diatas permukaan air yang mengganggu. selain mengganggu lingkungan air itu, misalnya saja kolam, juga ternyata mengganggu habitat air. karena tanaman enceng gondok ini bisa menyerap oksigen yang ada didalam air. yang artinya menyedot oksigen dari ikan-ikan dan hewan air lainnya untuk bernafas yang ada disekitar tanaman eceng gondok. tapi sudahkah anda tahu bahwa tanaman eceng gondok memiliki manfaat untuk mudah dibentuk menjadi kerajinan yang indah.? kebanyakan kerajinan dari eceng gondok dijadikan furniture rumah tangga, meubel, hiasan, dan bentuk lain. nah, dari sini kita sudah faham kan bagaimana enceng gondok itu ternyata dapat dimanfaatkan sedemikian rupa. tapi, apa yang membuat enceng gondok dapat berubah bentuk. enceng gondok memiliki unsur sio2, calsium (ca), magnesium (mg), kalium (k), natrium (na), chlorida (cl), cupper (cu), mangan (mn), ferum (fe) dan banyak lagi. pada akarnya terdapat senyawa sulfate dan fosfat. daunnya kaya senyawa carotin dan bunganya mengandung delphinidin-3-diglucosida. dengan seluruh kandungan kimia yang ada itu, enceng gondok dapat menyembuhkan tenggorokan terasa panas, kencing tidak lancar, biduran dan bisul. kandungan senyawa penting tadi terdapat diseluruh organ tanaman dari akar sampai daun dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional. bahkan bunganya yang menawan juga bagus dijadikan bahan obat tradisional. (djalante,2011) hal 65 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 eceng gondok dapat meningkatnya evapotranspirasi (penguapan dan hilangnya air melalui daun-daun tanaman), karena daun-daunnya yang lebar dan serta pertumbuhannya yang cepat, menurunnya jumlah cahaya yang masuk kedalam perairan sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kelarutan oksigen dalam air dan berkurangnya ekosistem bawah laut, tumbuhan eceng gondok yang sudah mati akan turun ke dasar perairan sehingga mempercepat terjadinya proses pendangkalan yang menyebabkan terjadinya banjir, meningkatnya habitat bagi vektor penyakit pada manusia.menurunkan nilai estetika lingkungan perairan. dengan melihat eceng gondok yang banyak tumbuh di daerah tersebut kami mencoba memanfaatkan eceng gondok sebagai serat selulosa sebagai bahan campuran alternative campuran lapis tipis aspal beton agar bisa mengatasi masalah ekologi lingkungan yang di sebabkan oleh eceng gondok yang di angap sebagai gulma dan meningkatkan nilai ekonomis eceng gondok sertas membatu menangani lapis perkerasan lentur jalan raya. tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui secara umum pembuatan eceng gondok sebagai bahan serat selulosa yang digunakan sebagai bahan tambah pada campuran aspal panas dan untuk mengetahui secara umum pengaruh penambahan serat eceng gondok terhadap karakteristik campuran aspal panas pada sistem campuran aspal panas campuran latasir sand sheet kelas a spesifikasi seksi-6 2010 bina marga 2. metode penelitian dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode eksperimental yaitu mengadakan kegiatan percobaan untuk mengadakan suatu hasil. tujuan eksperimen ini yaitu untuk membandingkan hasil yang telah didapat dalam penelitian dengan syarat-syarat yang ada. pada tahap ini dilakukan dan pemeriksaan bahan penelitian yaitu agregat dan aspal. pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui sifat – sifat bahan apakah memenuhi standart spesifikasi yang telah di tentukan. 1. pemeriksaan agregat : a. analisa saringan agregat kasar dan agregat halus b. pengukuran berat jenis dan penyerapan agregat kasar c. pengukuran berat jenis dan penyerapan agregat halus 2. pemeriksaan aspal : persiapan aspal yang dilakukan adalah pengambilan aspal yang akan digunakan. tahap pembuatan serat selulosa dari eceng gondok 1. pengambilan enceng gondok dari daerah sungai turi, lamongan 2. pembersihan enceng gondok dengan air bersih, bagian batang eceng gondok dipisahkan dari daun dan akarnya kemudian dirajang. hal 66 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 3. enceng gondok yang sudah dalam keadaan dirajang kemudian digiling dengan mesin pengiiling untuk menjadikan serat 4. setelah menjadi serat kemudian diperas untuk mengilangkan kadar air kemudian dijemur sampai benar-benar kering 5. setelah benar-benar kering serat eceng gondok bisa digunakan sebagai variasi campuran aspal beton. data pengujian marshall properties pada tahap ini dibuat benda uji (briket) masing-masing sebanyak 3 (tiga) buah tiap variasi kadar aspal. variasi kadar aspal yang dipakai yakni 0,6%, 0,9%, dan 1,2%, dari kadar aspal. jumlah briket yang dibutuhkan adalah 3 x 3 = 9 + 3 buah briket unuk benda uji tanpa tambahan serat eceng gondok, jadi total 12 buah briket/benda uji. setelah briket dibuat kemudian dilakukan pengujian marshall untuk mengetahui karakteristik marshall yang meliputi stabilitas marshall (marshall stability), % rongga dalam campuran (void in the mix), % rongga terisi asphalt (void filled asphalt), kelelahan plastis (flow), dan marshall quotient (mq). diagram alir dapat dilihat pada gambar 1 dibawah ini: gambar 1: flow chart pembuatan benda uji sumber : rancangan penelitian, 2019 mulai persiapan alat dan bahan pembuatan serat eceng gondok pemeriksaan bahan susun pemeriksaan agregat 1. analisa saringan 2. berat isi dan rongga udara 3. berat jenis dan pemeriksaan aspal 1. penetrasi 2. titik lembek 3. titik nyala dan titik bakar penentuan kadar aspal rencana memenuhi spesifikasi laston tipe vii job mix formula dengan variasi penambahan serat eceng gondok 0%, 0,6%, 0,9% dan 1,2% pembuatan benda uji, masing-masing 3 briket x 4 variasi = 12 briket pengujian marshall test meliputi: stabilitas, vfwa, vma, vim,, flow, mq selesai tidak ya hal 67 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 3. hasil dan pembahasan penentuan berat agregat dan aspal dalam campuran tabel 1: persentase fraksi agregat dan aspal jenis pemeriksaan persentase satuan kadar aspal 7 % kapasitas mould 1100 gr berat wajan 410 gr berat aspal 77 gr berat agregat 1023 gr 1. coarse aggregate 475,80 gr 2. medium aggregate 309,25 gr 3. fine aggregate 237,95 gr sumber : hasil penelitian, 2019 tabel 2: hasil pengujian marshall test rata-rata dengan penambahan serat selulosa eceng gondok menggunakan persamaan regresi (%) selulosa stabilitas (kg) vfwa (%) vim (%) vma (%) flow (mm) mq (kg/mm) 0 952,45 83.33 3.10 18,54 3.77 253.02 0,6 1,000.27 77.96 3.25 19.63 3.05 339.41 0,9 1,204.99 77.57 3.30 19.67 2.87 434.64 1,2 1,212.36 76.04 3.68 19.99 3.20 391.02 spesifikasi > 200 >75 3,0-6,0 >20 2 ,0-3,0 >80 pemadatan 2 × 50 kadar aspal 7.00% sumber : hasil penelitian, 2019 stabilitas (stability) stabilitas adalah kemampuan maksimal suatu benda uji campuran beton aspal menahan beban sampai terjadi kelelehan plastis. nilai stabilitas akan bertambah dengan naiknya kadar aspal sampai ke batas optimum dan akan mengalami penurunan setelah batas optimum. tabel 3 penelusuran model regresi pengaruh penambahan serat selulosa eceng gondok terhadap stabilitas no. model persamaan regresi r2 1 y = 107.72 x2+ 116.9x + 943.78 0,85 2 y = -1471.7 x3 + 2877.2x2 + 952.45 1 sumber : hasil penelitian, 2019 hal 68 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 gambar 2: hubungan marshall stability dengan kadar selulosa sumber : hasil penelitian, 2019 void in mix (vim) rongga udara dalam campuran (vim) dalam campuran perkerasan beraspal terdiri atas ruang udara diantara partikel agregat yang terselimuti aspal tabel 4 penelusuran model regresi pengaruh penambahan serat selulosa eceng gondok terhadap void in the mix no. model persamaan regresi r2 1 y = -0.7874x2 + 2.0946 + 18.556 0,9752 2 y = 2.7877x3 – 6.0334 x2 + 18.54 1 sumber :, hasil penelitian, 2019 gambar 3: hubungan void in the mix dengan kadar selulosa sumber : hasil penelitian, 2019 void in mineral aggregates (vma) rongga antar mineral agregat (vma) adalah ruang rongga diantara partikel agregat pada suatu perkerasan, termasuk rongga udara dan volume aspal efektif (tidak termasuk volume aspal yang diserap agregat). tabel 5: penelusuran model regresi pengaruh penambahan serat selulosa eceng gondok terhadap void in mineral aggregates no. model persamaan regresi r 2 1 y = -0.7874x 2 + 2.0946x + 18.556 0,9752 2 y = 2.7877x 3 – 6.0334x 2 + 18.54 1 sumber :, hasil penelitian, 2019 gambar 4: hubungan void in mineral aggregate dengan kadar selulosa hal 69 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 sumber : hasil penelitian, 2019 voids filled with asphalt (vfwa) rongga terisi aspal atau void filled with asphalt (vfwa) adalah persen rongga yang terdapat diantara partikel agregat (vma) yang terisi oleh aspal, tidak termasuk aspal yang diserap oleh agregat. tabel 6: penelusuran model regresi pengaruh penambahan serat selulosa eceng gondok terhadap voids filled with asphalt (vfwa) no. model persamaan regresi r 2 1 y = 3.7955x 2 10.383x + 83.257 0,9807 2 y = -12.369 x 3 + 27.072x2 20.746x + 83.33 1 sumber :, hasil penelitian, 2019 gambar 5: hubungan void filled with asphalt dengan kadar selulosa sumber : hasil penelitian, 2019 kelelehan (flow) nilai flow ditunjukkan oleh jarum arloji pembacaan flow pada alat marshall. untuk arloji pembacaan flow, nilai yang didapat sudah dalam satuan mm, sehingga tidak perlu dikonversi lebih lanjut. tabel 7: penelusuran model regresi pengaruh penambahan serat selulosa eceng gondok terhadap kelelehan (flow) no. model persamaan regresi r 2 1 y = 1.3552x 2 – 2.1348x + 3.7776 0,9711 2 y = 1.8519x 3 – 2.1296x 2 + 3.7667 1 sumber :, hasil penelitian, 2019 hal 70 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 gambar 6: hubungan flow dengan kadar selulosa sumber : hasil penelitian, 2019 marshall qoutient (mq) marshall quotient merupakan indikator dalam menentukan nilai fleksibitas kelenturan terhadap keretakan. kenaikan fleksibitas disebabkan oleh penambahan kadar aspal dan akan penurunan hingga batas optimum . tabel 8: penelusuran model regresi pengaruh penambahan serat selulosa eceng gondok terhadap marshall qoutient (mq) no. model persamaan regresi r 2 1 y = 114.07x 2 + 267.64x + 248.29 0.8652 2 y = -803.45x 3 + 1397.9x 2 – 405.51x + 253.02 1 sumber :, hasil penelitian, 2019 gambar 7: hubungan marshall quotient dengan kadar selulosa sumber : hasil penelitian, 2019 tabel 10: extreme point tertinggi penambahan serat selulosa eceng gondok terhadap stabilitas marshall (marshall stability) kadar serat ideal latasir kelas a spesifikasi seksi-6 2010 bina marga stabilitas flow vim vfwa vma mq 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 1 1,1 1,2 1,3 sumber : hasil penelitian, 2019 dari data tabel 10 diatas, maka diambil kesimpulan bahwa garis penambahan ideal serat eceng gondok pada latasir sand sheet kelas a spesifikasi seksi-6 2010 bina marga. nilai stabilitas tertinggi atau mulai naik pada titik 0,9 hinga 1,2. nilai flow yang paling baik sesuai dengan spek berada pada ring 0,9 hinga 1,2. nilai vim yang paling baik berada pada ring 0,9 hinga 1,2. nilai vfwa yang sesuai spek atau lebih baik dan semakin naik berada pada ring 0,4 hingga 0,9. nilai vma yang paling baik antara 0,9 hinga 1,2. nilai mq baik 0,9 hinga 1,2. jadi dapat di simpulkan bahwa kadar serat 0,9% yang ideal dan memenuhi semua nilai ideal. 4. penutup hal 71 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 kesimpulan kesimpulan pengaruh penggunaan serat eceng gondok sebagai bahan tambahan alternatif serat eceng gondok terhadap campuran lapis tipis aspal beton beton sand sheet kelas a spesifikasi seksi-6 2010 bina marga, yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. dari hasil penelitian bahwa serat eceng gondok dapat digunakan sebagai bahan tambah alternative dalam campuran lapis tipis aspal pasir sand sheet kelas a spesifikasi seksi -6 2010 bina marga dengan kandungan serat eceng gondok 0,9 %. 2. pengaruh penambahan serat selulosa enceng gondok pada penelitian ini menunjukkan kenaikan nilai stabilitas marshall (marshall stability) sebesar 27,29 % dengan campuran eceng gondok 1.2 %, kelelahan plastis (flow) menurun sebesar -23,89 % dengan campuran eceng gondok 0,9 %,, rongga terisi dalam campuran (void in the mix) meningkat sebesar 18.65 % dengan campuran eceng gondok 1.2 %,, rongga terisi aspal (void filled with asphalt) menurun sebesar -8,74 % dengan campuran eceng gondok 1.2 %,, rongga dalam agregat (void in mineral aggregate) meningkat sebesar 7,80 % dengan campuran eceng gondok 1.2 %,, serta marshall quotient meningkat sebesar 71,18 % dengan campuran eceng gondok 0,9 %. hasil ini menunjukkan bahwa serat eceng gondok dapat digunakan sebagai bahan tambah campuran latasir sand sheet kelas a spesifikasi bina marga. referensi [1] ahmed, a. f., moahmed a, abdel naby. (2012). pretreatment and enzymic saccharification of water hyacinth cellulose. carbohydrate polymers. [2] bina marga., 2010. spesifikasi umum direktorat jenderal bina marga edisi 2010 divisi 6. kementrian direktorat jendral pekerjaan umum indonesia. [3] bssni, 1998. sni 03-4804-1998 metode pengujian berat isi dan rongga udara dalam agregat. jakarta [4] bssni, 2008. sni 1969-2008 cara uji berat jenis dan penyerapan air agregat kasar. jakarta [5] bssni, 2008. sni 2417-2008. cara uji keausan agregat dengan mesin abrasi los angeles. jakarta. jakarta [6] bssni, 2011. sni 2439-2011 metode pengujian kelekatan agregat terhadap aspal. jakarta [7] bssni, 2008. sni 1970-2008 cara uji berat jenis dan penyerapan air agregat halus. jakarta [8] bssni, 1997. sni 03-4428-1997 metode pengujian agregat halus atau pasir yang mengandung bahan plastik dengan cara setara pasir. jakarta [9] bssni, 2011. sni 2456-2011 cara uji penetrasi aspal. jakarta [10] bssni, 2011. sni 2441-2011 cara uji berat jenis aspal keras. jakarta [11] bssni, 2011. sni 2434-2011. cara uji titik lembek aspal dengan alat cincin dan bola (ring and ball) . jakarta [12] bssni, 2011. sni 2433-2011 cara uji titik nyala dan titik bakar aspal dengan alat cleveland open cup. jakarta hal 72 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 [13] bssni, 1989. sni 03-1737-1989 tata cara pelaksanaan lapis aspal beton (laston) untuk jalan raya. jakarta [14]bssni, 2015. sni 8129-2015 spesifikasi stone matrix asphalt (sma). jakarta [15] departemen permukiman dan prasarana wilayah, 2002. “pedoman perencanaan tebal perkerasan lentur pt t-01-2002-b.”, jakarta. [16] departemen permukiman dan prasarana wilayah, 2002. “manual pekerjaan campuran beraspal panas.”, jakarta hal 73 ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hal 88 studi kasus stabilitas struktur tanah lempung pada jalan totok kerot kediri menggunakan limbah kertas 1agata iwan candra, 2sulik anam, 3zendy bima mahardana, 4andri dwi cahyono 1,2,3,4 fakultas teknik universitas kadiri e-mail: iwan_candra@unik-kediri.ac.id, sulik_anam@ unik-kediri.ac.id, zmahardana@unikkediri.ac.id, adcahyono@unik-kediri.ac.id abstract the stability of the soil structure is something that needs to be considered in development. increasing soil structure improvement can be done through various efforts using added materials or compaction processes. this study aims to improve the clay soil on the kerot kediri road using paper waste. the research was conducted experimentally by making samples in the laboratory. the land used is from the totok kerot road, kediri, which has damaged the road surface due to land loans. waste paper was added at 0% 7.5%, 10%, 15%, and 20% of the weight of the test object. waste paper is used with pulp after it is dried and pulverized to a certain gradation. the tests carried out include the consistency limit (atterberg limit) and soil compaction (proctor) tests. the results showed that the addition of waste paper affects the original properties of the soil. the addition of paper moisture content decreases the plastic index value and increases the dry volume of the soil. the addition of waste paper content also increases the volume of dry soil water but decreases after reaching the optimum point, namely at 10% paper waste content and 9.96% water content with a dry volume weight value of 1.97gr/cm3. the greater the dry volume of soil, the dry density indicates that the soil is getting higher. so that by knowing these results, it can be used as a reference in the process of repairing and backfilling the soil on the totok kerot kediri road. keywords: clay soil, paper waste, soil, soil stability abstrak stabilitas struktur tanah menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan konstruksi. peningkatan stabilitas struktur tanah dapat dilakukan melalui berbagai upaya seperti pengguunaan bahan tambah ataupun proses pemadatan. penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan stabilitas tanah lempung pada jalan totok kerot kediri menggunakan limbah kertas. penelitian dilakukan secara eksperimental degan pembuatan sampel di laboratorium. tanah yang digunakan berasal dari jalan totok kerot kediri yang mengalami kerusakan permukaan jalan akibat efek lendutan tanah. limbah kertas yang ditambahkan sebesar 0% 7.5%, 10%, 15% dan 20% dari berat benda uji. limbah kertas diproses dengan menjadikannya bubur kertas yang setelahnya dikeringkan dan dihaluskan dengan gradasi tertentu. pengujian yang dilakukan meliputi uji batas konsistensi (atterberg limit) dan pemadatan tanah (proctor). hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan limbah kertas mempengaruhi sifat asli tanah. penambahan kadar limbah kertas menurunkan nilai indeks plastis serta meningkatkan berat volume kering tanah. penambahan kadar limbah kertas juga meningkatkan berat volume kering tanah namun mengalami penurunan setelah dicapainya titik optimum yaitu pada kadar limbah kertas 10% dan kadar air 9,96% dengan niali berat volume kering sebesar1,97gr/cm3. semakin besar berat volume kering suatu tanah menunjukkan kepadatan kering tanah yang menunjukkan bahwa stabilitas tanah semakin tinggi. sehingga dengan diketahuinya hasil tersebut, dapat digunakan sebagai acuan dalam proses perbaikan serta pengurukan tanah pada jalan totok kerot kediri. kata kunci: limbah kertas, tanah, tanah lempung, stabilitas tanah mailto:iwan_candra@unik-kediri.ac.id mailto:adcahyono@unik-kediri.ac.id ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hal 89 1. pendahuluan tanah merupakan suatu material yang terdiri dari berbagai unsur agregat atau butiran mineral padat. tanah menjadi komponen terpenting dalam konstruksi bangunan. fungsi utama tanah yaitu sebagai pendukung pondasi serta perletakan bangunan[1][2]. tanah terdiri dari berbagai ukuran butiran beragam yang terbentuk karena pelapukan alami batuan[3]. ukuran butiran tersebut dapat diklasifikasikan menjadi empat golongan yaitu kerikil (gravel), pasir (sand), lanau (silt), dan lempung (clay). berbagai jenis tanah tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. tanah lempung merupakan salah satu jenis tanak lunak dengan karakteristik tanah berbutir halus [4]. tanah tersebut memiliki sifat kembang susut dimana ketika terkena air akan mengembang sesuai jumlah air yang terserap, namun ketika dalam keadaan kering akan menyusut seperti dimensi semula dengan pemadatan yang tidak terarah [5]. konsistensi tanah berlempung kurang mendukung terhadap keamanan bangunan yang ditopangnya. tanah dengan kadar lempung tinggi memiliki daya dukung tanah yang rendah sehingga perlu diperkuat dengan proses stabilisasi tanah atau perbaikan tanah [7][6]. komponen struktur tanah yang terdapat pada jalan totok kerot kediri berupa tanah lempung. struktur tanah tersebut menjadikan permukaan tanah menjadi bergelombang, terlebih ketika permukaan tanah tersebut digunakan sebagai jalan perlintasan kendaraan berat. sehingga perlu dilakukannya stabilisasi tanah. stabilisasi tanah dilakukan untuk memperbaiki sifat asli tanah serta meningkatkan kualitas tanah sehingga menunjang keamaan suatu bangunaan [8]. stablisasi tanah dilakukan dengan menambahkan bahan-bahan terntu pada susunan tanah asli [10]. penambahan bahan tersebut diharapkan mampu mengubah atau memperbaiki sifat dasar tanah lempung [11]. selain penggunaan bahan tambah, kualitas tanah juga dapat ditingkatkan melalui proses pengurukan serta pemadatan yang tepat. dengan pemadatan, maka butir-butir tanah akan merapat sehingga volume tanah dan volume pori berkurang namun volume butir tidak berubah. tanah yang stabil akan meningkatkan kekuatan geser tanah, daya dukung dan permeabilitas tanah [9]. beberapa penelitian mengenai penggunaan bahan tambah untuk perbaikan tanah telah banyak dikembangkan. penggunaan bahan tambah berbahan dasar limbah seperti limbah plastik, kapur, limbah gypsum [12][13][14], menunjukkan bahwa bahan-bahan tersebut mampu memperbaiki karakteristih tanah secara signifikan. namun, belum banyak penelitian yang mengulas mengenai penggunaan limbah kertas sebagai stabilisati tanah. limbah kertas sendiri masuk kedalam ketegori limbah padat domestik yang penguraiannya lumayan sulit, sifatnya padat namun lolos air sehingga terbilang cukup bagus[15]. ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hal 90 penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan stabilitas tanah lempung pada jalan totok kerot kediri dengan penggunaan limbah kertas. limbah kertas yang ditambahkan sebesar 0%, 7.5%, 10%, 15% dan 20% dari berat benda uji. sehingga dengan diketahuinya nilai stabilitas dengan penggunaan limbah kertas, maka dapat digunakan sebagai perbaikan kondisi tanah pada jalan totok kerot. 2. metode penelitian penelitian dilakukan dengan metode eksperimental dengan pembuatan sampel penelitian di laboratorium teknik sipil universitas kadiri. sampel yang digunakan berupa tanah yang berasal dari jalan totok kerot kediri dengan karakteristik tanah lempung. perbaikan tanah lempung dilakukan dengan menambahkan limbah kertas. limbah kertas yang ditambahkan sebesar 0%, 7.5%, 10%, 15% dan 20% dari berat benda uji. pengujian yang dilakukan meliputi uji konsistensi tanah serta uji pemadatan tanah. dari pengujian tersebut akan diketahui satbilitas struktur tanah dengan penggunaan limbah kertas. gambar 1. kondisi jalan totok kerot kediri sumber: dokumentasi penelitian 2.1 material material yang digunakan meliputi tanah lempung, air serta limbah kertas dengan uraian sebagai berikut: 1) tanah lempung tanah yang digunakan berupa tanah asli yang diperkirakan berjenis lempung yang berasal dari jalan totok kerot kediri. tanah diambil dengan menggunakan cangkul pada kedalaman kurang lebih 50-100 cm (diperkirakan tidak mengandung humus). dilakukan pengeringan pada tanah asli tersebut menggunakan oven [16]. tanah lempung kering yang digunakan sebagai sampel merupakan tanah dengan gradasi butiran lolos pada ayakan 40. ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hal 91 gambar 2. tanah lempung sumber: dokumentasi penelitian 2) air air digunakan untuk membantu proses pelarutan reaksi tanah lempung dan limbah kertas pada proses mixing. air yang digunakan berupa air pdam universitas kadiri dengan ph 7. 3) limbah kertas limbah kertas berupa partikulat (padat) zat kimia terutama yang mengandung ca dapat dijadikan bahan pencampur pada stabilisasi tanah. pada limbah kertas yang terdapat unsur ca, jika bereaksi dengan air dan lempung akan menjadi ca++ sehingga dapat mengikat partikelpartikel lempung yang mempunyai ion-ion negative pada permukaannya. bahan pendukung yang digunakan sebagai stabilisator tanah dalam penelitian berikut adalah limbah padat kertas berwujud sebagai kertas hvs, folio, buku tulis dan koran bekas tak terpakai. limbah kertas yang awalnya berupa lembaran diproses menjadi bubur kertas, lalu dilakukan pengeringan serta penghalusan dengan gradasi tertentu[15]. gambar 3. limbah kertas sumber: dokumentasi penelitian 2.2 pengujian sampel pengujian yang dilakukan meliputi pengujian konsistensi tanah serta pemadatan tanah dengan uraian sebagai berikut: ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hal 92 1) uji konsistensi pengujian batas konsistensi (atterberg limits) [17], dilakukan untuk mengetahui batas cair serta batas plastis tanah[18][19]. dari hasil tersebut, diketahui indeks plastisitas suatu tanah. indeks plastisitas suatu tanah dapat menentukan jenis tanah dan kohesinya. gambar 4. alat uji konsistensi tanah sumber: dokumentasi penelitian a. pengujian batas cair (liquit limit) uji liquid limit dilakukan dengan menggunakan alat cassagrande. pengujian dilakukan untuk mengetahui beberapa besar kadar air suatu komposisi penyusun struktur tanah pada benda uji saat keadaan batas cair. rumus yang digunakan untuk menentukan kadar air diuraikan sebagai berikut : ww = w ws wc = (ww / ws) x 100% keterangan w = berat tanah basah ws = berat tanah kering ww = berat air wc = kadar air b. uji plastic limit batas plastis merupakan batas terendah dari tingkat keplastisan suatu tanah. pengujian plastic limit dimaksudkan untuk mengetahui kadar air minimum dimana sifat suatu jenis tanah berubah dari keadaan cair menjadi plastis. untuk rumus perhitungannya : 𝑃𝐿 = penjumlahan wc setiap percobaan jumlah percobaan ww = w ws wc = ww ws keterangan pl = plastis limit ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hal 93 w = berat tanah basah ws = berat tanah kering ww = berat air wc = kadar air 2) uji pemadatan tanah (proctor) pengujian pemadatan tanah (proctor) dimaksudkan untuk mengetahui nilai kepadatan tanah maksimum setelah dilakukan tumbukan pada struktur benda uji. tumbukan dilakukan sebanyak 25 kali tumbukan. dari pengujian pemadatan, akan diketahui berat volume kering pada serta kadar air tanah. perubahan volume tanah dapat menyebabkan kerusakan yang sangat signifikan pada struktur ringan seperti retakan pada dinding gedung [20]. perhitungan hasil uji pemadatan dapat dihitung menggunakan rumus berikut: γd = ws/v γsat = w/v v = π x r² x t ww = w ws wc = ww/ws x 100% keterangan γd = berat volume kering γsat = berat volume basah v = volume isi cetakan w = berat tanah basah ws = berat tanah kering ww = berat air wc = kadar air gambar 5. alat uji proctor sumber: dokumentasi penelitian ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hal 94 3. hasil dan pembahasan 3.1 uji konsistensi pengujian konsistensi tanah meliputi pengujian batas cair dan pengujian batas plastis. kedua pengujian ini dilakukan pada tanah lempung asli serta pada tanah dengan penambahan limbah kertas. hasil pengujian diuraikan sebagai berikut: tabel 1. batas-batas konsistensi tanah limbah kertas (%) liquid limit (%) plastic limit (%) index plastic (%) 0 57 24,44 32,56 7,5 51 29,22 21,78 10 49 29,75 19,25 15 42 29,92 12,08 20 43 31,64 11,36 sumber: hasil penelitian dari tabel diatas dapat digambarkan dalam bentuk grafik sebagai berkut: gambar 6. grafik hasil uji batas konsistensi pada benda uji sumber: hasil penelitian pada pengujian batas konsistensi struktur tanah diketahui batas cair tertinggi diperoleh pada tanah asli dengan prosentase sebesar 57% dengan nilai batas plastis, nilai plastic limit sebesar 24,44% dan nilai index plastic sebesar 32,56 %. pada struktur benda uji tanah yang telah ditambahkan limbah kertas hingga sebesar 20% mengalami penurunan nilai liquid limit hingga menjadi 43%, dengan demikian menunjukkan bahwa penambahan 57 51 49 42 43 24,44 29,22 29,75 29,92 31,6432,56 21,78 19,25 12,08 11,36 0 10 20 30 40 50 60 0 2,5 5 7,5 10 12,5 15 17,5 20 kadar limbah kertas (%) batas konsistensi tanah (mix limbah kertas) liquid limit (%) plastic limit (%) index plastic (%) ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hal 95 limbah kertas pada struktur tanah dapat meminimalisir penyerapan air, sehingga selisih aktivitas kembang-susut struktur tanah akibat menyerap air menjadi lebih stabil. nilai angka uji plastic limit meningkat menjadi 31,64%, hal tersebut menunjukkan bahwa benda uji mix tanah lempung yang ditambah dengan limbah kertas sebesar 20% dari berat kering benda uji memerlukan air lebih banyak untuk mencapai keadaan plastis. pada hasil akhir perhitungan menunjukkan nilai index plastic pada benda uji mix tanah dengan 20% limbah kertas menurun hingga menjadi 11,36%. hal tersebut menyimpulkan bahwa indeks plastis benda uji mix tanah dengan 20% limbah kertas jauh lebih kecil jika dibanding dengan struktur tanah asli. 3.2 uji pemadatan (proctor) pengujian compaction test atau pemadatan tanah dilakukan pada benda uji tanah lempung berbutir halus dengan tingkat lolos ayakan no.40 dan penambahan limbah kertas 0%, 7.5%, 10%, 15% dan 20% dari berat benda uji. dari hasil pengujian compaction test yang telah dilaksanakan dapat diperoleh hasil dalam tabel dan grafik sebagai berikut: gambar 7. hasil uji pemadatan sumber: hasil penelitian 1,11 1,22 1,52 1,49 1,38 1,54 1,69 1,55 1,71 1,83 1,97 1,93 1,56 1,72 1,9 1,81 1,46 1,61 1,81 1,62 1 1,2 1,4 1,6 1,8 2 5,00% 7,00% 9,00% 11,00% 13,00% 15,00% 17,00% b e ra t v o lu m e k e ri n g ( ɣ d ) g r/ cm ³ kadar air limbah kertas 0% limbah kertas 7,5% limbah kertas 10% limbah kertas 15% limbah kertas 20% ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hal 96 gambar 8. sampel uji pemadatan tanah sumber: dokumentasi penelitian dari hasil pengujian pemadatan yang disajikan pada gambar grafik 5 diketahui bahwa berat volume kering meningkat seiring ditingkatkannya kadar limbah kertas, namun mengalami penurunan setelah dicapainya titik optimum. berat volume kering tertinggi diperoleh pada penambahan limbah kertas sebanyak 10% dengan nilai sebesar 1,97 gr/cm3 dengan kadar air optimum sebesar 9,96% 4. kesimpulan dan saran 4.1. kesimpulan penambahan limbah kertas mempengaruhi sifat asli tanah. penambahan kadar limbah kertas menurunkan nilai indeks plastis. semakin kecil indeks plastis yang diperoleh maka semakin besar kemungkinan tanah dalam kondisi plastis. hal tersebut menunjukkan bahwa nilai daya dukung tanah semakin besar. selain itu, penambahan kadar limbah kertas juga meningkatkan berat volume kering tanah namun mengalami penurunan setelah dicapainya titik optimum yaitu pada kadar limbah kertas 10% dan kadar air 9,96%. semakin besar berat volume kering suatu tanah menunjukkan kepadatan kering tanah. sehingga stabilitas tanah semakin tinggi. sehingga dengan diketahuinya hasil tersebut, dapat digunakan sebagai acuan dalam proses perbaikan serta pengurukan tanah pada jalan totok kerot kediri. 4.2. saran pada penelitian berikut, peneliti mengasumsikan penambahan limbah kertas maksimal adalah 20% dari berat kering benda uji, hal tersebut ditujukan karena ingin tetap mempertahankan zat pengikat yang dalam hal ini hanya terdapat pada struktur tanah. ukarst vol.2, no.2 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hal 97 daftar pustaka [1] w. a. prawesthi and l. p. santosa, “stabilization of the shear strength of clay soil with limestone powder,” no. c, pp. 549–556, 2017. [2] j. widjajakusuma and h. winata, “influence of rice husk ash and clay in stabilization of silty soils using cement,” matec web conf., vol. 138, 2017. [3] b. v. venkatarama reddy and m. s. latha, “retrieving clay minerals from stabilised soil compacts,” appl. clay sci., vol. 101, pp. 362–368, 2014. [4] m. r. abdurrozak et al., “stabilisasi tanah lempung dengan bahan tambah abu sekam,” teknisia, vol. xxii, no. 2, pp. 416–424, 2017. [5] v. a. upa and n. hakim, “analisis kekuatan dan stabilitas tanah lempung organik artifisial untuk perencanaan jalan dengan beban lalu lintas tinggi,” j. apl. tek. sipil, vol. 17, no. 2, p. 37, 2019. [6] s. pourakbar, a. asadi, b. b. k. huat, and m. h. fasihnikoutalab, “stabilization of clayey soil using ultrafine palm oil fuel ash (pofa) and cement,” transp. geotech., vol. 3, pp. 24–35, 2015. [7] r. k. sharma, “laboratory study on stabilization of clayey soil with cement kiln dust and fiber,” geotech. geol. eng., vol. 35, no. 5, pp. 2291–2302, 2017. [8] e. mina, r. i. kusuma, and j. ridwan, “stabilisasi tanah lempung menggunakan pasir laut dan pengaruhnya terhadap nilai kuat tekan bebas (studi kasus :jalan mangkualam kecamatan cimanggu – banten),” j. fondasi, vol. 6, no. 2, pp. 13–23, 2017. [9] a. t. s. azhar et al., “shear strength of stabilized kaolin soil using liquid polymer,” iop conf. ser. mater. sci. eng., vol. 226, no. 1, 2017. [10] t. r. karatai, j. w. kaluli, c. kabubo, and g. thiong’o, “soil stabilization using rice husk ash and natural lime as an alternative to cutting and filling in road construction,” j. constr. eng. manag., vol. 143, no. 5, p. 04016127, 2017. [11] h. güllü, “unconfined compressive strength and freeze–thaw resistance of finegrained soil stabilised with bottom ash, lime and superplasticiser,” road mater. pavement des., vol. 16, no. 3, pp. 608–634, 2015. [12] n. m. ilieş, a. p. cîrcu, a. c. nagy, v. c. ciubotaru, and z. kisfaludi-bak, “comparative study on soil stabilization with polyethylene waste materials and binders,” procedia eng., vol. 181, pp. 444–451, 2017. [13] a. s. p, h. beegom, j. p. johnson, m. j, t. m. t. n, and p. s, “potential of egg shell powder as replacement of lime in soil stabilization,” int. j. adv. eng. res. sci., vol. 4, no. 8, pp. 86–88, 2017. [14] a. ahmed and u. h. issa, “stability of soft clay soil stabilised with recycled gypsum in a wet environment,” soils found., vol. 54, no. 3, pp. 405–416, 2014. [15] g. goel and a. s. kalamdhad, “an investigation on use of paper mill sludge in brick manufacturing,” constr. build. mater., vol. 148, pp. 334–343, 2017. [16] x. kang, g.-c. kang, k.-t. chang, and l. ge, “chemically stabilized soft clays for road-base construction,” j. mater. civ. eng., vol. 27, no. 7, p. 04014199, 2015. [17] y. j. du, n. j. jiang, s. y. liu, f. jin, d. n. singh, and a. j. puppala, “engineering properties and microstructural characteristics of cement-stabilized zinc-contaminated kaolin,” can. geotech. j., vol. 51, no. 4, pp. 289–302, 2014. [18] h. christady hardiyatmo, “mekanika tanah 1,” p. 1, 2002. [19] h. canakci, a. al-kaki, and f. celik, “stabilization of clay with waste soda lime glass powder,” procedia eng., vol. 161, pp. 600–605, 2016. [20] h. canakci, a. aziz, and f. celik, “soil stabilization of clay with lignin, rice husk powder and ash,” geomech. eng., vol. 8, no. 1, pp. 67–79, 2015. ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 pelaksanaan manajemen konstruksi pada proyek pembangunan bank sinar mas kediri yosef cahyo sp1, ahmad ridwan2, zulkifli lubis3, april gunarto4, sigit winarto5 1,2,4,5 fakultas teknik universitas kadiri 3 fakultas teknik universitas islam lamongan email: yosef.cs@unik-kediri.ac.id, ahmad_ridwan@unik-kediri.ac.id, djoelslubispsts@unisla.ac.id, april_gunarto@unik-kediri.ac.id, sigit.winarto@unik-kediri.ac.id abstract bank sinar mas kediri project is a development project that uses a unique implementation method, namely the top down method, that is, the construction starts from the floor plate as a new foundation and then continues with the construction of the ground floor 1,2,3. the use of the top down method requires a column called king post which is a column of steel profiles as a temporary column. the hotel is built on a land area of 3248 m2 with a building height of + 123,600 m, 9,800 m and uses 118 boredpile foundations. this project uses the fixed price lumpsum contract system. this research aims to identify the cause of the delay in the completion of the sinar mas kediri development project. the results of the analysis show that the delay in the completion of the project is due to the delay in completion of the excavation work. the delay was due to the lack of procurement of water pumping or drying equipment, weather or climate and the lack of excavation and limited number of heavy equipment used. keywords: delays, time, construction. abstrak proyek bank sinar mas kediri merupakan proyek pembangunan yang menggunakan metode pelaksanaan yang unik yaitu metode top down yaitu pembangunan dimulai dari pelat lantai sebagai tumpuan baru kemudian dilanjutkan dengan pembangunan lantai dasar 1,2,3. penggunaan metode top down memerlukan kolom yang disebut king post yang merupakan kolom dari profil baja sebagai kolom sementara. hotel tersebut dibangun di atas tanah seluas 3248 m2 dengan tinggi bangunan + 123,600 m, 9,800 m dan menggunakan 118 pondasi boredpile. proyek ini menggunkan sistem kontrak lumpsum fixed price.penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab keterlambatan penyelesaian proyek pembangunan bank sinar mas kediri. hasil analisis menunjukkan bahwa keterlambatan penyelesaian proyek disebabkan keterlambatan penyelesaian pekerjaan penggalian tanah. keterlambatan tersebut dikarenakan kurangnya pengadaan akan alat pemompa air atau alat pengeringan, cuaca atau iklim dan tidak adanya jumlah tenaga kerja penggalian dan terbatasnya jumlah alat berat yang digunakan. kata kunci : keterlambatan, waktu, konstruksi. 1. pendahuluan proyek bank sinar mas kediri merupakan proyek pembangunan yang menggunakan metode pelaksanaan yang unik yaitu metode top down yaitu pembangunan dimulai dari pelat lantai sebagai tumpuan baru kemudian dilanjutkan dengan pembangunan lantai dasar 1,2,3. penggunaan metode top down memerlukan kolom yang disebut king post yang merupakan kolom dari profil baja sebagai kolom sementara. hotel tersebut dibangun di atas tanah seluas hal 57 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 3248 m2 dengan tinggi bangunan + 123,600 m, 9,800 m dan menggunakan 118 pondasi boredpile. proyek ini menggunkan sistem kontrak lumpsum fixed price. dilihat dari kurva s proyek ini mengalami keterlambatan yang disebabkan terlambatnya pengadaan alat pompa air/alat pengeringan, cuaca/iklim, tidak adanya tenaga kerja penggalian dan jumlah alat excavator yang terbatas. keterlambatan tersebut dimulai pada awal penggalian lantai dasar 3. analisis pekerjaan penggalian menggunakan tenaga kerja penggali dalam waktu 3 bulan (± 90 hari) dibutuhkan 120 orang pekerja sedangkan untuk alat excavator yang digunakan dalam waktu 30 hari menggunakan 2 excavator. metode pembanguan lantai dasar dengan menggunakan sistem top down adalah solusi yang unik dan inovatif. pelat lantai yang memang seharusnya akan dibangun, dimanfaatkan sebagai tumpuan sementara, karena beton adalah material yang baik untuk menahan gaya tekan, maka menggandakan fungsi pelat lantai untuk menahan gaya vertikal akibat gravitasi ataupun gaya horizontal akibat tekanan tanah dan air adalah sebuah solusi yang tepat guna dan mengefisienkan biaya. 2. metode penelitian 2.1 material yang digunakan material yang digunakan adalah semen, agregat, air, beton ready mix, besi beton, calbond, water stop, plywood/multiplex, kawat beton, dan balok dan kaso. fungsi lengkap dari bahan ini ditunjukkan tabel 1. alat yang digunakan adalah tower crane, genset, molen, thedolite, bar cutter, bar bender, trowel, dan excavator. fungsi lengkap dari alat dapat dilihat pada tabel 1. tabel 1. material dan alat yang digunakan material/alat fungsi/spesifikasi semen bahan pengikat dari adukan pasir, kerikil dan air. semen yang digunakan adalah semen portland jenis ii atau tipe i dengan pengikat awal paling cepat 1 jam. agregat bahan pendukung adukan beton yang banyak diperlukan . umumnya pada campuran beton, 70% volumenya adalah agregat air membuat reaksi dengan semen portland. beton ready mix bahan utama besi beton besi beton polos dan besi beton ulir calbond penyambung antara beton yang telah mengeras atau beton lama dengan campuran beton yang baru water stop mencegah terjadinya perembesan air plywood/multiplex bekisting pada pembuatan pelat, balok, kolom dan dinding kawat beton mengikat beton balok dan kaso memperkuat bekisting multiplek, sehingga pada waktu pengecoran multiplek tidak mengalami pelendutan atau berubah hal 58 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 tower crane mengangkat atau memindahkan alat, material dan barang yang sangat banyak dan berat dengan jarak yang cukup jauh ke tempat yang membutuhkan genset penyedia tenaga listrik atau power kerja molen mengaduk cor-coran dalam jumlah kecil. thedolite pengukuran lapangan yaitu untuk menentukan letak titik-titik tertentu, menentukan jarak kolom, as kolom, sudut bangunan dan juga untuk mengetahui elevasi permukaan tanah dan perbedaannya pada lokasi proyek yang dikerjakan. concrete pump mentransfer adukan beton dari mixer truck kelokasi pengecoran dengan bantuan pipa-pipa yang terbuat dari besi yang disambung-sambungkan sehingga mencapai yang dibutuhkan. bar cutter memotong besi/baja tulangan sesuai dengan gambar rencana bar bender membengkokkan ujung tulangan atau membengkokkan tulangan dengan sudut yang dikehendaki trowel digunakan untuk meratakan dan menghaluskan permukaan beton yang masih dalam proses pengerasan. excavator penggali maupun pemuat tanah tanpa harus banyak berpindah tempat dengan menggunakan tenaga power take off dari mesin yang dimilikinya vibrator electric menggetarkan adukan beton agar udara yang terjebak dalam adukan dapat dihilangkan, sehingga dapat diperoleh beton hasil pengecoran yang padat tanpa adanya void atau pori bucket beton memuat adukan beton dari trumix ketempat pengecoran 2.2 pelaksanaan pelaksanaan pekerjaan yang diamati meliputi pekerjaan perancah, pekerjaan bekisting, pekerjaan pembesian, pekerjaan pembersihan, pekerjaan pengecoran, pembongkaran bekisting, penggalian tanah dan pekerjaan perawatan beton. semua pekerjaan yang dilihat oleh penulis merupakan pekerjaan yang dilihat secara umum dan garis besarnya saja. pekerjaan perancah ilakukan untuk mendukung perencanaan pembuatan bekisting balok dan pelat. pertama-tama yang harus dilakukan sebelum mendirikan scaffolding adalah memasang jack base pada kaki untuk memudahkan pengaturan ketinggian, setelah itu baru dapat disusun dan disambung antara yang satu dengan lainnya menggunakan joint pin, dan bagian atasnya dipasang u-head untuk menjepit balok kayu 8/12 yang melintang. pekerjaan bekisting dilakukan setelah pekerjaan pembesian. hal tersebut berlaku pada pekerjaan pembuatan kolom. sedangkan pada pembuatan balok dan pelat, bekisting terlebih dahulu dikerjakan. bekisting memiliki fungsi dalam bangunan untuk membuat bentuk dan dimensi pada suatu konstruksi beton, dan mampu memikul beban sendiri yang baru dicor sampai konstruksi tersebut dapat dipikul seluruh beban yang ada. pelaksanaan pekerjaan bekisting pada pembuatan balok baru dapat dilakukan setelah pekerjaan perancah selesai. bekisting yang dibuat adalah bekisting balok, pelat, dan kolom. petama-tama yang harus hal 59 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 dipersiapkan sebelum pembuatan bekisting adalah plywood 12 mm, dan balok kayu 8/12 dan 5/7 yang telah dipotong-potong sesuai kebutuhan. kemudian balok kayu dan plywoood tersebut dihubungkan dengan paku, sehingga membentuk dimensi balok yang direncanakan. balok kayu 8/12 digunakan untuk dudukan bekisting balok pada bagian atas scaffolding. rangka dan penopang bekisting menggunakan kayu 5/7 yang dipaku, kemudian plywood yang sudah dipotong dipaku ke rangka tersebut. pembuatan bekisting pelat dimulai dengan persiapan. bahan yang harus dipersiapkan adalah plywood 12 mm dan multispan yang dapat diubah-ubah pengaturannya sebagai rangka bawah untuk bekisting pelat. pertama-tama yang harus dilakukan untuk memulai pembuatan bekisting gambar 1. pemasangan bekesting pada balok gambar 2. pemasangan bekesting pada kolom hal 60 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 pelat adalah memasang multispan yang berpegangan pada bekisting balok. kemudian plywood yang telah dipotong-potong diletakkan di atas multispan dan disusun dengan rapi dan rapat agar tidak bocor. bekisting pada kolom menggunakan plywood 12 mm, balok kayu 6/10 dan 8/12, dan rangka besi siku yang dirancang untuk plywood. rangka besi siku yang telah dipasang plywood didirikan, lalu antara rangka yang satu dengan yang lainnya dihubungkan menggunakan baut. kemudian dibuat rangka utama yang mengelilingi bekisting dengan jarak tertentu menggunakan balok kayu 8/12. bekisting tersebut diberikan sokongan samping menggunakan balok kayu 6/10. pekerjaan pembesian pada pembuatan kolom dilakukan sebelum pembuatan bekisting, sedangkan pada balok dan pelat dikerjakan setelah pembuatan bekisting selesai. pekerjaan pembesian meliputi pekerjaan pemotongan, ppembengkokan, dan pemasangan tulangan atau pabrikasi pembuatan kolom dan balok yang dilakukan di tempat pabrikasi. kemudian tulangan utama dipasang sesuai dengan as yang telah ditentukan, dan dilanjutkan dengan tulangan sengkang dan tulangan pengikat, lalu tulangan tersebut diikat dengan kawat baja. pekerjaan pembesian pada pelat dilakukan setelah penulangan pada balok telah selesai dibuat, karena tulangan pelat berpegangan pada tulangan balok. pekerjaan pembersihan pada setiap kolom, balok dan pelat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut: 1. pekerjaan pembersihan dilakukan setelah pekerjaan pembesian dan pekerjaan pemasangan bekisting selesai dan disetujui oleh pengawas lapangan. 2. bekisting dibersihkan dari kotoran debu, sisa potongan besi dan kayu dengan menggunakan alat compressor. gambar 3. pemasangan besi pada kolom hal 61 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 3. kemudian diperiksa kerapatan dari bekisting agar tidak terjadi kebocoran pada saat pengecoran dan memeriksa deking beton terhadap selimut beton. apabila pekerjaan pembersihan telah dilakukan maka bekisting tersebut telah siap untuk dicor. pekerjaan pengecoran dapat dilakukan setelah pemerikasan terhadap bekisting yang akan dicor dan telah disetujui oleh pengawas. sambungan antara beton yang lama dan yang baru diberikan bahan perekat yang berupa cairan kental putih yang disebut calbon yang berfungsi untuk menyatukan beton. kolom lokasi pengecoran yang tidak dapat dijangkau oleh truk pemompa beton dapat dilakukan dengan mengisi bucket dengan beton cair yang kemudian diangkat menggunakan tower crane ke tempat pengecoran dan dituangkan ke dalam bekisting kolom menggunakan selang yang telah dipasang di bawah bucket. pada saat dilakukan pengecoran,vibrator ditempatkan secara vertikal ke dalam adukan beton untuk memadatkan beton, sehingga bagianbagian yang sulit dijangkau oleh beton dapat diisi dengan padat dan tidak menyebabkan keropos. beton cair yang akan digunakan untuk pengecoran sebelumnya harus diuji coba nilai slump untuk mengetahui tingkat kekentalan beton tersebut. nilai slump yang didapat dari hasil pengujian tergantung dari jenis mutu beton yang digunakan. nilai uji slump yang didapat dalam proyek ini ditunjukkan tabel 2. tabel 2. nilai slump test no mutu beton nilai slump (cm) 1 fc=300/ k350 12±2 2 fc=400 12±2 3 fc=250 12±2 4 fc=550/ k650 12±2 5 fc=550/ k650 20±2 6 fc=550/ k650 16±2 3. pembahasan 3.1 keterlambatan proyek data-data keterlambatan proyek dapat dilihat pada kurva “s”. data yang digunakan diambil dari data yang direncanakan dan membandingkannya dengan kurva “s” yang aktual. hal 62 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 tabel 3. data-data keterlambatan proyek jenis kegiatan rencana aktual total keterlambatan mulai selesai durasi (hari) mulai selesai durasi (hari) durasi (hari) pekerjaaan struktur bawah lantai dasar 3 galian 25/01/03 05/03/03 40 11/03/03 20/05/03 71 31 mat foundation 05/02/03 18/02/03 15 01/04/03 22/04/03 22 7 pile cap & lantai 20/02/03 21/03/03 30 07/04/03 09/06/03 63 33 kolom & corewall 12/03/03 25/03/03 14 21/04/03 13/06/03 54 40 lantai dasar 2 pelat lantai 06/03/03 13/04/03 37 25/04/03 27/06/03 63 26 kolom & corewall 12/03/03 25/03/03 14 02/05/03 30/06/03 59 45 pekerjaaan struktur atas lantai 1 kolom & corewall 13/04/03 24/04/03 12 28/05/03 21/07/03 55 43 balok & pelat lantai 22/04/03 12/05/03 21 23/05/03 14/07/03 53 32 perapihan plafond exposed 27/05/03 09/06/03 14 waterproofing 27/05/03 07/06/03 12 lantai 1mezzanine kolom & corewall 24/04/03 29/04/03 6 16/06/03 28/07/03 42 36 balok & pelat lantai 27/04/03 06/05/03 10 10/06/03 25/07/03 46 36 perapihan plafond exposed 21/05/03 27/05/03 7 waterproofing 21/05/03 26/05/03 6 lantai 2 kolom & corewall 29/05/03 10/05/03 12 01/07/03 11/8/03 42 30 balok & pelat lantai 08/05/03 01/06/03 25 23/07/03 05/08/03 13 perapihan plafond exposed 15/06/03 29/06/03 14 waterproofing 15/06/03 27/06/03 12 lantai 3 kolom & corewall 10/05/03 21/05/03 12 08/08/03 30/08/03 23 11 balok & pelat lantai 19/05/03 08/06/03 21 15/08/03 19/08/03 5 perapihan plafond exposed 23/06/03 06/07/03 14 waterproofing 23/06/03 04/07/03 12 hal 63 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 3.2 identifikasi sebab-sebab keterlambatan proyek. hasil analisis menunjukkan bahwa keterlambatan penyelesaian proyek dimulai pada awal penggalian lantai dasar 3. penyimpangan atau sebab keterlambatan di antaranya sebagai berikut: 1. pengadaan alat pompa air atau alat pengeringan tidak sesuai dengan jadwal sehingga menyebabkan sulitnya alat berat mengadakan penggalian dikarenakan keadaan tanah yang tidak memenuhi syarat (mengandung banyak kadar air). terbatasnya jumlah alat pemompa air juga menyebabkan terhambatnya proses dewatering menyebabkan proses pekerjaan penggalian terhambat. pompa air yang digunakan untuk proses pengeringan pada proyek tersebut hanya 2 buah. 2. keterlambatan juga disebabkan oleh cuaca yyang tidak emndukung, yaitu turunnya hujan. proyek awalnya dilaksanakan pada bulan november 2011 dimana pada bulan tersebut bulan penghujan, sehingga menghambat pelaksanaan penggalian dikarenakan banyaknya kandungan air yang terdapat dalam banker tanah tersebut menyebabkan alat berat jenis excavator tidak bisa bekerja. 3.3 kemungkinan pekerjaan yang dapat dipercepat mengacu pada kurva “s”. untuk mempermudah agar kandungan air di daerah tersebut menurun harus ditambah pompa airnya atau yang disebut alat pengeringan. penggalian dalam sebuah proyek dapat dilakukan menggunakan tenaga manusia (pekerja penggalian) dan dengan menggunakan tenaga dari alat berat. menggunakan tenaga manusia (pekerja penggalian), percepatan dapat dilakukan berdasarkan perhitungan di bawah. dilihat dari volume galian 32480 m3, waktu maksimal pekerja 8 jam/hari, kemampuan 1 orang penggali 3 m3/ hari, dan rencana waktu penggalian adalah 3 bulan ( setara dengan 90 hari), maka produktivitas per pekerja dalam 3 bulan adalah 270 m3. jumlah pekerja yang dibutuhkan dalam 3 bulan dengan demikian adalah 120 orang. percepatan menggunakan alat berat dapat dilakukan menggunakan perhitungan berikut. taksiran produktifitas excavator: kb × bf × 3600 × fk tp = ct simbol tp menunjukkan taksiran produktifitas (m3/jam), kb adalah kapasitas bucket (m3/jam), bf merupakan bucket factor, fk menunjukkan faktor koreksi (total), dan ct adalah waktu siklus (detik). jenis excavator yang digunakan adalah pc 200-5, dengan kedalaman galian sebesar 30%. kondisi galian sedang, normal atau tanah biasa. untuk volume galian 32480 m3, dan menggunakan faktor ketersediaan mesin 90%, keahlian operator 85%, efiseinsi waktu 85%, sudut ayunan operator 60o dalam 15 detik, dan waktu kerja excavator 6 jam dalam 1 hari, waktu penggalian 30 hari, maka taksiran produktivitas excavator adalah lihat di aslinya. tabel 4. efisiensi kerja hal 64 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 kondisi operasi efisiensi kerja baik 0,83 normal-sedang 0,75 kurang baik 0,67 buruk 0,58 tabel 5. bucket factor (untuk jenis back hoe) kondi si operasi/penggalian bucket factor mudah tanah liat, agak lunak 1,2-1,1 sedang tanah asli kering, berpasir 1,1-1,0 agak sulit tanah asli berpasir dan kerikil 1,0-0,8 buruk tanah keras bekas ledakan 0,8-0,7 tabel 6 konversi faktor meliputi kedalaman dan kondisi penggalian (back hoe) kedalaman galian kondisi penggalian mudah normal agak sulit sulit sekali < 40% 0,7 0,9 1,1 1,4 40%-75% 0,8 1 1,3 1,6 > 70% 0,9 1,1 1,5 1,8 pelaksanaan pembobokan secant pile, pelat lantai, balok dan core wall dapat berjalan dengan lancar apabila tenaga kerja yang banyak dan melakukan kegiatan tersebut sesuai dengan keahliannya masing-masing. 4. kesimpulan keterlambatan penyelesaian proyek disebabkan keterlambatan penyelesaian pekerjaan penggalian tanah. keterlambatan tersebut dikarenakan kurangnya pengadaan akan alat pemompa air atau alat dewatering, cuaca atau iklim dan tidak adanya jumlah tenaga kerja penggalian dan terbatasnya jumlah alat berat yang digunakan. daftar pustaka [1] frederika, a. (2010). analisis percepatan pelaksanaan dengan menambah jam kerja optimum pada proyek konstruksi (studi kasus: proyek pembangunan super villa, peti tengetbadung). jurnal ilmiah teknik sipil. hal 65 ukarst vol.2, no.1 tahun 2018 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 [2] tuelah, j. d. p., tjakra, j., & walangitan, d. r. o. (2014). peranan konsultan manajemen konstruksi pada tahap pelaksanaan proyek pembangunan (studi kasus: the lagoon taman sari). tekno, 12(61). [3] iwawo, e. r., tjakra, j., & pratasis, p. a. (2016). penerapan metode cpm pada proyek konstruksi (studi kasus pembangunan gedung baru kompleks eben haezar manado). jurnal sipil statik, 4(9). [4] kani, b. r., mandagi, r. j., p rantung, j., & malingkas, g. y. (2013). keselamatan dan kesehatan kerja pada pelaksanaan proyek konstruksi (studi kasus: proyek pt. trakindo utama). jurnal sipil statik, 1(6). [5] pangkey, f., malingkas, g. y., & walangitan, d. r. o. (2012). penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (smk3) pada proyek konstruksi di indonesia (studi kasus: pembangunan jembatan dr. ir. soekarno-manado). jurnal ilmiah media engineering, 2(2). [6] maromi, m. i., & indryani, r. (2015). metode earned value untuk analisa kinerja biaya dan waktu pelaksanaan pada proyek pembangunan condotel de vasa surabaya. jurnal teknik its, 4(1), d54-d59. [7] hastuti, s. p. (2014). waste management pada proyek pembangunan gedung sebagai bagian dari upaya perwujudan green construction (studi kasus: pembangunan gedung–gedung di universitas sebelas maret surakarta). [8] tolangi, m. f., rantung, j. p., langi, j. e. c., & sibi, m. (2012). analisis cash flow optimal pada kontraktor proyek pembangunan perumahan. jurnal sipil statik, 1(1). [9] kani, b. r., mandagi, r. j., p rantung, j., & malingkas, g. y. (2013). keselamatan dan kesehatan kerja pada pelaksanaan proyek konstruksi (studi kasus: proyek pt. trakindo utama). jurnal sipil statik, 1(6). [10] tarore, h., malingkas, g. y., & walangitan, d. r. (2012). pengendalian waktu dan biaya pada tahap pelaksanaan proyek dengan menggunakan metode nilai hasil (studi kasus: proyek lanjutan pembangunan gedung pip2b kota manado). jurnal sipil statik, 1(1). [11] s. aminah, “konflik dan kontestasi penataan ruang kota surabaya,” masy. j. sosiol., vol. 20, no. 1, pp. 59–79, 2016. [12] p. vitasmoro, a. i. chandra, and j. jatmiko, “improving student ’ s english vocabulary mastery through animation cartoon,” vol. 363, no. icss, pp. 505–509, 2019. [13] a. meylani and a. s. handayani, “perbandingan kinerja sistem logika fuzzy tipe-1 dan interval tipe-2 pada aplikasi mobile robot,” vol. 3, no. 1, pp. 209–214, 2017. [14] m. irfan, l. p. ayuningtias, and j. jumadi, “analisa perbandingan logic fuzzy metode tsukamoto, sugeno, dan mamdani ( studi kasus : prediksi jumlah pendaftar mahasiswa baru fakultas sains dan teknologi uin sunan gunung djati bandung),” j. tek. inform., vol. 10, no. 1, pp. 9–16, 2018. [15] u. katolik et al., “estimasi parameter bilangan fuzzy segitiga untuk model pembebanan lalulintas fuzzy,” no. june, pp. 8–9, 201 hal 66 ukarst : jurnal universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-0855 volume 4 nomor 1 tahun 2020 issn (print) 2579-4620 analisa dampak lalu lintas jalan tambak osowilangun akibat pembangunan teluk lamong surabaya. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. judul artikel [book antiqua, 14 pt, bold] tersedia online di analisa dampak lalu lintas jalan tambak osowilangun akibat pembangunan teluk lamong surabaya r. e. wibisono *1 email: endrowibisono@unesa.ac.id a r t i c l e i n f o a b s t r a c t article history : artikel masuk : 26-02-2020 artikel revisi : 24-03-2020 artikel diterima : 30-03-2020 the development of the area in the lamong bay surabaya which includes: causeway, connecting bridge, interchange area, container yard, pier is being carried out by the city government, this is one of the development of land use that will give a direct influence on the surrounding traffic. traffic problems can assume because of the large traffic flow in the area. the purpose of this study was to determine the magnitude of trip generation / attraction due to the construction of the teluk lamong port on jalan tambak osowilangun, surabaya. predicting traffic performance on several roads and intersections around the study site (jalan tambak osowilangun surabaya) in 2020 (when the teluk lamong port starts operating. the method for analyzing trip generation of vehicles entering and exiting the teluk lamong port uses a linear regression analysis of the relationship between volumes vehicle traffic in and out of an analog building with a number of variables / parameters that are thought to affect trip generation at tanjung perak harbor as an analog port building. 1,626. this shows a very saturated condition, while at the intersection of father kalisari, ds intersection is 1.10. keywords : lamong bay, traffic impact analysis, traffic performance, trip generation style ieee dalam mensitasi artikel ini: [17] c. r. munigety, “modelling behavioural interactions of drivers’ in mixed traffic conditions,” j. traffic transp. eng. (english ed., vol. 5, no. 4, pp. 284–295, 2018, doi: 10.1016/j.jtte.2017.12.002. a b s t r a k pembangunan kawasan di teluk lamong surabaya yang meliputi causeway, jembatan penghubung, interchange area, container yard, dermaga sedang dilakukan pemerintah kota, hal ini merupakan salah satu pengembangan tata guna lahan yang akan memberi pengaruh langsung terhadap lalu lintas disekitarnya. permasalahan lalu lintas dapat di asumsikan karena adanya arus lalu lintas yang cukup besar di daerah tersebut. tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya bangkitan/tarikan perjalanan akibat pembangunan pelabuhan teluk lamong di jalan tambak osowilangun surabaya. memprediksi kinerja lalu lintas di beberapa ruas u karst 1 fakultas teknik, universitas negeri surabaya http://ojs.unik-kediri.ac.id/index.php/ukarst/index http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v4i1 http://ojs.unik-kediri.ac.id/index.php/ukarst/index http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 mailto:endrowibisono@unesa.ac.id analisa dampak lalu lintas jalan tambak osowilangun akibat pembangunan teluk lamong surabaya. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. jalan dan simpang di sekitar lokasi studi (jalan tambak osowilangun surabaya) tahun 2020 (saat pelabuhan teluk lamong mulai beroperasi. metode untuk analisis bangkitan perjalanan kendaraan yang masuk dan keluar pelabuhan teluk lamong menggunakan analisis regresi linear hubungan antara volume lalu lintas kendaraan yang keluar dan masuk suatu bangunan analog dengan beberapa variabel/parameter yang diduga mempengaruhi bangkitan perjalanan di pelabuhan tanjung perak sebagai bangunan pelabuhan analog kinerja persimpangan margomulyo yang memiliki ds terbesar adalah dari arah gresik (romo kalisari) menuju ke surabaya (kalianak), yaitu sebesar 1,626. hal ini menunjukkan kondisi yang sangat jenuh. sedangkan pada persimpangan romo kalisari, ds simpang sebesar 1,10. 1. pendahuluan transportasi memiliki perananan peting akibat adanya aktivitas ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya[1][2]. jalan merupakan prasarana transportasi, serta faktor yang sangat penting bagi penduduk untuk berhubungan antara daerah yang satu ke daerah yang lain[3][4][5]. pembangunan kawasan di teluk lamong surabaya yang meliputi: causeway, jembatan penghubung, interchange area, container yard, dermaga sedang dilakukan pemerintah kota, hal ini merupakan salah satu pengembangan tata guna lahan yang akan memberi pengaruh langsung terhadap lalu lintas disekitarnya. dengan adanya pembangunan tersebut menyebabkan terjadinya penambahan pembebanan lalu lintas oleh kendaraan pribadi, kendaraan berat maupun sepeda motor[6][7][8], walaupun secara sekilas hal ini tidak menimbulkan permasalahan yang signifikan, tetapi perlu diadakannya analisa lalu lintas untuk kelancaran dan efisiensi operasi jalan raya[9][10][11]. kepadatan lalu lintas adalah penumpukan volume kendaraan yang melewati jalan di daerah tertentu dengan arus kendaraan yang bervariasi di saat jam-jam tertentu[12][8][13], volume lalu lintas adalah parameter penting dalam sebagian besar aplikasi perencanaan system transportasi[14][15][16]. untuk mengatasi hal tersebut, perlu adanya manajemen dan rekayasa lalu lintas supaya bekerja secara efisien di sekitar lokasi studi (jalan tambak osowilangun surabaya). ada tiga pilar yang menyokong keseimbangan sistem lalu-lintas di wilayah kota, yaitu: perencanaan guna lahan, pembatasan lalu-lintas mobil pribadi, dan pengembangan transportasi umum[17]. tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui, bagaimana kinerja lalu lintas eksisting, memprediksi besarnya bangkitan/tarikan perjalanan akibat pembangunan pelabuhan teluk lamong di jalan tambak osowilangun surabaya. issn (online) 2581-0855 r. endro wibisono / ukarst vol. 4 no. 1 tahun 2020. issn (print) 2579-4620 70 83 volume 4 nomor 1 tahun 2020 issn (print) 2579-4620 analisa dampak lalu lintas jalan tambak osowilangun akibat pembangunan teluk lamong surabaya. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. 2. tinjauan pustaka 2.1 kinerja lalu lintas. salah satu parameter yang dijadikan acuan untuk melaksanakan manajemen dan rekyasa lalu lintas adalah kinerja lalu lintas. untuk kinerja lalu lintas yang dinilai adalah degree of saturation (=ds, derajad kejenuhan) pada ruas jalan dan simpang, serta besarnya delay (tundaan) dan queue (antrian) pada suatu simpang[18][19]. 2.2 pembebanan lalu lintas. analisis pembebanan volume lalu lintas hasil bangkitan perjalanan kendaraan yang akan keluar masuk pelabuhan teluk lamong untuk mengetahui seberapa besar volume kendaraan yang keluar masuk pelabuhan teluk lamong akan membebani ruas dan simpang di sekitar lokasi pelabuhan teluk lamong[20]. 3. metode penelitian secara garis besar metodologi yang akan digunakan untuk menyelesaian studi ini dibagi menjadi 3 tahapan yaitu persiapan, pengumpulan data dan analisis data. 3.1 tahap persiapan tahap studi literatur ini, pihak konsultan akan mempelajari beberapa referensi terkait dengan studi ini sebagai dasar untuk melangkah ke tahapan berikutnya yakni pengumpulan dan analisis data. 3.2 tahap pengumpulan data survey inventaris geometrik ruas jalan dan simpang untuk mengetahui kapasitas ruas jalan dan simpang. adapun yang diukur/diinventaris adalah lebar ruang manfaat jalan (rumaja). untuk form pencatatan lebar geometrik jalan dapat dilihat pada gambar 1. sumber : desain form survey. gambar 1. form survey inventaris geometrik. ukarst : jurnal universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-0855 71 83 analisa dampak lalu lintas jalan tambak osowilangun akibat pembangunan teluk lamong surabaya. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. 1. survey pencacahan lalu lintas kendaraan. data primer mengenai kondisi lalu lintas jaringan jalan di sekitar lokasi proyek didapatkan dengan melakukan pencacahan lalu lintas kendaraan yang lewat (traffic counting survey). pelaksanaan survey traffic counting dilakukan selama 16 jam dan terbagi menjadi 2 shift waktu pengamatan. namun karena diindikasikan selepas pukul 22.00 volume kendaraan berangsur berkurang maka berdasarkan pertimbangan efisiensi dan teknis maka survey dilakukan pada pukul 06.00 sampai dengan pukul 22.00. untuk bentuk form survey traffic counting dapat dilihat pada gambar 2. sumber : desain form survey. gambar 2. form survey pencacahan lalu lintas kendaraan. 2. survey pencacahan keluar masuk kendaraan di pelabuhan tanjung perak. survey pencacahan kendaraan yang keluar masuk pelabuhan tanjung perak bertujuan untuk mengetahui besar tarikan/produksi perjalanan kendaraan pelabuhan teluk lamong tiap harinya. 3. pengumpulan data sekunder. data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari instnasi terkait. data sekunder yang dibutuhkan untuk mendukung studi ini antara lain: data jumlah kendaraan minimal 3 tahun terakhir, data luasan pelabuhan tanjung perak, data rencana tata ruang wilayah (rt/rw) kota surabaya dan provinsi jawa timur. 72 83 issn (online) 2581-0855 r. endro wibisono / ukarst vol. 4 no. 1 tahun 2020. issn (print) 2579-4620 ukarst : jurnal universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-0855 volume 4 nomor 1 tahun 2020 issn (print) 2579-4620 analisa dampak lalu lintas jalan tambak osowilangun akibat pembangunan teluk lamong surabaya. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. 4. tahap kompilasi dan analisis data kompilasi data merupakan tahap rekapitulasi data primer. misal data primer berupa hasil pencacahan lalu lintas kendaraan, hasil kompilasi data lalu lintas berupa grafik fluktuasi volume lalu lintas kendaraan yang nantinya bisa digunakan sebagai dasar penentuan jam sibuk (peak hour). volume lalu lintas saat jam sibuk akan menjadi dasar volume lalu lintas yang akan digunakan dalam analisis kinerja lalu lintas eksisting. 5. analisis kinerja lalu lintas salah satu parameter yang dijadikan acuan untuk melaksanakan manajemen dan rekyasa lalu lintas adalah kinerja lalu lintas. untuk kinerja lalu lintas yang dinilai adalah degree of saturation (=ds, derajad kejenuhan) pada ruas jalan dan simpang, serta besarnya delay (tundaan) dan queue (antrian) pada suatu simpang. dari skala waktu, analisis kinerja lalu lintas akan dilakukan 3 (tiga) skala waktu, yakni: kineja lalu lintas eksisting, kinerja lalu lintas saat beroperasinya pelabuhan teluk lamong tanpa maupun ada pembebanan volume lalu lintas dari pelabuhan teluk lamong. 6. analisis bangkitan perjalanan analisis bangkitan perjalanan bertujuan untuk memprediksi bangkitan perjalanan kendaraan yang masuk dan keluar pelabuhan teluk lamong[21][22]. metode untuk analisis bangkitan perjalanan kendaraan yang masuk dan keluar pelabuhan teluk lamong menggunakan analisis regresi linear hubungan antara volume lalu lintas dengan beberapa variabel/parameter mempengaruhi bangkitan perjalanan. 7. analisis pembebanan lalu lintas analisis pembebanan volume lalu lintas hasil bangkitan perjalanan kendaraan yang akan keluar masuk pelabuhan teluk lamong bertujuan untuk mengetahui seberapa besar volume kendaraan yang keluar masuk pelabuhan teluk lamong akan membebani ruas dan simpang di sekitar lokasi pelabuhan teluk lamong [23][24]. 8. manajemen dan rekayasa lalu lintas manajemen dan rekayasa lalu lintas di sekitar pelabuhan teluk lamong bertujuan untuk memperbaiki kinerja lalu lintas di beberapa ruas jalan dan simpang di sekitar pelabuhan. 3.3 lokasi penelitian lokasi pelaksanaan penelitian dalam penyusunan paper berikut dilakukan di jalan tambak osowilangun surabaya. 73 83 analisa dampak lalu lintas jalan tambak osowilangun akibat pembangunan teluk lamong surabaya. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. 4. hasil dan pembahasan data komposisi kendaraan akibat bangkitan di pelabuhan tanjung perak dan terminal petikemas surabaya. jumlah kendaraan berat (hv) diperinci lebih detail, maka komposisinya prapat kurung masuk (arah 1) :truck = 99 kendaraan/jam, container= 86 kendaraan/jam keluar (arah 2) : truck = 47 kendaraan/jam, container = 62 kendaraan/jam. tps (eksport+import) masuk (arah 1) truck= 0 kendaraan/jam, containe r= 196 kend/jam, keluar (arah 2) : truck= 100 kendaraan/jam, container=320 kendendaraan/jam. total masuk= 381 kendaraan/jam keluar= 529 kendaraan/jam. sehingga dengan asumsi pelabuhan teluk lamong analog dengan pelabuhan tanjung perak diperkirakan bangkitan dengan adanya pelabuhan teluk lamong adalah sebesar 910 kendaraan/jam dikalikan rasio luas lapangan penumpukan pelabuhan teluk lamong dengan pelabuhan tanjung perak dan tps, yaitu sebesar 54,78%. 4.1 akibat pengembangan tata guna lahan dengan adanya pembangunan pelabuhan dermaga teluk lamong, maka diasumsikan lahan kosong yang berada di sekitar kawasan pelabuhan teluk lamong akan dibangun bangunan-bangunan gudang oleh para investor. luas kawasan pergudangan = 686787,35 m2, luas lahan kosong = 413860,002 m2, rasio lahan kosong dengan kawasan pergudangan = 0,603 hal ini akan mengakibatkan tambahan bangkitan kendaraan di ruas jalan tambak oso wilangon (romo kalisari). adapun asumsi bangkitan kendaraan yang ditimbulkan adalah sebagai berikut : sumber : kondisi eksisting ruas jalan tambak oso wilangon (romo kalisari). gambar 4. pembebanan arah pergerakan lalu lintas dari gambar 4. pembebanan yang terjadi menuju surabaya jumlah kendaraan sepada motor (mc) = 5715 kend/jam, kendaraan ringan (lv) = 139 kend/jam dan kendaraan berat (hv) = 48 kend/jam. dan menuju gresik jumlah kendaraan sepada motor (mc) = 2864 kend/jam, kendaraan ringan (lv) = 84 kend/jam dan kendaraan berat (hv) = 84 kend/jam. mc = 5715 kend/jam lv = 139 kend/jam hv = 48 kend/jam mc = 2864 kend/jam lv = 84 kend/jam hv = 84 kend/jam surabaya gresik 74 83 issn (online) 2581-0855 r. endro wibisono / ukarst vol. 4 no. 1 tahun 2020. issn (print) 2579-4620 ukarst : jurnal universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-0855 volume 4 nomor 1 tahun 2020 issn (print) 2579-4620 analisa dampak lalu lintas jalan tambak osowilangun akibat pembangunan teluk lamong surabaya. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. sumber : analisa pembebanan arah lalu – lintas. gambar 5. pembebanan arah pergerakan lalu lintas di jalan tambak oso wilangon kondisi eksisting. dari gambar 5. pembebanan yang terjadi menuju gresik jumlah kendaraan sepada motor (mc) = 9016 kend/jam, kendaraan ringan (lv) = 1994 kend/jam dan kendaraan berat ( hv) = 422 kend/jam. dan menuju surabaya jumlah kendaraan sepada motor (mc) = 3359 kend/jam, kendaraan ringan (lv) = 553 kend/jam dan kendaraan berat ( hv) = 745 kend/jam. sumber : analisa pembebanan arah pergerakan lalu – lintas. gambar 6. pembebanan arah pergerakan lalu lintas di persimpangan margomulyo kondisi eksisting. dari gambar 6. pembebanan yang terjadi dari arah margomulyo menuju gresik jumlah kendaraan sepada motor (mc) = 4006 kend/jam, ringan (lv) = 178 kend/jam dan berat ( hv) = 47 kend/jam. dan dari arah margomulyo menuju surabaya jumlah kendaraan sepada motor (mc) = 2927 kend/jam, ringan (lv) = 217 kend/jam dan berat ( hv) = 14 kend/jam. dan dari arah gresik menuju margomulyo jumlah sepada motor (mc) = 1428 kend/jam, ringan (lv) = 105 kend/jam dan berat ( hv) = 128 kend/jam. dan dari arah gresik menuju surabaya jumlah sepada motor (mc) = 1811 kend/jam, ringan (lv) = 63 kend/jam dan berat ( hv) = 2 kend/jam. dan dari arah surabaya menuju margomulyo jumlah sepada motor (mc) = 2192 kend/jam, ringan (lv) = 194 kend/jam dan berat ( hv) = 110 kend/jam. gresik mc = 3359 kend/jam lv = 553 kend/jam hv = 745 kend/jam mc = 9016 kend/jam lv = 1994 kend/jam hv = 422 kend/jam surabaya mc = 1811 mc = 1428 lv = 63 surabaya lv = 105 hv = 2 hv = 128 mc = 2192 kend/jam gresik lv = 194 kend/jam hv = 110 kend/jam mc = 4006 2927 kend/jam lv = 178 217 kend/jam hv = 47 14 kend/jam margomulyo 75 83 analisa dampak lalu lintas jalan tambak osowilangun akibat pembangunan teluk lamong surabaya. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. sumber : analisa pembebanan arah pergerakan lalu – lintas. gambar 7. pembebanan arah pergerakan lalu lintas di persimpangan romo kalisari. dari gambar 7. pembebanan yang terjadi dari arah jalan tol sby-gresik menuju gresik jumlah sepada motor (mc) = 18 kend/jam, ringan (lv) = 513 kend/jam dan berat ( hv) = 304 kend/jam. dan dari arah jalan tol sby-gresik menuju romo kalisari jumlah sepada motor (mc) = 261 kend/jam, ringan (lv) = 29 kend/jam dan berat ( hv) = 129 kend/jam. dan dari arah romo kalisari menuju jalan tol sby-gresik jumlah sepada motor (mc) = 32 kend/jam, ringan (lv) = 46 kend/jam dan berat ( hv) = 110 kend/jam. dan dari arah gresik menuju gresik jumlah sepada motor (mc) = 812 kend/jam, ringan (lv) = 39 kend/jam dan berat ( hv) = 19 kend/jam. dan dari arah gresik menuju jalan tol sby-gresik jumlah sepada motor (mc) = 33 kend/jam, ringan (lv) = 649 kend/jam dan berat ( hv) = 218 kend/jam. dan dari arah gresik menuju romo kalisari jumlah sepada motor (mc) = 2322 kend/jam, ringan (lv) = 172 kend/jam dan berat ( hv)= 13 kend/jam. 4.2 kinerja lalu lintas kondisi eksisting setelah mengetahui pembebanan arah pergerakan lalu lintas kondisi eksisting, berikut adalah hasil analisa kinerja lalu lintas kondisi eksisting. selengkapnya dapat dilihat pada tabel 1. tabel 1. hasil analisa kinerja lalu lintas ruas jalan. nama ruas c (smp/jam) ds arah 1 arah 2 arah 1 arah 2 jl. margomulyo 4976 5346 0,955 0,428 jalan tambak osowilangon 8537 0,556 jalan kalianak 5293 0,62 sumber : analisa kinerja lalu lintas. gresik 812 33 2322 = mc gresik 39 649 172 = lv 19 218 13 = hv mc = 18 261 32 2203 = mc lv = 513 29 46 136 = lv hv = 304 129 110 32 = hv romo kalisari jalan tol sby-gresik 76 83 issn (online) 2581-0855 r. endro wibisono / ukarst vol. 4 no. 1 tahun 2020. issn (print) 2579-4620 ukarst : jurnal universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-0855 volume 4 nomor 1 tahun 2020 issn (print) 2579-4620 analisa dampak lalu lintas jalan tambak osowilangun akibat pembangunan teluk lamong surabaya. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. dari tabel 1. menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting, ruas jalan tambak oso wilangon memiliki ds sebesar 0,556. sedangkan untuk ruas jalan margomulyo, arah margomulyo-gresik (arah 1) memiliki ds sebesar 0,995 dan arah gresik-margomulyo (arah 2) memiliki ds sebesar 0,428. kemudian untuk ruas jalan kalianak ds sebesar 0,62. tabel 2. hasil analisa kinerja lalu lintas persimpangan kondisi eksisting nama simpang c (smp/jam) ds romo kalisari (simpang 4) 6921 0.795 margomulyo (simpang 3) : selatan belok kiri (ltor) selatan belok kanan 2614 0.299 timur belok kiri (ltor) barat lurus 1024 0.735 barat belok kanan 1744 0.304 sumber : analisa kinerja lalu lintas. dari tabel 2. diatas menunjukkan bahwa kinerja persimpangan margomulyo yang memiliki ds terbesar adalah dari arah gresik (romo kalisari) menuju ke surabaya (kalianak), yaitu sebesar 0,735. sedangkan pada persimpangan romo kalisari, ds simpang sebesar 0,795. dari hasil tersebut menunjukkan bahwa kondisi eksisting persimpangan terdekat dengan kawasan pembangunan pelabuhan teluk lamong sudah cukup padat. 4.3 pembebanan arah pergerakan lalu lintas tahun 2020 sumber : analisa pembebanan arah lalu – lintas. gambar 8. pembebanan arah pergerakan lalu lintas jalan tambak oso wilangon 2020. dari gambar 8. pembebanan yang terjadi menuju gresik jumlah kendaraan sepada motor (mc) = 6331 kend/jam, kendaraan ringan (lv) = 153 kend/jam dan kendaraan berat ( hv) = 432 kend/jam. dan menuju surabaya jumlah kendaraan sepada motor (mc) =12634 kend/jam, kendaraan ringan (lv) = 321 kend/jam dan kendaraan berat (hv) = 500 kend/jam. mc = 12634 kend/jam lv = 321 kend/jam hv = 500 kend/jam mc = 6331 kend/jam lv = 153 kend/jam hv = 432 kend/jam surabaya gresik 77 83 analisa dampak lalu lintas jalan tambak osowilangun akibat pembangunan teluk lamong surabaya. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. sumber : analisa pembebanan arah lalu – lintas. gambar 9. pembebanan arah pergerakan lalu lintas jalan margomulyo tahun 2020. dari gambar 9. pembebanan yang terjadi menuju gresik jumlah kendaraan sepada motor (mc) = 19932 kend/jam, kendaraan ringan (lv) = 2998 kend/jam dan kendaraan berat ( hv) = 635 kend/jam. dan menuju surabaya jumlah kendaraan sepada motor (mc) = 7426 kend/jam, kendaraan ringan (lv) = 832 kend/jam dan kendaraan berat (hv) = 1120 kend/jam. sumber : analisa pembebanan arah lalu – lintas. gambar 10. pembebanan arah pergerakan lalu lintas persimpangan margomulyo 2020. dari gambar 10. pembebanan yang terjadi dari arah margomulyo menuju gresik jumlah sepada motor (mc) = 8856 kend/jam, ringan (lv) = 294 kend/jam dan berat ( hv) = 365 kend/jam. dan dari arah margomulyo menuju surabaya jumlah sepada motor (mc) = 6471 kend/jam, ringan (lv) = 326 kend/jam dan berat ( hv) = 21 kend/jam. dan dari arah gresik menuju margomulyo jumlah sepada motor (mc) = 3157 kend/jam, ringan (lv) = 228 kend/jam dan berat ( hv) = 596 kend/jam. dan dari arah gresik menuju surabaya jumlah sepada motor (mc) = 4004 kend/jam, ringan (lv) = 137 kend/jam dan berat ( hv) = 9 kend/jam. dan dari arah surabaya menuju margomulyo jumlah sepada motor (mc) = 4846 kend/jam, ringan (lv) = 318 kend/jam dan berat ( hv) = 459 kend/jam. gresik mc = 7426 kend/jam lv = 832 kend/jam hv = 1120 kend/jam mc = 19932 kend/jam lv = 2998 kend/jam hv = 635 kend/jam surabaya mc = 4004 ds = 1.626 mc = 3157 lv = 137 surabaya lv = 228 hv = 9 hv = 596 ds = 0.892 mc = 4846 kend/jam gresik lv = 318 kend/jam hv = 459 kend/jam mc = 8856 6471 kend/jam lv = 294 326 kend/jam hv = 365 21 kend/jam ds = 0.6 margomulyo 78 83 issn (online) 2581-0855 r. endro wibisono / ukarst vol. 4 no. 1 tahun 2020. issn (print) 2579-4620 ukarst : jurnal universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-0855 volume 4 nomor 1 tahun 2020 issn (print) 2579-4620 analisa dampak lalu lintas jalan tambak osowilangun akibat pembangunan teluk lamong surabaya. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. sumber : analisa pembebanan arah lalu – lintas. gambar 11. pembebanan arah pergerakan lalu lintas persimpangan romo kalisari 2020. dari gambar 11. pembebanan yang terjadi dari arah jalan tol sby-gresik menuju gresik jumlah kendaraan sepada motor (mc) = 40 kend/jam, kendaraan ringan (lv) = 771 kend/jam dan kendaraan berat ( hv) = 457 kend/jam. dan dari arah jalan tol sby-gresik menuju romo kalisari jumlah kendaraan sepada motor (mc) = 4870 kend/jam, kendaraan ringan (lv) = 319 kend/jam dan kendaraan berat ( hv) = 146 kend/jam. dan dari arah romo kalisari menuju jalan tol sby-gresik jumlah kendaraan sepada motor (mc) = 71 kend/jam, kendaraan ringan (lv) = 108 kend/jam dan kendaraan berat ( hv) = 500 kend/jam. dan dari arah gresik menuju gresik jumlah kendaraan sepada motor (mc) = 1795 kend/jam, kendaraan ringan (lv) = 59 kend/jam dan kendaraan berat ( hv) = 29 kend/jam. dan dari arah gresik menuju jalan tol sby-gresik jumlah kendaraan sepada motor (mc) = 73 kend/jam, kendaraan ringan (lv) = 976 kend/jam dan kendaraan berat ( hv) = 328 kend/jam. dan dari arah gresik menuju romo kalisari jumlah kendaraan sepada motor (mc) = 5133 kend/jam, kendaraan ringan (lv) = 259 kend/jam dan kendaraan berat ( hv) = 20 kend/jam. 4.4 kinerja lalu lintas tahun 2020 setelah mengetahui pembebanan arah pergerakan lalu lintas pada tahun 2020, berikut adalah hasil analisa kinerja lalu lintas pada tahun 2020. selengkapnya dapat dilihat pada tabel 3. gresik 1795 73 5133 = mc gresik 59 976 259 = lv 29 328 20 = hv mc = 40 577 71 4870 = mc lv = 771 44 108 319 = lv hv = 457 194 500 146 = hv romo kalisari jalan tol sby-gresik 79 83 analisa dampak lalu lintas jalan tambak osowilangun akibat pembangunan teluk lamong surabaya. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. tabel 3. hasil analisa kinerja lalu lintas ruas jalan setelah pembangunan pelabuhan. nama ruas c (smp/jam) ds arah 1 arah 2 arah 1 arah 2 jl. margomulyo 4976 5346 1,258 0,754 jalan tambak osowilangon 8537 1,206 jalan kalianak 5293 1,348 sumber : analisa kinerja lalu lintas. dari tabel 3. menunjukkan bahwa pada tahun 2020, ds ruas jalan tambak oso wilangon meningkat menjadi 1,127. hal ini menunjukkan bahwa diperkirakan kinerja ruas jalan tambak oso wilangon sangat jenuh. sedangkan untuk ruas jalan margomulyo, arah margomulyo-gresik (arah 1) ds meningkat menjaddi 1,258 dan arah gresik-margomulyo (arah 2) ds meningkat menjadi 0,754. hal ini juga menunjukkan hal sama, bahwa pada tahun 2020, kondisi ruas jalan margomulyo sangat jenuh atau sangat padat. sedangkan untuk kondisi ruas jalan kalianak memiliki ds sebesar 1,348. tabel 4. hasil analisa kinerja lalu lintas persimpangan setelah pembangunan pelabuhan teluk lamong. nama simpang c (smp/jam) ds romo kalisari (simpang 4) 6921 1.10 margomulyo (simpang 3) : selatan belok kiri (ltor) selatan belok kanan 2614 0.6 timur belok kiri (ltor) barat lurus 1024 1.626 barat belok kanan 1744 0.892 sumber : analisa kinerja lalu lintas. dari tabel 4. di atas menunjukkan bahwa kinerja persimpangan margomulyo yang memiliki ds terbesar adalah dari arah gresik (romo kalisari) menuju ke surabaya (kalianak), yaitu sebesar 1,626. dari hasil tersebut menunjukkan bahwa kondisi persimpangan terdekat setelah pembangunan pelabuhan teluk lamong sudah sangat padat. 80 83 issn (online) 2581-0855 r. endro wibisono / ukarst vol. 4 no. 1 tahun 2020. issn (print) 2579-4620 ukarst : jurnal universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-0855 volume 4 nomor 1 tahun 2020 issn (print) 2579-4620 analisa dampak lalu lintas jalan tambak osowilangun akibat pembangunan teluk lamong surabaya. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. 5. kesimpulan dan saran 5.1 kesimpulan pada tahun 2020, ds ruas jalan tambak oso wilangon meningkat menjadi 1,127. hal ini menunjukkan bahwa diperkirakan kinerja ruas jalan tambak oso wilangon sangat jenuh. sedangkan untuk ruas jalan margomulyo, arah margomulyo-gresik (arah 1) ds meningkat menjaddi 1,258 dan arah gresik-margomulyo (arah 2) ds meningkat menjadi 0,754. hal ini juga menunjukkan hal sama, bahwa pada tahun 2020, kondisi ruas jalan margomulyo sangat jenuh atau sangat padat. sedangkan untuk kondisi ruas jalan kalianak memiliki ds sebesar 1,348. kinerja persimpangan margomulyo yang memiliki ds terbesar adalah dari arah gresik (romo kalisari) menuju ke surabaya (kalianak), yaitu sebesar 1,626. hal ini menunjukkan kondisi yang sangat jenuh. sedangkan pada persimpangan romo kalisari, ds simpang sebesar 1,10. hal ini menunjukkan kondisi yang sudah mulai jenuh. dari hasil tersebut menunjukkan bahwa kondisi persimpangan terdekat setelah pembangunan pelabuhan teluk lamong sudah sangat padat.. 5.2 saran dalam merencanakan pembangunan pada suatu kawasan dan merencanakan tata ruang suatu kawasan hendaknya selalu berhubungan dengan perencanaan jaringan transportasi kawasan tersebut, sehingga dampak lalu lintas yang timbul dapat diminimalkan dan untuk meningkatkan kinerja jalan pada ruas jalan diperlukan perlebar jalur lalu lintas, hal ini diperuntukan menampung kapasitas yang terjadi pada ruas jalan. 81 83 analisa dampak lalu lintas jalan tambak osowilangun akibat pembangunan teluk lamong surabaya. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. daftar pustaka [1] s. awiyaningsih, h. moetriono, and s. w. mudjanarko, “analisis dampak lalu lintas pembangunan mall lagoon avenue sungkono terhadap kinerja simpang di jalan mayjend sungkono hr muhammad surabaya,” vol. 2, pp. 131–134, 2018. [2] e. kusnandar, “manual kapasitas jalan indonesia 1997,” j. jalan dan jemb., vol. 26, no. 2, pp. 1–11, 2009. [3] alhani, k. erwan, and e. sulandari, “analisa lalu lintas terhadap kapasitas jalan di pinggiran kota pontianak (kasus jalan sungai raya dalam),” 2016. [4] m. atho ’ur rohman, d. kartikasari, k. kunci, and : kemacetan, “j u r n a l c i v i l l a v o l 1 n o 2 s e p t e m b e r 2 0 1 6 analisa kemacetan lalu lintas pada pasar tradisional di ruas jalan sekaran-maduran,” vol. 1, no. 2, 2016. [5] r. pramanasari, n. qomariyah, d. purwanto, and e. yilipriyo, “penerapan manajemen lalu lintas satu arah pada ruas jalan sultan agung – sisingamangaraja – dr.wahidin kota semarang untuk pemerataan sebaran beban lalu lintas,” vol. 3, pp. 142–153, 2014. [6] s. j. legowo and d. anggoro, “studi evaluasi dampak lalu lintas akibat pembangunan stasiun pengisian bahan bakar umum ( spbu ) manahan,” pp. 601–609, 2014. [7] s. chavhan and p. venkataram, “prediction based traffic management in a metropolitan area,” j. traffic transp. eng. (english ed., no. xxx, 2019. [8] h. kustarto, h. wibisana, p. studi, t. sipil, and m. sungkono, “analisa karakteristik lalu lintas di ruas jalan mayjen sungkono kotamadya surabaya,” vol. 3, no. 1, 2013. [9] a. d. limantara, a. i. candra, and s. w. mudjanarko, “manajemen data lalu lintas kendaraan berbasis sistem internet cerdas kadiri,” no. november, pp. 1–2, 2017. [10] r. rahman, “analisa dampak lalu lintas (studi kasus: studi kemacetan di jalan ngagel madya surabaya),” smartek, vol. 8, pp. 317–332, 2010. [11] d. indratmo, “kajian kapasitas jalan dan derajat kejenuhan lalu-lintas di jalan ahmad yani surabaya,” vol. 1, pp. 25–31, 2006. [12] h. yustianingsih and istianah, “survei kepadatan arus lalu lintas di persimpangan penceng jalan ra. rukmini, kecapi kebupaten jepara,” pp. 19–24, 2017. [13] w. i. dharmawan, “kajian putar balik (u-turn) terhdap kemacetan,” vol. 7, no. konteks 7, pp. 189–196, 2013. 82 83 issn (online) 2581-0855 r. endro wibisono / ukarst vol. 4 no. 1 tahun 2020. issn (print) 2579-4620 ukarst : jurnal universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-0855 volume 4 nomor 1 tahun 2020 issn (print) 2579-4620 analisa dampak lalu lintas jalan tambak osowilangun akibat pembangunan teluk lamong surabaya. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. [14] d. apronti, k. ksaibati, k. gerow, and j. j. hepner, “estimating traffic volume on wyoming low volume roads using linear and logistic regression methods,” j. traffic transp. eng. (english ed., vol. 3, no. 6, pp. 493–506, 2016. [15] f. agyapong and t. k. ojo, “managing traffic congestion in the accra central market, ghana,” j. urban manag., vol. 7, no. 2, pp. 85–96, 2018. [16] h. wibisana, “raya rungkut madya kota madya surabaya ( perbandingan model greenshield dan greenberg ),” vol. iv, no. 1, pp. 20– 29, 2007. [17] c. r. munigety, “modelling behavioural interactions of drivers’ in mixed traffic conditions,” j. traffic transp. eng. (english ed., vol. 5, no. 4, pp. 284–295, 2018. [18] p. h. gonzález et al., “new approaches for the traffic counting location problem,” expert syst. appl., vol. 132, pp. 189–198, 2019. [19] b. haryadi, “kepadatan kota dalam perspektif pembangunan ( transportasi ) berkelanjutan,” pp. 87–96. [20] o. z. tamin, perencanaan dan pemodelan transportasi, edisi kedua. 2000. [21] d. ort and l. g. willumsen, “modelling.” [22] a. i. candra, s. anam, z. b. mahardana, and a. d. cahyono, “studi kasus stabilitas struktur tanah lempung pada jalan totok kerot kediri menggunakan limbah kertas,” vol. 2, no. 2, pp. 88–97, 2018. [23] a. i. candra, “pada pembangunan gedung mini hospital universitas kadiri,” ukarst, vol. 1, no. 1, pp. 63–70, 2017. [24] a. i. candra, e. gardjito, y. cahyo, and g. a. prasetyo, “pemanfaatan limbah puntung rokok filter sebagai bahan campuran beton ringan berpori,” ukarst, vol. 3, no. 1, p. 82, 2019. 83 83 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 5 number 1, (2021). issn (print) 2579-4620 accuracy of dsm by using unmanned aerial vehicles on the lower course of welang riverbank, district of pasuruan, jawa timur judul artikel [book antiqua, 14 pt, bold] accuracy of dsm by using unmanned aerial vehicles on the downstream of welang riverbank, district of pasuruan, jawa timur d. w. khaulan 1*, e. hidayah 2, g. halik 3. 1 *,2,3 master program in civil engineering, departemen of civil engineering, faculty of engineering, university of jember email : 1* dean.uptti@unej.ac.id a r t i c l e i n f o a b s t r a c t article history : article entry : 15-10-2020 article revised : 20-10-2020 article received : 05-11-2020 the digital surface model (dsm) is commonly used in studies on flood map modeling. the lack of accurate, high-resolution topography data has hindered flood modeling. the use of the unmanned aerial vehicle (uav) can help data acquisition with sufficient accuracy. this research aims to provide high-resolution dsm-generated maps by ground control points (gcps) settings. improvement of the model's accuracy was pursued by distributing 20 gcps along the edges of the study area. agrisoft software was used to generate the dsm. the generated dsm can be used for various planning purposes. the model's accuracy is measured in root mean square error (rmse) based on the generated dsm. the rmse values are 0.488 m for x-coordinates and y-coordinates (horizontal direction) and 0.161 m for z-coordinates (vertical direction). keywords : accuracy, dsm, gcp, uav. ieee style in citing this article : [1] s. saksena and v. merwade, ‘incorporating the effect of dem resolution and accuracy for improved flood inundation mapping’, j. hydrol., vol. 530, pp. 180–194, 2015, doi: 10.1016/j.jhydrol.2015.09.069. 1. introduction to model a river flood, topography data with sufficiently high resolution are necessary to represent the geometric features of the river channels and floodplains [1], [2]. however, most areas vulnerable to floods are relatively flat. a dsm generates maps containing information on elevations of all features on the earth's surface [3], [4]. the information can then be used in flood modeling [5]. an alternative way to improve the resolution of the dsm is by generating the dsm from uav imagery [6]. the approach of dsm generation from the uav imagery emphasizes measurement effectiveness and accuracy [7]. it is capable of generating detailed spatial data [8], needs low cost and produces better results than dem 30m srtm does [9]. available online at http://ojs.unik-kediri.ac.id/index.php/ukarst/index u karst http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v5i1 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 mailto:dean.uptti@unej.ac.id%22 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 5 number 1, (2021). issn (print) 2579-4620 accuracy of dsm by using unmanned aerial vehicles on the lower course of welang riverbank, district of pasuruan, jawa timur a number of studies has proposed ways to improve the accuracy of high-resolution dem by using uav imagery. the accuracy of the model can be improved by setting various variables, including the uav flight design and the quality of the camera [10], [11], and the position of ground control points [9], [12]. a previous study pursued accuracy improvement by setting the positions of ground control points (gcps) and increasing their numbers to result in low rmse value, namely 6 cm [9]. configuring the gcp distributions in the edges of the study area and applying stratified distribution also significantly improved the accuracy [12], [13]. the use of gcps is important in output verification so that photogrammetry with centimeter-level accuracy can be obtained [14]. to further improve the accuracy, many authors make the use of agrisoft software. jebur, abed, and mohammed [15] used agrisoft, and to validate the model, geometrical measurement of the shapes in the field was carried out by accurate object selection. grisoft shows good reliability and validation in the triangulation process and in 3d modeling applications. in addition, agrisoft photoscan software is easier to use than lps software because agrisoft does not need to estimate values for unknown parameters, including exterior orientation parameters and control points [15]. this study aims to provide high-resolution digital surface model (dsm) data for flood hazard mapping in flat areas. to obtain good accuracy, the dsm's construction uses uav imagery by setting the positions of gcp to be well distributed over the study area and to be densely located on the edges of the area. the accuracy of the resulted map is quantitatively computed in root mean square error (rmse). the mapping was conducted on seven villages in the lower course of welding river. these villages are located close to the beach. 2. area of study and method 2.1. area of study the study was conducted in the lower course of welang river, district of pasuruan, province of east java as seen in figure 1. the lower course of this river has relatively flat topography, making it vulnerable to floods. a previous flood at welang river inundated thousands of houses [16]. the total area under study is 3.31 km2 with land covers of housings, paddy fields, and plantation field. the elevation in this area varies from 0 m to 10 m above sea level. 65 78 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 accuracy of dsm by using unmanned aerial vehicles on the lower course of welang riverbank, district of pasuruan, jawa timur source: upt-psda pasuruan (autocad, 2020) figure 1. map of the area of study 2.2. uav photogrammetry a multi-rotor type (quadcopter) uav, as seen in figure 2, was used in this research. this kind of drone is commonly used in indonesia for commercial, academic, and hobby purposes due to its relatively low cost. the uav used in this study is a fourth-generation one, which has more sophisticated specifications than earlier generations do. table 1 presents some of the specifications of the uav. one of the installed features of the uav is a forward sensor, which identifies obstacles in a forward direction so that the uav can avoid collision during forwarding movement. 66 78 issn (online) 2581-0855 dian wahyu khaulan / ukarst vol. 5, no. 1, (2021). issn (print) 2579-4620 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 5 number 1, (2021). issn (print) 2579-4620 accuracy of dsm by using unmanned aerial vehicles on the lower course of welang riverbank, district of pasuruan, jawa timur source: research document (samsung note 4, 2020) figure 2. quadcopter uav technology table 1. specifications of the uav and the camera used in the research uav specification camera specification type quadcopter sensor cmos 1/2,3” weight 1380 gram (including propellers and batteries) lense fov 94o 20mm speed 20 m/s camera resolution 12.4 mp flight duration 28 minutes with intelligent flight battery of 81.3 wh/15.2 v photo resolution 4000x3000 pixel remote control transmission distance 3.5 km photo format jpeg, dng (raw) source : http://www.dji.com/phantom-4/info#specs 2.3. settings of gcps the gcps have been used to improve the accuracy of the dsm. the gcps were distributed over the study area [11], densely located in the edges of the area to minimize the total error [12]. in this study, twenty gcps had been located in the area prior to the uav flight, as shown in figure 3. the data collected by using an l1-static gps on the land surface. the selected locations of the gcps were permanent landmarks such as a road-corner building, 67 78 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 http://www.dji.com/phantom-4/info#specs accuracy of dsm by using unmanned aerial vehicles on the lower course of welang riverbank, district of pasuruan, jawa timur a bridge corner, or other buildings in the area. the marks for the gcps were painted with bright and very reflective colors, and they were well distributed in the study area. this approach was chosen to get coordinate points that can be used to assess the data's accuracy. leica gps used in this research has a nominal accuracy of 1 m at each of x -coordinates and y-coordinates and 2 m at z-coordinates. source: research document (arcgis, 2020) figure 3. positions of ground control points 68 78 issn (online) 2581-0855 dian wahyu khaulan / ukarst vol. 5, no. 1, (2021). issn (print) 2579-4620 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 5 number 1, (2021). issn (print) 2579-4620 accuracy of dsm by using unmanned aerial vehicles on the lower course of welang riverbank, district of pasuruan, jawa timur 2.4. dsm map construction construction of the dsm map is conducted in agrisoft photoscan professional software package version 1.2.5. agrisoft uses algorithms that have achieved significant accuracy in dsm [15]. the framework of the map construction consists of three steps. the first step was photo alignment based on feature identification and feature matching. the software estimated the orientation of the camera's external and internal parameters in the photoalignment step, including nonlinear radial distortion. the software also estimated the required focal length, which was then extracted from the metadata. this step's results were photo positions aligned for each image, internal calibration parameters, and coordinate points. in the second step, the coordinate system in the sparse point cloud's reference settings was set to the local coordinate system (wgs84 utm with 49s zone), and the surface type parameter of dense point cloud was set to height field, in accordance to the gcps. the third step was to get the mesh exported to the dsm grid. the dsm was then used as the basis for orthorectification to produce an orthomosaic. 2.5. accuracy assessment the quality of a dsm is assessed based on each pixel's accuracy, referred to as the absolute accuracy, and the accuracy of displayed morphology referred to as the relative accuracy, which is expressed in rmse values [9], [17]. the rmse values are computed based on the discrepancy between the observed coordinate values and the reference coordinate values. the horizontal accuracy is measured from x-coordinates and y-coordinates, and the vertical accuracy is measured from z-coordinates. equations (1)-(3) are rmse formulas that indicate horizontal accuracy, and equations (4)-(5) are rmse formulas that indicate vertical accuracy. rmsex = √ ∑ (𝑥𝑜𝑖−𝑥𝑟𝑖) 2𝑛 𝑖=1 𝑛 rmsey = √ ∑ (𝑦𝑜𝑖−𝑦𝑟𝑖) 2𝑛 𝑖=1 𝑛 (2) rmsexy = √ ∑ [(𝑥𝑜𝑖−𝑥𝑟𝑖) 2𝑛 𝑖=1 +(𝑦𝑜𝑖−𝑦𝑟𝑖) 2] 𝑛 (3) rmsez = √ ∑ (𝑧𝑜𝑖−𝑧𝑟𝑖) 2𝑛 𝑖=1 𝑛 (4) rmset = √rmsexy 2 + (rmsez) 2 (5) (1) 69 78 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 accuracy of dsm by using unmanned aerial vehicles on the lower course of welang riverbank, district of pasuruan, jawa timur with n is the number of points; 𝑥𝑜𝑖 and 𝑦𝑜𝑖 are x-coordinate and y-coordinate, respectively, that represent i-th observation (i.e. orthophoto) of the cp; 𝑥𝑟𝑖 and 𝑦𝑟𝑖 are xcoordinate and y-coordinate, respectively, that represent i-th reference (i.e. l1-static gps measurement) of the cp. for the vertical direction, 𝑧𝑜𝑖 is the z elevation coordinate that represents i-th dsm of the cp, and 𝑧𝑟𝑖 is the z elevation coordinate that represents i-th reference (i.e. l1-static gps measurement) of the cp. the accuracy level of the resulted map is aimed at confirming the dsm standard accuracy that has been issued by the indonesian geospatial information agency (badan informasi geospatial, big) [18]. according to the standard, the accuracy of x-coordinate positions and y-coordinate positions should be measured based on ce90 values, and the resolution of z-coordinate positions should be measured based on le90. the ce90 values, associated with horizontal positions, are computed as 1.5175 times the rmse of horizontal positions. the le90, associated with vertical positions, are computed as 1.6499 times the rmse of vertical positions. 3. results and discussion 3.1. resulted from dsm map based on idw interpolation in agisoft photoscan software, 738 aligned images of the uav (as shown in figure 4) were exported to generate a dsm map of the study area. source: research document (photoscan software, 2020) figure 4. 738 aligned images from the uav imagery 70 78 issn (online) 2581-0855 dian wahyu khaulan / ukarst vol. 5, no. 1, (2021). issn (print) 2579-4620 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 5 number 1, (2021). issn (print) 2579-4620 accuracy of dsm by using unmanned aerial vehicles on the lower course of welang riverbank, district of pasuruan, jawa timur the resulted dsm map is shown in figure 5. the results of the dsm map, which are compared qualitatively with satellite imagery maps, show that in the red circle there is an alignment and continuity between the road lines in the province, village roads, and railways in the red circle. this shows that there is qualitative accuracy. source: research document (arch gis, 2020) figure 5. dsm of the area of study 3.2. accuracy of the dsm table 1 shows the values for the horizontal and vertical. the computed values of rmse determine the quantitative accuracy of the generated dsm. rmse values are computed from the square difference between observed coordinate values and reference coordinate values at each of 20 gcps positions. the resulted rmsey, computed from the sum of the square difference between the gcps with north coordinates of observations (i.e. orthophotos) and north coordinates of the references (i.e. l1-static gps measurement), is 0.455 m. the resulted 71 78 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 accuracy of dsm by using unmanned aerial vehicles on the lower course of welang riverbank, district of pasuruan, jawa timur rmsex, computed from the sum of the square difference between the gcps with east coordinates of observations (i.e. orthophotos) and east coordinates of the references (i.e. l1static gps measurement), is 0.488 m. the resulted rmsexy, computed by using equation (3), is 0.667 m. the resulted rmsez is 0.161 m. it is computed from the sum of the square difference between of gcps coordinates with observed elevations (i.e. orthophotos) and coordinates of the references (i.e. l1-static gps measurement). the resulted rmset is 0.686 m. it is computed from rmsexy and rmsez as in equation (5). the observed coordinate points and the coordinate reference points are presented in table 2. the resulted rmses are presented in table 3. table 2. horizontal and vertical coordinate points qc poin reference coordinate points, i.e. l1static measurement (m) observed coordinate points, i.e. orthopotos (m) x y z x y z 1 706976.70 9155705 12.04 706976.20 9155704 12.14 2 706980.12 9155708 10.08 706980.97 9155708 10.21 3 706984.90 9155712 7.68 706984.86 9155713 7.73 4 706988.92 9155717 8.98 706988.08 9155716 8.64 5 706994.07 9155720 12.71 706994.58 9155720 12.89 6 706989.43 9156395 16.46 706989.05 9156396 16.63 7 706983.64 9156395 12.55 706983.10 9156396 12.49 8 706988.83 9156395 12.40 706988.10 9156394 12.51 9 706987.52 9156395 12.06 706987.16 9156395 12.53 10 706987.00 9156395 12.90 706987.20 9156395 12.87 11 706384.44 9155545 11.39 706384.92 9155546 11.39 12 706947.55 9155755 10.83 706947.95 9155754 10.87 13 706914.57 9155877 6.13 706914.61 9155878 6.14 14 706472.23 9155943 10.35 706472.23 9155942 10.46 15 706847.46 9156022 6.76 706847.94 9156023 6.68 16 706837.91 9156059 6.83 706837.35 9156059 6.71 17 706423.26 9156156 8.12 706423.54 9156156 8.28 18 706852.78 9156183 7.28 706852.17 9156184 7.28 19 706679.68 9156338 7.99 706679.26 9156339 7.87 20 706855.57 9157148 11.46 706855.21 9157147 11.44 source: jember university of hydro-technik laboratory of (2020) 72 78 issn (online) 2581-0855 dian wahyu khaulan / ukarst vol. 5, no. 1, (2021). issn (print) 2579-4620 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 5 number 1, (2021). issn (print) 2579-4620 accuracy of dsm by using unmanned aerial vehicles on the lower course of welang riverbank, district of pasuruan, jawa timur table 3. rmse values of horizontal and vertical coordinate points root mean square error (rmse) validation points rmsex = 0.488 m rmsey = 0.455 m rmsexy = 0.667 m rmsez = 0.161 m rmset = 0.686 m source: jember university of hydro-technik laboratory of (2020) the computed rmse for z (i.e. vertical direction) is 0.161 m. by using uavs with the same specification as the one used in this study, akturk [9] studied 0.55 km2 area by using 14 gcps, and the resulted rmsez was 0.51 m; nagendran [14] studied 2.43 km 2 area by using 16 gcps, and the resulted rmsez was 0.31 m; the study of azmi [17] resulted in rmsex value of 0.263 m, rmsey value of 0.412 m, and rmsez value of 0.704 m. compared to the previous studies that used the dji uavs phanthom 3-4 series [9], [14], [17], the horizontal accuracy of this study is low, whereas the vertical accuracy of this study is high, even though the size of the mapped area in this study is bigger than those of the previous studies. the significant vertical accuracy in this study is likely a result of the gcp positioning in which the gcps were well distributed on the study area, particularly in the edges of the area. on the other hand, the horizontal direction errors in this study are probably because the gps used in this study was not a geodetic one. in addition, the ratio between the number of gcps and the total measured area in this study is smaller than the ratios in the previous studies [9], [14], [17]. in principle, inaccuracies in uavs' use depend on multifactor, such as the types of aircraft, sensors [10], operating systems, and processing software [19]. following the computation method of the indonesian geospatial information agency's standard accuracy, it is found that on 90% confidence level, the resulting ce90 and le90 values are 1.474 m and 0.265 m, as presented in table 4. therefore, based on the standard horizontal accuracy of the big for a base map, the class of the horizontal of the resulted map are class 1 in 1:5000 scale, whereas the class of the vertical accuracy of the resulted map is class 1 in 1:2500 scale. these results show that the resulting data in this study are suitable for flood hazard planning. flood hazard mapping for the areas in the lower course of a river is an example of the dsm implementation [5], [20], [21]. flood inundation areas are characterized by damaged topography, relatively plain, and rich of trees, so uav imagery is extremely helpful to generate dsm for the areas. 73 78 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 accuracy of dsm by using unmanned aerial vehicles on the lower course of welang riverbank, district of pasuruan, jawa timur table 4. dsm accuracy and big standard accuracy accuracy test result (m) big standard accuracy at scale of 1:5000 class 1 (m) class 2 (m) class 3 (m) horizontal (ce90) 1.474 1.5 3 4.5 big standard accuracy at scale of 1:2500 class 1 (m) class 2 (m) class 3 (m) vertical (le90) 0.265 0.5 0.75 1.0 source: jember university of hydro-technik laboratory of (2020) 74 78 issn (online) 2581-0855 dian wahyu khaulan / ukarst vol. 5, no. 1, (2021). issn (print) 2579-4620 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 5 number 1, (2021). issn (print) 2579-4620 accuracy of dsm by using unmanned aerial vehicles on the lower course of welang riverbank, district of pasuruan, jawa timur 4. conclusion and suggestion 4.1. conclusion the dji phantom uav dji is good to be used for small-scale mapping. the resulting dsm map has qualitative accuracy, which indicates continuity and parallels to the satellite image map of road and railroad indicators. geometric accuracy from this study found that the computed rmse at x and y (i.e. horizontal direction) is 0.488 m and 0.455 m, respectively. based on the big standard, the horizontal geometric accuracy is 1,474 m which is suitable for 1: 5000 scale mapping of orthophoto mosaic data. the vertical accuracy is 0.264 m which is included on the 1: 2,500 scale maps of the dsm data. this map can be used to recognize special features and details. qualitative and quantitative (geometric) accuracy is quite detailed when used as input for modeling and mapping of coastal flood disasters 4.2. suggestion it is advised for future studies to achieve better accuracy, use a more advanced uav system, improve consideration on gcp positioning, and use gps that is both geodetic and realtime kinematic. 5. acknowledgments the authors are grateful to the indonesian ministry of research, technology, and higher education, who financially supported this research through the postgraduate grant program. we also thank the civil servants of the villages in the study area who granted us permission to conduct aerial photography surveys. 75 78 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 accuracy of dsm by using unmanned aerial vehicles on the lower course of welang riverbank, district of pasuruan, jawa timur references [1] s. saksena and v. merwade, ‘incorporating the effect of dem resolution and accuracy for improved flood inundation mapping’, j. hydrol., vol. 530, pp. 180–194, 2015, doi: 10.1016/j.jhydrol.2015.09.069. [2] j. vesakoski, p. alho, j. hyyppä, m. holopainen, c. flener, and h. hyyppä, ‘nationwide digital terrain models for topographic depression modelling in detection of flood detention areas’, pp. 271–300, 2014, doi: 10.3390/w6020271. [3] i. indarto and d. prasetyo, ‘pembuatan digital elevation model resolusi 10m dari peta rbi dan survei gps dengan algoritma anudem’, j. keteknikan pertan., vol. 2, no. 1, p. 21955, 2014. [4] a. n. safi’i and p. hartanto, ‘pembuatan digital terrain model (dtm) dari light detection and ranging (lidar) menggunakan metode morfologi sederhana’, teknik, vol. 40, no. 1, p. 40, 2019, doi: 10.14710/teknik.v40i1.23004. [5] s. mourato, p. fernandez, l. pereira, and m. moreira, ‘improving a dsm obtained by unmanned aerial vehicles for flood modelling’, iop conf. ser. earth environ. sci., vol. 95, no. 2, 2017, doi: 10.1088/1755-1315/95/2/022014. [6] a. jebur, f. m. abed, and m. u. mohammed, ‘3d city modelling by photogrammetric techniques’, no. july 2019, 2017, doi: 10.13140/rg.2.2.11494.06722. [7] n. arsyad, ‘akurasi citra data foto udara persimpangan lalu lintas kota kendari’, rekayasa sipil, vol. 14, no. 1, pp. 51–59, 2020. [8] r. meiarti, t. seto, and j. sartohadi, ‘uji akurasi hasil teknologi pesawat udara tanpa awak (unmanned aerial vehicle) dalam aplikasi pemetaan kebencanaan kepesisiran’, j. geogr. edukasi dan lingkung., vol. 3, no. 1, p. 1, 2019, doi: 10.29405/jgel.v3i1.2987. [9] e. akturk and a. o. altunel, ‘accuracy assesment of a low-cost uav derived digital elevation model (dem) in a highly broken and vegetated terrain’, meas. j. int. meas. confed., vol. 136, no. february 2019, pp. 382–386, 2019, doi: 10.1016/j.measurement.2018.12.101. 76 78 issn (online) 2581-0855 dian wahyu khaulan / ukarst vol. 5, no. 1, (2021). issn (print) 2579-4620 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 5 number 1, (2021). issn (print) 2579-4620 accuracy of dsm by using unmanned aerial vehicles on the lower course of welang riverbank, district of pasuruan, jawa timur [10] a. r. yusoff, m. f. mohd ariff, k. m. idris, z. majid, and a. k. chong, ‘camera calibration accuracy at different uav flying heights’, int. arch. photogramm. remote sens. spat. inf. sci. isprs arch., vol. 42, no. 2w3, pp. 595–600, 2017, doi: 10.5194/isprs-archives-xlii-2-w3-595-2017. [11] e. sanz-ablanedo, j. h. chandler, j. r. rodríguez-pérez, and c. ordóñez, ‘accuracy of unmanned aerial vehicle (uav) and sfm photogrammetry survey as a function of the number and location of ground control points used’, remote sens., vol. 10, no. 10, 2018, doi: 10.3390/rs10101606. [12] p. martínez-carricondo, f. agüera-vega, f. carvajal-ramírez, f. j. mesas-carrascosa, a. garcía-ferrer, and f. j. pérez-porras, ‘assessment of uav-photogrammetric mapping accuracy based on variation of ground control points’, int. j. appl. earth obs. geoinf., vol. 72, no. may, pp. 1–10, 2018, doi: 10.1016/j.jag.2018.05.015. [13] v. casella, f. chiabrando, m. franzini, and a. m. manzino, ‘accuracy assessment of a uav block by different software packages, processing schemes and validation strategies’, isprs int. j. geo-information, vol. 9, no. 3, 2020, doi: 10.3390/ijgi9030164. [14] s. k. nagendran, w. y. tung, and m. a. mohamad ismail, ‘accuracy assessment on low altitude uav-borne photogrammetry outputs influenced by ground control point at different altitude’, iop conf. ser. earth environ. sci., vol. 169, no. 1, 2018, doi: 10.1088/1755-1315/169/1/012031. [15] a. jebur, f. abed, and m. mohammed, ‘assessing the performance of commercial agisoft photoscan software to deliver reliable data for accurate3d modelling’, matec web conf., vol. 162, 2018, doi: 10.1051/matecconf/201816203022. [16] m. a.detiknews, ‘8.740 rumah di 9 desa/kelurahan di pasuruan terendam banjir’, [online]. available: https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3880153/8740-rumahdi-9-desakelurahan-di-pasuruan-terendam-banjir. [17] s. m. azmi, b. ahmad, and a. ahmad, ‘accuracy assessment of topographic mapping using uav image integrated with satellite images’, iop conf. ser. earth environ. sci., vol. 18, no. 1, 2014, doi: 10.1088/1755-1315/18/1/012015. [18] badan informasi geospasial, peraturan badan informasi geospasial nomor 6 tahun 2018. 2018. 77 78 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 accuracy of dsm by using unmanned aerial vehicles on the lower course of welang riverbank, district of pasuruan, jawa timur [19] g. popescu, d. iordan, and v. păunescu, ‘the resultant positional accuracy for the orthophotos obtained with unmanned aerial vehicles (uavs)’, agric. agric. sci. procedia, vol. 10, pp. 458–464, 2016, doi: 10.1016/j.aaspro.2016.09.016. [20] e. yalcin, ‘two-dimensional hydrodynamic modelling for urban flood risk assessment using unmanned aerial vehicle imagery: a case study of kirsehir, turkey’, j. flood risk manag., vol. 12, no. s1, pp. 1–14, 2019, doi: 10.1111/jfr3.12499. [21] c.-g. jung and s.-j. kim, ‘comparison of the damaged area caused by an agricultural dam-break flood wave using hec-ras and uav surveying’, agric. sci., vol. 08, no. 10, pp. 1089–1104, 2017, doi: 10.4236/as.2017.810079. 78 78 issn (online) 2581-0855 dian wahyu khaulan / ukarst vol. 5, no. 1, (2021). issn (print) 2579-4620 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 u karst issn (online) 2581-0855 volume 6 number 2 year 2022 issn (print) 2579-4620 prediction of soil bearing capacity in the masterplan area of the kalimantan institute of technology based on geographical information system (gis) https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2.3544 prediction of soil bearing capacity in the masterplan area of the kalimantan institute of technology based on geographical information system (gis) d. w. apriani1*, d. safitri2, u. mustofa3, c. c. s. khala4 1*,2,3,4 department of civil engineering and planning, kalimantan institute of technology, balikpapan email: 1* dyahwahyuap@lecturer.itk.ac.id, 2dheaasafitri19@gmail.com, 3umar.mustofa@lecturer.itk.ac.id, 4chris.csk@lecturer.itk.ac.id a r t i cle i nfo a b s t r a ct article history : analysis of bearing capacity and soil type is a safety requirement before planning a building construction. cpt investigation only provides an overview at the point where the cpt was carried out. in contrast, data at other locations where soil investigations were not carried out is unknown what the value. this research provides a horizontal estimation of the bearing capacity and cone resistance values at a location regarding the sondir test points (cpt) that have been carried out. the soil bearing capacity and cone resistance mapping were carried out using three methods: kriging, idw and spline with barriers. analysis of bearing capacity was carried out by observing pile foundations with a diameter of 40 cm and a length of 11 m using the trofimankove method in the master plan of institut teknologi kalimantan (itk). the analysis results show that the area's permit carrying capacity (qall) is 26,024 – 87,835 tons with hard soil types. the cone resistance mapping (qc) results are 16,0804-259,54 kg/cm2, with the soil consistency being stiff, very stiff, and hard. results of comparison obtained from the mapping of cone resistance and carrying capacity of the three interpolation methods used, the values of the qc and qall ranges closest to the sample data used are the idw method. the result of this study can be used as an initial approach to planning foundations in areas where the bearing capacity value has not been sampled. article entry : 21 – 10 – 2022 article revised : 27 – 10 – 2022 article received : 25 – 11 2022 keywords : bearing capacity, soil consistency, interpolation, cpt. ieee style in citing this article : d. w. apriani, d. safitri, u. mustofa, and c. c. s. khala, “analytical hierarchy process (ahp) for maintenance management at bali mandara hospital,” u karst, vol. 6, no. 2, pp. 277–289, 2022, doi: https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v 6i2.3544. 1. introduction soil capacity in bearing construction loads is an important part that must be known in planning building structures. the amount of the soil bearing capacity used to plan the foundation's diameter and depth that can carry the structure's load to be planned. structural failure will occur if the bearing capacity of the soil cannot carry the planned structural load [2]. the ultimate bearing capacity is the maximum load presented in the form of a unit area load available online at http://ojs.unik-kediri.ac.id/index.php/ukarst/index http://dx.doi.org/10.30737/ukarst u karst https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2.3544 mailto:dyahwahyuap@lecturer.itk.ac.id mailto:dheaasafitri19@gmail.com mailto:umar.mustofa@lecturer.itk.ac.id mailto:chris.csk@lecturer.itk.ac.id http://ojs.unik-kediri.ac.id/index.php/ukarst/index http://dx.doi.org/10.30737/ukarst 278 289 issn (online) 2581-2157 d. w. apriani / u karst volume 6 number 2 year 2022 issn (print) 2502-9304 prediction of soil bearing capacity in the masterplan area of the kalimantan institute of technology based on geographical information system (gis) https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2.3544 where the load can still be accepted by the soil due to the working load without collapsing [1]. it is necessary to analyze the bearing capacity of the soil, which depends on the soil layer with different characteristics and soil types and has different soil bearing capacities[3]. the soil-bearing capacity analysis can be carried out using soil investigation data, one of which is the sondir test or the cone penetration test (cpt)[4]. cpt is very suitable for carrying out areas with a soft soil layer with a low bearing capacity[2]. cpt has been widely carried out in construction development in indonesia because the process is easy to do, does not require a long time, and does not require many funds. the cpt investigation produces a cone resistance value which is used as input to the bearing capacity analysis. however, the values of the cone resistance and bearing capacity from the results of the cpt investigation only provide an overview at the point where the cpt was carried out. in contrast, data at other locations where soil investigations were not carried out or data between cpt points is unknown what the value of the bearing capacity and resistance of the cone is. it is necessary to deliver a method to predict the cone's bearing capacity and bearing capacity at that location. the carrying capacity values can be predicted using arcgis interpolation from existing data. there are several interpolation methods in interpolating data using arcgis, one of which is the kriging method [5]. the kriging method is one of the interpolation methods used to assess obtaining a representative value in the unsampled region based on the value at the sampled points using a semivariogram [6][7]. the types of the kriging method is the ordinary kriging and spherical model [8][9]. ordinary kriging and spherical models will produce a more logical range value with better visual mapping at the closest distance than the farther distance [10]. hidayat (2020) mapped the bearing capacity of shallow foundation soils using the kriging method from cpt data using the schermentmann method (1978). the kriging method can be used in areas with low-density values at the sample points and homogeneous conditions[14]. the idw method estimates the value in the unsampled region based on the value in the sampled region using a simple mathematical model by considering the distance to the surrounding points[11]. in this method, the visual mapping and the resulting range value are influenced by the power value, and the method for determining the area contained. the power value is a parameter that affects the results of the range of values to be interpolated and can be inputted with positive numbers. [12]. the interpolation results will form a pattern depending on how far the range can be interpolated at each data sample point so that there is a more extensive distribution pattern, and some have a smaller size[13]. pratiwi (2021) mapped soil consistency from cpt data using the idw method. meanwhile, the idw method is used for https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2.3544 279 289 u karst issn (online) 2581-2157 volume 6 number 2 year 2022 issn (print) 2502-9304 prediction of soil bearing capacity in the masterplan area of the kalimantan institute of technology based on geographical information system (gis) https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2.3544 areas that use high-density data samples so that the interpolation results will be closer to the close sample data [6]. unfortunately, previous studies have not carried out a comparison of methods that are closest to field data. the spline with barriers method obtains smoother results with logical values and wider distribution [17]. the analysis aims to determine the distribution of bearing capacity and cone resistance in the itk masterplan area, especially in areas that have not been sampled in the form of a map. from the map, the distribution of the bearing capacity of the soil on the itk campus will be obtained. the soil bearing capacity and cone resistance mapping were carried out using three methods: kriging, idw, and spline with barriers. from this map, it will be known how the distribution of bearing capacity and cone resistance distribution in itk, soil consistency and which method is most appropriate in predicting the bearing capacity and cone resistance values based on actual data. this research is expected to be a reference material for related parties to assist in planning an infrastructure with a better level of security in the initial planning process. 2. research method the analysis was carried out from the cpt test data that had been carried out in the itk masterplan area, according to figure 1 below. the cpt tests that have been carried out are scattered in buildings d, e, f, g, and dormitory buildings in the itk masterplan area. source: itk planning subdivision (2020). figure 1. distribution map of cpt test in the itk masterplan area. https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2.3544 d. w. apriani / u karst volume 6 number 2 year 2022 issn (print) 2502-9304 prediction of soil bearing capacity in the masterplan area of the kalimantan institute of technology based on geographical information system (gis) https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2.3544 2.1 cone penetration test the value of qc is obtained from the results of direct cpt testing. soil consistency describes the soil's resistance to deformation due to receiving pressure or other forces, such as loads, that can affect the shape of the soil as a form of adhesion and cohesion forces [22]. good soil consistency has a low level of adhesion and is easy to cultivate [23]. soil consistency can be determined by considering the cone resistance value (qc) from the cpt test results shown in table 1. table 1. the relationship of soil consistency to conus's resistance value. soil consistency field identification cone resistance value (q c ) (kg/cm2 ) undrained cohesion (t/m2 ) very soft it can be squeezed a few inches easily with a fist, push <2,50 <1,25 soft quickly pressed a few inches with thumb 2,50 – 5,0 1,25 – 2,50 medium soft can be pressed a few inches with the thumb relatively easily 5,0 – 10,0 2,50 – 5,0 stiff can be pressed a few inches with the thumb relatively easily 10,0 – 20,0 5,0 – 10,0 very stiff easy to slice with thumb but requires much force to press 20,0 – 40,0 10,0 – 20,0 hard difficult to slice with the thumb >40,0 >20,0 source: bagemann (1965) [24][25]. 2.2 bearing capacity bearing capacity analysis was carried out using the trofimankove method is closest to the results of the pda test using cpt data [18]. the allowable bearing capacity is the maximum load presented in the form of a unit load that is permitted to be imposed on the ground provided that the foundation planning conditions have been met, namely the safety factor and tolerance for foundation settlement which are still within safe limits[19].[20]. the soil bearing capacity analysis was carried out by observing the foundation with a diameter of 40 m and a length of 11 meters according to the foundation planning data at the itk integrated building. 𝑄𝑎𝑙𝑙 = (𝐾𝑏 𝑥 𝑞𝑐 𝑥 𝐴) + (( 𝐽𝐻𝑃 𝐷 ) 𝑥 𝑄) 𝑆𝐹 where kb = resistance of the pile end resistance factor of 0,75, qc = cone resistance (kg/cm 2 ), a = base cross-sectional area of the pile foundation (cm2 ), jhp = total adhesive resistance (kg/cm), d = foundation cross-sectional coefficient pile of 1,5, 280 289 issn (online) 2581-2157 https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2.3544 u karst issn (online) 2581-2157 volume 6 number 2 year 2022 issn (print) 2502-9304 prediction of soil bearing capacity in the masterplan area of the kalimantan institute of technology based on geographical information system (gis) https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2.3544 q = perimeter of the pile foundation (cm), sf = safety factor of 3. the ultimate bearing capacity value in this reseach can be divided into four classes which can be seen in table 2. table 2. ultimate soil bearing capacity classification[19] class description ultimate bearing capacity (kg/cm2 ) ultimate bearing capacity using 40 cm foundation (tons) i very good >120 >150,72 ii good 81 – 120 101.74 – 150.72 iii fair 41 – 80 51.5 – 100.48 iv poor 0 – 40 0 – 50.24 source: gul and ceylanoglu (2013) [12]. the relationship between the value of the allowable bearing capacity and the soil type on the foundation can be classified into four types of foundation soil which can be seen in table 3. table 3. allowable soil bearing capacity classification. soil foundation type allowable bearing capacity (kg/cm 2 ) ultimate bearing capacity using 40 cm foundation (tons) hard >5 >6.28 medium 2 – 5 2.51 – 6.28 soft 0.5 – 2 0.63 – 2.51 very soft 0 – 0.5 0 – 0.63 source: ppiug (1983)[21]. 2.3 distribution map the values of bearing capacity and cone resistance from existing cpt points are input data in arcgis which will be interpolated with the kriging, idw and spline with barriers methods so that the values of bearing capacity and cone resistance are obtained in the entire study area. a. kringing method in the kriging method, there are two stages of interpolation. first, creating a variogram function to estimate relatedness values can be called auto-spatial correlation, depending on the model or type used. the type used in the analysis are spherical and ordinary kriging types. this type is more suitable for use because the range value from the interpolation results is very similar to the range value in the data sample used [6]. after determining the type, it can then predict the value to be interpolated in areas that have not been sampled and whose value is unknown. this method uses a mathematical model equation to be able to describe 281 289 https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2.3544 d. w. apriani / u karst volume 6 number 2 year 2022 issn (print) 2502-9304 prediction of soil bearing capacity in the masterplan area of the kalimantan institute of technology based on geographical information system (gis) https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2.3544 semi variance. the parameters of the tools that influence the cone resistance analysis are the type and number of samples used. in this study, the number of data samples used for interpolation was ten. b. inverse distance weighting (idw) one of the interpolation analysis tools found in the idw method is inputting the power value parameter. the input power value is used to determine the importance of the data sample value in the interpolation calculation to be carried out. the power parameter value that is often used in analyzing interpolation is 2. this power value will have a more significant effect on sample points that are closer to each other so that it will produce a range value that is close to the sample data value and will have a negligible effect with increasing distance or on sample points that are far apart so that they produce a range value that differs significantly from the value of the sample data used. the difference in the interpolation results produced by the idw method can be caused by the input parameters, namely the power parameter, the type parameter, and the number of samples used. in this study, the idw method uses a variable search radius type where this type will produce a varying radius for each interpolation. it depends on how far the sample point is looking for cells or areas around it, so some polygons resulting from the mapping will be more prominent, and some other polygons will be smaller depending on the density of the points around the cell or area interpolated [26]. c. the spline with barriers the interpolation results produced by the spline with barriers method have differences in visual mapping and the results of the interpolation range obtained. the difference is influenced by the tool's parameters, namely the smooth parameter, the limiting data parameter, and the parameter of the number of data samples used. in the analysis of cone resistance mapping using the spline with barriers method, the smooth parameter used is 1. the smooth value contained in this method is only limited to a value of 0 or 1, and this study does not compare the smooth value parameter. therefore, this study uses a value of 1 as a smooth parameter because the value of the cone resistance range will be closer to the value in the data sample when compared to using a smooth value of 0. 282 289 issn (online) 2581-2157 https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2.3544 u karst issn (online) 2581-2157 volume 6 number 2 year 2022 issn (print) 2502-9304 prediction of soil bearing capacity in the masterplan area of the kalimantan institute of technology based on geographical information system (gis) https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2.3544 3. result and discussion 3.1 cone penetration test (cpt) based on the results of the cpt test, the value of qc at the reviewed foundation depth, which is 11 m, has a difference in each of the data sample points used. table 4. cone penetration test result no location station mark depth (m) qc (kg/cm2 ) d = 40 cm q all (tons) 1 c and d building s.01-d 11 28,32 29,00 2 e, f, and g building s.01-e 11 207,32 71,10 s.02-e 11 202,27 71,42 s.03-f 11 257,89 86,94 s.04-f 11 252,83 86,09 s.05-g 11 252,83 87,77 s.06-g 11 252,83 87,44 3 dormitory building s.01-us 11 197,77 68,75 s.02-us 11 207,66 77,48 s.03-us 11 202,72 76,81 source: analysis in table 4, the analysis results show that the qc value is 28,32 – 252,83 kg/cm 2 with a very stiff to hard soil consistency. while the value of qall is 29-87,77 tons which indicating the existence of hard soil. 3.2 distribution map 3.2.1 kriging method based on the mapping of the cone values obtained from cpt testing in the field, an analysis of kriging spatial data. the mapping results have a visualization of the interpolation results using different colors produced. the results obtained are uniform in the area, which is far from the sample point used. the resulting color differences have different cone boundary values (qc) based on the input qc values. the resulting difference is influenced by the kriging method's characteristics and the tool's input parameters. 283 289 https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2.3544 d. w. apriani / u karst volume 6 number 2 year 2022 issn (print) 2502-9304 prediction of soil bearing capacity in the masterplan area of the kalimantan institute of technology based on geographical information system (gis) https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2.3544 (a) (b) source: mapping analysis of conus resistance. figure 2. (a) map of the distribution of cone resistance value in the itk masterplan area using the kriging method (b) distribution map of bearing capacity in the itk masterplan area using the kriging method figure 2 (a) shows that the itk masterplan area has a hard soil consistency with a qc value of around 61,2448 – 253,829 kg/cm 2. in the kriging method, circular polygons tend to be centered around the area around the sample points used and have a radius that is not wide. from the interpolation results in the form of 2 circular polygons that are seen circling the data samples of buildings d, e, f, and g, which have minimum and maximum values. the circular polygons generated from the mapping are not widely and evenly distributed. the maximum value of cone resistance from the interpolation range is 253,829 kg/cm2, while the cone resistance value in the data sample is 257,89 kg/cm2. the difference in values does not indicate that the interpolation range value is close to the maximum value of the cone resistance in the data sample, so the kriging method with the spherical type can be used to interpolate the cone resistance value in the itk master plan area. the bearing capacity using the kriging method, it produces a visual mapping almost similar to mapping the cone resistance with the kriging method. the effect of the analysis carried out is the same. the value of the bearing capacity range generated in this analysis has a maximum value of about 87,051 tons and a minimum value of about 36,506 tons, while the minimum and maximum values in the data samples used are about 29 tons and 87,77 tons. the maximum value generated in the interpolation analysis has the same value. meanwhile, the minimum value generated by the interpolation analysis has a difference of about 7,506 tons, which is greater than the minimum value in the sample data. by having the same value and not much difference in values, figure 2b show that the itk masterplan area has hard soil on the foundation with a qall value of around 36,506 – 87,051 tons 284 289 issn (online) 2581-2157 https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2.3544 u karst issn (online) 2581-2157 volume 6 number 2 year 2022 issn (print) 2502-9304 prediction of soil bearing capacity in the masterplan area of the kalimantan institute of technology based on geographical information system (gis) https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2.3544 3.2.2 idw method the analysis using the idw method using a power value of 2 shows that the maximum value of cone resistance from the interpolation range is 257,654 kg/cm2, and the minimum cone resistance value from the interpolation range is 30,7793 kg /cm2.meanwhile, the data samples' maximum and minimum values of cone resistance are 257,89 kg/cm2. the maximum value generated by the interpolation analysis has a difference of about 0,236 kg/cm2 and 28,32 kg/cm2, which is smaller than the minimum value of cone resistance in the data sample used. meanwhile, the minimum value generated by the interpolation analysis has a difference of about 2,46 kg/cm2, which is greater than the value of the cone resistance in the data sample used. no value of the interpolation range is negative or too significant. (a) (b) source: mapping analysis of conus resistance. figure 3. (a)map of the distribution of cone resistance value in the itk masterplan area using the idw method (b) distribution map of bearing capacity in the itk masterplan area using the idw method based on figure 3, the mapping results of the idw method can be seen that the mapping form from the interpolation results in the form of several circular polygons with varying distribution areas and can be seen surrounding the data samples of buildings d, e, f, g, and dormitory buildings. figure 3a shows that most areas of the itk master plan have soil consistency, namely hard with a qc value of around 40,001 – 257,654 kg/cm 2 . figure 3b, indicating that the maximum value of the bearing capacity of the interpolated range is about 87,68 tons and the minimum value of the bearing capacity of the interpolated range is about 29,591 tons. meanwhile, the minimum value of the bearing capacity of the data sample is 29 tons, and the maximum value of the bearing capacity of the data sample is 87,77 tons. the maximum value generated by the interpolation analysis has a difference of about 0,09 tons, 285 289 https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2.3544 d. w. apriani / u karst volume 6 number 2 year 2022 issn (print) 2502-9304 prediction of soil bearing capacity in the masterplan area of the kalimantan institute of technology based on geographical information system (gis) https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2.3544 which is smaller than the maximum value of the bearing capacity of the data sample used. meanwhile, the minimum value generated by the interpolation analysis has a difference of about 0,591 tons, which is greater than the minimum value of the bearing capacity of the data sample. no value of the interpolation range is negative or too significant. the power value is one of the influences. the sample points used are close to each other to produce interpolation results that are close to the results on the sample data. the interpolation results close to the values in the sample data indicate that the idw method can be used to interpolate the bearing capacity values in the itk masterplan area. figure 3b shows that the itk masterplan area has hard soil on the foundation with a qall value of around 29,591 – 87,68 tons 3.2.3 spline with barriers method the difference in interpolation results produced by the spline with barriers method has differences in visual mapping and capacity range obtained from the bearing results. source: mapping analysis of conus resistance. figure 4. map the distribution of cone resistance value in the itk masterplan area using the spline with barriers method. the results of the interpolation analysis, which is about 259,54 kg/cm2 and the minimum range of cone resistance, which is around 16,0804 kg/cm2.meanwhile, the maximum and minimum values in the data samples used are approximately 257,89 kg/cm2 and 28,32 kg/cm2, respectively. the maximum value generated by the interpolation analysis has a difference of about 1,65 kg/cm2, more significant than the maximum value of cone resistance in the data sample used. meanwhile, the minimum value generated by the interpolation analysis has a difference of about 12,24 kg/cm2, which is smaller than the minimum value in the sample data. the difference generated by the maximum value of the interpolation analysis with the data sample used is not so far from the sample value used. however, the difference generated by the minimum value of the interpolation analysis with the sample data results in a relatively 286 289 issn (online) 2581-2157 https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2.3544 u karst issn (online) 2581-2157 volume 6 number 2 year 2022 issn (print) 2502-9304 prediction of soil bearing capacity in the masterplan area of the kalimantan institute of technology based on geographical information system (gis) https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2.3544 significant difference. based on figure 4a, it can be seen that the mapping form from the interpolation results produces several circular cut polygons that surround the sample points of the d, e, f, and g buildings with different colors, radius distances, and ranges of cone resistance results. the resulting polygons are spread only partially with a vast radius distance because this method has a menu of input barriers. this research does not input the data because there is no limit to anything in the analysis, so the resulting mapping forms circular polygons that are more widely spread compared to the kriging and idw methods. figure 4 shows that most areas of the itk master plan have soil consistency, namely hard, with a qc value of around 40,001 – 259,54 kg/cm2 based on the results of the interpolation figure 4b, the maximum range value of the bearing capacity from the results of the interpolation analysis is about 87,835 tons, and the minimum range value of the bearing capacity is about 26,024 tons. meanwhile, the maximum and minimum values in the data samples used are about 87,77 tons and 29 tons, respectively. the maximum value generated by the interpolation analysis has a difference of about 0,065 tons, which is greater than the maximum value of the bearing capacity of the data sample used. meanwhile, the minimum value generated by the interpolation analysis has a difference of about 2,976 tons, which is smaller than the minimum value of the bearing capacity of the data sample. in this study, the smooth value used is one because the results of the interpolation range value will be closer to the bearing capacity value of the data sample if the smooth value used is high. if the smooth value can affect the difference in the value of the interpolation range that will be generated, then the difference in the visual mapping obtained is influenced by the parameters of the tools and the number of samples used, namely input barriers or used as limiting data. figure 4b shows that the itk masterplan area has hard soil on the foundation with a qall value of around 26,024 – 87,835 tons. 4. conclusion analysis of the soil carrying capacity shows that the qall in the area is 26,024 – 87,835 tons, with the type of foundation soil being dense and the qc value being 16,0804-259,54 kg/cm2 with soil consistency being stiff, very stiff, and hard. based on the mapping, it is known that the idw method is the most suitable method according to the field data. the values of the qc indicate this and qall ranges closest to the sample data used so that the mapping of bearing capacity and cone resistance values using the idw method can be used as an initial approach in planning foundations at the areas where bearing capacity and cone resistance values have not been sampled. 287 289 https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2.3544 d. w. apriani / u karst volume 6 number 2 year 2022 issn (print) 2502-9304 prediction of soil bearing capacity in the masterplan area of the kalimantan institute of technology based on geographical information system (gis) https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2.3544 references [1] a. a. setiawan, “soil bearing capacity & slope stability,” in thesis, vol. 3, no. april, 2015, pp. 49–58. [2] sukandi and p. a. munawarah, “mapping of soil carrying capacity based on sondir data in mataram city, west nusa tenggara province,” j. sangkareang mataram, vol. 53, no. 9, pp. 1689–1699, 2019. [3] g. bernanton; m ikhwan yani; suradji, “parameter analysis of soil bearing capacity based on correlation of standard penetration test (spt) and cone penetration test (cpt) values,” prot. (proyeksi tek. sipil), vol. 3, no. 1, p. 15, 2017, [online]. available: http://ecm.elearningcurve.com/searchresults.asp?cat=106. [4] putraji, “applications of geographic information systems on the results of surveys of soil investigations,” 2020. [5] r. l. budhiprameswari t.d; dewi, “estimation of the highest cbm content using the ordinary krigling methode in the mangunjaya area and surroundings, south sumatera province,” j. eurejamatika, vol. 7, no. 1, pp. 24–33, 2019. [6] g. h. pramono, “accuracy of the idw and kriging methods for interpolating the suspended sediment distribution in maros, south sulawesi,” forum geogr., vol. 22, no. 1, p. 145158, 2008. [7] r. yendra and r. r. risman, “application of the ordinary kriging method on crime estimation in pekanbaru city, riau,” j. sains mat. dan stat., vol. 5, no. 1, pp. 13–22, 2019. [8] i. al aswant, “comparative analysis of interpolation methods for mapping water ph in drilled wells in aceh besar district based on gis,” in thesis, 2016, pp. 1–76. [9] s. r. fitri and b. pranoto, “krigling methode utilization to downschale spatial data of solar radiation,” ketenagalistrikan dan energi terbarukan, vol. 13, no. 1, pp. 51– 60, 2014. [10] b. r. hidayat et al., “mapping of shallow foundation supporting capacity in jember university area based on cpt (cone penetration test),” rekayasa sipil, vol. 14, no. 3, pp. 179–186, 2020. [11] ncgia, “interpolation: inverse distance weighting,” 2007. https://www.ncgia.ucsb.edu/pubs/spherekit/inverse.html (accessed jan. 24, 2022). [12] j. m. pasaribu and n. s. haryani, “comparison of dem srtm interpolation techniques using inverse distance weighted (idw), natural neighbor and spline method,” j. penginderaan jauh, vol. 9, no. 2, pp. 126–139, 2012. [13] d. . watson and p. d. g, “a refinement of inverse distance weighted interpolation,” geoprocessing, vol. 2, vol. 2, pp. 315–327, 1985, [online]. available: 288 289 issn (online) 2581-2157 https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2.3544 u karst issn (online) 2581-2157 volume 6 number 2 year 2022 issn (print) 2502-9304 prediction of soil bearing capacity in the masterplan area of the kalimantan institute of technology based on geographical information system (gis) https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2.3544 https://www.semanticscholar.org/paper/a-refinement-of-inverse-distance-weightedwatson/05460f45dedb446b391889138aef84074986aead. [14] i. prasasti, h. wijayanto, and m. christanto, “analysis of application of krigging and inverse distance methods on interpolation of estimated temperature, bulk water (amc) and atmospheric stability index (isa) data from noaa-tovs data,” pros. pertem. ilm. tah. mapin xiv “ pemanfaat. ef. penginderaan jauh untuk peningkatan kesejaht. bangsa,” no. september, pp. 316–322, 2005. [15] d. w. apriani, u. mustofa, and h. r, “soil shear strength parameter analysis based on behavior analysis of landslide case,” ukarst, vol. 4, no. 2, pp. 164–176, 2020, doi: http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. [16] d. w. apriani, u. mustofa, and m. azhary, “slope stability assessment and landslide vulnerability mapping of the institut teknologi kalimantan area,” iop conf. ser. earth environ. sci., vol. 778, no. 1, 2021, doi: 10.1088/1755-1315/778/1/012018. [17] k. e. susanto and d. mardiatno, “project of sea rise and its impact on flood in coastal area,” maj. geogr. indones., vol. 24, no. 2, pp. 101–120, 2010. [18] z. . al-muqtafi, “analysis of the supporting capacity of single pile foundations with static and dynamic approaches in the integrated learning building project e, f and g campus of the kalimantan institute of technology,” 2020. [19] a. gul, y., dan ceylanoglu, “evaluation of plate loading tests on some rock formations for assessing the ground bearing capacity,” no. november, m. vardar & y. mahmotuglu, ed. istanbul: istanbul teknik university, 2013. [20] z. arifin, “comparison of single pile axial bearing capacity calculated by several analysis methods,” pp. 1–126, 2007. [21] ppiug, “regulation-encumbrance-indonesia-1983.” pp. 3–32, 1983. [22] j. sartohadi, introduction to soil geography, 2nd ed. yogyakarta: pustaka pelajar, 2013. [23] f. maulina, e. priadi, and a. faisal, “determination of the soil layer profile based on sondir data in the city of pontianak,” pp. 1–12, 2011. [24] m. l. b. b.h. amstead, philip f. ostwald, mechanical technology; volume 1, 7th ed. jakarta: erlangga, 1995. [25] j. e. bowles, foundation analysis and design. 1996. [26] dan g. m. p. watson, d.f., “a refinement of inverse distance weighted interpolation,” in geoprocessing, 1985, pp. 315–327, [online]. available: https://scirp.org/reference/referencespapers.aspx?referenceid=435000. 289 289 https://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2.3544 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-0855 load transfer on bored pile foundation instrumented with fiber optic and concrete quality analysis judul artikel [book antiqua, 14 pt, bold] load transfer on bored pile foundation instrumented with fiber optic and concrete quality analysis k. m. setianto1*, c. l. g. swan2, p. p. rahardjo 3 1*,2,3faculty of engineering, universitas katolik parahyangan, jl. ciumbuleuit no. 94, bandung, indonesia, 40141. email : 1*kevinmartandisetianto@gmail.com a r t i c l e i n f o a b s t r a c t article history : article entry : 22-02-2021 article revised : 10-03-2021 article received : 13-08-2021 the problem in the construction method of the bored pile is the contamination of mud or the other contaminant that can cause the modulus of elasticity of concrete to decrease. this research determines the modulus of concrete on a bored pile foundation instrumented with fiber-optic (fo) with a manual calculation based on strain data during loading test, validated with the results of research in the laboratory and numerical analysis. fiber optic was used to measure the strain along with the pile during the loading test. the bored pile foundation is divided into 12 segments with the same strain characteristics, and then the modulus value is calculated. the result is the modulus value of each segment is different, and the value of the modulus changes along with the increase in strain; the modulus will decrease as the strain increases. this differs from the theory that the modulus has a fixed value approximated by empirical equations. made a cylindrical concrete sample on both sides, which installed a fo to record the strain during the loading test. the result is true that the modulus is not constant but decreases as the strain increases. it is shown in the result of analysis to fiber-optic measurement data. created a model in plaxis2d for validation, and the results are not much different from the manual calculation. keywords : bored pile, concrete, foundation, fiber optic, modulus of elasticity, strain. ieee style in citing this article : [4] d. v. karandikar, “challenges to quality control in bored cast-in-situ piling in growing urban environment,” indian geotech. j., vol. 48, no. 2, pp. 360–376, 2018, doi: 10.1007/s40098-017-0277-z 1. introduction in the design process of a bored pile foundation, usually, the modulus elasticity of the concrete used will always be the same or constant in all loading conditions, which can be approximated by the equation 33w1,5√f`c psi[1] or other equations 4700√f`c[2]. when viewed from the two equations, the modulus of elasticity of concrete value solely depends and is influenced by the concrete's quality, which is symbolized by the value of f`c. this study wants to examine the actual conditions in the field when the bored pile foundation is loaded, whether, available online at http://ojs.unik-kediri.ac.id/index.php/ukarst/index u karst volume 5 number 2 (2021) issn (print) 2579-4620 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v5i2 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 mailto:1*kevinmartandisetianto@gmail.com ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 load transfer on bored pile foundation instrumented with fiber optic and concrete quality analysis indeed, the modulus of concrete is always the same. another problem that often occurs is that the modulus of concrete is considered the same or homogeneous from the top to the bottom of the bored pile foundation. the process of working on a bored pile foundation brought in a field full of uncertainty and technical problems, so the construction method greatly affects the performance of the bored pile foundation [3][4]. one example of the problem is the contamination of the groundwater level, soil from drilling, and sediment deposits from the slurry at the bottom of the borehole which will be mixed with wet concrete when the casting process isn't done with the correct method [5][6] and as a result, when it was dry, contaminated concrete becomes defected and the quality changes; generally the changes that occur will not be the same from the top to the bottom of the bored pile foundation. the quality of concrete, in this case later, is described by its modulus of elasticity. damage to the pile will be difficult to check by directly looking at the physical form of the pile foundation because the foundation has been built below the ground level. however, we can overcome this by doing in situ empirical testing such as an axial static loading test on an instrumented bored pile [7][8][9][10]. the difference in the quality of the concrete can be read well by the fiber optic wire instrumentation, which is indicated by the strain of the concrete at the depth where the damage will change very drastically. the purpose of this study is to determine the modulus of elasticity of concrete on a bored pile foundation instrumented with fiber optic wire with a manual calculation based on strain data along with the pile during static loading test, which is validated with the results of research in the laboratory and numerical analysis using plaxis 2d software. 2. literature review bored pile foundation is the type of deep foundation that is constructed in the field project directly. there are so many reasons for us to use bored pile foundation as our building foundation system are (1) the consistency of soil in the top is soft to medium soft, (2) there is an inclined workload, (3) bored pile foundation has the higher lateral capacity, and (4) bored pile foundation has the higher uplift capacity [5]. after the bored pile foundation is constructed, we must check the actual capacity of the pile, and the alternative we can do is a loading test. there are two types of loading tests, static and dynamic loading tests, but in this study, we use the static loading test data in the form of strain data and the bored pile during the loading test. to get the strain data, we usually install some instruments in the testing pile. in the past, we often use vibrating wire strain gauge (vwsg), but now we can use fiber optic wire to do this. volume 5 number 2 (2021) issn (print) 2502-9304 205 219 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 load transfer on bored pile foundation instrumented with fiber optic and concrete quality analysis the use of fiber optic wire as instrumentation for a bored pile foundation is still very rare in indonesia. generally, a vibrating wire strain gauge (vwsg) planted on the foundation is used [11]. one of the main advantages of a fiber optic wire is that it can read the strain along with the pile continuously with a reading interval of only 4 cm, unlike the vwsg, which can only read at the depth at which the vwsg is installed. therefore, fiber optic wires will be very sensitive and accurately detect when there is a change in strain in a segment of the foundation or other civil structures [12][13][14]. the fiber optic wire is installed on the reinforcing steel for the foundation of the bored pile with a loop system, which means that it is installed starting from the north side at the head of the pile, pulling it up to the pile leg then continuing to cross to the bottom of the south side and pulling up to the head of the pile (side a-b in figure 1); likewise mounted on the west and east sides (side c-d in figure 1). on very deep pile foundations, the use of fiber optic wires as instrumentation will be more efficient than vwsg because to produce a good strain reading along the pile requires a lot of vwsg to be installed [5], the process of reading the strain with a reading tool for fiber optic wire is also simpler. it can be seen in figure 2 that the strain reading with a fiber optic wire is not much different from vwsg [15]. we can see in figure 2, the value of r2 is close to the value of 1, which means from the statistical view, the data that we compare in the chart is very close or similar to each other. (a) (b) (c) source : c. lauw, et al, 2017 [10] figure 1. illustration of installation of fiber optic wire in bored pile foundation, (a) the cross-section of bored pile foundation instrumented with fiber optic wire, (b) rolled fiber optic wire before installation, and (c) the installation of fiber optic wire on bored pile reinforcement 206 219 issn (online) 2581-2157 kevin martandi setianto / ukarst vol.5, no.2 (2021) issn (print) 2502-9304 oi.org/10.30737/ukarst.v3i2 http://dx.d ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 load transfer on bored pile foundation instrumented with fiber optic and concrete quality analysis figure 2. comparison of strain reading results from fiber optic and vwsg [15] there are two strain reading systems using fiber optic wire. the first is brillouin optical time domain reflectometer/botdr, and the second is brillouin optical time domain analysis/botda [16][17][18]. the way it works with the botdr system is by firing light from one end of the wire, then due to strain and/or temperature changes, brillouin scattering occurs where some of the light is scattered and returns to the laser source. the light spectrum analysis from brillouin scattering will determine how much strain and/or temperature changes have occurred. analyzing the time of the return of scattered light will get information on which strain occurs at which location. the botda system works by firing two opposite lights from either end of the fiber optic wire. pulse wave light is fired from one end then propagates along the fiber optic wire. simultaneously, continuous wave (cw) light is fired in the opposite direction, propagating along the fiber optic wire. 3. research method this research is based on a case study of a high-rise building construction project in the province of jakarta, indonesia. the data held is actual data measured directly from the field in pile displacement and distribution of strain along a pile measured by a fiber optic wire. a hand calculation was carried out from these data to find the modulus of elasticity of concrete in a pile in every segment and every loading stage. these calculations are then validated with the results of research in the laboratory and numerical analysis with plaxis 2d software. 3.1 hand calculation to find modulus elasticity of concrete (from actual data) the first step is to divide the pile into several segments according to the similarity of the strain characteristics, which the author justifies. the pile is divided into 12 segments, but volume 5 number 2 (2021) issn (print) 2502-9304 207 219 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 load transfer on bored pile foundation instrumented with fiber optic and concrete quality analysis what is discussed in this research is segment 3, segment 4, segment 5, and segment 11. figure 3 shows the strain data along with the pile for each loading stage and the division of the pile into 12 segments. to calculate the modulus of elasticity of concrete, a simple equation is used for the relationship between strain and stress acting on the pile head from the static loading test, which is then transferred along the pile foundation. the compressive design strength of concrete is 30 mpa, the pile diameter is 1 m, the pile length is 42 m, the design load is 400 tons, and the static load test was conducted up to 260% from the design load. s1 s2 s3 s4 s5 s6 s7 s8 s9 s10 s11 s12 axial strain distribution axial strain, με d e p th [ m ] source: author’s documentation figure 3. strain along with the bored pile 3.2 laboratory testing he made concrete cylinder samples with a diameter of 15 cm and a height of 30 cm with a compressive strength design of 30 mpa. on two sides of the concrete, installed a fiber optic wire was to measure the strain on the sample during axial load compression test using a manual testing machine which was carried out when the concrete was 28 days old [19]; installed on two sides to review the eccentricity of the load. the fiber optic wire is installed using epoxy glue to blend with the cylindrical concrete sample. the axial loading is carried out in stages every 3 tons until the concrete sample break. fiber optic wire can read the strain on a cylindrical 208 219 issn (online) 2581-2157 kevin martandi setianto / ukarst vol.5, no.2 (2021) issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 load transfer on bored pile foundation instrumented with fiber optic and concrete quality analysis concrete sample every 4 cm so that the sample will get 7 points of strain reading. source: author’s documentation figure 4. installation of fiber optic wire in concrete cylinders source: author’s documentation figure 5. strain measurement of concrete cylinder during axial compression load 3.3 numerical analysis using 2d plaxis program modeling is carried out in finite element method based software because the finite element method can describe the behavior of soil and other structures when there is a change in stress and strain so that it can model the behavior of elements in more detail, especially those related to the stages of stress-strain change [20][21]. plaxis 2d is one of the many software based on the finite element method. in this study, modeling is made in plaxis 2d to see the value of the modulus of elasticity of the concrete on the bored pile foundation when a load increment occurs during the static loading test. the axysimmetry model with mohr-coulomb soil constitutive law is used, and undrained conditions of cohesive soils are modeled using the undrained a model. the undrained a model used effective shear strength parameters c’, ϕ,’ and effective stiffness parameters e'50 dan ν’. the type of material is undrained and analyzed in the context of effective stress, and groundwater levels are taken into account. undrained a is suitable for modeling the condition of undrained soil in the finite element method because its effective stress influences soil behavior. in addition, undrained a can better predict the amount of excess pore pressure volume 5 number 2 (2021) issn (print) 2502-9304 209 219 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 load transfer on bored pile foundation instrumented with fiber optic and concrete quality analysis and the increase in shear strength of the cohesive soils during the consolidation process [22][23]. mohr-coulomb soil constitutive law is well suitable for analyzing geotechnical structures [24][25][26]. soil parameters are obtained with empirical correlation from nspt value and the result of geotechnical laboratory testing that we can see in table 1. in table 1, we can see that there are 11 layers of soil. in the first seven layers, the soil type is silty clay, with the nspt value varied from 3 to 7. at depth 29 m until the tip of the bored pile foundation, there is a very dense sand layer with an nspt value of 60, so this bored pile foundation theoretically must have very high tip resistance. table 1. soil parameters for numerical analysis in plaxis 2d source: author’s documentation before the concrete modulus of elasticity from numerical analysis with plaxis 2d is used for validation, must calibrated the modeling in plaxis first with actual data in the field, namely calibrated against pile displacement and strain distribution along with the pile when it is loaded. the strain distribution calibration is carried out in 3 loading stages, namely 200%, 200%, and 240% from the design pile-working load. the results can be seen in figure 6 and figure 7, which state that the modeling in plaxis 2d is well calibrated as evidenced by the output that is very close to the actual data, both pile axial movement and strain that occurs along with the pile so that the concrete modulus of elasticity values which result from numerical analysis with plaxis 2d software can be used to validate the results of hand calculations for concrete modulus of elasticity calculations along the bored pile foundation. segment soil type nspt su [kpa] c' [kpa] ϕ' [˚] eu [kpa] e' [kpa] k [cm/s] 1 0 3 silty clay ch 4 32 6 25 9600 6720 1,00e-06 2 3 6 silty clay ch 7 56 11 26 16800 11760 1,00e-06 3 6 9 silty clay ch 3 24 4 25 7200 5040 1,00e-06 4 9 18 silty clay ch 3 24 4 24 7200 5040 1,00e-06 5 18 22 silty clay ch 7 70 14 26 24500 17150 1,00e-06 6 22 24 silty clay ch 14 140 28 30 49000 34300 8,00e-07 7 24 27 silty clay ch 10 100 20 29 35000 24500 8,00e-07 8 27 29 clayey silt 28 280 56 31 98000 68600 7,00e-07 9 29 44 sand sm 60 n/a n/a 47 60000 60000 1,00e-02 10 44 52 silty clay ch 30 240 30 31 66000 46200 7,00e-07 11 52 60 sand sm 60 n/a n/a 47 60000 60000 1,00e-02 depth [m] 210 219 issn (online) 2581-2157 kevin martandi setianto / ukarst vol.5, no.2 (2021) issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 load transfer on bored pile foundation instrumented with fiber optic and concrete quality analysis source: author’s documentation figure 6. comparison of actual load-displacement curve with numerical analysis results using plaxis 2d software s1 s10 s9 s8 s7 s6 s5 s4 s3 s2 s11 s12 s1 s10 s9 s8 s7 s6 s5 s4 s3 s2 s11 s12 s1 s10 s9 s8 s7 s6 s5 s4 s3 s2 s11 s12 source : author’s documentation figure 7. comparison of actual strain distribution along with the pile with numerical analysis results using plaxis 2d software volume 5 number 2 (2021) issn (print) 2502-9304 211 219 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 load transfer on bored pile foundation instrumented with fiber optic and concrete quality analysis 4. results and discussions the manual calculation of the modulus of elasticity of concrete can be seen in figure 8 and figure 9. from these data, it appears that the modulus of elasticity of concrete on the pile foundation is not the same in each segment. the worst modulus of elasticity of concrete is found in segment 11, where the modulus of elasticity of concrete can reach only 4000 mpa, this is very far from the initial segments or the modulus of elasticity of the design concrete which can be approximated by the equation 4700√f`c [2]. using this approach, with the f`c value of 30 mpa, then the magnitude of the modulus of elasticity of concrete theoretically amounted to 25700 mpa, whereas that occurs in segment 11, the lowest is only about 4000 mpa. this means that the modulus of elasticity of concrete is only about 15% of the theoretical modulus calculated by the equation 4700√f`c. there is a strong suspicion that the concrete in this segment has been contaminated by contaminants, which could be mud, water, or other contaminants. another thing that can obtained from these data is that the modulus of concrete is not the same or constant for each loading stage. as explained in the previous paragraph, the modulus value of concrete can be approximated by the equation 4700√f`c. its constant value does not change; however, based on hand calculation, the modulus value of concrete can be approximated changes with increasing strain. that means the modulus value also depends on the strain that occurs. this will be validated with laboratory test results and numerical analysis in the plaxis 2d software. source : author’s documentation figure 8. actual modulus of elasticity axial strain curve segment 3 and segment 4 212 219 issn (online) 2581-2157 kevin martandi setianto / ukarst vol.5, no.2 (2021) issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 load transfer on bored pile foundation instrumented with fiber optic and concrete quality analysis source : author’s documentation figure 9. actual modulus of elasticity axial strain curve segment 5 and segment 11 data in figure 10b is the raw data of the strain reading along the fiber optic wire to calculate the value of the concrete's modulus and the concrete cylinder samples. the method used is to divide the concrete cylinder samples into four small segments and then calculate each segment's modulus. the segments can be seen in figure 10a. the modulus value can be calculated using hooke's law with the same stress value along the concrete cylinder samples originating from the load applied to the top of the sample. the strain value used is the strain in the middle of each segment. (a) (b) source : author’s documentation figure 10. (a) segment division of concrete cylinder samples, (b) reading of strains along the fiber optic wire in concrete cylinder sample volume 5 number 2 (2021) issn (print) 2502-9304 213 219 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 load transfer on bored pile foundation instrumented with fiber optic and concrete quality analysis source : author’s documentation figure 11. modulus of elasticity axial strain curve from laboratory testing from the data in figure 11, the modulus value of concrete cylinder samples is not always the same, but the value changes with increasing axial strain in the concrete sample. then the results of the fiber optic wire strain data analysis have been validated correctly from laboratory data. this contradicts the assumption often used, namely that the modulus value of concrete will always be the same, one approach often used is 4700√f`c. with f`c value used is 30 mpa, the modulus of the concrete samples should always be the same, which is equal to 25742 mpa. however, the fact is the modulus of elasticity of concrete is strain-dependent. source : author’s documentation figure 12. comparison of the modulus of elasticity from laboratory testing with the results of empirical equation 4700√f`c 214 219 issn (online) 2581-2157 kevin martandi setianto / ukarst vol.5, no.2 (2021) issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 load transfer on bored pile foundation instrumented with fiber optic and concrete quality analysis the black dotted line in figure 12 is a linear value that does not change (it does not depend on the stress value in the concrete cylinder samples), resulting from the equation 4700√f`c. the relationship line then penetrates this line between the modulus and axial strain in segment 2 and 3 obtained from laboratory testing. from there, it can be seen that the same modulus of elasticity of concrete value, or the 4700√f`c approaches is used, will be safe to use when the value that occurs in concrete is still relatively small. however, when the strain increases, the actual modulus value occurring in concrete based on laboratory test data becomes smaller than the initially assumed modulus elasticity of concrete value. this can be seen from the modulus-strain relationship curve that crosses the 4700√f`c line, so that it must be of greater concern when the strain that occurs in the concrete is getting bigger. what should be noted is that this is still happening on a laboratory scale; for its application in civil engineering projects, must consider several other things. source : author’s documentation figure 13. comparison of the actual modulus of elasticity (fiber optic) and from numerical analysis with 2d plaxis based on the data in figure 13, it can be seen that it is true that the modulus value of concrete changes with the increase in the value of strain on the concrete body. the modulus value used for numerical analysis is not much different from the modulus value calculated based on fiber optic wire data. in segment 11, the modulus value is also validated. the lowest is around 4000 mpa. when compared with modulus data from laboratory test results, at the same volume 5 number 2 (2021) issn (print) 2502-9304 215 219 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 load transfer on bored pile foundation instrumented with fiber optic and concrete quality analysis strain, which is about 50 με, the modulus of concrete can reach 29.000 mpa. that means the modulus in segment 11 and segment 12 is reduced by more than 85%, or only about 15% remains. in addition, the modulus values , which are not homogeneouseous along with the pile, and can even change very far, have also been validated by the results of numerical analysis with the plaxis 2d program (figure 7). it can be seen that the modulus value along the pile foundation is not always the same and tends to change. there is a strong suspicion that this is due to the construction method carried out in the field during the casting process, causing the concrete at a certain depth to become damaged because it has been contaminated. 5. conclusion and suggestion 5.1 conclusion 1. the test results of the actual instrumented bored pile foundation loading (with fiber optic), laboratory test results, and numerical analysis results, consistently show that the determination of the modulus of elasticity of concrete with empirical equations with constant values is less precise. 2. the modulus of elasticity of concrete varies with the amount of normal strain that occurs. there is a tendency that the modulus of elasticity of concrete decreases with the increase in a normal strain. 3. the modulus value of concrete on the bored pile foundation is not homogeneous along with the pile. this can be due to the construction method and the amount of axial strain at each depth. 4. based on laboratory test results, the 4700√f`c equation to calculate the modulus value is smaller than the actual modulus value when the strain that occurs in concrete is still relatively small. meanwhile, if the strain gets bigger, the value will be lower than the actual modulus of elasticity value. 5.1 suggestion from this research, our suggestion is (1) fiber-optic wires are installed on the four sides of the concrete cylinder samples so that can measured changes in strain more precisely, and (2) it is necessary to consider the application of research results in the laboratory which states that the modulus value changes along with changes in strain in relation to the bored pile foundation design process. 216 219 issn (online) 2581-2157 kevin martandi setianto / ukarst vol.5, no.2 (2021) issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 load transfer on bored pile foundation instrumented with fiber optic and concrete quality analysis references [1] a. pauw, “static modulus of elasticity of concrete as affected by density,” am. concr. inst., vol. 6, no. 5, pp. 679–687, 1960. [2] 2847:2013 sni, “persyaratan beton struktural untuk bangunan gedung,” bandung badan stand. indones., pp. 1–265, 2013. [3] f. abdrabbo and h. abouseeda, “effect of construction procedures on the performance of bored pile,” asce deep found. j., pp. 1438–1454, 2002. [4] d. v. karandikar, “challenges to quality control in bored cast-in-situ piling in growing urban environment,” indian geotech. j., vol. 48, no. 2, pp. 360–376, 2018, doi: 10.1007/s40098-017-0277-z. [5] deep foundation research institute, manual pondasi tiang, 5th ed. bandung: universitas katolik parahyangan, 2017. [6] f. abdrabbo and h. abouseeda, “effect of construction procedures on the performance of bored piles,” pp. 1438–1454, 2002, doi: 10.1061/40601(256)103. [7] b. h. hertlein, “development of nondestructive smallstrain methods for testing deep foundations : a review,” transp. res. rec., pp. 15–20, 1991. [8] f. rausche, g. e. likins, and s. r. kung, “pile integrity testing and analysis,” applications of stress-wave theory to piles. pp. 613–617, 1992. [9] g. likins, f. rausche, r. miner, and m. hussein, “verification of deep foundations by ndt methods,” design and performance of deep foundations: piles and piers in soil and soft rock. pp. 76–90, 1993. [10] c. lauw, p. p. rahardjo, a. arafianto, and a. wirawan, “strain measurement and investigation of the concrete quality uniformity of a bored pile foundation using fiber optic sensors under static loading test,” no. 2, pp. 2–11, 2017. [11] a. sprince and l. pakrastinsh, “helical pile behavior and load transfer mechanism in different soils,” 10th int. conf. mod. build. mater. struct. tech., pp. 1174–1180, 2010. [12] h. mohamad, k. soga, a. pellew, and p. j. bennett, “performance monitoring of a secant-piled wall using distributed fiber optic strain sensing,” j. geotech. geoenvironmental eng., vol. 137, no. 12, pp. 1236–1243, 2011, doi: 10.1061/(asce)gt.1943-5606.0000543. 217 219 volume 5 number 2 (2021) issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 load transfer on bored pile foundation instrumented with fiber optic and concrete quality analysis [13] h. mohamad et al., “monitoring tunnel deformation induced by close-proximity bored tunneling using distributed optical fiber strain measurements,” no. fmgm, pp. 1–13, 2007, doi: 10.1061/40940(307)84. [14] h. mohamad, k. soga, p. j. bennett, r. j. mair, and c. s. lim, “monitoring twin tunnel interaction using distributed optical fiber strain measurements,” j. geotech. geoenvironmental eng., vol. 138, no. 8, pp. 957–967, 2012, doi: 10.1061/(asce)gt.1943-5606.0000656. [15] h. mohamad, b. p. tee, m. f. chong, and k. a. ang, “investigation of shaft friction mechanisms of bored piles through distributed optical fiber strain sensing,” icsmge 2017 19th int. conf. soil mech. geotech. eng., vol. 2017-septe, no. figure 2, pp. 2829– 2832, 2017. [16] w. thunderbolt, “distributed strain and temperature sensor botda / botdr with thunderbolt interface i-user manual.” [17] b. liu, d. zhang, and p. xi, “mechanical behaviors of sd and cfa piles using botdabased fiber optic sensor system: a comparative field test study,” meas. j. int. meas. confed., vol. 104, pp. 253–262, 2017, doi: 10.1016/j.measurement.2017.03.038. [18] h. ahmad, s. n. aidit, and z. c. tiu, “multi-wavelength praseodymium fiber laser using stimulated brillouin scattering,” opt. laser technol., vol. 99, pp. 52–59, 2018, doi: 10.1016/j.optlastec.2017.09.044. [19] sni1974-2011, “cara uji kuat tekan beton dengan benda uji silinder,” badan stand. nas. indones., p. 20, 2011. [20] r. brinkgreve, “plaxis finite element code for soil and rock analyses,” 2002. [21] r. b. j. brinkgreve, e. engin, and w. m. swolfs, “plaxis 2016 3d tutorial manual 2016,” plaxis 2016, p. 132, 2016. [22] t. l. gouw, “common mistakes on the application of plaxis 2d in analyzing excavation problems,” int. j. appl. eng. res., vol. 9, no. 21, pp. 8291–8311, 2014. [23] m. e. hingga, “implementasi effective stress undrained analysis dan effective total stress analysis dan effective stress analysis undrained dan drained material,” vol. 4, no. konteks 4, pp. 2–3, 2010. 218 219 issn (online) 2581-2157 kevin martandi setianto / ukarst vol.5, no.2 (2021) issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 load transfer on bored pile foundation instrumented with fiber optic and concrete quality analysis [24] r. b. j. brinkgreve, “copyright asce 2005 69 soil constitutive models evaluation, selection, and calibration,” geo-frontiers congr. 2005, pp. 69–98, 2005. [25] k. s. ti, b. b. huat, s. noorzaei, s. jaafar, and g. s. sew, “a review of basic soil constitutive models for geotechnical application,” electron. j. geotech. eng., vol. 97, no. 2, pp. 375–391, 1971. [26] j. f. labuz and a. zang, “mohr-coulomb failure criterion,” rock mech. rock eng., vol. 45, no. 6, pp. 975–979, 2012, doi: 10.1007/s00603-012-0281-7. volume 5 number 2 (2021) issn (print) 2502-9304 219 219 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-0855 volume 5 number 1, (2021). issn (print) 2579-4620 identification of physical and mineralogical properties of riverbank material at sand mining landslide sites of kali putih river, blitar http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 identification of physical and mineralogical properties of riverbank material at sand mining landslide sites of kali putih river, blitar a. m. hapsari 1*, d. sisinggih 2*, a. p. hendrawan 3, s. wahyuni 4 a r t i c l e i n f o a b s t r a c t article history: article entry : 18-09-2020 article revised : 17-10-2020 article received : 27-10-2020 kali putih river is a river that is often affected by the eruption of mount kelud. the resulting large deposits of volcanic sand materials cause exploitation through uncontrolled sand mines. this will impact potential hazards caused by environmental damage; for example, there have been several cases of riverbank landslides. based on previous studies, it is important to study identifying physical characteristics and mineralogy of riverbank materials through laboratory testing. found the gs value to be within 2.650-2.697, classified as gravel or sand. according to the aashto standard, the classification is coarse-grained soil. by uscs classification, all samples were determined as well-graded sand. based on the jgs standard, these samples can be classified as volcanic soil (vs) and volcanic sand (sv). sem results showed that the grain samples had low sphericity with angular to sub-angular and a bladed-oblate granular form. from x-rd analysis, the mineral composition of samples was dominated by anorthite (caal2si2o8) and albite (na(alsi3o8)). associated with bowen's reaction, these compounds are common in young materials when the weathering process is still progressing. keywords: mineralogy, physical properties, riverbank, sand mining. ieee style in citing this article: [20] r. d. hryciw, j. zheng, and k. shetler, “particle roundness and sphericity from images of assemblies by chart estimates and computer methods,” j. geotech. geoenvironmental eng., 2016, doi: 10.1061/(asce)gt.19435606.0001485. 1. introduction mount kelud is one of the stratovolcanoes (conical composite volcano) that is the most active and dangerous [1]. throughout its eruptive history, the volcano formed from accumulated lava flows, forming the stratovolcano. the height of mount kelud reaches 1731 masl (meters above sea level) and is located in the regencies of kediri, malang, and blitar [2]. from the years 1000-2014, mount kelud has erupted 34 times. the last violent eruption of mount kelud was on february 13, 2014, when ejected pyroclastic material was to a height of 7 km [3]. another impact of the eruption was bursts of lightning, with the greatest energies available online at http://ojs.unik-kediri.ac.id/index.php/ukarst/index u karst 1,2*,3,4faculty of engineering, brawijaya university e-mail: 2* singgih@ub.ac.id http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v5i1 mailto:arlitameyhapsari@gmail.com identification of physical and mineralogy properties of riverbank material at sand mining landslide sites of kali putih river, blitar http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 being within 50 km from the crater, and dark clouds even extended up to a distance of 200 km against the wind, which indicated that lightning occurred in areas with the highest concentrations of particles as well as in areas with turbulence [4]. the seismic energy released before the eruption of mount kelud in 2014 was approximately 6 times greater than what was released before the 2007 eruption. the estimated volume of material that was ejected in the 2014 eruption (140-280 × 106 m3 dense rock equivalent-dre) was 4 to 8 times greater than the 2007 eruption (35 × 106 m3 dre) [5]. the outflows of bright lava, accompanied by volcanic ash and gravel plumes, caused a rain of volcanic ash in several regions, as blitar, kediri, solo, yogyakarta, purwokerto, cilacap, and several areas in bandung, west java [6]. the areas affected by the mount kelud eruption in blitar regency covered four sub-districts: nglegok sub-district, three villages in garum sub-district, and seven villages in gandusari sub-district [7]. one of the rivers affected by the mount kelud eruption was the kali putih river, located in karangrejo village in garum sub-district, blitar regency. the volcanic material present along the banks of the kali putih river makes the areas around the river possess the potential to become sites for the mining of materials, specifically sand. however, the sand mining that occurs in the location is uncontrolled, which leads to the potential of over-exploitation and can lead to an increased risk of disasters, one of them being landslides. a landslide on the banks of kali putih river on january 14, 2018, caused two injuries, three people to become isolated, and one mining truck to become buried. based on the above events, a physical and mineralogical identification of material at landslide sites on the kali putih river becomes necessary. 2. literature review 2.1. sieve analysis sieve analysis is an effort to determine the distribution of soil particle sizes with the usage of a sieve [8]. sieve analysis, or sometimes called particle gradation analysis, is a test that is performed to determine the size variations of particles present in soil with particles of diameters > 0.075 mm. the objective of sieve analysis, among others, is to find out the condition of the gradation – whether good, poor, or uniform, as well as to find out the sizes of soil particles. 34 48 issn (online) 2581-0855 arlita mey hapsari / ukarst vol. 5, no. 1, (2021). issn (print) 2579-4620 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 5 number 1, (2021). issn (print) 2579-4620 identification of physical and mineralogy properties of riverbank material at sand mining landslide sites of kali putih river, blitar http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 2.2. specific gravity analysis specific gravity compared the mass of soil and distilled water mass at the same temperature and volume [9]. in other words, specific gravity is the comparison (ratio) between the mass of dry soil particles and that of distilled water of the same volume as the particles' volume. specific gravity is the comparison of the mass of a volume of solid particles (𝛾𝑠) to the mass of a volume of water (𝛾𝑤) at a temperature of 4 °c, which can be formulated as the following: gs = 𝛾𝑠 𝛾𝑤 2.3. density and void ratio analysis may compose soil of two or three parts. dry soil is only composed of two parts, which are soil particles and air pores. soil that is fully saturated comprises the two parts, of solids or particles and water pores. in an unsaturated condition, the soil comprises three parts: solids (particles), air pores, and water pores. can define the effective void ratio as the effective pore volume ratio to the soil particle volume [10]. 2.4. x-rd (x-ray diffraction) analysis x-ray diffraction is performed to obtain the content of easily weathered primary minerals present in soil samples. the resulting mineral analysis is then analyzed descriptively based on a chart that indicates mineral contents [11]. minerals are elements that occur through a natural process with certain chemical components composed of combinations of inorganic compounds and distinct crystal structures. the primary advantage of utilizing the x-rd method for material characteristics is its penetration ability because this method has very high energy due to its very short wavelengths. the xrd method has been applied in detecting mineral characteristics from volcanic eruptions on tenerife island [12]. 2.5. sem (scanning electron microscope) analysis sem is utilized to determine the surface morphology, surface topographic structure, particle sizes, structural deficiencies, and impurity composition of a material. sem has a magnification of 10–3,000,000 kali, depth of field of 4–0.4 mm, and resolution of 1–10 nm. the obtained results are presented in three-dimensional form as pictures or photos. previous researchers have carried out the application of sem in several fields of science: sem as a tool 35 48 identification of physical and mineralogy properties of riverbank material at sand mining landslide sites of kali putih river, blitar http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 startstart material and equipment preparation material and equipment preparation material survey and sample collection material survey and sample collection mineral physical characteristic testingmineral physical characteristic testing material mineralogy testing material mineralogy testing 1. sieve analysis 2. specific gravity analysis 3. density and void ratio analysis 1. sieve analysis 2. specific gravity analysis 3. density and void ratio analysis aashto, uscs, and jgs-system classification aashto, uscs, and jgs-system classification general classificationgeneral classification sample testing with a sem (scanning electron microscope) sample testing with a sem (scanning electron microscope) sample testing with xrd (x-ray diffraction) equipment sample testing with xrd (x-ray diffraction) equipment x-rd identification of mineral content and % volume of each material composition identification of mineral content and % volume of each material composition identification of particle shape identification of particle shape analysis and discussion of research results analysis and discussion of research results conclusionconclusion finishfinish to prove the evidence of repeated forest fires from permian coal deposits [13] and nano-scale 2d sem for reconstructing 3d pore system [14]. 2.6. sphericity and roundness the degree of sphericity (ball quality) and the degree of roundness (circularity) is utilized to classify and find out the morphology of soil in the fields of engineering and geology [15]. sphericity is determined by comparing the surface area of the particle with the volume of a ball. in contrast, roundness is determined by the particle's arc angles [15][16]. the shapes of these particles depend on the structure type and mineralogical composition of the rock. transport of rocks, temperature, and moisture does not significantly affect particle form changes [17]. 3. research method conducted this research by utilizing soil samples from several landslide sites of the kali putih river banks. there were four sites for sample collection and composed each site of 3 points. the research flowchart explains the process in more detail (figure 1). source : research flowchart, 2020 figure 1. research flowchart 36 48 issn (online) 2581-0855 arlita mey hapsari / ukarst vol. 5, no. 1, (2021). issn (print) 2579-4620 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 5 number 1, (2021). issn (print) 2579-4620 identification of physical and mineralogy properties of riverbank material at sand mining landslide sites of kali putih river, blitar http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 4. results and discussion 4.1. sieve analysis sieve analysis or soil gradation analysis was performed to find out the variations in particle size by sifting with the standard sieve of astm (american standard testing materials). this analysis is intended to highlight information regarding variations. the sifting process determines the variations of soil particle sizes with the standard astm sieve. the variations in size are then displayed as a distribution curve of particle gradations as in figure 2. source : analysis results, 2019 figure 2. particle distribution curve at the study sites the distribution of particle gradations in figure 2 showed that the particle gradation in a range of fines to fine gravel. according to the particle gradation distribution, the particle size can be read for each sampling point, and the results are outlined in table 1. tabel 1. summary of particle gradations at the study sites sample point fines (%) fine sand (%) medium sand (%) coarse sand (%) fine gravel (%) coarse gravel (%) (< 0.075) (mm) (0.425 – 0.075) (mm) (2 – 0.425) (mm) (4.75 – 2) (mm) (20 – 4.75) (mm) (100 – 20) (mm) a1 2.40 28.40 22.40 13.60 33.20 0.00 a2 5.22 31.73 22.49 14.46 26.10 0.00 a3 1.21 11.29 40.73 35.89 10.89 0.00 b1 5.20 33.20 32.40 16.40 12.80 0.00 b2 5.60 36.40 26.00 10.00 22.00 0.00 b3 4.40 28.40 30.80 15.60 20.80 0.00 c1 4.02 44.98 32.13 10.84 8.03 0.00 37 48 identification of physical and mineralogy properties of riverbank material at sand mining landslide sites of kali putih river, blitar http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 sample point fines (%) fine sand (%) medium sand (%) coarse sand (%) fine gravel (%) coarse gravel (%) (< 0.075) (mm) (0.425 – 0.075) (mm) (2 – 0.425) (mm) (4.75 – 2) (mm) (20 – 4.75) (mm) (100 – 20) (mm) c2 8.00 40.80 32.00 10.00 9.20 0.00 c3 6.43 44.18 33.33 9.24 6.83 0.00 d1 9.27 36.29 18.95 10.89 24.60 0.00 d2 5.69 41.87 28.46 11.79 12.20 0.00 d3 4.05 36.03 29.15 13.36 17.41 0.00 source : analysis results, 2019 table 1 shows that the particle gradation at the study sites is dominated by fine sand, but there is no gravel. the results of the summary of particle gradations, classification was then performed based on percentages of particle diameters by calculating the values of uniformity coefficient (cu) and gradation coefficient (cc). the following is the classification based on the values of cu and cc, according to das (1995): tabel 2. gradation classification of particles at the study sites site sample point d₁₀ d₃₀ d₆₀ cu cc gradation classification a a1 0.200 0.430 3.200 16.000 0.289 fair a2 0.110 0.350 2.000 18.182 0.557 fair a3 0.370 0.800 2.400 6.486 0.721 fair b b1 0.140 0.350 0.850 6.071 1.029 good b2 0.110 0.300 0.850 7.727 0.963 fair b3 0.140 0.400 1.800 12.857 0.635 fair c c1 0.120 0.300 0.600 5.000 1.250 fair c2 0.080 0.280 0.610 7.625 1.607 good c3 0.094 0.290 0.600 6.383 1.491 good d d1 0.073 0.230 1.400 19.178 0.518 fair d2 0.100 0.280 0.700 7.000 1.120 good d3 0.130 0.320 0.970 7.462 0.812 fair source : research results, 2019 the gradation classification based on cu and cc values was obtained in a fair and good gradation classification. 4.2. specific gravity analysis specific gravity is the comparison of the mass of a volume of solid particles (γs) toward the mass of a volume of water (γw) at the temperature of 4 °c, as equation in bellow: gs = γs γw 𝛾𝑠 = mass of a volume of solids 𝛾𝑤 = mass of a volume air 38 48 issn (online) 2581-0855 arlita mey hapsari / ukarst vol. 5, no. 1, (2021). issn (print) 2579-4620 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 5 number 1, (2021). issn (print) 2579-4620 identification of physical and mineralogy properties of riverbank material at sand mining landslide sites of kali putih river, blitar http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 the results of specific gravity analysis for the samples in the study refer to table 2, and the following are the results of the classification in table 3: table 3. results of specific gravity analysis for samples site point sample gs value soil type a a1 2.677 gravel/sand a2 2.691 gravel/sand a3 2.657 gravel/sand b b1 2.672 gravel/sand b2 2.683 gravel/sand b3 2.652 gravel/sand c c1 2.67 gravel/sand c2 2.662 gravel/sand c3 2.650 gravel/sand d d1 2.664 gravel/sand d2 2.653 gravel/sand d3 2.697 gravel/sand source : research results, 2019 the gs value based on specific gravity analysis results is 2.650 to 2.697, which can be classified as gravel or sand. 4.3. density and void ratio analysis this analysis was performed by comparing the number of soil pores in the loosest condition and soil condition on the field to compare the number of soil pores in the loosest and most packed conditions. the objective was to find out the mass, relative density, number of pores, and porosity of each sample analyzed. results of emax and emin for the study results indicated that the type of soil from the analyzed samples is considered clean sandy soil with an emin value of 0.38-0.61 and an emax value of 0.66-0.86. for more details, it will be shown in table 4: table 4. results of emax and emin value for samples site point ws loose ws dense γd min γd max gs emin emax gr gr gr/cm3 gr/cm3 a1 702 830 1.489 1.761 2.677 0.520 0.798 a2 681 831 1.445 1.763 2.691 0.526 0.863 a3 692 780 1.468 1.655 2.657 0.606 0.810 b1 688 844 1.460 1.790 2.672 0.492 0.831 b2 672 798 1.426 1.693 2.683 0.585 0.882 b3 700 860 1.485 1.824 2.652 0.454 0.786 c1 738 858 1.566 1.820 2.67 0.467 0.705 c2 682 822 1.447 1.744 2.66 0.525 0.839 c3 680 794 1.443 1.684 2.65 0.573 0.837 39 48 identification of physical and mineralogy properties of riverbank material at sand mining landslide sites of kali putih river, blitar http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 site point ws loose ws dense γd min γd max gs emin emax gr gr gr/cm3 gr/cm3 d1 696 834 1.476 1.769 2.664 0.506 0.804 d2 750 904 1.591 1.918 2.653 0.383 0.667 d3 710 854 1.506 1.812 2.679 0.479 0.779 source : research results, 2019. 4.4. sphericity and roundness figure 3 shows the example of particle length measurement for a sample by utilizing sem results. the results of the above measurement were utilized to determine the value of shape factor (f) and shape, according to zingg (1935) with equation in bellow [18]: f = c √a .b where: a = longest axis b = medium axis c = shortest axis (0.5 b) source : research results, 2019 figure 3. results of sample a2 measurement table 5 shows the results for the performed calculations for the shape factor value. 40 48 issn (online) 2581-0855 arlita mey hapsari / ukarst vol. 5, no. 1, (2021). issn (print) 2579-4620 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 5 number 1, (2021). issn (print) 2579-4620 identification of physical and mineralogy properties of riverbank material at sand mining landslide sites of kali putih river, blitar http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 table 5. shape factor value and particle shape no a (µm) b (µm) c (µm) f b/a c/b remarks sample a2 a2 (1) 395.692 170.126 85.063 0.328 0.430 0.500 bladed a2 (2) 155.692 151.689 75.845 0.494 0.974 0.500 oblate a2 (3) 124.527 77.682 38.841 0.395 0.624 0.500 oblate sample b3 b3 (1) 205.063 148.803 74.401 0.426 0.726 0.500 oblate b3 (2) 295.735 154.183 77.091 0.361 0.521 0.500 bladed b3 (3) 192.695 175.243 87.622 0.477 0.909 0.500 oblate sample c1 c1 (1) 311.318 190.826 95.413 0.391 0.613 0.500 bladed c1 (2) 196.665 167.075 83.537 0.461 0.850 0.500 oblate c1 (3) 212.706 178.983 89.492 0.459 0.841 0.500 oblate sample c2 c2 (1) 553.975 236.260 118.130 0.327 0.426 0.500 bladed c2 (2) 250.891 138.436 69.218 0.371 0.552 0.500 bladed c2 (3) 208.737 167.993 83.997 0.449 0.805 0.500 oblate sample d1 d1 (1) 351.044 187.184 93.592 0.365 0.533 0.500 bladed d1 (2) 377.551 222.974 111.487 0.384 0.591 0.500 bladed d1 (3) 235.407 193.614 96.807 0.453 0.822 0.500 oblate source : research results, 2019 the roundness value is obtained by measuring the radii of arc angles for each particle. more detailed measurements of angle radii lead to obtained results that more specifically represent the shape of the particles from the samples. the roundness value is calculated by equation in bellow [19] [20]: roundness = ∑ ( 𝑟𝑖 𝑅 )𝑛𝑖=1 𝑛 where: r = largest radius of the particle ri = arc angle radii n = number of measured arc angle radii figure 4 shows the results of measuring arc angle radii for sample a2. 41 48 identification of physical and mineralogy properties of riverbank material at sand mining landslide sites of kali putih river, blitar http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 source : research results, 2019 figure 4. measurement of angle arc radii results of measurement of sphericity and roundness refer to table 5, with the f value being for sphericity and the roundness value being obtained from the measurement results as in figure 4. the results of measurement are presented in table 6 below: table 6. summary of sphericity and roundness values and particle shape sample sphericity roundness remarks a2 1 0.3 0.3 low sphericity-angular (bladed-oblate) 2 0.5 0.3 low sphericity-sub angular (bladed-oblate) 3 0.4 0.4 low sphericity-sub angular (bladed-oblate) b3 1 0.4 0.5 low sphericity-sub angular (bladed-oblate) 2 0.4 0.3 low sphericity-angular (bladed-oblate) 3 0.5 0.2 low sphericityvery angular (bladed-oblate) c1 1 0.4 0.5 low sphericity-sub angular (bladed-oblate) 2 0.5 0.3 low sphericity-sub angular (bladed-oblate) 3 0.5 0.2 low sphericity-very angular (bladed-oblate) c2 1 0.3 0.5 low sphericity-sub rounded (bladed-oblate) 2 0.4 0.4 low sphericity-sub angular (bladed-oblate) 3 0.4 0.3 low sphericity-angular (bladed-oblate) d1 1 0.4 0.3 low sphericity-angular (bladed-oblate) 2 0.4 0.3 low sphericity-angular (bladed-oblate) 3 0.5 0.3 low sphericity-sub angular (bladed-oblate) source : research results 2019 42 48 issn (online) 2581-0855 arlita mey hapsari / ukarst vol. 5, no. 1, (2021). issn (print) 2579-4620 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 5 number 1, (2021). issn (print) 2579-4620 identification of physical and mineralogy properties of riverbank material at sand mining landslide sites of kali putih river, blitar http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 4.5. aashto classification results of classification with the aashto (american association of state highway and transportation officials) system indicated that all the soil samples that were tested were of the coarse-grained soil group, symbolized as a-1b. the tested soil samples were included in the general classification of soil with coarse grain, not fine soil with silt or clay. it was found that 35% or less of the soil sample passed through the no. 200 sieves. the most dominant type of material was gravel and sand, with the evaluation as base soil material being very good to good. 4.6. uscs classification based on the classification results with the uscs (unified soil classification system), all the soil samples at the study sites were of the sandy well-graded soil type, containing sandy gravel with some fine particles, symbolized as sw (well-graded sand). the research results found that the percentage of materials that passed the no. 4 sieve was greater than 50%, with 17% being of gravel size and 83% of the sand size. 4.7. jgs classification the jgs (japanese geotechnical society) classification is based on the percentage of the samples that passed the no. 200 sieves. based on the study results that were performed on the samples, the value of fc was found to be less than 50%; the test samples were classified as volcanic soil and volcanic sand with coarse-grained soil. tablel 7. results of soil sample classification with the jgs method sample % passed sieve no. 200 symbol a1 2.40% v a2 5.22% s-v a3 1.21% v b1 5.20% s-v b2 5.60% s-v b3 4.40% v c1 4.02% v c2 8.00% s-v c3 6.43% s-v d1 9.27% s-v d2 5.69% s-v d3 4.05% v source : research results, 2019 43 48 identification of physical and mineralogy properties of riverbank material at sand mining landslide sites of kali putih river, blitar http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 considering its utility, volcanic soil has very good physical characteristics and is therefore of great interest because of its high content of phosphates and several other micronutrients, making it the most fertile kind of soil in the world. however, if rain occurs with high intensity, this may increase pressure to the soil pores and reduce soil strength, which can lead to slope instability. 4.8. sem (scanning electron microscope) analysis sem analysis was only performed on five samples out of the total of 12 available samples. this was based on the most significant differences in color and texture out of all the samples. the samples for which mineralogy analysis was performed were a2, b3, c1, c2, and d1. below is the result of sem analysis for the a2 sample at 5000x magnification. source : research results, 2019 figure 5. results of sem analysis based on the results of sem analysis that had been performed, cavities were found on the particles' surface. a similar result was also found for the c1, c2, and d1 samples. however, for the b3 sample, there were fewer cavities on the sample particles compared to the other samples. sem analysis results are strongly related to the pore value results, which had a high value of 0.882. 4.9. x-rd (x-ray diffraction) analysis as with sem analysis, x-rd was only performed on five samples out of the total of 12 available samples. the results of x-rd analysis are presented in figure 6 and table 8. 44 48 issn (online) 2581-0855 arlita mey hapsari / ukarst vol. 5, no. 1, (2021). issn (print) 2579-4620 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 5 number 1, (2021). issn (print) 2579-4620 identification of physical and mineralogy properties of riverbank material at sand mining landslide sites of kali putih river, blitar http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 source : research results, 2019 figure 6. results of x-rd analysis for the a2 sample the x-rd results obtained that the maximum peak is 512.32 and 458.91 counts, which are at the position in 28.028 and 27.753. the mineral composition of the sample was dominated by 79% anorthite and 21% albite. table 8. mineral content of samples source : research results, 2019 legend: ─ : none (0%) + : little (0% 35%) ++ : moderate (35% 70%) +++ : dominant (>70%) results of x-rd analysis indicated that the mineral content of the samples is dominated by anorthite (caal2si2o8) and albite (na(alsi3o8)). anorthite and albite are soils that are formed from volcanic parent material with easily weathered primary mineral content. in the bowen reaction, anorthite and albite are considered minerals in early weathering stages, indicating that the soil is young or has not experienced further weathering. 4.10. material potential based on study results the study sites' materials constitute soil with good gradation, low gravel content, sample mineral anorthite albite a2 +++ + b3 +++ + c1 +++ + c2 +++ + d1 +++ + 79 % 21% 45 48 identification of physical and mineralogy properties of riverbank material at sand mining landslide sites of kali putih river, blitar http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 more than 50% of particles passed through the no. 4 sieves and more than 95% of particles were held by the no. 200 sieves. materials with the above characteristics are suitable for use as refill material in class ii embedded pipe, which consists of coarse sand and gravel with a maximum particle size of 40 mm, has varying gradations with little presence of fine-grained material, and is generally speckled and not well cohesive. in wet or dry conditions. in addition, based on the sem and pore value analysis that has been performed, the material contains many air cavities and has a large pore value. therefore, the study sites' materials are judged to be able to let water pass through the air in drainage channels. 5. conclusion and suggestions 5.1. conclusion based on the results and discussion above, the following are the conclusions: 1. the riverbank material at landslide locations constitutes material with good gradation in sand or gravel for physical characteristics. based on uscs and aashto classification, the material constitutes sandy soil with gravel and good subgrade without a plastic nature and is of the well-graded sand category. based on jgs system classification, the study sites' samples constitute soil of volcanic soil and volcanic sand types. 2. for mineral characteristics, sem (scanning electron microscope) analysis indicated that the material samples contain air cavities, have low sphericity with a bladed-oblate grain shape and have grains of angular-sub angular category. meanwhile, the results of x-rd analysis indicate a mineral content dominated by young minerals (in the early weathering process) in the form of anorthite (ca(al2si2o8)) and albite (na(alsi3o8)). 3. the material that is present at the locations has the potential to be made into backfill material in an embedded pipe. also, because the material possesses many air cavities of a large size, it may be perused as a layer in drainage channels. 5.2. suggestions some suggestions can be made for further development of this research is external aspects of the material at the locations need to be considered to determine the more specific factors that cause landslides. cemented sand characteristics in landslide material need to be investigated, along with their effects on the risk of riverbanks' landslides. 46 48 issn (online) 2581-0855 arlita mey hapsari / ukarst vol. 5, no. 1, (2021). issn (print) 2579-4620 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 5 number 1, (2021). issn (print) 2579-4620 identification of physical and mineralogy properties of riverbank material at sand mining landslide sites of kali putih river, blitar http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 references [1] f. maeno et al., “a sequence of a plinian eruption preceded by dome destruction at kelud volcano, indonesia, on february 13, 2014, revealed from tephra fallout and pyroclastic density current deposits,” j. volcanol. geotherm. res., vol. 382, pp. 24–41, 2019, doi: 10.1016/j.jvolgeores.2017.03.002. [2] d. kiswiranti, “temporal statistical analysis of eruptions of mount kelud, mount semeru, and mount merapi,” tek. geol., pp. 1–10, 2013. [3] f. aristantha, a. p. hendrawan, and r. asmaranto, “identification of the physical and mineralogical characteristics of the pyroclastic material from the eruption of mount kelud in the kali sambong river, pandansari village, ngantang district, malang regency as an alternative to the embankment material,” j. mhs. jur. tek. pengair., vol. 1, no. 1, p. 18, 2017. [4] k. a. hargie, a. r. van eaton, l. g. mastin, r. h. holzworth, j. w. ewert, and m. pavolonis, “globally detected volcanic lightning and umbrella dynamics during the 2014 eruption of kelud, indonesia,” j. volcanol. geotherm. res., vol. 382, pp. 81–91, 2019, doi: 10.1016/j.jvolgeores.2018.10.016. [5] h. nakamichi, m. iguchi, h. triastuty, m. hendrasto, and i. mulyana, “differences of precursory seismic energy release for the 2007 effusive dome-forming and 2014 plinian eruptions at kelud volcano, indonesia,” j. volcanol. geotherm. res., vol. 382, pp. 68–80, 2019, doi: 10.1016/j.jvolgeores.2017.08.004. [6] purwanto and m. s. kistiyanto, “the spatio-temporal dynamics of the impact of the mount kelud eruption in kediri regency,” j. pendidik. geogr., 2017, doi: 10.17977/um017v22i12017p060. [7] a. k. anam, s. winarni, and s. r. andriani, “the role of volunteers in mount kelud eruption disaster management,” j. inf. kesehat. indones., vol. 3, no. 1, p. 1, 2017, doi: 10.31290/jiki.v(3)i(1)y(2017).page:1-7. [8] national standardization agency, soil size analysis test method, sni 3423:2008. 2008, pp. 1–33. [9] national standardization agency, soil density test method, sni 1964: 2008. 2008. [10] b. hong, x. li, l. wang, l. li, q. xue, and j. meng, “using the effective void ratio and specific surface area in the kozeny-carman equation to predict the hydraulic conductivity of loess,” water (switzerland), vol. 12, no. 1, 2020, doi: 10.3390/w12010024. 47 48 identification of physical and mineralogy properties of riverbank material at sand mining landslide sites of kali putih river, blitar http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 [11] l. noer aini, m. mulyono, and e. hanudin, “weatherable minerals of merapi pyroclastic materials and their potential benefits for plants,” planta trop. j. agro sci., vol. 4, no. 2, pp. 84–94, 2016, doi: 10.18196/pt.2016.060.84-94. [12] e. a. lalla et al., “raman-ir vibrational and xrd characterization of ancient and modern mineralogy from volcanic eruption in tenerife island: implication for mars,” geosci. front., vol. 7, no. 4, pp. 673–681, 2016, doi: 10.1016/j.gsf.2015.07.009. [13] s. murthy, v. a. mendhe, p. s. kavali, and v. p. singh, “evidence of recurrent wildfire from the permian coal deposits of india: petrographic, scanning electron microscopic and palynological analyses of fossil charcoal,” palaeoworld, vol. 00, pp. 1–14, 2020, doi: 10.1016/j.palwor.2020.03.004. [14] j. guo et al., “an optimized approach using cryofixation for high-resolution 3d analysis by fib-sem,” j. struct. biol., vol. 212, no. 1, p. 107600, 2020, doi: 10.1016/j.jsb.2020.107600. [15] b. zhou, j. wang, and h. wang, “three-dimensional sphericity, roundness and fractal dimension of sand particles,” geotechnique, 2018, doi: 10.1680/jgeot.16.p.207. [16] y. hayakawa and t. oguchi, “evaluation of gravel sphericity and roundness based on surface-area measurement with a laser scanner,” comput. geosci., 2005, doi: 10.1016/j.cageo.2005.01.004. [17] j. m. rodriguez, t. edeskär, and s. knutsson, “particle shape quantities and measurement techniques-a review,” electron. j. geotech. eng., vol. 18 a, pp. 169– 198, 2013. [18] m. a. maroof, a. mahboubi, a. noorzad, and y. safi, “a new approach to particle shape classification of granular materials,” transp. geotech., vol. 22, p. 100296, 2020, doi: 10.1016/j.trgeo.2019.100296. [19] i. cruz-matías et al., “sphericity and roundness computation for particles using the extreme vertices model,” j. comput. sci., vol. 30, pp. 28–40, 2019, doi: 10.1016/j.jocs.2018.11.005. [20] r. d. hryciw, j. zheng, and k. shetler, “particle roundness and sphericity from images of assemblies by chart estimates and computer methods,” j. geotech. geoenvironmental eng., 2016, doi: 10.1061/(asce)gt.1943-5606.0001485. 48 48 issn (online) 2581-0855 arlita mey hapsari / ukarst vol. 5, no. 1, (2021). issn (print) 2579-4620 u karst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-0855 volume 06 number 02 year 2022 issn (print) 2579-4620 rationalization of rainfall station network in welang watershed using kagan-rodda method http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2 rationalization of rainfall station network in welang watershed using kagan-rodda method s. a. haromain1, s. wahyuni2*, l. m. limantara3 1,2*,3faculty of engineering, brawijaya university email: 1 safiraanisah9130@gmail.com 2* yuniteknik@ub.ac.id 3 lilymont2001@gmail.com a r t i c l e i n f o a b s t r a c t article history : article entry : 13 – 06 – 2022 article revised : 22 – 06 – 2022 article received : 08 – 07 – 2022 rationalizing rainfall station is important to get an effective and efficient number and distribution of rainfall stations. if rationalization isn’t carried out, it affect to operating and maintenance costs of rainfall stations and accuracy of data. this study aimed to evaluate existing rainfall station and rationalize rainfall station, so rainfall station’s location is evenly distributed. this study is located in welang watershed with an area 477.78 km2. this research requires rainfall ground data from 9 rainfall stations and chirps satellite rainfall data from google earth engine. the data is tested with consistency, stationary, suitability, and rationalization based on world meteorological organization (wmo) standards and kagan-rodda method. later, new rainfall station networks will be obtained with the influence area of rainfall stations suitable to wmo standard. chirps data is highly suitable with ground data, proven by high nse, strong correlation, and low relative error, so chirps data can be used for further analysis. according wmo, only 1 rainfall station in welang watershed has been suitable for wmo standard. those unsuitable with wmo standards need to be rationalized. based rationalization results, with average error <10%, welang watershed requires 4 rainfall stations by maintaining lawang station, moving telebuk to station b, selowongko to station c, and tutur to station d. the influence area of recommendation rainfall stations have been suitable to wmo standards and obtained even distribution rainfall stations. this recommendation are expected to be considered by relevant institutes to move the location of the rainfall station to get more accurate rainfall data. keywords : chirps satellite, kagan-rodda method, rainfall station, rationalization, welang watershed, world meteorological organization. ieee style in citing this article : [7] v. varekar, v. yadav, and s. karmakar, “rationalization of water quality monitoring locations under spatiotemporal heterogeneity of diffuse pollution using seasonal export coefficient,” j. environ. manage., vol. 277, no. august 2020, p. 111342, 2021, doi:10.1016/j.jenvman.2020.1113 42. 1. introduction welang watershed is located in three areas: pasuruan regency, pasuruan city, and malang regency. there are nine rainfall stations in this watershed. the ability of rainfall stations to monitor that area's hydrological conditions is needed to obtain accurate data [1]. rainfall data generated from rainfall stations are important input data for water resources management [2] [3] [4]. available online at http://ojs.unik-kediri.ac.id/index.php/ukarst/index http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2 u karst mailto:yuniteknik@ub.ac.id mailto:yuniteknik@ub.ac.id mailto:yuniteknik@ub.ac.id 144 – 157 issn (online) 2581-2157 s. a. haromain / u karst vol 06 no 02 year 2022 issn (print) 2502-9304 rationalization of rainfall station network in welang watershed using kagan-rodda method http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2 inaccurate rainfall data causes the results of resource management to be inaccurate because water resource management requires rainfall data that must represent conditions in the area. rainfall ground data often produce inaccurate data caused by natural factors, human error, and the error of rainfall stations. rainfall station conditions, including number and distribution, affect rainfall data accuracy. rainfall data becomes more accurate as the number of rainfall stations increases. however, the operating and maintenance costs must also be considered [5] [6]. in addition, the limitation of rainfall measurement data in the field is one of the obstacles experienced in indonesia. at the same time, good rainfall data in terms of quality and quantity is needed. by rationalizing rainfall stations, it is expected to get a rainfall station that can represent rainfall data in the area. rationalization of rainfall stations is rainfall station analysis to find out the amount of ideal and representative rain data station to the conditions of an area. rationalization is used to design, evaluate, and redesign a rainfall station network [7] to make the number and distribution of rainfall stations in an area more practical. besides rainfall stations, technological advances produce rainfall data from satellites with a high resolution, both spatial resolution (global and regional), as well as temporal resolution (hourly, daily, monthly) [8] [9] [10]. one of the satellites that can be used is the chirps satellite, with a spatial resolution of 0.05° x 0.05° arc degrees or about 5 km and a temporal resolution (daily, monthly, yearly) [11] [12] [13] [14]. in this study, rainfall station network is regulated by world meteorological organization (wmo) standard and the rationalization of the rainfall station was carried out using the kagan-rodda method. kagan-rodda method is one of the relatively simple methods to rationalize rainfall station network and is calculated using statistical analysis by connecting the density of the rainfall station network compared to interpolation and averaging errors between other rainfall stations that area. several other researchers who applied the kagan-rodda method got rationalization results in good rainfall station density [15] [16] [17]. but rationalization of rainfall stations using ground data and chirps satellite data has never been carried out. this study aimed to evaluate the existing rainfall station network based on the wmo standard and to obtain the number and distribution of effective and efficient rainfall stations so the location of rainfall stations are evenly distributed. in this study, collected data was carried out, after that the data was tested and continued to rationalize the rainfall station. this study will bring the result of shifting and merging of rainfall stations, so the number and influence area of each rainfall station is suitable with world meteorological organization (wmo) standard. the results of this recommendation are expected to be considered by the relevant institutes to move the location of the rainfall station to get more accurate rainfall data. 145 – 157 u karst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 06 number 02 year 2022 issn (print) 2502-9304 rationalization of rainfall station network in welang watershed using kagan-rodda method http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2 2. research method this research is located in the welang watershed, which has an area of 477.78 km2. welang watershed has nine rainfall stations, including lawang station, p3gi station, selowongko station, sengon pager station, telebuk station, tutur station, wonorejo station, oro-oro pule station, and purwosari station. in this study, rainfall data were obtained from ground data and chirps satellite. furthermore, both data were tested for consistency, stationary, suitability test of uncorrected data, regression analysis, and suitability test of corrected data to see the quality of data. then, rationalization was carried out using the kagan rodda method based on the wmo standard. 2.1 collecting data the data in this study are rainfall data from the nine rainfall stations shown in figure 1 and come from ground data and satellite rainfall data. rainfall ground data is from the water resources public works of east java province. satellite rainfall data comes from the chirps satellite, which can be downloaded on the google earth engine. the data used in this study is annual cumulative data with a data range of 15 years from 2006 to 2020. both of data were tested with consistency and the stationary test. if the data is consistent and stationary, it is continued with the chirps and ground data suitability test. the appropriate data were used to rationalize the rainfall station using the kagan-rodda method. source : author’s analysis (arcmap, 2022). figure 1. distribution of rainfall stations and awlr in welang watershed 2.2 data test 2.2.1 consistency test the consistency test is used to know the consistency and similarity of rainfall data in one rainfall station to the other [18]. the consistency test determines the existence of data 146 157 issn (online) 2581-2157 s. a. haromain / u karst vol 06 no 02 year 2022 issn (print) 2502-9304 rationalization of rainfall station network in welang watershed using kagan-rodda method http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2 deviations caused by transmission or measurement errors. this test is carried out because the data used in the analysis must describe the actual hydrological conditions. the method used for this test is double mass curves. double mass curves are performed by comparing the cumulative rainfall data at station x graphically with the cumulative value of the average annual rainfall from the rainfall stations around station x. if the pattern from the graph is a straight line and there are no faults, and then the data is consistent. the data tested in this study are rainfall ground data and chirps rainfall data. 2.2.2 stationary test the stationary test used the f-test and t-test methods to determine the variance value's stability and the mean value's stability. the steps of the f-test and t-test are started by grouping the data into two groups of data, and each data group is calculated the amount of data (ni), standard deviation (si), and the mean value of rainfall. then calculate the value of fcount and tcount like the formulas below. data is said to be stationary if the calculated value is greater than the critical value at a particular significance level [19]. the f-test and t-test formulas are as follows: fcount = 𝑁1.𝑆1 2.(𝑁2−1) 𝑁2.𝑆2 2.(𝑁1−1) tcount = 𝑋1̅̅̅̅ −𝑋2̅̅̅̅ 𝜎√ 1 𝑁1 + 1 𝑁2 with: s1 = standard deviation of sample 1 n2 = total data from sample 2 s2 = standard deviation of sample 2 𝑋1̅̅ ̅ = average rainfall of sample 1 n1 = total data from sample 1 𝑋2̅̅ ̅ = average rainfall of sample 2 2.2.3 suitability test of uncorrected and corrected data the suitability test of uncorrected and corrected data is used to determine the suitability of the rainfall ground data and uncorrected also corrected satellite rainfall data. in this study, the data suitability was tested by the root mean square error (rmse) [20], nashsutcliffe efficiency (nse) [21], coefficient correlation [2], dan relative error [22]. the formula used to calculate the methods are as follows. rmse = √ ∑ (𝑃𝑖−𝑄𝑖)2𝑁𝑖=1 𝑁 r = 𝑁 ∑ 𝑃𝑖𝑄𝑖− ∑ 𝑃𝑖 𝑥 ∑ 𝑄𝑖 𝑁𝑖=1 𝑁 𝑖=1 𝑁 𝑖=1 √𝑁 ∑ 𝑃𝑖2−(∑ 𝑃𝑖)2 𝑁 𝑖=1 𝑁 𝑖=1 √𝑁 ∑ 𝑄𝑖2−(∑ 𝑄𝑖)2 𝑁 𝑖=1 𝑁 𝑖=1 nse = 1 ∑ (𝑃𝑖−𝑄𝑖)2𝑁𝑖=1 ∑ (𝑃𝑖−𝑃𝑖̅̅ ̅)2𝑁𝑖=1 re = ∑ (𝑃𝑖−𝑄𝑖) 𝑁𝑖=1 ∑ 𝑃𝑖𝑁𝑖=1 x 100% where n is the total data, pi is rainfall ground data, and qi is the chirps rainfall data. 147 – 157 u karst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 06 number 02 year 2022 issn (print) 2502-9304 rationalization of rainfall station network in welang watershed using kagan-rodda method http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2 2.2.4 regression analysis regression analysis was used to correct chirps satellite data. this study’s analysis used linear regression, exponential, logarithmic, polynomial, and exponent [23]. the equations were obtained from the scatter plot graph from the fiveregression analysis. then the equation is multiplied by the uncorrected chirps satellite data. furthermore, the correlation coefficient is calculated to determine the level of relationship between the two data, and the calibration rvalue is obtained. moreover, the equation with the highest correlation coefficient (r) is selected, which is used as a correction factor for chirps satellite data. 2.3 area rainfall and wmo standard in this study, calculation of regional average rainfall using the thiessen polygon to determine the influence area of each rainfall station and calculate the average rainfall value . after that, evaluate the density of the existing rainfall stations using wmo standard, which provides guidelines for the minimum density of rainfall stations [24] for mountainous areas in the moderate, tropical, and mediterranean zones, with an area of 100 km2 250 km2, it is sufficient to have one rainfall station [25]. 2.4 kagan-rodda method one of the methods used to analyze the rainfall station network is kagan-rodda method. this method helps to obtain an optimal new rainfall station network. the steps for analyzing the rainfall station network using the kagan – rodda method are as follows: • calculate the coefficient of variation (cv) then draw an exponential graph of the relationship between the correlation coefficient and rainfall station distance. the graph shows an exponential equation to get the value of r(0) and d(0). • determine the number of stations by considering averaging error (z1) and interpolation error (z3) values then determine the location of the rainfall station by drawing a net of kagan rodda with a length of l. the formula for the kagan-rodda analysis is as follows: cv = 𝑆𝑑 �̅� r(d)= l= z1= z3 = with: cv = coefficient of variation d(o) = radius correlation sd = standard of deviation a = area (km2)         − 0. )0( d d er n a .07.1 n nd a r cv                 +− )0( 23.0 1 . )0( ( )             +− )0( )0( )0( .52.0 1 3 1 . d n a r rcv 148 157 issn (online) 2581-2157 s. a. haromain / u karst vol 06 no 02 year 2022 issn (print) 2502-9304 rationalization of rainfall station network in welang watershed using kagan-rodda method http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2 �̅� = regional average rainfall n = total station r(d) = correlation coefficient for rainfall stations with distance (d) z1, z3 = average error (%) and interpolation error (%) r(o) = correlation coefficient of rainfall between extrapolated stations l = kagan-rodda’s distance (km) d = distance between rainfall stations (km) 3. results and discussions 3.1 data test the data tests carried out include data consistency tests and stationary tests to obtain consistent and homogeneous data results. furthermore, the data suitability test is carried out to see the suitability results between the ground data and satellite data. suppose the two data yields a low level of suitability. in that case, a regression analysis is performed to obtain the selected equation with the highest coefficient correlation (r) value to correct the satellite data. furthermore, the suitability test is carried out again with the corrected data to see the level of suitability of the ground data and satellite data. 3.1.1 rainfall data consistency test and stationary test from the initial analysis, results of the rainfall data consistency test using the ground and satellite data found that only 4 rainfall stations from satellite data, namely selewongko, sengon pager, telebuk, tutur station, were consistent with angles ranging from 42o to 48o. meanwhile, other stations have not been consistent. so that the data is corrected by looking for a correction factor by calculating the ratio of the reference line’s gradient to the broken line. in this study, the value of the correction factor ranges from 0.69 to 1.63. the value of the correction factor is then multiplied by the rainfall measurements and satellites. after correcting, the corrected angle is obtained between 42o to 48o. therefore, it can be concluded that the rainfall ground data and chirps rainfall data are consistent then a stationary test is carried out. the results of the stationary test show that the fcount value at all stations, both from ground and satellite data, has a value between 0.588 to 3.526, while the fcritical value is 4.21. in addition, tcount value at all stations from both ground and chirps satellite has a value between -1.084 to 1.542, while tcritical value is ±2.16. from this value, it is found that the value of fcount < fcritical and -tcritical < tcount <+tcritical for all stations. so, it can be concluded that the rainfall ground data and chirps rainfall data are homogeneous. 3.1.2 suitability test of uncorrected data suitability tests of uncorrected data results are shown in table 1. 149 – 157 u karst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 06 number 02 year 2022 issn (print) 2502-9304 rationalization of rainfall station network in welang watershed using kagan-rodda method http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2 table 1. summary of suitability test of uncorrected data station rmse nse performance of nse r performance of r re lawang 337 0.6 satisfactory 0.78 strong 1.76% p3gi 255 0.74 satisfactory 0.87 very strong 2.75% selewongko 397 0.42 satisfactory 0.70 strong 6.27% sengon pager 366 0.52 satisfactory 0.78 strong 7.92% telebuk 291 0.70 satisfactory 0.84 very strong 1.84% tutur 480 0.29 unsatisfactory 0.84 very strong 19.98% wonorejo 250 0.62 satisfactory 0.84 very strong 3.10% oro-oro pule 513 0.43 satisfactory 0.67 strong 3.85% purwosari 339 0.68 satisfactory 0.86 very strong 6.70% source : author's analysis (2022). based on table 1, the suitability test of uncorrected data showed the highest rmse results at the oro – oro pule rainfall station. the correlation coefficient value showed a strong to very strong result, and the re value ranged from 1% to 20%. the nse value at tutur station was unsatisfactory because of nse < 0.36. therefore, the data must be corrected before being used for further analysis. 3.1.3 regression analysis table 2 shows the selected regression equation for each rain station data. table 2. summary of selected regression equation station r calibration r selected regression equation linear exponential logarithmic polynomial power max lawang 0.78 0.75 0.79 0.80 0.78 0.80 polynomial p3gi 0.87 0.87 0.85 0.88 0.87 0.88 polynomial selowongko 0.70 0.70 0.70 0.70 0.70 0.70 power sengon pager 0.78 0.76 0.79 0.80 0.78 0.80 polynomial telebuk 0.84 0.83 0.84 0.84 0.84 0.84 logarithmic tutur 0.84 0.87 0.81 0.89 0.84 0.89 polynomial wonorejo 0.84 0.85 0.81 0.87 0.83 0.87 polynomial oro-oro pule 0.67 0.68 0.66 0.68 0.67 0.68 polynomial purwosari 0.86 0.82 0.88 0.90 0.85 0.90 polynomial source : author's analysis (2022). based on the results in table 2, from the regression analysis, the selected regression equation for each rainfall station is not always the same. in this study, the polynomial equation is the most selected regression equation for correcting the chirps satellite rainfall data because it has the highest correlation coefficient value. 3.1.4 suitability testing of corrected data after correcting the data using the selected regression equation, the corrected chirps satellite data was tested for suitability using the rmse, nse, correlation coefficient, and relative error methods. the suitability tests of corrected data are shown in table 3. 150 157 issn (online) 2581-2157 s. a. haromain / u karst vol 06 no 02 year 2022 issn (print) 2502-9304 rationalization of rainfall station network in welang watershed using kagan-rodda method http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2 table 3. summary of suitability test of corrected data station rmse nse performance of nse r performance of r re lawang 328 0.62 satisfactory 0.79 strong 0.02% p3gi 277 0.69 satisfactory 0.88 very strong 6.51% selewongko 372 0.49 satisfactory 0.70 strong 0.11% sengon pager 354 0.55 satisfactory 0.79 strong 7.44% telebuk 284 0.71 satisfactory 0.84 very strong 0.03% tutur 270 0.78 good 0.89 very strong 3.97% wonorejo 211 0.73 satisfactory 0.87 very strong 3.53% oro-oro pule 503 0.46 good 0.68 strong 1.61% purwosari 260 0.81 good 0.90 very strong 1.57% source : author's analysis (2022). based on table 3, the suitability test of corrected data showed better results, as evidenced by a smaller rmse value. the nse value of uncorrected data showed unsatisfactory. after correcting the data, the nse value showed satisfactory category to good category for all rainfall station data. the correlation coefficient value indicates a strong to a very strong category, and the relative error value for each data station is minimal, approaching 0%. it meant that the suitability test of corrected data was successful, and the corrected chirps satellite data could be used for further analysis. 3.2 regional average rainfall and wmo standard analysis the regional average rainfall is calculated using the thiessen polygon method to obtain the value of the thiessen coefficient from each rainfall station shown in table 4. table 4. influence area of rainfall station and wmo analysis station area thiessen coefficient wmo standard (km2) lawang 101.94 0.21 ideal p3gi 2.77 0.01 not ideal selowongko 62.58 0.13 not ideal sengon pager 72.95 0.15 not ideal telebuk 33.74 0.07 not ideal tutur 87.90 0.18 not ideal wonorejo 56.57 0.12 not ideal oro-oro pule 2.21 0.05 not ideal purwosari 57.12 0.12 not ideal totals 477.78 1 source : author's analysis (2022). wmo standard analysis determines the distribution conditions of the existing rainfall stations in the welang watershed. based on wmo standards, the welang watershed, with an area of 477.78 km2, only requires four rainfall stations. based on table 6, from 9 rainfall stations, there is only one rainfall station, namely the lawang rainfall station, which is suitable for the ideal 151 – 157 u karst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 06 number 02 year 2022 issn (print) 2502-9304 rationalization of rainfall station network in welang watershed using kagan-rodda method http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2 conditions according to wmo standards. in contrast, the other rainfall stations have an area of < 100 km2. therefore, rationalization is needed to get the number and distribution of rainfall stations evenly and efficiently. based on table 6, the thiessen coefficient value is used to calculate the regional average rainfall for the rationalization analysis of the kagan rodda method. 3.3 rationalization of rainfall stations with the kagan-rodda method the first step in this analysis is to calculate the coefficient of variation using average area rainfall from ground data and chirps satellite rainfall data. from the data, the rainfall ground data values range from 1432 to 2802. while the rainfall values from the chirps satellite data range from 1463 to 2911. from these values, the average rainfall for the ground data is 1924 and the standard deviation is 455.318. meanwhile, the average rainfall for the chirps satellite is 1961 and the standard deviation is 439.949. so the value of the coefficient of variation can be calculated as follow: for ground data for chirps satellit data cv = 𝑆𝑑 �̅� = 455.318 1924 = 0.237 cv = 𝑆𝑑 �̅� = 439.949 1961 = 0.224 furthermore, the correlation coefficient between rainfall stations is calculated for ground and satellite rainfall data and then analyses the distance between rainfall stations. the relationship between rainfall station distance and coefficient correlation is depicted in the exponential graph shown in figure 2. source : author's analysis (ms excel, 2022). figure 2. graph relation between distance and coefficient correlation y = 0.7654e-0.006x y = 0.9734e-0.001x 0,0 0,3 0,6 0,9 1,2 0 5 10 15 20 25 30 35 c o r r e la ti o n c o e ff ic ie n t (r ) distance (km) relation between rainfall station distance and coefficient correlation ground rainfall data satellite rainfall data 152 157 issn (online) 2581-2157 s. a. haromain / u karst vol 06 no 02 year 2022 issn (print) 2502-9304 rationalization of rainfall station network in welang watershed using kagan-rodda method http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2 based on figure 2, a regression equation is obtained for the rainfall ground data and satellite data as y = 0.7654e-0.006x for ground data and y = 0.9734e-0.001x for satellite data. from the formula, the parameter values obtained are r(0) and d(0). the value of r(0) for ground data is 0.7654 and the value of r(0) for satellite data is 0.9734, while d(0) is obtained from the following calculations. for ground data for satellite data = 0.7654e-0.006d = 0,9734e-0.006d = -0.006d = -0.001d = 1/0.006 = 166.67km = 1/0.001 = 100 km next, calculate the average error (z1) and interpolation error (z3) with a value of under 10%. table 5 shows the value of z1 and z3. figure 3 shows the relationship between the number of rainfall stations and the average and interpolation error (z1 & z3). table 5. summary of z1 and z3 values for ground and satellite data n rainfall ground data rainfall satellite data z1 z3 z1 z3 1 12.2% 8.5% 4.0% 3.2% 2 8.5% 8.0% 2.8% 2.9% 3 6.9% 7.8% 2.2% 2.8% 4 5.9% 7.6% 1.9% 2.7% 5 5.3% 7.5% 1.7% 2.6% 6 4.8% 7.5% 1.6% 2.6% 7 4.4% 7.4% 1.4% 2.6% 8 4.1% 7.4% 1.3% 2.5% 9 3.9% 7.3% 1.3% 2.5% source : author's analysis (2022). based on the results in table 5, it is determined that the number of rainfall stations is four based on the value of z1 and z3 which is under 10% and based on wmo standard. z1 and z3 values are 5.9% and 7.6% for ground data, and z1 and z3 values are 1.9% and 2.7% for satellite data. with four rainfall stations, the length of the rainfall station can be calculated as follows: l = 1.07 √ 𝐴 𝑛 = 1.07 √ 477,780 4 = 11,694 km. the length of rainfall stations for ground data and satellite data produces the same value because the selection of the number of stations is four based on wmo standards, and the z1 and z3 values are below 10%. 153 – 157 u karst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 06 number 02 year 2022 issn (print) 2502-9304 rationalization of rainfall station network in welang watershed using kagan-rodda method http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2 source : author's analysis (ms excel, 2022). figure 3. graph relation between number of rainfall stations and z1 z3 based on figure 3, the values of z1 and z3 in the chirps satellite rainfall data are smaller than the rainfall ground data because the coefficient of variation (cv) of chirps satellite rainfall data is smaller. it proves that the chirps satellite rainfall data has a homogeneous value compared to the rainfall ground data because if the value of cv is getting smaller, then the data can be said to be more homogeneous. 3.4 rationalization scenario for rainfall station based on the result of the first rationalization scenario, the planned kagan-rodda nets and influence area of each rainfall station is shown in figure 4. (a) (b) source : author's analysis (arc map, 2022). figure 4. kagan rodda nets (a) and thiessen polygon (b) for first scenario figure 4(a) shows the first scenario of kagan-rodda by maintaining lawang station and moving several rainfall stations according to kagan – rodda nets, then figure 4(b) shows the thiessen polygon to know the influence area of each rainfall station. 0% 2% 4% 6% 8% 10% 12% 14% 0 2 4 6 8 10 z 1 ,z 3 number of rainfall (n) relation between number of rainfall station and z1 z3 z1 ground data z3 ground data z1 satellite data z3 satellite data 154 157 issn (online) 2581-2157 s. a. haromain / u karst vol 06 no 02 year 2022 issn (print) 2502-9304 rationalization of rainfall station network in welang watershed using kagan-rodda method http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2 table 6. influence area of first scenario rainfall stations networks no station area wmo standard (km2) 1 lawang (a) 134.73 ideal 2 b 75.99 not ideal 3 c 193.07 ideal 4 d 73.99 not ideal source : author's analysis (2022). the influence area of first scenario can be seen in table 6 that lawang station with an influence area of 134.73 km2 and c station with an influence area of 193.07 km2 have been suitable wmo standards. in contrast, b and d stations are unsuitable for the wmo standard, with an area of 100-250 km2/station. in addition, the distribution of rainfall stations in the first scenario was not evenly distributed indicated by the results of the location of rainfall stations and the influence area of each rainfall station in the first scenario. then the second scenario was carried out and the results are shown in figure 5. (a) (b) source : author's analysis (arc map, 2022). figure 5. kagan rodda nets (a) and thiessen polygon (b) for second scenario figure 5(a) shows that the second scenario was carried out while maintaining lawang station as a reference station. the kagan-rodda nets obtained recommended locations for b, c, and d rainfall stations. then figure 5(b) shows the thiessen polygon to know the influence area of each rainfall station from the second rationalization scenario. table 7. influence area of second scenario rainfall stations networks no station area wmo (km2) standard 1 lawang (a) 120.12 ideal 2 b 119.11 ideal 3 c 145.48 ideal 4 d 93.07 not ideal source : author’s analysis (2022). 155 – 157 u karst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 06 number 02 year 2022 issn (print) 2502-9304 rationalization of rainfall station network in welang watershed using kagan-rodda method http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2 table 7 shows that the distribution of rainfall stations in the second scenario was fairly even, as evidenced by the influence area of each rainfall station, which was evenly distributed. therefore, the recommendation for rationalization of the kagan-rodda method used is a recommendation in the second scenario. based on the second scenario, the distribution of rainfall stations and the influence area of each rainfall station are evenly distributed and suitable for wmo standards. although the influence area of d station is slightly below wmo standard, but the distribution of rainfall stations in this second scenario is already the most optimal. table 8. recommended rainfall station coordinates existing station location recommendation station location longitude latitude longitude latitude lawang 112° 41' 51.5'' 7° 49' 58.1" lawang (a) 112° 41' 51.5'' 7° 49' 58.1" telebuk 112° 43' 20'' 7°41' 44.7" b 112º 41' 51.11" 7º 43' 24.91" selowongko 112° 46' 51.8'' 7° 46' 26.5" c 112º 46'41.31" 7º 46' 42.81" tutur 112° 48' 44.9'' 7° 53' 6.7" d 112º 47' 28.05" 7º 53' 17.07" p3gi 112° 54'33.5'' 7° 38'58.6" oro oro pule 112° 50' 18'' 7° 44' 38.9" sengon pager 112° 43' 50.5'' 7° 45' 14.6" purwosari 112° 43' 11.9'' 7° 48' 18.2" wonorejo 112° 49' 2.4'' 7° 42' 33.4" source : author's analysis (2022). table 8 shows recommended rainfall station coordinates based on this study's rationalization result. the result of rationalization in this study is to maintain lawang station but move telebuk to b station, selowongko to c station, and tutur station to d station. 4. conclusion based on the evaluation of the existing rainfall station network in the welang watershed, only the lawang rainfall station that suitable for the wmo standard. therefore, the rationalization of rainfall stations is carried out using the kagan-rodda method. the results of the kagan-rodda rationalization with rainfall ground data and the chirps satellite data selected four stations with an average error (z1) and an interpolation error (z3) are below 10%. the recommendations for the selected rainfall stations are to keep lawang station, move telebuk station to b station, selowongko station to c station, and tutur station to d station. the recommendations for the selected rainfall stations show that the influence area of each rainfall station follows wmo standards and gets an even distribution. the results of this recommendation are expected to be considered by the relevant institutes to move the location of the rainfall station to get more accurate rainfall data. 156 157 issn (online) 2581-2157 s. a. haromain / u karst vol 06 no 02 year 2022 issn (print) 2502-9304 rationalization of rainfall station network in welang watershed using kagan-rodda method http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2 references [1] f. y. pramono, suripin, suharyanto, and w. sulistya, “rationalization of rain stations in the ciliwung cisadane river basin,” int. j. eng. res. technol., vol. 12, no. 12, pp. 2957– 2963, 2019. [2] c. y. liu, p. aryastana, g. r. liu, and w. r. huang, “assessment of satellite precipitation product estimates over bali island,” atmos. res., vol. 244, no. january, p. 105032, 2020, doi: 10.1016/j.atmosres.2020.105032. [3] h. li, w. wang, j. fu, z. chen, z. ning, and y. liu, “quantifying the relative contribution of climate variability and human activities impacts on baseflow dynamics in the tarim river basin, northwest china,” j. hydrol. reg. stud., vol. 36, no. may, p. 100853, 2021, doi: 10.1016/j.ejrh.2021.100853. [4] m. musie, s. sen, and p. srivastava, “comparison and evaluation of gridded precipitation datasets for streamflow simulation in data scarce watersheds of ethiopia,” j. hydrol., vol. 579, no. august, p. 124168, 2019, doi: 10.1016/j.jhydrol.2019.124168. [5] f. ayu, r. shiami, and u. lasminto, “rationalization of hydrology station network using rainfall ground and satellite data,” int. res. j. adv. eng. sci., vol. 4, no. 3, pp. 225–229, 2019, doi: 10.5281/zenodo.3365590. [6] m. ghosh, j. singh, s. sekharan, s. ghosh, p. e. zope, and s. karmakar, “rationalization of automatic weather stations network over a coastal urban catchment: a multivariate approach,” atmos. res., vol. 254, no. february, p. 105511, 2021, doi: 10.1016/j.atmosres.2021.105511. [7] v. varekar, v. yadav, and s. karmakar, “rationalization of water quality monitoring locations under spatiotemporal heterogeneity of diffuse pollution using seasonal export coefficient,” j. environ. manage., vol. 277, no. august 2020, p. 111342, 2021, doi: 10.1016/j.jenvman.2020.111342. [8] t. a. j. g. sirisena, s. maskey, r. ranasinghe, and m. s. babel, “effects of different precipitation inputs on streamflow simulation in the irrawaddy river basin, myanmar,” j. hydrol. reg. stud., vol. 19, no. october, pp. 265–278, 2018, doi: 10.1016/j.ejrh.2018.10.005. [9] s. prakash, a. k. mitra, a. aghakouchak, z. liu, h. norouzi, and d. s. pai, “a preliminary assessment of gpm-based multi-satellite precipitation estimates over a monsoon dominated region,” j. hydrol., vol. 556, no. february 2014, pp. 865–876, 2018, doi: 10.1016/j.jhydrol.2016.01.029. [10] f. peng, s. zhao, c. chen, d. cong, y. wang, and h. ouyang, “evaluation and comparison of the precipitation detection ability of multiple satellite products in a typical agriculture area of china,” atmos. res., vol. 236, no. august 2019, p. 104814, 2020, doi: 10.1016/j.atmosres.2019.104814. [11] c. ocampo-marulanda, c. fernández-álvarez, w. l. cerón, t. canchala, y. carvajalescobar, and w. alfonso-morales, “a spatiotemporal assessment of the high-resolution chirps rainfall dataset in southwestern colombia using combined principal component analysis,” ain shams eng. j., vol. 13, no. 5, p. 101739, 2022, doi: 10.1016/j.asej.2022.101739. [12] z. shen et al., “recent global performance of the climate hazards group infrared precipitation (chirp) with stations (chirps),” j. hydrol., vol. 591, no. january, p. 125284, 2020, doi: 10.1016/j.jhydrol.2020.125284. [13] a. fadholi, r. adzani, u. gadjah mada, and s. meteorologi depati amir pangkalpinang, “analisis frekuensi curah hujan ekstrem kepulauan bangka belitung berbasis data climate hazards group infrared precipitation with station (chirps),” j. pendidik. geogr., vol. 18, no. 1, pp. 22–32, 2018. [14] a. faisol, indarto, e. novita, and budiyono, “komparasi antara climate hazards group infrared precipitation with stations (chirps) dan global precipitation measurement 157 – 157 u karst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 06 number 02 year 2022 issn (print) 2502-9304 rationalization of rainfall station network in welang watershed using kagan-rodda method http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v6i2 (gpm) dalam membangkitkan informasi curah hujan harian di provinsi jawa timur,” j. teknol. pertan. andalas, vol. 3, no. 2, pp. 148–156, 2020. [15] z. r. alfirman, l. m. limantara, and s. wahyuni, “rasionalisasi kerapatan pos hujan menggunakan metode kagan-rodda di sub das lesti,” j. tek. sipil, vol. 8, no. 2, pp. 153–164, 2019. [16] r. renaldhy, i. wayan yasa, and e. setiawan, “evaluasi rasionalisasi stasiun hujan metode kagan rodda dengan mempertimbangkan kriteria penentuan lokasi pembangunan stasiun hujan,” j. tek. pengair., vol. 12, no. 1, pp. 49–60, 2021, doi: 10.21776/ub.pengairan.2021.012.01.05. [17] e. prawati and v. dermawan, “rasionalisasi jaringan stasiun hujan menggunakan metode kagan rodda dengan memperhitungkan faktor topografi pada das sarokah kabupaten sumenep (pulau madura, jawa timur),” tapak, vol. 8, no. 1, pp. 79–90, 2018. [18] r. w. sayekti, s. wahyuni, m. bisri, m. j. ismoyo, and n. a. nathania, “mathematical model distribution of some water quality parameters in the reservoir,” civ. environ. sci. j., vol. 5, no. 1, pp. 64–77, 2022. [19] n. salsabila, l. m. limantara, and j. sidqi, “analisis curah hujan serial terhadap debit maksimum di sub das kampili, das jeneberang, sulawesi selatan,” j. teknol. dan rekayasa sumber air, vol. 1, no. 2, pp. 736–749, 2021. [20] m. h. le, v. lakshmi, j. bolten, and d. du bui, “adequacy of satellite-derived precipitation estimate for hydrological modeling in vietnam basins,” j. hydrol., vol. 586, no. november 2019, p. 124820, 2020, doi: 10.1016/j.jhydrol.2020.124820. [21] a. g. mengistu, t. a. woldesenbet, and y. d. taddele, “evaluation of observed and satellite-based climate products for hydrological simulation in data-scarce baro -akob river basin, ethiopia,” ecohydrol. hydrobiol., vol. 22, no. 2, pp. 234–245, 2022, doi: 10.1016/j.ecohyd.2021.11.006. [22] s. wahyuni, d. sisinggih, and i. a. g. dewi, “validation of climate hazard group infrared precipitation with station (chirps) data in wonorejo reservoir, indonesia,” iop conf. ser. earth environ. sci., vol. 930, no. 1, 2021, doi: 10.1088/17551315/930/1/012042. [23] e. dzisofi amelia, s. wahyuni, and d. harisuseno, “evaluasi kesesuaian data satelit sebagai alternatif ketersediaan data evaporasi di waduk wonorejo compatibility evaluation satellite data as an alternative of evaporation data availability in wonorejo reservoir,” j. tek. pengair., vol. 2021, no. 2, pp. 127–138, 2021, [online]. available: https://doi.org/10.21776/ub.pengairan.2021.012.02.05. [24] world meteorological organization, guide to hydrological practices, vol. 56, no. 1. 2011. [25] i. w. astuti, e. suhartanto, and j. s. fidari, “rasionalisasi jaringan pos hujan dan pos duga air dengan metode stepwise dan standar wmo (world metrological organization) di das opak,” j. teknol. dan rekayasa …, vol. 2, no. 1, pp. 377–385, 2021, [online]. available: https://jtresda.ub.ac.id/index.php/jtresda/article/view/205. ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-0855 volume 5 number 2 (2021) issn (print) 2579-4620 repair performance landslide and slope using bore pile and ground anchor on cipali toll road km 103 article title [book antiqua, 14 pt, bold] repair performance landslide and slope using bore pile and ground anchor on cipali toll road km 103 a. akhmudiyanto 1*, p. p. rahardjo 2, r. karlinasari 3. 1*,2,3 civil engineering postgraduate parahyangan university, bandung. email: 1* akhmudiyanto123@gmail.com. article info abstract article history: article entry : 22-02-2021 article revised : 03-10-2021 article received : 26-11-2021 one of the causes of on-road collapse slopes is traffic load. slope failure by road loads usually occurs due to several factors such as soil type, rainfall, land use. this study aims to determine landslide and slope repair performance using bore pile and ground anchor on cipali toll road km 103. the research method used in this study is the finite element method. in this research, data collection, modeling parameter determination, slope stability analysis, slope reinforcement analysis, and reinforcement design were carried out with variations in bore pile and ground anchor dimensions. the software program used is a finite element program in the form of plaxis to analyze slope stability and estimate the slope failure area. the result of the study is that the r-value inter is 0.25 with a 1.0341 safety factor. best repair performance obtained from the addition of reinforcement with ground anchor 2 layer on bore pile 2 with a distance of 2 meters increased the safety factor to 1,913; borepile capacity calculation with the calculation of normal force and moment iteration, the largest occurs in the dpt (retaining wall) stage with a normal load of -37.9 and a moment force of -471.15 which is still able to be borne by bore pile 1. the result of this study is expected to be benchmark and repair material to improve slope stability at km 103 tol cipali. keywords : borepile, cipali toll road, ground anchor, landslides, slope repair. ieee style in citing this article: [1] k. trgala, m. pavelek, and r. wimmer, “energy performance of five different building envelope structures using a modified guarded hot box apparatus— comparative analysis,” energy build., 2019, doi: 10.1016/j.enbuild.2019.04.036 1. introduction the massive infrastructure development carried out by the government has changed the natural structure. infrastructure works include roads, bridges, dams, airports, residential docks, and basement excavations for buildings, all of these infrastructure works undergo excavation and stockpiling phases [1]. as a result of this work, the land will be found sloping due to differences in height. differences in length can cause a problem tendency. therefore it is necessary to calculate or analyze the stability of the slope against the forces involved [2]. slope stability analysis plays a very important role in civil construction planning. the available online at http://ojs.unik-kediri.ac.id/index.php/ukarst/index u karst http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v5i2 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 mailto:akhmudiyanto123@gmail.com ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 5 number 2 (2021) issn (print) 2502-9304 repair performance landslide and slope using bore pile and ground anchor on cipali toll road km 103 initial condition of the soil is not always by the desired plan. for example, because the slope is too high, it is necessary to reduce the slope or reduce the height of the land that needs to be stockpiled [3]. stability is essential in digging and storing soil, rocks, and minerals because it includes human (worker) safety, equipment safety, and even production issues.[4] the difficulty level of sloping land causes soil erosion which in terms of erosion control makes it different from the difficulty of flat land. the intensity of high rainfall can be predicted to cause steepness on the slopes[5]. the excavation and fill construction work that is carried out must follow the technical requirements by the sni geotechnical to avoid landslides. slope stability analysis is a crucial element in reducing lethal disasters and regular production disruptions [6]. the cipali toll road itself is a toll road that has a quite crucial role where it functions as a distribution route for goods and services across java to sumatra [7]. the situation is nonsplitting (natural), and the rocks are generally balanced in an upward force. non-destructive (natural) vertical, horizontal and high pressure is applied to soil and rocks [8]. all three play an important role in slope stability. one of the earth construction works is an effort to increase directional stability in various ways, such as geometric changes of slopes, monitoring of groundwater, and installing anchors [9]. a bored pile is a foundation with concrete elements with holes inserted through the holes in the drill. while ground anchor is a system for distributing tensile forces acting on bore pile polishes to soil layers or even supporting rocks. research conducted by winarto (2019) shows that strengthening the ground anchor is considered more effective in stopping the slope movement in cisomang. installation of the ground anchor can be said that the slope is declared stable. however, at km 103 cikopopalimanan toll road (cipali) has not been improved with the optimal use of bore pile and ground anchor. a landslide occurred at km 103 tol cikopo-palimanan (cipali) in the direction of jakarta due to the cibening river. the landslide occurred on the shoulder of the road with a length of about 30 meters and a depth of about 1 to 2 meters, located at km 103, which includes the subang area. precautions have been taken by installing piles in areas affected by landslides. however, the installed pile creates instability during soil collection, which causes fragmentation of the pile. some of the reviews that are done include reviewing images that come from design and implementation [8]. the sample is taken as a test on the results of construction and inspection of facilities and traffic management[11]. therefore, re-analysis is carried out to determine a more precise slope reinforcement. the bore pile structure and ground anchor need to be done modeling parameter determination, slope stability analysis, slope reinforcement 237 251 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 repair performance landslide and slope using bore pile and ground anchor on cipali toll road km 103 analysis, and reinforcement design. so that with the re-analysis and the known strengthening of slope more precisely, it can be used as a reference in the repair of landslides and slopes km 103 cikopo-palimanan toll road (cipali). 2. theoritical review 2.1 slope stability analysis of the stability of the slope is always related to the development of soil mechanics and rock usage in general [12]. the most common problems with long-term stability are soil stability and low soil bearing capacity. reliable analysis of maintenance and reinforcement downtime is required to reach the best solution for the above problems. overall, the main objective of slope stability analysis is to develop a safe and cost-effective construction plan[13]. the causes of slope failure should start by considering the fundamental requirements for slope stability, where the shear strength in the soil must be of a value greater than that required for equilibrium [14]. some of the main factors causing slope failure are described as follows: a. increased pore pressure a rise in water level in the soil and deteriorating seepage conditions result from heavy rainwater, which causes an increase in pore pressure and a decrease in effective pressure on the associated slopes where all soil types are affected.[15]. b. increased shear stress the increase in shear stress is the resistance force done by the grains of soil against collapses and shifts that occur due to the burden he was experiencing. in particular, in geotechnical fields for soil strength is usually shown in the shear strength [16]. c. increase the load above the slope if the soil at the top of the slope is loaded, the shear stress required for slope balance will increase. d. water pressure in cracks on top of slopes if there is a crack at the top of the slope that is sliced with water (or partially filled), the hydrostatic pressure of the water in the gap in the soil in the slope will increase with increasing shear stress.[17]. if the crack remains filled with water for long enough, the slope will deteriorate. 238 251 issn (online) 2581-2157 akhmudiyanto / ukarst vol.5, no.2 (2021) issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 5 number 2 (2021) issn (print) 2502-9304 repair performance landslide and slope using bore pile and ground anchor on cipali toll road km 103 2.2 types of slope landslide the shape of the slip plane that is common and often encountered is the shape gel plane that approximates the shape of a circular arc. earthquake damage can consist of various mechanisms and triggers [18]. these can be classified based on the type of landslide, type of material, development or age of the soil. the types of landslides can be divided into translational landslides and rotational landslides [19]. 2.3 bored pile it is a foundation with concrete elements with holes inserted through the holes in the drill. heavy loads on the soil will be placed on slopes with stronger soil or rock components through the concrete foundation [20]. the drilling process is carried out with low-frequency vibrations to carry out the construction process[17]. other ways that can be used to strengthen the foundation include protecting the building to stabilize the slope. 2.4 ground anchor ground anchor is a system for distributing tensile forces acting on bore pile polishes to soil layers or even supporting rocks [21]. this anchoring system consists of a fixed length, free length, and anchor head component. the anchoring system can be broken into a temporary ground anchor with a service life of ≤ 2 years and a permanent ground anchor with a service life of> 2 years [22]. sources : grant surya multi sarana (2020) figure 1. ground anchor 239 251 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 repair performance landslide and slope using bore pile and ground anchor on cipali toll road km 103 3. research method this study is a recalculation of the landslides that occurred at the cipali toll road at km 103. landslide repair has been carried out by installing 50 cm diameter piles. within a few months, it turned out that these piles were not able to withstand the continuous landslide loads due to truck and car loads as well as due to heavy rain, so that the piles with bored piles had a larger diameter with the aim of being able to withstand the landslide force [23]. 1. data collection the data collected in this study is secondary data obtained from geotechnical consultants pt. gec includes 2-point drill data and 3 dcpt (sondir). drilling is placed on the road body and on-road slopes where landslides have occurred. 2. determination of modeling parameters at this stage, the standard penetration test (spt) is carried out. soil parameter correlation from dcpt (sondir) data and soil parameter correlation based on laboratory results. 3. slope stability analysis method the method used in the analysis of slope stability with circle collapse. in slope stability analysis using finite element method to count and analyze the soil and slope reinforcement. to prevent landslides for all types of soil can be done in several ways [24]. stability analysis is carried out by taking into account the slope geometry model and the correlation of soil parameters as well as soil data in the form of borehole data, cone penetration test data (cpt), and cone penetration test with pore pressure (cptu) 4. slope reinforcement analysis slope reinforcement analysis includes slope stability analysis, bore pile detection analysis, and ground anchor capacity analysis. 5. reinforcement design at the reinforcement design stage, the bored pile and ground anchor design will be carried out. this bore pile pole is placed at 2 locations, the first location in the middle of the landslide field and the second on the shoulder of the road. this is done to allow the planted pole to stick firmly and not move or break [25]. the poles installed on the shoulder of the road will experience direct pressure from the shoulder of the road, consisting of asphalt material that is expected to minimize landslides in the future. the second row of the bore pile or on the road's shoulder will be reinforced with earth retaining wall whose construction is on top of bore pile poles. this retaining wall (dpt) functions to hold soil particles from breaking through the bore 240 251 issn (online) 2581-2157 akhmudiyanto / ukarst vol.5, no.2 (2021) issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 5 number 2 (2021) issn (print) 2502-9304 repair performance landslide and slope using bore pile and ground anchor on cipali toll road km 103 pile when the bottom of the slope is a landslide [26] [27]. there was a collapse after the local area was showered with high rainfall for 4 consecutive days. geotechnical condition meanwhile, the geotechnical condition is defined as a description of the soil condition in the area around the study obtained from the investigation results [28]. the purpose of finding out the geotechnical conditions is to facilitate the supporting elements for implementing the next stage that must be carried out. field and laboratory test results yield plant data. geotechnical conditions on the output slopes can be seen from boring logs and cpt (sondir) tests [29]. the result of boring long produce soil data with 2 log drill points and 3 sondir points, related to stability analysis and slope improvement, the focus is given covering 2 drill points as well as 1, 2 and 3 sondir points, the data is taken on the shoulder of the roa d in the middle of the plane landslides and in the leg of the landslide field. boring log data at points bh -a and bh -b is shown in the following. sources : gec (2020) figure 2. longitudinal section of the soil layer in the bh-a and bh-b borlogs soil data obtained at the landslide location based on bore log data at bh-a is divided into 3 layers with varying depths for each layer, namely: the top layer is silty clay with a depth of 0-8 m, the next layer on the road is a layer of silty sand depth of 8-13 m, the next layer is a layer of sand depth to 13-20 end of drilling. in the case of landslides on the cipali toll road km 103, analyzing soil stability is the reinforcement method with a bore pile structure and ground anchor. in slope stability analysis using finite element method. slope stability analysis begins 241 251 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 repair performance landslide and slope using bore pile and ground anchor on cipali toll road km 103 by knowing how the conditions of slope stability and reinforcement have been carried out, the condition of the cibening river flow. the next stage is the evaluation of traffic diversion, placement of work tools, and evaluation of data resulting from land investigations [30]. after the visual observation is done, the next analysis is the slope stability analysis method to find out the value of the safety factor on the slope and an estimate of the slope failure area. the software program used is a finite element program in the form of plaxis. the slope protection or strengthening system, the observation system on slope conditions, the management results that are thought to cause problems, and several other recommendations that are deemed necessary can be used as a reference for the analysis results. some of the steps that can be taken in slope stability analysis include qualification of the design, review of stability and deformation, results of structural strengthening studies. 4. result and discussion 4.1 slope stability analysis method in determining the r interface, using the back analysis method is one of the calculation methods to find the value of the soil parameter when the slope reaches its critical value, that is when the safety factor gets 1.0. the parameters used for the plaxis program are mohr coulomb's design type. the results of the calculation of slopes using this method, the r interface value is = 0.250 with a safety factor of 1.0647. from this analysis, it has been obtained that the safety factor that meets the requirements to determine the value of shea r strength and residual phi angle, from the back analysis calculation results obtained a safety factor of 1.0341. the value of the safety factor or safety factor will produce analysis results in the form of slope reinforcement and slope reinforcement methods if using a 2-row bore pile and ground anchor2 layer, it meets the sf> 1.5 requirements. in general, the safety element of a slope compares to the value of the average displacement stability of soil and rock along the failure area, which is considered critical to the load obtained by the slope along the collapsed area. some essential things that must be considered when determining criteria for safety factors are the amount of risk to be obtained, the conditions at the load and the high parameters used when carrying out the analysis related to slope stability. 4.2 slope reinforcement analysis slope reinforcement has been carried out using dia 500 mm piles with a distance between the piles of approximately 1.5 m at the location midway through the landslide field. 242 251 issn (online) 2581-2157 akhmudiyanto / ukarst vol.5, no.2 (2021) issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 5 number 2 (2021) issn (print) 2502-9304 repair performance landslide and slope using bore pile and ground anchor on cipali toll road km 103 sources : gec (2020) figure 3. soldier pile position this soldier pile pole is tied using a capping beam. a few days after the soldier pile work was finished, cracks arose on the shoulder of the road as shown in figure 3. this means there is movement on the shoulder of the road. this movement indicates that the pile is unable to withstand horizontal forces. so, it is necessary to make temporary strengthening. a sheet pile is installed temporarily on the shoulder of the road. the installation is intended to reduce the soil load behind the soldier pile. sources : gec (2020) figure 4. crack position from the above incident that the soldier using a diameter 50 stake is not able to withstand landslides. it is necessary to make a design that can withstand landslides. a stronger design using a bore pile with a diameter of 880 mm is installed in 2 rows, namely the shoulder of the road and the middle of the landslide area. the design plan is as shown in figure 5. 243 251 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 repair performance landslide and slope using bore pile and ground anchor on cipali toll road km 103 sources : gec (2020) figure 5. slope reinforcement plan with 2 borepile lines from the slope reinforcement plan, a calculation analysis is carried out with a 2 d plaxis. the soldier pile pole is tied using a caping beam. construction with these piles failed, so it needed to be redesigned. to prevent this from happening again, it is planned to have a bore pile and anchor structure with a borepile dimension of 880 with two rows in the middle of the landslide field. below the shoulder of the landslide plane, the bore pile under the road's shoulder will be installed, a 2-layer ground anchor. additional reinforcement was done by adding mini piles and gabions and embankments behind the gabions to reduce the angle of inclination of the soil under the shoulder of the road. the reinforcement parameters are shown in table 1. table 1. reinforcement parameters added to the landslide area no description borepile 1 borepile 2 retaining wall mini stake gabions ground anchor geogrid 1 diameter (mm) 880 880 0,69 0,20 0,2 2 space (m) 1,0 2,0 1 3 2 2 3 area (a) m2 0,785 0,785 0,69 0,04 0,0314 0,000633 0 4 concrete quality fc, 33 33 33 37 33 5 modulus elt e kn/m2 26,999,00 0 26,999,000 26,999,00 0 28.588.98 3,8 2,100,00 0 195,000,0 00 195,000,0 00 6 γsoil (kn/m 3) 16,5 16,5 16,5 16,5 16,5 16,5 7 γconcrete(kn/m 3) 24 24 24 24 25 24 8 type material elastic elastic elastic elatic elastic 9 inersia (m4) 0,04908 0,04908 0.0273 0.003255 10 ea (kn/m) 5,806 e06 9,676 e06 1,158 e06 1,158,565 7,723,770 11 ei (kn/m2/m) 2,810e5 4,683 e05 736,118 6,034 12 d (m) 0,762 0,762 0,69 0,25 13 w kn/m 2,073 3,455 5,520 0,333 14 poisson's number 0,15 0,15 0,15 0,15 0,2 15 bore length (m) 14 20 6 source : author’s calculation data (2020) 244 251 issn (online) 2581-2157 akhmudiyanto / ukarst vol.5, no.2 (2021) issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 5 number 2 (2021) issn (print) 2502-9304 repair performance landslide and slope using bore pile and ground anchor on cipali toll road km 103 borepile capacity to the ability of concrete and steel materials is calculated using the pca column program. the data inputted for bore pile calculations are as follows: table 2. input data for the pca column program no. description score unit 1 borepile diameter 880 mm 2 borepile iron diameter 16d32 3 concrete strength fc ' 33 mpa 4 elasticity of concrete ec 26,999 mpa 5 pull the iron fy 390 mpa 6 elasticity steel ice 200000 mpa sources : author’s calculation data (2020) the results of the largest normal force iteration calculation at the dpt work stage the force borne by bore pile 1 is the normal force -37.9 kn, and the moment bore pile bp1 at this stage is -471.15 knm, resulting in an iteration of the force still in the area of the iteration capacity of the bore pile 1. so that bore pile 1 can withstand the greatest moment and normal loads in all stages of the analysis. 4.3 reinforcement design due to the embankment behind the wall, the safety factor decreases. it is necessary to increase the ground anchor. this ground anchor is placed on the pile placed on the head of the pile, or capping beam. the force arising from the addition of a ground anchor causes additional safety factors, reducing deflection in the bore pile. sources : author’s calculation data (2020) figure 6. reinforcement of slopes with ground anchor figure 6 shows that the addition of this ground anchor causes a change in the force on the borpile, retaining wall, and mini piles. slope reinforcement with 2 bore pile piles and ground anchor resulted in a safety factor of 1.913. the slope with the safety factor is considered safe deformed mesh element extreme total displacement 4,83 meters (displacement on the real scale) 245 251 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 repair performance landslide and slope using bore pile and ground anchor on cipali toll road km 103 (sf ≥ 1.5). the outputs reviewed are the magnitude of the axial force, extreme, extreme shear force, extreme bending moment force, and horizontal deformation acting on bore piles bp2, retaining walls, and mini piles. figure 7 becomes a presentation in the slope stability obtained conditions after the calculation process has ended. the addition of this ground anchor causes changes in the force on the borpile, soil retaining wall, and mini stakes. the changes are shown below. sources : author’s calculation data (2020) figure 7. force on bp1 due to strengthening of the ground anchor. in calculating the tensile capacity of the ground anchor, it is different from calculating the moment capacity and normal force on the bore pile. the moment capacity in the bore pile is determined by the concrete's quality and the amount of reinforcement used. concrete and iron are homogeneous materials, and quality can be controlled so that the moment capacity, normal force, and shear capacity can be calculated with certainty. while the tensile capacity of the ground anchor is determined by the friction resistance between the soil and the grout in the bond length section. the plaxis (figures in below) calculation results obtained the total ground anchor tensile force : 1) layer 1 = 501,8 kn < 898,0 kn … (save) & 2) layer 2 = 333,47 kn < 805,4 kn …. save the next step is to compare the results of the analysis to the inclinometer measurements. inclino meters for the landslide project on the cipali 103 toll road were installed at 4 locations. the first and second on the phase 1 bore pile, namely inclino 1 and inclino 2, while the inclino 3 and inclino 4 are placed on the phase 2 bore pile. the locations of the inclinometer readings and plaxis calculations are presented in the following figure: axial style extreme axial force 49.81 kn/m (displacement on the real scale) sliding style extreme shear force 432.36 kn/m bending moment extreme bending moment -1.05 x 103 knm/m horizontal displacement (ux) extreme value ux 539x10-3 m 246 251 issn (online) 2581-2157 akhmudiyanto / ukarst vol.5, no.2 (2021) issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 5 number 2 (2021) issn (print) 2502-9304 repair performance landslide and slope using bore pile and ground anchor on cipali toll road km 103 sources : author’s calculation data (2020) figure 8. monitoring inclinometer and 2d displacement from the image of the inclino, the actual field measurements on the bp1 bore pile (borepile phase 1) have a maximum displacement of 5.41 mm. the results of calculations with plaxis 8.6 on bore pile bp1 of a maximum of 130 mm, after being pulled with the ground anchor the displacement is 119 mm. this value is still more significant than the actual field on borepile1. in actual field measurements on bore pile 2 the results of the inclinometer displacement are 33.23 mm. from the results of calculations with plaxis 8.6 the displacement value is 128 mm after the ground anchor is pulled, the displacement becomes 47.3 mm. the displacement value with this plaxis calculation is still more significant than the actual measurement results in the field. sources : author’s calculation data (2020) figure 9. monitoring inclinometer and 3d displacement monitoring inclinometer and 2d displacement time (day) d is p la ce m e n t (m m ) monitoring inclinometer and 2d displacement time (day) d is p la ce m e n t (m m ) 247 251 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 repair performance landslide and slope using bore pile and ground anchor on cipali toll road km 103 from the image of the actual inclino field measurements on the bp1 bore pile (borepile phase 1), the maximum displacement is 5.96 mm. the results of calculations with plaxis 3d on bore pile bp1 of a maximum of 48 mm, after being pulled with the ground anchor the displacement is 46 mm. this value is still more significant than the actual field on borepile1. in actual field measurements on bore pile 2 the result of the inclinometer displacement is 33.39 mm. from the results of calculations with plaxis 3d, the displacement value is 23 mm after the ground anchor is pulled. the displacement becomes 21 mm. the displacement value with this plaxis calculation is still more significant than the actual measurement results in the field. compared with measures with plaxis 2d, estimates with plaxis 3d are close to the actual results in the area. 5. conclusion and suggestion 5.1 conclusion the results of the analysis and discussion carried out on the planning to improve slope stability at km 103 tol cipali, the following conclusions can be drawn: 1. the slope stability results show that the r interface value is = 0.250 with a safety factor of 1.0647. from this analysis, it has been obtained that the safety factor that meets the requirements to determine the value of shear strength and residual phi angle, from the back analysis calculation results obtained a safety factor of 1.0341. the value of the safety factor or safety factor will produce analysis results in the form of slope reinforcement and slope reinforcement methods if using a 2-row bore pile and ground anchor2 layer, it meets the sf> 1.5 requirements. 2. the slope reinforcement analysis shows that the result of the interface calculation is that the value of r inter: 0.25 with a safety factor of 1.0341. 3. based on the results of the reinforcement design, it shows that safety highest obtained from the addition of reinforcement with ground anchor 2 layer on bore pile 2 with a distance of 2 meters increased the safety factor to 1,913; 248 251 issn (online) 2581-2157 akhmudiyanto / ukarst vol.5, no.2 (2021) issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 5 number 2 (2021) issn (print) 2502-9304 repair performance landslide and slope using bore pile and ground anchor on cipali toll road km 103 references [1] k. trgala, m. pavelek, and r. wimmer, “energy performance of five different building envelope structures using a modified guarded hot box apparatus—comparative analysis,” energy build., 2019, doi: 10.1016/j.enbuild.2019.04.036. [2] d. p. wulandari, “perencanaan pondasi tiang bor (bore pile) pada proyek pembangunan gedung rawat inap rsud dr. m. yunus kota bengkulu,” university of muhammadiyah malang, 2019. [3] y. a. n. wei-dong, “application of drilling (wash) bore pile and rotary jet grouting pile technology to support project of pumping station deep pit [j],” china water & wastewater, vol. 16, 2008. [4] y. sheng, z. miao, j. zhang, x. lin, and h. ma, “energy consumption model and energy benchmarks of five-star hotels in china,” energy build., 2018, doi: 10.1016/j.enbuild.2018.01.031. [5] h. wahyudiono and s. anam, “perencanaan pondasi bore pile pada proyek jembatan ngujang ii kab.tulungagung,” ukarst, 2018, doi: 10.30737/ukarst.v2i1.356. [6] c. sembiring, “analisis perbandingan biaya dan waktu pelaksanaan pondasi spun pile dengan bore pile pada proyek masjid agung,” universitas medan area. [7] p. deye, n., vincent, f., michel, p., ehrmann, s., da silva, d. et al., “understanding knowledge and attitudes about breast cancer and its treatment in ethiopia,” ann. glob. heal., 2015. [8] z. guo, w. li, s. yin, d. yang, and z. ma, “an innovative technology for monitoring the distribution of abutment stress in longwall mining,” energies, 2021, doi: 10.3390/en14020475. [9] p. paduloh and h. hardi purba, “analysis of productivity based on kpi case study automotive paint industry,” j. eng. manag. ind. syst., vol. 8, no. 1, pp. 1–12, 2020, doi: 10.21776/ub.jemis.2020.008.01.1. [10] n. g. winarto, “analysis of ground anchor utilization on cisomang bridge revitalization project,” no. april, pp. 73–78, 2019. [11] r. h. karsaman, “audit keselamatan jalan tol di indonesia (studi kasus jalan tol cikampek padalarang/cipularang),” j. tek. sipil itb, vol. 14, no. 3, 2007. 249 251 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 repair performance landslide and slope using bore pile and ground anchor on cipali toll road km 103 [12] c. becchio, d. g. ferrando, e. fregonara, n. milani, c. quercia, and v. serra, “the cost-optimal methodology for the energy retrofit of an ex-industrial building located in northern italy,” energy build., 2016, doi: 10.1016/j.enbuild.2016.05.093. [13] s. adi, i. saputra, and y. m. h. adha, “analisis stabilitas lereng dengan perkuatan dinding penahan tanah kantilever dan geotekstil pada ruas jalan lintas liwa – simpang gunung kemala km. 268+550,” j. ilm. fak. tek. univ. lampung, 2017. [14] d. kolokotsa et al., “development of a web based energy management system for university campuses: the camp-it platform,” energy build., 2016, doi: 10.1016/j.enbuild.2016.04.038. [15] v. m. nik, e. mata, a. sasic kalagasidis, and j. l. scartezzini, “effective and robust energy retrofitting measures for future climatic conditions reduced heating demand of swedish households,” energy build., 2016, doi: 10.1016/j.enbuild.2016.03.044. [16] l. sun, s. chandra, and p. sucosky, “ex vivo evidence for the contribution of hemodynamic shear stress abnormalities to the early pathogenesis of calcific bicuspid aortic valve disease,” plos one, 2012, doi: 10.1371/journal.pone.0048843. [17] a. saptowati, h., wahono, t., & bagas, “influence of blankets bore pile on soil characteristics irradiator gamma merah putih of serpong,” j. phys. conf. ser., vol. 1436, no. 1, p. 012043, 2020. [18] z. yang, s. zhou, j. zu, and d. inman, “high-performance piezoelectric energy harvesters and their applications,” joule. 2018, doi: 10.1016/j.joule.2018.03.011. [19] a. m. youssef, h. r. pourghasemi, z. s. pourtaghi, and m. m. al-katheeri, “landslide susceptibility mapping using random forest, boosted regression tree, classification and regression tree, and general linear models and comparison of their performance at wadi tayyah basin, asir region, saudi arabia,” landslides, 2016, doi: 10.1007/s10346-0150614-1. [20] f. tan, y. y. jiao, h. wang, y. liu, h. nan tian, and y. cheng, “reclamation and reuse of abandoned quarry: a case study of ice world & water park in changsha,” tunn. undergr. sp. technol., 2019, doi: 10.1016/j.tust.2018.12.009. [21] r. j. jardine, “geotechnics, energy and climate change: the 56th rankine lecture,” geotechnique, 2020, doi: 10.1680/jgeot.18.rl.001. [22] y. wang, x. sun, and a. ren, “investigations of rock anchor corrosion and its influence factors by exhumations in four typical field sites,” eng. fail. anal., 2019, doi: 10.1016/j.engfailanal.2019.03.022. 250 251 issn (online) 2581-2157 akhmudiyanto / ukarst vol.5, no.2 (2021) issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 5 number 2 (2021) issn (print) 2502-9304 repair performance landslide and slope using bore pile and ground anchor on cipali toll road km 103 [23] d. c. denkenberger and r. w. blair, “interventions that may prevent or mollify supervolcanic eruptions,” futures, 2018, doi: 10.1016/j.futures.2018.01.002. [24] s. p. pradhan and t. siddique, “stability assessment of landslide-prone road cut rock slopes in himalayan terrain: a finite element method based approach,” j. rock mech. geotech. eng., 2020, doi: 10.1016/j.jrmge.2018.12.018. [25] m. eid, a. hefny, t. sorour, and y. zagh, “full-scale well instrumented large diameter bored pile load test in multi layered soil: a case study of damietta port new grain silos project,” int. j. curr. eng. technol., 2018, doi: 10.14741/ijcet.v8i01.10895. [26] m. g. winter et al., “design and construction considerations,” in geological society engineering geology special publication, 2017. [27] h. suprayitno and r. a. aryani soemitro, “preliminary reflexion on basic principle of infrastructure asset management,” j. manejemen aset infrastruktur fasilitas, 2018, doi: 10.12962/j26151847.v2i1.3763. [28] b. pasierb, m. grodecki, and r. gwóźdź, “geophysical and geotechnical approach to a landslide stability assessment: a case study,” acta geophys., 2019, doi: 10.1007/s11600019-00338-7. [29] r. shirani faradonbeh, a. taheri, l. ribeiro e sousa, and m. karakus, “rockburst assessment in deep geotechnical conditions using true-triaxial tests and data-driven approaches,” int. j. rock mech. min. sci., 2020, doi: 10.1016/j.ijrmms.2020.104279. [30] e. a. chiaradia, c. vergani, and g. b. bischetti, “evaluation of the effects of three european forest types on slope stability by field and probabilistic analyses and their implications for forest management,” for. ecol. manage., 2016, doi: 10.1016/j.foreco.2016.03.050. 251 251 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-0855 volume 5 number 1, (2021). issn (print) 2579-4620 risk assessment of feasibility study for toll road x y with public private partnership (ppp) scheme judul artikel [book antiqua, 14 pt, bold] risk assessment of feasibility study for toll road x y with public private partnership (ppp) scheme h. t. tjendani 1*, r. marleno 2, hendry 3, i. subiyantoro 4. 3 civil engineering, faculty of civil engineering, university of 17 agustus 1945 surabaya. email : 1* hanie_tekitjendani@yahoo.com a r t i c l e i n f o a b s t r a c t article history : article entry : 16-02-2021 article revised : 10-03-2021 article received : 17-03-2021 the ppp scheme is carried out in indonesia to procure public infrastructure but is constrained by the government's limited funds. risk assessment is very important for investors to do to find out the uncertainty that can occur in investing their funds in infrastructure. this study aims to assess the risk of feasibility on the x y toll road, where the location is part of the east java province economic development acceleration program by president regulation number 80 of 2019. the assessment carried out includes risk analysis in the pre-construction, construction, and post-construction stage. the data used are primary data and secondary data. from the assessment results, it was found that most of the assessment points were categorized as medium risk, and there was a little high risk. still, this project is very profitable because it will be able to synergize with the previously planned infrastructure. the x-y toll road is still possible by paying attention to risk factors and complying with risk mitigation efforts. the toll road procurement scheme with public-private partnership (ppp) already has a robust legal rule and has been guaranteed in terms of security, and this scheme is very potential to be implemented. keywords : infrastructure, public private partnership, risk assessment, risk sharing, toll road. ieee style in citing this article: [4] s. susanto, hendy, sumargono, b. winarno, a. i. candra, "measurement of occupational safety and health risk levels of kadiri university lp3m building" ukarst vol. 4, no. 2, (2020) 1. introduction toll road development is expected to provide benefits, including regional development and economic improvement increasing mobility and accessibility of people and goods, saving on vehicle operating costs, and business entities getting investment returns through toll revenues depending on the toll road capacity. however, the development of toll road infrastructure in indonesia is very slow compared to other countries such as china, japan, south available online at http://ojs.unik-kediri.ac.id/index.php/ukarst/index u karst 1*,2,4 master of civil engineering, faculty of engineering, university of 17 agustus 1945 surabaya. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v5i1 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 mailto:hanie_tekitjendani@yahoo.com ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 5 number 1, (2021). issn (print) 2579-4620` risk assessment of feasibility study for toll road x y with public private partnership (ppp) scheme korea, and malaysia. providing very expensive land is often an obstacle in the construction of this toll road because the residents are not willing to negotiate. from 1978 2004, all land and infrastructure costs were financed by the government in its history. from 2004 until now, the private sector's role has been urgently needed in the development of public infrastructure [1]. regulation of the president republic of indonesia number 38 of 2015 concerning public-private partnership in the provision of infrastructure establishes through the consideration that the existence of suitable and sustainable infrastructure is urgent to support the implementation of national development in order to improve the national economy, the prosperity of society, and improve indonesia's competitiveness in global competition[2]. towards accelerating infrastructure development, it is necessary to take comprehensive steps to create an investment atmosphere to encourage business entities' participation in the provision of infrastructure and services based on business principles to encourage and enhance collaboration between the government and business entities in the provision of infrastructure. so, it is necessary to regulate and protect the interests of consumers, communities, and business entities in a fair manner. the regulation that the ppp preparation study includes pre-feasibility study activities including preparation of the preliminary feasibility study, consisting of: legal and institutional studies; technical studies; economic and commercial studies; environmental and social studies; study of forms of cooperation in infrastructure provision; risk assessment; assessment of the need for government support and/or government guarantee; and studies on things that need to be followed up[2]. the plan to develop several toll road sections in east java with the public-private partnership (ppp) scheme is part of the east java province economic development acceleration program in accordance with presidential regulation 80 of 2019, regarding the acceleration of economic development in the gresik-bangkalan-mojokerto-surabaya-sidoarjo-lamongan areas, bromo-tengger-semeru areas as well as selingkar wilis and lintas selatan. to support and provide added value to the regional development as previously mentioned, the development of the ijen circular area and the madura and archipelago area was also carried out. this risk assessment is part of the pre-feasibility study for the x-y toll roads project in the east java region, which will be carried out under the ppp scheme[3]. the investment will always involve risks at a certain scale in the context of construction management. these risks can impact the failure to achieve the objectives (project objectives), such as budget costs and implementation time so that a risk analysis is necessary. as an example of the pekanbaru-dumai toll road project, the most sensitive risk factors for toll road construction are land availability, 143 157 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 risk assessment of feasibility study for toll road x y with public private partnership (ppp) scheme compensation processes, community refusal, the number of land brokers, and unsustainable funding sources that risk mitigation can be focused on these five parameters[4]. 2. literature review risk is an uncertain condition or event that has a positive or negative effect on the project objectives if it occurs. a risk has a cause, and if that risk occurs, there are consequences. if what happens is an uncertain event, then the impact will be on the project's cost, schedule, and quality. meanwhile, risk management is an art and science in identifying, analyzing, and responding to risk factors that exist during the implementation of a project [5] project risk management is a systematic process for planning, identifying, analyzing, planning risk response, monitoring, and risk control. project risk management aims to increase knowledge about the probability of positive events and reduce the likelihood & impact of negative case records in the project. each project has a diverse risk identification and risk response to minimize the impact of the risks. risks can have an indirect impact on the project implementation schedule. risk categories in construction projects are external risk, economic & financial risk, technical & contract risk, and managerial risk. it is important to identify risks correctly and allocate these risks into agreement/contract effectively [6]. risk leads to the uncertainty of an event’s occurrence during a specific period that causes losses, be it small or significant losses, which affect the profitability of a company[7]. the appropriate risk management must apply the possibilities in the future and be proactive rather than reactive. in this case, risk management reduces the likelihood of risk and the impact of the risks. the stages of risk management presented in an overview of figure 1 below : figure 1. project risk management overview source : pmi, 2013 project risk management overview 1.plan risk management 2. identify risk 5. plan risk responses 6. control risk 4. perform quantitative risk analysis 3. perform qualitative risk analysis 144 157 issn (online) 2581-2157 hanie teki tjendani / ukarst vol. 5, no. 1 (2021) issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 5 number 1, (2021). issn (print) 2579-4620` risk assessment of feasibility study for toll road x y with public private partnership (ppp) scheme figure 1. explains the steps in project risk management with the following description [8]: 1) plan risk management is a process of defining risk management activities for a project; 2) identify risks is the process of determining the risks that can affect the project and noting the characteristics of each risk; 3) perform qualitative risk analysis is the process of prioritizing risks for further analysis or action by assessing and combining the likelihood of risk impacts occurring; 4) perform quantitative risk analysis is a numerical process of analyzing the effect of identified risks on the overall project objectives; 5) plan risk responses is the process of developing options and actions to increase opportunities and reduce threats to project objectives; 6) control risk is the process of implementing a risk response plan, tracking identified risks, monitoring residual risks, identifying new risks, and evaluating the effectiveness of risk processes throughout the project. 2.1 risk transfer risk transfer is a shift in some or all of the threats/hazards, negative impacts, and consequences to third parties. transfer of risk only assigns management responsibility to another party without eliminating the responsibility itself. transfer of risk almost always involves the payment of a risk premium to the party taking the risk. transfers can be very diverse and include (but are not limited) to use of insurance, performance bonds, guarantees, and others. a contract can be used to transfer responsibility for certain risks to other parties [9]. a risk-sharing and transfer mechanism has been tried as a pilot project and is widely using in mega construction projects. contractual relationships and integrated project organization are two methods commonly used to reduce risk across stakeholders and how the structure of alliance government in the construction sector can balance control and trust in dealing with risks empirically explored the effects of cooperative procurement on risk management in construction projects [10]. academics and practitioners are also encouraged to reflect more on "how to combine" different management systems to achieve successful cooperative risk management[11]. risk can also define as the implication of uncertainty that could potentially affect project objectives, either positively or negatively. the opposite of the hypothesis is that different stakeholders will prioritize different sources of risk[12]. toll roads are the infrastructure of construction projects that often involve many different roles with various features [13]. toll road projects require a more complex 145 157 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 risk assessment of feasibility study for toll road x y with public private partnership (ppp) scheme organizational structure that deals with some elements and risk management. general risk management elements in toll road projects can be a multi-layer relationship where there are multiple stakeholders in the toll road project, all with different objectives. there is a need to manage relationships among stakeholders effectively. the partnerships between stakeholders in a project are aligned to achieve the best results for all [14]. the risk of conflict and interaction related to human relations can use as a structure for project governance. understanding rationality and moral hazard must be well understood, predictable, and planned and good communication on risk-sharing [15]. risk management is cost, time, and safety in several cases in infrastructure development projects, including toll roads. there are delays and budget overruns due to unique circumstances[16], hidden transaction costs, or disputes between parties [17]. there is the involvement of many workers in toll road projects, environmental factors with heavy terrain, several heavy materials and equipment, complex construction operations, multiinterface, and complex management activities[18]. 2.2 risk management on the toll road project investors in toll road infrastructure always consider the following aspects: fairness, justice, economy, and the environment. the fairness aspect: the level of investment risk based on assumptions about normal conditions and general in the context and practice of business in indonesia, if it occurs outside the usual and capability of the parties involved to deal with it will be considered a force majeure event. the justice aspect: the risk assessment must consider the political, social, and economic conditions of the parties involved. risk assignment base on the principle that risk is assigned to the party best able to manage, control, and reduce the level of risk. the economic aspect: the estimated risk value must calculate in determining the feasibility of both a business economically and financially. the risk management effort must carry out by considering generally accepted economic instruments and following the existing laws and regulations. the environmental aspects: the neighborhood impact of the proposed activity/project must calculate as economic cost or surroundings cost of the project and not a business risk. the risks category into two types, namely: speculative risk, especially risks that, besides containing potential losses, the activities carried out also include potential benefits such as those who invest in the stock exchange; and, pure risk, this risk only has a probability loss as well as an accident risk [19]. through the indonesian infrastructure guarantee, the government is expected to assure investors that the investment capital for the x-y toll road will return. ppp is a form of risk 146 157 issn (online) 2581-2157 hanie teki tjendani / ukarst vol. 5, no. 1 (2021) issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 5 number 1, (2021). issn (print) 2579-4620` risk assessment of feasibility study for toll road x y with public private partnership (ppp) scheme response, specifically risk-sharing between the government and business entities (private sector)[20]. 2.2.1 toll road risk category & element in toll road investment, there are risk categories that must consider, specifically [21]: project performance risk consists of planning risk, especially the risk that occurs at the planning stage such as competition, namely the risk that other development alternatives provide more attractive options than the existing proposal, the risk of sudden change or relocation of a potential target location which results in a decrease in the feasibility of the project to be developed, the sponsors (investors) involved in the project fail to fulfill their obligations, the risk where a project that was initially thought to be feasible turns out to be unsatisfied with several assumptions so that it is not feasible and must be canceled. implementation risk, namely the risk that occurs during the implementation of work (development) such as cost escalation (cost overrun), namely the risk in which the agreed construction budget for project implementation is insufficient, causing additional costs during implementation. these additional costs may result from price increases, inadequate project design, delays, or other unexpected events. the risk that the estimated time to carry out the work is insufficient, resulting in delays. the project's risk fails to obtain permits, licenses, and government approvals according to the targets set so that the project can be implemented. licensing failure can be caused by various things such as inappropriate design, environmental impact, community refusal, and complicated licensing procedures. the risk that the technology used does not work as expected. this is due to the desire of certain parties to require cutting-edge technology whose reliability has not been tested. the risk that the resulting technical design is less than perfect so that it does not meet the required specifications. this risk can lead to delays, additional costs, decreased performance, increased operating costs, or reduced design life. an operational risk that occurs during operations such as operating costs that the budgeted operating costs are not sufficient, causing additional costs. this could result from increased costs being unclear, e.g management, project design errors, or other unforeseen reasons. the risk where the project operator fails to fulfill its obligations according to the agreed targets and conditions. operator performance failure can be in the form of failure to deliver technical services, strike, or failure in financing. the risk that the supply of project operation needs is not sufficiently available, does not meet specifications, or experiences price increases that affect the project's financial condition. the risks associated with the issue of licensing 147 -157 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 risk assessment of feasibility study for toll road x y with public private partnership (ppp) scheme renewal, license, or approval required for the activity to continue operating. the technology risk can occur as implementing the risk that the technology was chosen or used does not work as expected. the design risk, such as in the implementation stage this risk is caused by design imperfections which result in not being able to meet the expected performance, result in an increase in operating costs. the environmental risk, a risk arising from the impact of the project's existence on the environment both in the short and long term. this risk can be in the form of additional costs to restore environmental conditions or costs to construct additional facilities to compensate for existing environmental impacts. 2.2.3 policy risk analysis governance risks (including legal and regulatory risks) include political, laws and regulations, and foreign exchange. the political risk especially convertibility the risk due to political instability such as uncertainty in security guarantees, economic stability, and unc lear government policies. laws and regulations are the risks due to changes in laws and regulations such as changes in laws and regulations, including policies that can affect project feasibility. foreign exchange convertibility is the risk that local currency cannot be exchanged for foreign currency for debt payments, causing failure to fulfill payment obligations. the risk of force majeure consists of: natural disasters, specifically risk caused by natural disasters such as earthquakes, floods, volcanic eruptions, storms, etc. which has an impact on ongoing projects; political force majeure, namely the risk of political rebellion, can impact project operations and financial conditions. included in this category are risks resulting from war, rebellion, revolution, terrorism, mass strikes, public security disturbances, etc.[20] the risk element is part of a series of project implementation activities/activity plans that have potential cause risks. the grouping risk elements of the investment toll road divided into three stages consist of the pre-construction stage, the construction stage, and the postconstruction stage. from these stages, several events could potentially pose a risk. in general, the phase, definitions, and events can prepare as risk identification in toll road investment. 2.2.2 territory risk analysis physiologically and geographically, the east java region is generally grouped into three zones, namely: the southern zone (plateau), the middle zone (volcanoes), and the northern zone (folds). in the middle lies a series of volcanic mountains (19 mountains, mount kelud, mount bromo, and mount semeru). gunung kelud is included in the area of the kediri regency. 148 157 issn (online) 2581-2157 hanie teki tjendani / ukarst vol. 5, no. 1 (2021) issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 5 number 1, (2021). issn (print) 2579-4620` risk assessment of feasibility study for toll road x y with public private partnership (ppp) scheme in the southern part, there is a series of hills, namely from the southern coast of pacitan, trenggalek, tulungagung, blitar, to malang. the south cretaceous mountains are a continuation of the sewu mountains in yogyakarta. the two most important rivers in east java are the brantas river, which crosses kediri and bengawan solo's districts. in an area with a population density of up to 772 people per square km, many industries and mining (minerals, minerals, and oil and gas) are developed. of the 38 districts/cities in east java province, 30 of them are in the high-risk class. based on the threat, vulnerability and risk analysis for the hydrometeorological disaster management sector, the 2018 east java vulnerability assessment report can guide regional risk analysis[22]. 3. research method this research was done on toll road x-y with ppp scheme, one of the presiden republik indonesia regulation number locations. 80, 2019 concerning the acceleration of economic development the gresik-bangkalan-mojokerto-surabaya-sidoarjo-lamongan area, the bromo-tengger-semeru area, as well as the selingkar wilis and lintas selatan areas. this study uses primary data and secondary data. primary data as preliminary data carry out by distributing questionnaires to respondents to obtain the probability and impact of risks in the toll road planning in one of the toll road sections in east java. meanwhile, secondary data from several regulations in the ministry of public works, the center for research and development of transportation infrastructure, the regional development planning agency of east java province, and the journals, both national and international journals. the risk level analysis on the equation of investment risk factors, where the magnitude of the risk factors is a description of the level of investment risk that occurs. the risk factor equations defined as the multiplication of the impact magnitude and the risk event probability, which is calculated from the following equation, specifically[4]: fr = l + i – (l x i) with description: fr = risk factors, on a scale of 0 1 l = the probability of a risk event, i = magnitude of the impact risk in the form of increased costs. if the actual probability value not available, a typical risk event probability value can use for the risk analysis of toll road investment, as stated in the construction and building guidelines pd t-01-2005-b concerning the investment risk analysis of the department of public works 149 157 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 risk assessment of feasibility study for toll road x y with public private partnership (ppp) scheme toll road. meanwhile, to estimate the magnitude of the impact due to toll road investment risk, a typical value (default) can use as stated in the same construction and building guidelines. table 1. risk categorization risk factor value category handling step 20 12 it must do to reduce the risk become to the lower-level 20 40 15 corrective steps needed within a fixed period 30 60 20 remedial steps whenever possible sources : a. sandhiavitri et al, 2019 [4]. data processing for survey results to respondents in the form of probability and impact risks for toll road investment is carried out on a likert scale followed by calculating risk factors according to formula (1). after obtaining the risk factors, the risk category can be determined according to table 1. furthermore, the risk matrix shown in figure 1, can use graphically illustrate the existing risk category. sources : a. sandhiavitri et al, 2019 figure 2. matrix of risk categorization 4. results and discussions 4.1 risk probability and risk impact risk impact assessment is needed to assess the likelihood and consequences of risk events. this assessment is the beginning of the pre-construction process. the preliminary survey regarding the possibility and impact of risks on the x-y toll obtained the following results: medium risk high risk low risk medium risk low probability high probability high impact low impact 150 157 issn (online) 2581-2157 hanie teki tjendani / ukarst vol. 5, no. 1 (2021) issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 5 number 1, (2021). issn (print) 2579-4620` risk assessment of feasibility study for toll road x y with public private partnership (ppp) scheme table 2. probability average in preliminary survey and probability-based on pu research center guidelines [23] risk factor value probability average preliminary survey based on pd-t-01-2005 permit and licences tender process contract document study data used assumption taken design standard mis interpretation land acquisition availability of land compensation process public repudiation many brokerages investation sources of funding continuity of fund sources loan repayment period 0.275 0.256 0.432 0.453 0.524 0.458 0.398 0.337 0.326 0.681 0.395 0.714 0.452 0.685 0.250 0.347 0.312 0.548 0.668 0.670 0.705 0.663 0.679 0.667 0.488 0.521 0.502 0.838 0.637 0.830 0.777 0.809 na na na na sources : analysis results, 2020 risk analysis is categorizing risks into several categories as well as listed in table 2 and figure 1, where: low risk is a risk that can be accepted or ignored; the moderate risk is the risk that has a high level of likelihood but a low impact or a low probability level but a high impact; high risk is a risk that has a high probability of occurrence and a great deal of an impact [4]. table 3. preliminary survey risk impact and risk impact based on the pu research center guidelines risk factor value probability average preliminary survey based on pd-t-01-2005 permit and licences 0,2625 0,11736 tender process 0,252777778 0,17778 contract document 0,230555556 0,18819 study 0,159027778 0,10139 data used 0,220138889 0,16389 assumption taken 0,182638889 0,17292 design 0,452083333 0,16736 151 157 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 risk assessment of feasibility study for toll road x y with public private partnership (ppp) scheme risk factor value probability average preliminary survey based on pd-t-01-2005 standard 0,384722222 0,32708 mis interpretation 0,445833333 0,31181 land acquisition 0,326388889 0,32014 availability of land 0,484027778 0,30833 compensation process 0,313194444 na public repudiation 0,361805556 na many brokerages 0,354166667 na investation 0,29375 na sources of funding 0,240972222 na continuity of fund sources 0,216666667 na loan repayment period 0,380555556 na sources : analysis results, 2020. table 3 shows, the pre-construction risk probability on the x-y toll road project is smaller than the pre-construction risk probability in indonesia according to the construction and building guidelines for investment risk analysis from the ministry of public works research and development center. it shows that the communities around x-y support infrastructure development in this area and support local investors with international investment standards that the risk probability shows the lowest number. 4.2. risk category following are the results of risk factor measurement and risk categorization in the preconstruction stage on the x-y toll road. table 4. risk factors for pre-construction of the x-y toll road pre-construction probability (l) impact (i) fr=l+i-(l*i) risk category 1. permit and licences 0.275 0.213 0.429 medium risk a. tender process 0.256 0.220 0.420 medium risk b. contract document 0.432 0.354 0.633 medium risk 2 study 0.453 0.378 0.660 medium risk a. data used 0.524 0.364 0.697 medium risk b. assumption taken 0.458 0.332 0.638 medium risk 3. design 0.398 0.226 0.536 medium risk a. standard 0.337 0.317 0.547 medium risk b. mis-interpretation 0.326 0.263 0.503 medium risk 152 157 issn (online) 2581-2157 hanie teki tjendani / ukarst vol. 5, no. 1 (2021) issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 5 number 1, (2021). issn (print) 2579-4620` risk assessment of feasibility study for toll road x y with public private partnership (ppp) scheme pre-construction probability (l) impact (i) fr=l+i-(l*i) risk category 4.land acquisition 0.681 0.651 0.889 medium risk a. availability of land 0.395 0.554 0.730 medium risk b. compensation process 0.714 0.642 0.898 high risk d. public repudiation 0.452 0.470 0.710 high risk e. many brokerages 0.685 0.697 0.905 high risk sources : analysis results, 2020. based on table 4, it can see that the risk impact of the pre-construction stage on the x-y toll road is greater than the typical value of the toll road investment risk, which comes from the toll road risk analysis guidelines from the ministry of public works research and development center especially on the risk elements of land acquisition and investment. this phenomenon could have occurred because the x-y area people already know that their area is one of the strategic infrastructure development areas. land acquisition will demand high compensation prices and emerge intermediaries who take advantage of this condition for personal or group interests. risk analysis performs using the investment risk factor (fr) equation. the amount of the fr shows the level of investment risk that occurs. fr is defined as the multiplication of the impact magnitude and the risk event probability, according to equation 1, in the investment risk analysis. the next step is to categorize risks into several categories as listed in table 4 where: low risk is a risk that can be accepted or neglected; medium risk, namely the risk with a high probability level but the low impact or a low probability level but high impact; high risk, is a risk that has a high probability of occurrence and a large impact. 4.3. risk allocations based on the toll road risk analysis guidelines, there is an allocation of risk between the government and the private sector: table 5. risk allocation on the pre-construction stage risk element risk allocation government private sector permit and licences tender process 84% 16% study contract document 45% 55% data used 64% 36% design assumption taken 56% 44% 153 157 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 risk assessment of feasibility study for toll road x y with public private partnership (ppp) scheme risk element risk allocation government private sector land acquisition standard 48% 52% mis interpretation 36% 64% availability of land 80% 20% compensation process 77% 23% investation public repudiation 81% 19% many brokerages 74% 26% sources of funding 65% 35% continuity of fund sources 65% 35% loan repayment period 65% 35% sources : pd-t-01-2005b [18] the allocations of risk are based on the government's respective burdens and responsibilities and the private sector. with the same method, analysis is carried out at the construction and post-construction stages. 5. conclusion and suggestion 5.1 conclusion based on the results of the analysis and secondary data: [18]; [20], the preparation of the x-y toll road project risk assessment can be stated that: the results of risk analysis on the planning of the construction of the x-y toll road from an investment perspective show that this project very profitable because it will be able to synergize with the previously planned infrastructure supported by investors with very strong funding. in the pre-construction stage, the risk factor (fr) in the high category on the elements of land availability, the compensation process, and concerns about the number of brokers/land brokers. at the construction stage, the high fr category includes weather conditions, inflation, capital returns, and government policies changes. meanwhile, in the post-construction stage, the fr in the high category occurs in the inflation element during the operational and maintenance period, the increase in bank exchange rates/interest, the determination of the initial rate & tariff adjustments, and changes in government policies/state conditions. the ppp scheme for toll roads has long been implemented in indonesia, but the long duration phase must be examined in detail to produce more accurate risk mitigation at each stage. based on the discussions that have been presented and the matrix of risk allocation and risk mitigation from the results of this study. the x-y toll project is recommended to be implemented. 154 157 issn (online) 2581-2157 hanie teki tjendani / ukarst vol. 5, no. 1 (2021) issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 5 number 1, (2021). issn (print) 2579-4620` risk assessment of feasibility study for toll road x y with public private partnership (ppp) scheme 5.2 suggestion for further research, it is advisable to include the budget by investors to calculate investment risk and analyze the environment and policy. acknowledgment researchers would like to greatly appreciate the universitas 17 agustus 1945 surabaya and pt (persero) virama karya, east java branch. references [1] latif adam, analisis model kebijakan kerja sama pemerintah swasta dalam pembangunan infrastruktur. lipi press, isbn 9789797997724, 2014. [2] presiden republik indonesia, “perpres no. 38 tahun 2015 tentang kerjasama pemerintah dengan badan usaha dalam penyediaan infrastruktur [jdih bpk ri],” 2015. https://peraturan.bpk.go.id/home/details/41764/perpres-no-38-tahun-2015 (accessed jan. 20, 2021). [3] presiden republik indonesia, “perpres no. 80 tahun 2019 tentang percepatan pembangunan ekonomi di kawasan gresik bangkalan mojokerto surabaya sidoarjo lamongan, kawasan bromo tengger semeru, serta kawasan selingkar wilis dan lintas selatan [jdih bpk ri],” 2019. https://peraturan.bpk.go.id/home/details/126140/perpres-no-80-tahun-2019 (accessed jan. 20, 2021). [4] a. sandhyavitri and n. saputra, “analisis risiko jalan tol tahap pra konstruksi (studi kasus jalan tol pekan baru-dumai),” j. tek. sipil, vol. 9, no. 1, pp. 1–19, 2019, doi: 10.28932/jts.v9i1.1366. [5] h. pertiwi, “implementasi manajemen risiko berdasarkan pmbok untuk mencegah keterlambatan proyek area jawa timur (studi kasus: pt. telkom)no title,” j. stud. manaj. dan bisnis, vol. 4, no. 2017/12/24, pp. 96–108, 2017, doi: 10.21107/jsmb.v4i2.3959. [6] n. a. and i. p. a. w. hanie teki tjendani, “arpn jeas 2018.” arpn journal of engineering and applied sciences ©2006-2018 asian research publishing network (arpn). all rights reserved., pp. 4432–4439, 2018, [online]. available: http://www.arpnjournals.com/jeas/volume_15_2018.htm. 155 157 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 risk assessment of feasibility study for toll road x y with public private partnership (ppp) scheme [7] s. susanto, h. hendy, b. winarno, and a. i. candra, “measurement of occupational safety and health risk levels of kadiri university lp3m building,” ukarst, vol. 4, no. 2, p. 124, oct. 2020, doi: 10.30737/ukarst.v4i2.782. [8] a guide to the project management body of knowledge. 2013. [9] f. guo, y. chang-richards, s. wilkinson, and t. c. li, “effects of project governance structures on the management of risks in major infrastructure projects: a comparative analysis,” int. j. proj. manag., vol. 32, no. 5, pp. 815–826, 2014, doi: 10.1016/j.ijproman.2013.10.001. [10] e. osipova and p. e. eriksson, “balancing control and fl exibility in joint risk management : lessons learned from two construction projects,” pp. 9–11, 2012. [11] a. darda, m. miki, i. kova, and z. ceki, “global perception of sustainable construction project risks,” vol. 119, no. williams 1995, pp. 456–465, 2014, doi: 10.1016/j.sbspro.2014.03.051. [12] a. shiferaw, e. siba, and g. alemu, “road infrastructure and enterprise development in ethiopia,” no. september, 2012. [13] h. v. rick janssen, robin de graaf, marnix smit, “why local governments rarely use ppps in their road development projects: understanding the barriersno title,” int. j. manag. proj. bus., vol. vol. 9 no., no. 01/04/2016, pp. 33–52, 2016, [online]. available: https://www.emerald.com/insight/content/doi/10.1108/ijmpb-06-2015-0043/full/html. [14] y. ke, s. wang, and a. p. c. chan, “risk management practice in china ’ s public-private,” vol. 18, no. 5, pp. 675–684, 2012, doi: 10.3846/13923730.2012.723380. [15] m. waris, asadullah khan, i. ismail, and s. panda, “project governance: a need for public sector infrastructure projects in pakistan no title,” fgic 1st conf. gov. integrity, 2017, vol. 1, pp. 141–154, 2017, doi: isbn 978967-2054-37-5. [16] k. sha, “vertical governance of construction projects: an information cost perspective,” constr. manag. econ., vol. 29, no. 11, pp. 1137–1147, 2011, doi: 10.1080/01446193.2011.637939. [17] s. o. o. s. u r toor, “nbeyond the ‘iron triangle’: stakeholder perception of key performance indicators (kpis) for large-scale public sector development projectso title,” journalinternational j. proj. manag., vol. 28, no. april 2010, pp. 228–236, 2010, doi: doi.org/10.1016/j.ijproman.2009.05.005. 156 157 issn (online) 2581-2157 hanie teki tjendani / ukarst vol. 5, no. 1 (2021) issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 5 number 1, (2021). issn (print) 2579-4620` risk assessment of feasibility study for toll road x y with public private partnership (ppp) scheme [18] f. mallard and d. franc, “land use policy effectiveness of the legal framework for natural areas protection relative to french road projects,” vol. 30, pp. 2012–2014, 2013. [19] m. au murphy, g. au heaney, and s. au perera, “a methodology for evaluating construction innovation constraints through project stakeholder competencies and fmea,” constr. innov. information, process. manag., vol. 11, no. 2011/10/11, pp. 416– 440, 2011, doi: 10.1108/14714171111175891. [20] pt penjaminan infrastruktur indonesia, “acuan alokasi risiko kpbu di indonesia,” in acuan alokasi risiko, 2016th ed., kementerian keuangan, 2016. [21] kementerian pekerjaan umum dan perumahan rakyat republik indonesia, “pd t-012005-b tentang analisis risiko investasi jalan tol,” 2005. [22] dai, “laporan kajian kerentanan dan risiko iklim provinsi jawa timur no title,” in laporan kajian kerentanan dan risiko iklim provinsi jawa timur, surabaya: usaid/indonesia office of environment, 2018. [23] a. sandhyavitri and n. saputra, “( studi kasus jalan tol pekanbaru-dumai ),” tek. sipil maramatha, vol. l, no. 2, pp. 1–12, 2015. 157 157 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 pengendalian jadwal dan anggaran terpadu dengan metode earned value analysis pada pekerjaan konstruksi edy gardjito dosen, teknik sipil, universitas kadiri e-mail: edy_gardjito@unik-kediri.ac.id abstrak hasil pengendalian jadwal dan anggaran (metode earned value analysis/eva) pada pekerjaan konstruksi dinding penahan beton tinggi 7 m untuk status hari ke-150 sebagai berikut: dari aspek biaya, proyek mengalami keuntungan, cost varian (cv) bernilai positif rp. 0,0977 milyar atau nilai indeks kinerja biaya (cpi) = 1.03>1, dari aspek jadwal pelaksanaan, proyek mengalami keterlambatan, schedule varian (sv) bernilai negatif rp.(-) 0,2895 milyar atau indeks kinerja jadwal (spi) = 0.91<1, perkiraan biaya yang dibutuhkan (eac) sampai proyek selesai rp.5,8950 milyar, proyek akan mendapat keuntungan rp. 0,1924 milyar, karena masih dibawah rencana anggaran (pv) rp.6,0874 milyar, perkiraan waktu untuk menyelesaikan proyek (eas) adalah 216 hari, artinya proyek akan mengalami keterlambatan 6 hari dari periode kontrak. kata kunci : earned value analysis, cost varian, schedule varian, cpi, spi, kinerja proyek. 1. pendahuluan 1.latar balakang propinsi jawa timur yang begitu luas terdiri dari 38 kabupaten/kota harus diimbangi dengan infrastruktur jalan dan jembatan yang memadai. tetapi tidak semua jalan dan jembatan yang menghubungkan kabupaten dan kota di telah memadai. terutama jalur lintas selatan (jls) jawatimur. padahal pembangunan jls jawa timur ini dimulai tahun 2002. jika tuntas pembangunannya, maka jalur ini akan membentang mulai sisi barat pacitan hingga sisi timur banyuwangi sepanjang 618,8 km. dana yang dibutuhkan untuk proyek pembangunan jls amat besar diperkirakan rp. 7,8 trilyun (estimasi tahun 2010). selain anggaran, ada berbagai persoalan yang membuat jls tersendat diantaranya: topografi yang sangat berat, kesulitan penggunaan lahan perhutani, serta biaya pemeliharaan yang besar. topografi tersebut sangat berat karena 65 persen jls berada diwilayah pegunungan dan tepi pantai. konsekuensinya, tidak semua lokasi bisa dibangun jalan dengan fungsi arteri. karena itu infrastruktur jalan dan jembatan menjadi kebutuhan utama dijalur selatan. jika terwujud, dipastikan jalan dan jembatan tersebut dapat mengangkat kesejahteraan masyarakat di selatan jawa timur. khusus pembangunan jls di kabupaten pacitan ruas jalan pacitan–hadiwarno yang melintasi pantai soge-tawang, badan jalan dibangun diatas pasir pantai (marine sand) dengan jarak 50 m dari tepi laut selatan jawa menggunakan konstruksi dinding penahan (retaining wall) dari beton bertulang maupun pasangan batu dengan tinggi 7 meter. oleh karena itu, peneliti berusaha hal 19 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 mengadakan pengamatan (observasi) tentang perencanaan dan pengendalian mutu beton pada pelaksanaan pekerjaan tersebut, dengan inti kajian mengenai pengendalian jadwal dan anggaran terpadu dengan konsep nilai hasil atau metode earned value analysis (eva method). 2. metodologi penelitian 2.1 rancangan penelitian pada kegiatan studi pendahuluan dimaksudkan untuk mendapatkan informasi lebih rinci tentang indikasi masalah yang terjadi. sedangkan pada kegiatan studi pustaka merupakan studi literatur melalui buku-buku referensi yang memuat teknis analisis data yang dapat digunakan untuk menjawab rumusan masalah. 2.2 pengambilan dan pengumpulan data kebutuhan data penelitian pada kegiatan studi pendahuluan terkait dengan analisis pengendalian biaya dan pengendalian waktu (metode earned value analysis atau eva) adalah sebagai berikut: (1) materi proyek : time schedule (hari) = 210 hari status pelaporan (hari ke) =150 hari nilai pekerjaan = rp. 6.087.380.500,00 volume beton k.250 = 2,016 m3 volume besi u.24 = 302,400 kg harga beton k.250/m3 = rp.828.003,97 harga besi u.24/kg = rp. 14.610,20 (2) data primer : dokumen kontrak (spesifikasi struktur), job-mix design beton k.250, laporan pengujian kuat tekan hancur beton, referensi pbi 1971 dan sni 2002, rencana anggaran biaya (rab), jadwal pelaksanaan (time schedule s-curve), laporan keuangan proyek (cash flow contrator), laporan kemajuan proyek (% fisik). sumber : analisis peneliti 3. analisis hasil penelitian dan pembahasan 3.1 anggaran biaya menurut jadwal (planned value) perhitungan anggaran menurut jadwal (pv atau bcws) didapat dengan merencanakan seluruh aktifitas proyek berdasarkan metode konstruksi yang terpilih. pv ini dapat digambarkan seperti penjadwalan dengan metode kurva-s. berikut ini adalah tabulasi proporsi biaya pada periode hal 20 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 bulanan yang diambil dari penjadwalan kurva-s disajikan pada tabel dibawah ini : 3.2 biaya aktual (actual cost) pengeluaran biaya aktual pekerjaan (actual cost) sampai saat pelaporan hari ke150 didapat dari laporan keuangan proyek dan disajikan pada tabel dibawah ini : hal 21 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 3.3 nilai hasil (earned value) nilai hasil (earned value) adalah hasil yang didapat berdasarkan pekerjaan yang telah terselesaikan dari anggaran proyek keseluruhan. atau dihitung berdasarkan prosentase bobot dikalikan dengan nilai kontrak. nilai hasil yang didapat sampai saat pelaporan disajikan pada tabel dibawah ini : 3.4 kinerja proyek saat pelaporan hari ke-150 status proyek saat pelaporan pada akhir bulan ke-5 atau hari ke-150 menunjukkan pelaksanaan proyek ini memperoleh keuntungan, hal ini ditunjukan dari indikator cost varian (cv) bernilai positif sebesar rp. 0,0977 milyar antara selisih nilai hasil (ev) dengan biaya actual yang dikeluarkan (ac). kinerja proyek dari aspek biaya ini bisa juga dilihat dari indikator indeks kinerja biaya cpi= 1.03 >1. sedangkan dari aspek jadwal menunjukkan kinerja proyek mengalami keterlambatan, hal ini ditunjukkan dari schedule varian (sv) yang bernilai negative sebesar rp.(-) 0,2895 milyar antara selisih nilai hasil (ev) dengan anggaran yang dijadwalkan (pv). kinerja proyek dari aspek waktu ini juga bisa dilihat dari indeks kinerja jadwal (spi)= 0.91 <1. nilai cv, sv, cpi dan spi ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini, dan grafik penjadwalan terpadu saat pelaporan dapat dilihat pada gambar dibawah ini: hal 22 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 3.5 proyeksi pengeluaran biaya dan jangka waktu penyelesaian proyek berdasarkan nilai pv, ev dan ac saat pelaporan hari ke-150 dan indikator cpi dan spi yang didapat sebelumnya dapat diprediksikan biaya yang akan dikeluarkan dan waktu yang diperlukan untuk penyelesain seluruh pekerjaan, yang disajikan pada tabel dibawah ini, dan jika kinerja saat pelaporan tetap sama sampai sisa pekerjaan terselesaikan, maka prediksi biaya yang dikeluarkan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan (eac) adalah sebesar rp. 5,8950 milyar yang berarti masih dibawah rencana anggaran (pv) yaitu sebesar rp. 6,0874 milyar, dan masih ada keuntungan sebesar rp. 0,1924 milyar. sedangkan perkiraan penyelesaian dari aspek jadwal didapat perkiraan waktu penyelesaian pekerjaan (eas) adalah 216 hari, lebih lama dari jadwal rencana semula 210 hari. ini berarti proyek akan mengalami keterlambatan selama 6 hari. hal 23 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 gambaran perkiraan biaya dan waktu terpadu untuk menyelesaikan proyek dapat dilihat pada gambar dibawah ini : 5. kesimpulan dan saran kesimpulan hasil pengendalian biaya dan waktu sebagai berikut : a. kinerja pelaksanaan proyek pada hari ke-150 : dari aspek anggaran biaya, proyek ini memperoleh keuntungan: cost varian (cv) bernilai positif rp.0,0977 milyar atau nilai indeks kinerja biaya (cpi) = 1.03 >1. dari aspek jadwal pelaksanaan, proyek mengalami keterlambatan: schedule varian (sv) bernilai negative rp.(-)0,2895 milyar atau indeks kinerja jadwal (spi) = 0.91<1. hal 24 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 b. jika kinerja pelaksanan proyek pada pelaporan hari ke-150 berjalan tetap sama sampai proyek selesai, perkiraan biaya yang dibutuhkan (eac) rp.5,8950 milyar, proyek akan mendapatkan keuntungan rp.0,1924 milyar, karena masih dibawah rencana anggaran (pv) rp.6,0874 milyar. dari aspek jadwal pelaksanaan, perkiraan waktu untuk menyelesaikan proyek (eas) adalah 216 hari, artinya proyek akan mengalami keterlambatan 6 hari dari periode kontrak. saran a. metode pengendalian dengan nilai hasil (earned value analysis/eva) dalam implementasinya yang menggunakan grafik ”s” perlu dikaji dengan mengintegrasikan metode critical path methode (cpm). b. perlu dirancang alternatif-alternatif sistem penanganan atau tindakan selanjutnya bila terjadi penyimpangan biaya dan waktu secara terpadu. daftar pustaka [1] ervianto wi, 2002, teori aplikasi manajemen proyek konstruksi, andi, yogyakarta. [2] kadariah, 1999, pengantar evaluasi proyek, fakultas ekonomi universitas indonesia,jakarta. [3] riduwan, 2008, teknik menyusun tesis, alfabeta, bandung. [4] suharto iman,1999, manajemen proyek dari konseptual sampai operasional jilid i, ii, erlangga, jakarta. [5] messah, y. a., lona, l. h. p., & sina, d. a. (2013). pengendalian waktu dan biaya pekerjaan konstruksi sebagai dampak dari perubahan desain. jurnal teknik sipil, 2(2), 121-132. [6] tarore, h., malingkas, g. y., & walangitan, d. r. (2012). pengendalian waktu dan biaya pada tahap pelaksanaan proyek dengan menggunakan metode nilai hasil (studi kasus: proyek lanjutan pembangunan gedung pip2b kota manado). jurnal sipil statik, 1(1). [7] rantung, a. h., sompie, b. f., & mandagi, r. j. (2014). analisis pengendalian biaya dan jadwal pada tahap pelaksanaan konstruksi dengan “analisis nilai hasil”(earned value analysis) studi kasus pada proyek bangunan pengaman pantai di provinsi sulawesi utara. jurnal ilmiah media engineering, 4(3). [8] rahman, i. (2010). earned value analysis terhadap biaya pada proyek pembangunan gedung (studi kasus proyek pembangunan gedung c fakultas mipa uns). [9] rahman, i. (2010). earned value analysis terhadap biaya pada proyek pembangunan gedung (doctoral dissertation, universitas sebelas maret). hal 25 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 [10] meliasari, i., & indrayadi, m. (2011). earned value analysis terhadap biaya dan waktu pada proyek konstruksi. jurnal mahasiswa teknik sipil universitas tanjungpura, 2(2). [11] ramdhani, f. (2016). analisis bi aya dan waktu dengan metode earned value concept pada proyek bjdm area rl construction at well 3s-21b area 9 pt. adhi karya cs work unit rate packagea– duri. racic: jurnal teknik sipil universitas abdurrab, 1(01), 17-35. [12] prana, e., anwar, m. r., & zaika, y. (2014). analisis sistem pengendalian biaya (cost control framework) pada proyek pelebaran jalan sp. 3 lempake samarinda-sp. 3 sambera kalimantan timur. media teknik sipil, 10(2). [13] desmi, a. (2016). studi pengendalian waktu dan biaya pada pelaksanaan pemeliharaan jalan simpang raja bakong-tanah pasir dengan menggunakan konsep nilai hasil. teras jurnal, 2(4). [14] febri, e. r. d. (2015). analisis kinerja biaya dan waktu dengan metode nilai hasil (earned value analysis) pada pekerjaan renovasi tahap ii asrama wana mulia smk kehutanan samarinda. kurva s jurnal mahasiswa, 4(1), 685-692. [15] wardani, n. p., anwar, m. r., & wijatmiko, i. (2014). evaluasi pengendalian pelaksanaan konstruksi pada proyek civil work di smk negeri 1 kediri. jurnal spectra, 12(24), 48-63. hal 26 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 identifikasi campuran beton berpori sebagai lapis dasar perkerasan kaku abstrak lapisan dasar dengan bahan berbutir cenderung terjadi dalam kondisi jenuh di saat hujan atau setelah hujan. dalam kondisi itu,adanya lalu lintas juga dapat membuat pergergerakan tanah di bawah lapisan pondasi dan mengurangi daya dukungnya. namun demikian, bahan pondasi yang mengandung agregat besar menciptakan lapisan dasar dengan permeabilitas rendah dan gerakan air lambat. makalah ini mempresentasikan prosedur dan hasil laboratorium studi eksperimental untuk mendapatkan kriteria properti dasar untuk lapisan dasar perkerasan kaku campuran beton berpori berhasil dirancang dan melampaui minimum persyaratan yang disyaratkan oleh direktorat jenderal bina marga. ditemukan di sana korelasi yang sangat kuat antara faktor kesalahan dan permeabilitas yang dibuat dengan baik yang berguna untuk faktor kesalahan mewakili perilaku permeabilitas beton berpori. tingginya faktor kesalahan dengan hubungan yang baik membuat agregat yang lebih lemah saling mengunci di dalam campuran sehingga permeabilitas meningkat sedangkan kekuatan tekan turun. kepadatan baru dan lebih banyak diisi oleh pasta semen menciptakan kekosongan yang lebih kecil yang akan mengurangi permeabilitas dan meningkatkan kekuatan tekan. korelasi kuat antara kerapatan segar terhadap porositas dan permeabilitas dapat menciptakan kepadatan baru sebagai contoh untuk mengatur faktor kesalahan beton berpori yang diinginkan di lapangan. kata kunci: beton berpori, lapisan dasar, perkerasan kaku, kepadatan segar, kompresif kekuatan, void content, permeabilitas 1. pendahuluan dalam beberapa tahun ini, teknologi konkret telah dikembangkan secara signifikan. salah satu produk terbaru adalah desain campuran beton modern yang disebut beton berpori. beton berpori , kesenjangan beton bertingkat, permeabel, atau porositas yang tinggi, adalah suatu pendekatan inovatif untuk mengendalikan, mengelola, dan memperbaiki limpasan gelombang air. saat digunakan di trotoar, beton berpori secara efektif dapat menangkap dan menyimpan limpasan gelombang air, sehingga memungkinkan limpasan meresap ke dalam tanah dan mengisi ulang persediaan air tanah. di indonesia, sebagian besar struktur perkerasan kaku umumnya gunakan bahan berbutir seperti kelas a atau kelas b agregat sebagai lapisan dasar. landasan yang kaku trotoar juga bisa berfungsi sebagai lapisan drainase untuk mencegah kenaikan dan erosi air di lokasi bersama, celah dan genangan. namun, lapisan dasar dengan bahan berbutir cenderung terjadi pada kondisi jenuh pada saat hujan atau setelah hujan. karena syaratnya, adanya lalu lintas juga membuat pergerakan di bawah lapisan pondasi dan mengurangi bantalannya kapasitas. dalam beberapa kasus, lapisan dasar digunakan untuk memberikan dukungan hal 129 1 rekso ajiono, 2 ki catur budi, 3rasio hepiyanto 1,2universitas kadiri 3universitas islam lamongan email: rekso_ajiono@unik-kediri.ac.id, aripjokersquad@gmail.com ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 seragam untuk struktur perkerasan kaku. meningkatnya beban lalu lintas mengakibatkan lapisan lebih padat, lebih kuat dan sebagai bahan dasar erosi baik. bahan pondasi yang mengandung kerapatan besar menciptakan lapisan dasar dengan permeabilitas rendah dan air lambat gerakan. kombinasi air infiltrasi yang terperangkap dan pemuatan lalu lintas berulang akan menghasilkan kekosongan di antara permukaan lapisan dasar dan lapisan dasar permukaan (erosi). itu mayoritas air yang terinfiltrasi terkumpul di dalam kekosongan dari permukaan trotoar oleh infiltrasi melalui celah, sambungan dan celah di sepanjang tepi trotoar. fenomena erosi dapat menyebabkan hilangnya dukungan fondasi, kerusakan prematur perkerasan dan masalah pelayanan jangka pendek (kozeliski). hasil survei terkait dengan distress perkerasan kaku telah dikumpulkan dari beberapa jalan tol dan jalan raya di indonesia. jumlah patahan dan cracking longitudinal retak sangat banyak, terutama di jalan raya. jenis kesusahan ini biasanya terjadi karena kehilangan daya dukung, lemahnya masalah drainase dan erosi pada lapisan dasar (huang). oleh karena itu, lapisan dasar dengan jenis drainase berpori diperlukan beton untuk mengatasi masalah tersebut. penelitian telah menunjukkan bahwa lapisan dasar permeabel harus memenuhi dua persyaratan. pertama, itu harus cukup permeabilitas dengan cepat membebaskan air yang telah masuk ataupun yang terjebak di struktur trotoar. kedua, harus memiliki kekuatan yang cukup untuk berfungsi sebagai platform konstruksi trotoar. 2. metode penelitian studi laboratorium properti dasar beton berpori kriteria sebagai lapisan dasar perkerasan kaku terdiri dari mengikuti tiga langkah utama: (a) campuran beton berpori proporsi desain; (b) pengukuran desain dasar parameter berdasarkan kepadatan baru, kuat tekan, membatalkan konten dan permeabilitas; (c) korelasi statistik uji antar parameter. tiga langkah ini adalah dijelaskan secara rinci dalam sub-bagian berikut. semua sifat material diuji berdasarkan astm. itu kriteria minimum untuk desain campuran akan dicapai oleh memvariasikan rasio agregat semen, rasio semen air dan nilai ukuran agregat bersama dengan penambahan pasir, fly ash dan penambahan aditif kimia seperti hrwr, vma dan retarder. 2.1 proporsi desain campuran tabel 1. proporsi desain campuran beton berpori untuk pendahuluan uji (1 m 3 beton) w/c a/c semen (kg) air (kg) aggregat (kg) retarder (kg) *0.27 4.0 338.2 91.3 1367.0 2.0 0.27 4.0 338.2 91.3 1367.0 2.0 *0.30 4.0 345.1 103.5 1367.0 2.1 0.30 4.0 345.1 103.5 1367.0 2.1 *0.33 4.0 343.9 113.5 1367.0 2.1 hal 130 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 0.33 4.0 343.9 113.5 1367.0 2.1 *0.27 6.0 228.4 61.7 1367.0 1.4 0.27 6.0 228.4 61.7 1367.0 1.4 *0.30 6.0 228.1 68.4 1367.0 1.4 0.30 6.0 228.1 68.4 1367.0 1.4 *0.33 6.0 227.9 75.2 1367.0 1.4 0.33 6.0 227.9 75.2 1367.0 1.4 * perawatan pada 7 hari; perawatan pada 28 hari; ukuran agregat 12,7 mm tabel 2. proporsi desain campuran beton berpori (beton 1 m 3 ) semen (kg) air (kg) aggregat (kg) pasir (kg) fly-ash (kg) hrwr (ml) retarder & vma (ml) *342.8 99.4 1367.0 0.7 2.1 342.8 99.4 1367.0 0.7 2.1 *342.8 99.4 1367.0 0.7 2.1 342.8 99.4 1367.0 0.7 2.1 *342.8 99.4 1367.0 0.7 2.1 342.8 99.4 1367.0 0.7 2.1 *328.7 93.9 1307.6 66.5 0.6 2.1 328.7 93.9 1307.6 66.5 0.6 2.1 *312.1 89.1 1248.1 126.9 0.6 2.0 312.1 89.1 1248.1 126.9 0.6 2.0 *341.2 96.9 1367.0 37.9 0.7 2.4 341.2 96.9 1367.0 37.9 0.7 2.4 * menyembuhkan pada 7 hari; menyembuhkan pada 28 hari; ukuran agregat 9,5 mm ; ukuran agregat 12,7 mm ; ukuran agregat 19.0 mm 2.2 uji korelasi statistik korelasi antara parameter desain dasar adalah dijelaskan dengan menggunakan uji korelasi sederhana. tes ini adalah teknik statistik yang digunakan untuk mengukur tingkat hubungan antara 2 variabel dan bentuk hubungan mereka. tingkat hubungan dinyatakan dalam angka dimana angka yang lebih besar menunjukkan lebih kuat hubungan ( tabel 3 ). uji korelasi sederhana adalah dihitung menggunakan rumus: tabel 3. panduan interpretasi koefisien korelasi. nilai korelasi hubungan koefisien penafsiran 0,000 0,199 sangat lemah 0,200 0,399 lemah 0,400 0,599 moderat 0,600 0,799 kuat 0,800 1.000 sangat kuat hal 131 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 3. pembahasan 3.1 uji korelasi statistik rentang konten batal: 28% 40% rentang koefisien permeabilitas: 2,5 cm / detik 4,7 cm / detik gambar 1. hubungan antara rasio semen air dan kuat tekan. rentang kekuatan tekan: 1.9 mpa 15.4 mpa rentang koefisien permeabilitas: 2,5 cm / detik 4,7 cm / detik gambar 2. hubungan antara w / c dan konten batal pada usia 28-hari. hal 132 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 rentang kekuatan tekan: 1.9 mpa 15.4 mpa rentang konten batal: 28% 40% gambar3. hubungan antara w / c dan permeabilitas pada usia 28-hari 3.2 korelasi parameter dasar uji korelasi dilakukan untuk mengamati mana variabel di antara parameter dasar terhubung dan seberapa kuat hubungan melalui korelasi koefisien yang diperoleh dari uji korelasi. hubungan yang kuat ditunjukkan oleh koefisien yang tinggi dari nilai korelasi, dan sebaliknya. beberapa dasar properti yang digunakan dalam penelitian ini mencoba untuk mewakili masing-masing persyaratan yang diberikan oleh direktorat general of highways, yaitu permeabilitas koefisien untuk mewakili kinerja run-off, kekuatan tekan untuk mewakili kekuatan kinerja. kepadatan segar dan konten tidak berlaku digunakan sebagai variabel kontrol atau variabel independen hasil uji korelasi disajikan pada gambar 10 sampai gambar 14. gambar 10. korelasi antara angka pori beton berpori dan permeabilitas hal 133 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 gambar 11. korelasi antara densitas beton berpori dan angka pori gambar 12. korelasi antara kepadatan dan permeabilitas gambar 13. korelasi antara kepadatan beton berpori dan kekuatan tekan. hal 134 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 gambar 14. korelasi antara beton lubang berpori dan kekuatan tekan 4. kesimpulan makalah ini telah mempresentasikan prosedur dan hasil studi eksperimental laboratorium untuk mendapatkan properti dasar kriteria untuk lapisan dasar perkerasan kaku. itu dasar parameter adalah kepadatan baru, kuat tekan, dan permeabilitas. campuran beton berpori berhasil dirancang dengan menggunakan komite aci 522 standar dan beberapa referensi dari meininger's hasil tes eksperimental. itu juga melampaui minimum persyaratan kuat tekan dan permeabilitas untuk lapisan dasar yang diperlukan oleh direktorat jendral bina marga . metode pemadatan dan metode curing juga memberi arti penting untuk desain campuran beton berpori. kriteria minimum untuk desain campuran dicapai dengan menggunakan rasio semen air 0,30, rasio semen agregat 4.0 dan memvariasikan nilai ukuran agregat bersama dengan penambahan pasir, penggantian fly-ash dan penambahan aditif kimia. ditemukan bahwa ada korelasi yang sangat kuat antara konten batal dan permeabilitas pada usia 7 hari dan 28 hari yang menciptakan kemungkinan baik untuk digunakan membatalkan konten untuk mewakili tingkah laku permeabilitas beton berpori. kepadatan segar yang lebih besar membuat pori yang lebih kecil dan pori kecil akan mengurangi permeabilitas. porositas tinggi dengan koneksi yang baik menghasilkan lebih rendah penguncian agregat di dalam campuran sehingga permeabilitas meningkat dan kuat tekan menurun. di sisi lain, kepadatan baru yang kompak dengan interlocking agregat yang baik meningkatkan nilai kekuatan tekan. itu terjadi karena porositas di dalam campuran beton segar dengan yang lebih besar kepadatan diisi dengan pasta semen dan agregat. korelasi kuat antara kerapatan segar terhadap porositas dan permeabilitas pada usia 28 hari memberi potensi bagus dengan kerapatan segar sebagai contoh penggunaan rongga beton hal 135 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 berpori yang diinginkan. hubungan rendah antara parameter di usia 7 hari mungkin terjadi karena kebanyakan pasta semen di dalam beton berpori belum sepenuhnya tercampur. referensi [1] komite aci 522, laporan pervious concrete, american concrete institute, 7-15 (2010). [2] amde, a., m., rogge, s., pengembangan spesifikasi beton pervious kualitas tinggi untuk kondisi maryland, state highway adminstration maryland departemen perhubungan, 13-54 (2013). [3] anderson, walsh, oka, dewoolkar, limberg, sevi, schmeckpeper, kinerja laboratorium dari beton pervious yang dikenakan garam deicing dan beku-mencair, pusat penelitian transportasi universitas vermont, 20-20 (2015). [4] aoki, y., pengembangan beton pervious, tesis m.eng, fakultas teknik dan teknologi, universitas teknologi, sydney, (2009). [5] standar astm c39 / c39m-05, metode uji standar untuk kekuatan kompresi spesimen beton silinder, astm international, (2005). [6] standar astm c1688 / c1688m-13, metode uji standar untuk kepadatan dan konten kosong dari beton campuran sebelumnya, astm international, (2013). [7] standar astm c1754 / c1754m-12, metode uji standar untuk densitas dan void konten beton pervious hardened, astm international, (2012). [8] standar astm d5084-03, metode uji standar untuk pengukuran konduktivitas hidraulik dari bahan berpori jenuh menggunakan permeameter dinding yang fleksibel, astm international, (2003). [9] pusat penelitian dan pengembangan infrastruktur transportasi, pedoman perencanaan perkerasan beton semen, departemen permukiman dan infrastruktur daerah, 79, 20-20 (2003). [10] crouch, l., k., pitt, j., hewitt, r., efek agregat pada semen portland portland modulus statis sebelumnya dari elastisitas, jurnal bahan dalam teknik sipil, 566-566 (2007). [11] direktorat jenderal bina marga, manual hidrolik untuk pekerjaan jalan dan jembatan desain hidraulik, departemen pekerjaan umum, 96-96, 99-99 (2005). [12] direktorat jenderal bina marga, spesifikasi umum revisi 3, kementerian pekerjaan umum, 5.66-5.66 (2010). [13] federal highway administration, pervious concrete, the techbrief pavement menttechnology (acpt) techbrief, 1-1 (2012). hal 136 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 pengendalian mutu beton dengan metode control chart (spc) dan process capability (sixsigma) padapekerjaan konstruksi edy gardjito department of civil engineering university of kadiri e-mail : edygardjito@yahoo.co.id abstract hasil penelitian terhadap pengendalian mutu beton k.250 : (a) dengan grafik kendali (control chart),grafik individual (��): batas atas ucl = 289 kg/cm 2 , batas tengah �� = 263 kg/cm 2 , batas bawah lcl = 238 kg/cm2, mendeteksi 1 sampel diluar kendali dibawah batas lcl yaitu sampel nomor test 142, grafik xbar-r dan xbar-s chart : mendeteksi 2 sampel diatas garis ucl yaitu sampel nomor test 26; 118, grafik i-mr chart : mendeteksi 3 sampel diatas garis ucl yaitu sampel nomor test 26; 118; 235. (b) dengan grafik kapabilitas proses,nilai cp= 0,93, cpk= 0,81, dan cpm= 0,81,(cp, cpk, cpm<1) maka proses produksi memiliki kapabilitas kurang cukup mampu menghasilkan mutu yang diharapkan, nilai ppm < lslterdapat 876,78 (10,21%) sampel kurang dari standard mutu yang diharapkan (<263 kg/cm 2 ). nilai 6σ (sig sigma) =59,1kg/cm 2 > (usl–lsl) =55kg/cm 2 proses memiliki kapabilitas hampir tidak cukup. nilai-z (transformasi z)terdapat 90,65%berada >250 kg/cm 2 . probability of defect 0,83%= 0,0083 0,05 atau 5%, memenuhi standart kinerja mutu yang diharapkan meskipun proses produksi memiliki kapabilitas hampir tidak cukup. kata kunci : control chart, capability process, cp, cpk, cpm, sixsigma (6σ), z-value, probability of defect.. 1. pendahuluan 1.1 latar belakang propinsi jawa timur yang begitu luas terdiri dari 38 kabupaten / kota harus diimbangi dengan infrastruktur jalan dan jembatan yang memadai. tetapi tidak semua jalan dan jembatan yang menghubungkan kabupaten dan kota di jawa timur telah memadai. terutama jalur lintas selatan (jls) jawa timur. padahal pembangunan jls jawa timur ini dimulai tahun 2002. jika tuntas pembangunannya, maka jalur ini akan membentang mulai sisi barat pacitan hingga sisi timur banyuwangi sepanjang 618,8 km. dana yang dibutuhkan untuk proyek pembangunan jls amat besar diperkirakan rp. 7,8 trilyun (estimasi tahun 2010). selain anggaran, ada berbagai persoalan yang membuat jls tersendat diantaranya : topografi yang sangat berat, kesulitan penggunaan lahan perhutani, serta biaya pemeliharaan yang besar. topografi tersebut sangat berat karena 65 persen jls berada diwilayah pegunungan dan tepi pantai. konsekuensinya, hal 110 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 tidak semua lokasi bisa dibangun jalan dengan fungsi arteri. karena itu infrastruktur jalan dan jembatan menjadi kebutuhan utama dijalur selatan. jika terwujud, dipastikan jalan dan jembatan tersebut dapat mengangkat kesejahteraan masyarakat di selatan jawa timur. khusus pembangunan jls kabupaten pacitan ruas jalan pacitan–hadiwarno yang melintasi pantai soge-tawang, badan jalan dibangun diatas pasir pantai (marine sand) dengan jarak 50 m dari tepi laut selatan jawa menggunakan konstruksi dinding penahan (retaining wall) dari beton bertulang maupun pasangan batu. oleh karena itu, berkaitan proses pengelolaan proyek (manajemen proyek dan rekayasa konstruksi) di jls pacitan, terutama pada pelaksanaan konstruksi dinding penahan (retaining wall) beton bertulang tinggi 7 meter,maka peneliti berusaha mengadakan pengamatan (observasi) tentang perencanaan dan pengendalian mutu betonpada pelaksanaan pekerjaan tersebut, dengan inti kajian mengenai pengendalian mutu beton k.250 menggunakan grafik kendali (control chart) dan grafik kapabilitas proses (process capability). 1.2 rumusan masalah sejauh mana kuantitas beton yang telah diproduksi apakah sudah sesuai dengan mutu beton yang diharapkan ? 1.3 tujuan penelitian mengetahui faktor-faktorpengendalian mutu beton yang berpengaruh signifikan terhadap pencapaian kinerja proyek. 1.4 manfaat penelitian memahami proses mengolah data dari hasil test kuat tekan beton, mengetahui kemampuan proses produksi beton dan mengevaluasi jika terjadi penyimpangan mutu beton yang diproduksi. 1.5 batasan masalah lingkup kajian dititikberatkan pada penilaian kontrol mutu k.250 dari beton yang telah diproduksi, dengan varian nilai tes kuat tekan beton sebanyak 241 sampel.dan kajian pada pekerjaan konstruksi dinding penahan beton tinggi 7 meter ini tidak dilakukan membandingkan dengan kondisi proyek-proyek lain. 2. metode penelitian 2.1 perencanaan dan pengendalian proyek proses pengendalian proyek dibuat guna mewujudkan performa yang baik di dalam setiap tahap kegiatan. proses perencanaan dibuat sebagai bahan acuan bagi pelaksanaan pekerjaan. bahan acuan tersebut selanjutnya akan menjadi standar pelaksanaan pada proyek yang bersangkutan, meliputi spesifikasi teknik (mutu konstruksi), jadwaldan anggaran. maka untuk dapat hal 111 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 melakukan pengendalian perlu adanya perencanaan.upaya pengendalianadalah proses pengukuran, evaluasi dan membetulkan kinerja proyek.ada 3 unsur yang perlu dikendalikan dan diukur didalam proyek konstruksi,yaitu : 1. kemajuan (progress) fisik yang dicapai dibandingkan terhadap kontrak, 2. pembiayaan terhadap rencana anggaran, 3. mutu hasil pekerjaan terhadapspesifikasi teknis. 2.2 definisi pengendalian mutu pengendalian kualitas (kendali mutu) adalah usaha pengawasan dan tindakan turun tangan pada suatu pelaksanaan pekerjaan dengan tujuan hasil pekerjaan sesuai ketentuan yang telah ditetapkan dan atau disepakati dengan menghasilkan produk semurah mungkin dan memenuhi kebutuhan pengguna. sedangkan sistem pengendalian kualitas (quality management system) adalah pengendalian terhadap keseluruhan kegiatan dan aktivitas yang ada dalam perusahaan yang meliputi : input, proses, dan output untuk perbaikan kualitas produk. 2.3 definisi peningkatan mutu peningkatan kualitas (quality improvement) adalah tindakan perbaikan yang dilakukan untuk mengurangi variasi pada proses dan produk. titik-titik potensial pada proses dan produk adalah tahapan-tahapan proses yang perlu dilakukan dengan hati-hati dan penuh ketelitian, karena kesalahan pada tahap ini dapat mengakibatkan produk menjadi cacat (defect). 2.4 proporsi campuran beton komposisi campuran beton pada dinding penahan (retaining wall) tinggi 7 meter,setiap volume 1m3 adukan beton adalah : semen 340 kg (8,5 zak @ 40 kg), air 170 kg, pasir 682 kg dan batu pecah 1113 kg (berat isi rata-rata 2,363 kg). meskipun beton dibuat dengan proporsi (persentase komposisi) yang sudah tertentu,bisa saja terjadi variasi dari satu takaran ke takaran yang lain. variasi bisa terjadi pada masing-masing bahan yang masuk kedalam pengaduk, khususnya agregat. variasi juga terjadi pada proses, mulai dari penakaran, pengadukan, penuangan, pemadatan maupun perawatannya. variasi juga bisa terjadi akibat pengambilan dan pengujian contoh benda uji beton. 2.5 grafik kendali berkaitan dengan kekuatan beton, grafik kendali digunakan untuk mengetahui fluktuasi / stabilitas hasil test kuat tekan pada tiap-tiap benda uji yang diamati. artinya grafik kendali dapat menggambarkan variasi data, sehingga dapat cepat diketahui bila ada penyimpangan sampel dari batas-batas kendali. fungsi umum grafik kendali adalah :  membantu mengurangi variabilitas  memonitor kinerja proses setiap saat  memungkinkan proses koreksi untuk mencegah penolakan hal 112 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855  trend dan kondisi diluar kendali terdeteksi secara cepat konsep grafik kendali maksudnya adalah sebagai berikut : 1) defect merupakan permasalahan didalam proses produk, 2) penyebab khusus defect (mungkin kesalahan operator, kondisi material, peralatan rusak), 3) penyebab umum defect (kesalahan pengujian, metode tidak sesuai, pengawasan lemah), 4) hilangkan penyebab tersebut dan hindari jumlah defect yang banyak (akibat dari recondition), 5) kelengkapan kepuasan kinerja proses. grafik kendali merupakan run-chart dalam suatu interval spesifikasi tertentu, biasanya dipakai 3 standar deviasi (3σ atau 3 sigma) disebut limit aksi, jika dipakai 2 sigma disebut limit peringatan. grafik kendali terdiri dari 3 macam garis batas : (1) batas kontrol atas / upper control limit (ucl), (2) rata-rata kualitas sampel atau garis tengah (x), dan (3) batas kontrol bawah / lower control limit (lcl). garis ucl dan lcl merupakan garis batas control limit pada +/tiga garis standar deviasi (batas ± 3σ) dari garis rata-rata kualitas sampel. formula pada batas grafik kendali adalah sebagai berikut : ucl = x�+3 �� √� ; lcl =x�-3 �� √� ; batas ± 3σ ......(5) sumber : c.tri hendradi (2006) sampel yang berada didalam rentang ucl–lcl dikatakan berada dalam pengawasan atau biasanya dikatakan proses berada didalam kendali, sedangkan yang berada diluar rentang ucl– lcl dikatakan berada diluar pengawasan atau biasanya dikatakan proses berada diluar kendali. secara umum berdasarkan tipe data (variabel dan atribut), grafik kendali dapat digolongkan dalam 2 kategori, yaitu : (1) diagram kontrol variabel yaitu x-s chart, x-r chart, i-mr chart, (2) diagram kontrol atribut yaitu np-chart, p-chart, c-chart, µ-chart. grafik kendali variabel memiliki tipe data kontinyu dan datanya diperoleh sebagai hasil pengukuran, contoh data hasil pengujian kuat tekan beton (kg/cm2). sedangkan diagram kontrol atribut memiliki tipe data diskrit dan datanya diperoleh sebagai hasil perhitungan / penjumlahan (tipe data qualitatif). sebagai contoh, menghitung proporsi cacat atau jumlah cacat dari pengujian kuat tekan beton (kg/cm2). diagram kontrol x-s chart, x-r chart digunakan apabila tipe data yang diamati adalah variabel dengan subgroup sampel lebih dari 1. diagram kontrol variabel memantau tingkat rata-rata kualitas melalui x chart, sedangkan pemantauan variabilitas kualitas dapat menggunakan pengukuran range (rentang) melalui r chart atau pengukuran standar deviasi melalui s chart. hal 113 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 formula dari x chart, r chart dan s chart adalah sebagai berikut : x chart :ucl = x� + a2.s� ;garis pusat = x� ; lcl = x� a2.s�, kemudian r chart :ucl = d4.r�; garis pusat = r� ; lcl = d3.s�, dan s chart :ucl = d4.s�; garis pusat = s� ; lcl = d3.s� .......(6) sumber : c.tri hendradi (2006) x�= rata-rata keseluruhan subgroup. r�= range (rentang) keseluruhan subgroup. s�= standar deviasi keseluruhan subgroup. a2, d3, d4= konstanta yang besarnya dipengaruhi olehjumlah pengamatan sampel dalam subgroup. grafik kendali i-mr chart (individu moving range chart) digunakan apabila pada kondisi tertentu monitoring proses yaitu tingkat proses dan variasi proses hanya dilakukan pada unit individual secara bersamaan. kondisi ini terjadi jika (1) tingkat produksi lambat, (2) adanya perbedaan hasil pengukuran akibat kesalahan analisis, (3) pada manufaktur produk memiliki variabilitas yang kecil. i-mr chart terdiri dari 2 diagram kontrol, yaitu (1) individual chart dan (2) moving range chart. individual chart merupakan diagram kontrol rata-rata individual. diagram ini menggunakan moving range antar rata-rata yang berurutan dalam menentukan batas ucl dan lcl. sedangkan moving range chart merupakan diagram kontrol rata-rata subgroup. menggunakan moving range chart untuk menghilangkan variasi withinsampel.formula dari individual moving range chart adalah : imr chart : ucl = x� + 3 ������� �� ; garis pusat = x� ; lcl = x� 3 ������� �� .......(7) sumber : c.tri hendradi (2006) x� = rata-rata pengukuran. mr����� = rata-rata rentang bergerak (moving range), rentang bergerak merupakan nilai selisih rentang 2 titik berturutan. d2 = konstanta yang besarnya dipengaruhi oleh rentangbergerak (moving range). hal 114 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 3. analisa dan pembahasan tabel 1: statistik deskriptif nilai kuat tekan beton 241 sampel descriptive statistics n range minimum maximum sum mean std. deviation nilai test kuat tekan beton 241 55.00 232.00 287.00 63574.00 263.7925 9.86484 valid n (listwise) 241 sumber : analisis peneliti gambar 1: histogram nilai kuat tekan beton 241 sampel gambar 2: normalitas data nilai kuat tekan beton 241 sampel hal 115 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 grafik kendali (control chart) gambar 3: grafik i chart nilai test kuat tekan beton 241 sampel sumber : analisis peneliti gambar 4: grafik xbar-r nilai test kuat tekan beton 241 sampel sumber : analisis peneliti gambar 5: grafik xbar-s nilai test kuat tekan beton 241 sampel sumber : analisis peneliti observation in d iv id u a l v a lu e 241217193169145121977349251 290 280 270 260 250 240 230 _ x=263,79 ucl=289,00 lcl=238,58 1 i chart of c1 xbar-r chart of c1 sample s a m p le r a n g e 12110997857361493725131 40 30 20 10 0 _ r=10,33 u c l=33,74 lc l=0 11 xbar-s chart of c1 sample s a m p le s td e v 12110997857361493725131 30 20 10 0 _ s =7,30 u c l=23,86 lc l=0 11 hal 116 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 gambar 6: grafik i-mr nilai test kuat tekan beton 241 sampel sumber : analisis peneliti gambar 4.18 capability process test kuat tekan beton 241sampel sumber : analisis peneliti 4. kesimpulan dan saran 4.1 kesimpulan nilai cp= 0,93, cpk= 0,81, dan cpm= 0,81 mendekati angka 1, mengindikasikan proses memiliki kapabilitas kurang cukup mampu menghasilkan standart mutu yang diharapkan. nilai ppm < lsl = 876,78 artinya dari satu juta sampel yang diproduksi terdapat 876,78 (10,21%) sampel kuat tekan rata-ratanya kurang dari standard mutu yang diharapkan (<263 kg/cm2). i-mr chart of c1 o bser vation m o v in g r a n g e 241217193169145121977349251 40 30 20 10 0 __ m r=9,48 u c l=30,97 lc l=0 1 1 11 285,0277,5270,0262,5255,0247,5240,0232,5 lsl target usl p rocess d ata s ample n 241 s td ev (within) 9,865 s td ev (o v erall) 9,90707 ls l 232 target 263 u s l 287 s ample m ean 263 p otential (within) c apability o v erall c apability p p 0,93 p p l 1,04 p p u 0,81 p pk 0,81 c pm c p 0,81 0,93 c p l 1,05 c p u 0,81 c pk 0,81 o bserv ed p erformance p p m < ls l 0,00 p p m > u s l 0,00 p p m total 0,00 e xp. within p erformance p p m < ls l 837,78 p p m > u s l 7490,39 p p m total 8328,17 e xp. o v erall p erformance p p m < ls l 876,78 p p m > u s l 7706,82 p p m total 8583,60 w ithin o v erall process capability of c1 hal 117 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 diperiksa dengan 6σ (sig sigma) = 6x9,865 = 59,1kg/cm2> (usl – lsl) = 55kg/cm2, proses memiliki kapabilitas hampir tidak cukup. diperiksa dengan nilai-z (transformasi z atau zvalue)terdapat 90,65% data berada antara 250 kg/cm2 dan 300 kg/cm2 (atau 9,35% berada < 250 kg/cm2). serta memiliki probability of defect sebesar 0,83%, artinya probability (sig) = 0,0083 ≤ 0,05 atau 5% , dapat disimpulkan bahwa nilai hasil test kuat tekan beton 241 sampel tersebut masih memenuhi standart kinerja mutu yang diharapkan meskipun proses memiliki kapabilitas hampir tidak cukup. 4.2 saran 1) apabila penyelenggara proyek merasa bahwa indeks kapabilitas proses (cp, cpk, cpm) tersebut sudah terpenuhi, maka kinerja proyek konstruksi yang dihasilkan akan semakin baik pula. 2) dalam rangka penjaminan mutu konstruksi yang dihasilkan(ukuran kinerja proyek) maka setiap pelaksanaan kegiatan proyek terlebih dulu harus membuat rencana mutu (tepat mutu, tepat waktu, tepat biaya).terdapat 2 jenis rencana mutu yaitu rencana mutu proyek (rmp) yang disusun oleh pejabat pembuat komitmen (ppk), dan rencana mutu kontrak (rmk) yang disusun oleh kontraktor. sedangkan konsultan selain menyusun rmk (terkait dokumen kontrak), juga menyusun standard operation procedure (sop), instruksi kerja dan daftar simak atau daftar periksa yang digunakan. daftar pustaka [1] ervianto wi, 2002, teori aplikasi manajemen proyek konstruksi, andi, yogyakarta. yogyakarta. [2] l.wahyudi, syahril a.r, 1999, struktur beton bertulang (sni t-15-1991-03), gramedia, jakarta. [3] paul nugraha, 2007, teknologi beton dari material, pembuatan, ke beton kinerja tinggi, lppm univ. kristen petra, surabaya. [4] pujo aji, rachmat purwono, 2010, pengendalian mutu beton, its press, surabaya. [5] suharto iman, 1999, manajemen proyek dari konseptual sampai operasional jilid i, ii, erlangga, jakarta. [6] tri hendradi, 2006, statistik six sigma dengan minitab, andi, yogyakarta. hal 118 ukarst vol.1, no.2 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 [7] suratno. (2009). pengaruh perbedaan tipe fungsi keanggotaan pada pengendali logika fuzzy terhadap tanggapan waktu sistem orde dua secara umum. 1–10. [8] wardhani, l. k., & haerani, e. (2011). analisis pengaruh pemilihan fuzzy membership function terhadap output sebuah sistem fuzzy logic. sntiki iii 2011, 326–333. [9] mustaqim, m. i., marliansyah, j., rahmi, a., sipil, m. t., teknik, f., pengaraian, pradana, s. a. (2013). tugas akhir, (pembimbing i), 2506. [10] sni 15-2049-2004.jakarta: “semen portland.” departemen pekerjaan umum. badan standardisasi nasional. (2004). hal 119 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 pemanfaatan serat ijuk sebagai material campuran dalam beton untuk meningkatkan kemampuan beton menahan beban tekan studi kasus: pembangunan homestay singonegaran kediri sigit winarto dosen, teknik sipil, universitas kadiri e-mail: sigit_winarto@unik-kediri.ac.id abstrak pada penelitian beton dengan menggunakan campuran serat ijuk ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kuat tekan, perubahan berat beton, proporsi ijuk yang optimum untuk menghasilkan kuat tekan, meskipun melalui konversi hari. dimana pada pembuatan dan penelitian beton ini dilaksanakan di laboratorium bahan dan konstruksi dinas bina marga dan pengairan, trenggalek. hasil penelitian ini menghasilkan beton serat ijuk yang terdiri dari bahan yang memenuhi kriteria untuk membuat beton serat ijuk, yaitu: pasir yang mempunyai berat jenis = 2.524; berat satuan = 2.586 gram/cm3; kadar air = 4.317% dan gradasi pasir yang termasuk yaitu pasir halus jenis sedang. proporsi ijuk yang optimum untuk menghasilkan kuat tekan adalah pada penggunaan serat ijuk 2,5% dengan berat volume ijuk 125 gr, dimensi serat ijuk 0,5 mm dengan panjang 15 cm. perubahan berat beton yang terjadi pada beton berserat ijuk menjadi lebih ringan, yaitu 2.243 gr/cm. kekuatan beton yang dihasilkan setelah di uji tekan melalui konversi 28 hari menjadi 21 hari yaitu 226 kg/cm2. dari hasil penelitian tersebut, maka dapat disimpulkan untuk penelitian selanjutnya sebaiknya dicoba menggunakan persentase serat ijuk yang lebih tinggi atau bervariasi tetapi campurannya tetap supaya diketahui peningkatan beban tekan yang maksimal akibat penambahan ijuk. kata kunci: serat ijuk, kualitas campuran beton, kekuatan tekan. 1. pendahuluan latar belakang beton merupakan bahan konstruksi yang sangat penting dan paling dominan digunakan pada struktur bangunan. beton sangat diminati karena bahan ini merupakan bahan konstruksi yang mempunyai banyak kelebihan antara lain, mudah dikerjakan dengan cara mencampur semen, agregat, air, dan bahan tambahan lain bila diperlukan dengan perbandingan tertentu. kelebihan beton yang lain adalah, ekonomis (dalam pembuatannya menggunakan bahan dasar lokal yang mudah diperoleh), dapat dibentuk sesuai dengan kebutuhan yang dikehendaki, mampu menerima kuat tekan dengan baik, tahan aus, rapat air, awet dan mudah perawatannya, maka beton sangat populer dipakai baik untuk struktur– struktur besar maupun kecil. untuk itu bahan konstruksi ini dianggap sangat penting untuk terus dikembangkan. salah satu usaha pengembangannya ialah dengan cara memperbaiki sifat dari kelemahan beton. dalam penelitian ini peneliti mencoba mengaplikasikan serat ijuk untuk pembuatan beton serat ijuk, yaitu dengan penambahan serat ijuk. dengan penambahan serat ijuk ke dalam adukan beton diharapkan dapat menambah kekuatan beton dalam meningkatkan kemampuan menahan beban tarik. hal 1 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 2. metode penelitian 2.1 bahan penyusun beton serat semen portland semen portland adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan cara menghaluskan klinker yang terutama terdiri dari silikat-silikat kalsium yang bersifat hidrolis dengan gips sebagai bahan tambahan (pubi, 1982). fungsi semen portland adalah untuk merekatkan butir-butir agregat agar terjadi suatu massa yang kompak dan padat, selain itu juga untuk mengisi rongga-rongga diantara butirbutir agregat (tjokrodimuljo, 1996). air air dalam adukan di perlukan untuk bereaksi dengan semen dan melumasi butiran agregat agar mudah dikerjakan dan dipadatkan. pada dasarnya jumlah air yang diperlukan untuk proses hidrasi hanya kira-kira 25% dari berat semennya. penambahan jumlah air akan mengurangi kekuatan setelah mengeras (tjokrodimuljo, 1996). agregat halus syarat agregat halus menurut pbi 1971 (ni-2) pasal 33, syarat-syarat agregat halus (pasir) adalah sebagai berikut : 1. agregat halus terdiri dari butiran-butiran tajam dan keras, bersifat kekal dalam arti tidak pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca, seperti panas matahari dan hujan. 2. agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% terhadap jumlah berat agregat kering. apabila kandungan lumpur lebih dari 5%, agregat halus harus dicuci terlebih dahulu. 3. agregat halus tidak boleh mengandung bahan–bahan organik terlalu banyak. hal demikian dapat dibuktikan dengan percobaan warna dari abrams harder dengan menggunakan larutan naoh. 4. agregat halus terdiri dari butiran-butiran yang beranekaragam besarnya dan apabila diayak dengan susunan ayakan yang ditentukan dalam pasal 3.5 ayat 1 (pbi 1971), harus memenuhi syarat sebagai berikut : a. sisa di atas ayakan 4 mm, harus minimum 2% berat. b. sisa di atas ayakan 1 mm, harus minimum 10% berat. c. sisa di atas ayakan 0,25 mm, harus berkisar antara 80%-90% berat. pasir di dalam campuran beton sangat menentukan kemudahan pengerjaan (workability), kekuatan (strengh), dan tingkat keawetan (durability) dari beton yang dihasilkan. untuk memperoleh hasil beton yang seragam, mutu pasir harus benarbenar dikendalikan. oleh karena itu, pasir sebagai agregat halus harus benar-benar memenuhi gradasi dan persyaratan yang ditentukan. hal 2 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 tabel 2.2 distribusi ukuran butiran agregat halus lubang ayakan (mm) daerah i daerah ii daerah iii daerah iv 4,8 90-100 90-100 90-100 90-100 2,4 60-95 75-100 85-100 95-100 1,2 30-70 55-90 75-100 90-100 0,6 15-34 35-59 60-79 80-100 0,3 5-20 8-30 12-40 15-50 0,15 0-10 0-10 0-10 0-15 (sumber : tjokrodimuljo, 1996) ket : daerah i= pasir kasar daerah ii= pasir agak kasar daerah iii= pasir agak halus daerah iv = pasir halus agregat kasar pengertian agregat kasar agregat kasar adalah agregat yang ukuran butirannya lebih dari 5 mm (pbi 1971). agregat kasar untuk beton dapat berupa kerikil atau batu pecah. kerikil adalah bahan yang terjadi sebagai hasil desintegrasi alami dari batuan-batuan dan berbentuk agak bulat serta permukaannya licin. sedangkan batu pecah (kricak) adalah bahan yang diperoleh dari batu yang digiling (dipecah) menjadi pecahanpecahan berukuran 5-70 mm. tabel 2.3 distribusi ukuran butiran agregat kasar (tjokrodimuljo,1996) persen butiran yang lewat ayakan besar butir maks. 40 mm besar butir maks. 20 mm 40 95-100 100 20 30-70 95-100 10 okt-35 25-55 4,8 0-5 0-10 serat serat ijuk yaitu serabut berwarna hitam dan liat, yang terdapat pada bagian pangkal dan pelepah daun pohon aren (soeseno, 1992 dalam jatmiko, 1999). pohon aren menghasilkan ijuk pada 4-5 tahun terakhir. serat ijuk yang memuaskan diperoleh dari pohon yang sudah tua, tetapi sebelum tandan (bakal) buah muncul (sekitar umur 4 tahun), karena saat tandan (bakal) buah muncul ijuk menjadi kecil-kecil dan jelek. ijuk yang dihasilkan pohon aren mempunyai sifat fisik diantaranya : berupa helaian benang (serat) berwarna hitam, berdiameter kurang dari 0,5 mm, bersifat kaku dan ulet (tidak mudah putus). ijuk bersifat lentur dan hal 3 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 tidak mudah rapuh, sangat tahan terhadap genangan asam termasuk genangan air laut yang mengandung garam (sunanto, 1993 dalam wiyadi, 1999). dengan karakteristik ijuk seperti ini maka diharapkan dapat memperbaiki sifat kurang baik beton, baik secara kimia maupun fisika. salah satunya yaitu sebagai bahan campuran pembuatan beton serat ijuk. pengerjaan beton menurut sni.0447-81 (dwiyono, 2000) pembuatan beton serat ijuk dapat dilakukan dengan 2 cara sederhana yaitu secara manual (tanpa dipres) dan secara mekanik (dipres). pembuatan beton secara mekanik tentu saja hasilnya akan lebih baik jika dibandingkan dengan proses pembuatan secara manual. proses pembuatan beton serat ijuk (dwiyono, 2000) meliputi : kekuatan beton yang diproduksi di lapangan cenderung bervariasi dari masingmasing adukan. besar variasi tergantung berbagai faktor, antara lain : a. variasi mutu bahan (agregat) dari satu adukan ke adukan berikutnya. b. variasi cara pengadukan. c. stabilitas pekerja. kuat tekan beton kekuatan tekan beton ditentukan oleh pengaturan dan perbandingan semen, agregat dan berbagai jenis campuran. perbandingan air terhadap semen faktor utama dalam penentuan kuat tekan beton (harianja, 1990). nilai kuat tekan beton didapat melalui tata cara pengujian struktur, menggunakan mesin uji dengan cara memberikan beban tekan bertingkat dengan kecepatan peningkatan beton tertentu atas benda uji sampai hancur. kuat tekan masingmasing benda uji ditentukan oleh tegangan tertinggi ( ) yang dicapai benda uji pada umur 28 hari akibat beban tekan selama percobaan. besarnya tegangan yang terjadi dapat dicari dengan persamaan (sumber : astm c 39-72) : φ = p ...................................................... ( 2.2 ) a dengan : φ = kuat tekan ( kg/cm2 ) p = beban maksimum ( kg ) a = luas bidang tekan ( cm2 ) nilai kuat tekan beton beragam sesuai dengan umurnya dan hasil nilai kuat tekan beton ditentukan pada waku berumur 28 hari. 2.2 metodologi agregat halus ( pasir ) pemeriksaan yang dilakukan terhadap pasir meliputi : pemeriksaan berat jenis (specific gravity). tujuan : untuk menentukan berat jenis dan penyerapan air dalam pasir. material benda yang akan diuji adalah pasir yang lewat saringan no. 4 mm, yang diperoleh dari alat pembagi contoh sebanyak 1000 gram dam benda uji dibuat dalam keadaan jenuh kering permukaan (saturated surface dry, ssd), (sumber hal 4 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 : sni 03-19691990). pemeriksaan berat satuan unit (unit weight). tujuan : untuk menentukan berat satuan pasir lepas dan berat satuan pasir padat yang berfungsi untuk mengkonversi satuan berat ke satuan volume atau sebaliknya (sumber : sni 03-1948-1998). pemeriksaan gradasi pasir (sieve analysis). tujuan : untuk menentukan gradasi modulus kehalusannya. bahan yang digunakan untuk agregat halus adalah pasir dalam kondisi kering muka jenuh (ssd) (sumber sni 03 1968 1960). pemeriksaan kadar lumpur pasir (mud content). tujuan : untuk mengetahui kadar lumpur yang terkandung dalam pasir, apakah sesuai dengan yang disyaratkan dalam pbi 1971 (dalam, achyani 2004), yaitu pasir tidak boleh mengandung kadar lumpur lebih dari 5%. apabila kadar lumpur lebih dari 5% harus dicuci. menghitung kadar lumpur dengan rumus (sumber : sni 03 4141 – 1996) : kadar lumpur = b1 b2 x100% ... (3.5) b2 pemeriksaan kadar air dalam pasir (surface moisture content). tujuan : untuk mengetahui banyaknya air yang terkandung dalam pasir yang dipakai pada campuran beton. cara pemeriksaan kadar air sebagai berikut : 1. cawan ditimbang dan dicatat (w1). 2. benda uji dimasukkan kedalam cawan dan beratnya ditimbang (w2). 3. berat benda uji dihitung (w3 = w2 – w1). 4. benda uji dikeringkan berikut dengan cawan-cawan dalm oven dengan suhu (105 + 5)o c, sampai beratnya konstans. 5. berat cawan dan benda uji kering oven dihitung (w5 = w4 – w1). perhitungan nilai kadar air dengan mengunakan rumus (sumber : sni 031971–1990) w3 -w5 kadar air agregat = x100% ............................................. (3.6) w5 agregat kasar berupa batuan alami yang dianbil dari sungai brantas kediri. pemeriksaan yang dilakukan terhadap batu pecah meliputi : hal 5 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 pemeriksaan berat jenis (specific gravity) dan penyerapan air (absorption). tujuan : untuk menentukan berat jenis dan penyerapan air dalam batu pecah. agregat kasar atau batu pecah yang akan di uji sebanyak 5000 gram (sumber : sni 03-1969-1990). pemeriksaan gradasi batu pecah (sieve analysis). tujuan : untuk menentukan gradasi dan modulus kehalusannya. bahan agregat kasar yang digunakan mempunyai ukuran butir maksimal 40 mm dan minimal 5 mm. untuk pembuatan benda uji, gradasi agregat kasar direncanakan bervariasi pada setiap adukan dengan mix design (sumber : sni 03 1968 – 1960). persentase berat benda uji yang tertahan di atas saringan dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut (sumber : sni 03 1968 – 1960) : a= a1 x100%...........................................................(3.10) b1 pemeriksaan keausan agregat dengan mesin los angeles (abrasi). tujuan : untuk menentukan ketahanan agregat kasar terhadap keausan mempergunakan mesin los angeles (sumber : sni 03 2417 1991). keausan tersebut dinyatakan dengan perbandingan antara berat bahan aus lewat saringan no. 12 terhadap berat semula dalam persen. saringan no. 12 mm dan saringan lainnya seperti tabel 3.1 berikut ini : ukuran saringan gradasi dan berat benda uji (gram) lewat (mm) tertahan (mm) a b c d e f g 76,2 63,5 2500 63,5 50,8 2500 50,8 38,1 2500 5000 38,1 25,4 1250 5000 5000 25,4 19,05 1250 5000 19,05 12,7 1250 2500 12,7 9,51 1250 2500 9,51 6,35 2500 6,35 4,75 2500 4,75 2,36 5000 jumlah bola 12 11 8 6 12 12 12 berat bola (gr) 5000 4584 3330 2500 5000 5000 5000  25  25  25  25  25  25  25 3. hasil dan pembahasan analisis gradasi agregat agregat halus hasil gradasinya dapat dilihat pada tabel 4.1 tabel 4.1 gradasi agregat halus sieve analysis (sni 03 1968 1960) hal 6 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 material : agregat halus berat sample : 774 gram berat sample : 852 gram ieve no. berat tertahan komulatif rata rata ieve no. berat tertahan komulatif berat tertahan tertahan . lolos berat tertahan tertahan . lolos 3/8 4 8 16 30 50 100 200 54 121 142 128 141 126 103 54 175 317 445 586 712 755 6,92 22,55 40,94 57,46 75,73 91,98 97,53 100 93,08 77,45 59,06 42,54 24,27 8,02 2,47 100 93,16 77,48 59,00 42,26 24,15 7,98 2,61 3/8 4 8 16 30 50 100 200 58 134 158 144 153 137 44 5 192 35 49 647 78 82 6,76 22,49 41,06 58,02 75,97 92,06 97,25 100 93,24 77,51 58,94 41,98 24,03 7,94 2,75 agregat kasar selain agregat halus dilakukan juga analisis gradasi terhadap agaregat kasar yang berupa batu pecah normal dan menghasilkan modulus halus butir sebesar 1,14. modulus halus butir kerikil sendiri kecil maka agregat kasar didominasi yang berdiameter kecil (type gradasi agregat kasar jenis sedang). adapun hasil pemeriksaan gradasi agregat kasar dapat dilhat pada tabel 4.2 material : agregat kasar berat sample : 1.985 gram berat sample : 2000 gram tabel 4.2 gradasi agregat kasar sieve analysis (sni 03 1968 1960) ieve no. berat tertahan komulatif rata rata ieve no. berat tertahan komulatif berat. tertahan tertahan . lolos berat. tertahan tertahan . lolos 1 1/2 1" 3/4 3/8 4 8 16 19 1.651 229 26 39 19 1.670 1.899 1.924 1.964 0,94 84,11 95,65 96,95 98,92 100 100 99,06 15,89 4,35 3,05 1,08 100 100 99,10 16,04 4,32 3,18 1,14 1 1/2 1" 3/4 3/8 4 8 16 17 1.659 238 20 42 17 1.676 1.914 1.934 1.976 0,86 83,81 95,71 96,69 98,80 100 100 99,14 16,19 4,29 3,31 1,20 menentukan daerah gradasi hasil campuran pasir dan batu pecah normal untuk mendapatkan gradasi campuran maka dicari persentase pasir terhadap campuran dan persentase kerikil terhadap campuran. dari hasil pehitungan trial and error didapat 40 % untuk pasir dan 60 % untuk kerikil. persentase inilah yang akan digunakan untuk perhitungan gradasi campuran. hal 7 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 tabel 4.3 gradasi agregat campuran pasir terhadap campuran kerikil terhadap campuran lubang ayakan (mm) berat butir yang lewat b*p c*k d+e batas atas gradasi campuran batas bawah gradasi campuran pasir (%) kerikil (%) p k a b c d e f 0.4 0.6 40 100 100 40 60 100 2 0 0.4 0.6 20 100 33.71 40 20.23 60.23 11 7 0.4 0.6 10 92.42 21.4 36.97 12.84 49.81 17 12 0.4 0.6 4.8 66.31 14.88 27.32 8.93 36.25 24 17 0.4 0.6 2.4 60.8 9.74 24.32 5.84 30.16 31 25 0.4 0.6 1.2 52.12 0 21.25 0 21.25 40 32 0.4 0.6 0.6 34.23 0 14.09 0 14.09 52 44 0.4 0.6 0.3 24.14 0 10.05 0 10.05 67 59 0.4 0.6 0.15 1.443 0 0.577 0 0.577 100 100 menghitung kadar pasir terhadap kerikil (w) w = p / k w = 40 / 60 * 100% kontrol mhb campuran 5–6.5 w = (mhb kerikil mhb campuran) / (mhb campuran mhb pasir)* 100% 22.40 = (5.55 – c) / (c-3.36) * 100% → 22.40 c – 80.64 = 555 – 100 c c = 5.19 berdasarkan tabel 4.3 tersebut, dapat dilihat bahwa gradasi agregat campuran yang sudah masuk dalam batas daerah gradasi yang di syaratkan. artinya persentase pemakaian 40 % pasir dan 60 % batu pecah normal dalam campuran sudah memenuhi untuk perhitugan campuran adukan beton atau mix design. dengan menggunakan persentase pasir sebesar 40 % terhadap komposisi campuran gambar 4.3. gradasi pasir dan kerikil rencana terhadap gradasi campuran pemeriksaan serat ijuk sebelum digunakan sebagai bahan tambah pada campuran beton, maka serat ijuk yang digunakan terlebih dahulu diperiksa. pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan berat volume. pada penelitian kali ini proporsi serat ijuk yang diambil adalah 2,5% dengan berat volume 125 gr, dan 5,0% dengan berat volume 250 gr. hal 8 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hasil pengujian slump pengujian slump pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kelecakan pada campuran adukan beton. dalam penelitian ini nilai slump rencana yang digunakan berkisar antara 60 mm sampai 180 mm untuk semua campuran beton. dari pengujian slump yang telah dilakukan dari masing-masing proporsi campuran serat ijuki didapatkan nilai slump, hasil pengujian slump dapat dilihat pada tabel 4.2 dibawah ini. tabel 4.4 hasil pengujian slump masing-masing proporsi no proporsi serat slump (mm) 1 2 3 0 % 2,5 % 5,0 % 135 100 97 hasil pengujian kuat tekan, berat beton, dan proporsi serat a. pengaruh kuat tekan beton dengan menggunakan campuran serat ijuk. hal ini menyebabkan kuat tekan beton menjadi lebih baik, meskipun umur beton yang menggunakan serat ijuk pada umur 21 hari saat uji tekan, yang dikonversi dari umur 28 hari. yaitu terjadi tegangan tekan hancur pada 226 kg/cm2. b. perubahan berat beton yang terjadi pada beton berserat ijuk menjadi lebih ringan, yaitu 2.243 gr/cm. c. proporsi ijuk yang optimum untuk menghasilkan kuat tekan adalah pada penggunaan serat ijuk 2,5% dengan berat volume ijuk 125 gr. hal tersebut di atas dicantumkan pada tabel hasil perhitungan pengujian kuat tekan, berat beton, dan proporsi serat ijuk. tabel 4.5 hasil pengujian kuat tekan, berat beton, dan proporsi serat. no. perbandingan campuran beton ambahan ijuk waktu pengecoran berat isi (gr/cm) berat silinder beton (gr) beban maksimum (kg) luas penampang (cm2) umur benda uji (hari) tegangan tekan hancur (kg/cm2) konversi umur 28 hari (kg/cm2) semen pasir batu pecah air 1 2 3 4 5 6 10 10 10 10 10 10 21,97 21,97 21,97 21,97 21,97 21,97 33,39 33,39 33,39 33,39 33,39 33,39 6,36 6,36 6,36 6,36 6,36 6,36 % % % 2,5 % 2,5 % 5 % 02-02-2010 02-02-2010 02-02-2010 02-02-2010 02-02-2010 02-02-2010 2,308 2,311 2,302 2,320 2,312 2,294 12.238 12.254 12.208 12.305 12.260 12.166 30.000 43.000 50.000 40.000 39.000 38.000 176,79 176,79 176,79 176,79 176,79 176,79 7 14 28 21 21 21 170 243 283 226 221 215 261 276 283 257 251 244 hal 9 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 4. kesimpulan kesimpulan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya maka dapat diambil kesimpulan hal-hal sebagai berikut: 1. kekuatan beton yang dihasilkan setelah di uji tekan melalui konversi 28 hari menjadi 21 hari yaitu 226 kg/cm2. 2. perubahan berat beton yang terjadi pada beton berserat ijuk menjadi lebih ringan, yaitu 2.243 gr/cm 3. dimensi serat ijuk yaitu 0,5 mm dengan panjang 15 cm. proporsi ijuk yang optimum untuk menghasilkan kuat tekan adalah pada penggunaan serat ijuk 2,5% dengan berat volume ijuk 125 gr. 4. beton dengan penambahan serat ijuk ini cocok untuk bangunan rumah tinggal, gedung, jembatan, serta bangunan bergerak lainnya. karena mutu beton menggunakan serat ijuk setelah di uji memenuhi persyaratan beban tekan minimalnya dari persyaratan sni 0447-81 untuk golongan mutu ii. daftar pustaka [1] anonim, 1960. pemeriksaan dan pengujian susunan butiran agregat halus dan kasar (sni 0319681960). departemen pekerjaan umum. [2] anonim, 1970. pemeriksaan dan pengujian berat jenis dan penyerapan agregat halus (sni 03-19701990). departemen pekerjaan umum. [3] anonim, 1969. pemeriksaan dan pengujian berat jenis dan penyerapan agregat kasar (sni 03-19691990). departemen pekerjaan umum. [4] anonim, 2004. pemeriksaan sand equivalent agregat halus (aashto t 17686 / astm d 2419-79). [5] anonim, 1991. pemeriksaan dan pengujian keausan (los angeles abration test) (sni 03-24171991). departemen pekerjaan umum. [6] anonim, 1998. pemeriksaan dan pengujian berat isi agregat halus dan kasar (sni 03-1948-1998). departemen pekerjaan umum. [7] anonim, 1990. pemeriksaan berat isi semen (sni 15-1854-1990/ni 20). departemen pekerjaan umum. [8] anonim, 1991. berat jenis semen (sni 15-2531-1991). departemen pekerjaan umum. [9] anonim, 1971. kadar air agregat halus dan agregat kasar (sni 03-1971 1990). departemen pekerjaan umum. [10] anonim, 1990. tata cara pembuatan rencana campuran beton normal (sk sni t-15-199003), departemen pekerjaan umum. [11] mulyono, t., 2003. teknologi beton, andi, yogyakarta [12] candra, a. i., yusuf, a., & f, a. r. (2018). studi analisis daya dukung pondasi tiang pada pembangunan gedung lp3m. 3(2), 166–171 hal 10 pengaruh limbah pabrik gula molase sebagai bahan tambah (admixture) kuat tekan beton k-175 dengan menggunakan pasir lokal pasir jombang. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 judul artikel [book antiqua, 14 pt, bold] s. a. al-hasan 1 , s. d. hartantyo 2 . 1,2 fakultas teknik,universitas islam lamongan. email: susiloabadi@gmail.com a r t i c l e i n f o a b s t r a c t article history : artikel masuk : 05-03-2020 artikel revisi : 12-03-2020 artikel diterima : 13-03-2020 advances in technology have had an impact on the development of construction. concrete is one material that is widely used in construction. improving the quality of concrete is the main topic of the researchers to obtain concrete that is suitable for their needs and economically. molasses is a waste that can be used as concrete added material because it has content that is considered capable of improving the quality of concrete. the purpose of this study is to determine the effect of adding molasses to the compressive strength of k175 concrete using local sand with the method used is the experimental method and the study of previous research theories. variation in the percentage of the addition of molasses used 0%, 0.4%, and 0.5% by weight of cement. the specimens used were cylindrical as many as 12 specimens. compressive strength testing is carried out at seven days of concrete. the test results showed the highest compressive strength was obtained with a percentage increase in molasses as much as 0.4% with a compressive strength value of 18.50 mpa and decreased compressive strength at the addition of 0.5%. keywords : concrete, compressive strength, non-structural k-175, molasses. style ieee dalam mensitasi artikel ini : [1] a. seti and nadia, “analisis pengaruh beton dengan bahan admixture naphtalene dan polycarboxilate terhadap kuat tekan beton normal,”2012, konstruksia, vol. 3, no. 2, pp. 33 – 40. a b s t r a k kemajuan dalam bidang teknologi berdampak pada berkembangnya pembangunan bidang konstruksi. beton merupakan salah satu material yang banyak digunakan dalam konstruksi. perbaikan kualitas beton menjadi topik utama para peneliti untuk mendapatkan beton yang sesuai dengan kebutuhan dan ekonomis. molase merupakan limbah yang dapat digunakan sebagai bahan tambah beton karena memiliki kandungan yang dianggap mampu meningkatkan kualitas beton. tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh penambahan limbah tetes tebu (molase) terhadap kuat tekan beton k175 menggunakan pasir lokal dengan metode yang digunakan yaitu metode eksperimental dan kajian teori penelitian terdahulu. variasi persentase penambahan molase yang digunakan 0%, 0,4%, dan 0,5%, dari berat semen. benda uji yang digunakan tersedia online di http://ojs.unik-kediri.ac.id/index.php/ukarst/index u karst issn (online) 2581-0855 susilo abadi al-hasan / ukarst vol 4 no. 1 tahun 2020 issn (print) 2579-4620 pengaruh limbah pabrik gula molase sebagai bahan tambah (admixture) kuat tekan beton k-175 dengan menggunakan pasir lokal pasir jombang http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v4i1 mailto:susiloabadi@gmail.com ukarst : jurnal universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 4 nomor 1 tahun 2020 issn (print) 2502-9304 pengaruh limbah pabrik gula molase sebagai bahan tambah (admixture) kuat tekan beton k-175 dengan menggunakan pasir lokal pasir jombang. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 berbetuk silinder sebanyak 12 benda uji. pengujian kuat tekan dilaksanakan pada umur beton 7 hari. hasil pengujian menunjukkan kuat tekan tertinggi diperoleh dengan prosentase penambahan molase sebanyak 0.4% dengan nilai kuat tekan 18.50 mpa dan mengalami penurunan kuat tekan pada penambahan 0.5%. 1. pendahuluan dalam meningkatkan kemajuan teknologi di indonesia, pemakaian beton sebagai bagunan semakin meningkat. [1] beton merupakan campuran yang tersusun dari pengerasan suatu campuran tertentu dari air, semen, agregat kasar (batu krikil), dan agregat halus (pasir).[2][3] sedangkan definisi beton dari segi teori dpu-lpmb adalah campuran antara semen portland atau semen hidrolik lain, agregat halus, agregat kasar, dan air yang ditambah dengan atau tanpa tambahan pembentuk masa padat. penggunaan material beton sudah tidak asing lagi dalam bidang teknik sipil. [4] hampir setiap bangunan menggunakan beton sebagai struktur utama atau pelengkap baik itu jembatan, bangunan, maupun jalan. [5] kekuatan tekan beton menjadi parameter dalam penentuan kualitas beton. [6][7] kualitas beton tergantung dari campuran dan proporsi material penyusunnya, karena beton adalah material yang komposit. [8][9] salah satu cara untuk meningkatkan kualitas beton dilakukan dengan penambahan limbah molase (tetes tebu) yang dihasilkan dari limbah pabrik gula kedalam campuran adukan beton dengan dosis tertentu yang berfungsi untuk meningkatkan mutu pada beton. molase (tetes tebu) dapat digunakan sebagai bahan tambah untuk meningkatkan kualitas mutu pada beton. beton yang ditambah dengan molase (tetes tebu) dikenal dengan istilah beton polimer. penemu beton polimer, prof. ir. h. djuanda suraatmadja menegaskan bahwa beton polimer adalah suatu zat kimia cair yang terdiri dari molekul-molekul yang besar dengan karbon dan hydrogen sebagai molekul utama. adapun bahan polimer beton yang digunakan adalah molase hal ini bertujuan untuk meningkatkan kekuatan tekan pada beton. molase (tetes tebu) merupakan limbah hasil sisa kristalisasi gula yang tidak dapat menjadi gula kembali hanya dengan proses konvensional.[10] limbah cair molase (tetes tebu) mengandung 32% sukrosa, 14%glukosa, dan 16% frukosa. [11] sehingga berpotensi untuk digunkan sebagai bahan tambah beton. glukosa akan menghambat konsumsi gypsum dan pembentukan ettringite sehingga menunda bereaksi dengan air.[12] 15 26 pengaruh limbah pabrik gula molase sebagai bahan tambah (admixture) kuat tekan beton k-175 dengan menggunakan pasir lokal pasir jombang. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 limbah molase (tetes tebu) diharapkan dapat menjadikan manfaat bagi kontruksi yang ada di indonesia, karena limbah molase (tetes tebu) dapat memperlambat perkerasan beton dan juga meningkatkan mutu kuat tekan pada beton. [13] banyaknya proyek kontruksi dalam skala besar menjadikan beton siap pakai (readymix) sangat dibutuhkan di indonesia, pengiriman beton readymix memerlukan proses yang begitu lama ketempat tujuan sehingga beton mengalami pengerasan nilai slump tidak sesui dengan standar, maka diperlukan bahan tambah (admixture) guna untuk memperbaiki sifat beton, baik dalam teknik pencampuran beton site mix maupun readymix. [14] langkah penambahan berupa bahan kimia ini sangat penting karena dalam kegiatan pelaksanaan sering terjadi kendala. beberapa kendala biasanya berupa penundaan kontruksi, kesulitan transportasi, maupun adanya panas hidrasi. penelitiian mengenai penambahan moalase pada beton telah dilakukan sebelumnya dengan judul “pemanfaatan limbah pabrik gula (tetes tebu) sebagai bahan tambah dalam campuran beton” prosentase penambahan molase yang digunakan yaitu 0%, 0,25%, 0,5%, 0,75%, dan 1%. hasil penelitian menunjukkan bahwa kuat tekan optimum diperoleh dengan prosentase penambahan 0.25% sedangkan kuat tarik optimum diperoleh dengan prosentase penambahan 0.5%. [10] tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana pengaruh penambahan penambahan limbah pabrik gula (molase) sebanyak 0%,0,4% dan 0,5% menggunakan pasir jombang terhadap kuat tekan beton k-175. 2. tinjauan pustaka tinjauan pustaka yang akan dibahas meliputi kuat tekan, teknik pengumpulan data dan analisis data. 2.1 uji kuat tekan uji kuat tekan dilakukan di laboratorium teknik sipil universitas islam lamongan untuk mengetahui hasil kuat tekan dari beton dengan penambahan limbah molase dengan umur 7 hari. kuat tekan beton merupakan besarnya beban yang menyebabkan benda uji hancur bila dibebani dengan gaya tekan tertentu. [17][18] kekuatan tekan beton ditentukan oleh pengaturan dan perbandingan semen, air, agregat dan berbagai jenis campuran[6]untuk mengetahui besarnya nilai kuat tekan beton dapat dilakukan dengan menggunakan mesin uji tes kuat tekan beton dengan standar pengujian kuat tekan digunakan sni 1974-2011 [19] nilai kuat tekan digunakan rumus berikut : ……….. (1). 16 26 issn (online) 2581-2157 susilo abadi al-hasan / ukarst vol 4 no. 1 tahun 2020 issn (print) 2502-9304 ukarst : jurnal universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 4 nomor 1 tahun 2020 issn (print) 2502-9304 pengaruh limbah pabrik gula molase sebagai bahan tambah (admixture) kuat tekan beton k-175 dengan menggunakan pasir lokal pasir jombang. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 dimana : k = kuat tekan beton (n/mm²). p = gaya tekan aksial, dinyatakan dalam newton (n). a = luas penampang melintang benda uji, dinyatakan dalam mm². 2.2 teknik pengumpulan data sebagai prasyarat dan prosedur diperlukan teknik pengumpulan data. hal tersebut diperlukan supaya data yang didapat bisa terakurat dengan acuan sebagai berikut : 1. data sekunder. data sekunder merupakan data penelitiian yang di peroleh secara tidak langsung, yaitu melalui studi pustaka penellitian terdahulu. 2. data primer. data primer merupakan data peneliti yang diperoleh secara langsung dari hasil pengujian. 2.3 analisis data dalam melakukan metode pengujian acuan yang dipakai adalah sni, panduan praktikum bahan beton universitas islam lamongan (unisla). 1. pengujian semen : pengujian kosistensi normal semen portland. pengujian berat jenis semen. pengujian waktu pengikatan dan pengerasan semen. 2. pengujian agregat halus pengujian kelembapan agregat halus. pengujian berat jenis pasir pada kondisi ssd. pengujian kadar air resapan agregat halus. pengujian berat volume agregat halus. pengujian analisa saringan agregat halus. 3. pengujian agregat kasar pengujian kelembapan agregat kasar. pengujian berat jenis agregat kasar pada kondisi ssd. pengujian kadar air resapan agregat kasar. pengujian berat volume agregat kasar. pengujian analisa saringan agregat kasar. 17 26 pengaruh limbah pabrik gula molase sebagai bahan tambah (admixture) kuat tekan beton k-175 dengan menggunakan pasir lokal pasir jombang. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 4. pengujian beton segar. pengujian slump. pengujian berat isi beton. 3. metode penelitian metode penelitian ini dilakukan dengan cara pengujian di laboratorium teknik sipil universitas islam lamongan, sesuai dengan data-data dari studi pustaka menggunakan standart sni beton. material beton yang digunakan yaitu semen type 1, agregat halus berupa pasir jombang, agregat kasar berup koral, air dan bahan tambah berupa limbah molase (tetes tebu) dengan variasi penambahan yaitu 0%, 0,4% dan 0,5% dari berat semen. benda uji yang digunakan berbentuk silinder berdiameter 15cm dan tinggi 30cm. pada beton segar dilakukan pengujian slump dan pada beton keras dilakukan pengujian kuat tekan yang dilaksanakan saat umur beton 7 hari lalu dilakukan konversi ke umur 28 hari. a. b. c. d. e. sumber : foto material. gambar 1. material penyusun beton (a) semen (b) koral (c) pasir (d) air (e) molase. 18 26 issn (online) 2581-2157 susilo abadi al-hasan / ukarst vol 4 no. 1 tahun 2020 issn (print) 2502-9304 ukarst : jurnal universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 4 nomor 1 tahun 2020 issn (print) 2502-9304 pengaruh limbah pabrik gula molase sebagai bahan tambah (admixture) kuat tekan beton k-175 dengan menggunakan pasir lokal pasir jombang. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 3.1 jenis penelitian dalam penelitian ini metode penelitian yang digunakan adalah trial and error dengan uji laboratorium. dengan jenis pengujian di labolatorium universitas islam lamongan sebagai berikut : 1. pengujian material penyusun beton. a. uji semen portland (pc). b. uji agregat halus dan kasar. 2. uji limbah pabrik gula molase (tetes tebu). 3. penyusunan job mix design dengan menggunakan standart sni 03-2834-2000. 4. pengujian kuat tekan berdasarkan sni 03-1974-1990.[16] 3.2 alur penelitian tahapan dalam penelitian ini digambarkan dalam flow chart pada gambar 2. sebagai berikut : gambar 2. flow chart penelitian. mulai merumuskan masalah pengumpulan data data primer 1. hasil pengujian di laboratorium data primer 1. penelitian terdahulu 2. modul penelitian laboratorium teknik sipil unisla analisa data hasil penelitian kesimpulan selesai ya tidak 19 26 pengaruh limbah pabrik gula molase sebagai bahan tambah (admixture) kuat tekan beton k-175 dengan menggunakan pasir lokal pasir jombang. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 pada gambar 2. menunjukkan uraian bahwa penelitian dimulai dengan menentukan rumusan masalah yang akan dicari, setelah rumusan masalah didapat langkah selanjutnya yaitu melakukan pengumpulan meliputi data primer dan data sekunder. data primer didapat dari hasil penelitian dan pengujian eksperimental yang dilakukan di lakukan di laboratorium teknik sipil unisla sedangkan data sekunder didapat dari studi literatur penelitian terdahulu dan pedoman praktikum laboratorium teknik sipil unisla. setelah data didapat dilakukan anallisa data mulai dari hasil pengujian material penyusun beton , hasil pengujian slump dan hasil pengujian kuat tekan. apabila analisa data dianggap memenuhi dapat dijadikan sebagai hasil penelitian dan jika tidak dilakukan pengumpulan data ulang. hasil penelitian yang didapat ditarik kesimpulan. 4. hasil dan pembahasan hasil dan pembahasan dari penelitian ini meliputi hasil pengujian material, hasil pengujian slump dan kuat tekan dengan uraian akan dibahas dalam bab berikut. 4.1 semen 1. hasil pengujian konsistensi semen memenuhi sesuai syarat standart (astm c 187-86), dengan penurunan 10 mm dengan air 69 cc untuk mengetahui kondisi standart kebasahan pasta. 2. pengujian waktu pengikat dan pengerasan semen normal tanpa campuran membutuhkan waktu 225 menit untuk standart, hasil ini untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan oleh semen selama terjadinya proses pengikatan. 3. dari percobaan pengujian berat jenis semen di peroleh nilai rata – rata 2,83. menurut ketentuan sni 15-2531-1991 [20] berat jenis semen yakni antara 3,00 – 3,20 t/m 3 , jadi berat jenis semen tersebut tidak memenuhi standart ketentuan yang di tetapkan. 4.2 agregat halus 1. diketahui kelembapan pasir rata-rata adalah 2,56%. nilai ini lebih besar dari ketentuan astm c 566 – 89 yang diperbolehkan kelembapan pasir sebesar <0.1%, maka agregat halus tersebut tidak memenuhi syarat standart mutu astm c 566 – 89. 2. pengujian berat jenis agregat halus diperoleh nilai rata rata dari dua pengujian yaitu 2,7 gr/dm3. berdasarkan standart (astm c 128 – 78) berat jenis pasir yang di syaratkan adalah yang berada dalam batasan antara 2,4 – 2,7 gr/dm3. jadi pasir diatas memenuhi syarat standart (astm c 128 – 78). 20 26 issn (online) 2581-2157 susilo abadi al-hasan / ukarst vol 4 no. 1 tahun 2020 issn (print) 2502-9304 ukarst : jurnal universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 4 nomor 1 tahun 2020 issn (print) 2502-9304 pengaruh limbah pabrik gula molase sebagai bahan tambah (admixture) kuat tekan beton k-175 dengan menggunakan pasir lokal pasir jombang. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 3. dari hasil uji kadar air resapan agregat halus maka diperoleh nilai rata – rata dari dua percobaan yaitu 2,78%. nilai ini lebih besar dari ketentuan astm c 566 – 89 yang diperbolehkan kelembaban pasir sebesar < 0,1% maka dapat dikatakan bahwa agregat halus tersebut tidak memenuhi peryaratan. 4. hasil nilai rata – rata dari hasil pengujian berat volume pasir kondisi biasa, dengan rojokan, dengan ketukan yakni 1,417 gr/lt. menurut sni no.52-1980 nilai yang diizinkan yakni 1,2 gr/lt. jadi pengujian berat volume pasir tidak sesuai. 5. hasil dari data saringan pengujian analisis ayakan agregat halus diperoleh nilai fm = 3,19%, nilai ini memenuhi syarat mutu (sk sni s 04 1989 f) yaitu 1.5 – 3.8%. sehingga gradasi agregat halus ini berada di zone 2. 4.3 agregat kasar 1. dari hasil pengujian kelembapan agregat kasar diperoleh nilai kelembapan kerikil rata-rata = 1,25%. karena tidak ada dalam standart mutu (astm c 566-89), maka kelembapan yang diperoleh dapat digunakan dalam mix design. 2. dari hasil pengujian berat jenis agregat kasar diketahui nilai berat jenis kerikil rata-rata = 2,414 gr. berdasarkan mutu standart persyaratan pengujian berat jenis kerikil (astm c 127-88-93) diperbolehkan nilai 2.2 gr – 2.7 gr. jadi batu kerikil diatas memenuhi syarat untuk digunakan. 3. dari hasil pengujian air resapan agregat kasar diperoleh nilai air resapan kerikil rata-rata = 1,2%. berdasarkan mutu standart persyaratan pengujian air resapan kerikil (astm c 1278893) diperbolehkan nilai 1 – 4%. jadi batu kerikil diatas memenuhi syarat untuk digunakan. 4. dari hasil pengujian berat volume agregat kasar diperoleh nilai berat rata – rata volume agregat kasar dari percobaan dengan kondisi biasa, dengan rojokan, dengan ketukan yaitu 1,445 kg. syarat standart volume batu pecah menurut (astm c 127 88 – 93) antara 1.4 – 1.7. jadi berat volume agregat dalam percobaan di atas memenuhi standart mutu. 5. dari hasil pengujian analisis ayakan agregat kasar dapat diambil kesimpulan data saringan pengujian analisis ayak agregat kasar diperoleh nilai fm = 3,33%, nilai ini kurang memenuhi syarat mutu (astm c 33 – 98) yatu 6 – 7%. sehingga gradasi agregat kasar ini cenderung pipih / tidak kasar. 21 26 pengaruh limbah pabrik gula molase sebagai bahan tambah (admixture) kuat tekan beton k-175 dengan menggunakan pasir lokal pasir jombang. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 4.4 slump test setelah pelaksanaan pencampuran semua material di lakukan uji tes slump, gunanya untuk mengetahui keenceraan/kekentalan dan tingkat kemudahan pengerjaan beton yang dinyatakan dalam nilai tertentu.[21] hasil pengujian slump disajikan dalam tabel 1. tabel 1. hasil tes slump. no perbandingan campuran slump (cm) 1 normal 9 2 molase 0,4% 13 3 molase 0,5% 14 sumber : data pengujian. berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh nilai slump dari beton normal sebesar 9 cm, dari beton dengan penambahan limbah molase 0,4% didapat nilai slump sebesar 13 cm, dan beton dengan penambahan limbah molase 0,5% didapat nilai slump sebesar 14 cm. disimpulkan bahwa dengan penambahan limbah molase hasil nilai slump semakin naik. 4.5 kuat tekan dari hasil penelitian di dapatkan hasil uji kuat tekan beton menunjukkan pada umur 7 hari pada beton normal dan beton limbah molase yang di lakukan di laboratorium teknik sipil universitas islam lamongan (unisla) sebagai berikut : 1. dari hasil uji kuat tekan beton normal dengan umur 7 hari di konversikan ke 28 hari dapat nilai rata – rata dari 3 sampel sebesar 22,22 mpa. 2. dari hasil uji kuat tekan beton limbah molase 0,4% dengan umur 7 hari di konversikan ke 28 hari dapat nilai rata – rata dari 3 sampel sebesar 19,15 mpa. 3. dari hasil uji kuat tekan beton limbah molase 0,5% dengan umur 7 hari di konversikan ke 28 hari dapat nilai rata – rata dari 3 sampel sebesar 19,15 mpa. dari hasil penelitian diatas bahwa kuat tekan beton terjadi penurunan ketika penambahan limbah molase 0,5% dan mengalami kenaikan pada limbah molse 0,4%, dari beton normal. hasil pengujian kuat tekan setiap variasi disajikan dalam tabel 2. 22 26 issn (online) 2581-2157 susilo abadi al-hasan / ukarst vol 4 no. 1 tahun 2020 issn (print) 2502-9304 ukarst : jurnal universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 4 nomor 1 tahun 2020 issn (print) 2502-9304 pengaruh limbah pabrik gula molase sebagai bahan tambah (admixture) kuat tekan beton k-175 dengan menggunakan pasir lokal pasir jombang. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 tabel 2. hasil kuat tekan beton normal. tanggal pembuatan tanggal tes umur ukuran berat tekanan hancur tegangan hancur hari tegangan hancur faktor korelasi umur konversi tegangan hancur (hari) (cm) (kg) (ton) (kg/cm2) (mpa) umur 7 hr 28 hari (kg/cm2) 07-mei-19 14-mei-19 7 ø 15 x 30 12,4 21 118,90 11,89 0,65 220,40 07-mei-19 14-mei-19 7 ø 15 x 30 12,4 21 118,90 11,89 0,65 220,40 07-mei-19 14-mei-19 7 ø 15 x 30 12,4 22 124,56 12,47 0,65 230,88 sumber : hasil pengujian. dari tabel 2. menunjukkan bahwa kuat tekan beton normal tertinggi dari ketiga sampel yang ada yaitu 12.47 mpa denngan rata-rata nilai kuat tekan yaitu 12.083 mpa. tabel 3. perhitungan kuat tekan beton penambahan limbah molase 0,4%. tanggal pembuatan tanggal tes umur ukuran berat tekanan hancur tegangan hancur hari tegangan hancur faktor korelasi umur konversi tegangan hancur (hari) (cm) (kg) (ton) (kg/cm2) (mpa) umur 7 hr 28 hari (kg/cm2) 07-mei-19 14-mei-19 7 ø 15 x 30 12,4 34 192,50 19,25 0,65 356,81 07-mei-19 14-mei-19 7 ø 15 x 30 12,5 32 181,17 18,12 0,65 335,81 07-mei-19 14-mei-19 7 ø 15 x 30 12,4 32 181,17 18,12 0,65 335,81 sumber : hasil pengujian. dari tabel 3. menunjukkan bahwa kuat tekan beton normal tertinggi dari ketiga sampel yang ada yaitu 19.25 mpa dengan rata-rata nilai kuat tekan yaitu 18.49 mpa. 23 26 pengaruh limbah pabrik gula molase sebagai bahan tambah (admixture) kuat tekan beton k-175 dengan menggunakan pasir lokal pasir jombang. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 tabel 4. perhitungan kuat tekan beton penambahan limbah molase 0,5%. tanggal pembuatan tanggal tes umur ukuran berat tekanan hancur tegangan hancur hari tegangan hancur faktor korelasi umur konversi tegangan hancur (hari) (cm) (kg) (ton) (kg/cm2) (mpa) umur 7 hr 28 hari (kg/cm2) 07-mei-19 14-mei-19 7 ø 15 x 30 12,4 9 50,96 5,10 0,65 94,46 07-mei-19 14-mei-19 7 ø 15 x 30 12,4 9 50,96 5,10 0,65 94,46 07-mei-19 14-mei-19 7 ø 15 x 30 12,5 8 45,29 4,53 0,65 83,95 sumber : hasil pengujian. dari tabel 4. menunjukkan bahwa kuat tekan beton normal tertinggi dari ketiga sampel yang ada yaitu 5.10 mpa denngan rata-rata nilai kuat tekan yaitu 4.91 mpa. 5. kesimpulan dan saran 5.1 kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh dari hasil penelitian ini, penulis dapat menarik kesimpulan antara lain : 1. penambahan tetes tebu terhadap beton normal pada umur 28 hari diperoleh nilai kuat tekan beton pada beton normal rata-rata sebesar 12,08mpa, beton dengan variasi tetes tebu 0,4% sebesar 18,50 mpa, beton dengan variasi tetes tebu 0,5% sebesar 4,91 mpa. sehingga dengan penambahan tetes tebu 0,4% kuat tekan beton akan mengalami peningkatan dibandingkan dengan beton normal. dan penambahan tetes tebu 0,5% kuat tekan beton mengalami penurunan dibandingakan dengan beton normal. 5.2 saran adapun beberapa saran yang dapat penulis sampaikan adalah bahwa perlu adannya penelitian dengan menggunakan bahan tambah tetes tebu untuk pengujian kuat lekat beton dan modulus elastisitas beton. perlu adanya pengujian lebih lanjut untuk pemeriksaan kuat tekan beton pada umur diatas 28 hari. serta mencoba persentase lainnya dengan pertimbangan kadar gula dan kadar air pada tetes tebu yang akan digunakan. 24 26 issn (online) 2581-2157 susilo abadi al-hasan / ukarst vol 4 no. 1 tahun 2020 issn (print) 2502-9304 ukarst : jurnal universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 4 nomor 1 tahun 2020 issn (print) 2502-9304 pengaruh limbah pabrik gula molase sebagai bahan tambah (admixture) kuat tekan beton k-175 dengan menggunakan pasir lokal pasir jombang. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 daftar pustaka [1] a. seti and nadia, “analisis pengaruh beton dengan bahan admixture naphtalene dan polycarboxilate terhadap kuat tekan beton normal,” konstruksia, vol. 3, no. 2, pp. 33 – 40, 2012. [2] n. harjianto, p. studi, t. sipil, f. teknik, and u. m. surakarta, “pemanfaatan abu ampas tebu dari hasil pembakaran nira pg. gondang baru klaten dan kapur tohor pengganti semen untuk campuran beton,” 2015. [3] a. i. candra, e. gardjito, y. cahyo, and g. a. prasetyo, “pemanfaatan limbah puntung rokok filter sebagai bahan campuran beton ringan berpori,” ukarst, vol. 3, no. 1, p. 82, 2019. [4] d. g. a. nursyamsi, “agregat kasar pada beton ringan struktural dhiyando giovanni alfiandi nursyamsi,” 1800. [5] n. fd pardi habeahan1 and 1departemen, “pengaruh perawatan (curing) pada beton dengan limbah abu boiler pabrik kelapa sawit (pks) sebagai substitusi semen terhadap kuat tekan beton fd,” japanese j. radiol. technol., vol. 49, no. 5, p. 785, 1993. [6] d. banerjee, “determination of compressive strength parameter of high strength silica fume concrete,” 2017. [7] “concrete consolidation catalog.” [8] b. damara and z. lubis, “pengaruh penambahan limbah b3 pada kuat beton mutu k-175,” j. civila, vol. 3, no. 1, p. 100, 2018. [9] a. iwan and e. siswanto, “menggunakan hydroton dan master ease 5010,” vol. 3, no. 2, pp. 162–165, 2018. [10] j. t. ahmad prima syahnan, m. agung putra handana, “pemanfaatan limbah pabrik gula (tetes tebu) sebagai bahan tambah dalam campuran beton,” no. 1, pp. 1–3, 2005. [11] k. novianti, “pengaruh penambahan slag dan tetes tebu terhadap kuat tekan dan kuat tarik beton,” 2017. 25 26 pengaruh limbah pabrik gula molase sebagai bahan tambah (admixture) kuat tekan beton k-175 dengan menggunakan pasir lokal pasir jombang. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 [12] p. jurusan, t. sipil, f. teknik, and u. s. maret, “rakhmita hidayanti harahap nim i 0107128 rakhmita hidayanti harahap,” 2011. [13] a. s. harri ismunandar, chrisna djaya mungok, “pemanfaatan tetes tebu sebagai bahan tambah dalam campuran beton,” pp. 1–13. [14] g. yanti, z. zainuri, and s. w. megasari, “analisa perbandingan penambahan variasi consol terhadap kuat tekan beton,” siklus j. tek. sipil, vol. 4, no. 1, pp. 59–66, 2018. [15] sni 03-2834-2000, “tata cara pembuatan rencana campuran beton normal. sni 032834-2000,” badan stand. nas., pp. 1–34, 2000. [16] s. 1974:2011, “sni 1974:2011 tentang cara uji kuat tekan beton dengan benda uji silinder,” badan stand. nas., p. 20, 2011. [17] n. wariyatno and y. haryanto, “kuat tekan dan kuat tarik belah sebagai nilai estimasi kekuatan sisa pada beton serat kasa aluminiumakibat variasi suhu,” din. rekayasa, vol. 9, no. 1, pp. 21–28, 2013. [18] e. gardjito, a. i. candra, and y. cahyo, “pengaruh penambahan batu karang sebagai substitusi agregat halus dalampembuatan paving block,” ukarst, vol. 2, no. 1, p. 36, 2018. [19] sni 03-6805-2002, “metode pengujian untuk mengukur nilai kuat tekan beton pada umur awal dan memproyeksikan kekuatan pada umur berikutnya,” badan standardisasi nasional. 2002. [20] “metode pengujian berat jenis semen portland,” p. 2531, 1991. [21] th. t. hardagun and p. g. , kusno adi sambowo, “kajian nilai slump , kuat tekan dan modulus elastisitas beton,” vol. 2, no. 2, pp. 131–137, 2014. 26 26 issn (online) 2581-2157 susilo abadi al-hasan / ukarst vol 4 no. 1 tahun 2020 issn (print) 2502-9304 ukarst : jurnal universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-0855 volume 4 nomor 1 tahun 2020 issn (print) 2579-4620 pemanfaatan limbah tempurung kelapa sebagai campuran paving block (ditinjau dari kuat tekan dan resapan air). judul artikel [book antiqua, 14 pt, bold] pemanfaatan limbah tempurung kelapa sebagai campuran paving block (ditinjau dari kuat tekan dan resapan air) i a sucahyo 1 , h r agustapraja 2 , b damara 3 1,2,3 fakultas teknik, universitas islam lamongan. email: ilhamadjisucahyo@gmail.com a r t i c l e i n f o a b s t r a c t article history : artikel masuk : 03-03-2020 artikel revisi : 12-03-2020 artikel diterima : 13-03-2020 the main objective of this study was to find out and analyze how much the influence of the coconut shell charcoal had on changes in compressive strength and water absorption in the k-175 paving block. this research method is experimental research, which is a research of making paving block specimens, by conducting activities or experiments using coconut shell waste as a mixture of paving blocks, with a mix design mix referring to the comparison of concrete mix with k-175 quality (sni 03-2834-2000). the conversion value of compressive strength of specimens at the age of 7 days to 28 days from specimens n, 5%, 10%, 15% and 20% is 271,80 kg/cm², 205,12 kg/cm², 102,57 kg/cm²,76,92 kg/cm² and 64,11 kg/cm² respectively. in the normal test code, the paving block is classified as class b quality, while the 5% specimen code is classified as class b quality, for the test object code 10%, 15%, and 20% do not meet the paving block quality standards. the results of the water absorption test increased in paving blocks with a combination of coconut shell charcoal. all of them have increased water infiltration on paving blocks. keywords : coconut shell, paving, strength, absorption. style ieee dalam mensitasi artikel ini: [17] j.kaufmann. (2020). evaluation of the combination of desert sand and calcium sulfoaluminate cement for the production of concrete l. constr. build. mater., vol.243),118 281. [semen adalah bahan dalam beton yang berfungsi sebagai pengikat beton] a b s t r a k tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa seberapa besar pengaruh arang tempurung kelapa terhadap perubahan kuat tekan dan resapan air pada paving block k-175. metode penelitian ini adalah penelitian eksperimen, yaitu penelitian pembuatan benda uji paving block, dengan cara melakukan kegiatan atau percobaan pemanfaatan limbah tempurung kelapa sebagai campuran paving block, dengan perbandingan mix design mengacu pada perbandingan campuran beton dengan mutu k-175 (sni 03-2834-2000). hasil nilai konversi kuat tekan benda uji pada umur 7 hari ke umur 28 hari dari benda uji n, 5%, 10%, 15%, dan 20% adalah 271,80 kg/cm², 205,12 kg/cm², 102,57 kg/cm²,76,92 kg/cm² dan 64,11 kg/cm². pada kode benda uji normal paving block tergolong dalam mutu kelas b, sedangkan pada kode benda uji 5% tergolong dalam mutu kelas b, untuk kode benda uji 10%, 15%, dan 20% tidak memenuhi standar mutu paving block. hasil dari uji resapan air paving block dengan penambahan arang tempurung kelapa dari tersedia online di http://ojs.unik-kediri.ac.id/index.php/ukarst/index u karst http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v4i1 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 mailto:ilhamadjisucahyo@gmail.com pemanfaatan limbah tempurung kelapa sebagai campuran paving block (ditinjau dari kuat tekan dan resapan air). benda uji 5%, 10%, 15% dan 20%. kesemuanya mengalami peningkatan resapan air pada paving block. 1. pendahuluan bata beton paving block adalah suatu komposisi bahan bangunan yang dibuat dari campuran semen portland atau bahan perekat hidrolis sejenisnya, air dan agregat dengan atau tanpa bahan tambahan lainnya yang tidak mengurangi mutu batan beton tersebut (sni-030691-1996). [1] karena pembuatan dan bahan yang mudah didapatkan, paving block banyak dibuat oleh industri rumahan baik dengan cara konvensional maupun modern. paving block banyak digunakan sebagai lapis perkerasan jalan, parkiran, halaman rumah dan gang-gang kecil yang berada di desa maupun perkotaan [2][3] keunggulan paving block yaitu memiliki daya serap yang baik. [4] dengan manfaat paving block yang mampu menunjang fasilitas masyarakat maka dituntut pula kualitas paving block yang kuat dan mempunyai daya serap air serta kualitas yang baik yang sesuai dengan kriteria standar yang diperlukan [5][6]. kualitas paving block dipengaruhi oleh campuran serta proporsi material penyusunnya. [7] limbah tempurung kelapa banyak dijumpai di berbagai macam tempat, seperti di pasar tradisional, industri rumahan olahan kuliner, dan tempat-tempat yang menjual untuk memenuhi kebutuhan konsumen sehari-hari, limbah tempurung kelapa belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai bahan yang bersifat ekonomis, bahkan sering digunakan sebagai tungku dapur atau dibiarkan menumpuk, hal itu jika dibiarkan akan menjadi polusi. [8] [9] oleh karena itu dalam penelitian ini bertujuan untuk membuat komposisi campuran dan meningkatkan kuat tekan paving block dengan subtitusi arang tempurung kelapa dari berat pasir yang digunakan. penelitian ini diharapkan agar menghasilkan paving block yang berkualitas, mempunyai kemampuan daya serap air yang baik dan mampu menahan beban yang lebih baik. dalam penelitian ini pemanfaatan limbah tempurung kelapa dari industri rumahan olahan kuliner wingko yang tidak termasuk dalam bahan olahan, yang berlokasikan di kecamatan widang – kabupaten tuban. tempurung kelapa bagian dari buah yang berupa endokrab, bersifat keras dan tajam yang diselimuti serabut kelapa. tempurung kelapa dalam penelitian ini diolah dan di bakar sampai menjadi arang sebagai bahan substitusi agregat halus pada pembuatan paving block. penelitian mengenai pengaruh penambahan tempurung kelapa terhadap paving block telah dilakukan sebelumnya dengan judul riset “pengaruh penambahan abu tempurung kelapa terhadap kuat tekan paving block” [10] dengan prosentase 0%, 5%, 10%, 15%, 2 13 issn (online) 2581-2157 ilham adji sucahyo / ukarst vol. 4 no. 1 tahun 2020. issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : jurnal universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 4 nomor 1 tahun 2020 issn (print) 2502-9304 pemanfaatan limbah tempurung kelapa sebagai campuran paving block (ditinjau dari kuat tekan dan resapan air). dan 20% dari berat semen. hasil menunjukkan bahwa penambahan tempurung kelapa 0%, 5%, dan 15% memenuhi persyaratan kekuatan paving block, sedangkan dengan prosentase 20% tidak memenuhi persyaratan kekuatan paving block. dalam penelitian ini akan dilaksanakan penelitian mengenai pengaruh penambahan limbah tempurung kelapa dengan prosentase 0%, 5%, 10%,15%, dan 20% terhadap berat pasir. mutu paving block yang digunakan yaitu k-175. proses pembuatan paving block dengan cara manual. penelitian ini dilaksanakan untuk melanjutkan penelitian yang telah ada sebelumnya dengan prosentase yang sama namun dari berat pasir dan pengaruhnya terhadap kuat tekan dan resapan air. 2. tinjauan pustaka 2.1 paving block. paving block merupakan bahan bangunan yang terdiri dari campuran semen, agregat dan air yang mengeras dengan bentuk dan mutu yang telah ditentukan. paving block mampu menjaga keseimbangan air tanah, serta menjadi serapan air yang baik.[11][12] keunggulan penggunaan paving block : 1. pelaksanaannya mudah sehingga memberikan kesempatan kerja yang luas kepada masyarakat. 2. pemeliharaannya mudah. 3. bila ada kerusakan, perbaikannya tidak memerlukan bahan tambahan yang banyak karena paving block merupakan bahan yang dapat dipakai kembali meskipun telah mengalami pembongkaran. 4. tahan terhadap beban statis, dinamik dan kejut yang tinggi. 5. cukup fleksibel untuk mengatasi perbedaan penurunan (differential sattlement). 6. mempunyai durabilitas yang baik. 2.2 klasifikasi paving block[13] [14]. klasifikasi dari paving block didasarkan atas bentuk, tebal, kekuatan dan warna antara lain, yaitu : 1. klasifikasi berdasarkan bentuk. secara garis besar paving block dibedakan menjadi : paving block bentuk segiempat (rectangular). paving block bentuk segibanyak. 3 13 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 pemanfaatan limbah tempurung kelapa sebagai campuran paving block (ditinjau dari kuat tekan dan resapan air). gambar 1. berbagai macam bentuk paving block. 2. klasifikasi berdasarkan ketebalan. ketebalan paving block dibedakan berdasarkan kebutuhhan dalam penggunaannya, secara umum ketebalan paving block yaitu 60 mm, 80 mm, dan 100 mm. 3. klasifikasi berdasarkan kekuatan. kekuatan paving block berkisar antara 250 kg/cm 2 sampai 450 kg/cm 2 bergantung dari penggunaan lapis perkerasan. 4. klasifikasi berdasarkan warna. warna yang digunakan pada beton dibedakan berdasarkan kebutuhan dalam penggunaannya selain menampakkan keindahan juga digunakan sebagai pembatas seperti pada tempat parkir. warna paving block yang ada di pasaran adalah merah, hitam dan abuabu. 3. metode penelitian metode penelitian ini adalah penelitian eksperimen, yaitu penelitian pembuatan benda uji paving block, dengan cara melakukan kegiatan atau percobaan pemanfaatan limbah tempurung kelapa sebagai campuran paving block, yang ditinjau dari seberapa kuat tekan dan resapan air dengan mengunakan subtitusi arang tempurung kelapa dari berat pasir yang digunakan yaitu 6,910 pc : 16,108 ps : 0 atk (sebagai kode benda uji normal ). 6,910 pc : 15,303 ps : 0,805 atk (sebagai kode benda uji 5%). 6,910 pc : 14,497 ps : 1,611 atk (sebagai kode benda uji 10%). 6,910 pc : 13,692 ps : 2,416 atk (sebagai kode benda uji 15%). 6,910 pc : 12,887 ps : 3,222 atk (sebagai kode benda uji 20%). dalam penelitian ini pembuatan paving block dengan penambahan campuran arang tempurung kelapa dibuat benda uji sebanyak 30 buah, berbentuk persegi panjang dengan ukuran panjang 20 cm, lebar 10 cm dan tebal 8 cm. dengan 5 (lima) variasi sampel paving block yaitu, 1 (satu) sebagai kontrol tanpa penambahan arang tempurung kelapa dan 4 (empat) diantaranya mengunakan penambahan arang tempurung kelapa sebesar 5%, 10%, 4 13 issn (online) 2581-2157 ilham adji sucahyo / ukarst vol. 4 no. 1 tahun 2020. issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : jurnal universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 4 nomor 1 tahun 2020 issn (print) 2502-9304 pemanfaatan limbah tempurung kelapa sebagai campuran paving block (ditinjau dari kuat tekan dan resapan air). 15%, 20% dari berat pasir yang digunakan dalam pembuatan paving block. untuk setiap variasi paving block dibuat sebanyak 6 (enam) benda uji dengan pengujian sampel, 3 (tiga) benda uji digunakan sebagai pengujian kuat tekan paving block pada umur 7 hari kemudian dikonversikan ke umur 28 hari dan 3 (tiga) diantaranya digunakan sebagai pengujian resapan air paving block pada umur 7 hari.dalam penelitian ini perbandingan mix design mengacu pada perbandingan campuran beton dengan mutu k-175 (sni 03-2834-2000)[15]. perbandingan mix design paving block tanpa pengunaan agregat kasar seperti krikil dan pengunaan faktor air semen lebih sedikit yaitu sebesar 0,30 dan dengan mengunakan subtitusi arang tempurung kelapa dari berat pasir yang digunakan. 3.1 bahan penyusun paving block. bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari, semen, pasir, air, dan bahan tambah arang tempurung kelapa. adapun bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan paving block sebagai berikut : 1. semen. semen adalah bahan dalam beton yang berfungsi sebagai pengikat beton [16][17] semen mampu bereaksi dengan adanya air.[18] dalam penelitian ini mengunakan semen portland type i yang banyak digunakan dalam dunia konstruksi bangunan yang diproduksi pt. semen gresik, dengan berat perkarungnya 40 kg. 2. agregat halus. agregat halus berfungsi sebagai pengisi ruang antara agregat kasar sehingga menjadikan ikatan lebih kuat. [19] agregat halus yang dipakai dalam penelitian ini adalah pasir sungai yang ada di laboratorium bahan dan teknologi beton jurusan teknik sipil, fakultas teknik universitas islam lamongan. 3. air. air mempunyai peran yang penting dalam pembuatan beton ataupun paving block. [20] air yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari sumber air bersih laboratorium bahan dan teknologi beton jurusan teknik sipil, fakultas teknik universitas islam lamongan. 4. limbah tempurung kelapa. limbah tempurung kelapa yang dipakai dalam penelitian ini diperoleh dari home industry olahan kuliner wingko yang berada di kec. widang kab. tuban proses pembuatan arang sebagai berikut : 5 13 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 pemanfaatan limbah tempurung kelapa sebagai campuran paving block (ditinjau dari kuat tekan dan resapan air). a. limbah tempurung kelapa tersebut dibersihkan dari kotoran yang menempel dan sisasisa srabut disisihkan. b. masukan tempurung kelapa kedalam wadah ember besi kemudian limbah tempurung kelapa tersebut di bakar dengan api sedang. c. tutup atas permukaan ember besi dengan dedaunan agar proses pembakaran menghasilkan arang yang baik. d. sesudah pembakaran arang selesai angkat arang di wadah kemudian diangin-anginkan hingga panas pada arang hilang lalu dilakukan penumbukan menggunaka lumping untuk mendapatkan butir-butir arang yang lebih kecil. 3.2 lokasi penelitian. lokasi pelaksanaan penelitian maupun pengujian dilakukan di laboratorium bahan dan teknologi beton jurusan teknik sipil, fakultas teknik, universitas islam lamongan. 3.3 analisa pengujian. dalam melakukan metode pengujian kuat tekan dan resapan air mengunakan acuan sni 03-0691-1996 : paving block. 1. kuat tekan kuat tekan beton merupakan besarnya beban yang menyebabkan benda uji hancur bila dibebani dengan gaya tekan tertentu. [21] untuk mengetahui besarnya nilai kuat tekan beton dapat dilakukan dengan menggunakan mesin uji tes kuat tekan beton dengan standar pengujian kuat tekan digunakan sni. [22] ……….. (1) dimana k = kuat tekan beton (n/mm²). p = gaya tekan aksial, dinyatakan dalam newton (n). a = luas penampang melintang benda uji, dinyatakan dalam mm². 2. penyerapan air. daya serap merupakan kemampuan bahan dalam meyerap air. kemapuan daya serap air pada beton paving block akan mempengaruhi kualitas [23] penyerapan air = x 100 keterangan : a = berat bata beton basah. b = berat bata beton kering. 6 13 issn (online) 2581-2157 ilham adji sucahyo / ukarst vol. 4 no. 1 tahun 2020. issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : jurnal universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 4 nomor 1 tahun 2020 issn (print) 2502-9304 pemanfaatan limbah tempurung kelapa sebagai campuran paving block (ditinjau dari kuat tekan dan resapan air). 3.4 tahapan penelitian. tahapan proses yang akan dilakukan dalam penelitian ini digambarkan dalam bagan alir pada gambar 1 sebagai berikut : gambar 2. flowchart atau bagan alir penelitian. pada gambar 2. menunjukkan bahwa penelitian dimulai dengan menentukan rumusan masalah yang akan dicari, setelah rumusan masalah didapat langkah selanjutnya yaitu melakukan pengumpulan meliputi data primer dan data sekunder. data primer didapat dari hasil penelitian pengujian bahan, pengujian kuat tekan dan pengujian resapan air sedangkan data sekunder didapat dari studi literatur penelitian terdahulu, sni dan astm. setelah data didapat dilakukan anallisa data mulai dari hasil pengujian material penyusun beton, hasil pengujian slump dan hasil pengujian kuat tekan. apabila analisa data dianggap memenuhi dapat dijadikan sebagai hasil penelitian dan jika tidak dilakukan pengumpulan data ulang. hasil penelitian yang didapat ditarik kesimpulan. 7 13 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 pemanfaatan limbah tempurung kelapa sebagai campuran paving block (ditinjau dari kuat tekan dan resapan air). 4. hasil dan pembahasan pengujian kuat tekan dan resapan air pada umur 7 hari, pengujian dilakukan setelah proses perawatan paving block, kemudian pengujian dilakukan untuk mengetahui kuat tekan dan resapan air benda uji dengan substitusi arang tempurung kelapa dari berat pasir yang digunakan. 4.1 analisa data kuat tekan paving block. analisa data kuat tekan didapat dari hasil pengujian benda uji. adapun tabel kuat tekan umur 7 hari28 hari sebagai berikut : tabel 1. kuat tekan benda uji umur 7 hari – 28 hari. no kode benda kuat tekan kg/cm² konversi satuan uji 7 hari 28 hari ke mpa 1 n 176.67 271.80 22.13 2 5% 133.33 205.12 16.70 3 10% 66.67 102.57 8.35 4 15% 50.00 76.92 6.26 5 20% 41.67 64.11 5.22 sumber : data pengujian. dari tabel 1. diatas menunjukan bahwa kuat tekan paving block dengan substitusi arang tempurung kelapa dari berat pasir yang digunakan dengan prosentase 5%, 10%, 15% dan 20%, mengalami penurunan kuat tekan. nilai kuat tekan rata-rata tertinggi diperoleh pada substitusi arang tempurung kelapa dengan kode benda uji 5% sebesar 133,33 kg/cm², sedangkan nilai terendah pada substitusi arang tempurung kelapa dengan kode benda uji 20% sebesar 41,67 kg/cm². sedangkan paving block dengan campuran normal memperoleh nilai kuat tekan rata-rata tertinggi dari kode benda uji 5% sampai 20% sebesar 176,67 kg/cm². dapat dilihat dari tabel 1. diatas nilai konversi kuat tekan benda uji pada umur 7 hari ke umur 28 hari dari benda uji n, 5%, 10%, 15%, dan 20% adalah 271,80 kg/cm², 205,12 kg/cm², 102,57 kg/cm², 76,92 kg/cm², dan 64,11 kg/cm². dari tabel 1. di atas bisa kita lihat hasil dari konversi kuat tekan kg/cm² ke mpa dengan nilai berurutan dari benda uji n, 5%, 10%, 15% dan 20% adalah 22,13 mpa, 16,70 mpa, 8,35 mpa, 6,26 mpa, dan 5,22. 8 13 issn (online) 2581-2157 ilham adji sucahyo / ukarst vol. 4 no. 1 tahun 2020. issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : jurnal universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 4 nomor 1 tahun 2020 issn (print) 2502-9304 pemanfaatan limbah tempurung kelapa sebagai campuran paving block (ditinjau dari kuat tekan dan resapan air). 4.2 analisa data resapan air paving block tabel 2. pengujian resapan air paving block no kode benda berat berat penyerapan penyerapan uji basah kering air rata-rata (kg) (kg) 1 n 4 3.30 3.20 3.125 5 3.30 3.20 3.125 3.13 6 3.30 3.20 3.125 2 5% 4 2.90 2.80 3.571 5 3.10 3.00 3.33 4.52 6 3.20 3.00 6.67 3 10% 4 3.00 2.80 7.14 5 2.70 2.60 3.85 6.23 6 2.80 2.60 7.69 4 15% 4 2.60 2.40 8.33 5 2.60 2.40 8.33 8.33 6 2.60 2.40 8.33 5 20% 4 2.40 2.20 9.09 5 2.40 2.20 9.09 9.09 6 2.40 2.20 9.09 sumber : data pengujian. dari tabel 2. di atas dapat dilihat bahwa dengan substitusi arang tempurung kelapa pada campuran dengan prosentase arang kelapa sebesar 5%, 10%, 15%, dan 20% dari berat pasir yang digunakan kesemuanya mengalami peningkatan penyerapan air dari rata-rata sebesar, 4,52 pada prosentase arang kelapa 5%, 6,23 pada prosentase arang kelapa 10%, 8,33 pada prosentase arang kelapa 15%, dan 9,09 pada prosentase arang kelapa 20%. pembahasan dalam penelitian ini adalah menganalisa hasil pengujian kuat tekan dan resapan air pada pembuatan paving block dengan penambahan arang tempurung kelapa dari pengurangan berat pasir yang digunakan. dalam penelitian ini untuk mengetahui seberapa pengaruh kuat tekan dan resapan air dengan mengunakan arang tempurung kelapa dari pengurangan agregat halus yang digunakan. adapun hasil pengujian kuat tekan dan resapan air paving block dengan mengunakan bahan tambah arang tempurung kelapa dari pengurangan berat agregat halus yang digunakan pada kuat tekan umur 28 hari, serta telah dilakukan analisa prosentase peningkatan maupun penurunan yang disajikan dalam tabel 3. 9 13 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 pemanfaatan limbah tempurung kelapa sebagai campuran paving block (ditinjau dari kuat tekan dan resapan air). tabel 3. prosentase penurunan kuat tekan. no kode benda kuat tekan prosentase penurunan uji kg/cm² mpa % 1 n 271,80 22,13 2 5% 205,12 16,70 24.53 3 10% 102,57 8,35 62.26 4 15% 76,92 6,26 71.70 5 20% 64,11 5,22 76.41 sumber : data pengujian. dari tabel 3. diatas menunjukan bahwa prosentase penurunan kuat tekan benda uji paving block pada umur 28 hari dengan substitusi arang tempurung kelapa dari berat pasir yang digunakan mengalami penurunan kuat tekan. dengan nilai beruntun dari benda uji, 5%, 10%, 15%, dan 20%, adalah -24,53%, -62,26%, -71,70%, -76,41%. 4.3 penggolongan mutu paving block. hasil analisa data penelitian selanjutnya digolongkan dalam standar mutu kuat tekan paving block dengan mengacu pada (sni 03-0691-1996) paving block.[1] berikut adalah penggolongan mutu kuat tekan paving block. tabel 4. penggolongan mutu paving block. no kode benda uji kuat tekan (mpa) mutu paving block 1 n 22,13 b 2 5% 16,70 b 3 15% 8,35 tidak memenuhi standar 4 15% 6,26 tidak memenuhi standar 5 20% 5,22 tidak memenuhi standar sumber : data pengujian. dari tabel 4. bisa kita lihat hasil dari konversi kuat tekan kg/cm² ke mpa sehingga didapat pengolongan mutu paving block, pada kode benda uji normal paving block tergolong dalam mutu kelas b, sedangkan pada kode benda uji 5% tergolong dalam mutu kelas b, untuk kode benda uji 10%, 15% dan 20% tidak memenuhi standar mutu paving block. 10 13 issn (online) 2581-2157 ilham adji sucahyo / ukarst vol. 4 no. 1 tahun 2020. issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : jurnal universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 4 nomor 1 tahun 2020 issn (print) 2502-9304 pemanfaatan limbah tempurung kelapa sebagai campuran paving block (ditinjau dari kuat tekan dan resapan air). 5. kesimpulan dan saran 5.1 kesimpulan. berdasarkan hasil pengujian dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. nilai kuat tekan masing – masing benda uji adalah; normal sebesar 271,80 kg/cm², 5% sebesar 205,12 kg/cm², 10% sebesar 102,57 kg/cm², 15% sebesar 76,92 kg/cm², dan 20% sebesar 64,11 kg/cm². paving block dengan kode benda uji normal tergolong dalam mutu kelas b dengan kuat tekan 271,80 kg/cm² (22,13 mpa), kode benda uji 5% dengan kuat tekan 205,12 kg/cm² (16.70 mpa) tergolong dalam mutu kelas b, sedangkan untuk paving block dengan tambahan arang kelapa 10% 20% tidak tergolong dalam mutu standar kuat tekan paving block karena nilai kuat tekannya dibawah standar mutu kuat tekan paving block (sni 03-0691-1996). 2. paving block k-175 mengalami peningkatan serapan air dengan penambahan arang tempurung kelapa pada campuran paving block dengan prosentase arang kelapa sebesar 5%, 10%, 15%, dan 20% dari berat pasir yang digunakan kesemuanya mengalami peningkatan penyerapan air dari rata-rata sebesar, 3,13 pada kode benda uji normal, 4,52 pada kode benda uji 5%, 6,23 pada kode benda uji 10%, 8,33 pada kode benda uji 15%, 9,09 pada kode benda uji 20%. 5.2 saran perlu diadakan penelitian lebih lanjut mengenai proses pembuatan paving block karena dalam penelitian ini penulis masih banyak kekurangan-kekurangan dalam pembuatan benda uji paving block, terutama pada mix design dan prosentase agregat yang digantikan 1. perlu diadakan penelitian lebih lanjut metode pembuatan paving block dengan mesin vibrasi atau mesin hidrolis agar pencetakan paving block lebih maksimal. 2. perlu diadakan penelitian lebih lanjut dalam proses penumbukan atau pemadatan paving block dengan mengunakan cara manual. karena dalam penelitian ini proses pemadatan atau penumbukan dengan alat tumbuk balok kayu dan plat besi. 11 13 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 pemanfaatan limbah tempurung kelapa sebagai campuran paving block (ditinjau dari kuat tekan dan resapan air). daftar pustaka [1] badan standar nasional indonesia, “bata beton (paving block),” sni 03-0691-1996, pp. 1–9, 1996. [2] a. salam and s. d. hartantyo, “pengaruh penambahan serat pelepah pisang pada pembuatan paving block k-175,” j. civila, vol. 2, no. 2, p. 8, 2017. [3] a. purba, “perbandingan mutu paving block,” no. 1. [4] a. c. sembiring et al., “uji kuat tekan dan serapan air pada paving block dengan bahan pasir kasar , batu kacang , dan pasir halus,” vol. 1, no. 1, 2017. [5] a. s. agar-ozbek, j. weerheijm, e. schlangen, and k. van breugel, “investigating porous concrete with improved strength: testing at different scales,” constr. build. mater., vol. 41, pp. 480–490, 2013. [6] s. y. chung, t. s. han, s. y. kim, and t. h. lee, “investigation of the permeability of porous concrete reconstructed using probabilistic description methods,” constr. build. mater., vol. 66, pp. 760–770, 2014. [7] g. yanti, z. zainuri, and s. w. megasari, “analisa perbandingan penambahan variasi consol terhadap kuat tekan beton,” siklus j. tek. sipil, vol. 4, no. 1, pp. 59–66, 2018. [8] m. a. r. bhutta, k. tsuruta, and j. mirza, “evaluation of high-performance porous concrete properties,” constr. build. mater., vol. 31, pp. 67–73, 2012. [9] r. r. dhana et al., “fly ash tempurung kelapa sebagai bahan tambah pada beton non struktural,” vol. 5, no. 2, pp. 121–127, 2019. [10] a. r. mukhlis iwan mustaqim, juli marliansyah, “pengaruh penambahan abu tempurung kelapa terhadap kuat tekan paving block,” j. mhs. tek., vol. 3, pp. 1–9, 2017. [11] e. gardjito, a. i. candra, and y. cahyo, “pengaruh penambahan batu karang sebagai substitusi agregat halus dalampembuatan paving block,” ukarst, vol. 2, no. 1, p. 36, 2018. [12] j. pcc, “pengisi dalam proses pembuatan paving dengan semen,” vol. 1, no. 2, pp. 8– 16, 2012. 12 13 issn (online) 2581-2157 ilham adji sucahyo / ukarst vol. 4 no. 1 tahun 2020. issn (print) 2502-9304 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 ukarst : jurnal universitas kadiri riset teknik sipil issn (online) 2581-2157 volume 4 nomor 1 tahun 2020 issn (print) 2502-9304 pemanfaatan limbah tempurung kelapa sebagai campuran paving block (ditinjau dari kuat tekan dan resapan air). [13] s. maliar, d. jurusan, t. sipil, m. jurusan, and t. sipil, “jurnal momentum issn : 1693-752x pengaruh penggunaan fly ash sebagai pengganti agregat terhadap,” vol. 17, no. 1, pp. 42–49, 2015. [14] a. artiyani, “abu sampah sebagai bahan paving block anis artiyani,” pp. 1–11. [15] sni 03-2834-2000, “tata cara pembuatan rencana campuran beton normal. sni 032834-2000,” badan stand. nas., pp. 1–34, 2000. [16] c. r. gagg, “cement and concrete as an engineering material: an historic appraisal and case study analysis,” eng. fail. anal., vol. 40, pp. 114–140, 2014. [17] j. kaufmann, “evaluation of the combination of desert sand and calcium sulfoaluminate cement for the production of concrete,” constr. build. mater., vol. 243, p. 118281, 2020. [18] t. shane and r. steffes, vibration study for consolidation of portland cement, no. 970499. 1999. [19] j. t. sipil and p. n. jakarta, “tekban,” 2005. [20] b. ramesh, v. gokulnath, and m. ranjith kumar, “detailed study on flexural strength of polypropylene fiber reinforced self-compacting concrete,” mater. today proc., no. xxxx, 2019. [21] n. wariyatno and y. haryanto, “kuat tekan dan kuat tarik belah sebagai nilai estimasi kekuatan sisa pada beton serat kasa aluminiumakibat variasi suhu,” din. rekayasa, vol. 9, no. 1, pp. 21–28, 2013. [22] sni 03-6805-2002, “metode pengujian untuk mengukur nilai kuat tekan beton pada umur awal dan memproyeksikan kekuatan pada umur berikutnya,” badan standardisasi nasional. 2002. [23] a. i. candra, e. gardjito, y. cahyo, and g. a. prasetyo, “pemanfaatan limbah puntung rokok filter sebagai bahan campuran beton ringan berpori,” ukarst, vol. 3, no. 1, p. 82, 2019. 13 13 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2 issn (online) 2581 2157 i wayan gede erick triswandana / ukarst vol. 4 no. 1 tahun 2020 issn (print) 2502 9304 judul artikel [book antiqua, 14 pt, bold] penilaian risiko k3 konstruksi dengan metode hirarc i. w. g. e. triswandana 1 , n. k. armaeni 2 . 1,2, fakultas teknik dan perencanaan universitas warmadewa. email: 1 ericktriswandana@gmail.com a r t i c l e i n f o a b s t r a c t artikel history : artikel masuk : 30-03-2020 artikel revisi : 04-04-2020 artikel diterima : 06-04-2020 the work of building f3 in the faculty of medicine, health sciences (fkik) warmadewa university applied smk3 to the construction process. risk identification and assessment have not used the hirarc method as a basis for mitigation. from this problem, the author considers it necessary to carry out a k3 risk assessment using the hirarc method to know the potential hazard value of the construction work. using descriptive quantitative research methods for the approach to risk identification using hirarc is used to rank each risk. the results of the analysis explained the percentage of high-risk work rankings of each work item including earthworks having a rate of 20%, foundation work by 25%, structural work by 30%, roof work by 31%, finishing work by 25%, electrical work, and plumbing by 12%. while from a total of 65 risks identified, it is known that 25% risk has a high-risk rating, 43% risk has a moderate risk rating, and 32% of threats has a low-risk rating. keywords : smk3, hirarc, risk identification, risk assessment. style ieee dalam mensitasi artikel ini: [11] sanni-anibire, m. o., mahmoud, a. s., hassanain, m. a., & salami, b. a. a risk assessment approach for enhancing construction safety performance. safety science, vol. 121, p 15–29. 2020. a b s t r a k pekerjaan pembangunan gedung f3 fakultas kedokteran ilmu kesehatan (fkik) universitas warmadewa menerapkan smk3 pada proses konstruksinya. identifikasi dan penilaian risikonya belum menggunakan metode hirarc sebagai landasan melakukan mitigasi. dari permasalahan itu, penulis menganggap perlu melakukan assessment risiko k3 menggunakan metode hirarc dengan tujuan mengetahui potensi nilai bahaya pekerjaan konstruksi tersebut. menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif, dilakukan pendekatan terhadap identifikasi risiko menggunakan hirarc untuk memperoleh peringkat setiap risikonya. hasil analisis menerangkan besarnya persentase peringkat pekerjaan risiko tinggi dari masing masing item pekerjaan diantaranya pekerjaan tanah memiliki persentase sebesar 20%, pekerjaan pondasi sebesar 25%, pekerjaan struktur sebesar 30%, pekerjaan atap sebesar 31%, pekerjaan finishing sebesar 25%, pekerjaan elektrical dan plumbing sebesar 12%. sedangkan dari total 65 risiko yang teridentifikasi, diketahui bahwa sebesar 25% risiko memiliki peringkat tinggi, 43% memiliki peringkat sedang, dan 32% memiliki peringkat rendah. tersedia online di http://ojs.unik-kediri.ac.id/index.php/ukarst/index u karst http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v4i1 penilaian risiko k3 konstruksi dengan metode hirarc. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. mailto:1ericktriswandana@gmail.com 97 108 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581 2157 volume 4 nomor 1 tahun 2020. issn (print) 2579 9304 1. pendahuluan kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak direncanakan dan tidak diharapkan yang dapat mengganggu proses produksi/operasi, merusak harta benda/aset, mencederai manusia, atau merusak lingkungan. kecelakaan tidak selalu menyebabkan luka-luka, tetapi dapat juga menyebabkan kerusakan material dan peralatan yang ada, tetapi kecelakaan yang mengakibatkan luka-luka ini mendapatkan perhatian yang lebih besar[1]. riset oleh national safety council menyatakan bahwa penyebab kecelakaan kerja adalah 88% akibat unsafe behaviour dimana perilaku tersebut dapat terjadi karena persepsi juga keyakinan para pekerja yang merasa sudah ahli dibidangnya serta didukung hingga saat ini belum pernah terjadi kecelakaan kerja selama bekerja sehingga tingkat kepedulian untuk bekerja sesuai aturan dan prosedur berkurang[2][3]. sedangkan, keselamatan kerja merupakan suatu sarana utama untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja yang dapat menimbulkan kerugian berupa luka atau cidera, cacat atau kematian, kerugian harta benda, kerusakan peralatan atau mesin dan kerusakan lingkungan secara luas[4][5]dimana untuk mencegah hal tersebut maka perlu diterapkannya suatu sistem manajemen untuk pengelolaan keselamatan dan kesehatan kerja. seperti ditunjukkan hasil survey pada 100 peringkat atas perusahaan konstruksi di korea selatan selama periode tahun 2006-2011 dimana dengan pengimplementasian sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja mampu mengurangi tingkat kecelakaan kerja hingga 67% dan mengurangi hingga 10,3% kecelakaan yang berakibat fatal[6][7]. jika keselamatan dan kesehatan pekerja terpelihara dengan baik maka angka kesakitan, absensi, kecacatan dan kecelakaan kerja dapat diminimalkan, sehingga akan terwujud pekerja yang sehat dan produktif [8][9]. karena hal tersebut, perlu diadakannya pengelolaan kesehatan dan keselamatan kerja pada suatu kegiatan maupun proyek konstruksi yang bisa disebut dengan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (smk3) guna mengidentifikasi risiko atau bahaya yang ada pada suatu pekerjaan sehingga risiko tersebut dapat dikendalikan dengan metode-metode yang ada untuk mengurangi maupun mengeliminasi dampaknya. pada dasarnya k3 adalah upaya mencegah/ menghindari/ mengurangi kecelakaan kerja dengan cara menghentikan/ meniadakan/ menghilangkan resiko (unsur bahaya) guna mencapai target kerja[10] pekerjaan pembangunan gedung f3 fakultas kedokteran dan ilmu kesehatan (fkik) universitas warmadewa yang berlokasi di jl, terompong no. 24 tanjung bungkak, denpasar bali adalah proyek yang dibangun untuk menyediakan fasilitas pengajaran umum penilaian risiko k3 konstruksi dengan metode hirarc. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. 98 108 issn (online) 2581 2157 i wayan gede erick triswandana / ukarst vol. 4 no. 1 tahun 2020 issn (print) 2502 9304 dan audio visual. proyek ini dibangun diatas lahan seluas 27.2 are dengan struktur gedung 4 lantai yang didalamnya fasilitas berupa ruang kelas, auditorium audio visual, ruang laboratorium, ruang focus group discussion, dan ruangan utilitas. pada dasarnya, perusahaan konstruksi pelaksana proyek ini belum memiliki sertifikasi ohsas 18001 dan seperti yang diketahui bahwa perusahaan yang tersertifikasi memiliki kemampuan lebih baik dalam pengelolaan sistem manajemen k3 dan hal tersebut mendukung pendapat bahwa occupational health and safety management system (ohsms) memainkan peran strategis yang penting dalam hal kesehatan dan keselamatan di tempat kerja [11][12]. namun, pada pelaksanaan pengerjaan proyek ini telah menerapkan smk3 pada proses konstruksinya meskipun belum menggunakan hazard identification risk analysis and risk controlling (hirarc) sebagai metode penilaian risiko k3 serta acuan dasar untuk melakukan mitigasi terhadap risiko-risiko kerja yang teridentifikasi. untuk hal tersebut, maka penulis menganggap perlu melakukan assessment risiko k3 dengan metode hirarc yang bertujuan untuk mengetahui nilai dari potensi bahaya yang dapat terjadi pada pekerjaan konstruksi tersebut. 2. tinjauan pustaka tema utama keselamatan konstruksi adalah pencegahan kecelakaan. beberapa penelitian telah dilakukan untuk memberikan wawasan tentang jenis dan penyebab kecelakaan yang melekat dalam industri konstruksi[13]. beberapa studi telah mempresentasikan tentang penyebab kecelakaan di industri konstruksi malaysia, dimana studi ini menyimpulkan bahwa penyebab utama kecelakaan konstruksi adalah kelalaian pekerja, kegagalan pekerja untuk mematuhi prosedur kerja, bekerja di tempat tinggi, penggunaan peralatan tanpa alat pengaman, manajemen lokasi yang buruk, lingkungan kerja yang keras, rendahnya pengetahuan dan tingkat keterampilan pekerja, kegagalan untuk menggunakan alat pelindung diri dan sikap pekerja yang meremehkan faktor keamanan[14], sementara studi yang lainnya menyoroti "ditabrak oleh benda-benda yang melesat dan melayang", "ditabrak oleh benda-benda", "benda yang jatuh" dan "disengat oleh sesuatu" sebagai kecelakaan konstruksi yang mayoritas terjadi di istanbul-turki[15][16]. risiko adalah akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuat atau tindakan[17]. secara umum manajemen risiko didefinisikan sebagai proses, mengidentifikasi, mengukur, memastikan risiko dan mengembangkan strategi untuk mengelola risiko[18]. dalam mendeteksi semua potensi bahaya kecelakaan kerja perlu adanya identifikasi bahaya dalam setiap aktivitas[19]. penilaian risiko k3 konstruksi dengan metode hirarc. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. 99 108 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581 2157 volume 4 nomor 1 tahun 2020. issn (print) 2579 9304 melalui identifikasi dan penilaian risiko tersebut dapat diketahui berbagai macam risiko suatu pekerjaan yang kemudian dapat dilakukan berbagai upaya pengendalian untuk mengurangi risiko tersebut agar tidak sampai terjadi kecelakaan[20]. sedangkan menurut australia/new zealand standards adalah suatu proses yang logis dan sistematis dalam mengidentifikasi, menganalisa, mengevaluasi, mengendalikan, mengawasi, dan mengkomunikasikan risiko yang berhubungan dengan segala aktivitas, fungsi atau proses dengan tujuan perusahaan mampu meminimalisasi kerugian dan memaksimalkan kesempatan. analisis risiko pekerjaan (task risk analysis-tra) adalah cara menganalisis risiko untuk mengetahui apa saja dan besarnya potensi bahaya yang timbul selama kegiatan berlangsung[21]. analisis risiko digunakan untuk menganalisis suatu sistem dan merupakan alat yang efisien untuk mengidentifikasi faktor risiko dan mengembangkan strategi untuk mencegah kegagalan. ini termasuk identifikasi kegagalan, frekuensi dan analisis konsekuensi[22]. implementasi dari manajemen risiko ini membantu perusahaan dalam mengidentifikasi dan menganalisis risiko sejak awal sehingga membantu membuat keputusan untuk mengatasi risiko tersebut maka dapat dikatakan bahwa manajemen risiko adalah suatu upaya dalam menggunakan sumber daya secara efektif untuk mengurangi dampak unsur ketidakpastian dengan penerapan langkah-langkah sistematis dalam mengidentifikasi dan menganalisa suatu permasalahan yang muncul, kemudian dilakukan tindakan pengendalian preventif dengan mentransfer, mengeliminasi, substitusi, maupun dengan rekayasa teknik terhadap suatu permasalahan. manajemen risiko k3 berkaitan dengan bahaya dan risiko yang ada di tempat kerja yang dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan[23][24]. manajemen risiko k3 adalah suatu upaya mengelola risiko dengan sumber daya yang ada untuk mencegah terjadinya suatu kecelakaan kerja yang dilakukan dengan sistematis sesuai dengan standar yang telah ada baik itu nasional maupun internasional. ohsas 18001 adalah salah satu standar penerapan manajemen k3 yang dibuat oleh beberapa lembaga sertifikasi kelas dunia seperti british standard international (bsi) yang bertujuan untuk mencegah terjadinya potensi kecelakaan kerja yang terjadi di lingkungan kerja yang tidak saja akan menimbulkan kerugian secara ekonomis tetapi juga kerugian nonekonomis. secara umum, ohsas 18001 merupakan standar internasional dari sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. namun, di kalangan akademis, ada kritik bahwa penilaian risiko k3 konstruksi dengan metode hirarc. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. 100 108 issn (online) 2581 2157 i wayan gede erick triswandana / ukarst vol. 4 no. 1 tahun 2020 issn (print) 2502 9304 peraturan kesehatan dan keselamatan kerja dapat membatasi terjadinya inovasi dan pengembangan industri dan pada gilirannya, memicu budaya kebencian birokratis[25][26]. hazard identification risk assessment and risk control (hirarc) merupakan suatu proses pengidentifikasian bahaya yang dapat terjadi baik pada aktifitas rutin amupun non rutin yang kemudian dilakukan proses penilaian berdasarkan bahaya atau risiko yang telah teridentifikasi guna menentukan tinggi rendahnya nilai suatu risiko tersebut sehingga membantu dalam proses pengendaliannya. pada klausa 4.3.1 pada ohsas 18001:2007 mengharuskan organisasi/perusahaan yang akan menerapkan smk3 melakukan penyusunan hirarc pada perusahaan atau kegiatannya[27]. dalam penyusunannya hirarc sendiri dibagi menjadi 3 tahapan diantaranya tahap identifikasi bahaya (hazard identification), tahap penilaian risiko (risk assessment), dan tahap pengendalian risiko (risk control). dalam tahapan penilaian risiko, dapat digunakan matriks pengendalian risiko standar seperti matriks penilaian risiko as/nzs 4360 : 2004[28] yang dipakai di standar australia dan new zealand dan dapat dilihat pada tabel 1, 2 dan tabel 3. tabel 1. skala probability pada standar as/nzs 4360 : 2004. tingkat kriteria penjelasan 1 rare mungkin terjadi hanya pada kondisi khusus/ setelah setahun sekali. 2 unlikely mungkin terjadi pada beberapa kondisi tertentu, namun kecil kemungkinan. 3 posibble mungkin terjadi pada beberapa kondisi tertentu. 4 likely mungkin terjadi pada hampir semua kondisi. 5 almost certainly dapat terjadi pada semua kondisi. sumber : skala probability standar as/nzs 4360 : 2004. tabel 2. skala severity pada standar as/nzs 4360 : 2004. tingkat kriteria penjelasan 1 insignifican (tidak bermakna) tidak ada kerugian, material sangat kecil 2 minor (kecil) cidera ringan memerlukan perawatan p2k3 langsung dapat ditangani di lokasi kejadian, kerugian material sedang 3 moderate (sedang) hilang hari kerja, memerlukan perawatan medis, kerugian material cukup besar. 4 major (besar) cidera mengakibatkan cacat atau hilang fungsi tubuh secara total kerugian material besar 5 extreme menyebabkan bencana material sangat besar sumber : skala severity pada standar as/nzs 4360 : 2004. penilaian risiko k3 konstruksi dengan metode hirarc. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. 101 108 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581 2157 volume 4 nomor 1 tahun 2020. issn (print) 2579 9304 tabel 3. matriks penilaian risiko standar australia – new zealand. as / nzs 4360 : 2004 severity insignificant minor moderate major extreme p r o b a b il it y almost certainly moderate high high v. high v.high 5 likely moderate moderate high high v.high 4 possible low moderate high high high 3 unlikely low low moderate moderate high 2 rare low low moderate moderate high 1 1 2 3 4 5 sumber : matriks penilaian risiko standar australia – new zealand. pada tabel di atas diketahui bahwa subjek penilaian risiko terdiri dari tingkat probabilitas atau kekerapan terjadinya risiko tersebut dan tingkat severity atau keparahan yang diakibatkan apabila risiko tersebut terjadi, dimana apabila 2 subjek tersebut dikalikan maka akan menghasilkan nilai dari suatu risiko yang dapat diklasifikasikan tingkatannya menjadi risiko bernilai rendah (low) hingga risiko yang bernilai sangat tinggi (very high). 3. metode penelitian metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif, dimana metode ini mendiskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti tanpa membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum. penelitian diawali dengan penyebaran kuesionair identifikasi dan assessment awal bahaya dengan menggunakan sampel top hingga middle management yang diantaranya terdiri dari owner, konsultan pengawas, konsultan perencana, direksi pekerjaan, engineer, supervisor, dan kepala lingkungan perwakilan masyarakat. kemudian dilakukan penilaian risiko dengan cara mengisi kuisioner yang telah disediakan, hasil dari kuisioner akan ditabelkan untuk selanjutnya diketahui tingkat risiko dari setiap pekerjaan [29]. analisis yang digunakan yaitu menggunakan pendekatan metode hirarc (hazard identification risk assessment and risk control) dengan tahapan dimulai dari identifikasi risiko dengan cara menentukan sumber bahaya dari kegiatan-kegiatan yang ditinjau untuk kemudian dilakukan penilaian berdasarkan risiko-risiko yang ada dan dikelompokkan berdasarkan klasifikasinya sehingga dapat dilakukan pengendalian yang tepat sasaran. namun dalam penelitian ini langkah sistematis dalam penyusunan hirarc hanya sampai pada penilaian risiko (risk assessment). penilaian risiko k3 konstruksi dengan metode hirarc. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. 102 108 issn (online) 2581 2157 i wayan gede erick triswandana / ukarst vol. 4 no. 1 tahun 2020 issn (print) 2502 9304 4. hasil dan pembahasan berdasarkan studi lapangan dan hasil penelitian diperoleh bahwa pada proyek pembangunan gedung f3 fakultas kedokteran dan ilmu kesehatan universitas warmadewa terdapat 3 klasifikasi risiko yang terdiri dari pekerjaan berisiko rendah, sedang, dan tinggi, tetapi tidak teridentifikasi risiko dengan skala nilai sangat tinggi seperti yang dapat dilihat pada ilustrasi tabel 4. tabel 4. penilaian risiko dan peringkat risiko berdasarkan standar as/nzs 4360 : 2004. no. item pekerjaan risiko probability (p) severity (s) scores (pxs) risk rating d pekerjaan struktur 1 pabrikasi tulangan luka tergores besi/kawat 4 2 8 moderate luka tertusuk besi 3 2 6 moderate luka tertimpa material 1 2 2 low luga terpotong bar cutter 1 2 2 low bongkar dan pasang bekisting luka tergores besi/kawat 2 2 4 low luka tertusuk paku 3 2 6 moderate luka tertimpa material 1 3 3 moderate luka terpukul palu 4 2 8 moderate 3 bongkar pasang scafolding luka/cidera akibat pekerja tertimpa formwork yang runtuh 1 5 5 high luka/cidera pekerja jatuh dari ketinggian 1 5 5 high 4 pembersihan debu dan kotoran dengan compressor pada pekerjaan pelat penyakit kulit dermatitis akibat debudebu dan asap 1 2 2 low gangguan pernafasan akibat debu 1 2 2 low penilaian risiko k3 konstruksi dengan metode hirarc. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. 103 108 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581 2157 volume 4 nomor 1 tahun 2020. issn (print) 2579 9304 tabel 4. penilaian risiko dan peringkat risiko berdasarkan standar as/nzs 4360 : 2004. no. item pekerjaan risiko probability (p) severity (s) scores (pxs) risk rating d pekerjaan struktur 5 pengecoran pekerja jatuh dari ketinggian 1 5 5 high iritasi kulit akibat campuran kimia beton 1 3 3 low tertimpa robohnya cetakan beton 1 5 5 high luga terpotong bar cutter 1 2 2 low sumber : analisis data. dari tabel 4. dapat diketahui bahwa pekerjaan struktur memiliki risiko beragam dengan sebaran persentase yang serupa terkait nilai peringkat risiko. hasil analisis menunjukkan, pekerjaan struktur dan pekerjaan atap memiliki risiko tertinggi dari keseluruhan item pekerjaan dengan persentase dapat dilihat pada gambar 1. dan gambar 2. sumber : analisis data. gambar 1. persentase risk rating pada pekerjaan struktur. 30% 35% 35% high moderate low penilaian risiko k3 konstruksi dengan metode hirarc. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. 104 108 issn (online) 2581 2157 i wayan gede erick triswandana / ukarst vol. 4 no. 1 tahun 2020 issn (print) 2502 9304 sumber : analisis data. gambar 2. persentase risk rating pada pekerjaan atap. dari gambar 1. dan gambar 2. diketahui bahwa jumlah sebaran pekerjaan dengan tingkat risiko tinggi hampir sama dengan jumlah sebaran pekerjaan dengan tingkat risiko rendah dan sedang, pada pekerjaan struktur, persentase tingkat risiko tinggi adalah sebesar 30% atau sebanyak 5 risiko dari total 17 risiko yang teridentifikasi. untuk pekerjaan atap, persentase tingkat risiko tertinggi adalah sebesar 31% atau sebanyak 4 risiko dari total 14 risiko yang teridentifikasi pada sub item pekerjaan tersebut. sedangkan untuk total jumlah risiko yang teridentifikasi dalam tahap pengerjaan proyek ini adalah sebanyak 65 risiko dengan persentase tingkat risiko rendah sebesar 32%, tingkat risiko sedang sebesar 43%, dan tingkat risiko tinggi sebesar 25% yang dapat di lihat pada gambar 3. sumber : analisis data. gambar 3. persentase risk rating seluruh item pekerjaan. dengan diketahui klasifikasi risiko pekerjaan yang terdapat pada proyek pembangunan gedung f3 fkik universitas warmadewa, maka tentunya manajemen proyek dapat melakukan pengendalian dan memitigasi risiko yang ada dengan lebih tepat. 31% 38% 31% high moderate low 25% 43% 32% high moderate low penilaian risiko k3 konstruksi dengan metode hirarc. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. 105 108 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581 2157 volume 4 nomor 1 tahun 2020. issn (print) 2579 9304 5. simpulan dan saran 5.1 simpulan. dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa besarnya persentase peringkat dengan risiko tinggi dari masing masing item pekerjaan diantaranya adalah pekerjaan tanah dengan persentase sebesar 20%, pekerjaan pondasi sebesar 25%, pekerjaan struktur sebesar 30%, pekerjaan atap sebesar 31%, pekerjaan finishing sebesar 25%, dan pekerjaan electrical dan plumbing sebesar 12%. sedangkan dari total 65 risiko yang teridentifikasi pada sub item pekerjaan yang ada, diketahui bahwa sebesar 25% risiko yang teridentifikasi tersebut memiliki peringkat risiko tinggi, 43% risiko yang teridentifikasi memiliki peringkat risiko sedang, dan 32% dari risiko yang teridentifikasi memiliki peringkat risiko rendah. 5.2 saran. dari penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui dan menganalisis risikorisiko yang terjadi, maka disarankan untuk penelitian lebih lanjutnya mengarah ke pengendalian dari risiko yang ada serta melakukan evaluasi terhadap metode penilaian dan pengendaliannya sehingga nantinya dapat dijadikan dasar untuk penerapan sistem keselamatan dan kesehatan kerja di proyek konstruksi. penilaian risiko k3 konstruksi dengan metode hirarc. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. 106 108 issn (online) 2581 2157 i wayan gede erick triswandana / ukarst vol. 4 no. 1 tahun 2020 issn (print) 2502 9304 daftar pustaka [1] m. r. a. simanjuntak and r. praditya, “identifikasi penyebab risiko kecelakaan kerja pada kegiatan konstruksi bangunan gedung di dki jakarta,” media eng., vol. 2, no. 2, pp. 85–99, 2012. [2] s. rinawati, “level of safe behavior with the implementation of hot work permit approach in pt bbb east java,” j. vocat. heal. stud., vol. 01, pp. 89–96, 2018. [3] supriyadi and f. ramdan, “boiler menggunakan metode hazard identification risk assessment and risk control ( hirarc ) universitas serang raya kerja dapat direncanakan , dilakukan dan identification , risk assesment and risk,” j. ind. hyg. occup. heal., vol. 1, no. 2, pp. 161–178, 2017. [4] j. min, y. kim, s. lee, t. jang, i. kim, and j. song, “the fourth industrial revolution and its impact on occupational health and safety , worker ’ s compensation and labor conditions,” saf. health work, vol. 10, no. 4, pp. 400–408, 2019. [5] p. u. dan p. r. menteri, “peraturan menteri pekerjaan umum dan perumahan rakyat republik indonesia nomor 02/prt/m/2018,” 2018. [6] s. j. yoon, h. k. lin, g. chen, s. yi, j. choi, and z. rui, “effect of occupational health and safety management system on work-related accident rate and differences of occupational health and safety management system awareness between managers in south korea ’ s construction industry,” saf. health work, vol. 4, no. 4, pp. 201–209, 2013. [7] f. e. saputra, “analisis kesesuaian penerapan safety si g n di pt . terminal petikemas surabaya,” indones. j. occup. saf. heal., vol. 5, no. 2, pp. 121–131, 2016. [8] c. d. yuliandi and e. ahman, “penerapan keselamatan dan kesehatan kerja ( k3 ) di lembang application of work safety and health ( k3 ) in the work environment of artificial insemination ( bib ) lembang,” manajerial, vol. 18, no. 2, pp. 98–109, 2019. [9] a. i. candra, “pada pembangunan gedung mini hospital universitas kadiri,” ukarst, vol. 1, no. 1, pp. 63–70, 2017. penilaian risiko k3 konstruksi dengan metode hirarc. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. 107 108 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581 2157 volume 4 nomor 1 tahun 2020. issn (print) 2579 9304 [10] a. nadhir, “pengaruh pengelolaan keselamatan dan kesehatan kerja terhadap produktivitas kerja pada pekerjaan konstruksi gedung di cv. pilar blitar mapan sejahtera,” qua tek., vol. 7, no. 1, pp. 11–20, 2017. [11] i. mohammadfam, m. kamalinia, m. momeni, r. golmohammadi, y. hamidi, and a. soltanian, “evaluation of the quality of occupational health and safety management systems based on key performance indicators in certi fi ed organizations,” saf. health work, vol. 8, no. 2, pp. 156–161, 2017. [12] a. i. candra et al., “pengecekan kelayakan bangunan gedung sma negeri 1 kota kediri yang digunakan untuk aktifitas,” vol. 2, no. 2, pp. 108–116, 2019. [13] m. o. sanni-anibire, a. s. mahmoud, m. a. hassanain, and b. a. salami, “a risk assessment approach for enhancing construction safety performance,” saf. sci., vol. 121, no. september 2019, pp. 15–29, 2020. [14] m. j. tear, t. w. reader, s. shorrock, and b. kirwan, “safety culture and power : interactions between perceptions of safety culture , organisational hierarchy , and national culture,” saf. sci., vol. 121, no. march 2018, pp. 550–561, 2020. [15] c. engineering, “abdul rahim abdul hamid , muhd zaimi abd majid , bachan singh,” vol. 20, no. 2, pp. 242–259, 2008. [16] f. yilmaz, “monitoring and analysis of construction site accidents by using accidents analysis management system in turkey.” p. 57, 2015. [17] j. tjakra, j. e. c. langi, d. r. o. walangitan, f. teknik, j. sipil, and u. s. ratulangi, “manajemen risiko keselamatan dan kesehatan kerja ( k3 ) pada proyek pembangunan ruko orlens fashion manado,” j. sipil stat., vol. 1, no. 4, pp. 282–288, 2013. [18] a. lokobal, “pelaksana konstruksi di propinsi papua ( study kasus di kabupaten sarmi ),” media eng., vol. 4, no. 2, pp. 109–118, 2014. [19] c. pokphand, p. martino, d. i. rinawati, and r. rumita, “analisis identifikasi bahaya kecelakaan kerja menggunakan job safety analysis ( jsa ) dengan pendekatan hazard identification , risk assessment and risk control ( hirarc ),” ind. eng., vol. 2, no. 2, pp. 1–9, 2015. penilaian risiko k3 konstruksi dengan metode hirarc. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. 108 108 issn (online) 2581 2157 i wayan gede erick triswandana / ukarst vol. 4 no. 1 tahun 2020 issn (print) 2502 9304 [20] a. y. ambarani and a. r. tualeka, “hazard identification and risk assessment ( hira ) pada proses fabrikasi plate tanki 42-t-501a pt pertamina ( persero ) ru vi balongan,” indones. j. occup. saf. heal., vol. 5, no. 2, pp. 192–203, 2016. [21] i. oditya putra, “risk management at biopharmaceutical and pharmaceutical analysis laboratory of airlangga university,” indones. j. occup. saf. heal., vol. 7, no. 1, pp. 81–90, 2018. [22] s. morsal, z. borzooei, and j. maleki, “an effective approach for assessing risk of failure in urban sewer pipelines using a combination of gis and ahp-dea,” process saf. environ. prot., vol. 133, pp. 275–285, 2020. [23] k. madill, “standards australia,” 2003. [24] a. i. candra, “studi kasus stabilitas struktur tanah lempung pada jalan totok kerot kediri menggunakan limbah kertas,” ukarst, vol. 2, no. 2, p. 11, 2018. [25] a. r. hale, d. borys, and m. adams, “afety regulation: the lessons of workplace safety rule management for managing the regulatory burden.” pp. 112–122, 2015. [26] f. salguero-caparros, m. c. pardo-ferreira, m. martinez-rojas, and j. c. rubioromero, “management of legal compliance in occupational health and safety . a literature review,” saf. sci., vol. 121, no. june 2019, pp. 111–118, 2020. [27] s. a. series, “occupational health and safety management systems – requirements,” 2007. [28] n. z. standard, “risk management,” 2004. [29] a. i. candra, e. gardjito, y. cahyo, and g. a. prasetyo, “pemanfaatan limbah puntung rokok filter sebagai bahan campuran beton ringan berpori,” ukarst, vol. 3, p. 85, 2019 penilaian risiko k3 konstruksi dengan metode hirarc. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. analisis daya dukung pondasi strous pile pada pembangunan gedung mini hospital universitas kadiri ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hal 27 analisis daya dukung pondasi strauss pile pada pembangunan gedung mini hospital universitas kadiri agata iwan candra fakultas teknik, universitas kadiri email: iwan_candra@unik-kediri.ac.id abstract the foundation is an important building structure in the field of construction because it functions as the support of a building. the foundation must be planned appropriately to maintain the stability of the building. strauss foundation is one type of foundation that is used to carry the burden if hard soil that has a strong carrying capacity is very deep from the ground surface. this study aims to calculate the carrying capacity of the strauss foundation using the meyerhof method. to estimate the carrying capacity of the soil, field testing is carried out using a cpt (cone penetration test). the results of the analysis show that the carrying capacity of the deepest shallow foundation is 2 meters with an ultimate carrying capacity of 188 kg. while the carrying capacity of foundations in the depth of 3 to 5 meters. the most efficient result by meyerhof's calculation was the number of poles as much as 2 at a depth of 4 meters with a pile group capacity of 74.13 tons, greater than the maximum load (69.42 tons) keywords: carrying capacity, cpt (cone penetration test), strauss foundation, meyerhof. abstrak pondasi merupakan struktur bangunan yang penting dalam bidang konstruksi karena berfungsi sebagai penompang sebuah bangunan. pondasi harus direncanakan dengan tepat untuk menajaga kestabilan bangunan. pondasi strauss merupakan salah satu jenis pondasi yang digunakan untuk memikul beban apabila tanah keras yang mempunyai daya dukung yang kuat letaknya sangat dalam dari permukaan tanah. penelitian ini bertujuan untuk menghitung daya dukung tanah pondasi strauss menggunakan metode meyerhof. untuk memperkirakan daya dukung tanah dilakukan pengujian lapangan dengan menggunakan cpt (cone penetration test). hasil analisis menunjukkan bahwa daya dukung pondasi dangkal terdalam pada 2 meter dengan daya dukung ultimit 188 kg. sedangkan daya dukung pondasi dalam terdapat pada kedalaman 3 hingga 5 meter. hasil paling efisien dengan perhitungan meyerhof didapat jumlah tiang sebanyak 2 pada kedalaman 4 meter dengan kapasitas kelompok tiang yaitu 74.13 ton, lebih besar dibandingkan dengan beban maksimum (69.42 ton) kata kunci : daya dukung, cpt (cone penetration test ), pondasi strauss, meyerhof. ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hal 28 1. pendahuluan sejalan dengan perkembangan pembangunan dewasa ini, semakin banyak didirikan gedung-gedung bertingkat tinggi. secara umum bagaunan dalam bidang konstruksi terdiri dari struktur atas dan struktur bawah. struktur atas meliputi konstruksi kolom, balok dan plat sedangkan struktur bawah meliputi konstruksi pondasi. [1] pondasi merupakan bagian penting dalam konstruksi bangunan. [2][3] pondasi harus direncanakan dan diperhitungkan dengan tepat agar dapat menjamin kestabilan bangunan [4] sesuai dengan daya dukung tanah yang diijinkan sehingga konstruksi mampu berdiri dengan sempurna tanpa mengakibatkan keruntuhan geser tanah, dan penurunan (settlement) tanah/pondasi yang berlebihan sehingga tidak mengakibatkan kerusakan pada bangunan. [5][6] pondasi berfungsi untuk meneruskan beban yang berasal dari beban bangunan itu sendiri ataupun beban luar yang bekerja pada bangunan ke tanah yang ada disekitarnya. [7] beban dari struktur bangunan tersebut didistribusikan melalui kolom dengan intensitas tegangan yang di ijinkan menurut nilai daya dukung tanah. struktur bawah sebagai pondasi juga secara umum dapat dibagi dalam dua jenis yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam.[8] pemilihan jenis pondasi ini tergantung kepada jenis struktur atas, apakah termasuk konstruksi beban ringan atau beban berat dan juga jenis tanahnya.[9] untuk konstruksi beban ringan dan kondisi lapisan tanah permukaan cukup baik, biasanya jenis pondasi dangkal sudah memadai.[10] pondasi dangkal lebih banyak digunakan dalam bidang konstruksi karena dianggap lebih efektif. [11] permasalahan yang sering timbul dalam pembangunan bidang konstruksi diakibatkan oleh kondisi tanah. [12] hal tersebut karena tanah tempat berdirinya bangunan merupakan daerah yang memiliki tanah labil sehingga menimbulkan masalah dalam menentukan jenis pondasi yang layak dipergunakan. hal ini terjadi pula pada pembangunan gedung mini hospital universitas kadiri pada waktu diadakan penyelidikan tanah (cpt), menunjukan lapisan tanah keras letaknya tidak terlalu dalam dari permukaan tanah. dengan diketahui kondisi lapisan tanah, dimana letak lapisan tanah keras berada tidak terlalu dalam dari permukaan tanah maka pemilihan jenis pondasi menggunakan sistem pondasi tiang (strauss pile). tujuan dari perencanaan ini yaitu untuk menghitung daya dukung strauss terhadap hasil cpt (concrete penetration test) pada pembangunan gedung mini hospital universitas kadiri. analisis ini hanya akan menghitung daya dukung tiang berdasarkan kekuatan tanah, perhitungan daya dukung tiang kelompok, dan data pembebanan berdasarkan data struktur atas dari perhitungan sap2000. ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hal 29 2. metodologi 2.1 daya dukung pondasi daya dukung atau bearing capacity merupakan kemampuan tanah yang berada di bawah ataupun disekitar pondasi unuuk menahan beban yang berada di struktur atasnya. [13][14] daya dukung dan penurunan pondasi dapat dihitung berdasarkan data tanah yang didapat dari pengujian laboratorium dan juga pengujian lapangan. pengujian laboratorium menghasilkan data berupa sifat fisik dan sifat mekanis tanah.[15] pengujian lapangan dilakukan dengan cara pengujian pembebanan atau biasa disebut loading test. [16] berdasarkan pengujian pembebanan akan didapat diperkirakan besarnya daya dukung ultimit dan penurunan. cone penetration test (cpt) atau uji sondir merupakan salah satu jenis pengujian untuk memperkirakan besarnya daya dukung tanah pada pondasi dalam dan juga dapat digunakan untuk mengklasifikasikan jenis tanah.[17][18] pengujian dilakukan dengan mendorong konus (kerucut) kedalam tanah dan perlawanan tanah terhadap ujung konus maupun lekatan tanah terhadap selimut batang konus diukur, sehingga didapatkan nilai tahanan ujung (qc) dan lekatan selimut (fs). [19][20] daya dukung dan penurunan pondasi dalam dapat dihitung dengan metode meyerhof. a. b. c. gambar 1.(a) cone penetration test, (b) ujung konus (c) pipa sondir tabel 1. tingkat konsistensi tanah dari sondir (terzaghi dan peck, 1948)[21] konsistensi qc (kg/cm2) tanah sangat lunak < 5 tanah lunak 5 10 tanah agak lunak 10 35 tanah sedang / kaku 30 60 tanah agak keras 60 120 tanah keras > 120 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hal 30 2.2 daya dukung tanah menggunakan pondasi dangkal untuk pondasi-pondasi dangkal pada tanah pasir maupun lempung menurut meyerhof (1976) [22] dihitung dengan persamaan berikut. 𝑞𝑢𝑙𝑡 = 𝑞𝑐 .𝐵.*1 + ! " -. # $% ……..….(1) dimana: qult = kapasitas dukung ultimit pondasi qc = tahanan konus dari sondir / pk d = kedalaman pondasi b = lebar pondasi 2.3 daya dukung tanah menggunakan pondasi tiang metode meyerhof untuk mengetahui kapasitas daya dukung tiang tunggal berdasarkan pada penyajian data hasil sondir, maka beban ijin (pall) dihitung menggunakan metode meyerhof (1956) [22] perhitungan daya dukung tiang menurut metode meyerhof menggunakan persamaan 2: 𝑃𝑢𝑙𝑡 = 𝑞𝑐𝑟 .𝐴𝑝 + 𝛴 𝑓𝑠 .𝐴𝑠 𝑃𝑎𝑙𝑙 = &'() *+ ……………..(2) dimana: pult = beban maksimum pall = kapasitas beban yang diijinkan ap = luas penampang dasar pondasi tiang as = keliling pondasi tiang qcr = qc rata-rata, sepanjang 4d bagian atas rencana ujung tiang dan 1d dibawah ujung tiang fs = hambatan lekat fk = factor keamanan nilainya antara 2,5 s/d 3 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hal 31 2.4 kapasitas daya dukung kelompok tiang [23] kapasitas ultimit kelompok tiang dengan memperlihatkan faktor efisiensi tiang dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut : 𝐸𝑔 = 1 − 3 (𝑛 − 1).𝑚 + (𝑚 − 1).𝑛 90.𝑚.𝑛 : .𝜃 𝜃 = 𝐴𝑟𝑐 𝑡𝑔 .𝐷 𝑠@ 𝑃𝑔 = 𝐸𝑔 .𝑛𝑡.𝑃𝑎𝑙𝑙 ……….(3) dimana : eg = efisiensi kelompok tiang m = banyaknya tiang dalam arah x n = banyaknya tiang dalam arah y d = diameter tiang = 30 cm s = jarak tiang = 2,5d pg = kapasitas kelompok tiang pall = kapasitas beban ijin tiang tunggal nt = jumlah tiang 2.5 rancangan analisis data bahan untuk menganalisis daya dukung pondasi menggunakan data pondasi tiang. beberapa metode pengumpulan data antara lain: 1. metode observasi dengan mengambil data yang berhubungan dengan data teknis gedung dan pondasi diperoleh langsung dari proyek. 2. pengambilan data meliputi gambar lengkap (denah, potongan, detail-detail, denah pondasi, detail pondasi), data penyelidikan tanah yaitu data sondir. 3. membaca studi kepustakaan dengan membaca dan mengutip isi buku yang berhubungan dengan permasalahan yang ditinjau untuk melengkapi dan menyelesaikan tulisan artikel ini. 4. menghitung daya dukung pondasi berdasarkan data sondir dengan menggunakan metode meyerhof yang kemudian digunakan untuk menentukan jumlah tiang dengan mempertimbangkan daya dukung tiang kelompok, kemudian disimpulkan. ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hal 32 2.6 lokasi pengujian gambar 2. denah lokasi pengujian cone penetration test (cpt) gambar 3. titik pengujian cone penetration test (cpt) ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hal 33 3. hasil dan pembahasan 3.1 beban struktur bangunan hasil perhitungan analisa pembebanan dengan bantuan sap2000,[24][25] untuk beban maksimal bangunan yang bekerja pada pondasi (pmax) = 69420,36 kg = 69,42 ton gambar 4. (a) grid line diagram (b) 3d modeling sap2000 3.2 hasil pengujian cpt (cone penetration test) gambar 5. kegiatan pengujian sondir ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hal 34 hasil pengujian cpt (cone penetration test) disajikan pada table 2 dengan uraian sebagai berikut: tabel 2. hasil uji cpt lapangan kedalaman m.t. perlawanan penetrasi konus jumlah perlawanan hambatan lekat hl2 jumlah hambatan lekat hambatan setempat (m) (pk) (kg/cm 2) (jp) (kg/cm 2) hl=jp-pk (kg/cm 2) (kg/cm) (jhl) (kg/cm 2) hs=hl/10 (kg/cm 2) 0.00 0 0 0 0 0 0 20 85 99 14 28 28 1,4 40 75 80 5 10 38 0,5 60 65 95 30 60 98 3,0 80 65 90 25 50 148 2,5 1.00 55 85 30 60 208 3,0 20 47 80 33 66 274 3,3 40 45 80 35 70 344 3,5 60 40 80 40 80 424 4,0 80 30 70 40 80 504 4,0 2.00 25 55 30 60 564 3,0 20 25 40 15 30 594 1,5 40 30 50 20 40 634 2,0 60 35 60 25 50 684 2,5 80 35 65 30 60 744 3,0 3.00 35 70 35 70 814 3,5 20 40 65 25 50 864 2,5 40 40 70 30 60 924 3,0 60 35 65 30 60 984 3,0 80 40 60 20 40 1024 2,0 4.00 40 55 15 30 1054 1,5 20 40 60 20 40 1094 2,0 40 40 65 25 50 1144 2,5 60 30 45 15 30 1174 1,5 80 30 60 30 60 1234 3,0 5.00 30 50 20 40 1274 2,0 20 30 50 20 40 1314 2,0 40 40 55 15 30 1344 1,5 60 35 50 15 30 1374 1,5 80 30 45 15 30 1404 1,5 6.00 25 40 15 30 1434 1,5 sumber : tes sondir tahun 2017 ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hal 35 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 220 240 260 280 300 320 340 360 380 400 420 440 460 480 500 520 540 560 580 600 0 50 100 ke da la m an (c m ) jumlah perlawanan konus (kg/cm²) a. b. gambar 6. (a) grafik data sondir kedalaman vs jumlah perlawanan konus (b) grafik data sondir kedalaman vs jumlah hambatan lekat 3.3 daya dukung pondasi dangkal hasil analisis daya dukung pondasi dangkal dengan metode meyerhof (1976) dapat dilihat pada tabel 3 berikut ini : tabel 3. daya dukung pondasi dangkal kedalaman pondasi lebar pondasi tahanan konus kapasitas dukung ultimit d (cm) b (cm) qc (kg/cm²) qult (kg) 60 100 65 260 100 100 55 275 160 100 40 260 200 100 25 188 sumber : data diolah 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 220 240 260 280 300 320 340 360 380 400 420 440 460 480 500 520 540 560 580 600 0 500 1000 1500 ke da la m an (c m ) jumlah hambatan lekat (kg/cm²) ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hal 36 260 275 260 187,5 170 190 210 230 250 270 290 50 60 70 80 90100110120130140150160170180190200210 k ap as ita s d uk un g u lti m it (k g) kedalaman (cm) gambar 7. hubungan kedalaman dengan kapasitas dukung ultimit pada tabel 3 dan gambar 7 menunjukkan bahwa nilai maksimum perhitungan daya dukung pondasi dangkal menggunakan metode meyerhof (1976) terdapat pada kedalaman 100 cm dengan kapasitas daya dukung ultimit 275 kg. 3.4 daya dukung pondasi tiang hasil analisis daya dukung pondasi tiang dengan metode meyerhof (1956) dapat dilihat pada tabel 4 berikut ini : tabel 4. daya dukung pondasi tiang (meyerhof) kedalaman lebar pondasi kapasitas tiang jumlah tiang efisiensi grup kapasitas kelompok tiang beban maksimum pg > pmax (m) d (cm) pall(kg) nt eg pg (ton) pmax(ton) 3.00 30 33278.77 3 0.76 75.87 69.42 ok 4.00 30 42123.10 2 0.88 74.13 69.42 ok 5.00 30 48376.93 2 0.88 85.14 69.42 ok ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hal 37 75,47 84,53 73,16 70,00 75,00 80,00 85,00 3 4 5k ap as ita s k el om po k t ia ng (t on ) kedalaman (m) gambar 8. hubungan kedalaman dengan kapasitas kelompok tiang tabel 4 dan gambar 8 menunjukkan bahwa dengan metode mayerhoff didapat perhitungan paling efisien pada kedalaman 4 meter dengan jumlah tiang 2 dan kapasitas kelompok tiang yaitu 74.13 ton . 4. kesimpulan dari hasil analisis daya dukung pondasi pada pembangunan gedung mini hospital universitas kadiri dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. berdasarkan analisis daya dukung pondasi dangkal dengan metode meyerhof (1976) dengan lebar pondasi 100 cm pada kedalaman 60 cm didapat daya dukung ultimit (qult) sebesar 260 kg, pada kedalaman 100 cm didapat daya dukung ultimit (qult) sebesar 275 kg, pada kedalaman 160 cm didapat daya dukung ultimit (qult) sebesar 260 kg, pada kedalaman 60 cm didapat daya dukung ultimit (qult) sebesar 187.5 kg, 2. berdasarkan analisis daya dukung pondasi dalam dengan metode meyerhof (1956) dengan lebar pondasi 30 cm pada kedalaman 3 m dengan jumlah tiang sebanyak 3 didapat kapasitas kelompok tiang sebesar 75.87 ton, pada kedalaman 4 m dengan jumlah tiang sebanyak 32didapat kapasitas kelompok tiang sebesar 74.13 ton, pada kedalaman 5 m dengan jumlah tiang sebanyak 2 didapat kapasitas kelompok tiang sebesar 85.14 ton 3. jumlah tiang pancang sangat mempengaruhi nilai daya dukung tiang kelompok, semakin banyak tiang pancang yang digunakan, maka nilai daya dukung tiang kelompok semakin besar dan semakin aman untuk memikul beban bangunan, akan tetapi kurang ekonomis dari pertimbangan biaya. ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hal 38 daftar pustaka [1] a. yusti, “analisis daya dukung pondasi tiang pancang diverifikasi dengan hasil uji pile driving analyzer test dan capwap,” fropil, vol. 2, no. 1, pp. 19–31, 2014. [2] j. tambunan, “studi analisis daya dukung pondasi tiang pancang,” j. ranc. sipil, vol. 1, no. 1, pp. 21–30, 2012. [3] b. chairullah, “analisa daya dukung pondasi dengan metoda spt, cpt, dan meyerhof pada lokasi rencana konstruksi pltu nagan raya provinsi aceh,” vol. 3, no. 1, pp. 15–24, 2013. [4] r. katzenbach, s. leppla, h. ramm, m. seip, and h. kuttig, “design and construction of deep foundation systems and retaining structures in urban areas in difficult soil and groundwater conditions,” procedia eng., vol. 57, pp. 540–548, 2013. [5] f. fahriani and y. apriyanti, “analisis daya dukung tanah dan penurunan pondasi pada daerah pesisir pantai utara kabupaten bangka,” forum prof. tek. sipil, vol. 3, no. 2, pp. 89–95, 2015. [6] h. zhong and m. yang, “dynamic effect of foundation settlement on bridge-vehicle interaction,” eng. struct., vol. 135, pp. 149–160, 2017. [7] z. arifin, “komparasi daya dukung aksial tiang tunggal dihitung dengan beberapa metode analisis tesis,” pp. 1–126, 2007. [8] m. s. zazkya fitri sylvarez, tri indra wijaksana, s.sos., “analisa daya dukung pondasi bore pile dengan menggunakan metode analitis (studi kasus proyek manhattan mall dan condominium),” e-proceeding manag. issn 2355-9357, vol. 3, no. 1 april, pp. 477– 484, 2016. [9] j. pagehgiri, “analisis penggunaan pondasi mini pile dan pondasi borpile terhadap biaya dan waktu pelaksanaan pembangunan ruang kelas smpn 10 denpasar juniada pagehgiri,” vol. 8, no. 1, 2015. [10] p. n. lhokseumawe, k. pengantar, rahayu deny danar dan alvi furwanti alwie, a. b. prasetio, and r. andespa, “analisa daya dukung pondasi tiang pancang pada proyek pembangunan gedung kanwil djp dan kpp sumbagut i jalan suka mulia medan,” j. ekon. vol. 18, nomor 1 maret201, vol. 2, no. 1, pp. 41–49, 2010. [11] r. rajapakse, “shallow foundation fundamentals,” geotech. eng. calc. rules thumb, pp. 71–75, 2008. [12] m. hjiaj, a. v. lyamin, and s. w. sloan, “bearing capacity of a cohesive-frictional soil under non-eccentric inclined loading,” comput. geotech., vol. 31, no. 6, pp. 491–516, 2004. [13] r. rajapakse, “bearing capacity computation (general equation for cohesive and noncohesive soils),” geotech. eng. calc. rules thumb, pp. 95–133, 2016. [14] q. chen and m. abu-farsakh, “ultimate bearing capacity analysis of strip footings on reinforced soil foundation,” soils found., vol. 55, no. 1, pp. 74–85, 2015. [15] j. k. lee, s. jeong, and s. lee, “undrained bearing capacity factors for ring footings in heterogeneous soil,” comput. geotech., vol. 75, pp. 103–111, 2016. [16] n. djarwanti and g. maharani, “komparasi nilai daya dukung tiang tunggal pondasi bor menggunakan data spt , dan hasil loading test pada tanah granuler,” no. september, pp. 720–725, 2015. [17] u. jusi, “analisa kuat dukung pondasi bored pile berdasarkan data pengujian lapangan (cone dan n-standard penetration test),” siklus j. tek. sipil, vol. 1, no. 2, pp. 50–82, 2015. [18] t. matsumoto, l. t. phan, a. oshima, and s. shimono, “measurements of driving energy in spt and various dynamic cone penetration tests,” soils found., vol. 55, no. 1, pp. 201– 212, 2015. [19] e. s. randyanto, “menggunakan metode statik dan calendring studi kasus : proyek ukarst vol.1, no.1 tahun 2017 p issn 2579-4620 e issn 2581-0855 hal 39 pembangunan manado town square 3,” vol. 3, no. 9, pp. 631–643, 2015. [20] m. h. baziar, a. kashkooli, and a. saeedi-azizkandi, “prediction of pile shaft resistance using cone penetration tests (cpts),” comput. geotech., vol. 45, pp. 74–82, 2012. [21] a. j. lutenegger and d. j. degroot, “settlement of shallow foundations,” 1995. [22] g. g. meyerhof, “the ultimate bearing capacity of foundations,” geotechnique, vol. 2, no. 4, pp. 301–332, 1951. [23] p. a. tuan, “a simplified formular for analysis group efficiency of piles in granular soil,” vol. 7, no. 7, 2016. [24] r. patil, s. anoor, s. desai, and m. kumar, “analysis and design of residential building by using sap-2000,” pp. 2491–2497, 2017. [25] m. gen, k. hu, y. yang, s. mu, and g. qu, “procedia engineering study on high-rise structure with oblique columns by,” vol. 00, no. 2011, 2012. judul artikel [book antiqua, 14 pt, bold] measurement of occupational safety and health risk levels of kadiri university lp3m building s. susanto 1*, hendy 2, sumargono 3, b. winarno 4, a. i. candra 5. 1*,2,3,4,5. faculty of engineering, kadiri university email : 1* sonysusanto@unik-kediri.ac.id 1. introduction increased development of various regions in indonesia in the field of construction consists of the upper structure. the lower structure makes many contractors competing for d natural executing a project at the start of speed, quality, and cost [1]. however, many contractors override occupational health and safety (k3) in construction projects [2]. work accidents that occur in a construction project will be one of the causes of disruption or cessation of project work activities [3][4]. the construction work of building multi-story is a job solid with the risk level high [5]. the construction process of building construction projects is generally an activity that contains a lot of hazardous elements [6]. there are many potential hazards in the a r t i c l e i n f o a b s t r a c t article history : article entry : 25-03-2020 article revised : 04-04-2020 article received : 07-04-2020 construction work for high rise buildings is a dense work activity with a high level of risk. the purpose of this research is that construction of the building takes place in the middle of lecture activities where many students, lecturers, and staff carry out activities in the campus environment, considering that construction projects are generally vulnerable to work accidents. this study investigated the identification, k3 risk assessment, and how to control ohs risks in kadiri university lp3m building projects. the assessment method uses a matrix sourced from as / nzs 4360: 2004. the study population numbered 58 workers ranging from workers, artisans, project guards, forepersons, executors, and office staff. the sample in this study amounted to 38 respondents. data collected from questionnaires to respondents. the results of the study showed that immovable/ tripped objects with a risk index of 20 included a very high-risk classification, high-risk classification of 4 variables, classification at medium risk level as many as ten variables can endanger workers and jobs while classification at a low-risk level as much as two variables. keywords : identification, risk assessment, questionnaire, matrix. ieee style in citing this article : [21] g. rong, w. sainan, and h. mengshi, “underground railway safety analysis and planning strategy : a case of harbin metro line 1 , china,” procedia eng., vol. 165, pp. 575–582, 2016, doi: 10.1016/j.proeng.2016.11.753. available online at http://ojs.unik-kediri.ac.id/index.php/ukarst/index u karst issn (online) 2581-0855 sony susanto / ukarst vol. 4, no. 2, (2020). issn (print) 2579-4620 http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v4i2 measurement of occupational safety and health risk levels of kadiri university lp3m building. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. mailto:1%20sonysusanto@unik-kediri.ac.id mailto:1%20sonysusanto@unik-kediri.ac.id workplace and result in losses to all parties concerned. prevention efforts that can be done include applying the concept of occupational safety and health (k3) [7]. development was done with simple or high-tech, never escape from the risk of accidents. this risk can be seen from the quality of human resources in the project location. every year around the world, 2 million people die from work-related problems [8]. in 2010, there were 65,000 work accidents, 1,965 workers died, 3,662 workers had functional disabilities, 2,713 partial disabilities, 31 total disabilities, and the rest can be cured [7]. in indonesia, according to data from the ministry of manpower and transmigration (kemenakertrans), the number of work accidents as of the fourth quarter of 2014 shows that there are 14,519 cases of work accidents. in general, the occupational safety and health (k3) rates of companies in indonesia are still low [5]. therefore implementing occupational safety and health management (k3) is very important because it aims to provide a pleasant, comfortable, and safe working environment and conditions [8]. but all government efforts will not succeed without a response from companies and workers to address problems or violations of occupational safety and health (k3). various control efforts need to be made to minimize work accidents by implementing k3 risk management (safety and occupational health) [9]. according to the 2018 indonesian higher education statistics data, the east java region has 137 private universities, one of which is kadiri university [10]. the university of kadiri is one of the private universities in ko ta kediri who are doing. development of educational facilities to create a comfortable and conducive atmosphere for lectures. located kadiri university on jl. selomangleng no. 1 kediri city. the construction is being done in the development of the lp3m lecture building. this building has a size of 15 m 16 m, the height of the building three floors with the number of workers who involved around 58 people. building a story ongoing on campus need to pay more attention because construction of the building took place amid lectures where many students, faculty, and staff who perform activities in area campus, considering the construction projects are generally susceptible to a work accident. one thing to note is that the aspects of the implementation of the occupational health and safety are a process identified and risk measurement and management of the risk of occupational safety and health to facilitate the contractor in making control or treatment of existing threats to minimize the number of accidents on the job and also work dap at performing well, in terms of human resources (hr) and duration of the implementation of the 125 137 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 4 number 2, (2020). issn (print) 2579-4620 measurement of occupational safety and health risk levels of kadiri university lp3m building. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. work. still, it can create the conditions area a safe and comfortable working. based on problems that have described the background, the problem formulations discussed in this study are as follows : 1. how to identify and provide an occupational safety and health (k3) risk assessment in the kadiri university lp3m building project ?. 2. how to handle occupational safety and health (k3) risks in the kadiri university lp3m building project ?. objectives achieved research i ni to identify and assess each risk and control measures against the risk of occupational health and safety (k3), which occurred in a building lp3m university of kadiri. the method used in this study is a matrix method [11]. 2. literature review as a scientific work, research must be based on influential theories and come from reliable sources [12] of which will be discussed in the following chapter. 2.1 risk management. risk is something that leads to the uncertainty of an event’s occurrence during a specific period that causes losses, be it small or significant losses, which affect the profitability of a company [13]. the losses feed uncertainty forms should be understood adequately by the organization as part of the strategy to be an added value and support the achievement of organizational goals [14]. risk management is the activity of planning, organizing, directing, and controlling the company’s corporate resources to achieve specific objectives within a particular time with certain resources [5]. 2.2 occupational health and safety risk management (k3). good work is a state secure and safe from suffering in carrying out its action [15]. healthy’s work is a condition free from the physical and emotional disease [16]. based on the description above, occupational safety and health are vital for the company, because the impact of accidents and occupational diseases is not only detrimental to employees, but also the company, either directly or indirectly. occupational safety and health (k3) risk management is an effort to manage risks to prevent unwanted accidents in a comprehensive, planned, and structured manner in a good friend’s team [17]. 126 137 issn (online) 2581-0855 sony susanto / ukarst vol. 4, no. 2, (2020). issn (print) 2579-4620 measurement of occupational safety and health risk levels of kadiri university lp3m building. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. 2.3 identification of risk. risk identification is a series of processes for carefully identifying the risks and risk components inherent in activities or transactions directed to measuring and managing risks correctly [18]. the stages in risk management include planning, assessment (identification and analysis), handling, and risk monitoring. 2.4 measurement of risk. measurement/assessment risk is to determine the level of risk based on the identification of the hazard that has been done. measurement is vital to evaluate whether risk acceptable or not because it affects the whole program in the management of risk [19]. 2.5 avoiding risks. this method is done by not doing activities that present risks if the project can be done by changing the project plan to balustrades risk. although not all risks can be avoided, some risks may be avoided [20]. some of the risks that may occur in the early stages of the project can be avoided by clarifying the project requirements (requirement), collecting information, improving communication, or repairing inability. maybe this way bi s a seen as a way to deal with all the risks. but keep in mind that avoiding danger also means eliminating the chance profit potential [21]. 3. research methods 3.1 population. the population is a generalization area consisting of objects or subjects with specific qualities and characteristics determined by researchers to study and then draw conclusions [22]. the community in this study were all employees are housed in the project building lp3m university of kadiri. 3.2 samples. the sample is part of the number and characteristics possessed by the population to be investigated. it considered being representative of the entire population [22]. in determining the number of samples, this study uses a probability technique using random sampling, namely the sample selection method. each member of the population has an equal chance of being selected as a sample member. the sample size in this study used the slovin ruin [23]. 127 137 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 4 number 2, (2020). issn (print) 2579-4620 measurement of occupational safety and health risk levels of kadiri university lp3m building. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. 𝑛 = 𝑁 1+(𝑁𝑒 2 ) 𝑛 = 58 1 + (58 𝑥 0,12 ) = 58 0,58 + 1 = 37,71 based on the above calculations, the authors complete the number of samples to 38 samples. information : n = sample size/number of respondents. n = population size. e = percentage of all allowances accuracy samples are still tolerated (1%, 5%, and 10%). 3.3 data collection techniques. the value needs to be processed to produce information or information in the form of facts [24]. the data collection technique used in this study was a questionnaire. the questionnaire is a collection of data. it makes a list of questions asked to respondents who have been determined as samples [25]. the survey in this study’s measurement is the k3 risk variable to assess the impact of the risk level. 3.4 research instruments. a research instrument is a tool used to measure the observed phenomenon [23]. in this study, the authors will use an application program computer, namely software spss (statistical product and service solution) statistics 25. the application program computer will be used by the authoring software to analyze test validity and test reliability. 1. validity test. the validity test is used to measure whether a questionnaire is valid or not. test the validity of the instrument in this study using the pearson product moment formula [26] : 𝑅𝑥𝑦 = 𝑁 ∑ 𝑋𝑌 − (∑ 𝑋)(∑ 𝑌) √{𝑁 ∑ 𝑋2 − (∑ 𝑋2)}{𝑁 ∑ 𝑌2 − (∑ 𝑌)²} information : rxy = grain correlation coefficient. ∑y = total score of all items respondents. ∑x = total score for each item. n = number of samples. the validity test is done by comparing the calculated rvalue with the rtable. if rcount > rtable, then the statement is declared valid, conversely if rcount < rtable, then the statement is declared invalid [16]. 128 137 issn (online) 2581-0855 sony susanto / ukarst vol. 4, no. 2, (2020). issn (print) 2579-4620 measurement of occupational safety and health risk levels of kadiri university lp3m building. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. 2. reliability test. the reliability test is a measure of respondents’ stability and consistency in answering matters relating to questions on a variable. determining whether a research instrument is reliable can be seen from the cronbach’s alpha and r table values. suppose the value of cronbach’s alpha> r table. in that case, the research instrument is said to be reliable, meaning that the measuring device used is correct. the reliability of a variable construct is said to be good if it has a cronbach’s alpha value greater than 0.600 [16]. with the formula : 𝑅11 = (− 𝑘 (𝑘 − 1) ) (1 − ∑ 𝜎𝑏2 𝜎2𝑡 ) remarks : r 11 = reliability coefficient. σ²t = number of grain variants. ∑σb² = total variance. k = number of questions. 3.5 data analyst. one of the ways that are often used to perform analysis and risk assessment is to use a matrix method. through these methods, first, determine risk factors, then connected with the process to be completed. the following elements characterize project risk : a. risk events show the negative impacts that can occur on the project. b. pro availability of events. c. impact of the risk. total weight the negative impact of (a) above is equal to the probability of occurrence even (b) multiplied by the depth of the effect that occurred (c). one way i am by the matrix method with the following steps : a. determine the risk events to be analyzed, such as delays in the completion of a job schedule. b. here studied the probability of occurrence of a delay in step pert ama, airlike methods can be used for this purpose will be described below. c. analyzed and assessed the impact of risks that arise, namely by estimating the criticality and weight. d. has examined the probability of occurrence of the depth of the effect and importance, then the next plan, or determines responses in need, for example, kotijensi or insurance cover for insurable risk. 129 137 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 4 number 2, (2020). issn (print) 2579-4620 measurement of occupational safety and health risk levels of kadiri university lp3m building. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. e. the final stage is a look, and corrective action when implementing response deviates from the planning [26]. the probability impact matrix is an approach developed using two essential criteria to measure the risk index. the risk index is the multiplication of the probability score and the impact score obtained from the respondent. for determining the level of risk in a way analysis or variable rate risk using risk index after it was input into the matrix. the risk index can use the formula [6]: 𝑂𝑝𝑝𝑜𝑟𝑡𝑢𝑛𝑖𝑡𝑦 𝐴𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒 = ∑ 𝑂𝑝𝑝𝑜𝑟𝑡𝑢𝑛𝑖𝑡𝑦𝑛1 𝑅𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛𝑑𝑒𝑛𝑡𝑠 (𝑛) 𝐼𝑚𝑝𝑎𝑐𝑡 𝐴𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒 = ∑ 𝐼𝑚𝑝𝑎𝑐𝑡𝑛1 𝑅𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛𝑑𝑒𝑛𝑡𝑠 (𝑛) 𝑅𝑖𝑠𝑘 𝐼𝑛𝑑𝑒𝑥 = ∑ 𝑂𝑝𝑝𝑜𝑟𝑡𝑢𝑛𝑖𝑡𝑦 𝑥 𝐼𝑚𝑝𝑎𝑐𝑡𝑛1 𝑅𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛𝑑𝑒𝑛𝑡𝑠 (𝑛) consequence analysis measurement scale according to na / nzs 4360: 2004 : table 1. levels of risk, according to as / nzs 4360:2004. l ik e li h o o d severity negligible (1) minor (2) moderate (3) major (4) extreme (5) rare (1) low (1x1) low (1x2) low (1x3) low (1x4) medium (1x5) unlikely (2) low (2x1) low (2x2) medium (2x3) medium (2x4) high (2x5) possible (3) low (3x1) medium (3x2) medium (3x3) high (3x4) high (3x5) likely (4) medium (4x1) medium (4x2) high (4x3) high (4x4) very high (4x5) almost certain (5) medium (5x1) high (5x2) high (5x3) very high (5x4) very high (5x5) adapted from the as/nz 4630 standard risk matrix and nhs qis risk matrix source : as / nz 4630 standard risk matrix and nhs qis risk matrix [6]. information: very high risk : very high risk. medium risk : medium risk. high risk : high risk. low risk : low risk. as/nzs 4360: 2004 is a joint australian/new zealand standard on risk management. this standard provides general guidance for managing risk. the rule is applied widely in activity – activity, and decision-making in many companies, either public, private, company folk, and individual [14]. 130 137 issn (online) 2581-0855 sony susanto / ukarst vol. 4, no. 2, (2020). issn (print) 2579-4620 measurement of occupational safety and health risk levels of kadiri university lp3m building. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. 4. results and discussion 4.1 validity test. the validity test is done by comparing the calculated rvalue with the r table. to find the value of r table with the number of samples (n) = 38, 5% significance in the distribution of the rvalue of the statistical table, the rtable value is 0, 320. the results of the calculation of the validity test of the instruments that have been processed using the ibm spss statistic 25 software are summarized in table form to make it easier to choose valid questionnaire. table 2. testing results validity instrument. no variable rcount rtable information 1 the worker falls in the excavation of the foundation 0,526 0,320 valid 2 the worker’s hand is scratched/pinched by the tool 0,486 0,320 valid 3 the hand of the worker hit the hammer 0,457 0,320 valid 4 the touching thing, not move. 0,415 0,320 valid 5 worker falls from a height. 0,402 0,320 valid 6 steel frame fell (hit the worker) 0,316 0,320 invalid 7 worker’s hands/feet were injured while cutting iron 0,396 0,320 valid 8 the hollow metal fell on the worker 0,387 0,320 valid 9 worker’s hands are pinched/damaged when drilling 0,328 0,320 valid 10 head hit the scaffolding 0,379 0,320 valid 11 scaffolding collapses/collapses (falls on workers) 0,365 0,320 valid 12 work equipment fell on the workers below 0,345 0,320 valid 13 inhalation of dust / respiratory irritation 0,329 0,320 valid 14 hand hit by a ceramic cutting machine 0,367 0,320 valid 15 workers were electrocuted 0,384 0,320 valid 16 exposed to welding flames 0,343 0,320 valid 17 noise/hearing loss 0,285 0,320 invalid 18 wounds when laying pipes 0,333 0,320 valid 19 slipped because the floor was slippery 0,347 0,320 valid 20 workers who are fighting 0,259 0,320 invalid source : primary data processed. 4.2 reliability test. the results of the validity test of a correct questionnaire statement must be tested for safety. n use-values test results of reliability can be seen in table 3. table 3. instrument reliability test results. source : ibm spss statistic 25 output results. case processing summary n % cases valid 38 100.0 excludeda 0 .0 total 38 100.0 a. listwise deletion based on all variables in the procedure. reliability statistics cronbach’s alpha n of items 0.647 17 131 137 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 4 number 2, (2020). issn (print) 2579-4620 measurement of occupational safety and health risk levels of kadiri university lp3m building. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. table 3. that the variables studied had a cronbach’s alpha above 0,600 so that everything is considered reliable and can be used for the subsequent analysis stage. 4.3 data analyst. the analysis is carried out on assessing probability and the impact of risks on aspects of work accidents. the method used in analyzing or assessing risk variables uses a risk index, after which it is entered into the matrix to determine the level of risk. table 4. results of the calculation of the risk index. no risk event opportunity average impact average risk (opportunity x impact) 1 worker falls in the excavation of the foundation 3 3 9 2 the worker’s hand is scratched/pinched by the tool 3 3 9 3 the side of the worker hit the hammer 3 4 12 4 the touching thing, not move. 4 5 20 5 worker falls from a height 2 2 4 6 worker’s hands/feet were injured while cutting iron 2 4 8 7 the hollow metal fell on the worker 2 3 6 8 worker’s hands are pinched/damaged when drilling 2 3 6 9 head hit the scaffolding 3 5 15 10 scaffolding collapses/collapses (falls on workers) 3 3 9 11 work equipment fell on the workers below 2 4 8 12 inhalation of dust / respiratory irritation 3 4 12 13 hand hit by a ceramic cutting machine 2 3 6 14 workers were electrocuted 1 3 3 15 exposed to welding flames 2 3 6 16 wounds when laying pipes 3 3 9 17 slipped because the floor was slippery 3 4 12 source : primary data processed. 132 137 issn (online) 2581-0855 sony susanto / ukarst vol. 4, no. 2, (2020). issn (print) 2579-4620 measurement of occupational safety and health risk levels of kadiri university lp3m building. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. table 5. risk classification based on the as/nzs 4360 risk matrix. no variabel (risk event) opportunity average impact average risk (opportunity x impact) risk of matriks 1 the worker falls in the excavation of the foundation. 3 3 9 medium 2 the worker’s hand is scratched/pinched by the tool. 3 3 9 medium 3 the side of the worker hit the hammer 3 4 12 high 4 the touching thing, not move. 4 5 20 very high 5 worker falls from a height 2 2 4 low 6 worker’s hands/feet were injured while cutting iron 2 4 8 medium 7 the hollow metal fell on the worker 2 3 6 medium 8 worker’s hands are pinched/damaged when drilling 2 3 6 medium 9 head hit the scaffolding 3 5 15 high 10 scaffolding collapses/collapses (falls on workers) 3 3 9 medium 11 work equipment fell on the workers below 2 4 8 medium 12 inhalation of dust/respiratory irritation 3 4 12 high 13 hand hit by a ceramic cutting machine 2 3 6 medium 14 workers were electrocuted 1 3 3 low 15 exposed to welding flames 2 3 6 medium 16 wounds when laying pipes 3 3 9 medium 17 slipped because the floor was slippery 3 4 12 high source : primary data processed. 4.4 risk resume level. of data processing matrix (tenderloin classification) in table 5.1. variable obtained with a level of risk very high in variable touched movable/stumble, the level of high risk obtained four variables, the risk moderate purchased ten variables, and a low risk of acquired two variables. control to handle each risk as follows : 1. for variables touched by immovable objects/tripping with a very high level of risk (very high risk), it is namely utilizing an administrative way which reduces the risk of hazards by making procedures, rules, installation of signs (safety signs), warning signs, training, and selection of contractors. it also required personal protective equipment standards, work, and the obligations agreed by the government through the ministry of labor of the republic of indonesia. 2. the four high-risk variables (high risk), ohs risk control using administrative techniques, and personal protective equipment (ppe). 133 137 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 4 number 2, (2020). issn (print) 2579-4620 measurement of occupational safety and health risk levels of kadiri university lp3m building. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. 3. for ten risk variables obtained with moderate risk level (medium risk), countermeasures can be done with engineering, administrative, and uses. personal protective equipment (ppe). handling it by reducing, funding, overcoming, and transferring risks to other parties such as insurance and other parties that are directly related. 4. for two variables, rustle o obtained with the risk level low (medium risk) because protective equipment denvy (ppe) that is in use already meet the standards following the obligations agreed by the government through the ministry of labor of the republic of indonesia. 5. conclusions and suggestions 5.1. conclusions. based on the results of occupational health and safety (k3) risk measurement in the construction of the kadiri university lp3m building, it can be concluded as follows : 1. obtained one variable is categorized as level a very high risk (very high risk) is a variable touched objects that do not move or stumble, to the level of high risk (high risk) obtained four variables, for level risk (medium risk) is obtained ten variables and for a low-risk level (low risk) 2 variables. 2. control that can be done from a known risk level is by reducing risk by engineering, administrative, and using personal protective equipment (ppe) that meets standards following the obligations agreed by the government through the ministry of manpower of the republic of indonesia. to handling it by reducing, funding, overcoming, and transferring risks to other parties such as insurance and other parties that are directly related. 5.2 suggestions. based on the above conclusions, it should be done to prevent the risk of work accidents by implementing k3 management rules and implementing strict and enforced sanctions on workers in the field so that work becomes more effective, safe, and unwanted. we recommend that the equipment or support for occupational safety and health (k3) be complete because, at the location, the researchers found incomplete personal protective equipment (ppe). 134 137 issn (online) 2581-0855 sony susanto / ukarst vol. 4, no. 2, (2020). issn (print) 2579-4620 measurement of occupational safety and health risk levels of kadiri university lp3m building. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. references [1] candra a. i. (2017), “pada pembangunan gedung mini hospital universitas kadiri,” ukarst, vol. 1, no. 1, pp. 27–34. [2] a.indah, “evaluasi penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (k3) pada proyek bangunan gedung di kabupaten cirebon,” j. tek. sipil dan perenc., vol. 19, no. 1, pp. 1–8, 2017, doi: 10.15294/jtsp.v19i1.9492. [3] p. proyek and p. jambuluwuk, “manajemen risiko keselamatan dan kesehatan kerja ( k3 ) petitenget risk management of occupational health and safety ( k3 ) in the development projects of jambuluwuk hotel & resort manajemen k3,” spektran, vol. 5, no. 1, pp. 47–55, 2017. [4] e. gardjito, a. i. candra, and y. cahyo, “pengaruh penambahan batu karang sebagai substitusi agregat halus dalampembuatan paving block,” ukarst, vol. 2, no. 1, p. 36, 2018, doi: 10.30737/ukarst.v2i1.374. [5] d. palloan, “analisis risiko kecelakaan kerja pada proyek konstruksi gedung bertingkat pada proyek konstruksi gedung bertingkat di kota makassar,” unhas, vol. 1, no. 1, pp. 1–8, 2016. [6] g. e. m. soputan, b. f. sompie, r. j. m. mandagi, d. pascasarjana, t. sipil, and u. sam, “manajemen risiko kesehatan dan keselamatan kerja ( k3 ) ( study kasus pada pembangunan gedung sma eben haezar ),” ilm. media eng., vol. 4, no. 4, pp. 229–238, 2014. [7] f. n. anwar, i. farida, and a. ismail, “analisis manajemen risiko kesehatan dan keselamatan kerja ( k3 ) pada pekerjaan upper structure gedung bertingkat ( studi kasus proyek skyland city – jatinangor ),” stt garut, vol. 13, no. 1, pp. 1–13, 2014. [8] h. wahyudiono, s. d. hartantyo, u. i. lamongan, and u. kadiri, “universitas kadiri,” vol. 1, no. 2, pp. 137–145, 2017. [9] r. ningsih, a. r. azhar, and m. p. a. paripurno, “manajemen risiko keselamatan dan kesehatan kerja ( k3 ) dalam praktikum pengelasan ( studi kasus : di welding centre politeknik perkapalan negeri surabaya ),” politek. perkapalan negeri surabaya, vol. 01, no. november, pp. 103–108, 2016. 135 137 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 4 number 2, (2020). issn (print) 2579-4620 measurement of occupational safety and health risk levels of kadiri university lp3m building. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. [10] p. pemerintah, “indonesia higher education statistical year book 2018,” chem. a eur. j., vol. 15, no. 21, pp. 1–7, 2018, doi: 10.1002/chem.200802548. [11] k. wall, “the trouble with risk matrices,” harv. bus. rev., vol. 87, no. 10, p. 16, 2009. [12] g. anggraini, “kajian pustaka (literature review,” unhas, vol. 2, no. 1984, pp. 1–13, 2015. [13] s. choe, f. l. pe, t. strategy, and c. bldg, “transforming inherent safety risk in the construction industry : a safety risk generation and control model,” saf. sci., vol. 124, no. march 2018, p. 104594, 2020, doi: 10.1016/j.ssci.2019.104594. [14] l. kraidi, r. shah, w. matipa, and f. borthwick, “analyzing the critical risk factors associated with oil and gas pipeline projects in iraq,” int. j. crit. infrastruct. prot., 2018, doi: 10.1016/j.ijcip.2018.10.010. [15] p. n. sarlinton and s. pratiwi, riyanny, “identifikasi penerapan k3 pada gedung pemerintah,” untan, vol. 1, no. 2, pp. 1–4, 2019. [16] k. karyawan, p. t. haleyora, and p. pekanbaru, “pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja (k3) terhadap kinerja karyawan pt. haleyora powerindo pekanbaru,” jom fisip unri, vol. 3, no. 2, pp. 1– 10, 2016. [17] g. e. m. soputan, “manajemen risiko kesehatan dan keselamatan kerja (k3) (study kasus pada pembangunan gedung sma eben haezar),” j. ilm. media eng., 2014. [18] suwinardi, “manajemen risiko proyek,” orbith, vol. 12, no. manajemen resiko proyek, pp. 145–151, 2016. [19] s. al-anbari, a. khalina, a. alnuaimi, a. normariah, and a. yahya, “risk assessment of safety and health ( rash ) for,” process saf. environ. prot., vol. 94, pp. 149–158, 2015, doi: 10.1016/j.psep.2015.01.009. [20] a. ridwan, “proyek konstruksi,” ukarst, vol. 1, no. 1, pp. 74–83, 2017. [21] g. rong, w. sainan, and h. mengshi, “underground railway safety analysis and planning strategy : a case of harbin metro line 1 , china,” procedia eng., vol. 165, pp. 575–582, 2016, doi: 10.1016/j.proeng.2016.11.753. [22] b. r. kani, r. j. m. mandagi, j. p. rantung, and g. y. malingkas, “keselamatan dan kesehatan kerja pada pelaksanaan proyek konstruksi (studi kasus: proyek pt. trakindo utama),” j. sipil statik, vol. 1, no. 66, pp. 430–433, 2013. 136 137 issn (online) 2581-0855 sony susanto / ukarst vol. 4, no. 2, (2020). issn (print) 2579-4620 measurement of occupational safety and health risk levels of kadiri university lp3m building. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2. [23] a. sofyan, “pengaruh kesehatan dan keselamatan kerja (k3) terhadap kinerja karyawan pt. bekaert indonesia plant karawang,” alumni s-2 mm stie tek. sipil, vol. 2, no. 4, pp. 22–45, 1392. [24] e. t. moh, “kesehatan dan keselamatan kerja laboratorium kesehatan,” setjen depkes r.i., vol. 3, no. 2, pp. 45–59, 2007. [25] u. n. nissa and s. amalia, “pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan,” j. ris. bisnis dan investasi, vol. 44, no. 3, pp. 89–95, 2017, doi: 10.35697/jrbi.v3i3.946. [26] k. d. wall, “the trouble with risk matrices,” nav. postgrad. sch. august, vol. 1, no. november, pp. 1–26, 2014. 137 137 ukarst : universitas kadiri riset teknik sipil. issn (online) 2581-0855 volume 4 number 2, (2020). issn (print) 2579-4620 measurement of occupational safety and health risk levels of kadiri university lp3m building. http://dx.doi.org/10.30737/ukarst.v3i2.