UkaRsT VOL.2, NO.1 TAHUN 2018 p ISSN 2579-4620 e ISSN 2581-0855 PELAKSANAAN MANAJEMEN KONSTRUKSI PADA PROYEK PEMBANGUNAN BANK SINAR MAS KEDIRI Yosef Cahyo SP1, Ahmad Ridwan2, Zulkifli Lubis3, April Gunarto4, Sigit Winarto5 1,2,4,5 Fakultas Teknik Universitas Kadiri 3 Fakultas Teknik Universitas Islam Lamongan Email: yosef.cs@unik-kediri.ac.id, ahmad_ridwan@unik-kediri.ac.id, djoelslubispsts@unisla.ac.id, april_gunarto@unik-kediri.ac.id, Sigit.winarto@unik-kediri.ac.id Abstract Bank Sinar Mas Kediri project is a development project that uses a unique implementation method, namely the Top Down method, that is, the construction starts from the floor plate as a new foundation and then continues with the construction of the ground floor 1,2,3. The use of the Top Down method requires a column called King Post which is a column of steel profiles as a temporary column. The hotel is built on a land area of 3248 m2 with a building height of + 123,600 m, - 9,800 m and uses 118 boredpile foundations. This project uses the Fixed Price Lumpsum contract system. This research aims to identify the cause of the delay in the completion of the Sinar Mas Kediri development project. The results of the analysis show that the delay in the completion of the project is due to the delay in completion of the excavation work. The delay was due to the lack of procurement of water pumping or drying equipment, weather or climate and the lack of excavation and limited number of heavy equipment used. Keywords: Delays, Time, Construction. Abstrak Proyek Bank Sinar Mas Kediri merupakan proyek pembangunan yang menggunakan metode pelaksanaan yang unik yaitu metode Top Down yaitu pembangunan dimulai dari pelat lantai sebagai tumpuan baru kemudian dilanjutkan dengan pembangunan lantai dasar 1,2,3. Penggunaan metode Top Down memerlukan kolom yang disebut King Post yang merupakan kolom dari profil baja sebagai kolom sementara. Hotel tersebut dibangun di atas tanah seluas 3248 m2 dengan tinggi bangunan + 123,600 m, - 9,800 m dan menggunakan 118 pondasi boredpile. Proyek ini menggunkan sistem kontrak Lumpsum Fixed Price.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab keterlambatan penyelesaian proyek pembangunan Bank Sinar Mas Kediri. Hasil analisis menunjukkan bahwa Keterlambatan penyelesaian proyek disebabkan keterlambatan penyelesaian pekerjaan penggalian tanah. Keterlambatan tersebut dikarenakan kurangnya pengadaan akan alat pemompa air atau alat pengeringan, cuaca atau iklim dan tidak adanya jumlah tenaga kerja penggalian dan terbatasnya jumlah alat berat yang digunakan. Kata Kunci : Keterlambatan, Waktu, Konstruksi. 1. PENDAHULUAN Proyek Bank Sinar Mas Kediri merupakan proyek pembangunan yang menggunakan metode pelaksanaan yang unik yaitu metode Top Down yaitu pembangunan dimulai dari pelat lantai sebagai tumpuan baru kemudian dilanjutkan dengan pembangunan lantai dasar 1,2,3. Penggunaan metode Top Down memerlukan kolom yang disebut King Post yang merupakan kolom dari profil baja sebagai kolom sementara. Hotel tersebut dibangun di atas tanah seluas Hal 57 UkaRsT VOL.2, NO.1 TAHUN 2018 p ISSN 2579-4620 e ISSN 2581-0855 3248 m2 dengan tinggi bangunan + 123,600 m, - 9,800 m dan menggunakan 118 pondasi boredpile. Proyek ini menggunkan sistem kontrak Lumpsum Fixed Price. Dilihat dari kurva S proyek ini mengalami keterlambatan yang disebabkan terlambatnya pengadaan alat pompa air/alat pengeringan, cuaca/iklim, tidak adanya tenaga kerja penggalian dan jumlah alat excavator yang terbatas. Keterlambatan tersebut dimulai pada awal penggalian lantai dasar 3. Analisis pekerjaan penggalian menggunakan tenaga kerja penggali dalam waktu 3 bulan (± 90 hari) dibutuhkan 120 orang pekerja sedangkan untuk alat excavator yang digunakan dalam waktu 30 hari menggunakan 2 excavator. Metode pembanguan lantai dasar dengan menggunakan sistem Top Down adalah solusi yang unik dan inovatif. Pelat lantai yang memang seharusnya akan dibangun, dimanfaatkan sebagai tumpuan sementara, karena beton adalah material yang baik untuk menahan gaya tekan, maka menggandakan fungsi pelat lantai untuk menahan gaya vertikal akibat gravitasi ataupun gaya horizontal akibat tekanan tanah dan air adalah sebuah solusi yang tepat guna dan mengefisienkan biaya. 2. METODE PENELITIAN 2.1 Material Yang Digunakan Material yang digunakan adalah semen, agregat, air, beton ready mix, besi beton, calbond, water stop, plywood/multiplex, kawat beton, dan balok dan kaso. Fungsi lengkap dari bahan ini ditunjukkan Tabel 1. Alat yang digunakan adalah tower crane, genset, molen, thedolite, bar cutter, bar bender, trowel, dan excavator. Fungsi lengkap dari alat dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Material dan Alat yang digunakan Material/Alat Fungsi/spesifikasi Semen bahan pengikat dari adukan pasir, kerikil dan air. Semen yang digunakan adalah Semen Portland Jenis II atau tipe I dengan pengikat awal paling cepat 1 jam. Agregat bahan pendukung adukan beton yang banyak diperlukan . Umumnya pada campuran beton, 70% volumenya adalah agregat Air membuat reaksi dengan semen portland. Beton ready mix Bahan utama Besi beton besi beton polos dan besi beton ulir Calbond penyambung antara beton yang telah mengeras atau beton lama dengan campuran beton yang baru Water stop mencegah terjadinya perembesan air Plywood/multiplex bekisting pada pembuatan pelat, balok, kolom dan dinding Kawat beton Mengikat beton Balok dan kaso memperkuat bekisting multiplek, sehingga pada waktu pengecoran multiplek tidak mengalami pelendutan atau berubah Hal 58 UkaRsT VOL.2, NO.1 TAHUN 2018 p ISSN 2579-4620 e ISSN 2581-0855 Tower crane mengangkat atau memindahkan alat, material dan barang yang sangat banyak dan berat dengan jarak yang cukup jauh ke tempat yang membutuhkan Genset penyedia tenaga listrik atau power kerja Molen mengaduk cor-coran dalam jumlah kecil. Thedolite pengukuran lapangan yaitu untuk menentukan letak titik-titik tertentu, menentukan jarak kolom, as kolom, sudut bangunan dan juga untuk mengetahui elevasi permukaan tanah dan perbedaannya pada lokasi proyek yang dikerjakan. Concrete Pump mentransfer adukan beton dari mixer truck kelokasi pengecoran dengan bantuan pipa-pipa yang terbuat dari besi yang disambung-sambungkan sehingga mencapai yang dibutuhkan. Bar cutter memotong besi/baja tulangan sesuai dengan gambar rencana Bar bender membengkokkan ujung tulangan atau membengkokkan tulangan dengan sudut yang dikehendaki Trowel digunakan untuk meratakan dan menghaluskan permukaan beton yang masih dalam proses pengerasan. excavator penggali maupun pemuat tanah tanpa harus banyak berpindah tempat dengan menggunakan tenaga power take off dari mesin yang dimilikinya Vibrator Electric menggetarkan adukan beton agar udara yang terjebak dalam adukan dapat dihilangkan, sehingga dapat diperoleh beton hasil pengecoran yang padat tanpa adanya void atau pori Bucket Beton memuat adukan beton dari trumix ketempat pengecoran 2.2 Pelaksanaan Pelaksanaan pekerjaan yang diamati meliputi pekerjaan perancah, pekerjaan bekisting, pekerjaan pembesian, pekerjaan pembersihan, pekerjaan pengecoran, pembongkaran bekisting, penggalian tanah dan pekerjaan perawatan beton. Semua pekerjaan yang dilihat oleh penulis merupakan pekerjaan yang dilihat secara umum dan garis besarnya saja. Pekerjaan perancah ilakukan untuk mendukung perencanaan pembuatan bekisting balok dan pelat. Pertama-tama yang harus dilakukan sebelum mendirikan scaffolding adalah memasang jack base pada kaki untuk memudahkan pengaturan ketinggian, setelah itu baru dapat disusun dan disambung antara yang satu dengan lainnya menggunakan joint pin, dan bagian atasnya dipasang U-head untuk menjepit balok kayu 8/12 yang melintang. Pekerjaan bekisting dilakukan setelah pekerjaan pembesian. Hal tersebut berlaku pada pekerjaan pembuatan kolom. Sedangkan pada pembuatan balok dan pelat, bekisting terlebih dahulu dikerjakan. Bekisting memiliki fungsi dalam bangunan untuk membuat bentuk dan dimensi pada suatu konstruksi beton, dan mampu memikul beban sendiri yang baru dicor sampai konstruksi tersebut dapat dipikul seluruh beban yang ada. Pelaksanaan pekerjaan bekisting pada pembuatan balok baru dapat dilakukan setelah pekerjaan perancah selesai. Bekisting yang dibuat adalah bekisting balok, pelat, dan kolom. Petama-tama yang harus Hal 59 UkaRsT VOL.2, NO.1 TAHUN 2018 p ISSN 2579-4620 e ISSN 2581-0855 dipersiapkan sebelum pembuatan bekisting adalah plywood 12 mm, dan balok kayu 8/12 dan 5/7 yang telah dipotong-potong sesuai kebutuhan. Kemudian balok kayu dan plywoood tersebut dihubungkan dengan paku, sehingga membentuk dimensi balok yang direncanakan. Balok kayu 8/12 digunakan untuk dudukan bekisting balok pada bagian atas scaffolding. Rangka dan penopang bekisting menggunakan kayu 5/7 yang dipaku, kemudian plywood yang sudah dipotong dipaku ke rangka tersebut. Pembuatan bekisting pelat dimulai dengan persiapan. Bahan yang harus dipersiapkan adalah plywood 12 mm dan multispan yang dapat diubah-ubah pengaturannya sebagai rangka bawah untuk bekisting pelat. Pertama-tama yang harus dilakukan untuk memulai pembuatan bekisting Gambar 1. pemasangan bekesting pada balok Gambar 2. pemasangan bekesting pada kolom Hal 60 UkaRsT VOL.2, NO.1 TAHUN 2018 p ISSN 2579-4620 e ISSN 2581-0855 pelat adalah memasang multispan yang berpegangan pada bekisting balok. Kemudian plywood yang telah dipotong-potong diletakkan di atas multispan dan disusun dengan rapi dan rapat agar tidak bocor. Bekisting pada kolom menggunakan plywood 12 mm, balok kayu 6/10 dan 8/12, dan rangka besi siku yang dirancang untuk plywood. Rangka besi siku yang telah dipasang plywood didirikan, lalu antara rangka yang satu dengan yang lainnya dihubungkan menggunakan baut. Kemudian dibuat rangka utama yang mengelilingi bekisting dengan jarak tertentu menggunakan balok kayu 8/12. Bekisting tersebut diberikan sokongan samping menggunakan balok kayu 6/10. Pekerjaan pembesian pada pembuatan kolom dilakukan sebelum pembuatan bekisting, sedangkan pada balok dan pelat dikerjakan setelah pembuatan bekisting selesai. Pekerjaan pembesian meliputi pekerjaan pemotongan, ppembengkokan, dan pemasangan tulangan atau pabrikasi pembuatan kolom dan balok yang dilakukan di tempat pabrikasi. Kemudian tulangan utama dipasang sesuai dengan As yang telah ditentukan, dan dilanjutkan dengan tulangan sengkang dan tulangan pengikat, lalu tulangan tersebut diikat dengan kawat baja. Pekerjaan pembesian pada pelat dilakukan setelah penulangan pada balok telah selesai dibuat, karena tulangan pelat berpegangan pada tulangan balok. Pekerjaan pembersihan pada setiap kolom, balok dan pelat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut: 1. Pekerjaan pembersihan dilakukan setelah pekerjaan pembesian dan pekerjaan pemasangan bekisting selesai dan disetujui oleh pengawas lapangan. 2. Bekisting dibersihkan dari kotoran debu, sisa potongan besi dan kayu dengan menggunakan alat compressor. Gambar 3. pemasangan besi pada kolom Hal 61 UkaRsT VOL.2, NO.1 TAHUN 2018 p ISSN 2579-4620 e ISSN 2581-0855 3. Kemudian diperiksa kerapatan dari bekisting agar tidak terjadi kebocoran pada saat pengecoran dan memeriksa deking beton terhadap selimut beton. Apabila pekerjaan pembersihan telah dilakukan maka bekisting tersebut telah siap untuk dicor. Pekerjaan pengecoran dapat dilakukan setelah pemerikasan terhadap bekisting yang akan dicor dan telah disetujui oleh pengawas. Sambungan antara beton yang lama dan yang baru diberikan bahan perekat yang berupa cairan kental putih yang disebut calbon yang berfungsi untuk menyatukan beton. Kolom lokasi pengecoran yang tidak dapat dijangkau oleh truk pemompa beton dapat dilakukan dengan mengisi bucket dengan beton cair yang kemudian diangkat menggunakan tower crane ke tempat pengecoran dan dituangkan ke dalam bekisting kolom menggunakan selang yang telah dipasang di bawah bucket. Pada saat dilakukan pengecoran,vibrator ditempatkan secara vertikal ke dalam adukan beton untuk memadatkan beton, sehingga bagianbagian yang sulit dijangkau oleh beton dapat diisi dengan padat dan tidak menyebabkan keropos. Beton cair yang akan digunakan untuk pengecoran sebelumnya harus diuji coba nilai slump untuk mengetahui tingkat kekentalan beton tersebut. Nilai slump yang didapat dari hasil pengujian tergantung dari jenis mutu beton yang digunakan. Nilai uji slump yang didapat dalam proyek ini ditunjukkan Tabel 2. Tabel 2. Nilai Slump Test No Mutu Beton Nilai Slump (cm) 1 Fc=300/ K350 12±2 2 Fc=400 12±2 3 Fc=250 12±2 4 Fc=550/ K650 12±2 5 Fc=550/ K650 20±2 6 Fc=550/ K650 16±2 3. PEMBAHASAN 3.1 Keterlambatan Proyek Data-data keterlambatan proyek dapat dilihat pada Kurva “S”. Data yang digunakan diambil dari data yang direncanakan dan membandingkannya dengan kurva “S” yang aktual. Hal 62 UkaRsT VOL.2, NO.1 TAHUN 2018 p ISSN 2579-4620 e ISSN 2581-0855 Tabel 3. Data-Data Keterlambatan Proyek Jenis Kegiatan Rencana Aktual Total Keterlambatan Mulai Selesai Durasi (hari) Mulai Selesai Durasi (hari) Durasi (Hari) Pekerjaaan Struktur Bawah Lantai dasar 3 - Galian 25/01/03 05/03/03 40 11/03/03 20/05/03 71 31 - Mat Foundation 05/02/03 18/02/03 15 01/04/03 22/04/03 22 7 - Pile cap & Lantai 20/02/03 21/03/03 30 07/04/03 09/06/03 63 33 - Kolom & Corewall 12/03/03 25/03/03 14 21/04/03 13/06/03 54 40 Lantai dasar 2 - Pelat lantai 06/03/03 13/04/03 37 25/04/03 27/06/03 63 26 - Kolom & Corewall 12/03/03 25/03/03 14 02/05/03 30/06/03 59 45 Pekerjaaan Struktur Atas Lantai 1 - Kolom & Corewall 13/04/03 24/04/03 12 28/05/03 21/07/03 55 43 - Balok & Pelat lantai 22/04/03 12/05/03 21 23/05/03 14/07/03 53 32 - Perapihan plafond exposed 27/05/03 09/06/03 14 - Waterproofing 27/05/03 07/06/03 12 Lantai 1Mezzanine - Kolom & Corewall 24/04/03 29/04/03 6 16/06/03 28/07/03 42 36 - Balok & Pelat lantai 27/04/03 06/05/03 10 10/06/03 25/07/03 46 36 - Perapihan plafond exposed 21/05/03 27/05/03 7 - Waterproofing 21/05/03 26/05/03 6 Lantai 2 - Kolom & Corewall 29/05/03 10/05/03 12 01/07/03 11/8/03 42 30 - Balok & Pelat lantai 08/05/03 01/06/03 25 23/07/03 05/08/03 13 - Perapihan plafond exposed 15/06/03 29/06/03 14 - Waterproofing 15/06/03 27/06/03 12 Lantai 3 - Kolom & Corewall 10/05/03 21/05/03 12 08/08/03 30/08/03 23 11 - Balok & Pelat lantai 19/05/03 08/06/03 21 15/08/03 19/08/03 5 - Perapihan plafond exposed 23/06/03 06/07/03 14 - Waterproofing 23/06/03 04/07/03 12 Hal 63 UkaRsT VOL.2, NO.1 TAHUN 2018 p ISSN 2579-4620 e ISSN 2581-0855 3.2 Identifikasi Sebab-Sebab Keterlambatan Proyek. Hasil analisis menunjukkan bahwa keterlambatan penyelesaian proyek dimulai pada awal penggalian lantai dasar 3. Penyimpangan atau sebab keterlambatan di antaranya sebagai berikut: 1. Pengadaan alat pompa air atau alat pengeringan tidak sesuai dengan jadwal sehingga menyebabkan sulitnya alat berat mengadakan penggalian dikarenakan keadaan tanah yang tidak memenuhi syarat (mengandung banyak kadar air). Terbatasnya jumlah alat pemompa air juga menyebabkan terhambatnya proses dewatering menyebabkan proses pekerjaan penggalian terhambat. Pompa air yang digunakan untuk proses pengeringan pada proyek tersebut hanya 2 buah. 2. Keterlambatan juga disebabkan oleh cuaca yyang tidak emndukung, yaitu turunnya hujan. Proyek awalnya dilaksanakan pada bulan November 2011 dimana pada bulan tersebut bulan penghujan, sehingga menghambat pelaksanaan penggalian dikarenakan banyaknya kandungan air yang terdapat dalam banker tanah tersebut menyebabkan alat berat jenis excavator tidak bisa bekerja. 3.3 Kemungkinan Pekerjaan Yang Dapat Dipercepat Mengacu Pada Kurva “S”. Untuk mempermudah agar kandungan air di daerah tersebut menurun harus ditambah pompa airnya atau yang disebut alat pengeringan. Penggalian dalam sebuah proyek dapat dilakukan menggunakan tenaga manusia (pekerja penggalian) dan dengan menggunakan tenaga dari alat berat. Menggunakan tenaga manusia (pekerja penggalian), percepatan dapat dilakukan berdasarkan perhitungan di bawah. Dilihat dari volume galian 32480 m3, waktu maksimal pekerja 8 jam/hari, kemampuan 1 orang penggali 3 m3/ hari, dan rencana waktu penggalian adalah 3 Bulan ( setara dengan 90 hari), maka produktivitas per pekerja dalam 3 bulan adalah 270 m3. Jumlah pekerja yang dibutuhkan dalam 3 bulan dengan demikian adalah 120 orang. Percepatan menggunakan alat berat dapat dilakukan menggunakan perhitungan berikut. Taksiran produktifitas excavator: KB × BF × 3600 × FK TP = CT Simbol TP menunjukkan taksiran produktifitas (m3/jam), KB adalah kapasitas bucket (m3/jam), BF merupakan Bucket Factor, FK menunjukkan Faktor Koreksi (Total), dan CT adalah waktu siklus (Detik). Jenis Excavator yang digunakan adalah PC 200-5, dengan kedalaman galian sebesar 30%. Kondisi galian sedang, normal atau tanah biasa. Untuk volume galian 32480 m3, dan menggunakan faktor ketersediaan mesin 90%, keahlian operator 85%, efiseinsi waktu 85%, sudut ayunan operator 60o dalam 15 detik, dan waktu kerja excavator 6 jam dalam 1 hari, waktu penggalian 30 hari, maka taksiran produktivitas excavator adalah lihat di aslinya. Tabel 4. Efisiensi Kerja Hal 64 UkaRsT VOL.2, NO.1 TAHUN 2018 p ISSN 2579-4620 e ISSN 2581-0855 Kondisi Operasi Efisiensi Kerja Baik 0,83 Normal-Sedang 0,75 Kurang Baik 0,67 Buruk 0,58 Tabel 5. Bucket Factor (Untuk Jenis Back Hoe) Kondi si Operasi/Penggalian Bucket Factor Mudah Tanah liat, agak lunak 1,2-1,1 Sedang Tanah asli kering, berpasir 1,1-1,0 Agak Sulit Tanah asli berpasir dan kerikil 1,0-0,8 Buruk Tanah keras bekas ledakan 0,8-0,7 Tabel 6 Konversi faktor meliputi kedalaman dan kondisi penggalian (Back Hoe) Kedalaman Galian Kondisi Penggalian Mudah Normal Agak Sulit Sulit Sekali < 40% 0,7 0,9 1,1 1,4 40%-75% 0,8 1 1,3 1,6 > 70% 0,9 1,1 1,5 1,8 Pelaksanaan pembobokan secant pile, pelat lantai, balok dan core wall dapat berjalan dengan lancar apabila tenaga kerja yang banyak dan melakukan kegiatan tersebut sesuai dengan keahliannya masing-masing. 4. KESIMPULAN Keterlambatan penyelesaian proyek disebabkan keterlambatan penyelesaian pekerjaan penggalian tanah. Keterlambatan tersebut dikarenakan kurangnya pengadaan akan alat pemompa air atau alat dewatering, cuaca atau iklim dan tidak adanya jumlah tenaga kerja penggalian dan terbatasnya jumlah alat berat yang digunakan. DAFTAR PUSTAKA [1] Frederika, A. (2010). Analisis percepatan pelaksanaan dengan menambah jam kerja optimum pada proyek konstruksi (Studi kasus: Proyek pembangunan super villa, Peti Tenget- Badung). Jurnal Ilmiah Teknik Sipil. Hal 65 UkaRsT VOL.2, NO.1 TAHUN 2018 p ISSN 2579-4620 e ISSN 2581-0855 [2] Tuelah, J. D. P., Tjakra, J., & Walangitan, D. R. O. (2014). PERANAN KONSULTAN MANAJEMEN KONSTRUKSI PADA TAHAP PELAKSANAAN PROYEK PEMBANGUNAN (Studi Kasus: THE LAGOON TAMAN SARI). TEKNO, 12(61). [3] Iwawo, E. R., Tjakra, J., & Pratasis, P. A. (2016). Penerapan metode cpm pada proyek konstruksi (studi kasus pembangunan gedung baru kompleks eben haezar manado). Jurnal Sipil Statik, 4(9). [4] Kani, B. R., Mandagi, R. J., p Rantung, J., & Malingkas, G. Y. (2013). Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Pelaksanaan Proyek Konstruksi (Studi Kasus: Proyek PT. Trakindo Utama). Jurnal Sipil Statik, 1(6). [5] Pangkey, F., Malingkas, G. Y., & Walangitan, D. R. O. (2012). Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Pada Proyek Konstruksi di Indonesia (Studi Kasus: Pembangunan Jembatan Dr. Ir. Soekarno-Manado). Jurnal Ilmiah Media Engineering, 2(2). [6] Maromi, M. I., & Indryani, R. (2015). Metode Earned Value untuk Analisa Kinerja Biaya dan Waktu Pelaksanaan pada Proyek Pembangunan Condotel De Vasa Surabaya. Jurnal Teknik ITS, 4(1), D54-D59. [7] Hastuti, S. P. (2014). Waste Management Pada Proyek Pembangunan Gedung Sebagai Bagian Dari Upaya Perwujudan Green Construction (Studi Kasus: Pembangunan Gedung–Gedung Di Universitas Sebelas Maret Surakarta). [8] Tolangi, M. F., Rantung, J. P., Langi, J. E. C., & Sibi, M. (2012). Analisis Cash Flow Optimal Pada Kontraktor Proyek Pembangunan Perumahan. Jurnal Sipil Statik, 1(1). [9] Kani, B. R., Mandagi, R. J., p Rantung, J., & Malingkas, G. Y. (2013). Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Pelaksanaan Proyek Konstruksi (Studi Kasus: Proyek PT. Trakindo Utama). Jurnal Sipil Statik, 1(6). [10] Tarore, H., Malingkas, G. Y., & Walangitan, D. R. (2012). Pengendalian Waktu dan Biaya Pada Tahap Pelaksanaan Proyek dengan Menggunakan Metode Nilai Hasil (Studi Kasus: Proyek Lanjutan Pembangunan Gedung PIP2B Kota Manado). Jurnal Sipil Statik, 1(1). [11] S. Aminah, “Konflik dan Kontestasi Penataan Ruang Kota Surabaya,” Masy. J. Sosiol., vol. 20, no. 1, pp. 59–79, 2016. [12] P. Vitasmoro, A. I. Chandra, and J. Jatmiko, “Improving Student ’ s English Vocabulary Mastery through Animation Cartoon,” vol. 363, no. Icss, pp. 505–509, 2019. [13] A. Meylani and A. S. Handayani, “Perbandingan Kinerja Sistem Logika Fuzzy Tipe-1 dan Interval Tipe-2 pada Aplikasi Mobile Robot,” vol. 3, no. 1, pp. 209–214, 2017. [14] M. Irfan, L. P. Ayuningtias, and J. Jumadi, “Analisa Perbandingan Logic Fuzzy Metode Tsukamoto, Sugeno, Dan Mamdani ( Studi Kasus : Prediksi Jumlah Pendaftar Mahasiswa Baru Fakultas Sains Dan Teknologi Uin Sunan Gunung Djati Bandung),” J. Tek. Inform., vol. 10, no. 1, pp. 9–16, 2018. [15] U. Katolik et al., “Estimasi Parameter Bilangan Fuzzy Segitiga Untuk Model Pembebanan Lalulintas Fuzzy,” no. June, pp. 8–9, 201 Hal 66